Kamis, 31 Desember 2015

Menangkap Momen di Cahaya Minim dengan Kamera Ponsel Huawei G8

Menjelang akhir tahun, pasti banyak acara party dan BBQ dinner bareng temen-temen kantor, temen-temen deket, atau keluarga. Nah, biasanyakan banyak momen seru tuh di party, paling sebel kan kalo momen-momen itu gak bisa kamu abadikan gara-gara kamera ponsel kamu lelet, atau lebih sedih lagi, momennya dapet tapi hasilnya gelap gara-gara pencahayaan ruangan temaram. Hiks, momen keren kan nggak bisa diulang!

“Makanya pake flash, dong!”

Buat saya sih, motret pakai flash itu bikin hasil foto jadi ‘palsu’. Flash kamera bikin objek foto jadi keliatan unreal. Jadi, gimana dong? Ini tips jitu dari saya!

  • Daripada pakai flash internal kamera, mending kasih cahaya tambahan seperti dari senter atau cahaya flash dari ponsel teman kamu. Light stick juga bisa bikin efek yang keren buat foto. Hasil foto mungkin tidak terlalu terang, tapi pasti keliatan cool!

  • Ganti ponsel kamu sama Huawei G8. Yes, akhiri tahun dengan ponsel baru dong! Kamera ponsel Huawei G8 ini punya outstanding low light performance. Kualitas close-up shot-nya lebih baik walaupun berada dalam cahaya yang minim thanks to RGBw Sensor.



Cobain deh tips saya di atas, berani jamin hasil foto dari momen-momen pesta kamu bakal jadi dapet 1000 Likes di medsos! Lebay sih, tapi siapa tau? Kalau masih belum yakin, google Huawei G8 sekarang juga ya!

Selasa, 29 Desember 2015

Kaleidoskop Perjalanan Blog Sepanjang Tahun 2015



Setahun yang lalu tepatnya pada tanggal 17 Desember 2014 saya memutuskan untuk lebih serius ngeblog dengan membeli domain dan mengganti nama blog saya yang sebelumnya www.sierrasavanna.blogspot.com menjadi www.linasasmita.com.

Kedua nama blog di atas bukan blog yang pertama karena sebelumnya pada tahun 2005 saya sudah mengenal multiply. Lalu pada tahun 2009 saya pernah juga membeli domain dan hosting sekaligus dengan nama www.linawiati.com. Karena harus memulai semuanya dari awal, saya bingung tidak mengetahui cara-cara membangun sebuah website. Meskipun sudah belajar dreamweaver dan beberapa software yang berhubungan dengan blog. Aslinya emang gaptek. Alhasil, setahun blog tersebut saya anggurin dan sama sekali tidak diisi. Boro-boro mau ngisi cara memasukan tulisannya pun belum bisa. Lalu pada saat perpanjangan usia website, saya melewatkannya karena merasa gagal dan tidak berhasil belajar otodidak. Sedih.


Pencapaian Ngeblog:

Nah di bulan Desember 2014 itulah niat kembali membangun blog semakin membara. Alhamdulillah meskipun niat awal ganti domain ini murni karena hobby dan keinginan mendokumentasikan perjalanan mendaki gunung, ternyata pada bulan januari 2015 seorang teman blogger yang baik hati menawari saya untuk ikut bergabung menjalin kerjasama dengan sebuah situs e-commerce. Karena saat itu saya kurang pede maka tawaran tersebut belum disambut baik mengingat Domain Authority (DA) masih di bawah 10 serta Alexa yang genduuut banget di angka sebelas jutaan. Setelah mengikuti sarannya, Alhamdulillah Alexa dari 11 juta mendadak ramping singset bak perawan desa hanya dalam waktu satu bulan menjadi 582.208. Wooow, Alhamdulillah banget.

Berangkat dari situ, Februari 2015  saya pun memberanikan diri untuk mengajukan kerja sama. Ternyata nggak menunggu lama, email dibalas dan langsung diterima. Alhamdulillah. Awalnya masih belum percaya sepenuhnya, tapi ternyata tidak ada penilaian apapun langsung sudah bisa nulis sesuai kehendak, passion, dan niche blog kita. Ini kerja sama yang asyik banget karena nggak nyampah dan suka-suka kita mau nulis apa.

Karena termotivasi dengan kerja sama itu saya pun menargetkan untuk bisa posting minimal 10 postingan tiap bulannya. Alhamdulillah sepanjang Februari hingga Desember 2015 ini sudah konsisten minimal menulis blog 10 postingan kecuali pada bulan April hanya bisa publish 7 postingan.  Itupun dikarenakan pada bulan tersebut saya nge-trip lebih dari 10 hari ke Lombok, Sumbawa dan Pulau Komodo.

Sepanjang tahun 2015 inilah semangat dan dorongan ngeblog semakin menemukan jalannya. Undangan-undangan sebagai blogger, job review dari beberapa brand ternama, pertemanan dengan blogger yang semakin akrab, hadiah-hadiah mengikuti giveaway blogger hingga berhasil membuat giveaway perdana yang disponsori oleh salah satu tour and travel ternama di kota Batam. 

Bila mengingat pencapaian di atas  sungguh dikarenakan saya dikelilingi oleh teman-teman blogger yang baik hati dan mendukung satu sama lain. Yang pada akhirnya kebaikan membuahkan kebaikan secara viral dan berantai kepada yang lainnya juga. Dan saya percaya kebaikan-kebaikan itu tetap tercatat di atas sana. Jadi jangan sungkan-sungkan membagi kebaikan kepada yang lain karena itu akan kembali kepada diri kita sendiri. Catat!

Saya ngeblog karena passion, namun jika belakangan mendapatkan materi berupa barang dan uang, maka saya anggap itu adalah bonus yang semakin men-trigger semangat ngeblog saya ke titik tertinggi.

Pencapaian Lainnya:

Saya dasarnya emang suka kompetisi, jadi paling suka ikut quis-quis di facebook, twitter, dan Instagram. Nah di awal tahun 2015 dibuka dengan manis oleh kemenangan lomba dari Astralife.  Setelah itu menang quis indosat, menang quis voucher hotel Swissbel, menang quis anlene, menang lomba menulis catatan perjalanan #Amazincjourney dan lainnya. Emang masih mujurnya di quis dan lomba-lomba yang diadakan di luar blog.

