Senin, 11 Juli 2016

Tamasya Hari Raya Idul Fitri ke Pantai Trikora Bintan

Pantai Trikora
Pantai Trikora terletak di pesisir timur laut Pulau Bintan. Letaknya sekitar 55 kilometer dari Kota Tanjungpinang, ibukota Provinsi Kepri. Pantai ini sangat populer di kalangan penduduk Kabupaten Bintan, Kota Batam, dan Kota Tanjungpinang dikarenakan pasirnya yang berwarna putih, landai, bentangan yang luas, dan ombak yang bersahabat.

Lebaran pertama seusai melaksanakan sholat Idul Fitri di Pulau Penyengat, saya dan keluarga sengaja bertamasya ke pantai ini. Ya karena hari itu tidak ada agenda lain selain jalan-jalan. Mau bersilaturahim pun tidak ada sanak famili di sana. Apalagi Chila sudah nggak sabaran ingin cepat-cepat berangkat sejak rakaat kedua sholat Idul Fitri usai. #NamanyaAnak-Anak.

Dari Tanjungpinang kami berkendara menyusuri Jalan W.R. Supratman lalu belok kanan menyusuri Jalan Raya Kawal. Jarak tempuh sebenarnya sekitar 1 jam 5 menit. Namun karena berhenti sebentar untuk menunaikan sholat dzuhur di mesjid yang berkubah dan bercat pink, waktu tempuh kami menjadi lebih lama 30 menit. Meskipun sebagian tiangnya belum dicat pink dan tampak beberapa bagian belum selesai, banyak orang yang berkendara tertarik dan berhenti untuk berfoto-foto di depan mesjid ini. Mungkin karena kubah-kubah pink-nya yang cantik dan eye catching.

Baca juga cerita tentang tentang Masjid Jabal Arafah di Kota Batam.

Mesjid Pink, Kawal, Bintan.

Kubah Mesjid Pink

Ternyata ada 3 alternatif jalur  yang dapat digunakan menuju Pantai Trikora ini. Pertama menggunakan jalur utara dengan mengikuti jalan Raya Tanjung Uban - Tanjungpinang (jalur lama), jarak tempuh 1 jam 5 menit, kedua melalui jalur tengah dengan mengikuti Jalan Raya Kawal, jarak tempuh sama dengan yang pertama, dan ketiga jalur pesisir timur dengan jarak tempuhnya lebih lama yakni 1 jam 30 menit.

Jalur Tanjungpinang - Pantai Trikora. Foto: Google maps

Dengan menggunakan Google Maps, saya dapat mengenali Pantai Trikora. Sepanjang perjalanan saya dan Chila sibuk mengamati dan mengetahui letak posisi kami terhadap pantai ini. Dan saat Ayah Chila melajukan kendaraan melewati pantai ini, kami sama-sama berteriak kalau pantainya terlewati. Akhirnya putar balik. Dari foto satelit saja jelas terlihat pantai ini berpasir putih dan indah.

Foto Google Maps Pantai Trikora

Tiba di Pantai Trikora, suasana belum terlalu ramai. Tempat parkir kendaraan pun masih cukup lengang. Pedagang-pedagang tampak sudah membuka warungnya. Umumnya mereka menjual kelapa muda, mie rebus/goreng, minuman & makanan ringan.

Di tepi pantai terdapat pondok-pondok yang dapat disewakan seharga lima puluh ribu rupiah. Pondok-pondok yang berderet ini memiliki tiang dan dinding dengan warna tertentu. Dan ternyata bukan tanpa sebab berbeda warna, karena warna menunjukkan siapa yang memiliki pondok dan siapa yang berhak menagih uang sewa dari para wisatawan.





Demi kenyamanan, kami pun menyewa satu pondok untuk beristirahat dan meletakkan barang-barang. Sementara Chila yang sudah tak sabaran, langsung berganti pakaian dengan baju renang dan segera menceburkan diri ke air laut yang hangat bersama ayahnya. Saya hanya duduk-duduk  menunggu barang bawaan sambil sesekali membidikkan kamera ke arah mereka yang tampak sedang asyik bermain air. Mengabadikan momen istimewa antara ayah dan anak.

Menjelang jam 2 siang, kami memesan soto ayam ke warung paling ujung. Si ibu warung semula menanyakan kami duduk di pondok yang mana. Dan begitu saya sampaikan kami duduk di pondok warna kuning dia malah menyuruh saya untuk memesan makanan di warung yang punya pondok yang saya tempati. Katanya nggak enak hati. Namun setelah saya jelaskan bahwa di warung dekat pondok kami tidak ada yang menjual soto, dia pun akhirnya bersedia membuatkan soto. Satu porsi 15.000 rupiah.

