Tuesday, November 15, 2016

In Case You Didn't Know Melaka


Telah belasan tahun saya menginjakkan kaki dan menetap di Bumi Melayu ini. Semakin hari semakin melebur dan mencintai segala hal yang berhubungan dengan Melayu. Mulai dari sejarah, bentang wilayah, makanan daerah, serta adat dan kebudayaan Melayu. Mungkin inilah namanya dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Saya pun mulai menekuri kisah-kisah kerajaan di Nusantara Melayu seperti hikayat kerajaan Riau Lingga, Raja Ali Haji, Hang Tuah, Putri Gunung Ledang, hingga Raja Melaka. Lalu diam-diam berharap dalam hati, semoga dapat menelusuri kisah-kisah tersebut melalui sepenggal perjalanan dalam langkah-langkah kecil kaki ini.


Riau dan Lingga sebagai Sang Bunda Tanah Melayu pernah dijelajahi. Pulau Penyengat tempat Raja Ali bernaung dan menorehkan karya-karya kesusasteraan Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia pun telah disinggahi. Gunung Ledang yang konon tempat Sang Putri bersemayam pun telah saya daki. Lalu Melaka? Duhai, kapankah saya bisa menjejaki negeri penuh histori ini?

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Keinginan berkunjung ke Melaka (Malaka) – yang merupakan salah satu negara bagian di Semenanjung Malaysia - terlaksana sudah. Kementrian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia atau Ministry of Tourism and Culture yang kerap disingkap MOTAC, melalui Gaya Travel Magazine, sebagai perpanjangtanganan pemerintah Malaysia, mengadakan famtrip ke Melaka dengan mengundang media, blogger, fotografer, dan influencer (selebgram dan artis) dari beberapa negara dengan bertajuk “In Case You Didn’t Know Melaka” disingkat #ICYDKMelaka.  Alhamdulillah saya dan ketiga teman blogger lainnya dari Indonesia, Chahaya, Fadli, dan Yudi Randa dapat turut serta bergembira ria diantara keseruan mereka. Padahal siapalah kami ini yekan? Blogger famous bukan apatah lagi disejajarkan dengan para pelaku media dan selebgram. Wohoo tenggelam!

In Case You Didn’t Know Melaka (#ICYDKMelaka)


Hari pertama di Melaka kami menginap di The Settlement Hotel sesuai arahan panitia acara. Pada hari itu tidak semua peserta sudah berada di Settlement Hotel karena rombongan utama trip baru akan berangkat keesokan harinya dari Kuala Lumpur. Sedangkan 3 orang anggota lainnya, Saya, Chahaya, dan Fadli berangkat dari Batam dan Tanjung Balai Karimun. Kami bertiga sengaja langsung menuju Melaka agar hemat waktu karena arah perjalanan melalui Johor (semenanjung bagian selatan) yang notabene lebih dekat dengan Melaka. Dengan mengendarai bis, waktu  tempuh Johor - Melaka hanya 3 jam sedangkan Johor – Kuala Lumpur 5 jam. 

Rute yang saya tempuh adalah sebagai berikut:

Batam (Pelabuhan Batam Centre)  – Johor (Stulang Laut) naik Ferry, ongkos Rp. 295.000 Pulang Pergi.
Tax Pelabuhan  (Batam Centre) Rp. 65.000
Johor (Stulang Laut) – Larkin (Terminal Bis Larkin) naik taksi RM 15,- ( Rp. 47.550)
Larkin – Melaka Sentral naik bis, RM 18,- (Rp. 57.000)
Melaka Sentral – The Settlement Hotel naik Grab Car, RM 4.5 (Rp. 14.265).

Keesokan paginya jam 10.30 kami dijemput oleh Shamsul Bahrine Z. (Sham) dari Gaya Travel dan Nurul Shafee dari Kementrian Pelancongan. Sekitar 10 menit berkendara kami tiba di sebuah kampung yang diberi nama Kampung Alai. Kampung ini merupakan sebuah perkampungan tradisional dimana rumah-rumah penduduknya masih berupa rumah panggung, rumah khas Melayu yang mempunyai tiang dan dinding terbuat dari kayu. Rumah-rumah Melayu yang dibangun selaras dengan alam sekitar. Dibangun agak tinggi dari permukaan tanah dengan teras atau anjung terbuka. Teras terbuka ini semakna dengan filosofi hidup orang Melayu yang selalu terbuka menerima siapa pun yang datang.