Salah satu hadiah di Bulan Januari 2015
Di tahun ini semangat menulis untuk buku rada kendur dibanding tahun sebelumnya, jadi tahun ini cuma bisa menelorkan buku antologi satu saja, padahal pengennya ngeluarin buku solo entah itu dalam bentuk kumpulan cerpen, novel, atau buku panduan tentang traveling. Duh semoga tahun depan bisa konsisten nulis buku.
Buku Antologi Backpacker Wannabe

Tahun ini pula saya mulai memberanikan diri menulis untuk media. Termotivasi oleh Mbak Katerina travelerien, Mbak Zulfa Emakmbolang, Dian Adventurose dan Kang Ali Muakhir yang tulisan di medianya tayang tiap minggu tiap bulan. Duh kadang sering bertanya-tanya dalam hati lah gue kapan ya? 

Pengaruhnya adalah ketika berteman dengan para penulis media kita pun jadi termotivasi untuk ikut menulis di media. Dan di bulan November lalu saya memberanikan diri mengirim tulisan ke majalah Ummi. Kaget emailnya langsung dibalas dan esoknya lagi dibilang tulisan saya diterima. Duh bahagianya luar biasa. Ternyata saya bisa? Sedih campur bahagia. Bukan nilai materi dari honor yang diterima tapi bangga bahwa tulisan kita diapresiasi. Tulisan pertama itu berjudul Harmoni yang terjaga di Kampung Naga. Semoga tahun depan saya semakin rajin menulis untuk media kalau bisa tiap bulan tayang. 




Jalan-Jalan Pengisi Tulisan di Blog Selama Tahun 2015:

  1. April 2015 saya mendaki Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Pendakian ini guna berpartisipasi memperingati 200 tahun meletusnya Gunung Tambora. Karena tidak ada direct flight dari Batam ke Sumbawa maka saya berangkat dari Johor menuju Lombok. Dari Lombok bersama teman-teman menaiki kendaraan roda empat. 22 jam kemudian kami baru tiba di Desa Pancasila yang terletak di kaki gunung Tambora. Turun dari Tambora saya melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Komodo. Saat itu saya menyesal belum bisa snorkeling juga diving. Suatu saat saya akan mengulang lagi untuk pergi ke Komodo.  Tulisan tentang Tambora, Sumbawa, dan Taman Nasional Komodo menjadi penyumbang terbanyak di tahun ini dan itu pun masih menyimpan stock jalan-jalan di Lombok untuk tulisan bulan berikutnya. 
  2. Puncak Gunung Tambora
  3. Agustus 2015 saya bersama keluarga mengunjungi Jogjakarta dan Dieng. Tujuan utama yakni mendaki gunung Prau dan gunung Sikunir. Perjalanan singkat namun padat merayap karena terganjal cuti saya yang sudah menipis. 
    Saya di Gunung Prau
    Jogja di Malam Hari
  4. November 2015 saya dan Chila piknik asyik ke Kuala Lumpur dan Krabi Thailand. Sekali-kali jadi turis asing di negeri orang.  Style-nya emang turis banget karena pakai travel bag, ber- high heel ria, dan kemana-kemana kayak #horangkayah naik taksi terus (itu pun karena dibayarin teman yang sama-sama nge-trip haha). Biasanya style traveling saya backpacker kere. Apa-apa mau murah meriah. Tidur di hostel, makan di kaki lima atau pujasera, transport kadang mencegat truk atau mobil pick up, dan kadang nggak mandi berhari-hari. Hehe. Laaah kalau di gunung gimana mau mandi coba? Air aja seringnya nggak nemu. 
    Aonang Beach, Krabi, Thailand
  5. Selain ketiga hal di atas saya tetap keliling ke beberapa pulau di sekitar Batam. Pengennya sih bisa mengunjungi semua pulau yang ada di Batam dan Kepri namun lihat situasi dan isi atm pastinya. Syukur-syukur ada yang bayarin kalau nggak ada juga gak apa-apa  udah biasa bayarin diri sendiri :D 
    Snorkeling di Pulau Dedap
Jadi harapan ke depan di 2016 saya ingin mengelola blog ini lebih profesional lagi. Pengen ikut lomba-lomba blog dan give away lebih banyak lagi, pengen naikin traffic,  pengen menggendutkan DA tapi juga merampingkan Alexa seperti rampingnya Alexa Kei :D

Tolong diaminkan ya. Amiiin!  Terima kasih yang sebanyak-banyaknya yaaa kamu sudah membaca blog saya! 

Salam Damai dari Batam.

Minggu, 27 Desember 2015

Harmoni yang Terjaga di Kampung Naga Terbit di Majalah Ummi

Hutan dan lembahnya masih lestari. Sebab, penduduk hanya mengambil keperluan dari alam secukupnya. Warisan budaya karuhun (leluhur) termasuk larangan dan pantangan, tetap teguh dipegang penduduknya..

Senja nampak indah dan bersahaja kala saya melangkah melewati gapura bercat putih dan beratap ijuk. Tak ada tulisan yang menjadi petunjuk di atas gapura itu. Memasuki pelataran, suasana begitu lengang. Saya menyapa seorang lelaki paruh baya yang berbaju batik dan mengenakan iket (penutup kepala dai kain yang dililit melingkari kepala)



Laki-laki kurus itu tampak baru saja melepas tamunya pulang. Saya langsung menerka dia adalah warga Kampung Naga yang bisa menjadi pemandu bagi tamu yang datang ke sana. Ya, tujuan saya adalah Kampung Naga, Tasikmalaya, Jawa Barat.

"Tiasa ngajajap ka Kampung Naga, Mang? Saya bertanya menggunakan bahasa Sunda kepada lelaki itu, apakah ia bersedia mengantarkan saya ke Kampung Naga. Ia mengangguk sambil tersenyum lantas memperkenalkan dirinya.

Mang Ajen lalu mengajak saya menyusuri gang berplester semen diantara rumah-rumah panggung berdinding bilik bambu. Kemudian kami melintas kebun, selokan, dan kolam-kolam ikan yang di atasnya terdapat pemandian umum. Beberapa ibu tampak asyik mencuci piring dan peralatan masak lainnya.

Dari kolam ikan inilah pemandangan Kampung Naga mulai jelas terlihat. Atap-atap rumah berwarna hitam yang terbuat dari ijuk berjejer rapi menghadap ke satu arah mata angin. Saya menghela nafas panjang. Hati seolah sesak oleh rasa syukur karena dapat menyaksikan secara langsung sebuah kampung yang masih meyimpan adat karuhun Sunda di tengah gempuran arus globalisasi masa kini.

