Tuesday, January 27, 2015

Tempat Sholat di Pulau Sentosa Singapura

Bersenang-senang dengan keluarga, mengajak mereka berlibur ke pulau impian tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kita. Namun tetaplah kewajiban utama kepada Sang Pemilik nafas dan kehidupan ini adalah hal yang patut diutamakan oleh setiap pribadi muslim. Menjalankan sholat 5 waktu tetaplah merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan kapan pun dimana pun dan dalam kondisi sesulit apa pun.

Saat saya hendak mengunjungi Pulau Sentosa di Singapura, dan berencana menghabiskan waktu seharian di sana, sempat terbersit kekhawatiran bagaimana saya sholat di pulau yang seluruh permukaannya dipenuhi oleh wahana-wahana permainan, hotel, resort, dan arena judi ini. Ketika googling dengan keyword "Prayer room at Sentosa Island" saya bersorak gembira. Alhamdulillah dapat.
Musholanya nyempil di pojok parkiran

Tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan tempat sholat atau mushola di Pulau Sentosa ini. Jika googling terlebih dahulu seperti saya, sebenarnya ada satu lokasi dan mungkin saja hanya satu-satunya di pulau ini yang menyediakan tempat sholat. Semoga amal kebaikan tetap mengalir bagi yang menggagas dan mengelola mushola ini. Amiiin.

Mushola Pulau Sentosa terletak di sekitar Beach Station yang merupakan stasiun terakhir dan paling ujung. Turuni eskalator ke arah basement maka akan terlihat petunjuk kedua tangan berdoa di pintu. Jika datang dari arah luar masuklah ke ruangan di restoran cepat saji Mc.Donald lalu turun dengan menggunakan eskalator dan mushola tampak ada di sekitar parkiran mobil. Sedangkan tempat wudhu terletak di bagian belakang ruang sholat, tidak jauh dari pintu mushola.

Saat kami tiba di sana, suasana tampak sepi. Padahal di luar sana sangat banyak orang berlalu-lalang. Bahkan di Roof  Top Gedung Vivo City, tempat monorail datang dan pergi, antrian mengular hingga berpuluh-puluh meter. Ketika turun dari monorail pun orang tampak berbondong-bondong keluar masuk. Uniknya tetap tertib dan tidak dorong-dorongan. 
Tanda Mushola berupa dua tangan berdoa

Saat itu bertepatan dengan masa liburan di Indonesia, Singapura dan Malaysia.Dan saya menyaksikan betapa penuh dan sesaknya Singapura saat itu dengan orang-orang berkulit coklat, walau sesekali tampak kulit hitam legam dan putih terang. Lagi dan lagi, Singapura memang menjadi tempat favorit berlibur bagi kalangan berduit dan tidak berduit seperti saya :D

Orang-orang berwajah Indonesia dengan logat Betawi, Sunda dan Jawa terdengar di sana sini. Membuat kami tersenyum-senyum sendiri. Namun, ada getir yang menyayat dalam hati. Liburan jauh-jauh kenapa harus ke Singapura? Tidak ke Bandung, Bali, Lombok, atau Jakarta? Tentu semua punya alasannya masing-masing. Bukan hak saya menghakimi mereka atas apa yang saya tidak ketahui. Karena pertanyaan yang sama juga akan tertuju ke batang hidung saya. Ngapain kamu ke Singapura?

Singapura adalah satu hal yang sesungguhnya ingin saya hindari, entahlah kurang suka walau memang takjub dengan segala pembangunan di negeri ini. Namun apalah daya saat Chila ingin bertemu lumba-lumba maka kami pun harus ke sana. Karena Ancol terlalu jauh dari rumah kami di Batam. Sementara biaya menuju Jakarta justru lebih mahal dibanding menuju Singapura. Atas nama penghematan dan efisiensi akhirnya "Meet Dolphin"nya di sebrang pulau saja.

Namun pertanyaan yang paling menggelitik saya adalah kenapa mereka tidak menunaikan ibadah sholat? Saya tentu berbaik sangka. Saya kira banyak orang yang tidak mengetahui keberadaan mushola ini sehingga mereka rela kehilangan waktu sholatnya. Sebagian lagi tentu sudah menjamak, sedang berhalangan, atau mungkin bukan pemeluk agama besar ini.





Saturday, January 24, 2015

Mengelilingi Tibet hanya dalam 7 Hari

Apa yang terjadi jika 5 orang perempuan kota biasa, “mbak-mbak kantoran”  berusia rata-rata 40 tahun ke atas, bukan pendaki gunung, dan tidak menyukai petualangan berbau ekstrim, kemudian memutuskan untuk mengunjungi Tibet? Sebuah negeri terisolir yang dikenal dunia sebagai “Forbidden  land on the roof  of the world.” Negeri yang sekelilingnya diliputi oleh pegunungan yang  bahkan titik terendahnya saja berada di ketinggian 1.615 meter di atas permukaan laut (mdpl). Titik yang setara dengan ketinggian sebuah gunung di Indonesia.

