Rabu, 29 Juli 2015

5 Alasan Kamu Harus Berkunjung ke Taman Nasional Komodo

Taman Nasional Komodo terletak di tengah-tengah deretan kepulauan, lebih tepatnya berada di pusat kepulauan Indonesia. Terbentang di  antara pulau Sumbawa dan Flores. Didirikan pada tahun 1980, awal tujuan utama dari dibentuknya taman nasional ini adalah untuk melestarikan keberadaan komodo yang langka serta habitat yang ada di sekitarnya. Namun, bertahun-tahun kemudian, tujuan didirikannya taman nasional ini telah diperluas lagi yakni untuk melindungi seluruh keanekaragaman hayati  baik di darat maupun di laut. Komodo dalam nama latin disebut Varanus komodoensis.

Pada tahun 1986, Taman Nasional Komodo dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia dan Cadangan Biosphere oleh UNESCO mengingat begitu berharganya kekayaan yang dikandung Taman Nasional Komodo ini. Karena keunikan dan keanekaragaman hayati terutama kekayaan terumbu karang dan biota lautnya,  semakin hari Taman Nasional Komodo semakin banyak dikunjungi oleh para pecinta dunia bawah laut. Bahkan sebelum digadang-gadang mendapat penghargaan The New Seven Wonder of Nature  yang menuai kontroversi itu, Taman Nasional Komodo telah banyak didatangi oleh para peneliti, turis,  dan diver manca negara. Namun sebaliknya, tidak begitu banyak dikunjungi oleh warga negaranya sendiri. Bahkan hingga saya beberapa waktu yang lalu saya ke sana pun, beberapa kapal banyak mengangkut wajah-wajah bule dibanding wajah lokal Indonesia.

Gunting Lagadan Hut, Penginapan tertinggi di Asia Tenggara


Gunung Kinabalu dilihat dari Kinabalu Park
Pertama kali mengetahui bahwa ada penginapan di Gunung Kinabalu, saya langsung pesimis dan kurang setuju. Dimana pun, sebaiknya gunung dibiarkan alami begitu saja tanpa campur tangan manusia. Apalagi dimanfaatan secara komersil oleh pihak swasta.

Namun anggapan dan asumsi-asumsi saya langsung terpatahkan tatkala berkunjung langsung dan mendaki Gunung Kinabalu. Merasakan dan menyaksikan secara langsung pengelolaan gunung tertinggi di Pulau Borneo ini yang diampu oleh pihak pemerintah dan swasta Malaysia.

Pengelolaan Gunung Kinabalu sudah digarap secara maksimal dan profesional. Baik dari segi akomodasi, transportasi, konsumsi, guide dan perizinan. Izin mendaki tentu ada pada pihak Sabah Park,  namun untuk urusan akomodasi dan konsumsi selama di gunung ada pada pundak Sutera Sanctuary Lodge (SSL), perusahaan swasta yang ditunjuk sebagai pengelola seluruh penginapan yang ada di bawah naungan Sabah Park.

Gunting Lagadan Hut
Di Gunung Kinabalu terdapat beberapa penginapan dengan perlengkapan standar. Penginapan yang paling besar adalah Laban Rata Resthouse, terletak pada  ketinggian 3.270 meter dan merupakan penginapan pertama yang dijumpai saat mendaki sebelum penginapan-penginapan lainnya. Selain itu terdapat Gunting Lagadan Hut, Waras Hut, dan Panar Laban Hut. Jaraknya kurang lebih 30-50 meter di atas Laban Rata.

Saat berkunjung ke sana, saya menginap di Gunting Lagadan Hut yang berada di ketinggian 3.300 meter di atas permukaal laut. Penginapan ini diberi nama demikian sebagai bentuk penghargaan bagi seorang pendaki dari suku Kadazan (Suku asli penghuni kaki Gunung Kinabalu), sebagai orang Malaysia pertama yang mencapai puncak Kinabalu. Dalam pendakiannya ia menemani pria berkebangsan Inggris, Sir Hugh Low, yang menjadi orang pertama yang mencapai puncak Kinabalu pada tahun 1851. 

3300 meter tingginya
Di Penginapan Gunting Lagadan terdapat beranda (teras) dengan pemandangan yang sangat luar biasa. Jika sore hari, awan-awan tampak melintas di bawah penginapan membuat kita seakan-akan berada di negeri dongeng, negeri khayalan yang terletak di atas awan. Bagian beranda ini adalah bagian dari penginapan yang sangat saya sukai selain tempat tidur tentunya :D

Penginapan Gunting Lagadan Hut mempunyai kamar-makar yang berderet dengan empat tempat tidur di dalamnya. Kasur, serta selimut tebal yang tersedia, membuat tidur cukup nyaman di suhu 10  derajat ke bawah. Meskipun tetap saja udara dingin menelusup menembus pori-pori, selimut ini cukup membantu menjaga suhu tubuh agar tidak drop.

Di Gunting Lagadan juga disediakan dapur lengkap dengan gas dan peralatan memasak. Jika para pendaki ingin membuat teh, kopi atau mie instan tinggal pergi ke dapur dan menyalakan kompor kapan saja. Namun untuk urusan makan siang dan makan makan malam, seluruh pendaki di penginapan atas, harus rela berjalan turun dan ikut antri di Laban Rata Resthouse. Karena hanya di sanalah konsumsi disediakan.

Untuk ukuran di gunung, toilet-toilet di seluruh penginapan Gunung Kinabalu termasuk mewah. Closet duduk dengan air dari kran mengalir tanpa gangguan. 

Jalan turun menuju Laban Rata


Selain letaknya paling tinggi di antara yang lainnya, sewa kamarnya (per bed) terbilang murah jika dibandingkan dengan Laban Rata. Untuk pengeluaran dengan budget pas-pasan penginapan ini selalu menjadi pilihan bila dibandingkan dengan Laban Rata. 


Laban Rata Rest House
Setelah menyaksikan pengelolaan penginapan serta berbagai hal lainnya yang profesional saya kira tak ada salahnya gunung dipegang oleh pihak swasta seperti di Kinabalu. Jika hal tersebut dapat membuat gunung tetap bersih, lestari, dan pendaki lebih tertib.

Setelah gempa yang mengguncang Gunung Kinabalu bulan Juni 2015 kemarin, untuk sementara Gunung Kinabalu ditutup dan kabarnya jatah pendaki yang akan naik akan dikurangi dari biasanya 192 orang menjadi 90 orang.

Baca juga tentang gunung lainnya di Malaysia Gunung Ledang.

Bermalam Menikmati Sensasi Liveaboard di Taman Nasional Komodo

Gelap telah merangkul dan menyelimuti seluruh penjuru Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. Kapal yang saya tumpangi melaju perlahan di perairan yang tenang, nyaris tanpa gelombang. Kami baru saja menghabiskan senja di Pantai Merah (Pink Beach) Pulau Komodo. Dari jauh lamat-lamat berkilauan bias cahaya dari lampu kapal pinisi yang sedang turun jangkar. Perlahan kapal kami mendekat dan berhenti tepat di sampingnya. Setelah salah seorang dari ABK bercakap-cakap meminta izin, ia lantas menambatkan sauh ke arah buritan kapal pinisi tersebut. Ya, malam itu kapal-kapal ini akan menginap di sebuah teluk yang terletak di sisi barat Pulau Komodo.