Selengkapnya bisa dibaca di majalah Ummi No.12 XXVII Desember 2015 atau 1437 H.








Alhamdulillah tulisan tersebut tayang di rubrik perjalanan majalah Ummi edisi Desember 2015. Sebenarnya sudah lama punya keinginan mengirim tulisan ke media namun selalu terkendala berbagai hal, diantaranya "kurang pede." 

Suatu hari saya membaca postingan Mbak Zulfa (www.emakmbolang.com) yang berjudul Daftar Majalah dan Koran Yang Menerima Tulisan Jalan-Jalan. Wuaa ini dia yang dicari-cari. Langsung tertarik ingin mencoba. Saya copy paste tulisan tersebut lalu saya print. Berharap semua media yang tercantum di print out tersebut bisa saya kirimi tulisan. 

Dan tulisan tentang Kampung Naga inilah yang terbit pertama kali di majalah. Sungguh ini semua karena modal keberanian mengirim. Ternyata setelah mengirim justru saya malah ketagihan. Alhamdulillah baru pertama mengirim sudah langsung tayang. Seandainya tidak, bisa-bisa saya down tidak mau mengirim tulisan lagi hehe.
  


Sabtu, 26 Desember 2015

Ketika Cinta Bersemi di Gunung Ciremai


Pendakian Gunung Ciremai
Vegetasi Teratas Hutan Ciremai

    
   Sabtu di bulan Desember 2015 ini, ketika sedang online memegang smartphone dan menyimak berbagai perbincangan di beberapa grup WhatsApp, tiba-tiba ada pesan masuk dari seseorang yang selama ini bersama-sama mengarungi hidup bersama dalam bingkai rumah tangga.

             “Bund, kena musibah,” Tulisnya.
    
             “Kenapa?”

             “Nanti cerita,”
 Ia menghindari menjawab.

  
          “Ayah jatuh dari motor?” Saya langsung menodongnya penasaran.

            “Ditabrak tp gpp, cuman
kayaknya minta rawat inap.” Rawat inap? 

            Gubraksss. Jantung terasa copot. Yang namanya ditabrak bukannya nggak apa-apa tapi pasti kenapa-kenapa dan ada apa-apa. Begitulah dia, di saat kondisi kecelakaan pun selalu tak ingin membuat saya panik dan kerepotan.

            Saya termangu. Mencerna setiap baris dari apa yang ditulisnya. Air mata mulai merembes lalu tergugu sambil terduduk di lantai. Inikah musibah ataukah ujian yang akan rumah tangga kami jalani?

            Perlahan seperti ada yang terlepas dari raga tatkala seseorang yang kita cintai dan kita sayangi sedang berjuang melawan rasa nyeri. Perlahan itu pula kisah lama mulai berlompatan, berloncatan dalam ingatan bak kembang api di suatu perayaan. Kenangan saat pertama kali mengenalnya di suatu waktu dulu.


 ***

Maret 2004. Terminal Lebak Bulus, Jakarta. Sepertinya ini adalah awal pertemuan di dunia nyata antara saya dan seseorang yang kini telah hampir 9 tahun mengarungi bahtera hidup bersama.


Terminal Lebak Bulus
“Kenalkan ini Ical!” Kata  ketua rombongan, orang yang bertanggung jawab terhadap event pendakian bersama gunung Ciremai yang akan kami jalani hari itu. Lantas seseorang yang diperkenalkan itu mendekat. Tangannya terulur seiring senyum ramah tersungging di bibirnya. Saat sekilas menatapnya, ada segores tanda dalam hati entah itu apa. Namun rasanya seperti menyimpan kepompong yang sewaktu-waktu akan melepaskan ribuan kupu-kupu ke udara. Saya menyambut uluran tangannya. Dalam hati bertanya-tanya, apakah dia? Entahlah. Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Belasan ransel besar tersusun rapi berdiri dalam mobil pick up yang kami carter. Saat itu kami dalam perjalanan bersama-sama menuju Desa Apuy di Kabupaten Majalengka setelah sebelumnya menaiki bis antar kota antar provinsi. Desa Apuy adalah desa yang akan menjadi pintu masuk  kami menuju jalur pendakian gunung Ciremai. Gunung dengan ketinggian 3078 mdpl ini merupakan gunung tertinggi di Provinsi Jawa Barat.

Pemandangan Menuju Desa Apuy Majalengka

Pendakian Gunung Ciremai via Jalur Apuy
Di Desa Apuy

Desa Apuy saat itu mulai ramai dikunjungi para pendaki karena dijadikan jalur alternatif pintu masuk menuju Gunung Ciremai. Sebelumnya, jalur yang biasa dgunakan yakni melalui jalur Linggarjati dan Palutungan di Kabupaten Kuningan. Jalur Linggarjati terkenal sebagai jalur yang sulit karena terlalu panjang dan terjal. Sedangkan jalur Palutungan belum terlalu populer.

Berangkat dari Desa Apuy (1204 mdpl) para pendaki diuntungkan dengan titik daki dari ketinggian lebih dari seribu meter. Jalur dari Desa Apuy ke Pos 1 (Blok Arban 1614 mdpl) pun masih berupa jalan lebar berbatu yang bisa dilalui oleh kendaraan roda empat. Ini berarti total ketinggian yang didaki via jalur Apuy dari Pos 1 hingga ke puncak Ciremai sebenarnya hanyalah 1.464 meter saja.

Tiba di Desa Apuy pun para pendaki dapat berwisata terlebih dahulu ke air terjun Muara Jaya yang tidak begitu jauh. Hanya berjalan ke bawah desa kurang lebih 300 meter. Air Terjun Muara Jaya ini bertingkat-tingkat dengan ketinggian total sekitar 73 meter.

Saat itu saya bersama 19 rekan lainnya yang tergabung dalam  grup mailing list (milis) High Camp di yahoogroups memulai pendakian ke Gunung Ciremai dari Pos 1 Blok Arban. Dan dari sinilah kisah pendakian gunung yang penuh romansa bermula.
 
