Saturday, November 28, 2015

Wisata Gua Batu Caves yang Terkenal di Selangor Malaysia

Merpati Berterbangan di Halaman Batu Caves


Batu Caves merupakan sebuah gua yang dijadikan kuil hindu yang terletak di wilayah Gombak, Selangor, sebelah utara Kuala Lumpur. Gua yang terbentuk dari batuan kapur semenjak 400 juta tahun yang lalu ini kerap didatangi ribuan jamaah dan wisatawan tertutama pada hari perayaan Thaipusam.

Patung Dewa Murugan

Di samping kanan gerbang masuk menuju tangga gua, terlihat jelas sebuah patung berukuran besar berbalutkan warna emas setinggi 42.7 meter. Patung ini adalah perwujudan Dewa Murugan. Dewa yang terkenal di kalangan orang Tamil di negara bagian Tamil Nadu, India. Dikenal juga dengan nama Kumara, Shanmuka, dan Skanda. Menurut kepercayaan orang Tamil, Dewa Murugan merupakan dewa perang dan pelindung negeri Tamil.

Sewaktu berkunjung ke Batu Caves, saya sengaja datang lebih awal agar bisa lebih santai dan tenang. Ternyata bersyukur, suasana di sana masih lengang dengan udara begitu fresh. Langit pun sudah tidak putih karena kabut asap lagi. Sudah biru seperti semula. Terlebih ini sudah masuk bulan November dimana hujan sudah mengikis seluruh asap di langit tanpa bersisa.

Pelataran Parkir


Feeding


Di pelataran parkir gua terdapat begitu banyak burung merpati yang sedang diberi makan. Kami langsung lupa dengan tujuan semula menaiki tangga. Berbelok menuju kumpulan merpati yang asyik mematuk-matuk makanan burung yang ditabur seorang bapak-bapak berwajah Tamil.

Anak-anak langsung menghambur ke arah merpati. Namun seperti sudah biasa, mereka tidak terganggu sama sekali dengan keributan kecil yang dibuat Chila, Shera, dan Desti. Santai dan cuek bebek, eh cuek-cuek merpati :D Jadi anak-anak pun berani meletakkan makanan burung di tangan dan memberi makan langsung. Tampak geli-geli karena tangannya dipatuk, namun ini sungguh pengalaman berharga bagi mereka. Jarang-jarang bisa dekat dengan burung-burung jinak seperti ini. Ya kalau buat saya biasa saja karena semenjak kecil juga banyak di kampung. Tapi bagi anak-anak Jakarta dan Batam yang hidup di keramaian kota tentu hal ini sangat luar biasa.


Chila Kegelian

Senangnya bisa memberi makan burung

Bermain-main bersama merpati usai sudah. Kami segera menaiki tangga yang cukup tinggi menuju gua. Sesekali berhenti untuk menarik nafas. Di kanan kiri tangga, monyet-monyet mulai bermunculan seperti hendak meminta makan.

Tiba di mulut gua, bunyi-bunyian alat musik dari kuil di dalam gua menggema. Memantul dinding gua hingga membuat jantung jadi deg-degan karena efek pantulannya juga mengenai tubuh kami.

Anak-Anak Rehat di Tangga


Bagian Dalam Gua

Dinding-dinding gua yang tinggi dengan tonjolan stalaktit membuat saya tengadah sambil terkagum-kagum. Sayang pemandangan jadi terganggu dengan tiang-tiang listrik dan benda-benda modern lainnya yang diletakkan di dalam gua.

Dinding-Dinding Gua

Beberapa orang Tamil khusuk berdoa. Membungkuk dan sujud seperti beberapa gerakan dalam sholat. Sebagian lainnya sibuk sedang mempersiapkan sesuatu.

Dari ruang utama gua yang luas, ada tangga naik lagi ke bagian ujung gua. Di ujung gua ini ada sinar yang masuk dari luar karena bagian atas gua bolong membentuk lingkaran tidak sempurna. Di beberapa sudut diletakkan beberapa patung dewa dan sesembahan.

Tak kurang dari 20 menit, setelah mengambil beberapa foto kami pun segera keluar meninggalkan gua. Di samping gua terdapat beberapa warung yang menjual berbagai jenis pernak-pernik souvenir seperti kalung, gelang, tasbih dan miniatur menara petronas.

Ketika menuruni tangga untuk turun, kami bertemu satu keluarga Tamil yang akan berziarah ke gua dan minta difotokan. Si Bapak berkata kalau anak laki-lakinya yang bernama Syahir sedang berulang tahun yang ke-2. Spontan kami menyanyikan lagu "Happy Birthday" untuk Syahir yang imut bermata belo. Ia tampak belum mengerti namun kedua orang tuanya terlihat senang dan berkaca-kaca. Bapak Syahir tak lupa merekam peristiwa tersebut dengan smartphone-nya. Berkali-kali orang tua Syahir mengucapkan terima kasih dan malah minta berfoto dengan kami.


Monyet di Sepanjang Tangga Batu Caves

Anak-Anak Bersama Keluarga Tamil yang anaknya Berulang Tahun
Baca juga Tentang taman di atengah kota Kuala Lumpur Taman KLCC.

How to get there?

Dengan mobil atau taksi, karena terletak di samping jalan raya utama MRR2 di wilayah Gua Batu.

KTM Komuter, layanan kereta KTM Komuter dari KL Sentral ke Gua Batu.

Monorail dan Bus, ditempuh dari KL Sentral, mengambil layanan monorel ke stasiun Titiwangsa. Turun di sini dan mengambil bus ke Gua Batu.

Telepon: 1300 88 5050
Email: enquiries@tourism.gov.my

Friday, November 27, 2015

Taman KLCC, Sebuah Paduan Karya Mesra antara Alam dan Manusia

Mentari merangkak naik, memanggang garang dalam bayangnya yang terik. Mengundang peluh, membuat luluh, mengayun langkah-langkah untuk segera berteduh. Sementara itu di bawah anggunnya dua menara, manusia-manusia bercengkrama dengan kamera. Menyungging tawa semu agar tampak  bahagia saat wajah berpindah di media. Pada laman facebook, timeline twitter, atau instagram. Ketika wujud bahagia akan eksistensi diri menjelma menjadi sebuah agama dalam dunia maya.  



