Sabtu, 31 Oktober 2015

[Cerpen] Cinta Bagaikan Putaran Roda Sepeda Motor

Kalau difikir-fikir oleh Vina, rasanya nggak masuk akal sekali setiap dia dekat dengan cowok maka cowok  tersebut seringkali bermasalah dengan sepeda motornya. Bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Awalnya Vina menganggap hanya kebetulan saja, tapi kalau sudah berulang hingga lima kali apa masih pantas disebut kebetulan juga? Vina pusing sampai-sampai tiap malam insomnia. Tidak itu saja, rambutnya pun ikut-ikutan protes pada rontok. Vina cemas dan takut kepalanya jadi botak.

Adaaa… saja alasan para cowok untuk membatalkan rencana nge-date pertamanya dengan Vina. Sebut saja Aris, cowok klimis berkumis berwajah manis,  pertama kali bertemu Vina saat gerimis di halte Cimanggis. Batal ketemuan sama Vina gara-gara ia menderita kencing manis. Eh bukaaan. Tapi gara-gara Aris ditilang polisi karena tidak mengenakan helm di kepala. Yaiyalah di kepala masa helm di dengkul. Sepeda motor Aris diangkut dibawa ke pos polisi. So, rencana nge-date pertama Vina pun gagal berantakan.

Cowok kedua namanya Sultan. Seorang konsultan. Ngakunya keturunan Pakistan. Sukanya kebut-kebutan hingga mengalami kecelakaan. Bahkan Vina yang diboncengnya pun ikut jadi korban, kaki dan tangan Vina lecet-lecet hingga diperban. Cukup! Vina nggak mau berhubungan dengan Sultan lagi. Trauma. Bagaimana Sultan mau menyayangi Vina sedangkan dia saja nggak sayang sama nyawanya sendiri. Case close. Bye..bye.. Sultan.

Adalagi seorang cowok namanya Rizal. Kulitnya hitam mirip keturunan Senegal. Janjian sama Vina nonton festival. Sial, belum pun sampai di rumah Vina, Rizal sudah kena begal. Ngedate bareng Vina jelas batal. Adapun dua orang lainnya Vina lupa-lupa ingat entah apa detail kasusnya. Yang jelas tak kalah apesnya dibanding Aris, Sultan atau Rizal. Bermasalah dengan sepeda motor juga.

“Ma, kenapa ya Vina kok kayaknya  nggak cocok deh sama cowok yang punya sepeda motor. Ada saja alasan mereka buat ngebatalin ajakan jalan-jalannya gara-gara sepeda motor.” Akhirnya Vina curhat pada Mama.

“Itu tandanya kamu harus dekat-dekat dengan cowok yang punya mobil Na!” Mama mengerlingkan mata.

“Idiiih Mama matrek, Vina serius ini. Jadi penasaran ada apa ya hubungannya Vina dengan sepeda motor.  Apa dulu Vina dilahirkan saat papa mengalami kecelakaan  motor itu  Ma?” Vina duduk bertopang dagu. Mata bulatnya memandang mama penuh rasa penasaran. Mama mendadak terdiam lantas menurunkan koran yang sedang dibacanya secara perlahan-lahan. Mengingat-ingat peristiwa 20 tahun silam. Air mukanya berubah namun tetap tenang. Wajah cantiknya masih saja memancarkan pesona meskipun kini mama sudah menginjak usia 40 tahun.

“Papa memang mengalami kecelakaan. Tapi kamu dilahirkan saat mama menjenguk papa di rumah sakit Na. Sudahlah sayang, itu tidak ada hubungannya dengan peristiwa kecelakaan papa. Mungkin kebetulan saja.”  Mama beranjak dari kursi sambil mengacak-acak rambut lebat anak kesayangan satu-satunya itu.

Vina kurang puas dengan jawaban mama, tapi sepertinya mama sudah tidak berminat lagi meneruskan topik pembicaraan ini. Jadi Vina pun segera beranjak untuk pergi kuliah.

“Vina berangkat ya Ma!” tidak menunggu jawaban mama, Vina langsung menutup pintu, mengenakan helm, sarung tangan, jaket,  dan menyalakan honda scoopy kesayangannya. Beberapa meter  dari halaman, sepeda motornya mendadak berhenti. Vina lupa memeriksa surat-surat  kendaraan bermotornya. Setelah dicek ada semua ia pun melajukan scoopynya dengan kecepatan sedang.

Di sebuah pertigaan yang tidak ada lampu merahnya Vina melambatkan laju sepeda motornya karena di depan tampak rombongan pesepeda yang sedang melintas. Pesan mama kalau di jalan ada orang yang menyebrang atau pesepeda melintas, dahulukan mereka. Jangan egois meskipun kita sedang terburu-buru. Vina pun menghentikan sepeda motornya. Pesan mama masih tertanam jelas di otaknya.

“Keren ya mereka,” celetuk seorang pengendara Honda New Mega Pro yang tiba-tiba sudah ada di samping Vina. Vina terhenyak kaget. Ia menengok ke kiri, ke kanan, dan ke belakang. Tidak ada siapa-siapa kecuali mereka berdua. Vina menunjuk lehernya sendiri. Tadinya ia mau menunjuk dadanya. Tapii…ah kalau nunjuk dada nanti fikiran cowok itu bisa macem-macam. Cowok di samping Vina mengangguk tanda mengiyakan.

Vina mengamati pengendara itu dari ujung kepala hingga kaki.  Semula Vina curiga cowok Mega Pro itu seorang begal tapi setelah diamati gerak-gerik dan tampangnya, hati Vina berdesir. Jangan-jangan malah hatinya yang kini kena begal. Oo em ji. No..no..no..Ya Salaam ini cowok kok mirip banget dengan Marc Marquez. Beralis tebal, hidung bangir dan deretan giginya yang rapi, serta senyumnya itu. Vina mendadak salting.  Poster-poster Marquez di kamarnya  mendadak berseliweran di kepala. Bergantian seperti gambar pada slide proyektor.

 “Itu rombongan pesepeda dari Bandung loh. Aku kemarin ketemu mereka di Cianjur. Hebat ya udah sampai Jakarta. Aku yang pakai motor saja baru nyampai.” Celetuk si Marquez memberi keterangan pers.  Vina hanya mengangguk-angguk sambil membulatkan bibirnya membentuk huruf O. Ia mendadak speechless padahal baru sebentar saja berhadapan dengan Marc Marquez KW.  Mama, maafkan anakmu ini Ma. Aku lemah. Aku lemah. Vina nyeletuk dalam hati.

Rombongan pesepeda sudah berlalu. Vina melajukan sepeda motornya pelan-pelan. Rasanya ada yang tertinggal di belakang. Iya sih memang. Marc Marqueznya  itu  yang tertinggal di belakang.

Di belokan menuju kampus, Vina mengintip dari kaca spion. Marquez pengendara Mega Pro masih sekitar sepuluh meter di belakangnya.

“Yaaah ….nggak mungkin juga aku tungguin.” Ya sudah dengan berat hati Vina membelokkan sepeda motorrnya ke halaman kampus.

“Hai Vin, ada jam kuliah nggak entar siang?” Luluk tiba-tiba muncul sambil menggandeng lengan Vina.

“Siang ya? Enggak ada.” Vina menggeleng lemah. Ia masih menyesali diri kenapa tadi tidak bertanya siapa nama cowok di persimpangan jalan itu. Minimal ia tahu akun twitter atau instagramnya. Vina juga menyesal nggak ngajakin cowok tadi  selfie atau wefie mirip iklan di televisi. Itu loh iklan smartphone yang ngajakin foto bareng padahal nggak saling kenal. Kan Vina bisa tunjukkin sama Luluk and the gank kalau ia nggak jomblo lagi. Kalau ia bertemu dengan Marc Marquez pembalap favoritnya. Meski pun yang ini Marc Marquez KW Super.

“Nanti ikut acara kampus yuk ada talk show bersama para Travel Blogger.”  Kata Luluk. Vina hanya mengangguk-angguk saja.

“Vin! Vina…,” Luluk mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Vina.

“Aiiih kesambet nih anak. Perlu gua sembur juga nih.”  Luluk mengambil air mineral dalam tasnya  dan  berkumur-kumur. Namun sebelum semburannya keluar, Vina sudah  kabur duluan ke kelas.