Pendakian Ciremai via Jalur Apuy
Tim Pendakian High Camp ke Gunung Ciremai pada Maret 2004

***

           “Sekarang ayah dimana?” Huruf demi huruf saya ketik dengan teramat lambat. Dalam dada gemuruh rasa khawatir yang tidak menentu. Namun setidaknya ketakutan yang paling ditakuti telah sirna tatkala kecelakaan yang diceritakannya masih dapat membuatnya mengirim kabar.

             “Nanti ke Rumah Sakit Otorita Batam saja” Ia tidak menjawab dan berusaha mengalihkan pertanyaan.

            “Sekarang ayah dimana?” Saya mengulang pertanyaan sekali lagi.

            “Bunda jangan sedih”

             “Gimana nggak sedih Yah itu kan kecelakaan” Air mata banjir sudah. Saya semakin terisak membayangkan ia kini sedang berdarah-darah di suatu tempat. Entah di pinggir jalan, mungkin di rumah sakit atau di kantor polisi?

      
***

Saya mendapatinya berjalan pelan di antara jalur menanjak antara Pos 1 dan Pos 2. Berjalan beriringan susul-menyusul. Tangannya memegang tasbih kecil seperti sedang berdzikir mengeja Asma-Nya satu persatu. Sebersit kekaguman mulai menghinggapi. Mendadak malu pada diri sendiri yang hanya terpukau mengamati vegetasi gunung sambil bernyanyi dalam hati lagu semasa kecil dulu, naik-naik ke puncak gunung. 

Pendakian Ciremai via Jalur Apuy
Pos berapa ya? Nggak jelas dan sudah lupa :D

Pos demi pos terlewati. Goa Walet pun telah jauh di belakang. Semakin lama kami semakin mendekati ketinggian puncak. Saya dan dia secara tidak disengaja selalu bersama. Mungkin karena ritme langkah kaki yang sama atau memang ada ikatan lain yang mengikat batin tanpa kasat mata. Begitu pun saat tiba di area puncak gunung, saat berkeliling kawah, dan saat memasang tenda, kebersamaan kami makin terlihat akrab. Entah merasakan saling ketertarikan atau tidak namun jauh di lubuk hati ada perasaan aneh yang menelusup. Semua membuat tanda tanya semakin membesar.

Kawah Gunung Ciremai
Kawah Gunung Ciremai dari Puncak Syarif

Saya di antara Ical, Hanif dan Bang Hendri

Ketika turun gunung melalui jalur Linggarjati yang panjang dan berliku, saya berada di depan rombongan pendaki. Sengaja mempercepat langkah untuk menikmati kesendirian sambil menikmati kesegaran hembusan udara gunung yang mengalir melalui hidung dan paru-paru. Mengamati pepohonan, mengamati lumut dan dedaunan. Atau terkantuk-kantuk karena kacapekan. Menikmati kesendirian di hutan belantara selalu membuat diri begitu rendah dibanding keagungan pencipta-Nya. 

Saya tiba di Pos Sangga Buana. Beristirahat sambil terududuk di sebuah batu yang cukup besar. Namun saat dalam kesendirian itu saya dikagetkan oleh kehadirannya. Sepertinya ia sekuat tenaga berusaha berlari mengejar saya. Hujan mulai mengguyur. Saya dan dia basah kuyup meskipun raincoat dan ponco telah kami kenakan.

Dalam lapar dan gigil yang cukup mengguncang tubuh, ia menawarkan sebutir apel hijau sebagai pengganjal perut. Mengamati sikap dan perhatiannya, hati mulai merasa curiga, adakah sesuatu yang tak biasa dari semua itu? Ah, saya perempuan. Rasa dan naluri selalu bisa menangkap gelagat seperti ini.

Terlalu lama menunggu tim pendakian berkumpul di pos tersebut rasanya tidak mungkin. Kalau tidak bergerak tubuh kami akan semakin kaku karena dingin. Dan di ketinggian seperti itu tentu rawan bagi kami terkena hipotermia. Saya pun melangkahkan kaki mengikuti jalur turun ke pos Batu Lingga diikuti oleh dia.

Entah di pos mana, kami berhenti dan menunggu tim berkumpul semua. Tidak mungkin meninggalkan mereka dalam hari yang mulai gelap. Kami pun memutuskan untuk menunggu, beristirahat dan membuatkan teh hangat untuk mereka yang kemalaman. Setelah genap dua puluh orang kami memutuskan menginap satu malam di pos tersebut. 

Melalui jalur Linggarjati ini meskipun dalam kondisi turun gunung (yang umumnya dilakukan dengan cepat), tim pendakian kami kepayahan dengan jalur yang licin karena hujan. Belum lagi beberapa anggota tim yang terpeleset, cedera, atau terluka.  

Vegetasi Puncak Ciremai
Vegetasi Cantigi Gunung Ciremai


***

          "Ku gpp, cuma ada tulang yang di rontgen, yang lain lecet-lecet saja" Tulisnya dalam pesan di WA. Saya terhenyak. Di rontgen berarti ada tulang yang dicurigai patah. Di layar atas smartphone terlihat ia sedang online dan writing.

            "Di situ sama siapa?"
       
            "Orang kantor, ini lagi cari rujukan. Kukabari ya, ku gpp,"

            "Cuma mungkin operasi tulang belikat saja" Saya menyimak. Ia lantas mengetik lagi.     

            "Sudah di rontgen, memang patah sebelah kiri"   Ya Allah. saya kembali bercucuran air mata. Namun kali ini segera beranjak dan rapi-rapi untuk segera menyusulnya  


***

Keesokan harinya kami turun ke Linggarjati. Dari Linggarjati rombongan kami menuju Stasiun Kereta Api Cirebon untuk selanjutnya menuju ke Jakarta. Saya resah, ada sesuatu yang terus mengganjal dalam ingatan yakni kata "perpisahan." Akankah kelak kami dipertemukan lagi? Sementara saya harus terbang kembali ke Batam.  

Dia menatap ragu. Seperti ada sebaris kata yang hendak diucapkannya. Saya sekilas mencuri pandang. Wajahnya layu seperti ada harap yang tak terungkap. Selamat jalan, hati-hati di jalan. Hanya itu yang sempat terekam dalam ingatan. Dan kami pun berpisah untuk sekian waktu yang tak kan diketahui lagi. Untuk terakhir kali, saya menatapnya melangkah jauh di balik stasiun kereta api.


