Sunday, August 30, 2015

Asa Keliling Nusantara Bermula dari Gili Lawa


Perairan Pulau Gili Lawa Darat. Foto: Dokumen Pribadi

Pagi yang hangat dengan limpahan cahaya matahari di kota pelabuhan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Saya berempat dengan teman dan awak kapal mulai melaju menuju sebuah pulau yang berada dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Pulau yang dalam beberapa tahun terakhir ini teramat sangat ingin saya kunjungi. Pulau Gili Lawa Darat. Pulau yang perlahan muncul ke permukaan karena keelokan dan segala pesona keindahannya. Indah dengan gradasi air lautnya yang biru tua menenangkan dan biru turqoise yang kaya akan terumbu karang.

Friday, August 28, 2015

Bocah Gimbal Menggemaskan yang Hobby Merokok

Area Kemping dengan Latar Gunung Pakuwaja
17 Agustus 2015 - Saat sedang menunggu ojek yang akan membawa kami keliling Dieng, tiba-tiba melintas seorang bocah berambut gimbal dan  berpipi gembil kemerah-merahan. Suami saya langsung mengingatkan,  “Bun, foto Bun, anak yang lari barusan rambutnya gimbal loh.” Ah iya ya foto. Saya pun langsung mengikuti bocah itu dari belakang. 


Dengan riang gembira si bocah gimbal tadi berlarian, berkejaran dengan temannya. Tawanya lepas, khas anak-anak. Ia lantas mendekati seorang bapak-bapak yang sedang merapikan tenda. Bermain petak umpet dengan bersembunyi di balik tenda yang sedang dirobohkan.

Semakin mendekat, semakin jelas siapa bapak itu. Ternyata dia bapak ojek yang akan mengantarkan kami keliling Dieng, yang tadi pamit sebentar karena hendak merapikan tenda yang disewakannya kepada para pengunjung.

“Loh, ini anak bapak ya?” Saya bertanya pada si Bapak sambil menunjuk bocah gimbal itu.

“Iya Bu.” Jawabnya.

“Namanya siapa Pak?” Si Bapak langsung menyebutkan nama lengkap anaknya. Sekejap saja saya sudah lupa siapa nama bocah itu, termasuk nama bapaknya juga. Haha, duuh. Memanglah, semakin hari daya ingat semakin memudar dengan cepat. Faktor U sepertinya.

“Panggilannya siapa Dek?” Saya berjongkok menghadap bocah gimbal.

“Aris,’ Jawabnya malu-malu. Pipinya yang tembem mengembang mengempis, menggemaskan.


Nggak mau difoto

Cilukba..


“Tante foto ya?” Saya lantas membidikkan kamera ke arahnya. Ceklek, ceklek. Yang tampak di layar hanya rambut gimbalnya saja. Aris mendadak membuang muka saat difoto.

“Nggak mau, nggak mau.” Katanya sambil sembunyi masuk ke dalam tenda. Namun ternyata ia penasaran kepada saya, ia mengintip dari balik pintu tenda. Saya lantas mengajaknya mengobrol. Baiknya, Aris mulai berani dan tidak malu seperti awal-awal tadi. Sekarang mau diajak berkomunikasi. Mungkin karena terbiasa banyak pendatang ke kampungnya, bahasa Indonesianya pun sangat lancar.

Membantu melipat tenda

Selesai merapikan tenda, kami segera beranjak ke parkiran depan mushola. Suami saya dan seorang pengojek lainnya sudah menunggu di sana. Tak menunggu lama dua sepeda motor yang kami tumpangi telah melaju menyusuri jalanan Dieng yang tampak ramai. Bersyukur Aris diajak serta oleh bapaknya. Jadi kami bisa mendapatkan foto dia sebanyak-banyaknya. 

Sepanjang perjalanan  Bapaknya Aris bercerita, kalau ia harus menuruti semua kemauan anaknya. Apa pun itu. Kalau tidak, akan ada saja hal-hal aneh yang tidak dikehendaki menimpa Aris. Seperti mendadak sakit dan lainnya. Keinginan-keinginan Aris itu termasuk salah satunya keinginan untuk merokok.

“Dalam satu jam saja bisa habis satu bungkus rokok Bu!” Kata Bapaknya Aris. Saya mendadak bengong. Ya ampuuun. 

"Kalau dilarang Pak?" 

"Ya nggak bisa dilarang, menuruti kemauan yang mengikutinya."

"Yang mengikuti?" saya mengernyitkan dahi.

