Rabu, 22 Juni 2016

Jalan-Jalan ke Aceh Bersama Blog Seuramoe Liza

Kamu pernah ke Aceh? Kamu iya Kamu! Kalau belum, sama dong dengan saya. Sudah niat berkali-kali niat mah cukup sekali aja Neng untuk mengunjungi wilayah paling barat Indonesia ini, namun ada saja halangan yang membuat niat dan rencana hanya mengendap di alam mimpi. 

Meskipun mengendap, keinginan berkunjung ke Aceh itu bagai api dalam sekam yang kapan pun bisa menyala kembali. Kini, masih sebatas berharap semoga penerbangan langsung dari Batam ke Aceh tidak ditutup dekat-dekat ini. Semoga penerbangan menuju Aceh ramai lancar sehingga rutenya masih selamat beroperasi. Tidak seperti nasib rute Batam - Semarang yang sekarang sudah ditutup.

Ngobrolin tentang Aceh, kalau penasaran apa dan bagaimana biasanya kita googling. Bertanya kepada Mbah google tentang apa saja mengenai Aceh. Saat googling mungkin teman-teman sekali dua kali akan mampir di halaman-halaman sebuah blog dari blogger Aceh yang kece-kece seperti blogger yang di samping ini. Nama blognya Seuramoe LizaNah kebetulan kali ini giliran saya menyambangi dan mengulik blog kece tersebut. 


Blog Seuramoe Liza adalah blog berplatform Wordpress yang dimiliki oleh seorang dokter cantik, pintar, mahmud alias mamah-mamah muda, dan berhijab yang bernama Liza Fathia. Kakak Liza ini sudah berkeluarga dan mempunyai seorang putri yang sedang lucu-lucunya yang diberi nama Naqiya. Karena keluarga kecilnya adalah keluarga yang haus akan ilmu, kini suami Kak Liza sedang kuliah mengambil S3 di Jerman. Keren ya.

Btw, Seuramoe itu apa sih Kak? Menurut lagi-lagi google, Seuramoe itu berarti Serambi. Mungkin Kak Liza buat judul blog seperti itu karena ingin menjadikan blognya seperti Serambi kehidupannya. Tempat ngobrol ngalor-ngidul, curhat, menebar info bermanfaat dan atau sekedar kongkow-kongkow cantik. Alasan lainnya mungkin karena Kak Liza orang Aceh yang mempunyai julukan sebagai Seuramoe Mekah, atau Serambi Mekah. Jadi digunakanlah kata Seuramoe tersebut untuk menunjukkan bahwa Kak Liza emang orang Aceh. Bukan begitu Kak Liza? *Horeee betuul.

Ketika melayari laman-laman tulisannya, saya terpekur di sebuah artikel yang bercerita tentang masa kecil seorang Liza yang berjudul (#MASIHINGATMAI) Konflik Aceh, Kemelut, dan Air Mata. Sebait sajak pun ia tuliskan untuk menggambarkan perasaan kecewa atas konflik Aceh yang dulu sangat berkepanjangan. 


Mengapa harus dengan letupan senjata

Kalau kau ingin menghapus air mata?
Mengapa harus dengan aliran darah
Kalau kau ingin membasuh luka lara
Mengapa?
Mengapa?
Tanyaku pada malam yang tak lagi hening
Mengapa?
Mengapa?
Tanyaku pada subuh yang tak lagi teduh
( Lueng Putu, 2003)


Jelas sajak itu adalah sebuah gambaran kesedihan akan kondisi Tanah Rencong, tanah kelahirannya yang saat itu sedang bergejolak oleh konflik. Dimana adu tembak antara kelompok bersenjata Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI kerap terjadi.

Liza kecil mengingat dengan jelas saat kaum lelaki di kampungnya berbondong-bondong dibawa ke markas TNI hingga tiba keesokan harinya para ibu dan juga istri dari lelaki yang digiring tersebut menangis histeris entah kenapa. 

Saya yang pada masa itu sudah menginjak SMP sudah mulai bisa mencerna berita-berita yang muncul di televisi tentang konflik bersenjata di Aceh. Hanya merasa keheranan dengan dua kubu yang berseteru. Tidak adakah cara lain yang lebih manusiawi dibanding saling adu tembak? Apalagi terhadap bangsanya sendiri. 

Pertengahan tahun 1998, seluruh penduduk Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, kampung halaman Liza, diwajibkan mengungsi. Dan Liza kecil harus merasakan betapa sulitnya hidup di pengungsian. Lingkungan yang tidak bersih, sanitasi yang kotor, serta wabah penyakit yang merajalela mulai menghinggapi para pengungsi ini. Setelah berbulan-bulan mengungsi tanpa kepastian, warga Tangse kembali dengan resiko antara hidup dan mati.