Live Aboard at Komodo National Park
Pulas terbungkus sleeping bag. 

Kecipak ombak yang terhempas ke karang-karang di pesisir pulau seperti sebuah simfoni yang mengalun dalam hening. Keheningan yang sangat mewah dan istimewa karena untuk pertama kalinya dalam hidup, saya akan menginap di kapal dan menghabiskan waktu lebih dari 28 jam hanya berada di perairan taman nasional ini. Melakukan segala hal di atas kapal termasuk makan, minum, dan aktifitas lainnya. Kegiatan seperti ini lebih dikenal dengan sebutan liveaboard atau ada sebagian lagi menyebutnya dengan istilah Live on Board (LoB).

Senin, 27 Juli 2015

Menghabiskan Senja di Pantai Merah (Pink Beach) Pulau Komodo

Pink Beach
Menikmati Senja di Pantai Merah
Senja baru saja jatuh di pantai ini. Kegelapan akan segera menyergap dari seluruh penjuru laut. Sementara itu lembayung hanya berupa segurat jingga di balik pulau  yang menyimpan harta tak ternilai. Sebuah tempat yang menjadi  salah satu dari 7 keajaiban dunia  terbaru sekaligus merupakan  Situs Warisan Dunia yang patut dijaga dan dilestarikan. Ialah Pulau Komodo.

Di langit, tepat di atas laut yang masih  menyisakan  hijau tosca, awan bergulung-gulung. Bergumul melingkar-lingkar. Menurunkan aliran  hujan serupa air  terjun yang jatuh dari langit. Pemandangan indah sekaligus menggetarkan. Menciutkan nyali agar segera mempercepat langkah menjelajahi setiap sudut pantai ini. Cepat atau lambat awan hujan akan tergiring ke sini dan melumat kami dengan kuyup.

Minggu, 26 Juli 2015

Kekayaan Flora dan Fauna Taman Nasional Gede Pangrango

    
Surya Kencana dan Gunung Gumuruh Foto: Sato San
        
Pada tahun 1980 Taman Nasional Gunung Gede Pangrango terbentuk. Taman nasional ini disebut-sebut mewakili habitat pegunungan terbaik yang masih selamat dan bertahan hingga sekarang dimana lebih dari 1000 spesies tanaman ketinggian telah tercatat dari 120 famili tumbuhan.

            Yang paling mencengangkan adalah terdapat 200 spesies anggrek yang kira-kira sepertiga dari keseluruhan spesies anggrek yang pernah ditemukan di Pulau Jawa. Berbagai spesies burung endemik pun sangat menarik para ornitolog dari seluruh dunia untuk datang dan mengamati. Hal ini tidak terlalu mengherankan  karena lebih dari setengah spesies burung endemik Pulau Jawa dapat disaksikan di kawasan ini termasuk hewan endemik lainnya seperti macan tutul, owa, lutung, surili, trenggiling, mencek, dan lainnya.

Baca juga tentang selfie di Puncak Gunung Sinabung.

            Taman Nasional Gede Pangrango mempunyai dua titik tertinggi yakni puncak Gunung Gede dengan ketinggian 2.958 meter di atas permulaan laut (mdpl) dan puncak Gunung Pangrango dengan ketinggian 3.019 mdpl. Keduanya dihubungkan oleh sebuah tempat berupa sadel yang dikenal dengan sebutan Kandang Badak.

Kami berkemah di lembah ini. Alun-alun Surya Kencana. Foto: Sato San

            Ada 4 jalur yang terkenal yang sering digunakan untuk mendaki Gunung Gede Pangrango yakni Jalur Cibodas, Gunung Putri, Salabintana, dan Situ Gunung. Namun jalur yang paling terkenal dan sering digunakan untuk mendaki adalah Cibodas dan Gunung Putri. Saya pernah menggunakan jalur Gunung Putri untuk mendaki Gunung Gede dan di lain waktu menggunakan jalur Cibodas saat mendaki Gunung Pangrango. Namun jika ingin mendaki keduanya, sebaiknya dimulai dari jalur Gunung Putri menginap semalam di Gunung Gede lantas turun dan berhenti di sadel Kandang Badak. Setelah itu naik ke Gunung Pangrango lalu keesokan harinya turun  ke Kandang Badak dan melanjutkan perjalanan turun via jalur Cibodas. Estimasi waktu normal sekitar 3 hari 2 malam.
  
Gunung Gede

View Gunung Gede dari Puncak Gunung Pangrango. Foto: @LinaSasmita
            Gunung Gede memiliki pemandangan yang khas dimana di sebelah timur terdapat sebuah dinding (jurang) gunung yang tertutupi rimbunnya pepohonan yang disebut Gunung Gumuruh. Gunung ini bentuknya memanjang  sejauh 3 kilometer dan mempunyai ketinggian 2.929 mdpl. Di bawahnya, di antara Gunung Gumuruh dan Puncak Gunung Gede terdapat sebuah padang rumput yang terbentang luas yang disebut alun-alun Surya Kencana. Di Surya Kencana ini selain rumput juga ditumbuhi oleh tumbuhan khas pegunungan berapi yakni hamparan bunga edelweis.

            Pada sisi Barat Laut Puncak Gede terbentang kawah yang disebut Kawah Ratu.  Memiliki kedalaman 150 meter dengan diameter sekitar 300 meter. Dua kawah lainnya yang terdapat di sekitar Kawah Ratu yakni Kawah Lanang dan Kawah Wadon. Ketiganya mengeluarkan asap serta material vulkanik lainnya yang berbahaya bagi manusia.

            Pada perjalanan mendaki, saat memasuki hutan yang rapat kita dapat menyaksikan pohon jamuju tumbuh menjulang tinggi. Pada pepohonan itu dengan jelas bisa kita saksikan tanaman pakis yang tumbuh subur hidup secara epifit di batang-batang pohon yang bertajuk tinggi. Seakan berlomba mendapatkan sinar matahari.
Bersama Edelweis. Foto: @IcalPapa Sierra

            Sepanjang perjalanan kita juga dapat menyaksikan berbagai tumbuhan khas seperti  rotan, pitcher plant atau kantung semar, pohon puspa, sengon, kadsura, bunga Begonia robusta, Lobelia angulata, arbei, berbagai jenis tanaman  anggrek, dan berbagai jenis jamur serta tumbuhan paku-pakuan.

          Dari sebegitu banyak flora dan fauna yang terdapat di Gede Pangrango mungkin hanya sebagian kecil saja yang dapat kita kenali. Seperti halnya tanaman anggrek yang menurut data mencapai ratusan jenisnya. 