Menurut legenda masyarakat Dieng, ada dua versi tentang asal muasal rambut gimbal ini. Yang pertama karena sumpah yang diucapkan Pangeran Kidang Garungan yang ditimbun dalam sumur oleh pengawal-pengawal Putri Sinta Dewi  yang menyumpahi bahwa keturunan Sinta Dewi akan berambut gimbal. 


Nggak mau difoto lagi :(


Versi kedua menyebutkan bahwa pada jaman dahulu hiduplah seorang bernama Kyai Kolodete yang berambut gimbal yang bersumpah bahwa tidak akan mencukur rambutnya sebelum wilayahnya, Dataran Tinggi Dieng, makmur. Jika tidak, ia akan menitiskan ruhnya kepada anak-anak di wilayah Dieng. 

Hingga kini, secara acak kerap ditemui anak berambut gimbal di wilayah Dieng. 

Thursday, August 27, 2015

Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Berkumandang di Puncak Gunung Sikunir


Pada kondisi tertentu, terkadang rasa nasionalisme ke-Indonesia-an dalam diri masing-masing kerap hadir tanpa kita duga sebelumnya. Getar yang emosional tak pelak mengundang cucuran air mata yang tanpa disengaja meng-anak sungai. Seperti pagi itu, saat semua mata memandang ke arah timur, menanti dengan sabar detik-detik munculnya sang surya dari ufuk.

Ufuk Timur

Detik-Detik Kemunculannya, Diiringi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya

Dan saat bulatannya perlahan merayapi horizon, meniti pasti lazuardi, tatkala itulah tanpa diduga, dari kerumunan pendaki di belakang saya, lagu kebangsaan Indonesia Raya disuarakan dengan lantang. Awalnya hanya beberapa orang saja, perlahan yang lain mengikuti, menciptakan suasana syahdu mengharu biru. Bibir saya hanya mampu berkomat-kamit. Tak ada suara yang keluar, hanya mata mendadak berkaca-kaca dan siap menumpahkan air mata. 

Kibaran bendera merah putih yang dipegang oleh para pendaki terayun-ayun ke kiri dan ke kanan mengikuti ritme lagu. Suara berisik sejenak terhenti, seakan semua orang tersihir dengan mantra-mantra. Saya lantas menyeka air mata. Pekikan kemerdekaan dan teriakan Dirgahayu Indonesia menggema. Entahlah, saat itu sungguh menjadi momen yang emosional bagi saya. Terlebih saya hanya seorang diri, tak satu pun pendaki yang saya kenal.

Dari semenjak kedatangan kami ke kaki Gunung Sikunir kemarin sore, kami sudah sepakat bahwa suami dan anak saya tidak akan mendaki Sikunir. Namun mereka tetap mengizinkan saya untuk naik bersama ratusan atau mungkin ribuan orang lainnya sementara mereka berdua tetap menunggu di tenda di tepi Danau Cebong.

Harus ada foto sendiri dong biar nggak hoax :D

Subuh itu, jam 4 lewat 3 menit dengan mengenakan jaket yang hangat, saya keluar dari tenda. Udara dingin mampu terhalau sehingga tak begitu mengganggu. Setelah membeli sarung tangan dan masker di warung dekat parkiran, saya sarapan nasi goreng di warung sebelahnya. Setengah jam kemudian baru memulai pendakian dengan berjalan beriringan bersama para pendaki lainnya. Tanpa dikomandoi, semua sepakat ingin menyaksikan sunrise yang pagi itu muncul bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 2015, yang merupakan puncak perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-70.

Antrian saat turun

Jalur yang menanjak menuju Sikunir itu teramat sesak. Sesak oleh pendaki pun sesak oleh debu yang mengepul. Meski subuh hari, tetap saja debu-debu itu beterbangan saat diinjak.  “20 menit saja sudah sampai.” Kata si ibu penjual nasi goreng tadi saat saya tanya berapa lama jarak tempuh menuju puncak Sikunir.

Dari kemarin-kemarin saya agak terkejut, masa sih naik gunung cuma 20 menit. Palingan ini mah bukit. Iya betul bukit jika dilihat dari Desa Sembungan.  Namun jika mengetahui ketinggiannya yang mencapai 2.350 mdpl tentu tak diragukan lagi bahwa bukit ini adalah sebuah gunung.  Secara teori definisi gunung adalah gundukan tanah di atas ketinggian 500 mdpl. Ah sudahlah.