***

          Suara deru mesin mobil terhenti di halaman rumah. saya mengintip dari balik gorden. Pintu mobil terbuka. Dia terlihat lemah dan lelah dengan tubuh tersandar ke jok mobil. Kemejanya telah dilepas. Tangan kirinya terikat arm sling yang menyangganya agar tidak terlalu banyak bergerak.

          Ya Allah semoga dia baik-baik saja. Gumam saya dalam hati lantas dengan terburu-buru mempersiapkan pakaian ganti untuknya. Ketukan pintu berkali-kali terdengar. Saya berteriak meminta untuk menunggu. Entah  apa saja yang saya masukan ke dalam tas karena terburu-buru lalu secepat kilat keluar dan mengunci pintu rumah.

       Pandangan saya tak henti-henti menatapnya. Ingin rasanya memeluk dia. Memintanya untuk tetap tabah atas semua musibah ini. Allah sungguh Maha Baik mengembalikan ia yang terkena kecelakaan tertabrak bis di jalan raya hanya dengan sedikit patah tulang bahu kiri. Sekilas ngeri membayang kecelakaan itu mungkin saja akan merenggut nyawanya. Namun sungguh saya bersyukur kepada-Nya, Ia masih memberi kesempatan kepada kami untuk tetap bahu-membahu meneruskan kebersamaan ini.

          Saya menghampirinya. Ia tersenyum lemah. Senyum dari wajah yang sama saat kali pertama bertemu di pendakian Ciremai dulu. Senyum ramah yang menyejukkan hati. Yang menjadi obat dan pelipur resah selama ini.

          "Aku nggak apa-apa kok Bund." katanya menenangkan. Hati yang selalu waswas siang malam memikirkan keselamatannya semakin menjerit lirih. Ya Allah lindungi  ia selalu dalam setiap perjalanan. 

        Mobil yang kami kendarai meluncur di jalan raya. Tujuan pertama kami saat itu adalah bertemu si penabrak yang kabarnya mau bertanggung jawab. Dan hingga saat itu semua orang dalam mobil masih kebingungan apakah membawanya ke rumah sakit atau mungkin juga ke alternatif. Namun tentu saja saya akan mengusahakan agar ia segera tertangani dengan cepat dan tepat. 

Rabu, 23 Desember 2015

Jalan-Jalan dan Belanja Konyol di Kota Krabi Thailand



Bagi shopaholic, berjalan-jalan ke luar negeri memang nggak seru jika tidak belanja membeli-belah. Seperti halnya Reny, teman baik saya semasa SMA yang kini jadi teman jalan-jalan ke Krabi , Thailand Selatan. Selain karena hobby belanja, mamih-mamih cantik yang satu ini memang dikenal sebagai penyayang dan perhatian kepada keluarga. Jadi kalau pergi kemana saja dia akan menyempatkan belanja oleh-oleh untuk keluarga. 

Setelah jalan-jalan ke Wat Tham Sua atau Tiger Cave kami pun meluncur menuju Tesco Lotus sebuah mal di Krabi yang menurut kami sih biasa saja. Tujuan utama mencari oleh-oleh. Namun nihil, mal ini tak jauh beda dengan mal-mal biasa di Indonesia. Penuh dengan barang-barang yang sudah umum dijual dimana pun. Jadi kami pun bertanya kepada penduduk lokal apakah ada pasar tradisional yang menjual oleh-oleh khas thailand. Kebanyakan mereka bingung sendiri mau jawab apa. Haha.

Senin, 21 Desember 2015

Wahana Pengetahuan Tentang Minyak Bumi di Petrosains Discovery Center

Selain berkunjung ke Sky Bridge dan lantai teratas bangunan Menara Kembar (Twin Towers) Petronas Kuala Lumpur, rasanya belum lengkap jika belum mengunjungi Petrosains. Petrosains bertempat di lantai 4 dan 5 dari kedua Tower 1 dan Tower 2. Mencakup area pameran dengan luas total lebih dari 7.000 meter persegi. Pintu masuk  ke Petrosains dapat dicapai melalui lantai 4 Mall Suria KLCC yang terletak tepat di bawah kedua tower Petronas.

Petrosains merupakan sebuah wahana pameran & musium yang sekaligus menjadi pusat penemuan ilmu pengetahuan terutama yang berhubungan dengan perminyakan. Didirikan berdasarkan komitmen Petronas sebagai perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial dan bertujuan untuk meningkatkan literasi sains yang merangsang gairah untuk memperoleh pengetahuan ilmiah di Malaysia.

Peraga Gunung Berapi

Dirancang sebagai pusat modern dan kontemporer yang memungkinkan pengunjung untuk menyentuh, merasakan dan memanipulasi fitur interaktif pada layar. Fitur interaktif  ini dikombinasikan dengan sentuhan unsur teater dan futuristik yang dapat menawarkan kepada pengunjung berbagai pengalaman belajar yang lebih konstruktif. Beberapa lokasi pameran dilengkapi dengan alat peraga tematik, gambar tiga dimensi, efek simulasi dan rekreasi spektakuler dengan efek visual dan suara yang nyata.

Penggunakan pendekatan interaktif yang menyenangkan dalam menceritakan kisah ilmu pengetahuan dan teknologi dari industri energi dapat diperoleh di Petrosains. Urutan pameran di Petrosains dimulai dari jejak evolusi dan relevansi ilmiah industri energi. Setelah itu ada pameran-pameran dengan pendekatan ilmu pengetahuan umum dan aplikasi untuk kehidupan sehari-hari. Pendekatan pada praktek langsung menempatkan penekanan pada “belajar itu sangat menyenangkan” bukan dengan cara menghafal fakta-fakta ilmiah.

Area pameran yang kami kunjungi adalah sebagai berikut:

Dark Ride
Dengan membayar tiket masing-masing sebesar 26.50 Ringgit untuk Saya & Reny dan 21.20 Ringgit untuk Shera, Desti, dan Chila, kami melalui pintu masuk menuju ruang pameran Petrosains. Setelah melewati pemeriksaan tiket kami diarahkan untuk menaiki kendaraan melalui rute Dark Ride di atas gondola yang dapat berputar 180 derajat. Gondola berjalan di rel seperti kereta api dan  memasuki lorong yang gelap. Lorong-lorong gelap menampilkan layar besar yang menayangkan hutan hujan Malaysia, pegunungan, dan pemandangan bawah laut secara audio visual. Presentasi berakhir dengan penggambaran berbagai pencapaian ilmu pengetahuan modern di Malaysia.


