Senin, 30 Maret 2015

Darajat Pass, Wahana Pemandian Air Panas di Kabupaten Garut

Tulisan Darajat Pass di Samping Pintu Masuk
Beberapa kali saat pulang kampung ke Garut, saya kerap mengajak Chila, para sepupu dan keponakan untuk berenang di Darajat Pass. Sebuah lokasi pemandian air panas yang terletak di kawasan pegunungan di Kecamatan Pasir Wangi Kabupaten Garut Jawa Barat. Kawasan waterboom yang terintegrasi dengan perkebunan, villa/bungalow, saung-saung, dan beberapa wahana permainan lain yang menantang adrenalin.

Lokasi Darajat Pass tidak terlalu jauh dari tempat kami tinggal di Kecamatan Sukaresmi. Hanya dibutuhkan waktu sekitar kurang lebih 30 menit dengan menaiki kendaraan bermotor kami sudah dapat menikmati suasana khas pegunungan yang sejuk dan berbukit-bukit di sekitar Darajat Pass.

Kompleks Pemandian Air Panas darajat Pass. 

Saya, ibu, kakak dan adik saya sengaja menyewa sebuah mobil Angkutan  Pedesaan (Angped) berwarna kuning untuk mengantarkan kami ke Darajat Pass. Saat mobil melewati sebuah Sekolah Dasar, ibu memanggil-manggil sepupu yang kebetulan baru keluar pulang sekolah. Ini sih namanya menculik karena tidak bilang dahulu kepada orang tua mereka :D

Ah, biarlah paling-paling paman dan bibi kecarian dan bertanya sana-sini kenapa anak-anak mereka belum pulang juga. Lagian banyak warga kampung yang melihat anak-anak diajak oleh kami. Jadi tak terlalu khawatir.


Tiket masuk kawasan Darajat Pass adalah sebesar 25.000 rupiah. Dan tanpa menunggu dikomando, begitu masuk kawasan wisata air ini, anak-anak langsung membuka baju dan menceburkan diri ke dalam kolam renang.

Karena sepupu dan keponakan saya kebanyakan tidak membawa baju ganti, beberapa dari mereka bertelanjang bulat tidak menggunakan apa-apa. hahaha....tak apalah mereka masih anak-anak. Namun karena mondar-mandir naik turun perosotan beberapa remaja perempuan menjerit kaget tiba-tiba ada anak bertelanjang bulat tepat di hadapan mereka. Saya, ibu dan kakak terpingkal-pingkal menyaksikan hal tersebut.

Tak mau ketinggalan, Chila pun sudah tak sabar lagi untuk berenang. Ia lantas berganti baju dan mengenakan pelampung. Saya pun segera mengganti baju dengan Baju Renang Muslimah dan menemaninya berenang sampai puas. Bermain air mancur, perosotan, dan permainan air lainnya.

Menemani Chila Bermain Air
Sebelum punya baju renang muslimah, saya malah jarang menemaninya berenang. Bingung mau pakai baju apa sementara kebanyakan kolam renang mewajibkan berpakaian renang bagi setiap pengunjungnya. Dan Alhamdulillah ketika baju renang muslimah awal-awal di-release dan beredar di pasaran, saya langsung membelinya karena sudah lama menunggu-nunggu.

Awal-awal menggunakan kerudung saat SMP dan SMA saya sudah membayangkan seandainya ada baju renang muslimah yang dapat saya pakai untuk berlatih berenang. Perasaan tersiksa sekali setiap berenang harus kucing-kucingan dengan pengunjung lain. Biasanya saya berenang saat kolam renang sepi, dan begitu tampak ada pengunjung laki-laki cepat-cepat menghindar pura-pura menyelam atau masuk toilet. Hehe kasihan banget kan.

Darajat Pass mempunyai beberapa kolam dengan shu air berbeda-beda. Pada bagian atas kolam tempat kami berenang, terdapat  dua kolam renang yang bersuhu panas. Suhunya mencapai 45 derajat celcius. Cocok bagi mereka yang berniat terapi berbagai macam penyakit seperti rheumatik dan penyakit kulit. Kandungan belerang dalam air panas dipercaya sejak lama untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit tersebut. Tak heran di tepi-tepi kolam banyak ibu-ibu dan bapak-bapak yang duduk-duduk merendam kaki.

Menuju Kolam Atas

Karena Chila dan saya tidak kuat dengan air panas, kami cukup berenang di kolam bawah saja yang airnya dingin dan ada juga yang hangat. Sedangkan sepupu dan keponakan saya mondar-mandir mencoba semua kolamnya. Hampir dua jam berlalu, kami segera naik dan bersih-bersih.

Setelah mandi dan berganti pakaian, kami makan nasi yang dibekal dari rumah. Sebagian anak-anak memakan pop mie yang harganya mendadak dua kali lipat dari harga biasa. Alhamdulillah nikmatnya. Selesai makan anak-anak segera berlarian menuju tempat kuda-kuda merumput. Chila penasaran sekali ingin naik kuda namun sayang pemilik kudanya saat itu entah dimana.

Setelah membujuk Chila karena tidak berhasil naik kuda, kami pulang dan berjanji padanya untuk memenuhi keinginannya berkuda di lain waktu.

Baca juga pengalaman saat pulang kampung lainnya, mendaki Gunung Guntur yang penuh waswas dan curiga karena ternyata di gunung tersebut banyak maling dan para pendaki sering kehilangan barang berharga terutama uang dan kamera. Atau tentang curahan hati saya di Gunung Papandayan dalam sebuah monolog cinta pertama.

Minggu, 29 Maret 2015

Kenangan tentang Nenek yang Melekat dalam Aroma Kopi

Kenangan terhadap seseorang kerap kali terhubung dan muncul begitu saja dalam ingatan saat kita mendengar, melihat, mencium, atau merasakan benda-benda yang pernah menjadi bagian dalam kisah kehidupan seseorang tadi. Begitu pula yang terjadi denganku.

Saat menyesap secangkir kopi,  maka aromanya selalu membawaku ke masa lalu. Pada masa kecil yang begitu seru dan penuh warna. Dan kenangan yang melekat yang paling kuingat dari secangkir kopi adalah saat memetik biji kopi hingga mengolahnya menjadi kopi bubuk bersama nenek.

Kenangan sewaktu kami memetik buah kopi di kebun belakang rumahnya, mengumpulkan dalam satu wadah lalu menjemurnya. Mengupas dan menyangrai biji-biji kopi yang telah kering kemudian menumbuk dan menyaringnya. Hingga biji-biji itu menjadi kopi bubuk yang beraroma khas.

Nenek menyimpan kopi yang telah menjadi serbuk dalam toples. Ketika ada tamu atau setelah mengajarkan kami mengaji Al Qur’an setiap ba’da maghrib, maka ia akan menghidangkan kopi buatannya dengan penuh suka cita. Kopi yang disajikan disertai penganan kecil berupa singkong rebus, ubi manis rebus, atau labuh siam rebus. “sok ngopi heula” katanya. Ngopi dalam arti minum kopi dan menikmati penganan buatannya. Ngopi adalah aktifitas yang kami gemari sambil  mengobrol atau mendengar cerita nenek tentang kisah dan sejarah masa lampau.

Dan kata “ngopi’ hingga kini menjadi kata wajib bagi setiap aktifitas menikmati penganan. Bahkan saat kopi tidak hadir bersama penganan-penganan itu tetap saja aktifitas ini kami sebut ngopi. Begitulah keterikatan orang sunda terhadap kopi.