Suasana auditorium kampus siang itu sangat ramai. Seperti biasa Vina dan Luluk selalu duduk paling depan. Tak ingin melewatkan acara-acara berharga seperti itu dengan duduk di bangku belakang  karena pasti berisik dan nggak kedengaran.

Acara talk show baru saja dibuka oleh MC. Katanya ada seorang Travel Blogger terkenal yang akan membawakan acara. Memberikan tips perjalanan yang aman keliling nusantara bahkan Indocina menggunakan sepeda motor.

“Para hadirin sekalian, mari kita sambut dengan tepuk tangan  yang meriah untuk seorang  adventurer, traveler, blogger,  writer,  dan juga motor biker,  yang sudah menyusuri hampir seluruh pelosok tanah air Indonesia dari Aceh hingga Papua. Mengunjungi negara-negara di daratan Indocina seperti Vietnam, Kamboja dan Laos dengan menggunakan sepeda motor. Inilah dia Randi Pratamaaaa…”

Gemuruh tepuk tangan menggema di seluruh auditorium. Seorang lelaki mengenakan celana cargo, kemeja flanel dengan rambut panjang sebahu dan memakai topi Red Bull muncul dari arah penonton lantas duduk di  kursi yang telah disediakan. Senyumnya yang lebar memamerkan deretan gigi yang putih dan rapi. Deg, jantung Vina seakan berhenti.

“Dia kaaan…Marc Marquez gue…” Vina menguncang-guncangkan bahu Luluk.”


Sepanjang acara, Vina begitu menikmati setiap kisah yang disampaikan oleh pembicara. Sesekali menunduk mencatat hal-hal yang menurutnya penting di booknote-nya. Meskipun yang ia tulis malah diselingi oleh gambar-gambar sepeda motor dengan sketsa wajah Marc Marquez.

Sedangkan Randi Pratama, Travel Blogger yang ternyata cowok yang bertemu Vina di Persimpangan jalan menuju kampus, begitu semangat berkisah tentang petualangannya mengelilingi Indonesia. Sesekali mencuri pandang pada seorang perempuan di barisan bangku paling depan. Tiba-tiba ia merasa ingin tampil maksimal di hadapannya.

Satu hal yang Randi tekankan kepada audiensnya agar selalu memperhatikan faktor keselamatan. Safety frist. Buat apa touring dan traveling jauh-jauh  kalau pulang hanya tinggal nama saja. Untuk itu dia mengingatkan agar siapa saja yang hendak mengendarai sepeda motor selalu memperhatikan dan menerapkan cara berkendara yang aman dan selamat.

Ada beberapa tips dari Randi untuk berkendara yang aman dan selamat. Mulai dari persiapan fisik, perlengkapan keamanan yang memenuhi standar seperti mengenakan helm SNI, memeriksa surat-surat kelengkapan kendaraan, serta teknik dan cara berkendara saat jarak jauh. Ia juga memberikan masukan saat mengunjungi wilayah-wilayah yang dicurigai terjadi gangguan keamanan. 

Menurut Randi datang ke suatu tempat, berwisata melihat keindahannya tidak cukup hanya sebatas menikmati lalu pergi. Sebaliknya ia selalu merasa terpanggil untuk turut berinteraksi dengan penduduk sekitar sehingga ia kerap mendengar apa yang orang tidak mau dengar. Banyak melihat  apa yang orang lain tidak mampu lihat. Merasakan apa yang orang lain tidak rasakan. Dan ini yang selalu membuatnya ingin selalu menolong orang lain. Yang menarik, pengalaman Randi membantu dan mendirikan berbagai taman baca di pedalaman Kalimantan membuat para hadirin tergugah dan bertekad untuk ikut membantunya.

Seorang audiens bertanya tentang pengalaman apa yang paling berkesan baginya.  Ia  tampak termenung sejenak. Lantas meneruskan pembicaraannya.  Suatu waktu di jalan raya sebuah kota, ada seorang kakek tua menyebrang dengan membawa cangkul. Langkahnya gemetar dan pelan membuat para pengendara mendengus dan memaki-makinya. Saat melihat si kakek hampir terserempet mobil yang lewat, Randi berhenti dan menolong menyebrangkan si kakek.

Randi  memang selalu santun pada pejalan kaki, hal itu dilakukannya setelah kecelakaan yang menimpa pada ayahnya 5tahun lalu, saat mengendarai sepeda motor. Kecelakaan yang persis menimpa seseorang yang dulu pernah ditabrak oleh ayah Randi. Maka pada detik-detik menjelang kematiannya, Ayah Randi teringat hal itu dan berpesan untuk memintakan maaf kepada orang yang ditabraknya tersebut. Amanat yang harus ditunaikan Randi dengan susah payah.

“Kakek hanya ingin menanam pohon trembesi  di antara dua jalan ini Nak." Jawab si Kakek ketika ditanya Randi kenapa menyebrang. Kakek itu bilang kalau sebelum meninggal ia ingin bersedekah dengan menanam pohon trembesi supaya setiap orang yang melewati jalan tersebut mendapatkan manfaat dan kebaikan pohon ini. Sehingga pahala kebaikan akan mengalir ke dalam kuburannya. Saat itu Randi menangis, terharu. Ia mencoba mulai merintis kebaikan-kebaikan kecil ke setiap tempat yang dikunjunginya semenjak peristiwa itu.

“Ingat Nak, kalau tidak waspada  hukum rimba di jalan raya itu kalau tidak menabrak, kamu akan ditabrak. Jadi waspadalah selalu.” Pesan kakek tua terngiang terus di telinga Randi. Dan ia jadikan kalimat penutup dalam talk show bersama mahasiswa siang itu.


Selesai acara para peserta berebut berfoto dengan Randi. Vina hanya terbengong-bengong di kursi depan. Sebenarnya ia menunggu giliran namun apa daya dia mendadak malu. Setelah peserta bubar, Vina mendekat pada Randi. Tangannya erat menggenggam smartphone. 

"Bo..boleh foto bareng nggak?"  Vina tergeragap.

"Mas Mas masa kata Vina Mas mirip Marc Marquez loh, bedanya Mas gondrong. Lainnya sama," Luluk tiba-tiba sudah berada di tengah-tengah mereka berdua sambil cengengesan. Vina melotot sambil meninju pelan bahu Luluk. Randi hanya senyum-senyum bahagia. Pencarian selama beberapa tahun ini ternyata berhasil. Setelah bolak-balik Jakarta Bandung beberapa tahun terakhir ini, pesan Ayah sebentar lagi akan tertunaikan. Sebuah permintaan maaf untuk keluarga Vina terutama untuk Mama. 

"Biar saya yang pegang," Randi mengulurkan tangannya ke arah smartphone Vina. Mengambilnya tanpa diminta. Keduanya berfoto dengan jarak yang hanya beberapa centi saja. Membuat Vina ketakutan kalau degup jantungnya kedengaran oleh Randi. 

Cekrek, cekrek. 

"Vina, boleh saya ketemu ibu kamu tidak, ada hal yang ingin saya bicarakan?" Randi menatap Vina serius. Duuh secepat itukah dia ingin dekat sama gue. tapi wait, darimana doi tau nama gue?  Vina terheran-heran dalam hati.

"Ada perlu apa ya dengan mama saya?" 

"Nanti saya bicarakan, tapi boleh nggak?"

"Bentar ya saya hubungi mama dulu" 

"OK silahkan," Randi mengangguk.


Mama menatap Randi dengan wajah datar. Perasaannya campur aduk. Apakah mama akan mema'afkan ayahnya Randi yang telah menabrak suaminya hingga tewas karena kehabisan darah di rumah sakit? Jika orangnya masih hidup mungkin mama takkan sudi memafkan dia, namun si penabrak Papanya Vina juga sudah meninggal dan bahkan meninggal dengan kasus yang sama. 

Di kamar, Vina meremas-remas rambutnya yang semakin rontok. Hatinya sesak  oleh sedih dan emosi. Rasa suka kepada Randi kini bercampur dengan marah dan benci. Marc Marquez KWnya ini ternyata anak dari si penabrak papa 20 tahun yang lalu. Papa yang belum pernah ditemuinya sama sekali.

