Selasa, 30 Juni 2015

Gunung Bromo, Surga bagi Pecinta Mobil Jeep seperti Saya

Mobil Jeep Toyota warna hijau yang kami tumpangi melaju kencang menyusuri jalan menanjak nan berliku yang di kanan kirinya menganga jurang – jurang. Namun syukurnya jalan aspal yang kami lalui terbilang mulus. Dengan penuh heran saya bertanya kepada Mas Anto, sopir jeep yang akan membawa kami menjelajah bumi Suku Tengger di Kawasan Gunung Bromo Jawa Timur yang terkenal akan keindahannya.

“Jalan ini bagus karena dulu Presiden SBY mau liburan ke Bromo. Kalau nggak ada pejabat yang datang, jalan ini mungkin masih rusak parah.” Jawab Mas Anto sambil tersenyum getir.

“Kalau gitu suruh saja pejabat-pejabat di pusat itu sering-sering berkunjung ke daerah terpencil kayak gini ya Mas, biar aspalnya mendadak bagus seperti ini.” Saya  menimpali sambil bercanda. Dan kami pun sama-sama tertawa.

Satu jam kemudian kami sudah tiba di pos masuk menuju Gunung Bromo. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp. 27.500 per orang mobil jeep hijau kami segera melaju memasuki kawasan Savana Bromo dan Bukit Teletubbies.



Dengan lihai Mas Anto memacu kendaraannya di jalan berpasir yang membelah hamparan savana. Jalur off road seperti ini memang lebih cocok menggunakan mobil-mobil jenis SUV  yang umumnya tangguh di segala medan. Iseng saya bertanya kepada Mas Anto berapa harga mobil jeep ini.

“Murah ini mbak. Soalnya saya beli mobil bekas.” Jawab Mas Anto.

“Kalau mobil baru kisaran berapaan Mas? Tanya saya. Jujur saya memang tertarik memiliki mobil jeep seperti ini. Mobil dambaan sejak kecil. Kesannya gagah, macho, dan powerful. Apalagi saya lebih suka dengan dunia adventure. Dunia petualangan. Sangat cocok jika kemana-mana menggunakan mobil sejenis ini. Haha gaya banget dah. Eh eh tidak apa-apa kan ya. Namanya juga bermimpi. Tapi tolong diaminkan semoga tercapai.

Untuk mobil jeep keluaran lama memang harganya sudah lumayan turun. Dan Mas Anto salah satu yang beruntung mendapatkan mobil murah namun masih saja bandel seperti ini. Mendapatkan mobil murah dengan kualitas masih bagus sebenarnya gampang-gampang susah. Terutama bagi saya. Gampang dapatnya susah bayarnya. Hehehe.



10 menit kemudian kami melintas di hamparan padang pasir. Kawasan ini dikenal dengan sebutan Pasir Berbisik. Dinamakan demikian mungkin karena angin yang kencang kerap menerpa permukaan padang pasir menyebabkan suara-suara aneh seperti ada yang berbisik. Atau mungkin juga berasal dari judul film pasir berbisik yang dibintangi Dian Sastro dan Christine Hakim yang memang mengambil setting di tempat ini.

Saat melintasi lautan pasir, 12 orang teman yang berdiri di bagian belakang jeep mendadak riuh. Rupanya di depan badai pasir sedang melaju menyongsong kami. Semua orang mulai mengenakan kacamata dan menutup wajah dengan buff atau slayer.
Laluuu wuusss…..wusss...beberapa menit kemudian kami berada dalam cengkraman badai pasir.



Di pelataran parkir dekat pura bromo, kami berhenti sebentar untuk mengambil gambar. Setelah itu cepat-cepat melanjutkan perjalanan menuju penginapan di kawasan Penanjakan berhubung hari sudah maghrib dan hujan disertai petir mulai menghiasi kawasan ini.

Pukul 2 dini hari Mas Anto membangunkan kami. Dalam gigil dan kantuk yang sangat, kami keluar dan segera menuju mobil jeepnya. Ternyata tidak kami saja, puluhan jeep lainnya tampak antri melalui jalanan gelap menuju Puncak Penanjakan. Di kegelapan subuh itu yang tampak hanya lampu-lampu mobil yang meliuk dan berkelipan layaknya bintang di langit.

Subuh itu ratusan orang berkumpul di puncak penanjakan. Berharap dapat menyaksikan salah satu sunrise terbaik di dunia yang akan segera tampil di hadapan. Berdesakan sambil menyiapkan kamera masing-masing.
Sementara itu di langit, bintang timur, si bintang kejora tampak seperti sedang bersiap-siap. Menjadi pengingat kepada semua yang berkumpul bahwa matahari sebentar lagi muncul ke hadapan.


Semenit, dua menit, hingga 1 jam kemudian mentari belum juga menampakkan diri. Sungguh penantian yang luar biasa diantara ruang yang semakin terasa sempit dan dingin yang semakin menggigit.


Pukul 5 lewat 30 menit ufuk di timur mulai menerang. Dan mentari perlahan mulai menampakkan wajahnya yang kuning keemasan. Merayapi tepi langit, beranjak naik menuju ketinggian. Kini ia menampakkan wajahnya yang utuh bulat sempurna. Benar saja. Sunrise di Bromo adalah salah satu sunrise terbaik dalam hidup saya.


Langit  mulai terang benderang. Dan pemandangan ke bawah sana tak kalah menakjubkan. Gunung Batok, Kawah Bromo, dan Gunung Semeru di belakangnya tampak begitu mempesona.




Setelah puas menyaksikan sunrise dari puncak penanjakan, jeep kami mulai meluncur menuruni jalan yang meliuk-liuk menuju lapangan di sekitar pura. Kembali ke sana karena kemarin hanya sebentar saja.
Dan saat tiba di bawah, woow….saya berdecak kagum. Kalap sendiri. Ratusan jeep telah terparkir rapi di hamparan pasir bromo yang luas. Berbagai  komunitas pecinta jeep dari lokal hingga dari negara tetangga sebrang tampak ramai memadati kawasan Bromo dengan berbagai atribut dan bendera.




Huhuhu...saya jadi envy. Jeep adalah mobil idaman saya. Semoga satu waktu nanti bisa segera memilikinya. Dann mengendarai jeep ke Gunung Bromo adalah salah satu impian terbesar saya. Amiiin. Mestakung. Semoga semesta mendukung :D


Yang seperti begini loh #MobilImpian saya. Gagah dan menyatu dengan alam :D

Senin, 29 Juni 2015

Reuni yang Mengesankan di Hotel Santika BSD City Tangerang

Senja mulai menyelimuti ibukota. Bis yang saya tumpangi baru saja melintas di kawasan Kebun Jeruk. Sebuah bangunan bertingkat yang terlewati tampak membumbungkan lidah api ke langit. Asap mengepul pekat. Orang-orang bergerombol di tepi jalan untuk  menonton. Pemadam kebakaran tampak sibuk memadamkan api.  