***
Mentari baru sepenggalan naik. Burung-burung pipit riang bercicit. Melompat dari satu dahan ke dahan lainnya. Dahan-dahan pohon cengkeh tua yang terletak di samping rumah nenek. Pohon yang menjulang tinggi, berdahan besar dan berdaun rindang. Pohon tempat aku dan sepupu-sepupuku bermain sekaligus belajar.

Aku dan nenek melewati pohon cengkeh tua menuju ke kebun di belakang rumahnya. Ya, di pagi yang cerah itu aku diajak nenek untuk membantu pekerjaannya di kebun. Walau sebetulnya aku lebih banyak bermain-main daripada membantunya. Nenek tak pernah marah.

Ah ya, selalu saja menyenangkan menghabiskan waktu bermain-main di kebun. Walau sekedar mencabuti rumput teki yang tumbuh liar di antara sulur-sulur ubi rambat,  namun kunjungan ke kebun senantiasa menjadi kisah yang seru untuk diceritakan keesokan harinya di sekolah. Terlebih kami selalu saja menemukan hal-hal kecil yang mengejutkan yang kerap membuat kami gembira saat kembali ke rumah. Misalnya saja nenek tiba-tiba menemukan buah nangka yang matang di pohon, atau kami mencabut singkong yang ternyata besarnya hingga selebar paha orang dewasa, atau ketika membersihkan rumput teki dengan cangkul kecil tiba-tiba menemukan bengkoang yang menyembul ke permukaan tanah. Sungguh kejutan-kejutan yang menyenangkan.

Begitulah aku mengingat dan terkenang pada masa-masa kecil bersama nenek. Beliaulah yang kerap menjadi tempat mengadu saat kami dimarahi oleh bapak dan ibu. Rumahnya menjadi tempat yang aman untuk bersembunyi. Bujukannya selalu dapat dituruti. Cerita dan dongeng-dongengnya sering membuat imajinasiku melayang ke suatu tempat. Ke lembah-lembah, ke puncak gunung dan ke lautan lepas. Beliau yang sebenarnya mempunyai peran besar mempengaruhi minat terbesarku kepada petualangan dan alam. Salah satunya keinginan kecil saya dulu adalah mengunjungi gunung Cikuray dan gunung Papandayan.

Nenek kini telah tiada, beliau  meninggal beberapa minggu yang lalu karena sakit. Namun walaupun sudah tidak ada, begitu banyak hal yang kerap mengingatkan dan menghubungkanku akan kenangan bersamanya.

Saat melihat rumput teki, ingatanku selalu terikat dengan kebun nenek. Saat melihat buah nangka maka yang terbayang adalah saat nenek membagi-bagikan nangka kepada semua cucu-cucunya. Dan aku kerap mendapat bagian yang lebih besar. Saat meminum jus sirsak yang kuingat hanyalah sirsak nenek yang lembut dan manis.

Walaupun berkabung dan bersedih, betapa aku bangga dan bahagia mempunyai nenek yang pintar, cerdas, dan penuh kasih sayang. Semoga Allah melapangkan kubur nenek dan menerima segala amal baiknya. Sungguh kami para cucu-cucunya adalah saksi akan segala kebaikan yang begitu melimpah darinya.

Jumat, 27 Maret 2015

Petualangan yang Gagal ke Pulau Bulan



Bukit Impian di Pulau Bulan 
Pecandu ketinggian, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan siapa saya yang sebenarnya. Entah kemana pun kaki melangkah jika melihat dan menyaksikan sebentuk bukit atau gunung, mata ini tak henti-henti untuk menatap dan memandanginya. Setelah itu selalu timbul niat untuk mengunjungi dan berdiri di puncaknya.

Salah satu contohnya adalah ketika pertama kali tinggal di kawasan Batu Aji Batam, saya selalu memperhatikan sebuah bukit yang tampak jelas terlihat dari tempat dimana saya tinggal. Bukit itu sepertinya menjadi titik tertinggi di Pulau Batam dan sekitarnya.

Dari arah Jalan Raya Letjen Suprapto tepatnya setelah Kawasan Industri Muka Kuning menuju Kecamatan Batu Aji dan Kecamatan Sagulung, bukit ini selalu terlihat sepanjang perjalanan. Muncul membayang di ujung pandangan. Di batas penglihatan. Sehingga kerap merambatkan denyar-denyar halus jauh ke dalam lubuk hati. Betapa ingin berada di puncaknya, berdiri memandangi seluruh wilayah pulau yang telah menjadi rumah dan tempat kembali bagi saya.

Namun, setelah mengecek  peta dan bertanya-tanya kepada beberapa orang, bukit yang kerap saya lihat itu ternyata berada di pulau lain, Pulau Bulan. Bukan di Pulau Batam. Meskipun begitu tetap saja keinginan dan hasrat mendaki bukit tersebut semakin menggebu-gebu. Hingga keinginan itu saya utarakan kepada beberapa teman. Syukurnya mereka juga begitu antusias. 

Dengan riang gembira, saya dan dua teman jalan, Erni dan Melan, memutuskan untuk mengunjungi bukit di Pulau Bulan tersebut. Seperti biasa kami membawa perbekalan dan perlengkapan masing-masing. Berhubung cuaca panas kami tak lupa membawa kacamata, slayer, dan payung. Saya dengan payung ungu, sedangkan Erni dengan payung pelangi yang mirip dengan Payung Magic 3D.  Tampak warna-warni mencolok di tengah siang yang terik. Saya tidak terfikirkan untuk mengetes payungnya dengan menggunakan air  laut. Padahal payung Magic 3D bisa dibilang payung ajaib karena jika terkena air akan memunculkan motif-motif lucu dan dan unik seperti motif bunga.

Erni dengan payungnya

Kami bertiga janjian untuk bertemu di satu tempat, lalu menaiki angkutan kota sejenis suzuki carry menuju Pelabuhan Sagulung. Setelah tiba di pelabuhan, dengan polosnya kami meminta kepada para tekong boat yang sedang mangkal untuk mengantarkan kami ke Pulau Bulan. Bukannya antusias para tekong malah tampak ragu dan keheranan.

"Memangnya mau apa ke Pulau Bulan?" Tekong itu bertanya penuh penasaran. Kami menjawab hanya untuk jalan-jalan.

"Mana boleh masuk. Tak sembrangan orang masuk sana. Hanya karyawan dan para tamu saja yang diizinkan masuk, kecuali ada surat jalan dari perusahaan." Tekong boat itu menerangkan panjang lebar. Kami saling pandang. Memang ada apa dengan pulau ini kok harus pakai surat jalan segala. Duh ini yang luput dari perhatian kami. Tidak riset dan mencari tahu seberapa banyak informasi tentang pulau ini.

Pulau Bulan adalah sebuah anomali diantara pulau-pulau lainnya yang dihuni masyarakat di kawasan Batam. Pulau ini dikelola oleh satu perusahaan milik Salim Grup yakni PT. Indo Tirta Suaka yang bergerak di bidang peternakan. Para tekong boat menyebutkan peternakan babi dan buaya. Jadi tentu saja tidak sembarangan orang masuk ke sana.