"Papa, kenapa ya Vina kok nggak cocok  sama cowok yang punya sepeda motor?" Vina mengulang pertanyaan kemarin pagi tapi kali ini dia tujukan untuk papa.


***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Rabu, 28 Oktober 2015

Belajar Kehidupan di Pulau Karas

Pulau Karas
Pelantar Beton Menuju Pulau Karas

Pulau Karas adalah sebuah pulau kecil yang terletak di wilayah selatan perairan Batam. Secara administratif termasuk ke dalam Kelurahan Karas, Kecamatan Galang, Batam, Provinsi Kepri. Luas wilayahnya sekitar 487, 6 hektar dengan jumlah penduduk sebanyak 2.260 jiwa atau sekitar 663 Kepala Keluarga (Tahun 2014). *Data dari Ditjen KP3K.

Saya pertama kali mendengar Pulau Karas dari teman kuliah yang memang asli sana. Pernah diajak berkali-kali namun belum kesampaian juga bahkan hingga lulus kuliah. Keinginan mengunjungi pulau ini terusik kembali saat mengetahui Sri, tetangga sebelah rumah menikah dengan penduduk asli Pulau Karas.

Dengan modus bersilaturahim kepada mertua Sri, saya pun memberanikan diri untuk berangkat sendiri ke Pulau Karas. Alhamdulillah pada kunjungan tersebut, saya mendapat sambutan hangat dari  ibu mertua Sri beserta keluarga besarnya.

Saat baru menginjakkan kaki beberapa langkah di Pulau Karas, saya bertemu Putri anak dari Sri, tetangga saya. Putri sengaja disekolahkan di Pulau Karas karena usianya  masih 6 tahun. Sementara di Batam batas awal usia anak masuk SD negeri harus 7 tahun. Jadi rencananya setelah Putri kelas dua ia akan  dipindahkan ke Batam.

Saat itu Putri baru saja pulang sekolah dan langsung mengenali saya.
“Mama Sierra, Mama Sierra, mana Sierranya?” tanya Putri sumringah.
“Oooh… Sierra gak ikut. Eh, mana rumah neneknya Putri?” Saya balik bertanya. Putri langsung mengajak saya ke rumah neneknya sambil berlari. Tas sekolah yang tadi dijinjing, langsung  dicangklongkannya. Sepatu pun ditenteng dengan tangan sebelah.


Pulau Karas
Lapangan Rumput Berbariskan Pohon Kelapa


Rumah Nenek Putri cukup besar dan terletak  di daratan. Jaraknya sekitar sepuluh meteran dari bibir pulau. Karena rumahnya menghadap ke laut, maka angin laut dengan bebas berhembus menembus ruang-ruang dan penjuru rumah. Terasa segar meskipun agak lengket di kulit. Tidak seperti warga pulau-pulau yang senang membangun rumahnya di pesisir, nenek dan Atok, suaminya, memilih membangun rumah yang sedikit berbeda dari warga kebanyakan.  

Nenek menyambut saya dengan ramah disertai senyuman yang selalu merekah. Tak henti-henti saya memperhatikan wajahnya yang putih bersih. Masih tampak aura kecantikannya hingga ia di usia senja seperti ini. Beda dengan kebanyakan orang pulau yang kulitnya cenderung hitam karena limpahan sinar matahari, Nenek sepertinya putih sendiri.

Sambil mengobrol ngalor-ngidul dengan seorang dokter muda yang sedang mengikuti program internship di Pulau Karas, yang secara kebetulan tinggal di rumah nenek, saya dan Putri bermain bola bekel dengan cangkang-cangkang kerang yang mudah dijumpai di pulau. Seru seakan kembali ke masa kecil dulu. Sementara itu nenek tengah sibuk di dapur entah menyiapkan apa. Tahu-tahu ia langsung membimbing saya ke ruang makan dan menyuruh makan siang. Duh jadi enak nih :D

Setelah makan siang, Nenek  dan Putri mengajak saya keliling Pulau Karas. Tentu saja dengan berjalan kaki karena tidak ada kendaraan apa pun di pulau ini. Kami berjalan melalui kebun sayur dan lapangan rumput yang menghijau. Di lapangan rumput banyak terdapat sapi-sapi yang diikat. Tak jauh dari sapi-sapi itu terdapat sumur-sumur untuk memberi minum sapi dengan beberapa ember besar yang terisi air. 

Kata nenek, sapi-sapi tersebut merupakan pemberian Pemerintah Kota Batam untuk masyarakat pulau. Baru kali ini saya merasa pemerintah benar-benar memperhatikan rakyatnya. Namun sayang program pemerintah seperti ini kurang terekspos ke media, yang ada hanyalah berita-berita mengenai kejelekan-kejelekan mereka tentang korupsi.

Sapi Pulau Karas
Nenek Memberi Minum Sapi-Sapi

Selepas lapangan rumput kami tiba di rumah-rumah penduduk dan berjalan terus lurus hingga tiba di tepi pantai. Pantai Pulau Karas berpasir putih dengan kemiringan yang lumayan landai. Cocok untuk berenang-renang. Namun di beberapa titik agak kotor oleh tonggak-tonggak kayu yang entah sengaja atau tidak terpasang di sana. Sepertinya tonggak untuk mengikat perahu-perahu agar tidak terbawa arus ombak. 
 
Pulau Karas
Pantai di Pulau Karas


Belum puas mengunjungi pantai, saya harus terburu-buru mengejar kapal untuk kembali ke Batam. Meskipun ditinggal kapal, akhirnya bisa pulang dengan menumpang pada nelayan yang hendak mancing ke tengah laut. 

Alhamdulillah tidak terdampar di sana meskipun masih banyak hal yang ingin saya gali dari para penduduk Pulau Karas. Tentang budaya, bahasa, dan keseharian mereka. Barangkali saya harus kembali lagi ke sana suatu hari nanti untuk lebih banyak belajar tentang kehidupan. 

Bagaimana Menuju ke Sana?

Pulau Karas dapat ditempuh dari Batam melalui daratan terlebih dahulu yakni dengan mengendarai kendaraan atau naik bis Damri ke Desa Sembulang di Barelang (Pulau Rempang belok kiri). Lama tempuh sekitar 1 jam. Dari Sembulang kemudian naik perahu motor dengan jarak tempuh kurang lebih setengah jam. Biaya Damri sebesar 17 ribu rupiah dan perahu motor 20 ribu rupiah. (Tahun 2014)

Damri menuju Pulau Karas
Bis Damri Jurusan (Pasar Jodoh) Batam - Sembulang

Perahu Motor ke Pulau Karas
Perahu Motor Menuju Pulau Karas



Senin, 26 Oktober 2015

Semaraknya Jogja di Malam Hari

Jalan-Jalan di Jogja pada malam hari ternyata lebih semarak dan menyenangkan. Selain suasana yang sejuk, adem, dan tidak berdebu, juga karena volume kendaraan yang sudah sedikit berkurang sehingga menyebabkan jalan-jalan yang dilalui tidak terlalu padat.

Saya dan keluarga sengaja memilih menaiki becak yang mudah didapat di depan hotel yang kami inapi agar merasakan atmosfer Jogja yang menurut cerita sangat aman dan nyaman. Saya yang baru pertama kali berkunjung ke Jogja begitu excited karena suami berulang kali bercerita kalau jalan-jalan di Jogja lebih baik menggunakan becak.

Duduk bertiga di depan pakde tukang becak menyebabkan saya dan suami merasa nggak enakan. Meskipun kami kurus-kurus tapi rasanya kalau disatukan beban kami tentu lumayan berat. Suami malah berkali-kali menawarkan untuk bergantian mengayuh becak. Tentu saja sekedar basa-basi, karena belum tentu ia pun pandai mengendalikan becak di jalan raya. Namun meskipun basa-basi hal itu timbul karena ia merasa nggak tegaan. Apalagi si pakde bercerita kalau usianya kini sudah mencapai 63 tahun. Usia yang seharusnya pensiun dan beristirahat di rumah.
 
Gallery Lukisan Printing di Kawasan Keraton

Meluncur di jalanan yang relatif rata kami memasuki kawasan Istana Sultan. Bangunan-Bangunan tua yang terawat dan asri tampak sendu berhiaskan lampu-lampu di teras dan halaman. Pakde menghentikan kami di sebuah galeri lukisan batik printing milik Pak Suhardi. Seorang penjaga galery langsung menyambut dan menerangkan beberapa lukisan koleksinya.