Anak-anak berlarian, berkejaran. Bermain lepas di taman yang lengang dan rindang. Mencumbui ayunan, meluncuri perosotan atau berdua-duaan menaiki jungkit-jungkitan. Dunia mereka adalah aneka tanya, tangis, dan tawa. Eksplorasi, percobaan dan petualangan. Karena semua yang dilihat dan didengar adalah sarana untuk belajar. Mengenal diri, memahami arti-arti.

Seperti angin yang berlalu dengan lembut di bawah rindangnya taman. Seperti itulah kasih ibu yang mengawasi mereka dalam permainan. Seperti tak hirau namun tetap berjaga penuh waspada. Karena angin kerap memindahkan serbuk-serbuk sari untuk berkembang. Dan karena kasih ibu mentransfer energi-energi kebaikan untuk bekal berperang menghadapi masa depan. 






  

Tak jauh dari taman, puncak-puncak menara semakin berkilau oleh silau. Pertanda siang telah sempurna melingkupi seluruh isi kota. Pertanda telah tiba manusia mengambil masa untuk rehat dan menghadap takzim pada yang Maha Kuasa. Dalam sujud dan doa-doa.


Di taman seluas 69.000 meter persegi ini, kolam-kolam tenang terbentang. Bertabur air mancur yang mempertontonkan permainan cahaya. Memicu alunan simfoni alam antara gemericik air, hembusan angin, dan desauan dedaunan yang bergesekan.

Di taman, tepat di birunya kolam renang, wajah-wajah  imut dan lucu tampak begitu senang. Mengusung pelampung dan bebek-bebekan berbentuk lingkaran. Menjerit, melompat, dan tertawa riang. Tetap larut berenang berbasah-basahan.




Pohon-pohon yang bercabang rindang diantara lorong-lorong joging yang berliukan, jembatan penyebrangan di atas kolam-kolam yang tenang, dan rumput-rumput yang menghijau menutupi permukaan adalah paduan simfoni dalam harmoni siang ini. Paduan mesra antara alam dan buatan manusia. Begitu jua taman bermain anak-anak, sejenak membuat lena dan betah berlama-lama. 

1900an pepohonan yang tumbuh di taman cukuplah mewakili keanekaragaman. Ditanam agar burung-burung datang dan terbang bertandang. Seperti burung lokal maupun migran. Saling mengisi untuk dipersuntingkan alam. 

Water drinking fountain. Airnya tentu  bisa diminum langsung :)

Seperti di negara-negara maju, keberadaan sebuah taman adalah suatu keharusan. Taman yang multifungsi, sebagai penyedia air baku, pelestari lingkungan dengan limpahan oksigennya, tempat bermain, berolahraga, dan melakukan aktifitas kesenian. Taman selayaknya adalah keharusan. Terutama bagi kota-kota metro dan megapolitan. 






Thursday, November 26, 2015

Sensasi Berada di Ketinggian Menara Petronas


View dari Sky Bridge Menara Petronas

Rencana hari pertama jalan-jalan di Kuala Lumpur  (KL) adalah menyambangi landmark paling terkenal di Negeri Jiran Malaysia, apalagi kalau bukan The Twin Tower alias Menara Kembar Petronas yang ketinggiannya mencapai 375 meter dari permukaan tanah. Dengan jumlah lantai sebanyak 88 lantai, menara ini pernah menjadi menara tertinggi di dunia pada era tahun 1998 -2004 sebelum akhirnya dilampaui oleh Menara Taipei 101 pada tahun 2004.

Siang hari sekitar jam 12an setelah menemani anak-anak bermain di Taman KLCC yang luas, asri, dan bersih (Taman ini terletak di halaman menara kembar) kami masuk ke Suria KLCC untuk membeli tiket menuju menara. Suria KLCC  merupakan mal/pusat perbelanjaan yang terletak di antara kedua menara.

Dengan berpatokan pada tanda petunjuk  di langit-langit mal, kami berjalan mengikuti tanda arahan sehingga  tiba di bagian pembelian tiket. Nantinya tiket ini berlaku untuk masuk ke jembatan gantung (sky bridge) antara menara 1 dengan menara 2. Sky Bridge terletak di lantai 41 - 42. Ketinggiannya berada 170 meter dari permukaan tanah dengan panjang 58.4 meter dan memiliki berat 750 ton.

Pamerin Tiket Masuk

Pengunjung menuju sky bridge diatur sedemikian rupa sehingga tetap mengikuti jumlah maksimum orang yang dapat diangkut oleh lift yakni sebanyak 20 orang. Tour menuju menara dimulai dari bawah Menara/Tower 2. Pengunjung antri sesuai jam keberangkatan yang tertera di tiket masing-masing.  Sistemnya siapa yang memesan tiket lebih awal yang akan naik lebih dahulu.

Pengunjung yang antri akan diperiksa tiketnya dan yang diperbolehkan masuk ke area antrian berikutnya adalah pengunjung yang mempunyai tiket sesuai dengan jam yang tertera di tiketnya masing-masing. yang belum waktunya dipersilahkan keluar antrian dan menunggu hingga waktunya sesuai. 

Selanjutnya antrian dibagi per rombongan. Satu rombongan  tidak lebih dari 20 orang dan dipersilahkan duduk menunggu rombongan lainnya yang berdiri di depan lift. Tiap rombongan dibedakan dengan warna name tag atau tanda pengenal (visitor) yang dapat dikalungkan yang dibagikan oleh seorang petugas. Tiap rombongan mempunyai warna tali tanda pengenal yang berbeda-beda.  Rombongan kami yang masuk pukul 2:15 pm  mengenakan tanda pengenal dengan tali berwarna hitam.

Selang waktu 15 menit, kelompok yang berdiri yang mengenakan tanda pengenal berwarna kuning disuruh masuk ke lift, sementara kami kelompok  yang menunggu dengan duduk-duduk disuruh bersiap-siap berdiri di depan lift. Pada saat berdiri inilah seorang petugas menerangkan sekilas tentang Menara Petronas kemudian dilanjutkan oleh tayangan hologram yang berada tepat di depan antrian.