Tidak saja musim kemarau, bahkan di musim hujan sekali pun kebakaran selalu terjadi di Jakarta dengan penyebab yang beragam.  Kebakaran yang sejak jaman  saya sekolah SMA di ibukota dulu kerap terjadi. 

Perjalanan Bandung – Jakarta kali ini terasa sangat lama. Selain tol padat karena akhir pekan, juga karena berbagai titik kebakaran di sepanjang tol yang menyebabkan laju kendaraan melambat. Saya kira bisa sholat ashar di Hotel Santika yang akan diinapi malam nanti. Nyatanya hari sudah menjelang maghrib dan saya baru tiba di perbatasan Jakarta – Tangerang.

Dengan menaiki angkot jurusan BSD City saya bertanya-tanya kepada penumpang dimana letak Hotel Santika berada. Karena keasyikan baca buku di bis, saya lupa googling terlebih dahulu dimana tepatnya. Namun petunjuk dari Reni, teman sebangku semasa SMA yang sudah menunggu di Hotel Santika menyebutkan bahwa minta saja diturunkan di Teras Kota. Teras Kota? Apa itu? Duh semakin lama merantau semakin jauh ketinggalan informasi tentang Jabodetabek. 
Semula saya berniat menginap di rumah Reni namun ia malah menawarkan kamar di Hotel Santika agar saya mudah menuju bandara saat pulang ke Batam keesokan harinya. Terlebih rumah Reni letaknya jauh ke dalam. 

Dari dalam angkot tulisan Teras Kota tampak menyala di depan sebuah bangunan. Papan reklame, lalu lalang kendaraan dan orang-orang membuat saya dapat menyimpulkan tempat apa Teras Kota itu. Sebuah mal.

Setelah turun dari angkot dan bertanya kepada security yang berjaga di depan Teras Kota dimana letak Hotel Santika, 5 menit kemudian saya sudah berdiri di depan resepsionis. Dengan ramah ia memberi kartu sebagai kunci kamar hotel dan menyuruh  agar saya langsung saja menuju lantai 4 tempat dimana Reni telah menunggu.

Saat memencet bel, seorang gadis kecil dengan hidung mancung dan bulu mata lebat tampak membukakan pintu kamar. Saya langsung mengenalinya. Walau belum pernah bertemu, namun dari foto-foto yang sering di-upload Reni di  facebook, saya yakin gadis kecil itu adalah Desti, anak bungsunya Reni.


Di belakang Desti, seorang gadis kecil lainnya dengan postur lebih tinggi dan sama cantiknya menyambut dan mencium tangan saya. Dialah Shera. Kakaknya Desti. Rupanya Reni mengajak serta kedua anaknya untuk ikut menginap di hotel. 

Reni menyongsong dan memeluk saya. Alhamdulillah bertemu lagi dengannya. Beberapa tahun lalu saat saya pulang ke rumah mertua di Depok pun kami pernah bertemu untuk reuni.

Karena sudah maghrib saya segera meminta izin untuk mandi dan sholat. Dinding dan pintu kamar mandi terbuat dari kaca yang tidak tembus pandang. Pintunya dapat dibuka dan ditutup dengan cara digeser. Sliding door.  Mengingatkan saya pada pintu-pintu rumah di film Jepang Oshin.

Kamar mandinya tidak terlalu luas, namun bersih dan harum. Beberapa handuk bersih berwarna putih tergantung di hanger. Syukurlah saya memang nggak bawa handuk. Dan mandi nggak handukan itu terasa hambar hehe. Di dekat wastafel toiletries tersusun lengkap. Antara shower dan closet terpisah kerai. Air hangat dan dingin berfungsi dengan baik.

Selesai mandi, mengganti pakaian, dan sholat maghrib di kamar, kami berkumpul berempat di tempat tidur sambil leyeh-leyeh dan ngobrol ngalor-ngidul. Reni memilihkan kamar yang tepat. Kasur ini sangat lebar sehingga muat untuk kami berempat. Kasur, bantal, guling dan selimutnya terasa empuk. Terasa nyaman dan betah berlama-lama berbaring.

Reuni teman SMA

Malamnya Reni membuat surprise. Saya dipertemukan dengan beberapa teman akrab semasa SMA. Rupanya siang sebelumnya dia sibuk menelpon sana sini sehingga terkumpullah 5 orang teman dekat saya dulu yang semuanya laki-laki. Teman satu geng dan satu kelompok belajar. Kini mereka semua sudah berumah tangga dan 3 orang diantaranya bekerja di beberapa Bank Nasional di ibukota. Satu orang menjadi TNI dengan tugas sebagai Paspampres dan satu orang lagi wiraswasta. Kami bertujuh bertemu di depan Teras Kota. 

Hotel Santika letaknya sangat strategis. Berada di tengah-tengah kota yang bahkan letaknya saja berhampiran dengan pusat perbelanjaan. Jadi kami tidak sulit untuk mencari makan malam.

Setelah makan malam bersama, kami pindah tempat untuk mengobrol di restoran hotel. Memesan black coffee & cappuccino lalu mengobrol seru sambil terbahak-bahak tertawa  membahas masa SMA dulu. Syukur Alhamdulillah para pelayan restoran tampak mafhum dan tidak menegur padahal suara kami membahana hingga ke luar restoran. Bahkan beberapa orang di meja lain menyingkir perlahan karena suara kami yang berisik.

Reuni dadakan ini, sungguh membuat saya terharu. Kelima orang teman yang datang rumahnya jauh-jauh di sekitar Depok, Cilandak, Cijantung, dan Tebet. Namun mereka bersedia datang. Duh apalah saya ini sehingga mereka rela meluangkan waktu untuk bertemu dan pulang-pulang kena amuk para istri masing-masing :D

Yang lebih surprise lagi salah satu diantara mereka ada mantan gebetan saya haha… Eh nggak ding dia yang gebet saya duluan. Namun karena saya anak Rohis yang memegang teguh prinsip Say No to Pacaran, jadi kami hanya kucing-kucingan saja. Dia mendekat saya menjauh. Dia menjauh saya semakin jauh hehe. Hanya sekedar suka-sukaan dalam hati saja sih. Hingga si dia sempat bingung kenapa saya selalu menghindar. Jelas menghindar dong karena saya mati-matian tetap menjaga hati agar tidak bisa tercuri olehnya. Qiqiqi. Nah saat reuni kali itu terungkaplah semua. Kami bertujuh bergilir blak-blakan bercerita tentang masa lalu.
Aih tutup muka. Akhirnya rahasia itu terungkap juga. Haha.