Karena degil, meskipun si Bapak tekong  bilang tidak boleh masuk kami tetap membujuknya untuk tetap menghantarkan kami ke Pulau Bulan. Karena didesak terus, akhirnya ia mau mengantar walau terus saja berkali-kali meyakinkan bahwa tidak akan diizinkan masuk oleh penjaga pulau.

Mesin boat mulai dinyalakan, kami bertiga masuk dengan penuh harap dan cemas. Ah biarlah apa yang terjadi nanti biarlah terjadi. Yang penting sekarang kami meluncur di atas perairan. Mencium aroma laut yang khas. Menyesap hawa anyir yang menguar dari tiap kecipak ombak yang dilalui. Yes, petualangan baru pun dimulai.

Matahari mulai menampakkan kegarangannya. Saya dan Erni mulai mengeluarkan payung masing-masing. Melan dengan slayer oranyenya. Tak kan kami biarkan sinar ultraviolet membuat gosong wajah kami :D

Iseng tak ada pekerjaan lain selain narsis foto-foto dengan payung, kami pun bercanda-canda. Erni pura-pura jadi perompak dan Melan jadi korbannya. Setelah itu Melan membalasnya :D


Kurang lebih sepuluh menit boat kami merapat. Tekong boat lalu mengikat sauh ke dermaga kayu. Saya, Erni dan Melan berjalan beriringan menyusuri jalan sempit yang berpagarkan tamanan. Saat tiba di gerbang sebuah pos, seorang security lantas menanyakan perihal kedatangan kami.

Seperti yang ditakutkan, ia tak mengizinkan kami masuk. Hwaaa…..kecewa luar biasa. Tak menyangka petualangan yang baru dimulai mendadak kandas di tengah jalan. Pengen pura-pura pingsan rasanya biar bisa masuk ke dalam pulau sana :D

Karena tidak ada lagi hal lain yang perlu kami lakukan, dan percuma saja adu mulut apalagi adu jotos, meskipun sudah berbuih-buih mengeluarkan jurus rayuan bin bujukan, si security tetap pada pendiriannya. Andai batu Akik sudah booming saat itu entah apa yang akan dilakukannya jika kami membujuknya pakai batu akik :D

Dengan gontai kami pun kembali menuju dermaga dan menaiki boat. Untung saja  Tekong boat berbaik hati menunggui kami. Tak hilang akal kami membujuk tekong untuk memutar memilih sisi lain untuk memasuki pulau Bulan. Masa sih pulau seluas itu tidak ada satu celah pun untuk kami susupi.

Boat melaju memutari sisi sebelah kanan pulau Bulan. Ya ampuuun yang terlihat hanya jalinan pohon bakau yang rapat. Mana dapat kami lewat dan mengendap-ngendap di bawahnya. takut ada ular atau kepiting yang terinjak, atau babi, atau buaya lepas. Huhuhu...hopeless. Berkali-kali memutar, pyuuuh tak sedikit pun celah kami masuki. Bayangannya kami menjadi penyusup seperti di film-film action ternyata gagal total. 

Baiklah..... kami harus jujur berkata "Kami Menyerah" lalu pulang.

Hiksss....nangis gerung-gerung.

  

Selasa, 24 Maret 2015

Bersepeda ke Jembatan Satu Barelang

Hari sabtu/minggu pagi biasanya saya sengaja menyediakan waktu untuk sepedaan. Tentunya setelah pekerjaan di rumah seperti membuat sarapan, mencuci baju dan mencuci piring selesai :D. Setelah mendapat izin dari penghuni rumah, yaitu Chila dan ayahnya, maka tanpa menunggu lama langsung cabut cuuus....rolling ke Jembatan Satu Barelang.


Menuju Jembatan Satu Barelang

Biasanya kalau lagi keluar rumah, saya selalu membiasakan diri tampil pakai rok atau baju gamis. Sudah mengurangi banget memakai celana panjang apalagi celana jeans. Tujuannya agar lebih mendekat kepada pakaian syar'i. Pelan-pelan walau belum sempurna banget tetap harus diusahakan dong. 

Nah, demi syar'i ini bahkan naik gunung pun saya kerap menggunakan rok. Selain faktor kenyamanan dan kebiasaan tentunya. Nggak ribet kok asal kita yakin. Tapiiii.... untuk sepedaan kayaknya saya nggak bisa dulu. Ngeri-ngeri gitu. Kadang bengong kalau lihat mbak-mbak dan mbok-mbok tukang jamu yang lewat di jalan raya pakai rok sambil mengayuh sepeda dengan santainya. Ajib banget menurut saya sih. 


Pemandangan di sepanjang jalan
Jadi, saat sepedaan saya nggak pakai rok karena memang belum berani dan nggak safety. Biasanya saya menggunakan celana basic pants wanita yang dirangkap dengan celana olahraga. Lumayan nyaman dan tenang di hati. Nggak takut nyangkut di jari-jari sepeda. Perhatian pun bisa konsentrasi kepada lalu lintas dan jalan yang akan dilalui.

Dendang Melayu
Tak kurang dari satu jam, saya sudah tiba di Jembatan Satu Barelang. Sebetulnya jalan yang dilalui dari rumah hingga belokan Simpang Tembesi masih aman dan datar-datar saja, tapi saat memasuki Jalan Raya Trans Barelang, mulailah menemukan tanjakan-tanjakan yang terbilang berat bagi pemula seperti saya. Beberapa kali sih bisa survive terus menggenjot pedal, tapi untuk tanjakan yang ketiga dan keempat terpaksa deh berjalan sambil menuntun sepeda. Merasa gagal banget jadi goweser kalau udah begini :(

Pesan yang selalu diingat dari suami, jangan malu untuk berjalan kalau sudah nggak kuat. Hehehe ini jadi alasan dan alibi kuat untuk melepas pedal sepeda lalu berjalan pelan menaiki tanjakan.

Lapangan pentas Dendang Melayu

Di lokasi sekitar Jembatan Satu Barelang sudah banyak perubahan infrastuktur yang berarti. Pemerintah Kota Batam berperan melakukan perubahan-perubahan ini. Tujuannya adalah meningkatkan fasilitas dan menjadikan lokasi ini sebagai salah satu titik destinasi wisata di Kota Batam. 

Salah satunya di sisi kiri menjelang jembatan dibangun Dendang Melayu. Yaitu sebuah lokasi dengan pelataran parkir yang dilengkapi panggung hiburan, rumah makan, mushola, toilet, land mark dengan tulisan "Barelang Bridge", bangku-bangku tempat duduk,  serta teras-teras seperti balkon yang menghadap ke arah jembatan yang memanjakan pengunjung untuk berpose berfoto-foto bebas dengan latar Jembatan Satu Barelang. 


Land Mark Baru

Sepertinya pembangunan lokasi ini cukup menarik perhatian warga. Buktinya lokasi Dendang Melayu selalu ramai dikunjungi. Beberapa rombongan pun kerap tiba dan berfoto di lokasi ini. Mengabadikan momen di sana dengan jepretan kamera. Dari logat dan gaya bicaranya kebanyakan mereka bukan orang Batam. Kemungkinan rombongan tour yang akan menuju Singapura dan transit di Batam. Ya lumayanlah walaupun transit, setidaknya Batam tetap kecipratan rejeki dari para wisatawan ini.