View Kuala Lumpur dari Sky Bridge

Pintu lift terbuka, rombongan dipersilahkan masuk. Semua tampak tenang meskipun dalam hati masing-masing mungkin sangat antusias tak sabar ingin menyaksikan seperti apa pemandangan dari ketinggian salah satu bangunan tertinggi di dunia ini.

Lift berhenti. Dengan rapi pengunjung  bergerak keluar dipandu oleh seorang pemandu yang berbicara dalam bahasa Inggris. Sesaat mencapai sky bridge, si pemandu mengucapkan selamat datang dan menerangkan kembali segala sesuatu tentang struktur bangunan sky bridge. Ia pun mempersilahkan kami berfoto-foto dan mengamati pemandangan sepanjang sky bridge. Waktu keberadaan kami di jembatan dibatasi hanya selama 10 menit.  Dilarang membawa monopod atau tongsis ke area ini. Jadi sebelum naik pun tongsis sudah disita petugas.

Pemandangan Kota Kuala Lumpur dari  Sky Bridge Menara Petronas


Sepuluh menit berada di sky bridge sungguh tidak terasa. Rombongan bertanda pengenal tali hitam dipanggil untuk selanjutnya meneruskan kunjungan ke anjungan atau Observation Deck di lantai 86.  Pada bagian ini,  Tower 1 tampak begitu dekat dengan puncak yang meruncing. Terlihat anggun tersapu sinar matahari. Sementara pemandangan ke arah kota Kuala Lumpur sangat jelas terlihat. 

Chila di Observation Deck Lantai 86

Di Observation Deck terdapat dinding-dinding kaca yang tinggi yang digunakan pengunjung untuk menyaksikan pemandangan ke arah luar. Di sudut-sudut ruangan terdapat kursi untuk duduk-duduk mengamati. Terdapat juga teleskop untuk melihat detail objek tertentu di kejauhan. Dari ketinggian ini pemandangan seluruh kota tampak lebih indah dan mempesona.

Catatan Penting:

Menara Petronas buka setiap Selasa hingga Ahad (Senin tutup untuk perawatan)
Tiket mulai dilayani pada jam 08:30 AM
Tiket masuk tersedia dari jam 09:00  AM sampai jam 08:15 PM
Waktu kunjungan:  09:00 AM – 09:00 PM

Harga Tiket:

Non Malaysia
Dewasa 84.80 Ringgit
Anak-anak 31.80 Ringgit

Malaysia (MyKad)
Dewasa (MyKad): 31.80 Ringgit
Anak-anak (MyKid): 12.70 Ringgit

Belanja Oleh-Oleh di Gift Shop
Saya dan Chila dalam Editan Foto Souvenir Gift Shop Menara Petronas



Wednesday, November 25, 2015

[Review] Spring Lodge Hotel Kuala Lumpur, Ketika Harga Sesuai dengan Pelayanan

“Pilih hotel yang murah-murah aja Lin, nggak usah yang mahal, orang kita cuma numpang tidur doang,” kata Reny, teman dari Tangerang yang berencana liburan bareng saya dan anak-anak ke Kuala Lumpur.

Keraguan memilih hotel mulai saya sampaikan kepada Reny karena bingung hotel seperti apa yang cocok untuk dia dan kedua putrinya. Mengingat selera dan tingkat kepuasan seseorang dalam menginap tentu berbeda-beda.


Spring Lodge Hotel

Ketika kembali berkutat dengan internet dan mencari dimana hotel yang tepat untuk menginap, saya memutuskan bahwa hotel yang akan kami inapi harus murah dan harus dekat dengan Menara Petronas. Kalau nggak dekat-dekat banget ya dekat-dekat kali juga nggak apa-apa :D. Mungkin berada di radius beberapa kilometer dari Stasiun KL Sentral atau yang masih berada di sekitaran KLCC. Namun kenyataannya yang berada di dua lokasi ini adalah hotel-hotel mewah dan cukup mahal.

Untungnya setelah berhari-hari hunting, (qiqiqi nyari berhari-hari masih juga dibilang untung) dalam jarak yang tidak terlalu jauh dengan KL Sentral, sekitar 10 hingga 15 menit dari Menara Petronas ketemulah satu hotel yang secara budget lumayan murah. Namanya  Spring Lodge Hotel. Terletak di Jalan Ampang No 383 D KLCC. Kami  mengeluarkan budget Rp 1.525.738 untuk dua kamar tipe family room selama dua malam. Kalau mau lebih murah lagi sebenarnya banyak tapi type hostel dan tentu saja dihitung per bed sementara anak-anak sudah dihitung per orang. Maka menginap di hotel ini lumayan menekan biaya juga.
  
Resepsionis
Dengan menaiki taksi selama 15 menit dari KL Sentral yang dipenuhi drama dari tukang taksi, kami tiba di  Spring Lodge lewat tengah malam. Seorang pemuda berwajah oriental berkacamata yang sedang berjaga di bagian resepsionis dengan segera menyambut dan mengambil voucher dan passport yang saya ulurkan ke arahnya. Beberapa saat kemudian ia menyerahkan kunci kamar hotel, 4 botol air mineral dan 4 buah handuk untuk masing-masing kamar.

Keributan kecil terjadi di lobby. Shera, 12 tahun,  anak Reny yang pertama mendadak menangis dan memeluk Reny. “Nggak apa-apa orang kita cuma numpang tidur doang kok”, Reny tampak membujuk dan menasehatinya. Saya yang keheranan mendekat dan bertanya kenapa. Oalaaah, ternyata hotel yang kami inapi jauh dari ekspektasi Shera. Dalam bayangannya kami akan menginap di hotel yang besar dan ada kolam renangnya. Terlebih biasanya Shera kalau kemana-kemana menginap di hotel berbintang sementara malam itu mendapatkan hotel kelas backpacker. Qiqi... jelas shock karena tidak terbiasa. Saya jadi merasa bersalah. Liburan ini untuk menyenangkan anak-anak dan saya malah mengecewakannya di hari pertama. Namun melihat Desti, adiknya Shera, dan Chila, anak saya yang tidak terlalu mempermasalahkan hotel ini, saya jadi merasa lebih baik.  Shera pun sudah bisa berfikir tenang.
 