Mengamati lukisan-lukisan di galery tersebut saya dibuat terkesan dengan kreatifitas seniman-seniman Jogja. Berbagai jenis lukisan dengan alat dan media lukis yang beragam semakin menandakan bahwa kreatifitas mereka tanpa batas. Meskipun demikian tetap memegang ciri khas Jogja yang sangat dominan.

Secara umum lukisan-lukisan ini beraliran naturalisme, bertemakan lingkungan dengan objek pemandangan alam, manusia, dan binatang. Selain itu aktifitas seperti bercocok tanam, membajak sawah,  panen raya, Gunung Merapi, serta alat kesenian wayang menjadi tema yang selalu muncul selain ada beberapa diantaranya lukisan yang beraliran abstrak.




Saya dan suami memilih membeli sebuah lukisan berbahan dasar kain katun dengan gambar sebuah pedati yang sedang melintas di jalan dan berlatarkan gunung Merapi. Dengan lukisan ukuran sedang kami membelinya seharga 150 ribu rupiah. Uniknya lukisan printing ini bisa dilipat dan dicuci.

Setelah puas mengunjungi galeri lukisan, kami segera meluncur ke Alun-Alun Kidul Jogja yang sangat terkenal. Di sana ternyata sudah ramai dengan iring-iringan becak dan sepeda lampu yang dikendarai oleh pengunjung. Dengan harga sewa 35 ribu rupiah selama satu putaran para pengunjung sudah dapat berkeliling Alun-Alun. 

Becak-becak ini beragam bentuk dan jenis yang ditawarkan namun kebanyakan bentuknya berupa mobil dengan gambar lampu bermacam-macam seperti burung merak, ayam jago dan beberapa karakter kartun seperti Hello Kitty,  Nemo, dan Dora Emon.

 
Cobain Yuk!

Karakter Dora Emon

Karakter Nemo


Karena beertepatan dengan hari libur, saat itu pengunjung membludak dan iring-iringan becak lampu pun menjadi macet. Namun dengan kesabaran para pengendara akhirnya kemacetan pun perlahan teratasi. Tidak ada yang marah-marah atau mencak-mencak semua tampak senang meskipun macet. Lebih lama lebih baik karena justru akan waktu yang diperlukan untuk duduk di dalam becak cantik ini akan lebih lama lagi. Seru deh. Yuk kita ke Jogja lagi!

Minggu, 25 Oktober 2015

Menjaga Sumber Air di Pulau Batam

Suatu waktu saya diajak oleh seorang teman,  seorang sukarelawan, mengunjungi anak didiknya untuk memberikan bingkisan alat tulis ke sebuah lokasi di kawasan Dam Duriangkang Batam.  Masyarakat menyebutnya dengan sebutan “Dam” karena tempat ini merupakan danau buatan yang membendung Teluk Duriangkang sehingga terpisah dari laut. Memang lebih tepatnya disebut bendungan, waduk, atau dam. Danau buatan seluas 23,4 kilometer persegi ini pada akhirnya berair tawar dan menjadi sumber air bersih utama bagi warga Pulau Batam di samping 6 dam lainnya. Yakni Sei Ladi, Sei Harapan, Muka Kuning, Sei Baloi, Tanjung Piayu dan Nongsa.

 
Anak-Anak Dam Duriangkang

Untuk mengunjungi anak-anak Dam Duriangakang, kami harus menyebrang menaiki perahu kecil yang didayung selama kurang lebih 10 menit. Teman saya menyebut lokasi ini dengan sebutan Pulau karena letaknya berada di tengah-tengah dam. Saya pun sempat terheran-heran karena selama belasan tahun menetap di Pulau Batam baru pertama kali itu mengetahui ada pulau di tengah dam. Pulau di tengah pulau. Namun pulau ini tanpa nama.

Bernyanyi Bersama Anak Dam Duriangkang


Pulau tersebut dihuni oleh lebih kurang 25 Kepala Keluarga yang hampir semuanya berada di bawah garis kemiskinan. Sebagian besar anak-anak di sana tidak sekolah atau tepatnya tidak disekolahkan oleh kedua orangtuanya. Karena itulah dengan suka rela teman tersebut mengajari anak-anak pulau agar dapat membaca dan menulis.

Sebagian besar penduduk pulau bermata pencaharian sebagai petambak ikan dengan membuka lahan-lahan tambak di kawasan sekitar dam. Sebagian lagi ada yang bercocok tanam sayuran. Warga yang tinggal secara ilegal di kawasan hutan lindung ini bahkan ada yang sudah bermukim selama 15 tahun. Sepanjang rentang waktu 15 tahun itu ternyata warga bebas melakukan apa saja di kawasan hutan lindung termasuk melakukan berbagai kegiatan MCK (Mandi Cuci Kakus) yang jelas-jelas akan mencemari air dam dan menurunkan standar baku mutu air. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan warga ini jelas-jelas merupakan sebuah pelanggaran.


Pemandangan dari Pulau di Dam Duriangkang

Penggusuran pemukiman warga di sekitar dam tentu akan memberikan dampak positif bagi kelestarian hutan namun jika melakukan penggusuran saja tanpa relokasi ke wilayah lain tentu warga pun akan enggan pindah. Mereka tentu bertanya mau pindah kemana, sementara biaya perumahan di Batam sangatlah tidak terjangkau untuk ukuran kantong warga miskin ini. Saat itu Belum ada tindakan tegas terhadap permasalahan ini sehingga dari tahun ke tahun kawasan hutan lindung di sekitar Dam Duriangkang mulai rusak. 400 hektar dari 1000 hektar luas hutan Dam Duriangkang telah digarap oleh warga, padahal seharusnya hutan sekitar dam tersebut berfungsi sebagai daerah resapan air yang akan menangkap air hujan sehingga menjaga debit air dam dalam kondisi stabil.

Menurut pasal 78 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999  tentang kehutanan, barangsiapa yang melakukan kegiatan ilegal di daerah hutan lindung, dapat dikenakan hukuman penjara paling lama 10 tahun serta denda sebanyak-banyaknya Rp 5 Milyar. Rasanya langsung ciut saja kalau membaca ancaman hukumannya ini, namun berbanding terbalik dengan fakta yang terjadi di lapangan. Warga seakan tak perduli dan bahkan tak tahu menahu dengan pasal dari Undang-Undang Kehutanan ini.

Sebaliknya dengan kondisi Dam Muka Kuning. Pada tahun yang sama, Saya melihat ada komitmen yang jelas dari pihak pengelola dam khususnya PT. Aditya Tirta Batam (ATB) sebagai pemegang konsesi pengelolaan air bersih di Pulau Batam untuk menjaga dam ini dalam kondisi yang terjaga. Pada setiap tepi dam dipagari dengan kawat berduri agar tidak ada warga yang seenaknya melakukan kegiatan-kegiatan yang dikhawatirkan akan merusak air dam. Selanjutnya bukit sekitar dam menuju arah Batu Aji yang dulu gundul telah ditanami pohon sehingga telah menjadi hijau dan asri. Begitu pun akses masuk ke dalam hutan di jaga oleh security.

Penyebrangan Menuju Pancur yang Masih Berair 

Pada setiap akhir pekan banyak pengunjung terutama para pelajar yang berwisata ke hutan di sekitar dam Muka Kuning karena tertarik dengan air terjun (warga menyebutnya Pancur) yang terletak di dalam kawasan hutan ini. Waktu itu saya melihat hutan sepanjang jalur menuju Pancur begitu terjaga dan sungai-sungai di hutan pun mengalir dengan deras walau tidak dalam kondisi musim hujan. Karena mungkin ada penjagaan maka di lokasi ini tidak ada pembukaan lahan hutan oleh warga. Ini menjadi satu bukti bahwa pemeliharaan hutan sekitar dam Muka Kuning saat itu berhasil.


Namun pada tahun 2015  ini, saat kami berkunjung kembali ke kawasan pancur, keadaan sungguh berbanding terbalik. Hutan di jalur menuju pancur terbakar. Air sungai di setiap penyebrangan turun drastis hingga ke dasar. Dan air terjun yang mengalir sudah tidak deras lagi.  Debit air di dam turun drastis dan bahkan sempat terjadi beberapa kali pemadaman air secara bergilir di seluruh kawasan Batam.