Baru beberapa menit mendaki, eh ya ampuuun macet. Benar-benar macet. Iring-iringan pendaki begitu rapat hampir tak berjarak. Saya menghitung langkah kira-kira 1 langkah 1 detik. Dan setiap satu langkah langsung terisi oleh orang di belakang. Berarti hitung-hitung jika waktu pendakian 20 menit (1.200 detik) maka bisa dipastikan saat itu pada waktu bersamaan yang mendaki gunung Sikunir sekurang-kurangnya adalah 1200 orang. Itu pun jika dihitung satu baris, sementara saat itu kami berjalan berjajar berdua kadang ada juga yang bertiga.

Sesuai perkiraan si ibu penjual nasi goreng, saya tiba di puncak tepat 20 menit meski dalam keadaan antri dan macet. Ini berarti pendakian ke puncak Sikunir bisa ditempuh 10 menit saja jika kondisi jalur kosong melompong.

Dan begitulah setelah bertayamum dan menunaikan sholat subuh di antara kerumunan pendaki, saat detik-detik kemunculan sang surya dari ufuk timur, lagu kebangsaan itu diperdengarkan. Penuh getar dan emosional.


Dirgahayu Indonesia!



Wednesday, August 26, 2015

[Review] Hotel Gallery Prawirotaman Yogyakarta


Bangunan megah lima lantai berwarna putih itu tampak mencolok jika dibandingkan dengan bangunan lainnya di sekitar Jalan Prawirotaman II Yogyakarta. Warna putihnya tampak segar, mewah dan elegan.

Pintu kaca dengan tiang berupa gapura marmer segera dibukakan oleh seorang bellboy yang dengan ramah menyapa dan mengucapkan selamat datang kepada kami sekeluarga. Nuansa peringatan kemerdekaan tampak dari hiasan merah putih berbentuk kipas atau setengah lingkaran di atas pintu masuk serta bagian resepsionis.

Saat memasuki lobby hotel yang luas berlantai & berdinding marmer, pandangan mata saya langsung tertuju pada dekorasi ruangannya yang apik dan menarik. Meja marmer dengan hiasan bunga anggrek putih yang diletakkan di tengah-tengah ruangan seperti menjadi magnet bagi saya untuk segera mendekat dan mengagumi keindahannya.


Lobby yang luas

Sofa yang diletakkan di sudut lobby

Komputer tersedia di lobby 

Dua set sofa yang terletak di sudut-sudut lobby membuat nyaman dan betah berlama-lama berada di ruangan tersebut. Pada dinding sebelah kanan terdapat meja berwarna putih yang dilengkapi sebuah komputer yang lagi-lagi berwarna putih untuk digunakan secara bebas oleh para tamu hotel. 

Saat mendekati meja, di kanan kiri komputer terpajang beberapa sertifikat dan penghargaan, diantaranya hotel Gallery Prawirotaman pernah meraih Award Excellent pada tahun 2014 dengan angka 8.7/10 dari Booking.com. Pemenang Certificate of Excellent  tahun 2015 ini dari tripadvisor dan mendapatkan skor 4.4 dari 5 dengan kategori Excellent untuk Guest Review Score dari Hotels.com. Woow, great.

Untuk ukuran hotel yang baru setahun beroperasi (dibuka pada Maret 2014) hotel Gallery Prawirotaman sungguh luar biasa karena telah banyak mengukir prestasi. Menjadi hotel terbaik ke-7 dari 125 hotel dan nomor 1 terbaik dari total keseluruhan hotel bintang 4 yang ada di Yogyakarta. 

Dengan jumlah kamar sebanyak 94 unit dengan tipe deluxe dan superior seluas 28 meter persegi, dan suite seluas 70 meter persegi, tamu-tamu akan dimanjakan dengan berbagai kenyamanan layaknya hotel bintang 4 namun dengan layanan lyaknya hotel bintang 5.


Dua orang resepsionis dengan ramah menyapa saya. Salah satunya dengan sigap langsung memproses reservasi yang sudah saya buat 4 hari sebelumnya. Tak memakan waktu lama saya langsung diserahi sebuah kartu sebagai kunci kamar hotel bernomor 109, secarik kertas bertuliskan password wifi, dan voucher untuk welcome drink.  Kamar kami terletak di lantai 1 tepat di sisi kanan lobby.