Saking seru bernostalgia bahkan kami lupa mengobrol ngalor-ngidul hingga subuh. Untung Shera dan Desti sudah bobo pulas di kamar. Baru sadar kami semua belum sholat isya.
Jadi segera menuju mushola di lantai bawah. Musholanya nyaman dan bersih dengan karpet yang cantik. Yang paling saya suka mukenanya wangi dan bersih tidak ada bintik hitam cetian.

Selesai sholat isya berjamaah dan berpamit-pamitan, saya dan Reni kembali ke kamar hotel. Tidur sebentar dan sholat subuh jam 7 karena kesiangan. Tidur sangat lelap apalagi AC disetting dingin oleh anak-anak.

Bangun tidur tenggorokan terasa haus.
Langsung minum air mineral komplemen yang telah tersedia di meja. Penasaran, saya juga mencoba membuat teh hangat dari coffee & tea maker. 

Beberapa menit kemudian kami turun untuk sarapan di restoran. Menu sarapan sangat variatif. Aneka kue, buah-buahan dan berbagai makanan tradisional.  Shera dan Desti berkali-kali bolak-balik untuk mengambil kue yang mereka suka. Seorang pegawai hotel mendatangi kami dan menyapa Reni.  Katanya jika ada apa-apa tinggal panggil saja. Duh segitunya. Jadi tersanjung saya. Usut punya usut ternyata manajer hotel ini adalah salah satu teman Reni. Ooooh panteees :D


Hotel Santika BSD City-Serpong
Teraskota Entertainment Center, CBD Lot VII B
Jalan Pahlawan Seribu, Serpong BSD City
Lengkong Gudang, Tangerang Selatan, Banten 15322
(021) 29915999

Baca juga Hotel butik terbaik di Batam





Note: Foto 1 & 2 diambil dari Booking dot com

Minggu, 28 Juni 2015

Menginap di Central 65 Singapura, Harga Hostel dengan Layanan Hotel

Saya berdiri ragu di depan meja resepsionis. Pada peraturan yang tercantum di agoda pada saat booking hostel ini tertulis bahwa tamu wajib menunjukkan kartu kredit pada saat check in. Sementara kartu kredit saya ketinggalan di rumah, di Batam. Pyuuh.

Dengan wajah ramah resepsionis menyapa saya dan bertanya apa yang bisa dibantu. Pelan-pelan saya memberikan kertas print out voucher hotel sambil mulai menceritakan bahwa lupa membawa kartu kredit. Sesuai harapan, si resepsionis ternyata hanya berkata “Never mind”. Ahaaa….saya dan suami bisa bernafas lega. Alhamdulillah.

Kami membooking hostel ini via Agoda. Seperti biasa pada musim – musim liburan seluruh hotel & hostel di Singapura hampir semuanya full booked. Saya dan suami hampir pusing memikirkannnya. Untung saja di malam menjelang keberangkatan ada tempat tidur yang  masih tersisa di Hostel Central 65 di Jalan Besar, kawasan dekat Bugis. Sebelumnya hostel ini bernama b88. Dan pada saat kami datang tampak bagian depan sedang direnovasi.

Namun yang namanya hostel berarti  resikonya satu kamar rame-rame dengan tamu dari negara lain. Tak apalah yang penting kami bisa tidur nyaman goleran di kasur. Kami tak terlalu berharap banyak pada pelayanan sebuah hostel.

Kami memilih menginap di Central 65 salah satu pertimbangannya adalah bahwa hostel ini membolehkan anak-anak di bawah 6 tahun menempati tempat tidur yang sama dengan orang tuanya asalkan muat. Lumayan bisa menghemat pengeluaran sehingga tak perlu memesan satu tempat tidur lagi untuk Chila. Peraturan ini sudah tercantum jelas di awal booking, sehingga kami tidak ragu lagi.

Tempat tidurnya seperti kubus :D
Kami menginap selama 3 malam dan hanya membayar sebesar 1.181.604 rupiah untuk dua tempat tidur. Per malam per tempat tidurnya hanya sekitar 196 ribu rupiah saja. Terbilang murah untuk ukuran Singapura dan Indonesia.

Walaupun kamar kami shared room dengan tipe dormitory, namun kerahasiaan masing-masing sangat terasa dengan tersedianya tirai di setiap tempat tidur. Tempat tidurnya seperti kubus yang mempunyai satu sisi terbuka. Karena mirip goa dan rumah-rumahan yang biasa dimainkan anak-anak, Chila langsung suka. Apalagi kasur dan bantalnya empuk banget. Chila nggak mau kemana-mana. Betah ngendon di kasur.

Pada saat kami menginap, Bagian depan hostel sedang dalam perbaikan. Namun untungnya suara gaduh perbaikan tidak terdengar pada malam hari. Begitu pun lantai paling atas sedang dalam perbaikan juga. Tampak tangga menuju lantai atas ada peringatan dilarang masuk. Rencananya pada roof top akan dibangun beberapa fasilitas yang semakin memanjakan para tamu.

Fasilitas hostel sungguh membuat saya salut. Selain urusan standar seperti sarapan gratis, disediakan juga minuman  gratis yang beragam seperti air putih, teh, kopi, dan susu. Ada juga buah-buahan secara gratis sepanjang hari. Ngambil sesukanya selagi masih tersedia.

Fasilitas lainnya ada loker, wifi gratis hingga ke tempat tidur masing-masing, komputer internet, lampu baca, rental sepeda, dan colokan listrik di tempat tidur masing-masing.

Ruang Lesehan depan Televisi

Ruang makannya sangat nyaman dan hommy. Bahkan saat sarapan saya dan beberapa tamu lainnya menonton televisi sambil lesehan di karpet. Yup, serasa di rumah sendiri. Namun yang paling saya suka di sana terdapat beberapa rak buku dengan koleksi buku-buku traveling yang sangat beragam.

Pada bagian roof top kini memiliki fasilitas jacuzzi, yakni kegiatan berupa berendam di kolam hangat layaknya spa. Selain itu terdapat kursi-kursi yang cantik untuk duduk-duduk sambil baca buku dan sebagainya dengan lampu penerang di dinding roof top.