Saya jadi astronout :D
Space
Di ruangan ini kita dibawa menjelajah teknologi luar angkasa terbaru. Mengamati bagaimana astronout hidup dan bekerja di luar angkasa melalui video dari awak Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station) atau ISS. Di sini pengunjung dapat mencoba sebuah program NASA menjelajah Planet Mars menggunakan robot  Rover tiruan yang berkeliaran di permukaan planet Mars untuk mencari tanda-tanda kehidupan. Selain itu merasakan bagaimana badai terjadi di Planet Jupiter dengan memasuki sebuah tabung yang menghembuskan angin berkecepatan tinggi. Reny dan anak-anak mencoba wahana ini. Saking kencangnya kecepatan badai ini, kerudung Chila sampai terlepas dan terbang.


Geotime Diorama
Pada ruang pameran ini terdapat landscape vulkanik yang menggambarkan peristiwa pada zaman purba. Dimana T-Rex, Dinosaurus, dan hewan purba lainnya masih hidup. Di sini juga menerangkan kepada kita bagaimana awal mula terbentuknya minyak bumi. Berada di ruangan ini kami seakan dibawa ke 200 juta tahun yang lalu. Saat memperkenalkan T-Rex kepada Chila, dia agak ketakutan dan bahkan kabur sebelum saya foto. T-Rexnya didesain sesuai ukuran asli dilengkapi dengan suara dan nyanyiannya yang khas.

Reny dan Desti Bermain dengan T-Rex 

Geotime Diorama 

Sparkz
Wahana selanjutnya adalah SPARKZ sebuah wahana yang cocok untuk anak-anak bersenang-senang. Memainkan pesawat terbang dari kertas dan menyaksikan layar lebar yang menampilkan seni interaktif.
 
Layar-Layar yang Menayangkan Seni Interaktif

Oil Platform
Yang paling menyenangkan bagi anak-anak adalah saat berada di Platform Minya Bumi atau Oil Platform. Wahana ini merupakan tiruan sebenarnya dari kilang minyak di lepas pantai. Semua alat dibangun berdasarkan skala sebenarnya. Beberapa alat diantaranya benar-benar asli. Saya, anak-anak dan pengunjung lainnya mencoba wahana ini bersama-sama. Ada yang menimba, memutar conveyor, atau mengisi wadah dengan kerikil.

Simulasi Tambang Minyak Bumi




Speed
Selanjutnya wahana Speed yang dibangun untuk para penggemar otomotif Formula 1. Pengunjung dapat mencoba menaiki F1 dengan mencoba simulator yang bergerak di sirkuit Sepang. Selain itu ada uji reaksi. Saya dan Desti bertanding mencoba memasukan bola ke gawang dengan telekinetis.

Formula 1

Mencoba Bermain bola secara Telekinetis



Molecule Nano World
Dunia Nano Molekul ini berada di lantai atas dengan menaiki tangga yang memutar. Berada di area ini kita seakan menjelajah dunia atom yang sangat kecil. Kita digiring menuju dunia atom.

Nano World


3D Theatre
Wahana selanjutnya adalah 3D Theatre. Sebuah teater yang mampu menampung 32 orang untuk menonton pemutaran film 3D dan presentasi lainnya. Bertualang dengan The Little Prince atau bertemu sekelompok dinosaurus di sebuah pulau prasejarah di The Lost World. Sayang meskipun sudah terburu-buru dengan berlari-lari menuju lokasi ini ternyata sudah tutup karena diputar berdasarkan jam-jam tertentu.

Music, Art, Science
Area ini adalah bagian terkahir dari ruangan pameran di Petrosains. Di Gallery ini memamerkan berbagai wahana yang memungkinkan pengunjung berkreatif menciptakan music dan seni. Anak-anak bermain musik, sementara saya dan Reny mencoba main tebak-tebakan angka dengan salah seorang petugas menggunakan nomor-nomor binary. Yang membuat kami terkejut berapa pun angka yang kami rahasiakan di dalam hati tetap akan tertebak oleh si mbak-mbak petugas. Semula kami mengira ada unsur magicnya ternyata ini adalah bagian dari matematika dan berlogika.



Setelah semua itu kami selesai dan mengakhiri kunjungan dengan kembali menaiki kendaraan gondola melalui area Dark Ride.

 

Jam Buka:
Selasa – Jum’at : 9:30 pagi – 5:30 petang
Sabtu – Minggu : 9:30 pagi – 6:30 petang
Hari Senin tutup kecuali jika jatuh di libur nasional buka.

Biaya Masuk:
Pemegang Kartu MyKad (Malaysia)
Orang Tua 8.50 Ringgit (Usia 56 tahun ke atas)
Dewasa 15.90 Ringgit (Usia 18 – 55 tahun)
Remaja 10.60 Ringgit (Usia13-17 tahun)
Anak-Anak 5.30 Ringgit  (Usia 5-12 tahun)
Bayi di bawah 2 tahun Gratis
Keluarga 31.80 Ringgit (2 Dewasa dua anak-anak)

Luar Malaysia (Non MyKad) :
Orang Tua 19.10 Ringgit (Usia 56 tahun ke atas)
Dewasa 26.50 Ringgit (Usia 18 – 55 tahun)
Remaja 21.20 Ringgit (Usia13-17 tahun)
Anak-Anak 15.90 Ringgit  (Usia 5-12 tahun)
Bayi di bawah 2 tahun Gratis
Keluarga 53.00 Ringgit (2 Dewasa dua anak-anak)

Bagaimana caranya menuju ke Tempat ini:

Menara Petronas dengan jelas dapat terlihat dari mana saja. Jadi mudah untuk mengikutinya. Jika menaiki LRT (kereta api) pilih jurusan yang menuju ke KLCC, jika dengan monorail turun di stasiun terdekat yakni di Bukit Nanas dan berjalan kaki kurang lebih 5 menit ke Menara Petronas. Dengan menaiki bis juga mudah sekali. Hampir semua bis di pusat kota Kuala Lumpur akan melalui Menara Petronas. Namun jika memilih naik taksi berhati-hatilah karena terlalu banyak jebakan yang akan menipu. Sebisa mungkin bernegosiasi dengan harga yang rendah. Namun itu pun tidak cukup karena jika ada celah maka anda akan dibawa berputar-putar terlalu lama dan tetap dikenakan biaya tinggi. Pilihan aman, murah dan sangat saya sarankan justru menaiki bis.