Media Informasi

Setelah rehat setengah jam saya kembali lagi ke rumah melalui jalur yang sama. Tak lupa membeli makan sea food untuk lauk makan siang nanti di rumah. Jadi saat tiba di rumah nggak perlu masak lagi. Hehe.  Think smart ceritanya padahal sebenarnya malas setelah berpanas-panasan dengan sinar matahari begitu nyampe rumah kudu berpanas-panasan menghadapi kompor di dapur :D


Jermbatan Barelang
View dari Dendang Melayu

Minggu, 22 Maret 2015

Sunrise yang Sempurna di Puncak Gunung Cikuray



Sunrise Cikuray
Fajar mulai menyingsing. Semburat merah bersemu kekuningan menghiasai langit sebelah timur. Matahari perlahan menampakkan diri. Ia bersinar sempurna pagi itu. Beberapa saat saya tertegun memandanginya. Lalu hanyut mengabadikan momen istimewa itu dengan jepretan kamera saku. Subhanallah. Sepertinya ini sunrise terbaik yang pernah saya alami dalam pendakian gunung beberapa tahun terakhir. Sunrise di Puncak Gunung Cikuray.

Bulat sempurna

Jelas saja ini sunrise terbaik, karena sebelum-sebelumnya saya kerap mendaki pada musim penghujan dimana langit pagi senantiasa mendung dan berkabut. Dimana matahari pagi kerap bersembunyi di sebalik awan putih yang pekat.

Namun tidak untuk perjalanan kali ini. Saya sengaja mendaki bertepatan dengan musim kemarau. Walau saat pendakian begitu terik dan menyengat, namun saya puas mendapatkan pagi yang sempurna di Puncak Gunung Cikuray, Garut, Jawa Barat.


Para pendaki mulai berkerumun menyambut hangatnya pagi di depan tendanya masing-masing. Dilengkapi hangatnya secangkir teh dan kopi yang menguarkan aroma khas. Tak perlu jauh-jauh berkeliling karena di teras tenda masing-masing, pemandangan  bak lukisan nyata yang kasatmata. Gunung-gunung tampak berselang-seling. Gunung di balik gunung. Pemandangan yang hanya dapat disaksikan dari titik di ketinggian seperti ini.

Menyambut pagi dengan secangkir teh

Di Puncak Cikuray, semua sisi tampak jelas dan indah. Saat melemparkan pandangan ke arah timur, Gunung Galunggung begitu anggun. Di sisi utara, Gunung Guntur tampak gagah dan megah. Pada sisi selatan, samar alur pesisir laut selatan, Samudera Hindia, meliuk-liuk di sebalik awan-awan. Pun di sisi barat, Gunung Papandayan dengan lubang kawah di tengahnya tampak bersih biru berseri.

Bayangan Gunung Cikuray jatuh ke sisi barat ke arah Gunung Papandayan

Saya terlalu asyik mengarahkan kamera saku ke berbagai arah mata angin ketika tanda batre pada kamera berganti warna merah. Duuh…masih banyak sudut-sudut lain yang belum terambil gambarnya namun tiba-tiba batre kamera sudah habis. Nyeseknya tuh di sini. *Nunjuk dada.

Matahari semakin beranjak naik dan pemandangan ke sekeliling mulai tampak semakin mempesona. Bayangan raksasa Gunung Cikuray jatuh meneduhi hampir satu Kecamatan Cisurupan di bawahnya. Sedangkan bayangan puncaknya jatuh ke badan Gunung Papandayan yang ada di sisi barat.

Sementara itu kamera dan handphone saya sudah tidak berkutik lagi. Nasiiib. Saya mulai mencari ide, mengeluarkan batre kamera dan meletakkannya di atas ubun-ubun. Maksudnya menjemur batre di kepala. Hehe, yang penting usaha. Kurang lebih 3 menit batre saya jemur. Surprise, begitu batre dimasukkan kembali ke dalam kamera lalu  dinyalakan, ternyata kamera langsung menyala. Horeee. Saya pun dapat mengambil beberapa frame foto. Alhamdulillah. Saya ulang hingga dua kali. Namun saat mencoba untuk ketiga kalinya, sepertinya si batre sudah ngambek. Tidak mau menyala lagi. Wassalam.

Gunung di balik gunung

Kondisi seperti di atas tadi tentu sangat disayangkan. Mendaki gunung bukanlah kegiatan yang dapat dilakukan kapan saja setiap hari. Mendaki gunung adalah momen spesial bagi setiap pendaki. Maka jika ingin mengabadikan momen tersebut barang yang benar-benar harus dibawa saat mendaki gunung setelah kamera dan handphone adalah solar power bank.Jadi saat kondisi batre nge-drop kita masih bisa mengisi ulang tanpa takut power bank pun kehabisan daya. Pada kondisi batre full pun tetap harus waspada. Karena pada cuaca yang dingin batre seringkali cepat ngedrop.

***

Gunung Cikuray (2821 mdpl) merupakan gunung tertinggi di Kabupaten Garut Jawa Barat. Terletak di antara tiga kecamatan yakni Kecamatan Cilawu, Kecamatan Bayongbong, dan Kecamatan Cikajang.
Jalur menuju Gunung Cikuray terdapat di ketiga kecamatan tersebut. Namun yang paling terkenal adalah jalur melalui Kecamatan Cilawu. Yaitu jalur perkebunan teh Dayeuh Manggung. Dari Terminal Guntur Garut naik angkutan kota (angkot) warna coklat menuju Cilawu dan minta diturunkan di Perkebunan Teh Dayeuh Manggung. Dari Dayeuh Manggung lalu berjalan kaki atau menaiki ojek penduduk hingga pemancar yang merupakan entry point menuju jalur pendakian.

Gunung Cikuray dari arah Bayongbong

Jika dilihat dari daerah mana pun Gunung Cikuray mempunyai bentuk kerucut yang sempurna. Pemandangan ke arah gunung yang paling indah adalah dari arah Kecamatan Bayongbong. Karena bentuk, lekuk, lereng, dan punggungan gunung dari kaki hingga puncaknya dapat terlihat jelas. Selain itu hamparan sawah di kaki gunung yang berundak membentuk teras sering semakin memberi kesan indah dan natural.

Saat SMP, saya sekolah di SMP Negeri 1 Bayongbong. Setiap hari pemandangan yang tampak sepanjang perjalanan menuju sekolah adalah Gunung Cikuray, gundukan perkampungan dan pesawahan. Pemandangan yang kerap dan selalu saya rindukan. Bahkan hingga terbawa mimpi. Berkali-kali, setelah tinggal di Batam pun, saya kerap memimpikan Gunung Cikuray. Seakan-akan ia memanggil dalam kerinduan. Atau… sayakah yang selalu merinduinya?

Belajar Memelihara Gunung dari Negeri Tetangga

Gunung Ledang
Beberapa waktu yang lalu, saya dan suami melakukan perjalanan dan pendakian ke Gunung Ledang yang terletak di Negara bagian Johor Malaysia. Dalam sejarah dan legenda masyarakatnya ternyata gunung ini mempunyai keterikatan batin dengan kerajaan Majapahit, bahkan Putri Gunung Ledang yang dipercaya masyarakat sebagai penguasa Gunung ini disebut-sebut berasal dari Pulau Jawa.

Pada awalnya kami tidak terlalu antusias untuk mendaki gunung tersebut karena ketinggiannya yang hanya 1276 meter di atas permukaan laut (mdpl) berada  jauh di bawah gunung-gunung yang ada di Indonesia yang ketinggian rata-rata di atas 2000 mdpl. Bahkan dengan Gunung Daik Pulau Lingga Kepri sekalipun masih kalah tinggi.