Tak diragukan lagi dengan adanya roof top ini para tamu akan dimanjakan dengan pemandangan Singapura di malam hari. Sayang kami belum dapat merasakan fasilitas yang satu ini. Semoga kalau ke Singapura lagi dapat berkesempatan menginap di sini.

Berasa artis, bule ini yang ngajak foto bareng duluan. Biasanya kebalik :D 

Central 65 Hostel
134 Jln Besar, Singapura 208852
Telpon: +65 6298 0015

Makan Siang yang Menyenangkan di Restoran Sea Food Kampung Tua, Tanjung Piayu

Menuju Tanjung Piayu
Dulu awal-awal tahun 2000an jika hendak menikmati hidangan sea food, kami harus selalu berkendara jauh ke kawasan Jembatan 4 Barelang di selatan Batam dan daerah Bengkong di utara Batam. Perjalanan yang cukup jauh dari daerah saya di Batu Aji.

Kini sudah tidak lagi. Berbagai pujasera dan restoran sea food mulai bertebaran di seantero Batam. Termasuk salah satunya di kawasan Tanjung Piayu Batam. Sekitar 35 menit berkendara dari rumah di Batu Aji.

Kebetulan saya dan teman dekat semasa blusukan ke hutan dulu, Jeng Endi beserta keluarga kami masing-masing sedang berkunjung ke Tanjung Piayu menengok teman yang baru lahiran. Karena berkunjungnya menjelang makan siang, maka sepulang dari sana kami memutuskan makan siang di Kampung Tua Tanjung Piayu yang letaknya tak jauh dari rumah teman yang lahiran.

Gapura Selamat Datang di Kampung Tua Tanjung Piayu

Memasuki Kampung Tua kami disambut dengan gapura khas Melayu berwarna kuning. Tak jauh selepas gapura kita bisa melihat ke bawah jalan tepatnya di sebelah kiri berjejer beberapa restoran apung milik warga.

Setelah memarkir kendaraan, kami masuk dan melihat-lihat isi keramba di dalam restoran. Memilih ikan dan makhluk laut lainnya yang akan menjadi santapan siang itu. Makanan segar yang dimasak langsung sesaat setelah ditangkap dari dalam laut.
 
Restoran Sea Food Kampung Tua terlihat dari atas jalan

Pintu Masuk ke Restoran Sea Food Kampung Tua
Saya memilih menu kesukaan yaitu gonggong. Sejenis siput laut yang hanya hidup di wilayah perairan Kepri. Jadi buat teman-teman yang berkunjung ke Batam dan wilayah Provinsi Kepri lainnya menu wajib kuliner Kepri adalah mencicipi gonggong ini. Rasanya gurih dan teksturnya kenyal. Awal-awal mencoba mungkin geli bahkan jijik, namun jika sudah mencobanya dijamin ketagihan.
 
Lagi makan baru ingat foto-foto :D

Lupa foto dari sejak utuh :D


Menu lainnya yang kami pilih adalah Ikan asam pedas, sotong goreng tepung, sop asparagus, dan sayurnya tumis kailan. Sedangkan menu pembuka kami sudah disambut dengan sepiring otak-otak yang telah terhidang pasrah di atas meja.
 
Sotong Goreng Tepung dan tumis  kailan

Sambil menunggu hidangan siap disajikan, saya, Chila dan ayahnya berkeliling melihat-lihat isi keramba. Chila asyik melihat-lihat isi keramba sambil menggemblok tas ransel warna kuning. Ransel kesayangan yang kemana-mana nggak pernah ketinggalan. 
Isi keramba bermacam-macam. Ada kerang, kapis, sotong, udang, kepiting, rajungan, bahkan penyu juga ada. Mungkin penyu ini hanya sebagai peliharaan. Semoga tidak untuk dimakan. Selain itu ada juga berbagai jenis ikan termasuk ikan kerapu yang besar-besar hampir seukuran badan Chila. Yang paling penasaran adalah lobster. Namun harganya sangat mahal sehingga kami lewatkan saja. Satu ekor lobster harganya bisa mencapai ratusan ribu. 

Memilih menu segar dari keramba

Tak lebih dari 15 menit hidangan telah siap saji. Tak menunggu waktu lama untuk memulai, kami sudah menyerbu makanan tersebut. Dan Alhamdulillah makanannya ludes semua. Rasanya tak diragukan lagi. Semua setuju untuk memberi jempol pada cita rasanya yang memang nikmat. Kalau diberi angka maka 90 untuk sotong tepung gorengnya, dan 99 untuk ikan asam pedasnya.

 
Restoran Apung di atas permukaan laut


Seperti biasa jika soal makan, saya selalu lupa untuk foto-foto makanannya. Selain memang tidak biasa, kedua tak pernah tega membiarkan makanan tersaji menganggur di meja. Hihihi. Bawaannya pengen segera menyikatnya pakai mulut dan gigi. Haha.

Baca juga tentang Resto Sunda untuk Sepotong Kenangan yang Tersisa





Jumat, 26 Juni 2015

Menikmati Hidangan Khas Lombok di Rumah Makan Mae Cenggo

Saung dengan kolam ikan
Pepohonan tumbuh rimbun di kanan kiri jalan masuk menuju Rumah Makan Mae Cenggo yang terletak di Jalan Raya Masbagik - Labuan, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Kolam-kolam yang jernih dipenuhi dengan ikan berbagai jenis dan ukuran langsung memanjakan mata manakala saya dan keenam rekan-rekan dari Mataram dan Batam melangkahkan kaki lebih dalam lagi. Saung-saung yang beralaskan karpet  berwarna merah yang difungsikan sebagai tempat makan berdiri cantik di atas kolam-kolam ikan tersebut. Suara gemericik air sungai yang hanya berjarak beberapa meter dari kolam ikan menambah tenang dan damai suasana.

Kami langsung menuju salah satu saung yang kosong. Perut yang menahan lapar sejak pagi sudah tidak sabar lagi ingin segera menikmati makan siangnya. Cacing-cacing di perut mungkin sudah berdisco reggae bukan lagi bersenandung keroncongan :D

Selain ayam taliwang dan plecing kangkung tidak banyak lagi makanan khas Lombok lainnya yang saya tahu. Maka saat ditawari menu makanan ini itu saya setuju-setuju saja. Yang penting kalau sudah berada di Lombok harus menyicip makanan khasnya. Terserah apa saja boleh.

Saat menunggu makan siang dihidangkan, kami mengobrol sambil ngemil kerupuk yang telah tersedia. Nggak nyadar saya sendiri habis satu toples kerupuk. Hehe...laper apa doyan ya?  Sementara teman-teman cowok asyik menyeruput kopi yang sudah dipesan semenjak pertama datang.  