Dengan adanya beberapa waduk (dam) di Batam, pasokan air bersih hingga kini dapat dijaga namun tidak berarti akan terus tersedia jika saja masyarakat, pengelola, dan pemerintah tidak bersama-sama bersinergi menjaga kelestarian sumber air bersih di pulau ini. Kondisi yang menguntungkan adalah bahwa di Batam tidak dikenal namanya musim kemarau. Hujan datang kapan saja sehingga pasokan air ke dam-dam tetap tersedia. Namun hal ini harus dibarengi juga dengan pemeliharaan hutan sekitar dam dengan terus menggalakkan penghijauan (reboisasi) dan penjagaan hutan dari para penebang liar. 
Tahun ini kondisi alam di Batam benar-benar berubah dan tidak bisa ditebak. Hujan sudah jarang datang dan hutan-hutan terbakar. Meskipun sudah dipadamkan, kembali asap mulai menggempur dari Sumatera dan Kalimantan. Dan hujan tampak semakin enggan turun. Hanya bersabar dan tetap berdoa semoga semua ini segera berlalu.

Kamis, 22 Oktober 2015

Mengunjungi Candi Prambanan, Candi Terindah di Asia Tenggara

Kompleks Candi Prambanan
“Candi Prambanan merupakan sebuah kompleks candi terindah di Asia Tenggara”. Begitulah informasi yang sering saya baca baik dari buku-buku, booklet, maupun internet. Secara tidak sadar informasi tersebut telah tertanam dalam fikiran saya dan diam-diam dalam hati berniat bahwa suatu waktu nanti akan berkunjung ke sana.

Maka ketika seorang blogger, Fahmi Catperku, bertanya dalam sebuah postingan quis di blognya mengenai lokasi mana yang ingin dikunjungi ketika berada di Jogjakarta, saya memasukkan Candi Prambanan ke dalam wish list selain gunung Merapi tentunya. Dan voilaaa… saya menang dan berhak mendapatkan tiket menginap selama dua malam di Hotel Gallery Prawirotaman Jogjakarta. Girang banget karena sudah lama ingin main ke Jogja. Dan voucher hotel tersebut setidaknya bisa menekan budget akomodasi meskipun kalau mau ngirit, sebenarnya banyak banget teman di Jogja yang rumahnya bisa kami inapi. Baik teman suami maupun teman saya sendiri.  

Quis tersebut setidaknya menjadi trigger agar supaya saya dan keluarga cepat-cepat liburan ke sana. Terlebih saya masih punya voucher lainnya hadiah quis juga. Ada voucher tiket pesawat terbang dan voucher sodexo yang bisa dibelanjakan untuk keperluan logistik mendaki gunung. So, what are you waiting for? Segera cabut! Yeaah…. Jogja We’re coming.

Dan, benar saja ketika melangkahkan kaki memasuki kompleks candi Prambanan, saya dibuat ter-wow wow dengan keindahan arsitekturnya. Terlebih saat menyisir setiap relief dan ukiran dinding pada batu-batu candi saya menyaksikan teknik yang rumit dalam gambar-gambar yang tersaji. Lekukan, cerukan, liukan pada wajah, tubuh, serta pahatan benda-benda yang terpampang sungguh membuat decak kagum. Serupa lembaran buku yang terbuka, relief-relief ini pun dapat dibaca dengan jelas. Bercerita tentang kisah dewa-dewi pada jaman kerajaan hindu. Saya berfikir keras bagaimana nenek moyang bangsa ini menemukan metode dan cara menumpuk batu tanpa perekat sama sekali dengan perhitungan yang tepat dan akurat lantas melukisnya dengan berbagai jenis bentuk dan rupa.

Saya memang peminat situs-situs sejarah purbakala. Seandainya punya cukup waktu di Jogja dan Jawa Tengah, saya sebenarnya ingin berkunjung ke situs lainnya seperti situs Liyangan di Temanggung, sebuah situs yang baru-baru ini muncul ke permukaan setelah ratusan tahun terkubur oleh material vulkanik gunung Sindoro.

Suasana kompleks Candi Prambanan pagi itu sudah lumayan ramai oleh pengunjung. Saya dan keluarga berjalan masuk dengan agak terburu-buru karena tidak kurang dari satu jam lagi kami harus segera check in ke bandara sementara seorang teman lama yang ingin berjumpa dengan kami sudah sejak pagi menunggu di rumahnya.

Pemugaran Candi
Di sisi kanan kompleks candi sedang ada pemugaran. Candi-candi ini dibangun kembali karena runtuh saat terkena guncangan gempa pada tahun 2006 silam. Beberapa teknisi tengah sibuk memotong dan memasang bagian-bagian batu lalu menyusunnya secara tepat. Saya mendekat kepada seorang bapak-bapak yang sudah berumur yang sedang mengawasi pekerjaan mereka. Kami mengobrol sebentar sebelum pamit dan memasuki kompleks candi utama.


Cakep kalau dibuat Kartu Pos nih.


Setelah memasuki beberapa candi inti yakni candi Trimurti, seperti candi Siwa, Wisnu, dan Brahma saya dan keluarga segera menyisir sisi-sisi kompleks candi menuju arah pintu keluar. Di pintu keluar seorang pemandu yang membawa turis asing dengan sopan menawarkan diri untuk memfoto kami sekeluarga. Dengan mahir ia pun mengarahkan kami untuk begini dan begitu. Ceklek! Ceklek! Selesai.

Edisi Lengkap :D

Setengah berlari saya dan Chila susul menyusul mengikuti jalan keluar. Saat memasuki area penjual souvenir, kami berhenti dan melihat-lihat berbagai macam  benda kerajinan dan oleh-oleh khas Jogja. Ya Ampuuun cakep-cakep banget. Apalagi melihat tas batik yang colorful bikin mata jelalatan. Duuuh emak-emak ini rusuh pengen belanja. Tapi sayang suami keburu ngasih kode kurang setuju karena kami memang diburu waktu. Nggak lucu kan kalau gara-gara belanja terus ketinggalan pesawat terbang. Yaah gagal deh bawa pulang tasnya. Hiks..hiks...mana tas batik yang di rumah udah rusak talinya pula. Duuuh. Orang Jogja kirimin saya tas batik dooong!

Rabu, 21 Oktober 2015

[Kelas Inspirasi Batam] Memupuk Asa Anak-Anak Pulau Panjang

Pohon Cita-Cita
Suasana Pelabuhan Jembatan 2 Barelang pagi itu mendadak ramai oleh sekelompok anak muda yang mengenakan berbagai macam pakaian kerja seperti wearpack, kemeja, setelan jas, blazer, dan sebagainya. Pakaian yang mempresentasikan apa dan bagaimana pekerjaan mereka. Pakaian yang barangkali akan menginspirasi anak-anak Sekolah Dasar Negeri 009 di Pulau Panjang, Batam untuk mengejar cita-citanya di kemudian hari.

Mentari pagi sebenarnya belum beranjak tinggi. Sinarnya pun hampir tak tampak sama sekali. Pupus, terhapus oleh kabut asap yang sudah sebulan menggantung di langit Batam dan sekitarnya. Hanya menyisakan samar sebuah lingkaran berwarna oranye yang menggantung di atas langit. Namun, semangat paramuda yang menjadi relawan Kelas Inspirasi Batam Hinterland (KIBH) yang akan berangkat mengajar, memancarkan mentari lain yang cukup terang pada pagi hari itu. Sebuah harapan.

Senyum, tawa bahagia, dan celoteh serta canda para relawan seakan menghapus duka kabut asap yang menggantung di atas langit sana. Semangat mereka laksana riak ombak yang mendorong optimisme dan rasa percaya diri pada anak-anak yang akan dibimbingnya nanti. Meskipun hanya riak, tetap saja mereka adalah ombak. Yang menghanyutkan apa yang ada di atasnya. Yang perlahan merubah bentuk karang yang keras di tepi lautan.