Baca juga pengalaman saya saat berada di Lembah Kasih Mandalawangi Gunung Pangrango.

Referensi:
Harris, K.M, 1996. Mount Gede Pangrango National Park Information Book Series Vol 2 



Kamis, 23 Juli 2015

Pengalaman Menginap di Traveller@SG Hostel Singapura

Traveller@SG
Sepupu dan Adik saya di depan bangunan Traveller@SG
Dari halaman depan, bangunan hostel Traveller@SG ini tampak sederhana. Seperti ruko deret samping pada umumnya. Ditambah lagi cat bangunan ruko yang sudah memudar kusam dan terkesan tua. Saya jadi underestimate. Paling di dalamnya seperti hostel yang pernah saya datangi di kawasan Little India. Kotor, sumpek, apek, dan bau rokok. Baiklah kita buktikan sendiri seperti apa di dalamnya.

Oh ya sekalian baca deh Perjalanan Menemukan  Hostel di Singapura.

Fikiran negatif seketika sirna setelah menaiki tangga dan tiba di lantai dua. Pemandangan perlahan berubah cerah. Sebuah meja dan komputer di bagian resepsionis langsung terlihat begitu sampai di pintu masuk. Sendal dan sepatu berderet rapi di rak sepatu. Beberapa sofa yang empuk tampak di dinding sebelah kiri dan kanannya. 4 buah komputer yang berfungsi sebagai layanan internet gratis berjejer tak jauh dari ruangan resepsionis. Lebih dalam lagi tampak ruang makan yang dipenuhi oleh meja dan kursi berwarna putih. Atap ruang makan dibiarkan terbuka tanpa langit-langit. Sebelah ruang makan terdapat dapur yang bersih dan rapi.

Saya yang baru saja datang langsung menyerahkan voucher hotel beserta passport ke resepsionis. Dengan ramah dan sigap, cowok berwajah oriental yang menjaga meja resepsionis segera memproses reservasi saya. Beberapa menit saja sudah selesai. 4 buah tempat tidur dalam kamar 8 bed mixed dorm yang telah saya booking jauh-jauh hari telah siap ditempati. Walaupun nantinya yang terisi hanya 3 tempat tidur saja, saya tetap tidak membatalkan tempat tidur yang satunya lagi berhubung malas mengurusnya dan takut ribet. Biarlah hangus. Dan itu berarti uang melayang sia-sia. Sok horang kayah banget gue.

Baca juga tentang pengalaman saya menginap di  Hostel Central 65 Singapura.

Setelah mendapatkan kunci kamar dan meletakkan ransel, saya langsung cabut ke bandara Changi melalui stasiun MRT Lavender untuk menjemput adik dan sepupu. Awalnya mereka bertiga tapi satu orang sepupu lainnya membatalkan kepergiannya tanpa alasan yang jelas.

Tempat tidurnya. Foto dari tripadvisor.com

Ya, untuk tiga hari ke depan saya bertugas jadi guide dadakan menemani adik dan sepupu yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Singapura. Sempat menunggu lama di bandara karena urusan kartu kedatangan yang habis sehingga mereka harus mencari dan mengisinya. Menjelang maghrib, saya yang cukup panik akhirnya bertemu mereka.

Hostel Traveller@SG terletak di Jalan King George's Avenue, Lavender. Tepat bersebrangan dengan King George Building. Saya memilih menginap di tempat ini karena akses yang mudah kemana-mana. Mau ke bandara pun tinggal jalan kaki kurang lebih lima menit ke stasiun MRT Lavender yang berada di jalur hijau dengan kode EW11 (East West 11). Dari Lavender turun di Tanah Merah dan lanjut naik layanan gratis sky train menuju Changi.

Mau cari makan tinggal ke stasiun MRT Lavender yang berderet kedai makan murah. Banyak yang menjual berbagai jenis makanan seperti roti, mie, laksa, dimsum, kwetiau dan nasi serta lauknya. Mau makan yang halal juga tinggal pilih. Ada Ananas Cafe yang berlabel halal yang menjual makan dengan model take away alias dibawa pulang. Selain itu ada kokoh dan Cici-cici yang menjual ayam dengan tulisan besar-besar "NO PORK". Nah berarti yang ini halal juga dong. Banyak ragam dan pilihan. Tinggal bijak-bijak memilih mana yang mengeyangkan perut tapi tetap sehat di dompet :D

Ananas Cafe
Suasana hostel yang hommy, membuat betah berlama-lama nongkrong di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang makan. Apalagi televisi bebas pakai, nggak rebutan. Bule-bule yang sedang duduk malah membiarkan remote control tergeletak begitu saja. Kalau komputer penuh banyak yang pakai, ada layanan  wifi yang lumayan kenceng. Tersedia di ruangan khusus dekat kamar. Yeay...kesempatan emas buat download game kesukaan Chila hehe.

Selain fasilitas televisi, komputer internet, dan wifi, di ruang tamu terdapat banyak buku bacaan terutama buku-buku traveling. Ada juga brosur dan pamflet tentang tempat-tempat menarik di Singapura. Semua disajikan dengan kertas, tulisan, dan foto-foto yang menarik. Promosi wisata yang total tidak setengah-setengah.

Ruang makan
Selain adik dan sepupu saya, teman sekamar lainnya adalah seorang laki-laki, Om-om yang sudah berumur. Ia seorang warga Singapura yang menurut pengakuannya akan dinas ke luar negeri. Namun saya amati beberapa malam berikutnya dia masih saja nginap di hostel. Pergi subuh-subuh jam 4an dan pulang larut malam. Kasurnya berantakan dengan sebuah kertas A4 berisi ancaman bagi siapa pun yang menyentuh kasurnya. "DO NOT THROW OR ELSE YOU'LL DIE YOUNG. ONLY GIGOLO GAY". Eh busyet ngancam dia nih. Iddiih siap juga yang mau ngacak-ngacak kasur dia :D *lirik kanan kiri siapa yang gigolo siapa pula yang jadi gay ya?


Selain si Om-Om ada dua orang perempuan muda dari Vietnam. Satu feminim dan satunya lagi tomboy alias maskulin. Si feminim lumayan ramah dan mau diajak ngobrol namun yang tomboy juteknya minta ampun. Ditanya ini itu cuma bengong dan cuek. Pura-pura nggak dengar. Dikira gue radio butut apa ya. Halaaah. Saya cuma berfikir mungkin dia begitu karena nggak bisa bahasa Inggris atau lagi sariawan. Atau dia tidak melihat saya ada. Makhlus halus mode on :D

Untuk privacy, yang namanya mixed room/shared room pasti kurang banget. Apalagi tempat tidurnya terbuka begitu saja tanpa penghalang. Yup, kurang sukanya kalau kamar rame-rame ya begini.Terpaksa bikin kerai sendiri dari kain pantai. Untuk bagian kepala dan kaki saya buat jemuran yang diisi baju, jaket, dan mukena. Jadilah kanan kiri depan belakang tertutup. Lumayan aman bisa buka kerudung dan bobo cantik. Biar rambut bisa bernafas lega dan nggak bau apek. Dalam hati sih buju-bujuk sabar, tau dong, kalau mau cari privacy ya pilih hotel aja jangan hostel. Ada harga ada kualitas. Dalam hal ini, mahal berbanding lurus dengan kenyamanan.