Mampir di Dusun Sade juga.

Iseng saya tanya kepada salah seorang teman dari Mataram, Bang Ming, kenapa  nama rumah makannya terdengar aneh. Mae Cenggo. Seperti nama dalam bahasa Tionghoa. Fikiran saya malah langsung teringat pada Laksamana Ceng Ho. Seorang penjelajah lautan dari Tiongkok yang pernah datang dan menetap di Indonesia. 




Menurut Bang Ming, Mae Cenggo diambil dari bahasa Flores yang berarti Silahkan Mampir. Pas banget untuk nama sebuah rumah makan. Kalau di Pulau Jawa kita sering melihat rumah-rumah makan di pinggir jalan yang mempunyai nama seperti Sudi Mampir, Mari Mampir, Ayo mampir, dan mampir-mampir lainnya. Namun belum pernah sekalipun saya melihat tulisan Rumah Makan Jangan Mampir :D

Hidangan yang setengah diserbu :D lagi makan lupa foto jadinya begini
Nah Rumah Makan Mae Cenggo ini diberi nama dalam bahasa Flores sebagai pengingat bagi Pak Buhari, pemilik rumah makan ini yang pernah ditugaskan di Pulau Flores. Tepatnya di  Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Terlebih kata Mae Cenggo sudah familiar dan mirip dengan bahasa Sasak Lombok.

Baca juga: Mencari oleh-oleh khas Lombok di Sasaku

Sayur bening daun kelor dan pepaya 
Seperempat jam berlalu, cacing-cacing sudah menyuarakan orkestra tengah malam. Untung saja dua orang pelayan segera datang membawa nampan-nampan besar berisi nasi dan berbagai macam lauk-pauk. Sayur bening daun kelor, plecing kangkung, ayam bakar, ikan bakar, beberuk, dan sop ikan kuah kuning. Tak lupa sambalnya yang ajib turut diturunkan dari nampan. Wuaaah sedaaaap. Saatnya pembalasan :D


Ikan bakarnya ditusuk

Plecing kangkung

Saya terkejut melihat hidangan ayam bakarnya yang lengkap dari kepala, leher hingga ke ceker. Ayamnya masih muda. Lagi seneng-senengnya ngelayap cari makan. Ukurannya tidak kecil tidak pula besar. Kalau manusia mungkin setingkat remaja kali ya. Nah biasanya ayam kampung yang masih muda itu nggak alot kalau digigit. Dagingnya pun lembut dan cepat hancur kalau dikunyah. Jadi tambah nafsu. Akan saya makan semuanya, semoga masih ada tempat yang muat di lambung ini. Doakan saya ya! Haha.

Ayam bakar yang saya makan masih tersisa karena kekenyangan.

Soal rasa? Jangan ditanya. Makan masakan khas langsung dari tempat asalnya itu nilainya 100 lebih. Nggak ada tandingannya deh. Ayam yang saya makan saja lezatnya tak terkira. Dan entah kenapa kok saya sudah kekenyangan saja. Nggak semua termakan. Hiksss...sayang banget padahal kalau nggak malu pengennya saya gadoin buat di mobil. Lumayan daripada bengong. Hihi. Ayam dijadikan cemilan kan nggak apa-apa juga kaleee. Tapi nggak segitunya juga kaleee. Ah sudahlah. Ikhlaskan saja untuk makanan ikan-ikan di kolam. 


Saung-saung berisi sisa hidangan

Jadi kalau kebetulan mampir ke Lombok Timur jangan lupa mampir ke rumah makan Mae Cenggo ini ya teman, Asli hidangannya bikin kita pengen balik lagi ke sana. 


Rumah Makan Mae Cenggo
Jalan Raya Masbagik - Labuan, KM 2 Ambung,
Masbagik Timur, Kabupaten Lombok Timur, NTB
Telpon: 087763382221


Kamis, 25 Juni 2015

Power Bank Asus ZenPower hadir untuk Petualangan yang tak Terlupakan

Saya ini  tipe orang yang sering keluar rumah. Baik itu keluar rumah untuk bekerja dalam rangka  mencari rejeki - demi sesuap  nasi,  segenggam intan, dan sebongkah berlian :D - *hahaha hiperbola banget, atau keluar rumah untuk ngelayap jalan-jalan dan liburan.

Nah karena saya orangnya #kekinian ceilah… maka sehari-hari tidak bisa lepas dari yang namanya gadget yang terhubung dengan internet. Apalagi tahun ini  mulai rajin ngeblog sehingga setiap beberapa kali dalam sehari  perlu  melakukan sharing postingan, membalas komen-komen di blog, dan blog walking atau membaca info-info di sosial media. Namun kadang suka sebel kalau tiba-tiba lagi online,  gadget yang sedang dipegang mendadak mati kehabisan batre. Duh mati gaya deh rasanya.

Kalau keluar untuk bekerja seringnya tidak masalah karena di setiap sudut ruangan kerja ada colokan listrik. Mau seharian  nge-charge pun tidak ada yang melarang. Tapi kalau sudah di luar rumah atau di luar tempat kerja? Duh ini nih yang bikin bete luar biasa.

Pilihan Warna Asus ZenPower. Foto dari sini

Saat sedang pergi berlibur semisal ke gunung, saya seringkali bermasalah dengan gadget. Udara dingin dan temperature gunung yang rata-rata di bawah 10 derajat celcius membuat batre tablet dan handphone tidak bisa bertahan lama. Terlebih dengan sinyal operator seluler yang tetap menyala. Namanya di gunung, mendapatkan sinyal sangatlah sulit. Kadang hanya satu bar kadang blank sama sekali. Nah saat gadget kita mencari-cari sinyal ini nih yang amat menguras batre. Saya sering menyiasatinya dengan memilih flight mode di settingan agar gadget tidak mencari-cari sinyal kesana kemari. Yang bikin senang tetap bisa foto-foto tapi tidak cepat kehabisan batre.

Saya ingat betul, saat melaju mengendarai mobil di Jalan Raya Lintas Sumbawa ada sekawanan sapi yang melintas menyebrangi jalan. Duh momennya istimewa sekali. Saya dan reka-rekan satu mobil mulai beraksihendak  memfoto kawanan sapi tersebut. Namun baru dinyalakan layarnya mendadak batre tablet habis. Ya salaam. Nyesek banget.