Tahun demi tahun berlalu. Liza kecil tumbuh remaja dan merasakan langsung dampak konflik saat memasuki bangku Madrasah Tsanawiyah (Setingkat SMP). Tahun 2003  di sekolahnya yang berdekatan dengan kantor pemerintah yang dijadikan markas TNI kerap terjadi kontak senjata bahkan di saat ujian pun para siswa harus tiarap untuk menghindari peluru nyasar. Desingan peluru dan pecahan kaca yang membuat waswas  ternyata tidak membuat semangat untuk menyelesaikan ujian menjadi kendur. Tak terbayang betapa sulitnya kehidupan anak-anak Aceh saat itu. Kebingungan dan mungkin  saja membawa trauma mendalam hingga saat ini.


Di tahun yang sama, saya sudah bekerja dan juga kuliah. Sambil menikmati masa muda dengan mendaki gunung, kemping, berorganisasi, dan keliling pulau-pulau di sekitar Batam. Merasakan kenikmatan mandiri karena merantau dan mempunyai penghasilan sendiri. Tanpa sadar di belahan ujung Sumatera sana konflik masih saja bergejolak.  Hanya saja saya ingat betul ada seorang sahabat yang saat itu menjadi anggota Kopassus yang sedang menjalankan dinas  di Aceh. Saya kerap menanyainya tentang jalur pendakian menuju Gunung Leuseur, namun ia sendiri lupa.

Beberapa tahun yang lalu saat gank kami reuni di Hotel Santika Tangerang, saya menanyainya berbagai macam tentang operasi militer di Aceh. Dia hanya bilang dalam kondisi begitu kalau dia tidak menembak duluan maka ia yang akan terbunuh. Beberapa rekannya bahkan banyak yang meninggal dalam tugas. 

Selain itu dia bercerita berbagai kejadian lucu saat menangkap seorang warga yang disangka GAM di sebuah hutan.  Warga tersebut ia suruh berendam di rawa-rawa, sebelum akhirnya ia suruh pulang. Ketika tiba di sebuah kampung dan kontak senjata berlangsung, ia dan beberapa rekannya masuk untuk bersembunyi di rumah warga. Ketika bertemu tuan rumah ia sendiri kaget karena si Bapak yang punya rumah adalah warga yang ia rendam semalam. Hahaha. Saya tergelak saat ia bilang sebenarnya malu namun tetap gengsi mengakui kesalahannya tersebut. Ia dan rekan-rekannya dijamu makan dan dipersilahkan istirahat. Untung saja si Bapak tidak mengenali siapa orang yang telah merendamnya di rawa-rawa karena tau sendiri kaan wajah tentara saat beroperasi, pasti berkamuflase dengan muka cemong-cemong oleh arang atau entah apa namanya.

26 Desember 2004, Aceh terkena tsunami dahsyat. Ratusan ribu orang meninggal dunia. Pemerintah mengambil kesempatan yang ada dengan menandatangani perjanjian untuk berdamai dengan GAM. Melucuti senjata mereka dan menyerahkan otonomi khusus untuk provinsi yang menyandang Daerah Istimewa tersebut.

Sementara itu Liza tumbuh besar. Ia melanjutkan kuliah dan kini telah menjadi seorang dokter. Salut untuk berbagai rintangan yang telah dilaluinya. bagi orang-orang tangguh seperti ia,  rintangan dan kesulitan adalah suatu jalan untuk menuju sebuah kesuksesan.

Penasaran dengan kisah-kisah lainnya yang menginspirasi? Yuk meluncur ke blognya saja. 




9 komentar:

  1. Terima kasih untuk ulasannya kak lina, ohya tsunami aceh 26 des 2004 mbak, sedikit ralat saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuaah maaf udah lupa. Sudah saya edit. Kalau ada yang salah tolong dikoreksi lagi ya Mbak Liza.

      Hapus
  2. kak, suami liza di luar negeri itu kuliah S3 kak :D

    ibu blogger satu ini memang namanya udah se aceh.. apa2 orang nanya, kamu blogger? kenal sama liza? hedeuh.. geram geram geram.. maunya tanya, kenal sama yudi? gitu kan enak kak hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Infonya Yud. Iya nih aku ngira2 gak sempat interview soalnya Mbak Liza lagi sibuk, gak enak ganggu nge-WA. Naqiya sedang sakit. Kalau ada yang salah tolong dibetulkan lagi yaaa.

      Hapus
    2. itu udah bener kok kak.. hehe
      yudi juga maklum kok kak.. itu ibu dokter memang sibuuuuuk banget :D

      Hapus
  3. salam kenal mbak liza... selalu merinding dan sedih saya mah, kalo dengar cerita aceh jaman dahulu...semoga aceh semakin sejahtera ya semenjak kejadian tsunami, tak ada lagi gencatan senjata yang menyisakan duka..

    BalasHapus
  4. Tsunami menjadi berkah tersendiri yaaaa, setiap musibah pasti ada sesuatu hikmah yg terkandung

    BalasHapus
  5. Wah Perjalanan yang sangat Berharga

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...