Seperti biasa, anak saya Chila selalu antusias dan senang jika menginap di hotel. Ia langsung meminta kartu tersebut dan ingin segera menggunakannya. Sama halnya saat menginap di Singapura. Chila bahkan keluar masuk ruangan, lobby, dan tangga hanya untuk mengetes berfungsi tidaknya kartu seperti itu hehe. Yup, hal-hal baru yang bagi anak-anak selalu tampak seru.


Memasuki kamar hotel, Chila melonjak gembira saat melihat tempat tidurnya ada dua. Dia segera menandai tempat tidur yang dekat dengan jendela dan langsung melompat ke atasnya. Mengambil remote televisi lalu memilih salurannya sendiri. Apalagi kalau bukan Disney Junior. Saat itu sedang diputar film Sophia The First. Walah gawat kalau sudah begini bisa tahan berjam-jam di depan televisi. Betul saja saat disuruh mandi Chila tetap tak beranjak dari kasurnya.

Hal-hal kecil yang membuat saya tambah menyukai hotel ini adalah pihak hotel menyediakan sajadah dan setrika berikut papan setrikaannya. Tentu saya pun tak melewatkan layanan ini. Saya langsung menelpon bagian room service minta dihantarkan sajadah dan pada malam berikutnya minta dibawakan setrikaan karena pakaian sudah lecek-lecek.

Karena malam sebelum keberangkatan ke Yogjakarta saya tidur terlalu larut, jadi setelah sholat dzuhur tanpa bisa dibendung lagi langsung tertidur pulas. Ditambah empuk dan nyamannya kasur membuat saya blasss... tertidur hingga setengah enam sore. Bahkan saat Chila dan ayahnya pergi keluar untuk berenang dan membawa serta kartu kunci kamar, saya tetap tertidur pulas. Dasar kebluk :D

Kamar mandi dilengkapi shower dan wastafel


Sore setelah bangun, saatnya mandi. Yuhuuu. Badan yang capek karena perjalanan jauh langsung terasa segar saat terciprat air hangat dari shower utama. Jika tidak suka menggunakan shower ini karena terlalu besar dan takut boros air, ada juga shower kecil yang bisa dipegang dan disetting naik turun. Kamar mandi ini terpisah ruangannya dengan closet duduk. Terhalang oleh pintu kaca dengan pegangan besi yang dapat digunakan untuk meletakkan handuk.

Di samping wastafel toilet, telah tersedia dua botol air minum dengan dua buah gelas. Toiletries tersusun rapi dalam kotak masing-masing. Selain itu terdapat juga sisir, shower cap, dan sanitary. Dua handuk besar dan dua handuk kecil membuat saya dan Chila bisa menggunakannya bersamaan untuk badan dan kepala tanpa harus bergantian.

Safety Box tempat menyimpan benda berharga

Ketika membuka lemari pakaian, terdapat safety box untuk meletakkan barang-barang berharga. Tinggal memencet tanda reset lalu memasukkan 4 digit kode angka yang dikehendaki setelah itu lock maka safety box akan langsung terkunci. Membukanya tinggal memencet 4 digit angka yang kita masukkan tadi.

Pada malam harinya sepulang jalan-jalan dari alun-alunJogja, saya memotret bagian depan hotel. Bangunannya tampak glowing keemasan dengan sinar lampu-lampu balkon yang memantul ke atap dan dinding hotel.




Saat ayahnya mengobrol dengan Pakdek tukang becak yang mengantar kami keliling kota, Chila langsung menagih saya untuk mengunjungi lantai 5. Kami berdua pun menaiki lift menuju lantai 4 dan melanjutkan naik tangga ke lantai 5. Ternyata di lantai 5 terdapat sebuah galeri lukisan dengan berbagai koleksi lukisan yang sangat menarik. Hampir seluruhnya lukisan-lukisan beraliran naturalisme dengan  objek manusia, hewan dan tumbuhan. Dari balkon lantai 5 juga kita dapat menyaksikan pemandangan kota Yogyakarta yang berlimpah cahaya. Pada sisi lainnya pemandangan  langsung ke kolam renang yang bagian atasnya dihiasi bendera kecil merah-putih melintang.

Galery lukisan di lantai 5

 
Pemandangan kolam renang dari lantai 5


Pada saat turun Chila tidak mau menggunakan lift. Ia senang turun melalui tangga. Tiap lantai yang kami lalui terdapat lukisan dan kursi untuk sekedar duduk-duduk santai. Rasanya pengen mampir dan nyantai-nyantai online di sana, namun Chila terus saja asyik menuruni tangga sambil teriak minta dikejar. Tidak saja lobby yang berlantai marmer, tangga hotel pun tak luput dari sentuhan marmer di tiap anak tangganya. Menambah kesan mewah pada setiap sudut-sudutnya.