Cerita lainnya saat saya berada di puncak Gunung Cikuray, Garut, Jawa Barat. Menjelang sunrise, para pendaki ramai-ramai menunggu datangnya mentari yang mulai menyinari alam semesta. Saya hanya mampu membidikkan kamera beberapa frame saja karena seterusnya batre kamera mati.

Beruntung kini teknologi semakin berkembang. Dulu saat di gunung, saya sering berharap kalau ada alat yang bisa mengisi batre tanpa colokan listrik. Kini dunia menjawabnya dengan segera. Hadirnya Power Bank menjadikan solusi bagi satu permasalahan ini.

Tidak lama setelah kemunculan beragam power bank, saya dan suami membeli power bank berkapasitas 5000 mAH dengan merk keluaran perusahaan terkenal. Namun belum pun tablet terisi penuh, power bank-nya sudah kehabisan power duluan. Gugur di medan perang. Kalah sebelum menyelesaikan tugasnya hehe.

Semenjak itu saya mulai selektif. Nggak mau beli-beli sembarangan. Sebel dan kecewa. Sementara itu saya baru sebatas tanya-tanya kepada teman dan meminta berbagai referensi tentang power bank yang bagus, bandel dan tentu saja di atas 5000 mAh. Bersyukur berkat rekomendasi teman blogger, saya mendapat hadiah yang sangat aya butuhkan dari Asus. Hadiah yang sungguh sangat tak terduga namun begitu berharga.

Yeaay ini hadiah untuk saya :D

Ya, hadiah itu adalah Power Bank Asus ZenPower dengan kapasitas 10.050 mAh, yang mempunyai fitur isi ulang cepat. Istilah kerennya disebut Ultra Fast Charging. Ini dimungkinkan karena ZenPower mampu menghasilkan output hingga 2,4 ampere jika menggunakan kabel yang mendukung. Artinya, gadget akan lebih cepat terisi penuh jika diisi dengan ASUS ZenPower dibandingkan dengan powerbank lain yang tidak memiliki fitur ini.

Untuk mendukung ultra fast charging, ASUS menyertakan kabel USB berkualitas. Meski tampak sepele, namun ini hal yang penting. Pengguna kerap mengabaikan kualitas kabel USB untuk menghubungkan gadget dengan charger ataupun powerbank. Padahal, jika tidak menggunakan kabel berkualitas, muncul risiko terjadinya arus pendek yang membahayakan gadget tersebut. Dengan menggunakan kabel standar 5V/2.4A, ASUS ZenPower dapat terisi penuh dalam waktu 5,5 jam. Atau 6 jam jika menggunakan kabel standar 5V/2A.

Selain itu ZenPower merupakan powerbank pertama di dunia yang memiliki dimensi sebesar kartu kredit. Kecil, mungil, dan elegan.

ASUS ZenPower ini memiliki desain ergonomis yang dipadukan dengan casing alumunium ringan, membuat penampilannya tampak elegan dan kokoh. ASUS ZenPower juga menghadirkan 5 macam pilihan warna yang menarik; Osmium Black, Sheer Gold, Glamor Red, Azure Blue, dan Brilliant Silver, yang menyesuaikan dengan warna favorit para pengguna. Alhamdulillah saya mendapatkan Briliant Silver.

ASUS ZenPower cukup kecil dan ringan untuk masuk dalam kantong. Saat melakukan isi ulang bahkan saya memasukkan ZenPower dan tablet sekaligus ke dalam saku celana kerja. Dengan bobot 215 gram dan ukuran yang tak lebih besar dari ukuran kartu kredit ini ZenPower tidak terasa berat di saku.

Nah sekarang mau ke gunung, ke hutan atau island hopping ke pulau-pulau kosong pun saya nggak terlalu masalah . Ada Asus ZenPower yang akan menemani setiap petualangan saya sehingga saya tidak akan kehilangan momen berharga untuk dibidik kamera.

Rabu, 24 Juni 2015

Belajar Snorkeling di Pulau Labun, Batam


Pulau Labun
Para ayah dan krucilnya :D
Pulau Labun adalah pulau yang kini menjadi destinasi wisata baru di Batam. Menjadi pilihan disaat kami sudah bosan dengan tempat wisata yang hanya itu-itu saja. Setidaknya bagi saya sendiri yang sudah cukup lama tinggal di Batam. Bosan mau kemana lagi. Sudah hampir semua sisi pulau Batam saya kunjungi ( jiaaah sombongnyaaa :D) dan sepertinya kaki ini perlu melebarkan sayap eh langkah ke pulau-pulau sekitarnya. Yuk island hopping.  

Sebelum-sebelumnya saya sering island hopping salah duanya ke pulau Mubut dan Pulau Mencaras.

Bersyukur seorang rekan blogger Batam yang baik hati, tidak sombong, rajin menabung, disayang suami, haha...Dian dan keluarganya mengajak dan memberi tumpangan kendaraan kepada saya and family. Selain kami ada juga 3 orang teman dari komunitas Batam Traveler yang ikut serta. Rina, Asih, dan Sarah.

Tepatnya sebelum bulan puasa ini kami bertujuh plus dua krucil Chila dan Lala berangkat menuju Pulau Labun. Setelah hampir 2 jam perjalanan disertai mampir-mampir untuk sarapan dan membeli bekal makan siang, kami tiba di gerbang masuk pelabuhan yang bersebrangan dengan Pulau Labun.

Chila berlari-lari di parkiran
Dari Jalan Raya Lintas Barelang, tepatnya di Pulau Galang Baru, kami menemukan petunjuk arah yang jelas yakni signboard bertuliskan Labun Island. Tinggal belok kanan dan mengikuti jalan ke arah dalam. Namun saat akan masuk ternyata gerbangnya dikunci. Untung saja kami sudah diberitahu oleh Mbak Firna, orang yang bertanggung jawab menerima tamu ke Pulau Labun. Setelah menelponnya, tak lama menunggu, gerbang dibuka oleh penjaga. Mobil pun melaju melalui jalan menurun hingga tiba di sebuah parkiran yang terletak tepat di tepi pelabuhan. 
  
Pulau Labun yang mendung
Dengan menaiki perahu motor (pompong), tak sampai 5 menit penyebrangan kami sudah tiba di Pulau Labun. Cuaca masih mendung, langit tampak memutih, namun Alhamdulillah hujan telah mereda. Sementara itu pemandangan ke arah Pulau Galang Baru pun masih gelap. Sebuah bukit yang runcing mirip gunung menari-nari dalam benak saya. Itu bukit yang sejak jaman pertama ke Barelang dulu ingin saya daki namun belum kesampaian juga. Haha...biasa deh nggak boleh lihat tempat yang tinggi-tinggi yang mirip gunung langsung bawaannya pengen nanjak terus.