Microwave dan setumpuk roti serta selai di dapur.
Sarapan di hostel cukup beragam. Dari sereal, roti beserta selainya, susu, kopi dan teh. Panggangan roti pun tersedia jika para tamu ingin membuat roti bakar. Selai roti berjejer di meja dapur dengan empat rasa. Strawberry, kacang, coklat dan mentega. Selain itu terdapat microwave untuk menghangatkan makanan yang kita bawa dari luar. Menyaksikan microwave ini jadi kembali teringat punya keinginan untuk membeli. Keinginan yang tertunda-tunda. Padahal sehari-hari butuh banget buat menghangatkan lauk, kue-kue, atau sekedar bikin sarapan. Semoga bisa kebeli.

Dari keseluruhan ruangan yang ada, saya sangat suka dengan cat dinding toiletnya yang berwarna hijau dengan lukisan sekuntum bunga. Pintu toilet yang berwarna ungu juga menarik perhatian saya. Sempat berfikir ingin meniru dan mengecat pintu toilet di rumah menjadi seperti itu. Apalagi saya penggemar berat warna ungu.

Dengan harga per bed-nya yang lumayan murah sekitar 200 ribuan Traveller@SG Hostel merupakan pilihan dan alternatif memilih penginapan murah dan nyaman di Singapura. Jadi tak ada salahnya dicoba.


Traveller@SG Hostel
111 H King George's Avenue
Lavender Singapore
Telepon: +65 66832674

Suka dengan warna toiletnya


Rabu, 15 Juli 2015

Labuan Bajo, Sang Mutiara dari Timur Indonesia

Sunrise di perairan Labuan Bajo. Foto: @LinaSasmita
Mentari mulai menyinari pagi. Menunaikan tugasnya seperti sedia kala. Seperti kemarin, minggu lalu, bulan dan tahun lalu. Seperti hari-hari biasa, mengiringi rentak kehidupan di bumi yang luar biasa.

Seperti pagi yang saya temui saat itu. Pagi pertama dimana saya dapat leluasa menyaksikan mentari terbit di wilayah paling timur, sepanjang sejarah hidup ini. Pagi yang bertabur kehangatan di atas perairan tenang sebuah kota pelabuhan, Labuan Bajo, di ujung barat Pulau Flores.

Mentari ini adalah mentari pertama yang saya saksikan dari sebuah hotel mengapung tak berbintang. Kapal MV. Marina. Hotel yang sebenarnya hanya sebuah kapal ASDP, namun kebaikan para awak kapal membuat kami turut menginap di salah satu kabinnya. Setelah sebelumnya menurunkan penumpang di pelabuhan, kapal lantas melepas jangkar semalaman di tengah laut. Menikmati tidur yang lelap sambil diayun gelombang perlahan-lahan seperti dalam buaian.

Pagi semakin terang. Kecantikan kota pelabuhan Labuan Bajo mulai tersingkap. Bak mutiara dari timur ia tampak berkilau dalam pandangan. Kapal-kapal yang lalu lalang, bangunan-bangunan beraneka bentuk dan warna, kubah masjid yang khas, serta pelabuhan beton dengan dua tiang penyangga dan dermaga apung yang biasa digunakan untuk kegiatan naik turun kendaraan.

Saya larut dalam keheningan. Sambil sesekali mengarahkan kamera ke arah laut dan pelabuhan. Sungguh keindahan ini tak mampu saya rekam banyak dalam ingatan. Sehingga ada baiknya disimpan banyak-banyak dalam memori kamera.

Begitu pun saat siang menjelang. Labuan Bajo seperti  gadis yang sedang bersolek riang. Dengan paduan  biru langit dan laut  yang menawan, ia seakan memancarkan harapan bagi siapa saja yang datang meminang.

Labuan Bajo Foto: @LinaSasmita

Saya dan seorang teman baru saja turun dari kapal. Berjalan terseok-seok dengan memanggul keril seberat 18 kg di punggung. Di usia lebih dari sepertiga abad ini bukan lagi ingin pamer prestasi kekuatan otot. Namun lebih karena keterpaksaan daripada sengsara di perjalanan. Kepala celingak-celinguk mencari tukang ojek. Namun pengendara roda dua yang hilir mudik menuju dermaga tak satu pun menoleh. Nasib...akhirnya jalan kaki menuju sebuah rumah makan.

Semula saya merasa takut memasuki pelabuhan. Teringat pengalaman buruk saat berada di Tanjung Priuk Jakarta dan Kuala Tungkal Jambi. Namun beberapa puluh langkah ke depan saya dibuat heran. Pelabuhan Labuan Bajo tidak seperti yang orang-orang sangkakan. Hanya satu dua orang yang bertanya dan itu pun bertanya ala kadarnya. Cenderung sopan dan tidak memaksa. Mereka ramah dan tahu sopan santun. Ah ya, ini Indonesia bagian timur. Dimana mentari terbit lebih dulu, dimana senyuman pagi selalu bermula dari sini.

Namun keindahan pemandangan dari laut ternyata tak secantik dari apa yang dilihat di darat. Bangunan-bangunan di jalan utama mendekati pelabuhan terlihat tak beraturan, Jalan aspal pun bolong-bolong dengan trotoar yang rusak. Beberapa bangunan di sepanjang jalan tidak tertata dengan rapi. Namun demikian, semua orang tentu berharap agar kota kecil pelabuhan ini mampu berbenah, merapikan dan menata kotanya dengan baik dan benar.
Labuan Bajo. Foto: @LinaSasmita

Labuan bajo adalah sebuah gerbang menuju salah satu dari 7 keajaiban dunia yang baru versi New Seven Wonder of the World. Ia adalah Taman Nasional Komodo yang terbentang seluas 1.817 kilometer persegi. Terdiri dari 3 pulau utama yaitu Komodo, Rinca, dan Padar dengan 277 spesies binatang yang mendiaminya termasuk komodo.

Setelah menitipkan barang bawaan di warung sebrang pintu pelabuhan, kami langsung menuju ke pelabuhan tradisional yang melayani penyebrangan menuju ke Taman Nasional Komodo. Di sana  puluhan kapal menanti untuk segera digunakan. Setelah bertanya-tanya dan sepakat mengenai harga, Tak lama kemudian kami kembali mengambil keril yang dititip di warung.


Setelah makan siang kami bergegas menuju pelabuhan. Pemilik kapal membelikan air mineral dua boks untuk bekal dalam perjalanan nanti. Tak lupa kami pun membeli makan untuk nanti malam.

Satu keinginan yang telah lama perlahan mulai terwujud. Mengarungi perairan Taman Nasional Komodo. Alhamdulillah.