Berawal dari rencana traveling Feby, sang penulis buku, yang menargetkan Nepal sebagai destinasi liburannya, ia kemudian memutuskan untuk menambahkan destinasi sampingan ke Bhutan atau ke Tibet. Kebetulan kedua wilayah tersebut jaraknya sudah berdekatan dengan Nepal. Namun biaya tour ke Bhutan sangat mahal karena harga sudah dipatok oleh pemerintah setempat. Yakni sebesar 250 dollar AS per hari. Jika dibandingkan dengan Tibet, biaya tersebut kemungkinan besar bisa ditekan lebih murah lagi karena banyak varian harga yang ditawarkan oeh jasa tour and travel. Sehingga Tibet diputuskan menjadi destinasi sekunder setelah Nepal.(hal.10)

Dibalik rencana itu,  keinginan Feby di masa kecil menatap dan menyaksikan langsung gunung tertinggi di dunia, Mount Everest (8.848 mdpl) yang bersemayam di perbatasan Nepal dan Tibet juga berperan dalam memotivasi dirinya untuk terus berusaha agar rencana dan itinerary yang ia susun tetap berlanjut. Meskipun pada perjalanan waktu hingga beberapa bulan sebelum keberangkatan masih saja terjadi bongkar pasang anggota grup. Sebagaimana telah diputuskan oleh Pemerintah Tiongkok, negara yang menguasai wilayah Tibet, bahwa siapa pun yang berkunjung ke Tibet harus ikut dalam grup dengan anggota minimal 5 orang dan berasal dari negara yang sama.(hal.13)

Setelah bongkar pasang peserta, didapatlah 5 orang perempuan yang akan menjadi anggota tour group ke Tibet. Mereka adalah Feby 41 tahun, Corry (kakaknya Feby) 50 tahun, Olin (sepupu Feby) 40 tahun, Ossy (teman Feby) 41 tahun, dan Joice (teman Feby) 40 tahun. Kelimanya sangat jauh untuk dikatakan sebagai anak gunung melainkan anak mall yang suka shopping dan ngerumpi berha-ha hi-hi. (hal.1)

Untuk memuluskan rencana traveling ke Tibet, mereka menggunakan jasa tour and travel Nepal Tibet Trekking dengan tujuan akhir Kota Lhasa ibukota Nepal. Perjalanan yang akan mengombinasikan jalur darat dengan jalur udara. Dari Nepal menuju Tibet menggunakan jalan darat (overland) dan sebaliknya dari Tibet menuju Nepal menggunakan pesawat terbang dengan maskapai penerbangan Air China, satu-satunya maskapai yang diperbolehkan terbang ke wilayah Tibet. (hal.19)

Ada tiga hal yang perlu dipersiapkan sebelum berangkat ke Tibet. Body, money, dan mental.  Melintasi jalan dari ibukota Nepal, Kathmandu, ke ibukota Tibet, Lhasa, sejauh 1.500 Kilometer dengan rata-rata ketinggian daratan yang dilintasi hampir 5000 mdpl haruslah memiliki persiapan body (fisik) yang benar-benar matang. Salah satu caranya dengan giat berolahraga sebelum keberangkatan. Tubuh yang bugar akan mengurangi efek dari Altitude Mountain Sickness (AMS) , sebuah gejala yang kerap dialami oleh orang-orang yang berada di ketinggian dikarenakan tipisnya kadar oksigen di udara.

Gejala AMS beragam semisal tidak nafsu makan, mual-mual, muntah, pusing, mimisan, kehilangan kesadaran, hingga paru-paru terisi cairan. Dan parahnya jika tidak cepat tertolong gejala ini beresiko kematian. AMS disebabkan oleh aliran oksigen yang tidak mencukupi ke otak dan organ vital lainnya. Akan berpengaruh mulai dari ketinggian 3000 meter ke atas.

Tidak ada obat yang benar-benar mujarab untuk mengobati AMS. Mengatasinya dengan segera membawa si penderita ke daerah yang lebih rendah dimana kadar oksigennya lebih berlimpah. Untuk mengurangi gejala AMS sebaiknya rutin mengkonsumsi Acetazolamide. Resep ringan yang menstimulasi penyerapan oksigen.

Persiapan money (uang) pun tak bisa dianggap sebelah mata. Mahalnya sewa kendaraan untuk overland  ke Tibet hampir-hampir tidak jauh berbeda dengan biaya naik pesawat terbang. Untuk biaya perjalanan NepalTibet selama tujuh hari saja Feby dan rekan-rekannya harus membayar 907 dollar AS per orang atau  4.535 dollar AS untuk lima orang. Jumlah dollar yang cukup untuk keliling Eropa. (hal.42)

Persiapan mental adalah hal yang niscaya dalam perjalanan mengarungi hamparan alam Tibet yang ekstrim. Berhari-hari berada dalam kendaraan, menahan keinginan mendesak untuk buang air,  bergelut dengan cuaca yang dingin, dan juga berbagai pemeriksaan demi pemeriksaan dari tentara dan polisi yang sangat ketat benar-benar membutuhkan kesabaran yang ekstra. Selain itu kadar oksigen yang tipis, hanya 70 persen dari kadar normalnya sempat membuat Feby dan rekan-rekannya ragu dan khawatir apakah mereka akan mampu bertahan atau tidak. (hal. 27)

Dengan bahasa yang ringan, mengalir, dan mudah dicerna, Feby menceritakan tiap detail peristiwa yang dialaminya dengan lancar dan terkadang jenaka. Salah satu contohnya seperti saat ia kebelet untuk buang air, ia lalu membuka pintu toilet. Namun ternyata di dalamnya sudah ada seorang laki-laki India sedang nongkrong dengan wajah pasrah. (hal. 93)

Peristiwa  yang dialami diceritakan secara berurutan dari awal keberangkatan hingga kepulangan. Perjalanan dari kota ke kota yang terlewati pun dideskripsikan secara menarik sehingga pembaca penasaran dengan apa yang akan terjadi pada hari selanjutnya. Meskipun memiliki tebal 270 halaman buku ini tidak akan terasa berat. Pembaca akan mampu menyelesaikan lembar demi lembar hingga halaman terakhir dengan sekali duduk saja. Apalagi didukung oleh foto-foto berwarna dan hitam putih yang menggambarkan alam Tibet yang luar biasa, isi buku ini terasa semakin hidup dan nyata.   