Namun betapa terkejutnya kami setelah tiba di lokasi pendakian, tepatnya di Taman Negara Johor Gunung  Ledang atau dikenal juga dengan sebutan Taman Hutan Lagenda. Betapa tidak, gunung yang hanya setinggi 1276 mdpl ini ternyata memiliki berbagai fasilitas lengkap mulai dari Pusat pengunjung, penginapan, pondokan, mushola, toilet, bahkan tapak-tapak kemah, dan areal memasak yang terawat, rapi dan bersih. Dengan gunung yang hanya setinggi itu pemerintah Negara Bagian Johor  mampu memaksimalkan keberadaannya sehingga menjadi aset yang mampu menghasilkan pendapatan bagi negara.

Kamis, 19 Maret 2015

Yuk Ikut Program Jelajah 101 Pulau untuk Kepri!


Lihat Peta Lebih Besar

Adalah Mas Nunung Sulistyo, pelatih sekaligus sesepuh di Federasi Panjat Tebing (FPTI) Batam,  yang mempunyai ide untuk menjelajah 100 pulau di Kepulauan Riau dalam tahun 2014 ini. Ketika ide itu ia ungkqpkan di depan saya, saya langsung antusias dan ikut mendukung rencananya.

Mengapa 100? entahlah, yang jelas ini angka genap yang sempurna. 100 pulau. Namun saya lebih senang untuk menambahkannya menjadi 101 pulau karena 1 pulau utama adalah mainland-nya pulau tempat dimana ide-ide ini tercetuskan, Pulau Batam :D

Saya sendiri tidak menargetkan seberapa jumlah pulau yang ingin disinggahi dan dalam waktu berapa lama karena mengingat banyak hal yang menjadi prioritas utama selain jalan-jalan keliling pulau-pulau. Prioritas itu tentu saja mengurus suami, anak dan pekerjaan sebagai karyawan. Dan kalaupun saya berhasil menyinggahi salah satu pulau itu, berarti sudah mendapatkan SIS alias Surat Izin Suami :D

Jika saya ikut-ikutan memasang  target 100 pulau seperti Mas Nunung, maka kurang lebih 20 pulau sejauh ini telah saya singgahi. 80 pulau lainnya semoga menyusul di tahun-tahun mendatang. Yang pasti tidak semuanya di tahun 2014.

Ide mengunjungi pulau-pulau di wilayah Kepri memang PR saya yang belum selesai. Semenjak tiba pertama kali di perantauan ini, saya pernah berniat mengunjungi sebanyak-banyaknya pulau-pulau yang ada di wilayah Kepri sambil belajar untuk semakin mengenal lingkungan dan kehidupan masyarakatnya.Minimal pulau-pulau terdekat dengan pulau Batam saja dulu karena untuk Batam sendiri tak akan kekurangan. Sekitar 373 pulau telah masuk ke dalam lingkup pemerintahan Kota Batam. Sedangkan Provinsi Kepulauan Riau sendiri mempunyai lebih dari 1700an pulau. Wooow! Semoga cukup umur, cukup waktu, cukup dana, cukup sehat, dan cukup-cukup yang lainnya sehingga keinginan menjelajah pulau-pulau tersebut terlaksana.

Saya, Mas Nunung, dan rekan-rekan lainnya kemudian menyusun draft untuk penjelajahan ini. Saya sampaikan bahwa untuk target 100 pulau dalam setahun ini sangat tidak mungkin. Jadi rentang waktu yang kami targetkan adalah untuk dua hingga 3 tiga tahun ke depan.

Tujuan utama dari program ini adalah agar anak-anak didik di FPTI Batam semakin mengenal wilayahnya sendiri, yakni perairan Batam dan sekitarnya sehingga memunculkan rasa bangga menjadi bagian dari negara kepulauan terbesar di dunia ini. Melatih mereka agar semakin mencintai Indonesia melalui keragaman dan kekayaan yang akan mereka lihat dan saksikan sendiri di pulau-pulau yang akan kami kunjungi.

Selain itu, program jelajah pulau ini juga dibuka untuk umum. Namun dalam jumlah peserta yang terbatas.Jika ada yang mau gabung ayo hubungi saya atau Mas Nunung via email, facebook atau sms.

Selain itu program ini sangat positif bagi mendukung Dinas Pariwisata Kota Batam dalam mengembangkan potensi-potensi wisata bahari yang ada di wilayah hinterland.

Untuk bulan depan pulau yang akan disinggahi adalah Pulau Karas dan Pulau Lampu di wilayah Selatan Batam.Naah... bagi yang mau ikut segera konfirmasi ya :D

#SalamJelajah


Senin, 16 Maret 2015

Selfie di Puncak Gunung Sinabung

Menuju Puncak Timur Gunung Sinabung
Berada di puncak gunung itu selalu memberikan sensasi yang luar biasa. Terlebih bagi yang bisa berlama-lama menyaksikan seluruh peristiwa alam. Dari mulai matahari terbit hingga terbenam. Dari mulai fajar menyingsing hingga langit berpayung lembayung. 

Sayang, durasi keberadaan para pendaki di puncak gunung selalu terbilang singkat. Kebanyakan hanya beberapa jam saja. Bahkan ada yang kurang dari 1 jam. Sementara perjuangan menggapainya kadang memerlukan waktu berhari-hari. Bagi sebagian orang kadang hal ini tidak masuk akal sama sekali. sebagian lagi menganggapnya perbuatan iseng dan sia-sia. Bersusah-payah mendaki gunung lalu dalam waktu singkat sudah turun lagi. Iseng kaan? Apa sih yang dicari? capek-capekin badan aja!

Selain cuaca yang tidak memungkinkan bagi pendaki untuk berlama-lama di puncak gunung, kondisi kontur  yang curam dan sempit juga sangat riskan dan bahaya bagi mereka jika mendirikan tenda di sana.


Umumnya, camp site terakhir untuk camping/berkemah di sebagian besar gunung vulkanik di Indonesia berjarak lumayan jauh dari puncak gunung. Bisa berjam-jam jarak tempuhnya. Rata-rata 3 hingga 8 jam perjalanan. Contohnya seperti camp site Pos 3 di Gunung Kerinci, Kalimati di Gunung Semeru, dan Plawangan Sembalun di Gunung Rinjani. Namun ada juga beberapa yang camp site-nya dekat dengan puncak seperti Gunung Ciremay dan  Gunung Sinabung (sebelum meletus beberapa tahun terakhir).


Saat berada di Gunung Sinabung (2460 mdpl) saya merasa sangat beruntung dan cukup puas karena dapat menyaksikan seluruh kejadian dan persitiwa alam selama 24 jam di puncak gunung. Dan dengan penuh semangat membidikkan kamera pada setiap pemandangan yang terekam lensa mata.

Gunung Sinabung mempunyai dua puncak sebagai titik triangulasi. Yaitu puncak sebelah barat dan puncak sebelah timur. Sebagian teman saya menyebut puncak timur dengan sebutan Flash Gordon. Entah apa alasan penamaan tersebut. 


