Rabu, 13 Januari 2016

5 Jenis Pendaki Saat Berada di Tanjakan

Tanjakan Cinta
Tanjakan Cinta, Gunung Semeru
Obrolan di sebuah warung.

Pendaki A:  Kalau lagi naik gunung suka merhatiin orang lain nggak sih saat di tanjakan?
Pendaki B:  Aduh boro-boro merhatiin orang lain, merhatiin diri sendiri aja kepayahan. Di tanjakan gitu bo, lengah dikit bisa kepeleset adek, Baaaang.
Bukan Pendaki:  Boro-boro merhatiin,  naik gunung aja belum pernah. #Makjleb.

Baiklah kalau begitu. Kita bahas yuk!

Saya kok tiba-tiba kefikiran saat  sedang berjalan merayapi  beberapa tanjakan di gunung ya. Tanjakan di gunung biasanya sering diperbincangkan para pendaki karena jalurnya termasuk paling menyulitkan. Salah tiganya adalah Tanjakan Cinta Gunung Semeru, Tanjakan Bukit Penyesalan di Gunung Rinjani  dan Tanjakan Patah Hati Gunung Sinabung. Duh apa kabar Sinabung ya? Kangen suasana malam yang bertabur bintang di sana.

Nah sewaktu mendaki dan menaiki tanjakan-tanjakan itu, saya biasanya  berjalan santai selow (sendal kali selow. Eh itu mah selop ya haha. Bukaaaan, swallow tau!) sesuai ritme tubuh, difikir-fikir lucu juga memperhatikan berbagai karakter dan perilaku pendaki saat melalui tanjakan. Berbagai macam tingkah polah, gerak-gerik akan terlihat saat berada di tanjakan. Sedikitnya dapat mengambarkan siapa dia sesungguhnya. Sedikit aja kok. Nggak semuanya. Makanya jangan diprotes.

Saya biasanya bak seorang pengamat, mulai sibuk mengomentari tingkah polah para pendaki di tanjakan. Tentu saja dalam hati. Kalau teriak-teriak bisa dilempar keril sama mereka.

Obrolan di salah satu warung pendaki.

Pendaki C: Eh tau nggak kalau tipe kepribadian seorang pendaki  itu bisa dilihat dari cara dia berjalan di tanjakan loh?
Pendaki D: Ah masa sih, misalnya?
Pendaki C: Nih ya aku terangin makanya dengerin baik-baik.

Lelah Adek Baaang! Tungguin!

1.     Tipe Bossy
Saat di tanjakan sukanya merintah-merintah. Mas jangan lewat situ licin, lewat sini saja. Mbak-Mbak lewat sini mbak, di situ banyak cowok ganteng nanti kepincut. Ini ada cowok yang lebih ganteng lagi di sini. Sambil nunjuk diri sendiri. Tuh kan merintah merintah segala. Kenal juga enggak. Haha.

2.     Tipe Assistance
Setiap ada orang yang lewat maunya nolong terus.  Suka bilang gini, mari mbak saya bantu bawakan keril cantiknya. Atau eh Neng, sini pegangan sama Aa nanti kepeleset, tikosewad, tiseureuleu, tijalikeuh. Haha mendadak roaming hawa Garut rupanya. Eh itu tadi artinya apa? Ya itu tadi artinya kepeleset. Tapi karena bahasa Sunda itu kaya, bahasa rasa dan perasaan jadi banyak kosakata. Untuk kata kepeleset aja bisa diartikan bermacam-macam tergantung situasi yang mengikuti. Laaah kok mendadak jadi guru bahasa Sunda ini. Wkwkwk. Kembali ke tanjakan.

3.     Tipe Pembalap
Pendaki tipe ini kalau lewat tanjakan suka banget berlari, padahal kalau sudah sampai atas mendadak berhenti. Mau loe apaseh? Meskipun antrian di tanjangan lagi panjaaaang, tipe si pembalap  maunya mendahului pendaki lainnya. wus..wus…wus…kayak mobil yang baru diservis.

4.     Tipe Siput
Jalannya lambaaaat banget kayak keong, siput, umang-umang, ulat bulu, dan sejenisnya. Tanjakan yang tingginya cuma 10 meter doang kadang diselesaikan hingga berjam-jam perjalanan. Iyalah disambi dengan ngopi, ngobrol, curhat ala Mamah Dedeh dan Aa, atau ngelamunin mantan yang tak kunjung minta balikan. Alasannya lagi menikmati perjalanan. Padahal sebenarnya lutut gemetar, kaki pegal linu, badan cekot-cekot, nafas tersengal-sengal, dan sendi ngilu-ngilu.  Laah kok ini kayak gejala flu burung sih hihi.

