Rabu, 23 Desember 2015

Jalan-Jalan dan Belanja Konyol di Kota Krabi Thailand



Bagi shopaholic, berjalan-jalan ke luar negeri memang nggak seru jika tidak belanja membeli-belah. Seperti halnya Reny, teman baik saya semasa SMA yang kini jadi teman jalan-jalan ke Krabi , Thailand Selatan. Selain karena hobby belanja, mamih-mamih cantik yang satu ini memang dikenal sebagai penyayang dan perhatian kepada keluarga. Jadi kalau pergi kemana saja dia akan menyempatkan belanja oleh-oleh untuk keluarga. 

Setelah jalan-jalan ke Wat Tham Sua atau Tiger Cave kami pun meluncur menuju Tesco Lotus sebuah mal di Krabi yang menurut kami sih biasa saja. Tujuan utama mencari oleh-oleh. Namun nihil, mal ini tak jauh beda dengan mal-mal biasa di Indonesia. Penuh dengan barang-barang yang sudah umum dijual dimana pun. Jadi kami pun bertanya kepada penduduk lokal apakah ada pasar tradisional yang menjual oleh-oleh khas thailand. Kebanyakan mereka bingung sendiri mau jawab apa. Haha.

Beruntung dua orang pegawai salah satu bank yang berkantor di Tesco Lotus memberikan contekan nama pasar tersebut pada Reny. Pasar tradisional - yang menurut pengakuan mereka adalah pusat oleh-oleh khas Thailand di Krabi. Entah apa nama pasar ini, bingung bagaimana bacanya. Tulisan keriting begitu siapa yang mengerti kecuali orang-orang Thailand dan mereka yang diberi kemampuan lebih oleh Tuhan belajar memahami tulisan tersebut. Dan tentu saja si Oom-Oom pintar  mesin pencari alias Oom Google.




Dengan menaiki tuktuk yang kami tawar seharga 200 bath atau setara dengan seratus ribu rupiah dari penduduk lokal Krabi, Saibah dan suaminya yang baru pulang belanja lemari pakaian di Tesco Lotus Mall,  kami berburu waktu untuk menuju pasar tempat oleh-oleh. Orang-orang yang ditanyai bilang pasar tersebut dekat, setelah dijalani ternyata lumayan jauh juga, lebih dari 15 menit.

Dalam perjalanan, kami melewati jalan "Utarakit Road" di tepi sungai Krabi. Pada tepi-tepi jalan yang berbatasan dengan sungai terdapat beberapa spot yang iconic yang dijadikan landmark kota Krabi. Diantaranya adalah patung kepiting, patung ikan, dan patung burung Elang yang bercokol di tugu nol kilometernya Krabi. Namun yang paling menarik kami serta para turis lainnya adalah patung kepiting atau crab. Bisa jadi kata Krabi diadaptasi dari kata dalam bahasa inggris "crab"

Jalan Utarakit yang kami lalui ini berada di tepian sungai yang menghadap ke hutan bakau dan tebing-tebing kapur yang berbentuk khas. Meskipun airnya tidak terlalu jernih namun kondisi sungai tetap terlihat bersih dan terjaga.  





Saibah dan suaminya dengan baik hati membolehkan kami mampir dan berfoto-foto di spot menarik di sepanjang jalan Utarakit tersebut. Saya, Reny, dan anak-anak mencoba berbagai pose untuk mendapatkan foto terbaik.

Di tepi jalan Utarakit dilengkapi juga dengan trotoar yang luas serta bangku-bangku yang menghadap ke sungai. Bangku-bangku tersebut digunakan pengunjung untuk duduk santai melihat berbagai aktifitas di sungai. Salah satunya menyaksikan para atlit dayung sedang berlatih. Sarana ini menambah betah para pengunjung untuk duduk berlama-lama di tepian sungai.






Setelah puas berfoto-foto kami langsung meluncur ke pasar yang ternyata tidak jauh dari Utarakit Road. Satu yang saya tandai di kawasan ini terdapat sebuah hotel bertuliskan River View. Saya teringat hotel ini ketika memesan hotel di Agoda namun tidak jadi mengambilnya karena tidak ada fasilitas kolam renang seperti di Krabi Discovery Resort.

Dengan perkiraan waktu belanja sekitar satu jam kami pun menyusuri toko-toko yang ada di pasar. Menanyakan harga kepada seorang ibu-ibu berkulit putih berpipi semu kemerahan yang hanya menjawab setiap pertanyaan kami dengan ketikan di kalkulator. 