Kami segera mencari lokasi untuk beristirahat. Menyusuri pelantar dan beberapa jembatan kayu yang membuat degdegan saat menyebrang. Maklum rumah-rumah dan bangunan ada di tengah laut. Salah-salah langkah bisa tercebur.

Jembatan kayu 
Tiba di tepi pantai yang dihiasi pepohonan teduh, bangku-bangku panjang, dan ayunan, semua langsung meletakkan barang-barang dan menyebar ke berbagai tempat. Anak-anak langsung main pasir. Rina dan Asih bermain ayunan. Dian mulai beraksi foto-foto. Mas Anang duduk-duduk mengawasi para bocah. Sedangkan Bang Ical tampak berjalan menjauh menyusuri pantai hingga ke ujung pulau. Saat saya dan Sarah menyusul, dia sudah tidak terlihat lagi. Karena nanggung kami berdua akhirnya sekalian mengelilingi pulau. Nggak lama, kurang lebih setengah jam saya dan Sarah sudah kembali ke tempat semula.  

Para bocah asyik main pasir
Selesai makan siang, segera rapi-rapi dan menuju tempat penyewaan alat snorkeling. Semoga pemandangan di bawah sana secantik apa yang diharapkan. Demi melihat langit mulai membiru dan air laut mulai tampak menghijau, batin saya yakin tergoda untuk ikut turun ke laut. Yes, saatnya belajar snorkeling. Excited. Soalnya seumur-umur belum pernah snorkeling meskipun wara-wiri main ke pulau. Sedikit pun nggak pernah ada niatan belajar snorkeling. Hehehe. Maklum anak gunung.

Para ayah sibuk mendandani anak-anaknya. Mas Anang dan Bang Ical tampak memakaikan pelampung pada Lala dan Chila. Sementara saya dan Dian, emaknya anak-anak, sibuk foto-foto. Haha istri macam apa kami ini? Begitulah enaknya jalan bareng suami, bisa menyerahkan anak sepenuhnya pada mereka. Dan para istri tinggal enjoy menikmati liburannya. *Plaaak :D

Duh, apalagi para suami ini sudah mengerti kalau foto-foto merupakan kebutuhan penting bagi orang-orang seperti kami ini loh :D. Who know dari foto-foto tersebut kami bisa mendapatkan job review atau postingan blog yang bisa mendatangkan uang. Haha...dasar blogger matrek :D


Muka Lala lucu banget, lidahnya melet-melet keasinan karena kemasukan air laut :D

Dari dermaga Mas Anang, Bang Ical dan anak-anak mulai melompat ke dalam laut. berenang-renang mengasuh para bocah yang senang main air. Lala berenang dengan lincah. Turunnya saja saya lempar ke laut. Disuruh Mas Anang itu juga. Walau takut melemparnya tapi saya percaya saja. Laaah bapaknya sendiri yang nyuruh. Begitu saya lempar, byuuur.... saya terpana. Itu bocah nggak nangis nggak apa. Cuma ngusap-ngusap muka dan melet-melet saja karena keasinan.Hahaha.

Tak lebih dari setengah jam mereka berenang, sudah naik. Kini giliran para emak yang turun. Saya pun mulai mengenakan alat snorkeling . Memakai life jacket berwarna merah menyala, mengenakan  fin yang serupa kaki bebek, mengalungkan masker dan snorkel di leher dan mulai turun merayapi tangga pelantar menuju permukaan air laut. Duh perasaan begitu campur aduk. Pendaki gunung turun ke laut itu ya seperti ini kali ya rasanya. Mmmm.....rasanya seperti awal-awal mau menikah gitu. deg deg ser.

Pulau Labun
Saya dan Rina
Saya pun nyebur ke laut, berenang tidak jauh-jauh dari tangga pelantar. Masih takut-takut. Karena melihat terumbu karang yang cantik-cantik, saya mencoba mengenakan masker dan mengulum snorkel. Tapi kok kenapa air laut masuk terus ke mulut ya? apa snorkelnya nggak pas di mulut saya? apa mulut saya yang kelebaran atau snorkelnya yang kekecilan? Duh pusing pala berbi. Saya pun keheranan sendiri. Saat Rina meminjam masker dan snorkel saya langsung saja kasihkan. Laah nggak bisa pakai ngapain juga saya kenakan terus.


Saya memperhatikan Rina pakai snorkel. Loh ternyata dimasukin semua ya ke mulut? Hahaha norak banget sih saya. Pantas saja air laut masuk terus ke mulut. Ternyata dari tadi alat snorkel itu cuma dijepit bibir saja nggak dimasukin ke dalam mulut. Oalaaah ternyata begitu toh caranya.

Beberapa menit kemudian saya mencoba lagi. Memasukan snorkel ke dalam mulut, menarik nafas lewat mulut dan melepaskannya di hidung. Aha rasanya baik-baik saja. Waktunya turun nih melihat-lihat keindahan bawah laut beserta isinya.


Pulau Labun
View ke sisi kiri pulau
Plung....saya pun nyebur ke dalam laut. Mencelupkan kepala ke dalam air. Dan Subhanalloh ternyata begini ya cantiknya terumbu karang itu. Pantas saja orang-orang begitu suka snorkeling dan diving. Duuuh saya jadi nggak mau naik, terus bolak-balik mondar-mandir di spot sekitar terumbu karang.

Satu jam sudah cukup untuk berlatih snorkeling perdana saya. Dan saya sumpah ketagihan. Mulai deh berniat pengen menyicil punya alat snorkeling sendiri dan berniat snorkeling lagi di pulau-pulau lainnya. Walaupun begitu, tetap saja naik gunung adalah jiwa saya.

Bertemu teman-teman dari Batam Free Dive. Foto oleh Asih dari tabletnya Rina
Pulau Labun
Sambil bersantai mencari kutu :D




Note: 
Pulau Labun bisa dihubungi di nomor 085278139579
Tarif Penginapan: Rp 750.000 - Rp 1.000.000
Tarif menyebrang (kapal): Rp 150.000 per orang
Sewa alat snorkeling: Rp 100.000


Sabtu, 20 Juni 2015

Give Away Perdana Lina Sasmita

Bismillahirrohmaanirrohiiim,

Alhamdulillah tahun ini saya sudah mulai stabil ngeblog. Setidaknya setiap bulan minimal ada 5 hingga 10 postingan. Dan itu merupakan kemajuan besar bagi saya yang suka malas dan menunda-nunda untuk menulis.