Lukisan di tiap lantai setelah tangga

Lukisan di tiap lantai setelah tangga

Keesokan paginya setelah sarapan mewah di restoran hotel (nanti akan saya buat review-nya tersendiri) kami segera check out dan meminta resepsionis untuk memesan taksi menuju Terminal Giwangan. Dalam hari itu dan beberapa hari ke depan kami akan menuju Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah dan baru pada malam keempat kami akan kembali menginap di hotel ini.

Dari hotel menuju Terminal Giwangan hanya ditempuh dengan jarak kurang dari 10 menit. Ternyata dekat. Kami beruntung menginap di hotel ini karena lokasi hotel yang ada di tengah tengah kota. Hanya berjarak 2 kilometer dari Istana Sultan, 3,2 kilometer dari Kebun Binatang Gembira Loka, 5,6 kilometer dari Universtas Yogyakarta, dan 8 kilometer dari bandara Adisucipto. 

Sebenarnya Chila masih ingin berlama-lama di hotel. Katanya masih betah, nggak mau kemana-mana lagi hihi. Namun perjalanan harus tetap dilanjutkan. Untung saja kami dapat membujuknya dan berjanji akan menginap lagi di hotel Gallery Prawirotaman.
 
Lompatan terakhir


Sama seperti tamu-tamu lainnya saya setuju dan tentu saja memberikan nilai EXCELLENT untuk pelayanan Hotel Gallery Prawirotaman Yogyakarta. Semoga tahun depan atau tahun depannya lagi bisa mengunjungi dan menginap kembali di hotel ini :D


Untuk Reservasi bisa hubungi:

Hotel Gallery Prawirotaman
Jalan Prawirotaman II No. 839B Yogyakarta
Telpon: 0274 4580008, 081575742246/56
email: sales.marketing@galleryprawirotamanhotel.com







Tuesday, August 25, 2015

Semangat Kemerdekaan dari Para Pendaki Gunung Prau


Puncak-Puncak Gunung di Pagi Hari
Segaris warna merah di ufuk timur mulai tampak membayang. Suara percakapan dari tenda-tenda yang dini hari tadi samar, lirih, berbisik-bisik, kini mulai nyaring terdengar. Teriakan membangunkan rekan seperjalanan yang masih bergelung dalam sleeping bag lantang disuarakan. Saatnya semua kepala takzim menghadap ke timur. Menyambut harapan baru pada indahnya sunrise di Gunung Prau.

Saat Fajar Menyingsing
Setelah bertayamum dan sholat subuh, saya berjalan tersaruk di sela-sela padatnya hamparan tenda. Kadang terantuk tali yang terentang melintang menghalangi jalan. Bersama ribuan orang lainnya saya sepakat untuk mengabadikan momen detik-detik munculnya sinar matahari ke penjuru bumi.

Semakin lama lereng timur dan sekitarnya semakin terisi penuh oleh para pendaki yang duduk dan berdiri. Kilatan blitz kamera, uluran tongsis, lembaran kertas HVS yang terangkai barisan kata, serta kibaran bendera laksana apel upacara mewarnai sambutan pagi yang masih remang.

Detik demi detik terasa begitu lama. Menanti matahari terbit laksana menanti detik-detik hari pernikahan. Tak sabar dan ingin segera terlaksana.

Langit timur perlahan mulai membiru. Dan setengah lingkaran dari bulatan sang surya mulai muncul di garis cakrawala. Suasana mendadak gaduh dan riuh. Pekikan “merdeka, merdeka, merdeka” mulai menggema  penuh semangat. Meski hari kemerdekaan masih menunggu esok hari, namun suasananya sudah terasa di pagi itu. Pekikan  dan nyanyian lagu-lagu wajib mulai dikumandangkan. Walau tidak tuntas, tetap membuat hati bergetar. Menyentil rasa nasionalisme yang terdiam di sudut hati.

Biasanya saya tidak terlalu suka dengan ucapan-ucapan dalam kertas-kertas yang di pajang para pendaki di dadanya saat berfoto-foto.  Namun kali itu saya tertarik untuk ikut mengabadikan barisan kata di kertas mereka. “Dirgahayu NKRI” Pyuuuh….saya menarik nafas panjang, itu tulisan teremosional yang saya baca yang melibatkan rasa dari salah satu anak bangsa untukmu, Indonesia. Bukan untuk siapa-siapa. Mata saya pun berkaca-kaca. Sembari berucap dalam hati, “Iya...Dirgahayu untukmu Indonesia.”