Tangga dari lantai dua ke lantai satu

Seorang pemuda Melayu yang ikut berjaga di resepsionis, mengantarkan kami ke lantai dua. Kami mendapatkan kamar berdampingan dengan nomor 34 dan 35. Baru saja membuka kamar anak-anak sudah memburu dan bergelimpangan di kasur.Tampak kepayahan menahan kantuk. Namun kami melarangnya tidur karena anak-anak belum makan.

Saya turun kembali dan mencari restoran yang masih buka di sekitar hotel. Kira-kira seratus meter berjalan ke sebelah kanan hotel dengan melintasi perempatan di bawah jembatan layang ada sebuah restoran Mc. Donald yang  buka 24 jam. Saya membeli Mc Chicken, Mc Fish, dan milo hangat untuk makan malam. Sayang nggak nasi kalau di Mc Donald padahal perut kami tetap mendambakan nasi sebagai hidangan makan malam.

Karena kantuk yang sangat, makan malamnya tidak dihabiskan oleh Chila. Saya pun sudah tidak berselera lagi, dan setelah menganti pakaian dengan baju tidur Chila dan saya pun tertidur pulas. Begitu pun Reny dan anak-anaknya di kamar sebelah.

Lorong Menuju Kamar

Ini Kamarnya

Kamar hotel kami terbilang standar sekali. Hanya ada sebuah tempat tidur yang cukup lebar, sebuah televisi, satu meja, dan AC. Ketika mau menyalakan televisi remotenya entah dimana. Dan saat menelpon resepsionis katanya remote sudah habis. Dan ketika hendak menurunkan suhu AC yang berhembus cukup kencang lagi-lagi saya kecewa karena remote AC pun tidak ada.

Karena dibuat untuk sekedar tempat menginap saja, pelayanan di hotel memang terasa kurang. Bahkan tidak tersedia sarapan sama sekali. Padahal di hostel yang kelasnya untuk backpacker saja minimal roti, sereal, teh, kopi, dan fresh milk biasanya tersedia. Namun di sini ternyata tidak disediakan. Selain itu saat check out dan kami meminta travel bag diturunkan, pegawai hotel lama sekali merespon.

Untuk transportasi umum, tidak ada bis yang melintas di depan hotel. Jadi kami hanya menggunakan taksi. Dan jika hendak naik bis, kami berjalan beberapa puluh meter ke sisi kiri hotel untuk menunggu di halte bis. Dari halte ini semua bis menuju dan melintasi KL Sentral dimana menara kembar (twin tower) Petronas berada.

Spring Lodge Hotel
No. 383 D, Jalan Ampang 50450
KLCC, Kuala Lumpur, Malaysia
Telephone: +60342511032 



Saturday, November 21, 2015

Meeting Santai Travel Blogger Kepri Bersama Kepala Dinas Pariwisata Kepri

Berkumpul dengan teman-teman yang mempunyai passion yang sama dalam salah satu hobby yakni ngeblog, selalu membuat perasaan campur aduk bahagia.  Salah satunya adalah pada tanggal 20 November 2015 yang lalu, saya bertemu dan berkumpul dengan teman-teman Travel Blogger Kepri (TBK)  yang diundang langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Provinsi Kepri, Bapak Guntur Sakti mengambil tempat di Saung Sunda Sawargi, Batam Center.
 
Makan Malam


Pertemuan dengan Kadispar ini sudah lama diwacanakan oleh beberapa orang Travel Blogger Kepri yang melihat adanya ketimpangan informasi dengan provinsi dan kota-kota lainnya di Indonesia. Di beberapa provinsi dan kota lain, sudah banyak dinas pariwisata yang menggandeng blogger untuk terlibat di setiap event yang diselenggarakan sehingga blogger bisa leluasa meliput dan membuat reportase pada media yang mereka punya. Selain blog tentunya mereka bisa update status di facebook, nge-buzz di twitter, meng-upload foto melalui instagram,  upload video ke youtube dan seterusnya.

Hal-hal seperti di atas, selalu mendapat respon positif dari masyarakat luas terutama netizen. Biasanya, secara viral informasi penyelenggaraan event akan tersampaikan dengan cepat melalui blog dan sosial media yang dimiliki para blogger tersebut. Hashtag-hashtag tertentu yang berkaitan dengan event selalu saja menjadi trending topic sehingga tidak saja dalam dunia nyata namun di dunia maya sekalipun event ini terasa benar-benar hidup.  Hal itu tentu saja karena tangan-tangan dingin para blogger yang bekerja.


Pak Guntur Sakti rupanya telah menyadari betul potensi blogger ini. Maka dalam kesempatan tersebut beliau menyampaikan bahwa bertemu dengan kami para blogger ini seperti mendapatkan durian runtuh. So sweet! Makin merekah deh hidung teman-teman TBK. Karena sudah menyadari potensi itulah, saat diminta kesediaan waktunya oleh salah seorang blogger Kepri, Fadli, yang berasal dari Pulau Kundur, Pak Guntur segera mengiyakan.

Pertemuan dengan Pak Kadis dibuka dengan acara makan malam. Hidangan ala sunda tersaji di meja. Beberapa bakul yang terisi nasi timbel dan tampah yang terisi penuh lauk-pauk, sayur, sambal, dan lalapan segera terhidang di meja. Menggoda saya dan teman-teman untuk segera mencicipi. Apalagi perut sudah sangat keroncongan karena saat itu sudah bertepatan dengan waktunya makan malam. Setelah selesai makan malam,  sharing dan diskusi yang seru pun dimulai.

Tampah yang berisi menu lengkap

Dalam rangka menyamakan persepsi guna bersinergi membangun kerja sama dalam rangka memajukan pariwisata Kepri ke depan, maka ada 6 hal yang harus diketahui oleh para blogger bahwa pada tahun 2015 ini Menteri Pariwisata, Pak Arief Yahya telah membuat 6 target dan indikator yang harus dicapai oleh Kementriannya. Terlebih industri pariwisata sedang menjadi mainan seksi negara yang akan dijadikan sektor unggulan dalam hal penyumbang devisa negara. Pariwisata merupakan industri strategis karena merupakan industri yang dapat diperbaharui, menyerap banyak tenaga kerja dan tentu saja merupakan industri bebas asap.