Kota-demi kota dengan ketinggian beragam pun mulai dijelajahi. Sulitnya mencari penginapan yang memadai di wilayah-wilayah yang terlewati, joroknya fasilitas toilet di hampir sepanjang perjalanan, juga gejala AMS yang hampir membuat pingsan adalah hal-hal yang menjadi sorotan pada bab-bab selanjutnya.

“Walau jalan kosong melompong, kok mobil konsisten di kecepatan 40 km/jam. Ampun dah. Kaki udah gatal mau nekan pedal gas. Memang sih, di sepanjang jalan mulai keluar dari  Friendship Bridge (border Nepal) sampai saat ini, setiap 100 meter selalu ada rambu bulat, dengan dua garis lingkaran putih merah bertuliskan 40 km/jam. Tapi mbok ya jangan gitu-gitu amat. Lari 60 km/jam kek.” Seperti diceritakan penulis pada kutipan di atas, berada di Tibet yang jalannya mulus kosong-melompong,  bukan berarti bisa menjalankan mobil layaknya di jalan tol. Ketatnya cengkraman penguasa Tiongkok membuat segalanya serba diatur dan serba sulit, baik bagi warga asli Tibet maupun turis. Bayangkan kecepatan mobil saja maksimal 40 km per jam dan pemeriksaan oleh polisi atau tentara tiap 200 meter.

Perjalanan tujuh hari menembus ketinggian negeri Tibet yang sangat luas sungguh merupakan perjalanan yang singkat. Namun karena singkatnya waktu inilah yang menjadikan perjalanan mereka sungguh luar biasa. Ya, luar biasa karena tanpa aklimatisasi yang cukup akhirnya mereka selamat dari ancaman AMS.

Aklimatisasi adalah proses penyesuaian tubuh manusia terhadap oksigen di udara dalam jumlah yang dibutuhkan untuk kesehatan. Prosesnya bisa memerlukan beberapa hari. Semestinya aklimatisasi dilakukan oleh Feby dan rekan-rekannya dengan stay lebih lama di beberapa wilayah untuk menyesuaikan kondisi tubuh dengan tipisnya oksigen. Namun dalam perjalanan ini menambah hari berarti membutuhkan cuti yang lebih lama dan menambah biaya yang jauh dari kata murah.

Perjalanan sekali seumur hidup yang kerap disampaikan Feby dalam beberapa halaman  ternyata sebanding dengan apa yang ia peroleh. Hal yang membuat pembaca terenyuh adalah saat penulis menceritakan bahwa ia pernah melihat begitu banyak keindahan di semua benua. Jordania, Jerusalem, Laut Merah, Laut Tengah, Australia, hingga hidden paradise Ora Beach di Indonesia. Semuanya tak bisa membuatnya menangis kecuali saat ia berada di Tibet. Menatap langsung The Nort Face of Giant Everest. Seperti ditulisnya “My childhood dream. Setelah lebih dari 30 tahun…” kata-kata ini menginspirasi pembaca untuk tetap teguh pada cita-cita dan keinginan masa kecilnya.

Lalu apakah perjalanan kembali Feby dan rekan satu timnya ke Nepal akan berjalan mulus atau mengalami rintangan mengingat ketatnya keamanan di setiap Penjuru Tibet? Jawabannya ada di halaman-halaman terakhir. Dan buku dengan cover foto The North Face, puncak gunung tertinggi di dunia Mount Everest ini layak dijadikan buku panduan traveling bagi mereka yang menginginkan Tibet sebagai destinasi impiannya.

Judul: 7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Penulis: Feby Siahaan
Penerbit: Kompas
Tebal: 270 halaman
Terbit: November 2014


Wednesday, January 21, 2015

Kabut di Lereng Gunung Guntur

Pada kabut yang turun di pegunungan
Yang bersenandung rona mendung, menelikung pemandangan
Bagai rintih sedih menggelayut di wajah kekasih
Menyimpan rindu dendam, dalam hati yang remuk redam 

Pada rinai hujan di bulan Januari
Yang menguarkan bau lumut dan rumput tegak berduri
Engkau hentakkan liukan mesra sang penari
Pada bukit-bukit tandus yang kerap terbakar matahari


Kabut di Lereng Gunung Guntur

Foto ini diikutsertakan pada Turnamen Foto Perjalanan Ronde ke-54 yang diselenggarakan oleh Rinaldi Maulana di sini


Sunday, January 18, 2015

7 Hal Penting agar Menjadi Pendaki yang Dicintai

Mug Love Mountain. Gambar dari sini
Tiba-tiba saja kefikiran untuk buat postingan dengan tema ini. Kenapa? Karena sebagai sesama pendaki gunung kita kudu saling mengingatkan satu sama lain. Nah mumpung ingat ya saya ingatkan. Dan sekaligus sebagai pengingat bagi diri sendiri. Bukan sok tau apalagi sok pintar. Da saya mah siapa atuh.

Kenapa harus tujuh hal, tidak sepuluh atau seratus? Ya gimana ya… mmm sepertinya angka tujuh itu udah jadi angka sakti bagi hampir semua hal. Ada tujuh keajaiban dunia, tujuh benua, tujuh samudera, tujuh puncak dunia, tujuh puncak Indonesia (yang sekarang sedang dikampanyekan) dan tujuh-tujuh hal lainnya seperti dalam program acara On The Spot di sebuah stasiun televisi.

Terus…terus…kenapa judulnya harus menjadi pendaki yang dicintai? Tidak disukai atau dibenci gitu? Sepertinya judul yang ada cinta-cinta-an-nya selalu eye catching bagi sebagian orang terutama anak muda. Eh, hei apa kamu masih muda? apa, sudah tua? gak apa-apa sih, cinta kan milik semua kalangan :D sila lanjut baca

Siapa sih yang nggak kepengen dicintai oleh semua orang, semua kalangan, bahkan oleh seluruh penghuni alam semesta ini? Tentu semuanya pengen kaaan? Naah karena isu cinta gak pernah ada matinya dari jaman baheula, dari jaman ngesot hingga naik pegiot, dari jaman naik kuda hingga kebeli mazda, atau juga semenjak naik andong hingga naik syangyong, maka lebih klop kalau judulnya seperti di atas. Hoho..ini sih murni pendapat pribadi saya loh ya.