Kami mulai beradu tawar dengan mengetikkan sebaris angka-angka. Menawar hampir setengah harga awal. Lalu Si ibu membalas dengan mengetikkan sebaris angka lagi. Deal, sebuah transaksi terjadi. Transaksi tanpa bahasa, tanpa kata-kata. Dalam hati saya ngakak ketawa tapi sekaligus merasa ajaib. Dunia tanpa kata ternyata bukan berarti sepi tanpa kesibukan. Lihatlah bagaimana kami beradu tawar di pasar ini.

Satu jam waktu yang ditentukan telah usai. Entah apa saja yang Reny beli, karena bawaannya menjadi berat dan lebih banyak. Sedangkan saya hanya membeli sebuah bando Chila dan tas etnik dengan motif gajah saja. Lainnya tidak.



Keluar belanja dari pasar kami langsung menuju tuktuk yang sudah menunggu. Dalam perjalanan kembali ke Lotus Mall, saya dan Reny menghitung uang sisa belanja lalu patungan untuk membayar tuktuk. Ya Salaaam, uang bath kami ternyata habis untuk belanja tadi. Adanya rupiah, dollar Singapura, dan ringgit Malaysia. Nggak mungkin kami bayar tuktuk menggunakan mata uang itu. Pasti ditolak. Kami kembali mengaduk-aduk dompet, mengeluarkan semua isinya termasuk receh-recehan koin.

“G*bl*k banget kan gua Lin.”  Wkwkwk saya dan Reny tertawa bersama menertawakan kebodohan kami. Konyol banget rasanya. Belanja aja tapi nggak mikirin ongkos pulang.

"Aduh Ren gimana ini?" Saya mulai panik.

“Tenang Lina duit mah banyak, tapi rupiah semua” Kata Reny.

Iya sih duitnya Reny mah banyak mau berapa juta juga, tapi tetap saja bikin ngeri-ngeri sedap. Masalahnya ini di negeri orang, dan rupiah nyaris nggak ada harganya kecuali sudah ditukar di money changer. 

Kami lantas tertawa-tawa lagi. Kali ini tertawa getir sambil menghitung recehan koin bath di telapak tangan. Mudah-mudahan cukup hingga 200 bath kalau tidak bisa dimarahi suami Saibah habis-habisan :D

17 komentar:

  1. Krabi tuh emng murah berasa jd orang kaya deh hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Xixixi baca tulisan ini jadi tertawa hahhaha...revisi ach uangnya gak banyak tp cukup aja

      Hapus
    2. Xixixi baca tulisan ini jadi tertawa hahhaha...revisi ach uangnya gak banyak tp cukup aja

      Hapus
  2. Ahahhaha...yg.mborong.
    Untunglah aku klo jalan2 ada satpamnya mbak.bojoku itu akuntan jd perhitungan bgt jd klo udah hampir mencapai budget perhari ufah disempritin aja...
    Ish.... asli nyebelin kan.ga tau kalo belanja itu sungguh menyennagkan

    BalasHapus
  3. Wkwkk... Tapi, spot nya lucu2 buat poto2 ya, Mak Lina

    BalasHapus
  4. Hahahahha kebayang paniknya pas liaat dompet di negeri orang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lihat dompet kosong oleh Bath tepatnya sih mbak. Hahaha.

      Hapus
  5. hahahaha... kok bisa sih :D... aku kalo traveling, biasanya uang udh di pilah2, dijepit pake penjepit kertas sambil ditulis nama2 post nya ;p... tp memang sih mba, semua tempat di thailand itu surganya belanja byanggeettt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang perhitungannya kurang cermat sih Mbak, asyik belanja ternyata uangnya pas-pasan haha, disangka banyak money changer ternyata susyeh nyarinya.

      Hapus
  6. Seruuu mba LIna jalan-jalannyaa. PAtung kepitingnya gede bangets, Thifa kalo lihat itu lari kali dia hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha. Sini Thifa tante bawain kepiting besar di Belitung nanti.

      Hapus
  7. ternyata semua wanita sama, kalap kalo liat barang bagus, Eh tapi, koinnya cukup buat pulang kan mbak Lin?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iya Mbak. Akhirnya koin-koin lah yang menyelamatkan kami :D

      Hapus
  8. Tas etnik gambar gajah, ciri khasnya banget ya mbak

    BalasHapus
  9. aku belum pernah lho ke thailand , tahun ini ah di jadwalkan

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...