Titik tertinggi Puncak Timur Sinabung, Sempit dan Berbahaya
Umumnya para pendaki Sinabung naik hingga mencapai puncak  sebelah barat. Setelah itu turun beberapa meter ke sebuah dataran cukup luas untuk mendirikan tenda dan menginap satu malam. Keesokan harinya baru turun gunung. Sedangkan puncak sebelah timur jarang sekali didaki. Selain puncaknya berupa pilar-pilar vertikal 90 derajat juga jalur menuju ke puncak tersebut harus melalui gigiran kaldera  yang berkawah aktif dan mengeluarkan asap belerang.

Karena saya orangnya suka tantangan, mendadak pagi itu keidean gila untuk menggapai puncak timur. Jadi, ceritanya nekatlah saya diam-diam menyusuri gigiran kawah puncak Sinabung. Begitu tiba di bawah pilar-pilar itu mendadak bingung bagaimana cara agar sampai di puncak karena bebatuannya berbentuk tegak lurus. Tingginya kira-kira 40 meter dari titik saya berdiri. Butuh tali dan teknik memanjat yang lihai. 

Sambil melihat-lihat ke sekeliling saya terus mencari-cari ide. Teringat beberapa waktu sebelumnya Bang Harley Bayu Sastha teman di komunitas milis highcamp pernah mendaki puncak ini dengan tangan kosong. Nah berarti saya pun bisa mendakinya. Walau ketakutan akan jatuh mulai hinggap. 


Dalamnya jurang di sisi kiri begitu menyeramkan dan gemuruh kawah aktif yang mengepulkan asap belerang di sebelah kanan juga sangat menggentarkan. Keputusan pun dubuat, saya akan terus memanjat. Melawan semua rasa takut dan ngeri yang membayangi. Kebetulan saya masih ingat teknik-teknik pemanjatan tebing yang diajarkan oleh senior-senior FPTI Batam. Meskipun saya hanyalah anak bandel yang jarang latihan.

Laaahaula...akhirnya saya paksakan menaiki pilar puncak perlahan-lahan dengan cara menyelipkan tangan dan kaki ke celah-celah bebatuan. Satu meter...dua meter....tiga meter... dan jantung saya hampir copot karena  batu yang saya pegang dan batu yang saya injak ternyata rapuh.  Satu tangan terlepas dan saya dalam posisi menggantung. Masya Allah....Astagfirullah. Dalam beberapa detik saya kehilangan kendali, menjerit kaget. Lekas-lekas saya mencari pegangan kembali. Namun begitu susah. Duh Ya Allah seumur hidup bahkan hingga hari ini, saya belum pernah merasakan kematian begitu dekat melainkan saat itu. Saat kehilangan kendali akan badan saya. Saat saya menggantung dan hampir jatuh. Saat di puncak timur Gunung Sinabung.

Dengan gemetar saya  mencari celah untuk menyelipkan badan diantara pilar-pilar puncak yang rapat. Berhenti sejenak untuk menenangkan diri. Jantung berpacu kencang karena kaget, panik dan takut. Peluh pun bercucuran karena pemanjatan tersebut sangat menguras energi. Kedua hal itu membuat badan saya terasa lemas. Kalau saya tadi jatuh tak kan ada seorang pun tahu bahwa saya berada di lokasi ini. Hiksss...


Setelah beberapa menit beristirahat, perlahan saya melanjutkan memanjat menuju titik tertinggi. semakin ke atas semakin mudah untuk berpegangan. Dan setelah pemanjatan yang epic ini tibalah saya di puncak timur, di atas pilar-pilar Gunung Sinabung. Bahagianya luar biasa. Bersujud syukur lalu terduduk menikmati keindahan yang begitu jelas terlihat di sekeliling. Nun jauh di bawah sana, Danau Lau Kawar meliuk-liuk, tampak seperti jari-jemari tangan.

Selfie di Puncak Timur Sinabung, setelah hampir jatuh

Sekitar sepuluh menit  saya berada di puncak pilar. Dan dengan susah payah meletakkan kamera saku di atas bebatuan lalu men-setting otomatis. Namun sayang si kamera kurang stabil dan tidak bisa ditegakkan. Habis semua cara kecuali satu. Yaitu dengan tetap memegang kamera dan mengarahkannya ke wajah sendiri. Ah hasilnya jelek pun sebodo amat yang penting ada kenang-kenangan bahwa saya punya cerita seru saat menginjakkan kaki di titik ini. 


Saat itu saya mikir coba ada alat yang bisa mengarahkan kamera ke diri sendiri alias selfie. Dulu mah mana tahu istilah ini. Nah sekarang jaman heboh-hebohnya menggunakan tongsis saya selalu kefikiran memori ini. Saat berjibaku mencapai puncak dan bingung gimana cara mem-foto diri sendiri di Puncak Gunung Sinabung :D Seandainya tongsis sudah eksis  dari jaman dulu mungkin pemandangan di belakang foto jadul ini akan lebih terlihat nyata tidak putih seperti ini.


Kefikiran sih pengen beli apalagi petualangan ke puncak-puncak gunung lainnya sebetulnya belum berakhir. Hanya mengalami fase jeda sejenak mengurusi anak dan suami.Hehe. Terkadang jeda itu bisa diinterupsi oleh satu dua pendakian ke gunung. Dan saat mendaki gunung sendirian alangkah lengkapnya jika ada Selfie Stick alias tongsis yang menyertai. Bukan buat pamer ke orang-orang sih secara aku paling nggak suka selfie. Tapi buat kenang-kenangan seperti ini saja. *laaah pan dari dulu juga udah pernah selfie? *Jedotin pala ke batu.


Sesaat setelah foto-foto selesai,  tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan dari seberang kaldera kawah. Tempat dimana tenda kami dan pendaki lainnya berada. Saya lihat beberapa pendaki berjejer di gigiran kawah dan meneriaki saya. entah apa yang mereka teriakkan. Saya tidak mendengarnya dengan jelas  karena bersahut-sahutan dan menjadi bergema. Saya mendadak panik lagi. Duh ada apa dan kenapa?

Saat turun bertemu teman dan langsung minta foto

Setelah turun ternyata ada beberapa teman yang menyusul dan katanya melihat saya berdiri di puncak Timur. Sebagian ingin mencoba juga. Namun apakah berhasil atau tidaknya, entahlah saya tidak memperhatikannya, saya terus kembali ke tenda karena badan terasa lemas.


Saat Sinabung meletus tahun 2013 silam hingga sekarang, saya pun terkenang akan puncak timur ini. apakah ia masih berdiri tegak? Apakah pilar-pilarnya masih berdiri kokoh? 


Sinabung bahkan statusnya masih Siaga level III, masih ada guguran lava pijar dari puncak dan mengepulkan  asap yang membahayakan hingga sekarang.


Pendakian Gunung Sinabung 17-18 Agustus 2004
Note: Nemu catatan perjalanan ke Gunung Sinabung di lemari buku. 




WARNING:
Jika ada foto yang kurang jelas, blur, noise, hazy, smoggy dan modelnya jelek sama sekali maka kesalahan bukan pada mata anda tapi pada kualitas foto yang sudah uzur termakan usia :D


Ini kisahku, mana kisahmu?

Rabu, 11 Maret 2015

5 Manfaat Mendaki Gunung Bagi Anak-Anak



Chila dan Ayahnya  melewati jalur yang ber-canopy
Kegiatan mendaki gunung kian hari kian diminati oleh berbagai kalangan. Tidak hanya mereka para anggota Komunitas Pecinta Alam maupun Mapala saja yang kerap wara-wiri mengunjungi gunung. Namun orang biasa yang bahkan tidak punya keahlian dan pengalaman bertahan hidup di alam bebas pun kini mulai membanjiri gunung-gunung. Tidak terkecuali anak-anak yang diajak oleh para orang tuanya. 