Apa sih tujuh hal itu? Langsung saja kita simak di bawah ini. Jangan kemana-mana, jangan pindah channel atau pindah tempat duduk. Apalagi pindah ke lain hati :D *Kedip-kedip kelilipan.


1.      Jadilah pendaki yang sopan dan punya tata krama

Biar aja deh mereka duluan (foto dari linasasmita.com)
Misalnya saat akan mendaki gunung kamu berpapasan dengan orang yang akan turun. Jalan yang dilalui ternyata sempit hanya cukup untuk satu orang. Ya berhenti dong, menyingkir sebentar ke tepi, beri jalan sambil pasang senyum. Syukur-syukur menyapanya dengan ucapan hai, halo, atau Assalamualaikum. Jangan ngebut whuuus…whuuss….gitu, emang loe kira jalur ini jalan tol apa? Kalau kata Bang Hendri Agustin sih di salah satu tulisan di blognya, hal ini disebut sebagai mountaineering ethic atau etika pendakian gunung, dimana terbagi dalam dua aspek yakni human relation dan nature relation. Mau tau lebih banyak tentang ini langsung klik saja di sini.

Nah kalau tata krama sama alam gimana? Saat di gunung jangan teriak-teriak kayak lagi konser. Kasihan binatang yang rumahnya emang di situ jadi terganggu. Apalagi pakai gelang dan gantungan yang bunyi kerincingan begitu. Beuh mengganggu pisan. Polusi suara alias noise.

Baik saat berada di jalur pendakian ataupun lagi santai nge-camp, jangan suka iseng matah-matahin ranting pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Biarlah mereka berada di tempatnya tanpa kamu ganggu. Kalau sekedar ambil gambarnya lewat jepretan kamera ya boleh-boleh saja, termasuk selfie di antara daun-daun, nangkring dan nongkrong di dahan-dahan pohon. Persis deh dengan .... :D *nggak tega nyebutnya.



2.      Jadi pendaki tuh harus cinta alam dan lingkungan 

Salah satu tanda pendaki yang mencintai alam dan lingkungan adalah tidak buang sampah sembarangan. Setiap logistik yang kamu bawa naik ke atas gunung, wajib hukumnya kamu bawa pulang kembali saat turun. Gunung bukan tempat sampah Bung, Mas, Mbak. Gunung itu penyangga kehidupan yang menyediakan air untuk lebih dari setengah populasi manusia di muka bumi. Gunung itu the mother of nature yang kudu kita jaga supaya tetap lestari, bersih, dan tetap hijau. Makanya PBB melalui organisasi yang menangani masalah pangan dunia, UNICEF menetapkan satu hari spesial yakni 11 Desember sebagai Hari Gunung Internasional. Kalau mau tau lebih jauh lagi baca di sini

3.      Jadi Pendaki tuh kudu mandiri

Mandiri dalam hal tidak bergantung sama teman setim apalagi sama orang lain yang beda tim. Kalau kamu cewek, jangan sukanya cuma bawa daypack doang sedangkan keril kamu titip teman cowokmu. Jadi cewek pendaki tuh jangan berprinsip bebanku bebanmu, bebanmu bukan bebanku dong. Percaya deh cowok itu paling sebeeel banget sama cewek tipe gini. Para cowok justru akan sangat respek dan kagum sama cewek yang kuat dan tidak menyusahkan. Kecuali ya kecuali si dia emang lagi pedekate dan tepe-tepe sama kamu. Itu mah lain soal.  

4.      Jadilah  Pendaki yang berempati dan setia kawan


Makanan siap dihidangkan (Foto dari: linasasmita.com)
Contohnya dalam hal memasak, jangan taunya udah matang baru sibuk nyiapin piring atau nesting. Ikutlah terlibat dari mengambil air bersih, mengiris-iris bawang, menyalakan kompor, membuat kopi, wedang jahe, memasak nasi, dan lainnya. Jangan kamu biarkan temanmu terus yang melakukan. Diam-diam dia juga punya rasa gondok sama kamu kalau kamu hanya santai-santai dengerin lagu sementara dia brak-bruk sibuk nggak karuan.

Jika ada teman yang kesakitan, hipotermia atau dehidrasi jangan pelit minjemin jaket, sleeping bag, atau memberinya air minum. Tolong dan rawat temanmu dengan penuh kasih sayang. Pertolongan kepada orang sakit itu teramat susah dilupakan oleh si sakit. Entah melalui dia atau orang lain maka balasannya akan kamu terima suatu saat dalam bentuk apa saja. Ingat pantun melayu

Pulau Pandan jauh di tengah
Gunung Daik bercabang tiga
Hancur badan di kandung tanah
Budi baik dikenang juga

Oya ngomong-ngomong, Gunung Daik sekarang cabangnya jadi dua. Yang ketiganya udah patah. Gunung Daik dimana sih? Gunung ini terkenal banget di kalangan orang Melayu loh. Peta mana peta.

5.      Jadi Pendaki yang terus belajar dan belajar. Terus memperbaiki diri. Tidak konyol.

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Saat mendaki adaaa saja ilmu dan pengetahuan baru yang akan kita dapat. Mulai dari hal-hal kecil hingga besar. Entah itu bagaimana cara menyesuaikan perjalanan dengan ritme tubuh dan nafas, atau kamu tersesat dan ternyata belajar bagaimana mengatasi rasa panik hingga dapat selamat dari bahaya maut yang mengintai. Jadikan itu bekal di pendakian-pendakian berikutnya.