Antara Kesenian Dondang Sayang, Buah Melaka, dan Inang-Inang


Irama musik Melayu dari sebuah teras rumah menarik perhatian saya untuk mendekat. Di sana tampak 6 orang laki-laki paruh baya sedang bermain alat musik yang terdengar khas dan indah di telinga. Sepasang penyanyi yang juga sebaya, berdiri menghadap ke arah para pemusik. Tertarik lebih jauh lagi, saya pun menaiki teras dan merekam aktifitas mereka untuk membuat video. Sambil merekam, saya menyimak baik-baik alunan musik yang terdengar ritmis. Paduan suara akordeon, biola, rebana, gong, dan tamborin serasa membawa saya terbang ke zaman kerajaan-kerajaan Melayu dahulu kala. Setelah bertanya apa nama jenis kesenian ini, seorang Pakcik menjawab bahwa mereka sedang memainkan kesenian Dondang Sayang.    

Dondang Sayang secara harfiah bermakna balada cinta. Kesenian yang merupakan asli Melaka ini sedikit dipengaruhi oleh kebudayaan Portugis. Pada umumnya alat musik yang dimainkan dalam kesenian Dondang Sayang terdiri dari akordeon, biola, rebana, dan gong. Namun ada juga yang menambahkannya dengan tamborin dan seruling. Penyanyi Dondang Sayang biasanya sepasang dan syair yang dinyanyikan saling bersahutan dan berbalas-balasan antara penyanyi laki-laki dan penyanyi perempuan. Bait-bait lirik yang diperdengarkan berupa pantun bertemakan cinta dan dinyanyikan dengan gaya lucu dan jenaka.

Peserta famtrip sedang menonton dondang sayang

Contoh beberapa bait lirik yang dinyanyikan pada Dondang Sayang:


(Penyanyi laki-laki)
Tanam melur tanam selasih
Tanam mari tepi perigi
Tanam melur tanam selasih
Puas sudah kutabur kasih
Alah dondang sayang, kenapa adik tak ambil peduli


(Penyanyi Perempuan)
Takut bertemu balik selisih
Dapat kutahu walau sekilas
Bukan adik tau mahu berkasih
Takutlah kasih, takutlah kasiiiih tidak berbalas


(Penyanyi Laki-laki)
Limau purut lebat di pangkal
Sayang selasih condong uratnya
Hujan ribut dapat ditangkal
Alah dondang sayang, hati yang kasih apa obatnya, apa obatnya


(Penyanyi perempuan)
Kalau kayu panjang sejengkal
Laut yang dalam jangan kauduga
Kalau kayu panjang sejengkal
Hujan ribut dapat kautangkal alah abang sorang
Hati yang kasih oraaaang, jumpa orangnya.

Waktu telah menunjukkan pukul 11.57 manakala bis rombongan dari Kuala Lumpur yang dikawal oleh polisi Negeri Melaka datang ke lokasi acara di Kampung Alai. Rombongan bis ini membawa peserta trip dari berbagai kalangan. Mereka adalah blogger, media, selebgram, foto model, dan artis yang berasal dari Malaysia, Indonesia, Jerman, Perancis, dan Belanda. 

Polisi yang mengawal perjalanan 


Kampung Alai, Melaka

Semua peserta disambut kembali oleh merdunya alunan musik Dondang Sayang. Tak lama kemudian acara dibuka dengan sambutan oleh guide  Amirthalingam yang mengucapkan selamat datang di Kampung Alai. Ia menerangkan bahwa para pelancong yang ingin merasakan atmosfir pedesaan dan lingkungan asli Negeri Melaka patut menginap di homestay-homestay yang dikelola oleh penduduk lokal seperti di Kampung Alai ini.

Pada kesempatan itu para tamu diperkenalkan dengan penganan khas yang disebut kuih Melaka. Terbuat dari adonan tepung ketan yang diberi pewarna dan dibentuk bulat-bulat. Bulatan tersebut lalu diisi dengan gula merah, setelah itu dimasukan ke dalam rebusan air yang mendidih. Kalau di Indonesia lebih mirip onde-onde. Tak lupa, setelah kue matang, kami pun mencobanya. Rasanya? Tentu saja manis dan kenyal. Sedapnyeee.