Selasa, 14 Juli 2015

Menginap Gratis di Ibis Budget Hotel Surabaya Airport

Koridor Hotel
Memasuki Bandara Juanda Surabaya, saya dibuat terkejut dengan telah hadirnya Ibis Budget Hotel yang terletak di lantai dua bandara.  Hotel kelas ekonomis - premium namun layanannya lengkap dan maksimal. Sungguh sebuah gebrakan yang patut diacungi jempol baik bagi PT. Angkasa Pura sebagai pemilik gedung maupun Pihak Accor sebagai pengelola. Ibis Budget Hotel ini telah dibuka semenjak tanggal 4 Juli 2013 dan menjadi hotel bandara pertama di Indonesia yang kemudian akan disusul lagi dengan hotel yang sama di bandara lainnya.  

Saat memasuki departure hall dan melintas di depan escalator yang menuju Ibis Budget Hotel, sempat terlintas dalam fikiran  seandainya bisa menginap  di hotel ini. Duh nyaman rasanya. Apalagi saya dan keluarga baru turun gunung. Badan masih lelah dan capek berharap dapat beristirahat beberapa hari lagi sebelum berkutat kembali dengan berbagai kesibukan di tempat kerja. Namun mana mungkin bisa, berdasarkan jadwal tak kurang dari 1 jam lagi kami sudah mengangkasa menuju Batam. Keinginan yang imposimble banget.

Sewaktu akan mengantri di check in counter, saya dan suami mendadak heran dengan pemandangan yang tidak biasa. Orang-orang berkerumun, berkeluh-kesah dan tampak gelisah. Karena penasaran kami langsung mendekat dan bertanya. Kaget bukan kepalang, ternyata penerbangan kami hari itu dibatalkan karena telah terjadi force majeure. Yakni keadaan yang terjadi di luar kemampuan manusia. Meletusnya Gunung Sangeang di utara Pulau Sumbawa adalah penyebabnya. Asap dan debu vulkanik yang keluar dari letusan gunung dikhawatirkan akan berakibat fatal pada mesin pesawat terbang sehingga pihak maskapai membatalkan beberapa penerbangan terutama yang melintas di Pulau Lombok dan Sumbawa.  Termasuk  salah satunya adalah pesawat citilink yang akan kami tumpangi.


Ah nyamannya Bobo-Bobo Cantik :D
Pihak  Citilink ternyata bertanggung jawab penuh atas keberadaan para penumpang yang terkatung-katung di bandara. Karena penerbangan kami dimundurkan keesokan harinya maka Citilink menyediakan penginapan gratis di Ibis Budget Hotel.  Masya Allah. Saya hanya bisa bengong. Laah tadi memang saya berbicara dalam hati sendiri ingin menginap di hotel ini. Surprise dan yang pasti senang banget bisa beristirahat sehari lagi. Begitu juga dengan Chila, anak saya.  Dia sangat menyukai acara nginap-nginap di hotel seperti ini. 


Oleh seorang pegawai Citilink  kami dihantar menuju Ibis Budget Hotel. Menaiki escalator yang panjang dan tinggi hingga tiba di pintu masuk lobby.  Setelah urusan check in  selesai kami dibantu security mendorong troli yang penuh dengan carrier segede gaban menuju kamar.

Oops...ada adegan di tempat tidur ya? Haha...

Uniknya karena letak hotel ini berada dalam kawasan bandara maka posisi kamar-kamarnya berderet memanjang mengikuti panjang bandara. Pintu kamar yang saling hadap-hadapan dan berderet di sepanjang koridor mengingatkan saya pada posisi kamar-kamar kelas I di kapal Pelni KM Sinabung dan KM Kelud. Di antara deretan kamar diselingi oleh ruang-ruang yang tersedia meja & kursi, televisi serta dispenser berikut gelas untuk minum.

Saat dibukakan pintu kamar kami langsung merasa betah dan sangat suka dengan desainnya yang mengusung konsep kepompong. Tempat tidurnya lebar, muat untuk kami bertiga. Pada dinding kamar tepatnya di bagian kepala terdapat lampu baca. Di meja telah tersedia welcome drink dan  Coffee maker.  AC dan televisi berfungsi dengan baik.  Begitupun air panas di toilet.



Mana Bantalnya Chil?

Yang lebih saya sukai dari keseluruhan kamar ini adalah paduan warna cat pada dindingnya yang berwarna hijau dan putih. Kedua warna ini dibatasi oleh border kayu berwarna coklat.  Pada dinding juga terdapat lukisan dengan gambar rumput hijau. Memberi kesan segar dan hidup.

Chila sangat menyukai keberadaannya di kamar hotel. Bahkan saat kami ajak keluar makan siang dia menolak keras.  Dia memilih bobo-bobo cantik sambil menonton televisi :D Alhasil makan siang pun terlambat beberapa jam.

Sepanjang malam kami tidur dengan lelap.  Chila, saking lama dan pulasnya tidur tak terasa sampai ngompol. Ya ampuun padahal sudah lama nggak pernah ngompol-ngompol lagi. Hihi. Karena malu takut ketahuan ayahnya, Chila hanya membisiki saya pelan sambil minta maaf :D


Bersama Peri Tidur
Hal lainnya yang menarik adalah di sepanjang koridor di penuhi dengan gambar-gambar yang keren. Saya dan Chila pun tak ketinggalan untuk nampang ikutan keren. Ada kakak-kakak bersayap mirip peri tapi bawa-bawa bantal. Ah ya mungkin itu peri tidur. Chila pun pengen ikut pegangin bantalnya.


Baca juga tentang Review Hotel Santika Tangerang.
  Setelah menuntaskan sarapan di restoran dekat lobby hotel, kami pun segera mengepak barang bawaan dan menuju ruang check in. Kali ini pesawat datang tepat waktu :D Alhamdulillah.



Tangga menuju Ibis Budget Hotel.  Foto dari thepresidentpost.com

Catatan: Penggunaan kata dalam bahasa Ingris tidak saya italic karena jika digunakan mendadak tidak muncul dan tidak dapat dibaca.









Senin, 13 Juli 2015

Berburu Takjilan ke Tanjung Uma, Kampung Nelayan tertua di Pulau Batam

Tanjung Uma
Pemandangan dari Bukit Tanjung Uma
Jalan kecil yang menjadi urat nadi kehidupan kampung nelayan tertua di Batam itu tampak menanjak dan merapayi sebuah bukit. Lalu lintas terlihat ramai oleh hilir mudik kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat. Saya sudah menduga, bahwa mereka adalah orang-orang yang berburu makanan buka puasa di sepanjang jalan Tanjung Uma.  

Dari ketinggian Bukit Tanjung Uma itulah, nun di bawah sana tampak perairan Batam yang tak kalah sibuknya dengan jalan kecil beraspal tadi. Kapal-kapal besar  seperti tug boat, tongkang, dan sejenisnya tampak seperti nokhta-nokhta yang dicipratkan ke dalam kanvas lukisan. Bertebaran. Sementara itu, di langit Tanjung Uma, matahari masih sepenggalan turun,  sinarnya mulai melembut tak segarang siang tadi.