Perahu telah melepas sauh, terguncang-guncang oleh sekumpulan ombak kecil yang menghantam haluan. Kami berduabelas orang duduk tenang sambil melempar canda pada seorang relawan muda kelahiran Batam, Puri, yang tampak pucat dan muntah-muntah karena mabuk laut. Mem-bully-nya karena ia tidak kuat menahan terjangan ombak yang tak seberapa besar di wilayah perairan, tempat dimana ia lahir dan dibesarkan. Beruntung Puri bukan tipe gadis yang ambekan. Ia tetap slow dan pandai membalikkan setiap kata-kata bullying yang diarahkan kepadanya.

Para Relawan Kelas Inspirasi 

“Puri, jadi siapa laki-laki yang harus bertangung jawab sampai kau muntah-muntah begitu?” Tanya Riki.
 “Looh, Kau nggak ingat ya Bang apa yang pernah kita perbuat minggu lalu?” Jawab Puri santai. Grrrr….tawa meledak di seantero kapal. Skor satu sama.

Sepuluh menit berlalu. Perahu pompong yang kami tumpangi mendekat ke sebuah dermaga kayu yang sempit dan tinggi. Namun karena air laut sedang surut, perahu hampir saja kandas. Kami pun batal berlabuh di situ dan mencari dermaga lain yang airnya cukup dalam untuk merapatkan perahu sehingga dapat segera menurunkan para penumpang.

Anak-anak kecil berseragam olahraga berlarian menyongsong kami. Lantas berbaris menyalami dengan takzim sambil mengulum senyum yang paling manis. Mas Andhi, menggiring mereka untuk kembali ke halaman sekolah. Ucapannya bak suara seorang guru yang paling dikagumi, serentak anak-anak segera berlarian kembali ke halaman sekolah. Antusias menunggu apa yang akan terjadi pada mereka nanti.
 
Murid-murid berkumpul dan dibariskan di halaman sekolah. Seluruh relawan KIBH kemudian memperkenalkan diri satu-persatu secara singkat. Setelah itu anak-anak masuk ke kelas masing-masing dengan penuh semangat. Tak kalah antusias dibandingkan dengan murid-murid, para relawan segera mengambil perlengkapan dan alat peraga masing-masing lantas menuju kelas yang telah ditunjuk.

Mengajar
Saya meminta mengajar di kelas 5. Dalam fikiran saya, anak-anak kelas 5 sepertinya mudah diarahkan dan tidak terlalu cuek bebek seperti anak-anak kelas 1 dan 2. Dalam hal pemikiran pun mereka akan lebih terbuka dan nyambung. Betul saja saat keluar dari kelas 5 saya merasa telah mengajar di kelas yang tepat sasaran.

“Assalamualaikuuum,” saya memberi salam lantas memasuki ruang kelas V yang senyap. Meskipun di sana belasan pasang mata tengah mengawasi dengan seksama. Berdiri di depan kelas, membuat saya sedikit gugup namun tetap berusaha untuk bersikap santai dan memulai kelas hari itu dengan perkenalan.

Hampir 50 menit mengajar sambil memperlihatkan alat peraga diselingi menyanyi, menari, tebak-tebakan, dan berpantun ria, saya kemudian mengakhiri kelas hari itu. Cukup terkesan dengan anak-anak yang sangat patuh dan mudah menurut. Tidak berisik  namun tetap responsif terhadap apa yang saya tanyakan.

Saya dan Anak-Anak Pulau Panjang

Bulan sebelumnya saya juga mengajar di kelas 5 di sebuah SD Negeri di Kota Batam. Namun karakter dan sikap anak-anak kedua sekolah ini sungguh berbeda jauh. Anak-anak Batam cenderung hiperaktif, lasak, dan selalu menyela di setiap pembicaraan. Berkali-kali siswa mengadu karena dijailin temannya. Sepertinya sebagian besar anak-anak ini kurang perhatian orang tuanya sehingga mencari perhatian lebih dari orang lain.

Berbanding terbalik dengan siswa kelas 5 di SD Negeri 009 Pulau Panjang. Siswa-siswa di kelas sangat tenang, kalem, dan menyimak apa yang saya utarakan. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati apa yang menyebabkan perbedaan sikap & perilaku anak-anak di kedua pulau yang berdekatan ini? Apakah anak kota terlalu haus perhatian sehingga begitu hiperaktif? Saya tidak bisa menyimpulkan secepat itu. Perlu faktor-faktor lain dan data yang real untuk membuat perbandingan. Namun, dari sini kita bisa membandingkan bahwa pola asuh anak-anak kota dan daerah pinggiran sangat mungkin berpengaruh pada sikap dan tingkah laku anak-anak tersebut.

Waktu mengajar telah habis. Saya berpamitan kepada siswa. Sesi kedua di kelas 5 diisi oleh Mas Wahyu, koordinator kelompok kami,  seorang pemuda yang sangat bersemangat dalam setiap event KIB.

Setelah para relawan selesai mengajar, acara dilanjutkan dengan game berupa lomba kekompakan dan teamwork dipandu oleh Mas Andhi dan Mas Iswan. Setelah itu diteruskan ke acara pembagian hadiah yang membuat anak-anak melompat kegirangan.

Serunya Bermain

Para Inspirator

Menjelang tengah hari, Kepala sekolah menjamu kami dengan makan siang. Aneh, makan siang hari itu terasa nikmat sekali. Padahal lauknya hanya dua jenis ikan. Ikan gulai dan ikan sambal hijau. Mungkin karena makannya secara bersama-sama dan sehabis capek mengajar maka kenikmatan makan siang hari itu terasa sangat berlipat-lipat.

Tidak lama setelah makan siang, kami pun berpamitan kepada kepala sekolah dan majelis guru di sana. Kembali ke Batam dengan penuh keceriaan. Tunai sudah satu bakti untuk berbagi dan menginspirasi. Semoga apa yang kami tanam di sana akan berbuah di kemudian hari. “Sehari mengajar, selamanya menginspirasi.”

Melompat Bersama



Kamis, 15 Oktober 2015

Pulau Penyengat, Sebuah Mahar Tanda Cinta dari Sang Raja


 Simpanan yang indah
Ialah ilmu yang memberi berfaedah

Mengumpat memuji hendaklah pikir
Di situlah banyak orang tergelincir

Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala

 *Quote from: Gurindam Dua Belas

PulauPenyengat terletak di sebelah barat kota Tanjung Pinang Ibukota Provinsi Kepulauan Riau atau sering disingkat Kepri. Catat ya Kepri bukan Riau. Karena Kepri itu beda provinsi dengan Riau. Nah meskipun sudah bertahun-tahun berpisah dengan Provinsi Riau daratan masih saja banyak orang yang salah menyebutnya. Begitu juga sekelas google, facebook, atau twitter  kalau memasukkan “location” di Kota Tanjung Pinang atau Batam semuanya masih saja menulis Batam, Riau. Atau Tanjung Pinang, Riau. Halah. Cape deeeh.

Pulau Penyengat
Perahu menuju Pulau Penyengat

Bukan nggak bangga sih sama Riau. Mentang-mentang di sana sumber terjadinya kabut asap yang menghebohkan dunia perlangitan Indonesia Malaysia dan Singapura. Bukaaaan. Bagaimana pun juga Kepri dulu adalah bagian dari Provinsi Riau. Tapi Riau dan Kepri kan sudah lama pisah ranjang jadi ngapain juga dibahas terus. Come on, move on dong. Kalau sudah pisah ya pisah saja jangan dijodoh-jodohkan lagi.  Tuh Farhat Abbas sama Regina yang lengketnya kayak lem tikus saja kabarnya sekarang udah cerai. Ooopss.

Kembali ke Laaaaptop.

Pulau Penyengat berjarak lebih kurang 1,5 km dari Tanjung Pinang. Luasnya tidak lebih dari 3,5 km. Tanahnya berbukit-bukit terdiri dari pasir bercampur kerikil, sementara pantainya umumnya landai, sebagian berumput, sebagian lagi berbatu karang. Tidak ada pasir putihnya. Jadi kurang pas kalau untuk berenang-renang gaya apa pun. Stop! Mending nggak usah. Apalagi niat berbikini ria. Buang jauh-jauh. Bisa ditimpuk cucu-cucu raja Riau Lingga di sana.