Saat memutuskan hijrah domain dari sierrasavanna.blogspot.com  ke linasasmita.com Alexa saya langsung terjun bebas. Dari semula 5 jutaan menjadi 11 jutaan. Shock, namun pelan-pelan mulai menulis secara kontinyu. Alhamdulillah tidak sampai 3 bulan Alexa sudah merangkak naik. Bahkan jauh melebihi kondisi awal sebelum pindah. Saat itu mencapai angka 296.000-an. Suatu kemajuan besar dari angka malas-malasan lima jutaan.Mungkin karena frekuensi Blog Walking berkurang, kini Alexa saya malah mulai nge-drop turun lagi ke angka 400.000-an. Namun sejauh ini masih aman terkendali.

Sedangkan untuk Domain Authority  masih belum berubah ada di angka 14. Nah katanya semakin tinggi DA maka semakin baik performance sebuah website/blog di mata dunia maya.Hehehe. Menurut saya pribadi Alexa dan DA itu penting untuk mengukur semangat ngeblog saya.   

Memasuki bulan Juni 2015, begitu banyak peristiwa bahagia yang patut saya syukuri. Pada Juni ini pernikahan saya dengan suami tercinta memasuki usia yang ke-8 tahun. Dan di bulan Juni ini juga Chila anak saya yang pertama dan satu-satunya telah genap berusia 6 tahun. Selain itu bulan ini pun mulai memasuki bulan penuh berkah yakni bulan ramadhan.

Nah oleh sebab itu, saya akan mengadakan Give Away (GA) untuk pertama kalinya. Dan semoga akan ada lagi GA-GA selanjutnya sehingga bisa terus eksis di dunia blogging dan terus memberi kebahagiaan kepada rekan-rekan blogger dengan hadiah-hadiah kecil dari saya.

Karena tulisan-tulisan di blog ini kebanyakan mengenai jalan-jalan, naik gunung, dan keliling pulau maka tema GA kali ini tidak akan jauh-jauh dari hal-hal tersebut. Dan inilah syarat-syaratnya:


  1. Buat satu tulisan kisah nyata dengan tema “Liburan Seru Bersama Anak-Anak" (boleh anak sendiri, adik atau keponakan jika belum mempunyai anak). Dan pada satu atau beberapa paragraf terakhir tulisan jawab pertanyaan berikut ini "Jika kamu berwisata ke Provinsi Kepulauan Riau objek wisata apa saja yang akan kamu kunjungi? Sebutkan alasannya!"
  2. Panjang tulisan minimal 350 kata dan maksimal 1000 kata (tanpa spasi).
  3. Di akhir tulisan buat kalimat "Tulisan ini diikutsertakan pada #1stGALinaSasmita dan buat link ke postingan ini.
  4. Tulisan dibuat dengan platform bebas boleh di blogspot, wordpress, domain pribadi, dll. Terkecuali note di FB tidak diperbolehkan.
  5. Tulisan disubmit mulai dari tanggal 20 Juni – 31 Juli 2015. Diperpanjang.
  6. Pengumuman Insya Allah tanggal 07 Agustus 2015 (satu minggu setelah GA ditutup)
  7. Follow Blog  www.linasasmita.com juga akun twitter saya di @LinaWiati dan akun Instagram saya di @LinaSasmita. Kalau tidak punya Instagram, boleh follow twitternya saja. Nggak punya twitter atau instagram? Pinjam dulu smartphone suami/istri, anak/cucu, om & tante untuk buat akunnya :D Pokoknya salah satu dari akun tersebut wajib di-follow.  Wajib jib jib. Maksa banget sih haha.
  8. Like fanpage sponsor GA ini Solatiket di https://facebook.com/solatiket dan akun twitternya di @Solatiket (wajib)
  9. Submit link (url) tulisan di komen postingan ini beserta nama dan akun twitter. Dan akan saya update berkala di “Daftar Peserta 1st Give Away”
  10. Share tulisan di media sosial twitter dengan mencantumkan Judul, link tulisan dan gunakan hashtag #1stGALinaSasmita mention ke akun saya @LinaWiati dan akun @Solatiket.


Hadiah:

Juara 1

Tiket Pesawat Citilink PP  Jakarta – Batam untuk 1 orang.
(bisa dipindahtangankan ke orang lain yang ditunjuk pemenang)


Juara 2

2 buah tas seharga Rp. 350.000 untuk ibu dan anak





Juara 3

1 buah Kaos Sepeda edisi terbatas dengan tema Kegiatan Srikandi Inspirasi Jilid V yang baru saja diselenggarakan di Sumbawa-Lombok -Bali pada tanggal 5 – 15 Juni 2015
 
Kaos Tampak Depan
Kaos Tampak Belakang


Juara 4(Favorit)

Juara Favorit mendapatkan sebuah buku antologi terbaru saya dkk yang berjudul 
“Backpacker Wannabe”



Mau kemana saja jika tiket PP Citilink Jakarta – Batam jika sampai di tanganmu? Buanyaaak

  1. Kamu bisa keliling pulau Batam menggunakan transportasi (angkot) angkutan kota dan bis-bis kota lainnya.
  2. Bisa mengunjungi pulau-pulau di sekitar Batam yang termasuk ke dalam wilayah hinterland. Jumlahnya lebih dari 300 pulau. Terutama kamu bisa mengunjungi Pulau Galang, Pulau bersejarah yang telah menjadi saksi bahwa Indonesia merupakan negara terdepan yang peduli terhadap isu-isu kemanusiaan. Salah satunya dengan menampung para pengungsi perang Vietnam selama lebih dari 10 tahun.
  3. Bosan di Batam kamu bisa mengunjungi kota Tanjung Pinang yang merupakan ibukota Provinsi Kepri yang berjarak 45 menit naik kapal Ferry. Banyak situs bersejarah peninggalan Kerajaan Riau Lingga di kawasan Tanjung Pinang. Misalnya menuju situs-situs di Pulau Penyengat yang hanya berjarak 10 menit dengan menaiki perahu motor.
  4. Atau kamu bisa mengunjungi Singapura yang hanya berjarak 45 menit dengan Kapal Ferry. Siapin Passport. cuma butuh ongkos sekitar 290 ribu Pulang Pergi Batam Singapura. Murah kaan?
  5. Atau kamu bisa menyebrang ke Malaysia menuju Johor Baru dengan waktu tempuh 2 jam menggunakan kapal Ferry cuma butuh ongkos kurang lebih  Rp.360.000 pulang pergi. 
Yuk Ikutan segera!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...