Konyol namanya kalau kamu mendaki gunung cuma pakai sendal  jepit. Yang dijepit itu rambut bukan kaki. Ingat! kaki itu aset penting bagi mulusnya pendakianmu. Jaga kakimu agar senantiasa nyaman dengan memakai sepatu dan kaus kaki. Apa? Sepatu gunungnya mahal-mahal? Kalau gitu jangan mendaki gunung dong kalau gak mau modal. Mendaki gunung itu bukan hobby yang murah Jack. Masa sih buat beli rokok yang nyata-nyata merusak kesehatanmu saja kamu bela-belain ngutang sementara buat beli sepatu gunung yang safety untuk kakimu sendiri kamu bilang mahal. Uang rokoknya itu tabung dong buat beli sepatu.

Kalau buat para cewek, lupakan dulu beli wedges atau kosmetik. Beli sepatu gunung sama keril yang cocok untuk ukuran kaki dan badanmu. Jangan pinjam mulu, malu. Masa udah berpuluh-puluh gunung kamu daki tapi properti pinjaman semua. Aiiih. *gigit jempol.

Konyol namanya kalau kamu mendaki gunung tidak bawa persiapan apa-apa. Di gunung tidak ada supermarket jadi penting banget bawa makanan dan pakaian yang cukup untuk beberapa hari pendakianmu. Jangan ngandalin belas kasihan pendaki lain. Bagaimana pun juga mereka tak tahu persis kondisi tubuhmu seperti apa.


6.      Jadi Pendaki yang happy

Senyum di Gunung itu Menyehatkan :D (Foto: linasasmita.com)

Menyenangkan orang lain dan membuatnya tersenyum adalah amal kebaikan loh. Jangan dianggap sepele. Senang rasanya kalau kita mendaki dengan orang yang selalu happy dan gembira. Eh artinya sama-sama wae nya happy itu kan gembira. Halaah. Dan kebalikannya, jalur akan teramat sangat panjang dan lamaaaa.....banget jika rekan seperjalanan mukanya tertekuk masam. Kalah deh asamnya asam jawa sama asam kandis. Rasanya cukup sekali ini aja deh jalan sama dia. Marah-marah mulu. Ngomel-ngomel mulu. Ngeluh-ngeluh mulu. Idiiih gak ada bagus-bagusnya. Kapur Bagus sih bisa ngusir semut dan kecoa. *Iklan tak berbayar :D

7.      Jadi Pendaki yang .....

Yang ketujuh ini tambahin sendiri aja deh. Karena tiap orang punya versinya masing-masing. Wkwkwk...ini sih namanya kehabisan ide tapi nggak mau ngaku. #Plaaak.



Sudah siap menjadi pribadi menarik yang disukai, disayangi, dan dicintai sesama pendaki? Yuk perbaiki sikap, wawasan dan pengetahuan tentang segala hal yang menyangkut pendakian di Gunung. Cari tahu dari pengalaman teman, buku-buku pendakian,  catatan-catatan perjalanan yang berlimpah di internet, atau media lainnya.

Kalau sikap dan perilakumu sudah mencerminkan ketujuh hal di atas bahkan mungkin melampauinya, percaya deh tidak saja jin dan manusia bahkan tumbuhan dan binatang pun akan senang dengan perbuatanmu. Kenapa? Karena aura positif selalu terpancar dari jiwa dan ragamu. Ikhlas gitu loh. Layaknya Puteri Indonesia, semua mata tertuju padamu #tsaaaah....Mamah Dedeh banget. *Kibas Jilbab.

Thursday, January 15, 2015

[Catatan Perjalanan Gunung Semeru] Tanjakan Cinta, antara Mitos dan Keindahan


Tanjakan Cinta Gunung Semeru
Ratusan Tenda dan Tanjakan Cinta


Rute Trekking Gunung Semeru:
 
Desa Ranupani --> Pos I (Landengan Dowo, 2300 mdpl) -->Pos 2 (Watu Rejeng, 2350 mdpl) --> Pos 3 (Ranu Kumbolo, 2400 mdpl) ---> Tanjakan Cinta ---> Savanna Oro-Oro Ombo --> Pos 4 (Cemoro Kandang, 2500 mdpl) ---> Pos 5 (Jambangan, 2600 mdpl) ---> Pos 6 (Kalimati, 2700 mdpl)--> Puncak Mahameru 3676 mdpl.

Hari itu langit biru cerah. Matahari bersinar hangat seiring irama kaki para pendaki yang meniti Tanjakan Cinta. Dari jauh mereka tampak seperti semut-semut pekerja yang sedang memanggul makanan. Begitu kecil dan ringkih jika dibandingkan dengan megahnya alam yang saya saksikan.

Tanjakan Cinta Gunung Semeru
Tanjakan Cinta

Perlahan saya melangkahkan kaki melalui ratusan tenda yang berwarna-warni. Mengikuti jalan setapak yang mengarah ke Tanjakan Cinta. Tanjakan dengan kemiringan hampir 60 derajat, yang kerap membuat seseorang yang melaluinya meminta tolong kepada rekan atau orang yang ditemuinya dengan berpegangan tangan. Hingga tampak seperti orang yang sedang berpacaran. Atau karena saling berpegangan tangan itulah maka diantara keduanya mulai tumbuh benih-benih cinta. Kata suami saya, konon dari situlah Tanjakan Cinta diberi nama.