6 indikator yg ingin dicapai dari kinerja pariwisata Indonesia tersebut adalah:


  1. Kontribusi pariwisata terhadap Produk Nasional Bruto (PNB) pada tahun 2015 ini adalah sebesar 10%. Dan ditargetkan naik 1% per tahun sehingga 4 tahun ke depan yakni pada tahun 2019 sumbangan sektor pariwisata terhadap PNB akan mencapai 14%.
  2. Pada tahun 2015, sumbangan sektor pariwisata terhadap devisa negara adalah sebesar 144 trilyun rupiah dan pada tahun 2019 akan menyumbangkan devisa sebesar 275 trilyun rupiah.
  3. Pada tahun 2015 jumlah tenaga kerja yang diserap dalam industri pariwisata adalah sebesar 11.3 juta orang dan pada tahun 2019 target yang ingin dicapai adalah 13 juta orang.
  4. Index daya saing Indonesia dibandingkan dengan 141 negara di dunia ditargetkan berada di posisi ke 30 pada 2019 kelak. Sedangkan pada tahun ini Indonesia berada di posisi ke 50, jauh di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Berbeda satu tingkat di bawah Vietnam. Untuk ini Menpar Arief Yahya mengeluarkan 3 jurus yang disebut Greater. Dimana 90% kedatangan wisata mancanegara (wisman) ternyata 90% disumbang oleh 3 daerah yakni Bali, Jakarta, dan Batam. Maka dibuatlah konsep Great Bali, Great Jakarta dan Great Batam 
  5. Tahun 2015 ini Menpar menargetkan kunjungan 10 juta wisman. Dari 10 juta wisman tersebut ditargetkan masuk dari pintu-pintu kedatangan 40 % oleh Bali, 30% oleh Jakarta, 20% oleh Kepri, serta 10% oleh daerah lainnya. Menilik hal tersebut maka target yang harus dicapai oleh Batam, Bintan, Karimun, dan Tanjung Pinang adalah sebanyak 2,5 juta wisman. Sementara hingga bulan September 2015 lalu target baru mencapai sekitar 1.5 juta orang.  Pertanyaannya adalah sanggupkah Kepri  mencapai target 2.5 juta orang hingga akhir tahun ini? Sementara bencana asap selama hampir dua bulan telah melumpuhkan sektor ini. Beberapa event tour gagal, penerbangan dibatalkan, penyebrangan diberhentikan, dan rencana liburan wisman dan wisnus pun berantakan. Padahal pada tahun ini pemerintah sudah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) yang membebaskan visa kepada 90 negara. Dan dari 14 pintu masuk di Indonesia, 10 diantaranya dipegang oleh Kepri. 
  6. Wisatawan Nusantara (wisnus) pada tahun 2015 adalah sekitar 225 juta perjalanan, maka pada tahun 2019 ditargetkan naik menjadi 275 juta perjalanan.


Pak Guntur Sakti sedang Menyampaikan Informasi

Jadi setelah mengetahui target secara nasional, Maka bagaimanakah dengan Kepri? 

 

Pada tahun 2015 ini tingkat kunjungan wisman melalui pintu masuk yang ada di Kepri masih berada di posisi ketiga setelah Bali dan Jakarta. Namun jika pemerintah secara marathon membangun beberapa bandara internasional di kota-kota seperti Jogjakarta, Makasar, Medan, Palembang dan lainnya maka hal ini justru akan merugikan Kepri. Adanya direct flight dari negara asal yang langsung menuju kota-kota tersebut bisa jadi memangkas tingkat kunjungan yang datang melalui pintu-pintu di Kepri. Sementara di Kepri tidak ada direct flight dari luar negerihanya ada direct ferry.

Hal lainnya yang memberatkan bagi jajaran dinas pariwisata Kepri adalah begitu susahnya mengangkat nama Kepri ke mata masyarakat Indonesia. Karena seberapa pun usaha telah dilakukan yang terangkat justru malah Provinsi Riau. Salah satu contohnya ada kejadian ketika seorang pejabat di DPR berpidato dan menyebut yang terhormat Gubernur Riau padahal yang duduk di hadapannya adalah Gubernur Kepri. 
 

Contoh lainnya sebagian besar perwakilan event Musabaqoh Tilawatil Qur’an beberapa waktu yang lalu berkali-kali mengira bahwa akan terbang ke Riau bukan ke Kepri. Maka dari itu sudah mulai digalakkan penggunaan kata “Kepri” dan bukan “Kepulauan Riau” iya sih kita yang promosi gila-gilaan tapi tetap saja yang dapat nama Riau lagi Riau lagi. Hihi. 


Ohya, tulisan ini  tidak mengandung tendensi apa-apa, hanya saja saya sudah lelah, teman-teman lelah, bahkan semua orang lelah dengan pergulatan nama Kepri dan Riau ini. Bahkan kalau membuat lokasi Current City maka facebook, google, dan twitter mengenali Batam, Tanjung Pinang, Bintan, Karimun, Lingga, Natuna, dan Anambas sebagai bagian dari Riau. So where is Kepri?  Lebih parah lagi orang-orang sering salah saat akan membeli tiket pesawat menuju Tanjung Pinang ternyata yang dipesankan ke Pangkal Pinang di Bangka Belitung. Haisss.

Nah oleh sebab itu maka ada beberapa kebijakan-kebijakan yang akan dilakukan Pak Kadis salah satunya menggandeng Blogger untuk menjadi corong pemerintah dalam hal ini dinas pariwisata sehingga dapat menggairahkan industri ini. Setidaknya dapat meningkatkan kunjungan wisata nusantara ke wilayah Kepri.

Setelah uraian Pak Kadis yang benar-benar membuka mata seluruh blogger, maka acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh Pak Frangky. Beliau ini adalah jajarannya Pak Kadis di Dinas Pariwisata.