Pasar Tanjung Uma Batam
Kesibukan di Tanjung Uma
Jalan kecil itu kemudian menurun hingga masuk ke sebuah lapangan sepakbola lalu bersambung kembali dengan jalan aspal. Beberapa meter kemudian tampak pemandangan khas yang selalu dijumpai di tempat ini saat ramadhan tiba. Sepanjang jalan dari titik tersebut hingga ujung aspal berbagai jajanan buka puasa, lauk -pauk dan berbagai makanan khas lainnya dijajakan dengan penuh antusias oleh pedagang.

Pembeli tak kalah antusiasnya. Beriringan, berjalan pelan sambil memperhatikan apa saja yang bisa dibeli. Mereka datang jauh-jauh dari penjuru Batam lainnya hanya untuk larut dalam keseruan berburu menu takjilan seperti ini. Seperti saya dan keluarga saat itu. Rela datang menempuh hampir satu jam perjalanan untuk membeli makanan buka puasa dan kue-kue tradisional Melayu yang banyak dijajakan.


Ikan Bakar
Ikannya besar-besar

Deretan pedagang musiman di pasar Tanjung Uma ini diawali oleh para pedagang ikan bakar. Dengan menggelar meja-meja berisi penuh ikan bakar yang sudah matang  dan kotak ikan yang masih mentah untuk dipilih.  Asap dari pembakaran menyebar menguarkan aroma ikan bercampur bumbu rempah yang melimpah. Menarik siapa saja yang melewatinya. Tak heran pedagang ikan bakarlah yang paling dikerumuni pembeli. 


Ikan Bakar
Ikan bakar digelar

Ikan-ikan berukuran sebesar dua telapak tangan saya berjejer rapi di meja sebelum berpindah tangan ke pembeli. Harganya variatif mulai dari 30 ribu hingga 60 ribu rupiah per ekornya. Tak heran pedagang panen rejeki saat seperti ini. 

Sotong besar seukuran lengan anak-anak pun berjejer dan menumpuk ditusuk seperti sate. Berbagai ikan seperti ikan pari, bawal, bonang, dan kerapu menjadi pemandangan yang berulang-ulang yang ditawarkan oleh para pedagang ikan bakar.


Sate Sotong Tanjung Uma Batam
Sotong mentah

Setelah ikan bakar, deretan pedagang kue-kue tradisional memenuhi sisi kiri dan kanan jalan. Berbagai kue basah seperti dadar gulung, risoles, bakwan, berbagai jenis bika, donat, roti-roti dan lainnya.

Baca juga tulisan tentang mencicipi kue gulung di pulau Seraya Batam. 

Yang menarik perhatian adalah banyaknya kue-kue tradisional melayu seperti kue putu piring, kole kacang, dan tepung gomak. Karena asing di pendengaran, saya berkali-kali mencoba mengulang nama-nama kue tadi. Maklum suka lupa. Agar tidak lupa saya pun meminta Chila dan suami untuk menghafalnya. haha... benar saja saat pulang ke rumah saja sudah lupa. Untung di jalan sempat menuliskannya pada memo tablet. 


Kue Tepung Gomak
Kue tepung gomak

Selain kue-kue tradisonal Melayu ada pula kue khas Banjar seperti kue keraban, sari muka, dan kue selat.  Semua kue dijual per potong seharga 1000 rupiah. Saya yang memang penasaran dengan rasa kue-kue tradisional itu kemudian membeli beberapa potong tiap jenisnya.


Berbagai penganan yang dijual

Deretan kue-kue dan jajanan terus memanjang hingga ke ujung jalan pasar Tanjung Uma. Chila yang sudah capek terlihat sedikit ngambek. Saya dan suami akhirnya memutuskan untuk mengakhiri perburuan ini. Saya pun sudah repot menenteng belanjaan makanan. Semoga dapat dihabiskan . Nggak sadar kalau semua kue-kue ini takkan habis sekali makan  saat buka puasa nanti.  Namanya laper  mata ya begini. Semua ingin dibeli


Otak-Otak
Otak-otak
Sebelum pulang kami membeli laksa goreng seharga 10 ribu rupiah per porsi. Dengan taburan daun seledri penampakan mie yang berbalut bumbu dan cabe  merah itu terlihat menggiurkan. Apalagi bagi yang berpuasa seperti kami. Tak salah lagi setibanya di rumah, saat dimakan laksa goreng ini  rasanya memang top.

Puasa tinggal beberapa hari lagi. Jadi tak ada salahnya selain berburu baju baru, sekalian menyempatkan berburu makanan bukaan puasa di Tanjung Uma. Kemeriahan yang hanya terjadi setahun sekali di tempat ini.


Sirup
Minuman sirup untuk buka puasa





Jumat, 10 Juli 2015

Restoran Sea Food Aneka Selera, Jembatan IV Barelang, Batam

Restoran Sea Food Aneka Selera
Pertama kali makan di restoran sea food ini saat pembubaran panitia Family Day di perusahaan tempat saya bekerja. Semula restoran ini belum dikasih nama. Sekarang sudah terpampang jelas di pintu masuk bertuliskan Restaurant Aneka Selera. Syukurlah jadi semua orang yang pernah atau yang akan berkunjung ke tempat ini mudah mengingatnya. Setidaknya dapat memberi referensi bagi yang belum tahu sama sekali  hanya dengan menyebutkan namanya saja. Biasanya kami menyebut tempat ini sebatas Kelong Sea Food Jembatan IV.  Karena letaknya persis setelah Jembatan IV Barelang.

Saya juga menulis tentang Restoran Sea Food Golden Prawn Bengkong Batam.

Restoran Aneka Selera memang punya daya tarik tersendiri bagi pengunjung untuk datang dan datang lagi. Saya sendiri entah sudah berapa kali makan di sini. Alhamdulillah seringnya makan gratis. Entah itu acara perpisahan, ditraktir teman, suami, atau bos yang lagi ulang tahun. Uniknya meskipun banyak berjejer restoran lain di kanan kirinya, Restoran Aneka Selera tetap tak tersaingi. Selalu ramai oleh pengunjung.




Mengenai masakan, jangan tanya, pasti bikin air liur mengucur deras. Aneka sea food dengan bahan yang fresh tinggal pilih sendiri di lokasi. Berbagai jenis ikan, ketam, udang, kapis, lobster,  sotong, gonggong dan sejenisnya ditempatkan di keramba tepat bersampingan dengan ruang makan. Di dalam keramba telah terpasang jaring yang mencegah makhluk-makhluk yang lezat bila dimasak ini lepas ke laut. Selain itu pegawai restoran yang akan mengambil pilihan pembeli tinggal menarik jaring ke atas dan menyeroknya dengan serokan ikan. Dengan adanya keramba-keramba ini pengunjung bisa memilih sendiri menu apa yang akan dihidangkan saat makan nanti. 