Banyak hal positif yang akan diperoleh anak-anak  dari kegiatan mendaki ini. Walaupun termasuk kegiatan olahraga berat dan menantang, mendaki gunung akan terasa sangat menyenangkan bagi mereka jika saja para orang tua mampu menyiasatinya dengan baik, bijak dan benar.



Berikut 5 manfaat yang pernah saya dan suami rasakan langsung saat mengajak putri semata wayang kami, Chila, mendaki Gunung Semeru tahun lalu:




1.   Menanamkan kepercayaan diri kepada anak
Karena setiap hampir lima menit berpapasan dengan pendaki yang turun, dan mereka selalu menyapa Chila dengan kata-kata pujian seperti “Waaah hebat Si Ade kuat banget”, Atau membandingkan beberapa pendaki yang kecapekan dengan Chila. “Tuh masa kalah sama anak kecil." Kata-kata itu sepertinya menjadi pelecut bagi Chila untuk terus berjalan sendiri tanpa dituntun atau digendong. Berkali-kali kami tawari untuk menggendongnya, ia selalu menolak. Dengan pujian dan motivasi yang kerap didengarnya dari para pendaki, Chila semakin percaya diri bahwa ia memang kuat sesuai dengan yang mereka sangkakan. Alhasil, selama 7 jam perjalanan dari Desa Ranupani menuju Danau Ranu Kumbolo, selama 6,5 jam Chila jalan kaki sendiri. Hanya setengah jam saja ia berada dalam baby carrier karena tidur siang.




2.    Melatih dan membentuk kekuatan serta kesabaran

Perjalanan mendaki gunung bukanlah perjalanan yang mudah dan singkat. Butuh kekuatan fisik serta waktu berjam-jam untuk mencapai pos demi pos. Bagi anak-anak, waktu yang lama dalam melakukan segala sesuatu adalah hal yang sangat membosankan sehingga kerap membuat mereka kurang bersabar. Dengan mendaki gunung, menempa anak memiliki tubuh kuat dan sehat. Selain itu memberi pemahaman langsung kepada mereka bahwa untuk mencapai sesuatu tidaklah selalu dengan cara instan. Anak-anak akan dilatih untuk bersabar hingga tiba di lokasi selanjutnya.




3.    Memperkenalkan kepada anak tentang kekayaan alam dan keanekaragaman hayati.

Mengamati bunga semak
Gunung adalah tempat dimana keanekaragaman hayati baik flora maupun faunanya masih terjaga dan dapat kita temui dengan mudahnya. Sepanjang perjalanan Chila kerap berhenti dan berteriak penuh semangat kepada kami. Ayah bunda lihat ini bunganya aneh eh unik. Katanya. Lalu berbagai pertanyaan lainnya muncul setelah kami menyahutnya. Beberapa langkah ke depan ia lantas berseru lagi karena bertemu kepiting hutan, semut besar atau capung. Berjalan beberapa meter ke depan ia berhenti lagi. Lalu menghidu bunga-bunga di sepanjang jalur yang ditemuinya. Saya dan suami membiarkannya sambil mengingatkan bahwa tanaman-tanaman itu tidak boleh dirusak atau dipetik. Biarkan saja agar tetap alami.



4    Membiasakan anak belajar mandiri

Saat kemping di Ranu Kumbolo, kami memasak untuk sarapan. Chila begitu bersemangat membantu saya. Mulai dari memotong bawang merah dan bawang putih. Bahkan ia memaksa untuk menggoreng sosis sendiri. Saya pun membiarkan ia melakukannya sambil terus mengawasi. Chila terlihat tenang dan asyik dengan kompor dan penggorengan Trangianya. Pun saat memasuki tenda, Chila merapikan dan membenahi tendanya sendiri. Melipat sleeping bag, melipat jaket dan merapikan perlengkapan yang berserak di lantai tenda. Saat saya hendak masuk, saya malah diusirnya :D "Bunda jangan masuk, ini tenda Chila. Tenda bunda yang itu!" serunya sambil menunjuk tenda biru disebrang tendanya.



5.  Mengajarinya berempati

Bund, kasihan ikannya matiii...
Saat berjalan-jalan menyusuri tepian Ranu Kumbolo, kami menyaksikan begitu banyak ikan kecil yang terkapar mati di tepi danau. Entah karena apa. Chila lalu mengambil dan mengelus-elus ikannya. Raut wajahnya tampak begitu sedih. Ia lantas mengajak saya untuk menguburkan ikan-ikannya. "Bunda kasihan ikannya pada mati. Kenapa ikannya mati? Chila jadi sedih." Katanya. Ah saya juga sedih menyaksikan ikan-ikan lucu itu mati begitu saja.


Sekian, semoga bermanfa'at.





Selasa, 10 Maret 2015

Pengumuman Pemenang Turnamen Foto Perjalanan Ronde 57

Alhamdulillah, akhirnya Turnamen Foto Perjalanan Ronde 57  selesai digelar. Penghargaan serta ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada rekan-rekan blogger yang telah berpartisipasi meramaikan ajang silaturahmi ini. TFP kali ini diikuti oleh 40 peserta. Lumayan banyak dan di luar ekspektasi saya. Duuuh senangnya bukan main.

Oh ya, TFP ronde 57  ini berhasil menyajikan pesona Langit Biru yang membuat saya tercenung, merenung tapi bukan murung mikirin Haji Lulung :D jiaaah...ha..ha..ha.. Sungguh foto rekan-rekan semua keren dan bagus-bagus.  Membuat saya bingung meski tak sampai linglung.  Aduh biuuuung tulung...tuluuung.... Mulai deh ngawur ngelantur. Please, stop! stop

Baiklah, setelah berfikir keras selama 3 hari terakhir, dengan ini saya umumkan bahwa pemenang TFP ronde 57 adalaaah....jreng..jreng...


Muhammad Akbar
@indonesianholic

 Kenapa?

Pertama kali melihat foto ini saya langsung suka. Saya seperti menyaksikan langsung pemandangan atap rumah yang warna-warni di kaki bukit.  Terasa hidup dan bernyawa. Pemandangan yang disandingkan dengan bukit hijau,  langit biru  plus sedikit awan.


Namun selain itu saya juga mempunyai dua foto favorit yang hampir-hampir sulit memilih mana yang terbaik. Berikut foto-fotonya:

1. Foto dari Titik @yusthatitik. 
Melihat foto ini mengingatkan saya pada perjalanan pulang kampung ke Garut, Jawa Barat, dimana pemandangannya persis seperti ini.



2. Foto dari @dianayankk
Pada foto ini saya suka dengan tampilan biru langitnya yang jernih bersih. Dan saat langit biru berpadu dengan Candi Prambanan yang artistik maka tampak perpaduan dua sisi yang saling melengkapi.



Sekali lagi selamat kepada Muhammad Akbar dan silahkan melanjutkan estafet Turnamen Foto Perjalanan Ronde berikutnya.