Ucapan Dirgahayu NKRI dari salah seorang Pendaki
Matahari telah sempurna keluar dari peraduannya. Keanggunan Gunung Sindoro Sumbing tampak mempesona. Di sisi kiri terlihat Gunung Merapi dan Merbabu yang hanya tampak puncaknya saja. Keduanya mengambang melayang di atas awan.

Pagi itu para pendaki masih sibuk berfoto diri berlatarkan Sindoro Sumbing. Mengangkat tongsis tinggi-tinggi untuk Selfie, wefie, dan groupie. Sebagian bergantian seraya memamerkan kertas di tangannya #kekinian. Sebagian lagi mengibarkan bendera merah putih tinggi-tinggi.

Area puncak telah terang benderang. Ribuan tenda bergerumul di dataran dan lereng-lereng gunung. Warna-warni bergradasi laksana percikan lukisan naturalisme. Sesak, namun semua tampak indah.  Berserak, namun justru memancarkan keteraturan. Mungkin karena berada di gunung sehingga semua tampak indah adanya. Atau karena begitulah gunung dalam pandanganku. Selalu saja tampak mempesona apapun adanya.


Lukisan Alam

Dua Puncak Gunung yang Berbeda

Bahkan hingga ke lereng yang miring pun penuh 

Kompleks Pemukiman Pendaki :D

Tenda Kami Nyempil di Pojokan :D

Berkibarlah Selalu Merah Putihku

Baca juga cerita tentang aktifitas pendaki di gunung Prau dan catatan perjalanan pulang melalui jalur Dieng.

Monday, August 24, 2015

Menikmati Malam Bertabur Bintang di Gunung Prau

Hamparan cahaya di bawah sana
Kenikmatan  TIDUR  ternyaman pertengahan tahun ini adalah setelah menginap di hotel bintang 4 gratis 2 malam di Yogyakarta selanjutnya menginap di hotel “Bintang 5”  yang dingin walau tanpa AC, yang glowing walau tanpa lampu flourensen. Tidur beratapkan  fly sheet dan langit yang bertabur  milyaran bintang.

Yang lebih istimewa adalah di kamar hotel bintang 5 yang luasnya tak lebih dari 1x2.5 meter yang saya tempati, tertidur dengan pulas dua orang yang saya cintai. Rasanya sempurna sudah hidup ini. Bahagia tak terkira. Berkumpul dengan orang-orang yang saya cintai di TEMPAT yang paling saya cintai.

Malam semakin beranjak larut namun keriuhan masih saja terdengar dari setiap penjuru Gunung Prau. Terbawa angin dingin yang berhembus cukup kencang. Membuat gigil hingga ke tulang belulang. Hingga kebanyakan para pendaki berkumpul dan bercengkrama di dalam tenda. Berkemul dalam sleeping bag. amun saya tetap berada di luar. Berjalan dari satu sisi ke sisi lainnya hingga pukul satu dini hari. Iya, malam itu saya teramat penasaran ingin mengabadikan taburan bintang ke dalam  memori kamera.

Bayangan Gunung Sindoro Sumbing dan taburan cahaya

Malam 15 Agustus 2015, adalah malam istimewa yang bertaburan dengan cahaya. Nun di atas langit bintang-bintang berkelipan. Sementara jauh di bawah sana, Dataran Tinggi Dieng dan sekitarnya begitu gemerlap bersepuh cahaya keemasan. Indah dan menggetarkan. Lalu, di kanan kiri, depan belakang, tempat dimana saya berdiri, ribuan tenda menyala warna-warni, berpendar laksana bubuk peri.

Bagi tipe orang soliter, penyendiri seperti saya, tak mudah bergaul dan terperangkap dalam lingkungan yang hiruk-pikuk, gegap gempita seperti malam itu. Manakala  tenda-tenda berdiri sangat rapat tak berjarak dan hentak langkah selalu terdengar jelas di telinga. Namun, saya belajar dari keriuhan tahun baru di Gunung Rinjani. Sesaknya saat libur sekolah dan kuliah di Ranu Kumbolo, dan ramainya  sebuah event peringatan sebuah letusan di gunungTambora.