Tanjakan Cinta di Gunung Semeru mengingatkan saya pada Tanjakan Patah Hati di Gunung Sinabung. Walau saat itu tubuh masih segar-bugar namun ampun-ampun deh tanjakannya bikin nyeri tulang sendi. Kebalikan dari Tanjakan Cinta yang menyemai benih-benih kasih, Tanjakan Patah Hati  justru menuai kesedihan dan patah kaki eh...patah hati :D Kok bisa?

Biasanya yang dilakukan orang-orang di tanjakan ya gitu saling pegang-pegangan tangan dengan pasangan masing-masing. Naah... di Tanjakan Patah Hati yang dipegang ternyata tangan pasangan orang lain. Qiqiqi...gimana nggak patah hati coba kalau pasangan kita pegangan tangan sama cewek lain. Baik itu cewek cakep, atau setengah cakep, atau kurang cakep, atau nggak cakep sama sekali. Yang pasti cewek lain. Iya gak apa-apa kalau pegangan tangannya jeruk sama jeruk, kalau jeruk sama apel? Laaah kan bahaya, bisa dibuat jus sekaligus. Idiih apa coba?

Kalau suami saya pegangan tangan sama cewek lain? Beuuuh jangan harap-harap deh, udah saya lempar keril tuh cewek pakai jurus lempar piring atau dicakar-cakar pakai gagang trangia biar gelindingan sekalian di tanjakan. Haha....jangan macam-macam sama istri galak dan cemburuan.

Tanjakan Cinta Gunung Semeru
Huuup...nggak ada yang buat dipegang

Mitos yang beredar di kalangan pendaki mengenai Tanjakan Cinta ini adalah JANGAN MENENGOK KE BELAKANG karena akan putus cinta. Halaah. Dan saat melangkahkan kaki semakin tinggi di tanjakan ini, hati saya pun mulai terpengaruh. Nengok nggak, nengok nggak? Yaelah mpok pake mikir segala. Saya pun membalikkan badan. Subhanalloh. Saya berdiri mematung. Kemudian hanya suara kamera yang berbicara. Klak-klik klak-klik. Kesian amat itu yang bikin mitos berarti nggak menyaksikan pemandangan Luar biasa  amazing di belakang sana.

Dengan semangat membara saya terus melangkah. 10 menit kemudian sudah nangkring di atas sana. 10 menit yang bikin nafas sesak, jantung berdegup kencang, mata kunang-kunang dan lutut mendadak letoy. Aaah lupa kalau usia sudah di atas kepala 3 puluuuuh.....**** tiiit sensor. Biar tetap dibilang masih muda :D

Ini pemandangan dari Tanjakan Cinta ke Belakang
Saya berangkat sendirian menuju puncak. Porter yang membawa keril saya sudah lama berangkat 1 jam sebelumnya. Chila dan ayahnya tidak ikut  menuju puncak karena ada larangan membawa anak kecil. Lagian kami masih belum yakin dan tidak mau mengambil resiko yang lebih besar lagi. Khawatir Chila kenapa-kenapa. Cukuplah ia sampai Ranu Kumbolo.

Mata saya nanar mencari-cari tempat Chila dan ayahnya main ayunan. Sepertinya di gundukan pohon yang sana yang sebelah kiri. Kelihatan? Itu tuh yang sebelah kiri. Masih belum kelihatan juga? Iya sama :D Saya yakin mereka berdua memperhatikan saya dari jauh. Dan yang mengangetkan, saat pulang ke Batam, Chila mulai menggambar suasana Ranu Kumbolo plus lapangan rumput dengan dua kotak di sebelah kanan yang  menurutnya adalah toilet. Pada kenyataannya toilet tersebut berdinding terpal biru dan joroknya minta ampun. Air pipis dan kotoran manusia tercecer beberapa meter menjelang toilet. Untung saya minum diapet dua kaplet sebelum keberangkatan di Ranupani. Biar tidak kebelet buang air besar saat berada di gunung. Ah sungkan dan berdosa rasanya meninggalkan ranjau dan mengotori alam yang indah ini.

Di gambar itu pun Chila membuat garis lurus ke atas yang katanya itu Tanjakan. Tanjakan Cinta maksudnya. Di dalam tanjakan  dia menggambar orang serupa lidi dengan urek-urekan nggak jelas. Chila bilang itu Bunda. Hehe...iya mirip deh memang saya kurus cungkring.


Tanjakan Cinta di belakang tampak berupa garis di bukit (abaikan model :D)

Saya dibuat termenung, rupanya daya ingatnya masih kuat sehingga gambaran utuh suasana Ranu Kumbolo begitu terasa. Chila pun menggambar bukit-bukit di sekeliling Ranu Kumbolo. Namun yang saya heran dia tidak menggambar rumput dan pepohonan. Dia menggambarkan garis-garis melengkukng seperti ombak. Katanya itu salju. Keukeuh. Ini anak pengen banget ngelihat salju sampai-sampai membayangkan bukit-bukit di Ranu Kumbolo semuanya tertutup salju. Sepertinya terpengaruh film Masya and the Bear yang selalu memperlihatkan musim salju. Hingga Chila sering merajuk.

"Bunda kenapa sih di Indonesia nggak ada salju. Males Chila." Katanya.
"Siapa bilang di Indonesia nggak ada salju? ada kok."
"Dimana? dimana Bunda?" Matanya berbinar-binar
"Di Papua.Di puncak Gunung. Namanya Cartenz Pyramid."
"Waaah mau-mau...Chila mau ke Papua Bunda."

Klop deh. Bunda juga sama Chil pengen ke Papua. Nanti ya kalau ada rejeki. Nyengiir kuda.

Saat saya mencari-cari gambarnya untuk difoto, entahlah ada dimana. Kebiasaan Chila kalau udah menggambar, naruhnya sembarangan. Saya pun lupa untuk menyimpan dan merapikannya.