Restoran Sea Food Aneka Selera Barelang

Untuk harga, standar rata-rata. Beberapa teman yang membandingkan dengan restoran sea food lainnya menyatakan bahwa di sini harganya lumayan murah. Saya sendiri kurang  tahu persis,  kan seringnya dibayarin terus kok :D

Kembali ke soal harga, sebenarnya tergantung apa yang dipesan. Kalau ikan, relatif murah tapi kalau sudah pesan udang atau lobster yang harga dasarnya saja sudah mahal ya ujung-ujungnya setelah dimasak pasti mahal juga.

Pemandangan di sekitar restoran selalu membuat kami betah. Saat senja, matahari jatuh tepat di sebuah pulau di sebrang restoran. Biasnya membayang di permukaan laut. Menambah tenang suasana makan. Terlebih makanan yang dihidangkan sesuai selera. Menatapnya saja hampir lupa daratan. Apalagi rumah makan ini memang mengambang di lautan. Jelas dong kami lupa daratan. Hehe.

Sewaktu saya dan beberapa rekan kerja ditraktir buka puasa bersama oleh bos expatriate dari Malaysia dan Jepang, semua masakan yang terlihat di daftar menu hampir semuanya dipesan. Hohoho jelas dong pakai jurus aji mumpung. Kalau tidak habis di sana pun tetap masih bisa kami bungkus, bawa pulang untuk makan sahur.

Saat dihidangkan, masakan yang tersaji di meja seperti tumpah ruah saking banyaknya. Ada rebus kapis, rebus gonggong, sotong goreng tepung, udang goreng crispy, ketam, ikan asam pedas, dan lainnya. Sayang, lagi-lagi saya lupa foto saat masakan sempurna dihidangkan semua di atas meja. Haha. Jelas bawaannya ingin segera menyikat makanan yang ada.

Dari semua hidangan,selain gonggong saya paling suka udang goreng crispy. Nggak tahu gimana cara masaknya, kok bisa kriuk kering tapi pas dimakan dagingnya tetap empuk. Basah di dalam, kering di luar. Istilahnya "health inside fresh outside." wkwkwk...padanan yang ngak nyambung. Memangnya iklan vitamin C.

Nah kalau sudah suka  pengennya bawa pulang dan bisa menyimpannya dalam beberapa hari. Dijadikan  makanan siap saji yang bisa dimakan kapan pun selagi pengen. Nggak ribet kudu masak-masak dulu ke dapur. Tinggal buka bungkusnya langsung dimakan. Nggak harus datang dulu ke restoran sea food atau warung makan, atau belanja ke pasar.

Pentingnya lagi menyediakan makanan siap saji seperti ini manakala sahur tiba. Kadang bangun tidur bawaannya malas mau masak. Apalagi kalau tidurnya kemalaman bisa bablas waktu sahurnya lewat. Begitu pun jika bangun di detik-detik injury time, mendekati waktu imsyak.Kita bisa langsung makan tanpa repot-repot memasaknya terlebih dahulu. Sahurnya selamat, puasanya pun tamat :D

Ohya, bagi siapa pun yang suka makanan hidangan laut, atau yang hendak jalan-jalan ke Barelang, ada baiknya mampir dan menyempurnakan jalan-jalannya dengan makan sea food di restoran ini. Dijamin pengen balik lagi dan lagi :D

Baca juga tentang Restoran Sea Food Kampung Tua Tanjung Piayu Batam

Note:
Kapis: sejenis kerang berbentuk kipas
Gonggong: Sejenis siput, hanya hidup di perairan kepulauan Riau
Sotong: hewan yang mirip sekali dengan cumi-cumi. Bedanya sotong berbentuk pipih seperti perisai sedangkan cumi-cumi berbentuk silinder.
Ketam: sejenis kepiting yang hidup di hutan bakau di tepi-tepi laut.

Kamis, 09 Juli 2015

Smartfren Gelar Acara Launching Layanan 4G LTE di Kota Batam

Crew Smartfren dan Blogger Batam
Senin, 06 Juli 2015 yang lalu, atas rekomendasi dua  Blogger Batam yang kece Iqbal Rois dan Danan Wahyu, saya diundang operator penyedia jasa telekomunikasi Smartfren untuk menghadiri acara Press Confrence dalam rangka peluncuran layanan 4G LTE di Swiss-belHotel Harbour Bay Batam.

Pada undangan yang saya terima via email, Christian dari Smartfren menyebutkan bahwa acara akan dimulai pada pukul 13.00 WIB yang selanjutnya akan disambung dengan kegiatan drive test dan buka bareng bersama jajaran petinggi Smartfren. Asyiiik.

Karena saya suka on time dan tidak suka dengan kebiasaan jam karetnya orang Indonesia, *kibas-kibasin jilbab, lentik-lentikin bulu mata. Saya sengaja berangkat awal. Jam 11.30 berangkat dari rumah dengan menaiki angkutan umum mini bus jurusan Dapur 12 – Pasar Jodoh. Apalagi perjalanan dari rumah di Batu Aji menuju Harbour Bay  lumayan jauh. Bisa sampai 1 jam-an dengan kecepatan biasa tanpa macet.  


Apa itu 4G LTE?

Sepanjang perjalanan menuju Swiss-belHotel dalam hati bertanya-tanya terus apa sih 4G LTE itu? Apa bedanya dengan 1G, 2G atau 3G? Duh yang 1G hingga 3G saja belum paham betul, kok udah muncul aja 4G. Ditambah embel-embel LTE lagi di belakangnya. Apa pula itu bah?

Supaya tulisan ini ada ruhnya, *nyawa kali pakai ruh, dan agar saya sendiri pun paham apa yang ditulis, maka dengan senang hati mulailah googling istilah-istilah di atas tadi. Benar deh, setelah baca-baca referensi dari mana-mana itu seperti ada lampu terang merk osram menyala di kepala. *Ting.

Istilah G pada 4G merujuk pada kata “Generasi.” Generasi apa? Ya tentu saja generasi teknologi di tingkat layanan data dan komunikasi nirkabel yang diterapkan pada telepon selular. Dari urutannya maka kita bisa simpulkan bahwa 1G tentu lebih rendah tingkatannya dibanding 2G. Teknologi 2G pun lebih rendah tingkatannya jika dibandingkan dengan teknologi 3G. Begitu seterusnya. Tingkatan di sini bisa diterjemahkan dengan speed atau kecepatan akses data.

Simpelnya, kalau di silsilah keluarga menurut jaman, ibaratnya 1G itu kakek kita, 2G bapak kita, 3G generasi kita-kita yang imut serta lucu ini, sedangkan 4G generasi anak-anak kita :D haha. Iya kali begitu. Asal deh.