Hamparan Tenda Pendaki

Saya belajar dan terus mengamati. Gunung kini bukan tempat yang sepi lagi. Gunung bukan tempat diri menyepi lagi.  Namun kini, gunung tempatmu menempa sabar saat keramaian camping ground melebihi ramainya pasar.  Melatih kejernihan fikiran saat matamu  terasa perih oleh kepulan debu dari hentakan kaki rombongan pendaki yang berjalan tergesa di depanmu. Gunung tempat melatih kelembutan perasaanmu saat telinga terjejali oleh suara berisik obrolan, teriakan, umpatan, atau nyanyian orang-orang. Gunung tempatmu belajar menyapa, tersenyum, berbasa-basi, dan mengucapkan selamat tinggal. Gunung tempatmu bersimpati sekaligus berempati. Gunung tempatmu mencintai dan dicintai. Dan gunung kini menempamu menjadi makhluk sosial bukan seperti makhluk astral yang tak tampak oleh kasat mata.


Malam di Gunung Prau melatihmu sekali lagi dan lagi.

Glowing Tent

Di Balik Tenda-Tenda

Taburan Bintang itu

Sleep well honey :*

Lampu senter di bawah tampak terlalu bercahaya


*Semua foto hasil jepretan sendiri, nggak sempat ngasih watermark :(


Saturday, August 22, 2015

Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng

Patak Banteng
Patak Banteng adalah sebuah desa di dataran tinggi Dieng Jawa Tengah yang dianugerahi pemandangan gunung, bukit-bukit dan hamparan sawah serta kebun yang sangat indah. Dengan jalur pintas yang pendek menuju Gunung Prau yang ditempuh tidak lebih dari 3 jam, pendakian  melalui desa ini selalu ramai dan sangat diminati oleh pendaki dari berbagai daerah di Indonesia.

Begitu pun saya bertiga dengan suami dan putri kami yang turut mencoba mendaki melalui jalur ini. Semula, kami hendak mendaki Gunung Merbabu, namun suami yang sudah pernah ke sana mengatakan bahwa jalur Merbabu sangat panjang. Kami khawatir Chila akan kecapekan, bosan dan suntuk. Hingga akhirnya kami banting stir memutuskan untuk mendaki Gunung Prau saja yang lebih pendek. Hitung-hitung  fun hiking  atau kemping ceria saja meskipun kami sudah mafhum pendakian kali ini akan sangat luar biasa ramai karena bertepatan dengan libur 17 agustusan. Pendakian Gunung Prau termasuk yang paling diminati di negeri ini, menurut penduduk Patak Banteng pada festival Dieng tahun lalu saja ada sekitar  8 ribu orang yang melalui jalur ini, sedangkan dua jalur lainnya yakni jalur Dieng dan Temangung belum termasuk hitungan.

Setelah menempuh perjalanan turun naik bis dari Yogyakarta - Magelang – Wonosobo – Patak Banteng Dieng selama kurang lebih 5 jam kami tiba di desa yang indah itu. Tepatnya jam 2.30 siang, kami baru tiba di Patak Banteng. Menyaksikan gerombolan pendaki yang beriringan di jalan-jalan desa membuat hati semakin tak sabar ingin segera ikut larut dalam pendakian kali ini.

Perhentian Bis Pendaki di Patak Banteng

Patak Banteng
Tinggal Nyebrang dari Sini
Saat turun dari bis seorang bapak-bapak menyongsong dan menanyakan apakah butuh porter atau tidak. Saya langsung mengiyakan karena memang sudah berencana akan menggunakan jasa porter agar kami lebih konsentrasi menjaga Chila selama pendakian.

Setelah membeli air mineral dan nasi serta lauk untuk makan malam, kami melapor ke pos pendakian dan membayar tiket masuk sebesar Rp.10.000 per orang. Setelah itu naik ojek menuju pos I, melintasi rumah penduduk serta ladang. Ongkos ojek hanya Rp.10.000 padahal jalur yang ditempuh lumayan jauh dan curam.

Rombongan Pendaki

Dari Pos I kami berjalan kaki menuju pos 2. Jalur berupa jalan setapak yang sangat berdebu. Namun manakala membalikkan badan ke belakang, pemandangan di bawah sana sungguh menyegarkan mata. Meskipun senja telah menyapa, namun panorama tampak jelas dari ketinggian. Baru saja memulai pendakian, kami sudah beristirahat di sebuah warung di tepi kebun.