Saturday, January 10, 2015

[Catatan Perjalanan Gunung Semeru] Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo (view  dari Tanjakan Cinta)

Rasa lelah dan capek setelah 6 jam perjalanan jalan kaki dari Desa Ranupani mendadak sirna saat kami bertiga menyaksikan danau indah terbentang di hadapan. Ranu Kumbolo. Sesungguhnya jalur ini bisa ditempuh dalam waktu 3 jam. Namun karena mengikuti kecepatan anak kami Chila, maka kecepatan berjalan berkurang hampir 50%.

Ranu Kumbolo adalah danau seluas 15 hektar yang terletak di ketinggian 2400 meter di atas permukaal laut (mdpl). Terhampar di antara perbukitan yang melingkupi kawasan Gunung Semeru. Semakin berjalan menyisir gigiran perbukitan yang mengelilingi danau ini, semakin jelas terlihat segala pesona dan keindahannya.

Woow bahagianya udah sampai Ranu Kumbolo

Rumput-rumput yang menghijau kekuningan serta perbukitan yang disepuh sinar keperakan dari matahari senja, membuat suasana damai semakin pekat melekat mengusir penat. Tenda-tenda beragam warna,  mejikuhibiniu bergradasi seperti warna pelangi.

Ranu Kumbolo
Kompleks Rumah Alam

Setumpuk sampah menyambut di turunan menuju area camping. Segunduk botol-botol air mineral ukuran 750 ml serta berbagai sampah plastik mie instant dan snack lainnya sungguh membuat hati meringis miris. Pendaki gunung, porter, atau pihak Taman Nasionalkah yang harus bertanggung jawab terhadap sampah-sampah itu? Tanyakan saja pada hati masing-masing. Bahkan Chila, anak kecil berumur 4 tahun 8 bulan saja begitu emosi melihat tumpukan sampah-sampah mengotori kawasan ini. Jadi apakah perlu kita bertanya pada anak kecil siapa yang harus bertanggung jawab? Sungguh memalukan.(Catatan: Mohon diperhatikan bahwa peraturan TNBTS yang baru melarang anak usia di bawah 10 tahun mendaki gunung Semeru).

Ranu Kumbolo
Peraturan Tertulis Jelas
Untuk kebersihan di sepanjang jalur saya acungi jempol. Bersih dan sangat jarang ditemukan sampah. Walau ratusan pendaki sedang bergerak naik. Mungkin banyak juga pendaki yang baik budi, rendah hati, berjiwa luhur, rajin menabung dan tidak sombong :D yang memunguti dan membersihkan sampah di sepanjang jalur Ranu Pani - Ranu Kumbolo. Sayang, ternyata oh ternyata sampah di Ranu Kumbolo yang dikumpulkan belum semuanya dibawa turun. Syukurnya, di Rakum banyak volunteer yang rajin beberes, menyapu sampah-sampah dan mengumpulkannya di satu titik.


Ranu Kumbolo
Bayangannya Sempurna
Para porter pun kini aktif menjaga dan mengawasi kebersihan. Seperti saat itu mereka menghukum beberapa pendaki yang ketahuan menceburkan diri ke danau. Padahal peraturan tertulis jelas seperti foto di atas, bahwa dilarang berenang dan mandi di danau. Selain merusak ekosistem danau karena kandungan zat-zat yang terdapat dalam sabun mandi, pasta gigi, atau detergen juga karena airnya merupakan sumber air bersih yang digunakan para pendaki untuk keperluan minum dan memasak.

Mas Yanto, porter kami menceritakan bahwa ia baru saja menghukum seorang pendaki dengan menyuruhnya memunguti sampah. "Tadi siang malah ada yang diusir turun dan disuruh telanjang dada" ceritanya kepada kami.

2 buah tenda telah kami dirikan saling berhadapan. Menyempil diantara ratusan tenda lainnya. Terlihat sesak hampir tak berjarak. Namun sungguh saya menyukai suasana seperti ini. Suasana keramaian dan hiruk-pikuk di tengah-tengah tempaan alam. Sewaktu remaja, saya tidak pernah menyukai pendakian massal dan keriuhan di gunung. Sukanya menyendiri, merenung melihat awan, mengamati bintang, atau menatap bulan. Idiih...untung saja tidak mendadak keluar taring mirip serigala :D

Beberapa tahun terakhir ini saya mulai melihat pendakian gunung dari sisi lain. Saya mulai suka membaur, berkenalan, mengobrol dengan orang-orang yang baru ditemui. Menyerap ilmu dan pengetahuan yang bisa datang dari siapa saja. Mengenal lebih banyak lagi orang-orang Indonesia dari berbagai suku dan daerah. Dan berdiskusi tentang dunia pendakian yang penuh dinamika dan kontroversi.

Seperti senja itu, saat kami sedang sibuk mempersiapkan menu makan malam. Beberapa orang langsung menyapa dan bertanya-tanya. Mereka tertarik dengan gadis kecil kami yang sedang sibuk membenahi tendanya. Mereka adalah sekelompok traveler yang sedang keliling Indonesia dan rupanya tak melewatkan danau di tengah gunung ini. Dari obrolan kami, mereka tidak akan muncak ke Mahameru, namun cukup sampai di danau lalu turun dan melanjutkan petualangan ke tempat lainnya.


Ranu Kumbolo
Bersama Bang Rudi Becak (Jersey Hijau), volunteer,  dan Pendaki Semeru
Sekelompok pendaki yang tampaknya sudah senior mendirikan tenda tak jauh dari tenda kami. Dengan ramah mereka menawarkan coklat dan permen kepada Chila. Suami saya berbisik bahwa ia kenal salah satu diantaranya. Dialah Bang Rudi Becak. Begitu mendengar namanya saya langsung dapat mengenali. Saya mengetahui namanya ini dari berita, buku dan artikel-artikel tentang pendakian gunung yang pernah saya baca. Yup, ia adalah salah seorang anggota Tim Pendaki Indonesia yang menyertai Asmujiono - yang secara resmi didaulat sebagai orang Indonesia pertama yang menggapai puncak Gunung Everest, Gunung tertinggi di dunia. Saya seakan menemukan berkah tak terkira bertemu dengan senior-senior di pendakian gunung ini.