Secara speed, generasi pertama atau 1G merupakan sistem analog dengan kecepatan rendah. Generasi kedua atau 2G, berkecepatan rendah hingga menengah seperti GSM dan CDMA. Diantara 2G kemudian muncul 2.5G dimana layanannya berbasis data seperti GPRS (General Packet Radio Service) dan EDGE (Enhance Data rate for GSM Evolution). Nah yang ini mulai-mulai saya kenalin. Soalnya tulisan GPRS dan  EDGE sering muncul di layar smart phone saya.

Generasi ketiga atau 3G, teknologinya telah mampu mentransfer data dengan kecepatan tinggi. Contoh seperti teknologi yang kita gunakan sekarang ini pada smart phone dan tablet. Sedangkan 4G adalah generasi dengan teknologinya lebih canggih dan lebih maju dibanding 3G dimana kecepatan transfer datanya bisa mencapai 300 mbps untuk download dan 75 kbps untuk kecepatan upload. Woow…

Woow...19 Giga per bulan. 

Lantas apa itu LTE?  Menurut Om Wiki nama lengkapnya teknologi ini disebut 3GPP Long Term Evolution disingkat LTE. Ini adalah sebuah standar komunikasi akses data nirkabel tingkat tinggi yang berbasis pada jaringan GSM/EDGE dan UMT/HSPA. Jaringan antar mukanya tidak cocok dengan jaringan 2G atau 3G, sehingga harus dioperasikan melalui spektrum yang terpisah.


Smartfen dan 4G LTE

Pemerintah, melalui menteri komunikasi dan informatika (menkominfo) telah mencanangkan berbagai program agar layanan broadband (transmisi koneksi internet dengan kecepatan tinggi) ini dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Yakni dengan kecepatan akses data sehingga bisa dirasakan secara real time.

Penyerahan waqaf seribu Alqur'an dari Smartfren
Demi mendukung program tersebut maka Smartfren bersama menkominfo mengadakan launching bersama layanan 4G LTE secara serentak di lima kota yakni Makassar, Balikpapan, Lombok, Banjarmasin dan Batam. Launching ini juga melibatkan 5 operator seluler lainnya di Indonesia. Adapun  tema yang diusung adalah “Percepatan Implementasi Mobile Broadband Menuju Generasi Digital Indonesia.”

Bersamaan dengan ini, Smartfren juga meluncurkan lima smartphone dan dua perangkat MiFi (Mobile WiFi) Andromax 4G LTE yang menghadirkan performa powerful, padat fitur multimedia dan value terbaik dikelasnya; Andromax R, Andromax Q, Andromax Qi, Andromax Ec, dan Andromax Es, kelima device tersebut adalah smartphone Andromax 4G LTE pertama di pasar Indonesia. Dua device MiFi 4G LTE, Andromax M2P dan Andromax M2Y. Dan yang lebih membanggakan adalah salah satu komponen pendukung Andromax ini dibuat di salah satu persahaan manufaktur di Batam, yaitu PT. Sat Nusa.


Launching Andromax di Swiss-belHotel

Karena waktu dzuhur sudah tiba, setelah mengisi buku tamu saya langsung menuju mesjid yang terletak di dalam Harbour Bay Mal. Posisi mesjidnya tepat berhadapan dengan pintu masuk ke Swiss-belHotel dari arah mal. Saat kembali, beberapa meja telah terisi, namun belum tampak seorang pun blogger di sana. Apa saya yang kurang mengenali mereka ya?

Andromax Qi 
Celingak-celinguk kayak ayam kehilangan induk, ternyata di meja belakang sudah duduk manis para Blogger Batam yang ganteng-ganteng  *uhuk..uhukk… Lukman dan Iqbal Rois. Mereka duduk semeja bersampingan dengan Christian dan Fonda dari Smartfren. Tak lama menyusul kemudian Mas Jogie Suaduon. Duh namanya unik banget. Coba tebak asalnya dari mana? :D 

"Cuma berempat saja? Mana yang lain?" Entah Fonda atau Christian yang bertanya. Saya pun demikian. Agak kecewa sih masa blogger sebatam cuma 4 orang. Tetiba teringat Dian dan Danan yang katanya udah pulang kembali ke Batam sehabis jalan-jalan dari Padang. Ah…biasanya mereka ini  paling semangat kalau ikut acara beginian.

Acara telah dimulai. Dipandu oleh MC yang penuh senyum dan semangat. Yang secara berurutan memanggil beberapa pejabat pemerintahan di Batam, pihak penyelenggara, dan para petinggi smartfren.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan vidio confrence dengan menkominfo. Beberapa orang perwakilan dari masyarakat dan pejabat di Makasar, Mataram, Banjarmasin, Balikpapan dan juga Batam bergantian berbicara. Hebatnya baik suara maupun gambar terdengar jernih dan terlihat bersih.

Nah, inilah intinya sebuah layanan 4G. Dengan kecepatan tinggi bisa menghadirkan akses data tanpa buffering. Buffering itu bukan kue kering loh ya. Buffering itu semacam jeda sesaat sebelum dimulai. Kalau kita nonton youtube suka melihat lingkaran bulat muter-muter sampai bikin kepala pusing saking lamanya, nah seperti itulah buffering. Untuk layanan 4G LTE buffering ini justru tidak ada.

Sambil menyimak penjelasan para petinggi Smartfren, rejeki yang diharap-harapkan datang. Yeay…kami dibagi Andromax satu-satu. Yuhuuu…rasanya pengen koprol jumpalitan. Baru deh berasa nikmatnya jadi blogger itu begini. *norak-norak bergembira, bergembira semua :D

Di pertengahan acara, dua blogger lainnya Choty dan Rina menyusul datang. Sebelumnya mereka ragu apa masih diperbolehkan datang atau tidak. Tapi setelah saya tanyakan pada Christian katanya nggak masalah, datang saja. Wajar sih pada telat soalnya acara dilaksanakan pas hari kerja. Choty dan Rina malah kabur dari kerjaan demi menghadiri acara ini. Hihi…dan tentu demi Andromax gratis dong. (Hussss….jangan bilang-bilang ih).
 
Di dalam bis untuk drive test sinyal
Sekitar jam 5 sore para blogger, awak media serta  crew Smartfren  naik ke dalam bis untuk drive test yaitu mencoba kondisi real sinyal di sekitar daerah Jodoh - Nagoya - Bengkong. Sebelum bis berangkat, seluruh penumpang dibagi Andromax satu-satu. Saking baiknya crew Smartfren, kami yang sudah kebagian, hampir dibagi lagi. Untung pada jujur, segera bilang sudah dikasih sama Fonda di hotel tadi. Seru juga sih lihat Andromax dibagi-bagi kayak ngebagiiin takjilan gitu :D Smartfren luar biasa deh.

Acara kemudian ditutup dengan buka puasa bersama di Restoran Sea Food Golden Prawn di Bengkong Laut. Alhamdulillah saya senang perut pun kenyang. Terima kasih Smartfren. Sering-sering ngadain acara begini. Dengan senang hati kami akan hadir kembali. 

Tabik.


Bahan Referensi:
3.   Media release smartfren Percepat Implementasi Layanan 4G LTE di Pulau Batam
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...