Foto Keluarga dulu :D

Patak Banteng
Jalan di Desa Patak Banteng
Namanya ngajak anak kecil jadi harus ekstra hati-hati, penuh kesabaran, dan perhatian. Salah-salah dikit bisa berabe. Seperti sore di warung itu. Chila mendadak mengeluh sakit perut. Saya menduga karena ia telat makan. Jam makan di sekolahnya adalah jam 10.15 dan jam makan di rumah jam 2 siang. Namun hari itu dari jam 9.30 hingga jam 2.30 sore kami berada dalam kendaraan.  Beli nasi pun saat sudah sampai di Wonosobo dan makan dalam perjalanan menuju Patak Banteng. Sementara Chila saat ditawari makan malah menolak meski sudah dirayu dengan berbagai cara. Mungkin karena tidak terbiasa makan dalam kendaraan. Padahal sarapan pun hanya susu murni dan sereal saja. Duuuh, gawat. 

Chila saat melintasi jalur di perkebunan penduduk

Semakin lama warung semakin ramai oleh pendaki yang beristirahat. Bangku-bangku kayu di tepi warung pun sudah penuh. Chila masih mengerang kesakitan. Ayahnya mengelus-elus perutnya menggunakan minyak kayu putih, sementara saya terus menjejali mulutnya dengan nasi dan telur.

Warung
“Turun ajalah. Nggak usah jadi naik gunungnya!” Kata Chila. Waaaksss? Saya dan suami saling berpandangan. Duuuh…kalah sebelum bertempur nih. Kami mendadak bingung. Untung perlahan sakit perut Chila mulai mereda seiring banyaknya nasi yang masuk ke perutnya. 15 menit berlalu dan ia telah pulih seperti semula. Ceria tanpa bekas. Ah…si manja memang bikin khawatir saja. Chila kemudian digendong oleh ayahnya dan langsung diajak naik.

Pemandangan ke Bawah 

Karena antrian cukup padat, saya kesusahan mengejar keduanya. Cukup lama setelah melewati ratusan pendaki, baru terlihat Chila dan ayahnya sedang bergerak naik, namun kali ini Chila tidak digendong, dia berjalan dituntun dan ngoceh-ngoceh  penuh semangat. Wohooo….Alhamdulillah.

Adzan maghrib sudah berlalu semenjak di warung tadi. Gelap mulai merayapi setiap sudut gunung. Lampu senter dan head lamp mulai dinyalakan. Debu jalur pendakian tampak berhambur ke udara di terangnya cahaya. Membuat sesak pernafasan. Setiap satu pendaki melangkahkan kakinya, debu langsung mengepul ke atas. Meskipun saya mengenakan masker namun tetap saja abunya membuat sesak di hidung dan perih di mata.

Sunset

Pos 2 dan 3 terlewati. Chila masih tetap semangat. Terlebih beberapa pendaki yang bertemu dengannya menyapa dan memuji-mujinya. Seperti doping, pujian itu semakin memacunya tambah semangat dan terus melangkah naik. Lupa sudah kalau tadi maghrib pernah sakit perut sampai-sampai menyerah minta turun.

Suara adzan isya berkumandang. Terangnya lampu-lampu tenda membuat kami mendadak bahagia luar biasa. Alhamdulillah sudah tiba di kawasan camping ground di sekitar puncak gunung Prau. Dan saya terkejut luar biasa. Ternyata kami termasuk Chila hanya butuh waktu sekitar  2 jam untuk sampai di kawasan puncak. Alhamdulillah.

Kami segera mencari-cari lokasi yang pas untuk mendirikan tenda. Lumayan susah karena dimana-mana sudah penuh. Namun akhirnya nyempil dekat cerukan. Lumayan tidak terlalu terpapar oleh angin karena terhalang kontur gunung yang berbukit.

Rumah sementara kami :D
Setelah tenda berdiri rapi, Chila pun tidur dengan nyaman berlapiskan jaket dan rompi serta dua sleeping bag. Karena hangat ia sama sekali tak terbangun meskipun di luar angin dingin begitu kencang menerpa. Padahal kami khawatir ia terbangun-bangun dan rewel seperti saat bermalam di Ranu Kumbolo Gunung Semeru.

Alhamdulillah, bearti jaket dan rompinya cocok sehingga menjaga suhu tubuhnya tetap hangat.

Malamnya saya menikmati malam bertabur bintang di gunung Prau.


Rincian Biaya:
Bis Yogyakarta - Magelang : Rp.20.000
Bis Magelang - Wonosobo: Rp 25.000
Bis Wonosobo - Patak Banteng: Rp 20.000
Tiket masuk jalur pendakian: Rp.10.000
Sewa Porter per hari : Rp. 150.000




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...