Acara selanjutnya ditutup dengan sesi foto-foto dan wefie. Alhamdulillah keinginanpara blogger bertemu Kadispar tercapai, semoga pertemuan ini menjadi trigger positif bagi perkembangan pariwisata Kepri ke depan. Amiiin.

Tuesday, November 17, 2015

Central Market Kuala Lumpur Tempat Belanja Benda-Benda Seni Malaysia

Taksi yang kami tumpangi perlahan berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai yang tampak sederhana. Di pintu masuk menuju bangunan tertulis  “Central Market Since 1888.” Dari sini kita bisa langsung faham bahwa pasar ini telah ada sejak tahun 1888. Woow.

Ya, inilah Central Market, sebuah pasar di pusat kota Kuala Lumpur yang menjual barang-barang seni khas Malaysia mulai dari kerajinan tangan, batik, lukisan, patung, kain, sarung, pakaian, dan berbagai benda seni yang antik lainnya. 

Teman saya,  Reny, sengaja meminta sopir taksi untuk mengantarkan kami ke Central Market guna berbelanja oleh-oleh untuk sanak saudaranya di Jakarta. Sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Krabi Thailand, kami masih punya waktu sekitar 4-5 jam lagi sebelum sorenya harus segera check in ke Bandara KLIA2.

Saya, Reny dan sopir taksi yang bernama Datuk Rajo, berjanji bertemu jam dua belas tepat di pintu gerbang. Jadi kami hanya punya waktu satu jam saja untuk berkeliling pasar seni ini. Setelah sepakat kami pun masuk ke area pasar yang dipenuhi benda-benda seni yang menarik mata. Karena mampir sana mampir sini saya dan Reny pun terpisah. Chila yang lagi senang-senangnya main sama Desti dan Shera kedua putrinya Reny,  jadi ngambek gara-gara kami tidak berhasil menemukan mereka.

Sudah beberapa kali mengitari pasar namun kami tidak juga bertemu Reny. Chila makin bete, namun saat kami menyusuri bagian belakang pasar, perhatian Chila teralihkan dengan galery lukisan yang menarik pandangan mata. Dua orang pelukis dengan lihai menggambar dan mewarnai gajah lalu menghiasinya dengan berbagai torehan seni. Chila tampak menyimak dengan serius.

Di sebelahnya lagi, seorang pelukis sedang mencontoh foto seorang perempuan berkerudung hitam yang sedang tersenyum. Sebuah pigura lukisan yang hampir jadi berada di samping foto tersebut. Saya bergantian memandanginya. Persis, mirip. Baru kali ini menyaksikan proses kreatif seorang pelukis dari dekat. Saya dan Chila mendekati dan meminta izin untuk memfotonya.
 
Chila malu-malu Berfoto sama Pelukis

Cakepan mana hayoo? Foto apa Lukisan?


Sejujurnya saya dan Chila menyukai lukisan. Bahkan dulu saya pernah bercita-cita ingin menjadi pelukis. Apa daya membeli kanvas dan alat lukis lainnya saja tidak bisa. Maka, jika kesukaan terhadap lukisan menurun kepada Chila, saya tidak aneh lagi. Justru ingin sekali membelikan alat-alat lukis agar Chila bisa berkreasi semaksimal mungkin.

Selain membelikan alat-alat lukis dan mengkursuskannya, saya ingin sekali membawanya pergi ke pameran di Jakarta. Di sana berbagai event dan pameran lukisan kerapkali digelar. Berbagai acara pameran berskala nasional dan internasional sangat seru untuk disaksikan.

Kalau sedang nonton televisi Chila suka bertanya-tanya tentang Jakarta dimana banyak terdapat wahana wisata air dan arena permainan untuk anak-anak. Dalam fikirannya tinggal di Jakarta sungguh menyenangkan karena bisa bermain-main air terus. Chila sudah berkali-kali bilang ingin main ke Jakarta walaupun sebenarnya kami sudah berkali-kali pula menginjakkan kaki di Jakarta. Sayangnya sih cuma mampir doang tidak benar-benar berkunjung dan menikmati wisata Jakarta, yang menurut saya cukup bersahabat dengan dunia anak-anak.

Event Tahun Baruan di Jungle Land. Foto: www. id.bookmyshow.com

Lain kali memang kudu menyengajakan pergi untuk berwisata ke Jakarta. Nggak bingung sih mau ngapain aja karena saya sudah tahu harus mengecek dimana event-event yang akan dilangsungkan di sana. Sebelum pergi bisa buat itinerary lengkap dengan menyesuaikan dengan jadwal event.

Mudah saja tinggal ngecek ada event apa yang menarik dari tanggal ke tanggal di website www.id.bookmyshow.com. Misalnya saja nih pas tanggal 31 Desember 2015 mendatang bakal ada perayaan pergantian tahun dan sekaligus menyambut tahun baru 2016 di Jungle Land. Jungle Land ini merupakan taman outdoor terbesar di Indonesia yakni seluas 87 hektar yang menawarkan aneka permainan dan petualangan. Kalau Chila bisa bermain di sana pasti bakal senang banget.

Eh balik lagi ke cerita di Central Market. Setelah satu jam setengah (ngaret nih) mengelilingi pasar seni  ini maka kami bertemu kembali di pintu masuk. Puluhan turis asing hilir mudik memenuhi ruang masuk pasar. Reny dan anak-anak membeli beberapa oleh-oleh, sementara  saya dan Chila cuma beli majalah National Geographic dan komik Upin-Ipin doang, hehe. Nggak apa-apa sih niatnya kan mau traveling bukan mau  shopping. Betul betul betul?


Central Market
Alamat: Jalan Hang Kasturi, 50050 Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan, Malaysia
Telepon:+60 3-2274 6542
Jam buka : 10.00 – 22.00

[Review] Jaket Ultra Light Down Uniqlo yang Hangat dan Ringan untuk Mendaki Gunung

Jaket Ultra Light
Mirip kaan? :D jaketnya :P
Saya sedang menyusuri lorong luas di antara deretan toko-toko yang menjual berbagai barang kebutuhan fashion saat pandangan mata terpaku pada gambar seorang model cantik berkulit hitam.  Dia mengenakan jaket berwarna hijau dan gambarnya terpampang besar-besar di kaca etalase sebuah toko. Toko yang berada di dalam sebuah mal yang dikenal dengan Suria KLCC.  Mal ini terletak tepat di bawah landmark kebanggaan rakyat Malaysia yakni menara kembar Petronas.