Salam

Sabtu, 07 Maret 2015

Tegal Alun, Surganya Edelweis di Gunung Papandayan

Salah satu sudut Pondok Saladah
Di antara rumpun-rumpun bunga edelweis yang sedang bermekaran di Pondok Saladah Gunung Papandayan, saya berdiri kebingungan. Apakah akan tetap melanjutkan perjalanan sendirian menuju Tegal Alun atau tidak. Rasanya nyali agak sedikit ciut mengingat suasana yang sepi dan cuaca yang agak mendung. Sedikit khawatir hari akan hujan karena saya tidak membawa rain coat maupun DSLR waterproof case untuk melindungi kamera DSLR saya dari air hujan. Padahal kalau sedang naik gunung begini baru deh terfikirkan betapa pentingnya bawa barang-barang tersebut. Cuaca memang kurang bersahabat akhir-akhir ini dan sudah memasuki musim penghujan.

Alasan lainnya kenapa hati sedikit ciut, karena saya sudah lupa jalur menuju Tegal Alun. Terakhir ke sana tahun 1999. Jaman masih centil sebagai gadis tingting :D  gimana nggak lupa coba udah belasan tahun begitu.


Rumpun Edelweis di Pondok Saladah
Pondok Saladah pun telah banyak berubah. Kolam dan sungai kecil tempat saladah tumbuh, kini sudah tidak ada lagi. Padahal jika kemping di tempat ini kami cukup bawa nasi, ikan asin, dan sambal. Lalapnya, ya saladah, metik sendiri di sini.

Pondok-pondok berdinding kayu yang entah untuk apa mungkin dibangun untuk berjualan  mulai mengotori pemandangan. Toilet yang bangunannya seperti drum berwarna hitam telah dibangun agar para pendaki tidak buang air sembarangan. BAB atau BAK. Tempat wudhu, cuci piring, cuci tangan juga dibuat dengan mengalirkan air pancuran dari selang-selang. Lantainya dialasi oleh batang-batang bambu yang disusun rapi. Sebuah pondok yang berfungsi sebagai mushola berdiri di dekatnya.

Diantara perubahan-perubahan itu tentu ada sisi baik dan buruknya. Silahkan pilih sendiri.

Saat kebingungan begitu, tiba-tiba ada dua orang pendaki yang melewati saya. Iseng saya tanya mau kemana. Mereka menjawab mau ke Tegal Alun. Alhamdulillah, akhirnya ada teman naik. Saya pun bergabung dengan mereka. Salah satunya bernama Ruli, ia mengaku bekerja di Bank BJB Tasikmalaya. Dari logat bicaranya jelas banget mereka itu orang Sunda. Maka mengalirlah bahasa sunda dari mulut saya. Asyiiik. Sudah rindu menggunakan bahasa sunda.



Tegal Alun

Setelah hampir satu jam perjalanan mendaki dari Pondok Saladah, melewati hutan mati, menaiki tanjakan curam (dikenal dengan sebutan Tanjakan Mamang), menerobos jalur di antara pepohonan cantigi yang berdahan rendah dan berdaun rindang, tibalah kami di Tegal Alun. Sebuah dataran luas yang terhampar bunga edelweis berhektar-hektar kini hadir di depan mata. Di sana, di sini, di sono, di situ. Aaah...pokoknya di sekeliling hanyalah rumpun-rumpun edelweis yang bunganya sudah bermekaran. Sebagian telah mengering untuk memulai siklus kehidupan dari awal lagi.

Tegal Alun
Tegal Alun, Surga Edelweis

Saat di Pondok Saladah saja, saya dan dua teman baru dari Tasikmalaya tadi dibuat kalap oleh mekar dan rimbunnya edelweis. Dan ternyata di Tegal Alun ini berkali-kali lipat banyaknya dibanding dengan yang di Pondok Saladah. Ruli sampai berteriak-teriak kencang sekali. Ia terlihat sangat bahagia. Menurutnya ia telah bertahun-tahun memendam keinginan untuk mengunjungi Tegal Alun, dan baru tahun ini terlaksana. Padahal Garut - Tasik hanya beberapa puluh kilometer saja.


Kuncup pakis belum mengembang

"Aaaaah....." teriak Ruli lagi. Saya dan teman Ruli hanya senyum-senyum saja. Biarlah ia meluapkan rasa senang itu dengan caranya.

Waktu menunjukkan jam satu siang. Cuaca terlihat sedikit mendung. Namun di bagian sisi yang lainnya matahari bersinar cukup terang. Ya seperti inilah cuaca di gunung. Tidak pernah menentu. Kadang terang kadang mendung. Kadang berkabut kadang benderang. Bahkan di Kawah Papandayan yang saya lewati pagi tadi langit tampak begitu biru jernih.

Edelweis kini Ligar dan Liar

Ruli dan temannya duduk-duduk di bawah rindangnya bunga edelweis. Mereka sedang menghangatkan air untuk membuat kopi. Teman Ruli lalu meletakkan tripod di tengah-tengah lapangan dan mensetting kamera sehingga menyala otomatis. Ruli duduk bersila sambil mengangkat mug kopinya. Dan itulah inti kedatangannya ke sini. Sebuah kejadian yang ia telah bayangkan dan idam-idamkan sebelumnya. Duduk berfoto sambil minum kopi di tengah -tengan Tegal Alun.


Tegal Alun
Men-setting otomatis untuk foto bersama



Saat musim penghujan rumput-rumput di sini hijau menggoda bak lapangan sepak bola. Namun kemarau yang baru saja terlewati membuatnya kering kerontang. Namun tetap saja keindahannya tetap terasa.

Setelah Ruli selesai dengan pose idamannya. Kami bertiga berfoto bersama. Ketawa-ketiwi seperti yang sudah kenal lama. Hari itu Tegal Alun milik kami. Seluas-luas ini cuma ada kami bertiga.

Jam dua siang, dengan berat hati  kami  meninggalkan Tegal Alun. Belum puas rasanya menghirup aroma edelweis dan mengamati merahnya pucuk-pucuk cantigi di sini. Namun apa daya waktu jua yang bergulir menuju senja. 
Tegal Alun
Ruli dan temannya


Note:

1. Dilarang menginap, mendirikan tenda, atau kemping di Tegal Alun. Menginap hanya diperbolehkan di Pondok Saladah.


2. Menuju Tegal Alun: Dari Terminal Guntur Garut naiklah angkot jurusan Cikajang atau bis jurusan Pamengungpeuk/Bungbulang atau menuju Garut Selatan lainnya. Turun di Cisurupan dekat lapangan bola. Di sebrang jalan langsung terbaca plang menuju kawasan Gunung Papandayan. Pada pintu masuk banyak ojek atau mobil colt bak sewaan. Ojek seharga 20.000 rupiah sekali jalan. Kalau colt bak 200.000 rupiah per mobil. Kalau rame-rame misal ber-20 orang bisa bayar 10.000 rupiah per orang.

3. Dari lapangan parkir (Camp David) Gunung Papandayan, terus naik ke Pondok Saladah kurang lebih 2,5 jam perjalanan dengan jalan santai melalui kawah yang luas. Pakai masker untuk menghindari mencium aroma belerang yang menyengat. Dari Pondok Saladah naik lagi mengikuti jalur dan petunjuk yang sudah ada menuju Tegal Alun. Lama tempuh 1-2 jam tergantung kecepatan jalan anda.

4. Tiket masuk kawasan Gunung Papandayan Rp. 5.000 hari biasa dan Rp. 7.500 pada hari sabtu dan minggu. Saat memasuki jalur menuju Pondok Saladah juga dipungut biaya kebersihan seikhlasnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...