Selesai makan giliran saya yang disuruh turun ke laut oleh Chila. Sebaliknya, suami yang jaga barang-barang di pondok. Dilema kalau pergi ke pantai atau tempat umum seperti ini. Nggak bisa berenang dengan formasi lengkap. Sebaiknya pengelola dan warung-warung di pondok mulai berfikir untuk meningkatkan pelayanan dengan menyediakan/menyewakan loker. Selain aman untuk menyimpan barang-barang pengunjung, penyediaan loker juga akan mendatangkan penghasilan yang sangat lumayan bagi mereka.




Setelah menceburkan diri ke laut, baru tersadar bahwa pantai ini memang bagus. Sepanjang pesisir pantai tempat kami berendam dan berenang, dasar air laut hanya berupa pasir putih yang terinjak sehingga aman buat para pengunjung. Ombaknya pun sangat bersahabat, cocok untuk bermain-main. Air lautnya bersih dan cukup bening. Sangat jarang ditemukan sampah baik di air laut maupun di pesisir pantainya.

Jam 4 sore kami segera naik dan membersihkan badan di kamar mandi yang disediakan penduduk setempat dengan membayar 2.000 rupiah per orang. Kamar mandinya sempit dan agak gelap. Namun kami menganggap hal ini  wajar seperti biasa. Berusaha terus memaklumi, meskipun kadang berharap lebih dari sebuah layanan tempat wisata gratis dan murah di Indonesia yang hanya dikelola masyarakat setempat.

Awan gelap mulai menghiasi putihnya langit. Kami melaju meninggalkan Pantai Trikora untuk kembali ke Kota Tanjungpinang tempat dimana kami akan menginap beberapa malam lagi.

Saran:
Sebaiknya lebih disarankan menggunakan kendaraan pribdi jika kamu dan keluarga berkunjung ke Pantai Trikora. Sepanjang perjalanan, saya tidak melihat ada angkutan umum yang mengarah ke kawasan ini.











  

24 komentar:

  1. aku dulu kesini lewat tanjungpinang mbak, jauh bangett rasanya..turun kapal langsung nyewa angkutan umum ke pantai trikora. pantainya bagus banget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dulu saya juga pas ke sana berasa jauuuh banget. Tapi kematen karena sudah pernah jadi gak berasa jauh Mbak :D

      Hapus
  2. masjid pink nya di sebelah mananya ya teh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebelah kiri jalan antara Tanjubgpinang menuju Trikora via Kawal Mas.

      Hapus
  3. Chila doyan bgt main air. Aku kmaren ga berenang, garing rasanya main air sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iya kecipak-kecipak sendiri. Makanya segerakan Rin ntar ada Babang bule yang nemenin.

      Hapus
  4. makasih referensinya, mba. Pantainya masih indah sekali ya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak bagus pantainya. Bersih, luas, dan ombaknya bersahabat.

      Hapus
  5. Dah lama bangeeeet ga ke sini. Masih cakep aja nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya saya terakhir ke sini 10 tahun yang lalu. Gak banyak berubah ternyata.

      Hapus
  6. Waduh, "nyewa" pondokannya cukup beli makanan saja ya mba Lina? di pantai Pelawan Tanjung Balai di hari besar kena biaya Rp 100.000,- atau ada minimal traksaksi beli makanan dengan nominal segitu. ckckckckck...

    Boleh juga nih, suatu hari berkunjung ke mesjid pinknya kalau ke Tanjung Pinang lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyewa aja cuma 50.000 rupiah. Kalau makan beli lagi.

      Hapus
  7. Aku gak pernah kesampaian menikmati pantai di sini. Selalunya cuma numpang lewat :(

    BalasHapus
  8. keluarga kecil yang kompak...kemanapun bersama melewati hari hari...senangnya :)

    BalasHapus
  9. wahh.. belum pernah ke bintan sih..
    mudah2an suatu saat bisa kesana..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditunggu Mbak. Udah banyak nih destinasi wisata di Bintan yang setaraf internasional loh.

      Hapus
  10. Masjidnya bagus banget mbak, pink2 gitu. Pantainya juga keren. tp ke sana jauh bgt ya. Pengen ih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Mel. Ini masjidnya belum selesai aja udah keliatan cakep apalagi kalau dah jadi.

      Hapus
  11. Wah adek saya pasti seneng banget kalo bisa liat mesjid pink ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahaha adeknya suka pink ya? Sama kayak anak saya :D

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...