Bang Rudi Becak ternyata sedang reunian bersama rekan-rekan seangkatannya dari Mapala UI. Jadilah saya bisa bertemu, berkenalan dan menanyakan beberapa hal tentang survival juga kisah-kisah pendakian di Everest kepada beliau ini. Saya dulu berharap banget bisa jadi anggota Mapala UI, apa daya kuliahnya bukan di UI :(

Aktivitas di Tepi Danau
Senja mulai beranjak. Sepuhan sinar keperakan yang membias di perbukitan mulai berganti warna jingga. Riuh rendah suara pendaki yang sedang memasak, mengambil air di danau, berfoto ria, Selfie & groupie dengan tongsis teracung-acung ke langit atau sekedar mengobrol ngalor-ngidul, semakin padu menyatu dengan suasana alam yang syahdu.

Lampu-lampu mulai dinyalakan. Bias cahaya di kejauhan tampak seperti bintang-bintang yang berjatuhan. Berkelipan, bertaburan di tepian. Pendar cahaya dari tenda-tenda di Ranu Kumbolo seakan sebuah galaksi di luasnya alam raya ini.  Saya bergumam dalam hati sungguh saya menyukai suasana seperti ini.Saat tubuh dan jiwa saya berada sepenuhnya di dalam pangkuan alam bebas.

Tenda dan Pendaki
Menikmati malam dengan bercengkrama, bercanda, sambil menghidu secangkir teh hangat adalah saat-saat terbaik menikmati hidup. Meski udara dingin semakin menggigit, menyusup hingga ke tulang belulang.

Saya dan Chila menutup tenda lebih awal. Berkali-kali Chila mengeluhkan hawa dingin. Baginya yang terbayang saat itu adalah kemping di sebuah pulau di tepi pantai dengan pasir putih, deburan ombak dan udara hangat. Seperti 2 tahun lalu saat kemping di Pulau Lampu, Batam.

Lari Pagi
"Chila gak suka dingin, Chila sukanya panas!" rengeknya sambil meringkuk di sisi tenda. Baju dua lapis, jaket bulu angsa, rompi hello kitty dari bahan polar, dan sleeping bag dua lapis tak mempan membuatnya hangat. Sungguh ini merupakan ujian fisik baginya. Saya hanya bisa memeluk dan menyuruhnya bersabar. Dilahirkan dan dibesarkan di wilayah kepulauan yang datarannya rendah dan berudara panas sungguh merupakan hal yang berat baginya mendadak berada di ketinggian sebuah gunung.

Bun...ikannya mati
"Kenapa sih ayah bunda suka gunung?" Tanyanya.
"Sayan, ayah bunda dilahirkan dan dibesarkan di kampung yang banyak gunungnya, makanya suka gunung. Di Garut banyak Gunung. Di Bogor juga banyak gunung." Jawab saya.
"Chila gak suka gunung, Chila sukanya laut!" Rengeknya.
"Iya iya, baiklah Nak, beberapa hari lagi kita akan pulang ke Batam. Kita kemping di laut."

Bersama Ayah Menikmati Indahnya Ranu Kumbolo
Obrolan makin gak menentu. Balita saya akhirnya tertidur. Sesekali terbangun sambil mengeluhkan dingin. Namun keesokan harinya taraaaa.....dia teramat menyukai tempat ini. Berlari-lari dan memunguti ikan-ikan kecil yang mati di tepi danau.

"Bund, kasihan ikannya pada mati. Ayo kita kubur!" Kami pun menguburkan ikan-ikan kecil itu di lumpur.

Langitnya Biru :D

Suasana pagi itu sungguh luar biasa. Angin berhembus tenang, langit membiru, dan matahari mulai menampakkan diri. Meninggi di antara kedua bukit sebelah timur. Setelah sarapan dan mempersiapkan kepergian saya ke Kalimati yang berada kurang lebih dua jam perjalanan dari Ranu Kumbolo, kami berkeliling danau dan memasang hammock. Menikmati suasana dengan cara lain. Tepat jam sebelas siang saya meninggalkan Chila dan ayahnya. Tertatih-tatih di Tanjakan Cinta yang kemiringannya hampir 60 derajat. Kabarnya di tanjakan ini setiap pendaki dilarang menengok ke belakang karena cintanya akan putus. Halaaah saya mah berkali-kali menengok ke belakang dan Subhanalloh, tak bisa berkata-kata lagi melihat hamparan lukisan nyata di hadapan.

Tanjakan Cinta

Catatan:

Untuk menuju danau Ranu Kumbolo berangkatlah dari kota Malang, Jawa Timur menuju Tumpang dengan menaiki angkutan kota. Dari kota Kecamatan Tumpang inilah kemudian naik mobil Jeep menuju Desa Ranu Pani di kaki gunung Semeru. Kalau carter sendiri mahal lebih bagusnya lagi bergabung dengan para pendaki lain. Rata-rata 700 ribu  hingga satu juta rupiah per jeepnya. Tergantung musim pendakian. Kalau satu jeep muat  hingga 14 orang maka harga bisa ditekan sekitar 50 ribu per orang.

Tarif  masuk kawasan Taman Nasional Gunung Semeru:

Pendaki lokal: Rp. 17.500 hari biasa dan Rp. 22.500 hari libur
Pendaki manca negara: Rp. 207.500 hari biasa dan Rp. 307.500 hari libur



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...