Rasa-rasanya saya mengenalinya. Apa? Siapa? Lina kenal dengan model kulit hitam ini? Widiiih keren banget saya kan. *jitakin kepala sendiri. Bukaaan. Bukan sama modelnya tapi sama jaketnya. Persis, persis dengan jaket punya saya dari mulai warna, bentuk, dan ukuran. Lirik body yang masih langsing singset. Wkwkwk. *sodorin kresek untuk muntah.

Saya mendekat dan berjalan ke sebelah gambar si model berjaket hijau. Di sampingnya mulai terlihat seorang bapak-bapak dan model ganteng mengenakan jaket yang mirip tapi dengan warna yang berbeda. Ahaa…yang ini mirip punya suami. Dan di gambar lainnya ada rompi ultra light down yang mirip punya Chila juga.

Saya semakin penasaran dan tanpa diperintah kaki langsung melangkah menjelajah ke setiap sudut toko. Woow…saya terbengong-bengong melihat tumpukan jaket gunung ultra light, baju fleece, kemeja flanel, rompi, celana cargo, jaket parka, dan pakaian kasual lainnya. Semua ini semakin membuat saya kalap pengen belanja.



Jaket Ultra Light
Saya dan Chila mengenakan Jaket Ultra Light
Kalau sebelumnya saya cuek dengan deretan baju-baju trendy dan modis di toko lainnya. Di toko ini saya menyerah kalah. Hampir semua benda yang dijualnya, saya sangat berminat beli. Kalau bisa tokonya pengen saya beli sekalian. Wkwkwk sombong. Gimana nggak mupeng coba, alat-alat untuk trekking, hiking, dan camping dengan konsep ultra light dijual berlimpah pah.

UNIQLO. Begitulah tulisan besar di depan toko ini. Dan semua pakaian yang dijualnya pun bermerk sama Uniqlo juga. Ketika saya bertanya kepada security perempuan untuk mengambil gambar di dalam toko,  ia keberatan namun saat ditanya tentang Uniqlo dia mendadak lancar menjelaskan.

Uniqlo adalah perusahaan Jepang dalam bidang perencanaan produk, produksi, dan distribusi pakaian kasual. Perusahaan ini membuka toko eceran pakaian kasual dengan merek sama yakni Uniqlo. Semua tahap dalam bisnis dikelola sendiri oleh perusahaan, mulai dari desain, produksi, hingga penjualan secara eceran.  Strategi kunci dalam model bisnis perusahaan ini adalah pesanan massal dalam partai besar untuk setiap artikel barang.

Setelah berkeliling toko berkali-kali, saya membeli pakaian heatttech oleh-oleh untuk suami. Pakaian ini bahannya sangat tipis namun sangat hangat jika dikenakan. Material yang dikandungnya dapat mengkonversikan kelembapan tubuh menjadi suhupanas dan mempertahankannya. Selain itu bahan yang digunakan mengandung cammelio oil sehingga teksturnya lebih lembut dan mencegah kulit mengering saat musim dingin atau udara berkurang kelembapannya seperti di gunung.

Saya membeli baju heattech seharga 38 ringgit atau setara dengan 125000 rupiah. Kalau di website Uniqlo Indonesia harganya sekitar 99.000 rupiah.


Jaket Ultra Light
Chila dengan jaket UL Uniqlonya

Dari segi kualitas, merk ini tidak diragukan lagi. Terlebih kami mempunyai pengalaman berkali-kali dalam menggunakannya. Contohnya saja saat di gunungPrau, Dieng bulan Agustus lalu, Chila yang mengenakan jaket dan rompi ultra light dari uniqlo tertidur pulas. Tidak terbangun dan tidak terganggu dengan hawa  dingin sama sekali.  Saya sampai takut Chila nggak bangun lagi. Berkali-kali memeriksa denyut nadi dan detak jantungnya. Hihi…paranoid banget. Padahal Chila memang tidur dengan nyaman. Keesokan harinya Chila bercerita kalau tidurnya memang hangat.

Keuntungan memiliki jaket ultra light adalah bisa dilipat hingga kecil dan bisa diselipkan di keril atau daypack yang sudah penuh sekalipun. Tidak menghabiskan banyak ruang, simpel dan sangat ringan.

Selain Ultra Light Down Jacket, jaket fleece pun sangat hangat dan nyaman untuk dikenakan dalan cuaca dingin. Jika anda mempertimbangkan harga jaket Ultra Light yang cukup mahal yakni sekitar Rp.1090.000 maka jaket fleece adalah pilihan yang tepat karena hanya dibandrol Rp. 199.000.



Sekeluarga semua pakai Ultra Light Down Jacket Uniqlo
Produk Uniqlo lainnya yang cocok bagi saya yang suka dengan kegiatan outdoor adalah kemeja flannel. Kemeja ini cukup ringan, hangat dan anti air.

Pengennya borong tapi apa daya isi dompet sangat terbatas. Setelah tahu ada Uniqlo Indonesia dan bisa melakukan pembelian secara online sepertinya saya bakal keranjingan belanja pakain-pakaian ini. Dan kalaupun harus membeli ke tokonya sudah nandain lokasi terdekat dari Batam yakni bisa beli di Uniqlo Harbour Front/Vivo City Singapura. Horeee.