Kamis, 17 Desember 2015

5 Lagu Kenangan saat Mendaki Gunung

Ketika mendaki gunung, adaaa…saja lagu dan musik yang mengiringi saat dalam perjalanan. Hingga akhirnya lagu-lagu tersebut menjadi lagu kenangan yang sulit dilupakan. Sebenarnya saya tidak terlalu fanatik dengan musik, hanya saja selalu ada moment “kebetulan” yang membuat musik tersebut mampir ke gendang telinga. 

Entah kenapa ketika berada di gunung kemudian mendengarkan bait-bait lagu, maka di kemudian hari, saat dimanapun, dalam kondisi dan keadaan apapun, jika lagu-lagu tersebut terdengar lagi oleh telinga, dengan cepat ingatan saya merespon. Merunut kejadian demi kejadian. Memory otak pun langsung bekerja menyambungkan bait dan lirik lagu menjadi sebuah rangkaian kisah perjalanan pendakian gunung yang utuh.

“Ya ampuuun ini lagu sewaktu aku lagi di Kerinci,”

“Oh iya ya, lagu itu pas aku lagi di Rinjani.”

“Duh, ini lagu sewaktu lagi gitaran di Sinabung!”

Suara-suara bisikan hati mulai bermonolog. Membuka lebar-lebar pintu kenangan untuk kembali bernostalgia. Pendek kata, lagu-lagu tersebut menjadi jembatan penghubung ke masa-masa pendakian gunung. Ada begitu banyak lagu yang pernah saya dengar. Namun hanya beberapa diantaranya yang sangat kuat mengikat dalam sebentuk kata “kenangan”  yang mampu mengungkap detail peristiwa yang bahkan sudah terhempas jauh ke alam bawah sadar. Iya mungkin begitulah cara otak saya bekerja. Hanya butuh sebait lagu untuk membuka salah satu cerita perjalanan pendakian gunung.  Bagaikan password yang akan membuka satu isi file kehidupan.

Berikut 5 lagu kenangan saya saat mendaki gunung:

1.      Asereje dari Last Ketchup

Lagu ini mengingatkan saya saat pendakian ke gunung Rinjani Lombok di penghujung tahun 2002 dan awal tahun 2003. Ketika itu saya dan rekan-rekan pendaki sedang berada di Camp Plawangan Sembalun. Tatkala matahari pagi bersinar hangat dan para pendaki mulai berjejer berjemur diri untuk menghangatkan badan. Entah dari tenda mana lagu Asereje mulai terdengar kencang. Dan tanpa dikomandoi para pendaki yang berdiri di gigiran tebing yang menghadap ke arah danau Segara Anak dengan kompak menggerak-gerakan tangannya meniru gerakan penari-penari dalam videoklip Asereje. Terlihat kompak dan kocak. Hampir semua orang yang ada di sana pun terhibur dan tertawa-tawa.


Mira lo que se avecina
a la vuelta de la esquina
viene Diego rumbeando.
Con la luna en las pupilas
y su traje agua marina
parece de contrabando.

Y donde mas no cabe un alma
alli se mete a darse caña
poseido por el ritmo ragatanga.
Y el dj que lo conoce
toca el himno de las doce
para Diego la cancion mas deseada
Y la baila,y la goza y la canta...

Aserejé, ja deje tejebe tude jebere
sebiunouba majabi an de bugui an de buididipí

……….…..

Kabarnya lagu ini adalah lagu pemujaan terhadap setan. Entahlah nggak faham artinya. Saya pun berusaha untuk tidak terlalu menyukai lagu ini. Namun tetap saja tatkala lagu ini diperdengarkan, ada alarm yang selalu menyala dan membawa saya terbang kembali ke gunung Rinjani.


2.      Kompilasi Nasyid oleh The Brothers

Saya tidak terlalu suka dengan nasyid. Namun teman seperjalanan mendaki gunung Kerinci di Jambi pada tahun 2002, sangat menyukai nasyid-nasyid dari grup vocal yang berasal dari Malaysia ini. Dengan menggunakan walkman ia memutar terus-menerus kaset kompilasi The Brothers tanpa henti sepanjang perjalanan menuju Puncak Kerinci. Dari side A hingga side B, lalu kembali lagi ke side A dan dibalik lagi ke side B. Bosan. Meskipun sebal saya tetap menjadi pendengar yang baik. Tidak menegur dan menyampaikan perasaan terganggu. Dan, tanpa disuruh menghafalkan, setelah itu saya jadi ingat seluruh lirik lagu-lagunya. Satu yang paling saya ingat dari album kompilasinya adalah nasyid yang berjudul Teman Sejati.
                                                           
                                                             
Selama ini ku mencari-cari
Teman yang sejati
Buat menemani
Perjuangan suci

Bersyukur kini pada-Mu Ilahi
Teman yang di cari selama ini
Telah ku temui

Dengannya disisi
Perjuangan ini
Tenang di harungi
Bertambah murni kasih Ilahi

KepadaMu Allah
Ku panjatkan doa
Agar berkekalan kasih sayang kita

KepadaMu teman
Ku pohon sokongan
Pengorbanan dan pengertian

Telah ku ungkapkan segala-galanya

KepadaMu Allah
Ku pohon restu Mu
Agar kita kekal bersatu

Kepadamu teman
Teruskan perjuangan
Pengorbanan dan kesetiaan

Telah ku ungkapkan segala-galanya

Itulah tandanya
Kejujuran kita
a...a...a...
Ku mencari-cari teman yang sejati
Buat menemani perjuangan suci
o...o...a...a....

Dan setelah turun dari Kerinci, lalu si teman ini melamar saya. Uhuuk...uhuk... alasannya saya adalah perempuan yang begitu tepat untuk dijadikan istri. Tentu saja saya galau. Apakah harus menerima atau menolaknya. Kalau menerima saya tidak ada rasa condong terhadapnya. Kalau menolak, teringat akan hadist ini:

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi).

Saya tahu betul bahwa si teman ini adalah lelaki baik-baik namun entah kenapa saya tidak bisa menerima dia sebagai calon suami. Dengan meyakinkan tekad saya pun menolak halus lamarannya. Setelah itu dia mendadak menghilang dari kehidupan saya. Menjauh dan semakin menjauh. Padahal saya tetap menganggapnya sebagai seorang sahabat. Jika hati seseorang terluka, persahabatan belum tentu membuatnya sembuh dari luka tersebut.