5.     Tipe Nggak Percaya Diri
Sebentar-sebentar nengok ke belakang, dikira belum sampe–sampe.  Alasannya lagi-lagi menikmati pemandangan padahal lagi  kecapekan. Maju selangkah berhenti. Lihat belakang. Dua langkah berhenti. Lihat belakang. Duh abaaaang kapan nyampenya Baaang? Capek adek ngikutin abang. Haha.


Kelima tipe di atas murni pendapat saya alias si pendaki C. Jika ada kesamaan sifat dan jenis perilaku yang menyinggung kamu mohon dimaafkan ya. Emang sengaja artinya  iseng aja  atau nggak disengaja. 

Nih Pemandangan dari Tanjakan Cinta, pantes balik badan terus

24 komentar:

  1. Kak, itu lumayan kalau di lempar keril, malah menurutku nggak terlalu sakit kak. Beda cerita kalau di lempar nesting apa treking pole, malah lebih kerasa banget sakitnya,,,, hahaha. Kalau point 3 - 5 sieh iyaw kak, tapi kalau 1 atau 2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakak, kamu mau dilempar trekking pole? Sini maju! #hakdesss

      Hapus
  2. kalau aku tipe apa ya mbak harus merasakan mendaki dulu baru deh ketauan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dicoba dulu baru akan ketauan ada di nomor berapa. Yuk mendaki gunung Mbak. Yang deket aja ke Garut :D

      Hapus
  3. Tipe yang mana ya akyuuu... udah berpuluh tahun lalu jalan ke gunung. Lihat kondisi kayaknya, kalo stamina bagus, tipe pembalap. Dan kalo lagi capek, alon alon asal kelakon ,yang penting sampai, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuaah dulu pernah daki gunung juga ya Mbak? ayo kita naik gunung lagi haha. Kompor nih.

      Hapus
  4. Hihi, ternyata ada tipe2nya ya! Sukak banget baca tulisan Mba Lina ini, senyum2 akuh, Mbak!
    Btw, foto headernya cantik banget!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngak headernya aja kok Mbak Al, orangnya juga syantiiik kok. Minta dikeplak :D

      Hapus
  5. Saya baru tau kalo keril itu nama lain untuk tas gunung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini begini kalau orang Indonesia Wan, awalnya kan rucksack dibilang ransel terus carrier dibilang keril. Emang lidah Indonesia kali ya haha.

      Hapus
  6. aku masuk tipe siput kali ya
    ngos-ngosan capek ga kuat nanjak :))
    trus dikit-dikit istirahat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha tos tos aku juga kadang begitu :D

      Hapus
  7. Aku tipe belok ke warung mie rebus hahaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan nggak lanjut naik tanjakan ya Mbak hihi

      Hapus
  8. Kalo gw kok kayak nya perpaduan semua nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perpaduan semuanya ketika dimana nih? kalau lagi traveling terus nyebrang pas lagi kena syndrom tipe siputnya Om Cumi bisa dilabrak eh ditabrak qiqiqi. Ditabrak cewek cakep gettoh mau?

      Hapus
  9. mbaaak, kok ga ada tipe pendaki yang solehah dan bijakasana yaah T_T?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba terangin dulu Dek sama Kakak seperti apa pendaki yang solehah dan bijaksana itu? Apa seperti akuini Kaaan? *gubraks

      Hapus
  10. Tipe siput aja lah...kkkk....hemat tenaga...

    BalasHapus
  11. Wah kalo saya tipe yang mana ya? Yang tipe nonton aja deh keknya. Soalnya udah pada naik duluan. Hehehe.

    Salam kenal ya mbak
    Jung

    BalasHapus
  12. Saya tipe siput tapi gak siput2 amat sih....
    Kalo lagi bisa cepet ya cepet kalo lambat ya lambat hahahaha

    BalasHapus
  13. pendaki sekarang beda sama pendaki dulu, saat hangatnya antar pendaki masih tersaa. entahlah rasanya berbeda saja. atau sekarang mungkin gunung begitu ramai ya.

    https://bukanrastaman.com/2015/05/18/apakah-kita-perusak-alam-atas-nama-eksistensi-media-sosial/

    BalasHapus
  14. Habis baca artikel ini, jadi inget waktu hiking ke Rinjani karena naik dari Senaru turun ke Sembalun, Bukit Penyesalan merupakan trek favorit buat lari2an karena cuma lurus menurun haha..

    Berarti saya masuk tipe nomor 3. Tipe Pembalap, tapi hanya untuk kasus turun gunung, kalau naik mah tipe 4. Tipe Siput aja :-)

    BalasHapus
  15. Belum tau saya tipe yg mana, kan belum pernah naik gunung hahaha *apasih*

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...