UNIQLO Malaysia (Kuala Lumpur)
Lot C19, 20, 21, Concourse Level, Suria KLCC,
Kuala Lumpur City Centre, 50088
Kuala Lumpur, Malaysia.
Jam Operasional: 10.00 am – 10.00 pm
Telepon: +603 2166 3350


UNIQLO Indonesia (Jakarta)
LOTTE Shopping Avenue ( GF - 07 & 1F - 10 to 15)
Ciputra World 1 Jakarta, JL. Prof. DR Satrio Kav 3 -5,
Karet Kuningan Jakarta 12940
Jam Operasional :  11.00 am – 10.00 pm
Telepon:  021-29888060
Faximile:  021-29888061

UNIQLO Singapura
1 HarbourFront Walk, #01-41/42
VivoCity
Singapura 098585

Sunday, November 15, 2015

[Review] Rumah Makan Pondok Batam Kuring Bukit Senyum, Batam

Taman Bermain Anak-Anak
Gema gong yang dipukul berkali-kali terdengar cukup keras di gendang telinga. Saya dan Chila segera berlari kecil menuju gerbang sebuah rumah makan di kawasan Bukit Senyum, Batu Ampar, Batam siang itu. Si ayah masih memarkir motornya di tepi jalan dekat gerbang.

Karena hari sudah menunjukkan pukul dua siang, rencananya kami hendak makan siang meskipun sudah terlambat hampir dua jam. Sebelumnya Chila dan ayahnya asyik berenang di kolam renang hotel Swiss-Belinn yang terletak tepat di samping rumah makan ini.

Niat makan di sini pun sebenarnya kebetulan saja ketika malam-malam goleran sambil googling tempat makan di kamar hotel. Ternyata tak jauh dari situ, tepat di samping hotel terbaca Pondok Batam Kuring. Dari namanya saja langsung ngeh ini pasti rumah makan khas Sunda. Dan ternyata betul.

Seorang anak laki-laki begitu antusias mengayunkan pemukul gong. Tampak senang dan penasaran dengan benda yang mungkin dikiranya sangat aneh itu. Chila pun sama, ia mendekat dan menonton sambil keheranan. Setelah anak laki-laki tadi pergi Chil mencoba memukul gong dengan pelan-pelan.

Memasuki kawasan Rumah Makan Pondok Batam Kuring, saya dibuat terpesona dengan suasana rimbun dan teduh yang menghiasi sepanjang jalan masuk. Di sisi kanan setelah gong terdapat taman bermain anak-anak. Ada perosotan dan ayunan yang akan membuat anak-anak betah berlama-lama berada di rumah makan ini. Di sebelah kiri jalan masuk terdapat beberapa gazebo yang berjajar rapi dihiasi bunga-bunga yang hijau di sekelilingnya. Pada langit-langit gazebo tergantung wind chime dari kerang dan kentongan berbentung cabe merah. Ada juga calung, alat musik tradisional suku Sunda yang terbuat dari buluh-buluh bambu.

Jalan Menurun Menuju Ruang Utama Rumah Makan


Arena Bermain Anak-Anak


Deretan Gazebo di Dekat Pintu Masuk

Untuk menuju ruang utama rumah makan, jalan masuk mulai menurun. Di kanan kiri terdapat taman yang dihiasi patung-patung burung bangau yang tersebar rapi serta air terjun kecil menambah segar suasana.

Seorang pelayan datang dan menunjukkan letak mushola saat saya bertanya kepadanya. Saya pun menyusuri jalan lurus menuju mushola yang rimbun oleh pepohonan dan bunga-bunga. Semakin betah.
Pancuran Mini dan Para Penjaganya

Nuansa Laut Sangat Kental

Hiasan Kerang-Kerang di Meja

Chila dan ayahnya segera memilih tempat untuk kami makan. Daftar menu mulai dibaca pelan-pelan. Ada beberapa paket yang ditawarkan dan kami memesan paket A1 untuk 3 orang seharga 112.500 rupiah dengan menu nasi putih, ayam bawang, karedok, kangkung terasi, dan teh tawar. Karena nggak sah rasanya jika makan  tanpa sambal dan lalapan, maka kami pun segera minta tambahan di luar paket tersebut. Selain itu Chila yang belum terbiasa minum teh tawar, minta ganti minum dengan memesan air jeruk dingin.

Selain paket A1 ada juga paket A2, B1, B2, C1 dan C2 yang menunya bisa dilihat di gambar di bawah ini:


Pilihan Paket

Sambil menunggu pesanan datang, saya melihat-lihat ke ruang utama rumah makan. Lumayan luas dengan dekorasi yang unik, cantik dan menarik. Hiasan-hiasan yang bertema kerajinan berbahan dasar binatang laut seperti cangkang kerang sangat kental menghiasi setiap dinding, meja, langit-langit, dan sudut ruangan.

Yang lebih menarik di  salah satu meja terdapat mainan tempo dulu yaitu congklak. Sontak saja saya senang dan mengajak Chila bermain congklak. Karena di rumah kami pun punya congklak maka Chila sudah lumayan mahir memainkannya.

Chila Bermain Congklak

Paduan Dekorasi Ruangan yang Menarik


Ruang Utama Rumah Makan

Pesanan makan siang sudah datang dan terhidang menggoda di meja gazebo. Kami bergegas meninggalkan tempat bermain congklak. Segera menyiapkan perut yang sudah lapar semenjak tadi.

Alhamdulillah makan siang saat itu terasa nikmat. Chila yang sangat picky eater saja ternyata suka dengan hidangan ayam bawangnya. Ayamnya saja sih yang dia makan. Bawangnya seperti biasa selalu disingkirkan.

Bumbu karedoknya pun cukup berasa, tapi sepertinya ada yang kurang. Kurang banyak maksudnya hehe, mengingat porsi makan saya bisa dua kali lipat nambah jika berhadapan dengan sambal dan lalapannya. 

Menu Makan Siang

Saat menyeruput teh tawar, ingatan saya mendadak melayang ke kota kelahiran di Garut sana. Seperti inilah hidangan teh yang biasa kami nikmati sehari-hari. Tawar tanpa rasa manis gula. Baik di rumah keluarga maupun saat bertamu ke rumah-rumah saudara dan tetangga. Teh dalam budaya kami adalah teh tawar seperti ini. 

Baca juga tulisan tentang Resto Sunda yang lainnya.


Untuk pemesanan hubungi:

Rumah Makan Pondok Batam Kuring
Jalan Prambanan No. 40-41
Bukit Senyum, Batu Ampar, Batam
Telpon: (0778) 456652






Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...