Lagu Kenangan saat mendaki gunung
Puncak Gunung Sinabung Agustus 2004
3.  Jika itu yang Terbaik oleh Ungu

Agustus tahun 2004, Sewaktu mendaki gunungSinabung di Sumatera Utara, saya bertemu beberapa anak SMA yang sedang gandrung-gandrungnya mendaki gunung. Namun sayang cara dan style mendaki mereka sangat mengkhawatirkan. Hanya beralaskan sendal jepit, mengenakan kaos oblong, dan sebagian besar tidak membawa makan dan minum sebagai bekal masing-masing. Benar-benar pendaki yang nekat.

Dengan cara halus/pelan-pelan saya dan rekan saya Lastri memberitahu bahwa hal tersebut tidak safety bagi diri mereka. Semula kami takut dikira sok tahu dan sok ngajarin, ternyata sebaliknya anak-anak remaja ini dengan terbuka mau berdiskusi dan berdialog dengan kami hingga menjadi sangat akrab. Saling berkunjung ke tenda masing-masing dan berbagi makanan yang ada.

Malamnya ketika sendirian dalam tenda, dalam kantuk yang hampir melelapkan, tidur saya diiringi sebuah lagu yang dinyanyikan oleh anak-anak SMA itu. Alunan suara gitar bergema di antara hampanya udara malam di gunung Sinabung. Lagu dari grup band Ungu berjudul “Jika itu yang Terbaik.” Saya yang saat itu lagi patah hati mendadak melow dan tiba-tiba saja menangis.

…….
Sebab engkau tlah pergi
Sambil menangis kau katakan
Kau takkan pernah kembali
Dan dapat kupahami
Satu alasan yang kau beri
Apa yang mereka ingini
Segala yang terbaik untukmu

 Jika itu memang terbaik
  Untuk dirimu
Walau berat untukku
Berpisah denganmu

Hapus sudah air matamu,
Aku mengerti
Ini bukan maumu,
Ini bukan inginmu

Sendiri aku dalam gelapku
Tiada satupun menemaniku

......
Huhuhu bercucuran air mata.
Saya dan Lastri di Lau Kawar

Hingga sekarang jika mendengar lagu itu, otak saya selalu menghubungkannya dengan pendakian gunung Sinabung. Ingatan yang hampir lengkap. Saya teringat awal pendakian di tepi danau Lau Kawar, bertemu nenek-nenek yang mengais sampah-sampah pendaki, merayapi Tanjakan Patah Hati gunung Sinabung, menikmati panorama dan keindahan Tanah Karo dari ketinggian puncak Sinabung hingga perjalanan turun kembali ke Lau Kawar yang disambut oleh dua orang teman dari komunitas Highcamp.


4.      Kembang Padang Ilalang oleh Mukti Mukti


Juli 2007, beberapa hari setelah pernikahan saya dengan seorang pendaki gunung asal Depok, kami berdua mendaki Gunung Pangrango di Bogor Jawa Barat. Kata orang ini adalah pendakian honeymoon. Baiklah, anggap saja begitu. Kalau orang lain honeymoon ke Bali, Lombok, Maldives dan Paris cukuplah bagi kami merayakan awal pernikahan ini dengan mendaki Pangrango. Bermalam di tenda kecil dalam hamparan padang edelweis lembah Mandalawangi.

Senja di hari pertama keberadaan kami di Pangrango, saya terduduk di hamparan rumput yang dikelilingi padang edelweis. Lembah Mandalawangi tempat dimana kami berada saat itu, sangat sepi dan teramat sunyi. Hanya hening yang menggantung di udara. Tiada rintik hujan, tiada hembus angin, dan tiada hangat mentari. Di sana hanya ada saya, dia, dan tak lebih dari 7 orang pendaki lainnya.

Senja telah jatuh di Mandalawangi. Namun langit tetap membiru. Lembayung mulai tampak di sisi barat. Awan-awan bergerak perlahan seperti putaran film yang diperlambat. Dan, sayup-sayup dari dalam tenda kami terdengar alunan lagu Kembang Padang Ilalang.


Kembang pada ilalang
Berayun lembut kemayu
Kembang padang ilalang
Kau rayu daku sore itu

Diantara lembayung mega
Perlahan terseduh rintik hujan
Namun tiada hitam kelabu 
Hanya kalbu membias malu

Kembang padang ilalang
Kau rayu daku sore itu

.....................


Lagu yang indah yang terdengar di waktu yang tepat. Tidak hanya saya yang seakan terwakili dengan lagu itu. Para pendaki yang lain yang ikut mendengarkan tampak penasaran dan bertanya kepada si dia tentang lagu tersebut.
  

5.   Pendaki Gunung oleh Rita Ruby Hartland

Taman Hutan Lagenda, Gunung Ledang, Johor
Sewaktu SD entah kelas berapa, saya menyaksikan lagu Pendaki Gunung ini dinyanyikan oleh Uli Sigar Rusady di TVRI. Dan saya langsung jatuh cinta sekali dengan lagu ini. Menghafalnya dengan cepat dan terus teringat hingga beranjak remaja. Pada perjalanan waktu hingga saatnya menikah saya baru menemukan versi aslinya dari mp3 suami yang sama-sama suka mendaki dan bertualang ke gunung.

Sempat diputar beberapa kali di rumah namun justru yang terkenang dan menghubungkannya adalah saat mendaki Gunung Ledang di Johor Malaysia bersamanya.

Berikut petikan dari lagu Pendaki gunung:


Pendaki gunung sahabat alam sejati
Jaketmu penuh lambang, lambang kegagahan
Memproklamirkan dirimu pecinta alam
Sementara maknanya belum kaumiliki

Ketika aku daki dari gunung ke gunung
Di sana kutemui kejanggalan makna
Banyak pepohonan merintih kepedihan
Dikuliti pisaumu yang tak pernah diam

Batu-batu cadas merintih kesakitan
Ditikam belatimu yang bermata ayal
Hanya untuk mengumumkan pada khalayak
Bahwa di sana ada kibar benderamu

Ooh alam, korban keangkuhan 
Maafkan mereka yang tak mau mengerti arti kehidupan


Nah itu dia 5 lagu yang sering mengingatkan saya akan pendakian gunung. Kalau kamu mendengarkan sebuah lagu apa yang kamu ingat?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...