Pulau Penyengat
Istana Raja Riau - Lingga

Secara administratif di Pulau Penyengat  terdiri dari beberapa buah kampung yang tergabung dalam suatu desa atau kepenghuluan. Jumlah penduduk 2224 jiwa (2004), sebagian besar suku melayu dan sehari-hari berbahasa melayu, melayu Riau. Mata pencaharian penduduk terutama menjadi nelayan, buruh lepas, pegawai negeri dan swasta.

Menurut cerita, nama penyengat disematkan kepada pulau ini karena konon pelaut-pelaut yang sedang mengambil air bersih di sana diserang oleh semacam lebah (insect) yang dipanggil “penyengat” hingga membawa korban. Sejak itu pulau ini lebih dikenal dengan sebutan pulau penyengat. Kemudian ketika pusat pemerintahan Kerajaan Riau bertempat di pulau itu maka diresmikanlah dengan nama “Pulau Penyengat Indera Sakti”.

Pada saat penjajahan Belanda, Pulau Penyengat telah berkali-kali menjadi medan pertempuran. Pada perang Riau dengan Belanda tahun 1782-1784, pulau ini telah dijadikan pusat pertahan utama. Benteng-benteng dengan gaya Portugis telah dikembangkan di pulau ini yang sisa-sisanya masih dapat disaksikan hingga sekarang terutama di Bukit Kursi dimana terdapat meriam-meriam tua yang menghadap ke laut.

Gudang Mesiu

Meriam-Meriam di Bukit Kursi, Pulau Penyengat

Pada tahun 1808 pulau penyengat telah dibina dari pusat pertahanan menjadi sebuah negeri, dan pada tahun 1900 menjadi pusat pemerintahan yang dipimpin oleh Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga.


Apabila banyak berkata-kata
Di situlah jalan masuk dusta

Apabila banyak mencela orang
Itulah tanda dirinya kurang


Di Pulau Penyengat terdapat sebuah mesjid yang sangat terkenal. Mesjid ini dibangun pada tanggal 1 syawal 1249 H (1832 M) atas prakarsa Yang Dipertuan Muda VII, Raja Abdul Rahman (Marhum Kampung Bulang). Memiliki panjang 19,8 meter dan lebar 18 meter di dalamnya ditopang oleh 4 buah tiang beton, dengan tiap penjuru dibangun menara tempat bilal menyeru adzan. Selain menara terdapat 13 buah kubah dan 4 persegi, sehingga jumlahnya 17 buah yang melambangkan banyaknya rakaat sholat sehari semalam.

Interior Mesjid Pulau Penyengat

Mesjid ini dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat  bahkan selama 7 malam berturut-turut kaum wanita turut mengerjakan amal jariyah, bersama-sama menyumbang tenaga membangun mesjid.

Riwayat lain menceritakan karena terlalu banyaknya bantuan termasuk bahan makanan seperti telur maka putih telur dipergunakan menjadi campuran kapur untuk memperkuat beton kubah.


Ada nama seorang Putri yang yang tidak bisa dipisahkan dengan Pulau Penyengat. Dialah Engku Puteri. Nama sebenarnya  adalah Raja Hamidah. Ia merupakan seorang puteri Raja Haji (Marhum Teluk Ketapang) yang terkenal dalam sejarah Riau Lingga, Johor dan Pahang. Raja Hamidah kemudian menjadi permaisuri Sultan Mahmud (Marhum Masjid Lingga).

Pulau Penyengat
Makam Raja Hamidah Engku Puteri

Pulau Penyengat dibangun menjadi Negeri oleh Sultan untuk dihadiahkan kepadanya sebagai mahar pernikahan mereka. Sungguh luar biasa ya raja-raja dahulu. Maharnya saja pulau. Untuk mengenang sejarah Engku Putri maka Kota Batam mengabadikan namanya menjadi sebuah alun-alun yang terletak di pusat Pemerintahannya di Batam Center.


Di Pulau Penyengat juga terlahir seorang pujangga kerajaan yang terkenal. Beliau telah menyusun kaidah-kaidah tata bahasa dan ejaan perkamusan. Menjadikan bahasa Melayu Riau layak dipakai sebagai bahasa surat-menyurat, bahasa buku dan bahasa kesusateraan, hingga berkembang menjadi bahasa Indonesia seperti sekarang ini. Dialah Raja Ali Haji yang terkenal dengan karyanya yang fenomenal yakni Gurindam Dua Belas.

Gurindam Dua Belas ini terdiri dari 12 fasal yang dikategorikan sebagai puisi didaktik karena berisikan nasihat-nasihat dan petunjuk kehidupan. Ini salah satu contoh Gurindam fasal 1. Simak dan renungkan ya!

Fasal 1

Barang siapa tiada memegang agama
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

Barang siapa mengenal yang empat
Maka yaitulah orang yang makrifat

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya

Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudharat


*Sumber dari rajalihajidotcom


Alat Transportasi Becak di Pulau Penyengat

Saya sudah 5 kali berkunjung ke Pulau Penyengat. Namun sepertinya masih saja penasaran dan ingin kembali ke sana. Menggali karya, membaca buku sastra kerajaan Riau Lingga yang masih tersisa. Tahukah anda dengan petikan pidato Bung Karno yang  ini “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.” Nah, justru semboyan itu malah dilakukan oleh 4 orang teman saya dari Kuala Lumpur dan Sabah Malaysia. Beberapa tahun silam, mereka meminta saya menjadi guide dadakan untuk mengunjungi pulau Penyengat. Dan alasannya tiada lain hanya ingin mengunjungi tanah leluhur suku Melayu. Karena sesungguhnya Kerajaau Riau – Lingga adalah induk dan leluhurnya mereka, bangsa Melayu. Duuuh…terharu saya dibuatnya.


Kalau anda sudah pernah belum ke Pulau Penyengat?

Selasa, 13 Oktober 2015

Gunung-Gunung dalam Kehidupanku

Gunung Cikuray
Gunung Cikuray, Garut Jawa Barat.
Dilahirkan dan dibesarkan di sebuah desa yang di kelilingi oleh gunung-gunung, membuat hati dan fikiranku selalu terpaut kepada sosok teguh dan angkuh yang bernama gunung. Semenjak Sekolah Dasar, mulai terbersit keinginan menelusuri lekuk jurang-jurangnya, merayapi punggungannya, menjelajahi lereng-lerengnya hingga menginjakkan kaki di titik tertingginya. Namun apa daya, aku hanyalah gadis kecil yang tak mengerti apa-apa. Hanya punya sebuah hasrat terpendam untuk bertualang ke alam bebas. Menyimpan rapat-rapat mimpi itu dalam alam bawah sadar.


Sampai suatu saat di usia 19 tahun, beberapa saudara dari Jakarta datang dan mengajakku mendaki Gunung Cikuray, yang terletak tak jauh dari kampung halamanku di Garut, Jawa Barat. Inilah momen yang tepat untuk mewujudkan harapan yang sejak kecil dulu tersimpan dalam ingatan. Tak perlu waktu lama untuk mengiyakannya, aku langsung menyetujui dan ikut mendaki gunung Cikuray. Belasan tahun menanti untuk merasakan keseruan mendaki gunung, betapa hormon kebahagiaan seperti meledak-ledak di seluruh aliran darahku. Inilah awal dari passion, perubahan, dan berani memutuskan untuk mulai mewujudkan mimpi-mimpi.

Namun malang tak dapat ditolak, pada pendakian Cikuray ini kami terpisah dan salah mengambil jalur turun hingga tersesat. Aku dan dua saudaraku kesasar, turun melambung jauh ke arah kanan melalui hutan yang rapat dan medan curam berjurang-jurang hingga lewat tengah malam. Untung saja kami menangkap ada cahaya senter dari seorang peladang di batas hutan. Maka ke sanalah kami menuju.

Sunrise Gunung Cikuray

Puncak Gunung Cikuray
Suasana puncak Gunung Cikuray pada pagi hari

Saat tiba di ladang penduduk, kondisi kami kedinginan, kehausan, dan kelaparan. Sepasang peladang, suami istri, menolong memberi makan dan tempat untuk beristirahat sejenak. Dari ladang kami berjalan ke arah sebuah desa dan mengetuk pintu rumah warga untuk meminta pertolongan. Saat itu jam 3 dini hari. Tanpa rasa curiga dan banyak tanya, yang  punya rumah memberi kami susu segar dan tumpangan untuk tidur. Pada pagi harinya warga desa berdatangan dan membantu kami untuk bisa pulang ke rumah.

Pengalaman pertama yang cukup mengguncang. Bagaimana tidak, saat tersesat banyak hal yang membuat akal sehat kami terkadang tidak bekerja. Berbagai hal mistis yang mengiringi, terjatuh, berguling-guling, terantuk batang dan akar pohon, kedinginan, kelelahan yang sangat, serta hal-hal yang kurang menyenangkan lainnya bercampur-baur menjadi satu. Namun semua itu tak mampu menyurutkan tekadku untuk terus bertualang dan mendaki gunung lagi. Mewujudkan keinginan untuk berada di puncak-puncak tertinggi negeri ini. Keinginan yang sempat tertahan beberapa tahun saat aku harus pindah tempat tinggal ke kota Batam, Kepri, karena tuntutan pekerjaan.

Dua tahun bekerja di Batam, kerinduan untuk mendaki gunung semakin tak terbendung. Maka meskipun beberapa teman mengundurkan diri tak jadi berangkat, aku dan seorang teman tetap memutuskan mendaki Gunung Kerinci di Provinsi Jambi. Gunung dengan ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut ini merupakan puncak tertinggi di Pulau Sumatera dan merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia.

Tanpa halangan apapun pendakian ke Gunung Kerinci berhasil. Meski hujan dan mendung sempat mewarnai perjalanan kami. Di sana, aku bertemu dengan teman-teman baru dari Universitas Andalas Padang yang kemudian mengajakku untuk melanjutkan pendakian ke Gunung Marapi dan Singgalang di Sumatera Barat. Tanpa berfikir panjang aku ikut ke Padang dan mendaki kedua gunung tersebut.

Plawangan Sembalun, Gunung Rinjani. 2003. 
Kerinduan berjalan di kesunyian hutan,  menembus kabut dan hawa dingin masih terus menggaung dalam fikiran. Gemanya semakin menguat dan terpantul-pantul dalam kepala. Maka pada tahun berikutnya, tahun 2003, aku memutuskan untuk mendaki gunung Rinjani di Lombok. Dari Batam, aku bersama seorang teman, Nurdiana, dan tiba di Jakarta bertemu dengan rombongan lainnya yang mempunyai tujuan sama.

Pendakian ke Rinjani tak kalah dramatisnya. Saat turun dari puncak, kami dihadang hujan es dan petir yang jaraknya hanya beberapa centi di atas kepala. Sebagian yang belum tiba di puncak memutuskan turun saat itu juga karena kondisi para pendaki yang sangat mengenaskan terkena hipotermia. Aku bersyukur saat itu aku baik-baik saja.

Seperti candu. Mendaki gunung semakin menjadi addicted. Semakin lama semakin ketagihan dan susah melepaskan. Bukan kenikmatan saat menggapai puncak-puncaknya, namun selalu ada keterikatan batin dalam perjalanan menyusuri setiap jalur pendakiannya. Akar-akar yang mencuat, canopy yang rimbun, bau lumut yang menguar di lembapnya hutan hujan, dan terseok-seok di pekatnya kabut gunung. Semua itu adalah candu yang aneh.

Mendaki gunung sungguh semakin menempaku untuk lebih banyak belajar dan mawas diri. Mendaki gunung, selain merupakan hobby dan olahraga, juga merupakan seni untuk mengenal diri sendiri. Benar kata orang, bahwa di gunung kita akan tahu siapa sesungguhnya seseorang itu. Apakah ia teman yang menyebalkan dan egois, atau sebaliknya ia adalah pribadi yang penolong, penyayang dan setia kawan. Namun Bagiku, gunung menempaku lebih dari semua itu. Begitu banyak hal dan kebaikan yang aku dapat dari sebuah pendakian gunung.

Hampir setiap tahun, dengan jatah cuti yang hanya 12 hari aku selalu menyempatkan diri untuk mendaki gunung. Diselingi pulang ke kampung halaman yang  tetap saja seperti pepatah sambil menyelam minum air. Sebelum atau sesudah pulang kampung pun masih saja mencuri-curi waktu untuk mendaki gunung.

Petualangan mendaki gunung semakin membuatku ingin berinteraksi dengan sesama pendaki. Pada tahun 2004 aku memutuskan bergabung dalam pendakian bersama High Camp, sebuah komunitas mailing list di Yahoogroups ke Gunung Ciremai, Jawa Barat. Pendakian yang memberiku banyak teman dan sahabat hingga sekarang.

Puncak Gunung Sinabung
Puncak Gunung Sinabung, 2004

Agustus tahun 2004 aku dan seorang teman baikku, Lastri, mendaki gunung Sinabung, Sibayak, dan Pusuk Buhit di Sumatera Utara. Pendakian yang hampir-hampir membuatku kehilangan nyawa karena mencoba menjajal tebing-tebing pilar di puncak Sinabung dan hampir membuat Lastri cacat karena terjatuh di jurang Gunung Pusuk Buhit. Namun bersyukur kami masih tetap diselamatkan oleh-Nya. Aku selalu ingat motto para pemanjat tebing. “Tuhan beserta orang-orang yang berani”. Keberanian kami berdua mampu melumpuhkan dan menaklukan rasa takut yang mungkin akan memperparah keadaan.

Di Puncak Kinabalu, 2005

Tahun 2005 aku mendaki Gunung Kinabalu yang terletak di Negara Bagian Sabah, Malaysia. Semula ragu karena tidak ada seorang teman pun yang bisa diajak pergi. Namun keputusan harus tetap dibuat. How far you will go? You decide! Aku akan tetap pergi dengan atau tanpa kawan.

Pendakian ke Gunung Kinabalu membuatku semakin memahami bagaimana cara memanfaatkan keberadaan gunung secara komersil namun tetap menjaga dan memelihara kelestariannya. Keduanya bisa sejalan jika dikelola secara profesional. Di Kinabalu ini pula aku berkenalan dan satu grup dengan pendaki dari negara lain seperti Swiss, Australia, Kanada, dan Inggris. Satu hal yang membuatku envy betapa negeri jiran ini mampu menggaet sekian banyak turis hanya dengan sebuah gunung ini saja. Padahal gunung-gunung di Indonesia begitu berpotensi dan tak kalah indahnya untuk dikelola sebijak mungkin.

Gunung Daik, Pulau Lingga, Kepri. Tahun 2006

Gunung Pangrango Jawa Barat. Tahun 2007

Gunung Papandayan 2012
Di Puncak Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur. 2014

Sepuluh tahun kemudian hingga hingga 2015 ini hampir setiap tahun aku selalu menyempatkan diri untuk mendaki gunung. Bukan mengejar jumlah atau berapa banyak gunung yang telah didaki, namun sungguh karena gunung telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupku. Mengalir seperti darah dan memompa seperti jantung. Kapan akan berhenti mendaki gunung? Dan berapa lagi gunung yang akan aku daki? Entahlah. Karena keinginan sederhana itu selalu menggelora dalam dada.   

Dan salah satu mimpiku yang belum tercapai adalah berdiri di Puncak Cartenz Pyramid (4.884 mdpl) di Pegunungan Jaya Wijaya, Papua. Puncak tertinggi di Indonesia dan bahkan menjadi salah satu dari tujuh puncak tertinggi di tujuh benua di dunia. Mimpi sedari kecil yang belum terwujud hingga saat ini.

Perlu sedikitnya 40 juta rupiah untuk sampai di puncak Cartenz. Seorang kenalan yang kerap menjadi guide di Cartenz Pyramid menawariku dengan biaya 60 juta rupiah untuk pendakian bulan depan. Dan 60 juta itu bukanlah uang yang sedikit. Perlu menabung bertahun-tahun. Perlu berkorban bertahun-tahun juga. Dan aku akan berusaha untuk itu. Untuk mimpi yang tak mungkin dibeli. Seandainya diberi umur panjang, kesehatan yang prima serta keuangan yang cukup, aku masih memimpikan untuk berdiri di puncak tertinggi negeri ini. Mengulurkan tangan, merengkuh Sang Merah Putih yang berkibar di atas sana..

Gunung Guntur, Garut Jawa Barat. Tahun 2014
Puncak Gunung Tambora, Pulau Sumbawa, NTB. 2015

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...