Kueh Melaka

Selain berkunjung ke homestay Alai, kami pun berkunjung ke rumah salah seorang warga, Zahara Daud, yang mempunyai usaha rumahan berupa pembuatan kerupuk inang-inang. Kerupuk ini terbuat dari beras ketan yang dikukus dan diberi pewarna. Setelah matang, lalu dicetak membentuk bulat pipih dan dijemur di bawah terik matahari. Cara pembuatannya seperti rengginang di kampung saya di Garut, Jawa Barat. Bedanya kalau di Garut perasa dan bumbunya menggunakan terasi (belacan) dengan garam saja dan warnanya hanya putih atau agak kemerahan. 

Sedangkan inang-inang warnanya merah, kuning, dan hijau. Selain berbahan dasar ketan (pulut) ada juga yang berbahan dasar sagu. Cara masak dan pengolahannya pun tidak jauh berbeda dengan inang-inang yang terbuat dari ketan. Usaha rumahan tersebut telah ditekuni Zahara Daud selama 21 tahun dan telah dijual ke berbagai negeri lainnya di luar Melaka.

Inang-inang

Selepas dari Kampung Alai rombongan langsung menuju The Settlement Hotel untuk beristirahat sejenak hingga jam 5 sore, sebelum melakukan perjalanan menyusuri Sungai Melaka menggunakan River Cruise. Tunggu cerita kali selanjutnya yaaa.






59 comments:

  1. di kepri nanti ada gak ya proggram kunjungan untuk rumah adat juga. hehe kayaknya perluh di bicarakan sama pak kadispar ni

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iyaa bilangin Roy. Harus ada gitu. Bangun satu untuk Batam.

      Delete
  2. Aaakkk foto-fotonya bikin awak ingat Medan kampung halaman tercinta! :)) Dikau hebat sekali, Kakak. Tfs. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya Mbak, Melaka itu dekat banget kan dengan Medan dan Melayu Deli secara histori.

      Delete
  3. disini inang-inang artinya kerupuk ya kak lin. di medan inang-inang artinya mamak mamak 😂

    ReplyDelete
  4. Setuju..dengan dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung .

    Dari Stulang laut ke terminal Larkin naik taxi .
    Itu tawar menawar apa pakai argo ya?

    Egh argo apa bhs Malaysianya? Meter reading ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tawar menawar dulu Om. Kalau mereka langsung kasih harga 30 ringgit. Mana maulah kami.

      Delete

  5. Serunya yang jalan2 ke Melaka
    Itu nyanyian Dondang sayangnya secara bergantian ya Mba?

    Nah kalo inang2, pulut makanan dr ketan aku pernah denger dari orang melayu temenku ,

    Ahh nunggu cerita selanjotnya *duduk manis dipojokan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Teh, ganti-gantian saling jawab satu sama lain biasanya per bait pantun.

      Delete
  6. Jadi tau tentang Melaka nih mba. Asik ya nyoba makanan sendiri :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ini dikasih lihat cara dari awal sampai akhir hingga nyicip sendiri hasilnya.

      Delete
  7. Selalu nunggu bisa ikutan..karena belum femes seperti para blogger di atas

    ReplyDelete
  8. Serunyaa bareng bang Yudi Randa ya teh Lina, lalu teringat pasporku yang expired huhu

    ReplyDelete
  9. Kueh melaka mirip bikin onde2/klepon gt y mba, jd pengen makan klepon hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah iyaa bener mirip klepon kalau di Garut.

      Delete
  10. Gak banyak beda ya Teh antara Melaka sama Cikajang Garut, hehehe... Ranginangna pedah warna warni... Ikutan ah lebaran nanti buat rengginang pakai pewarna...

    Btw, salam buat Yudi Randa ya Teh... Sampaikan saya mau banget ke Aceh 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muhun, namina negeri serumpun nusantara, banyak yang sama.

      Delete
    2. wa`alaikumussalam teteh Okti.. lama nggak ada kabarnya hehe :D
      siaaap saya tunggu di aceh Teh

      Delete
  11. Penasaran sama kuenya Mbak, kok kayaknya legit-legit gurih gitu hehehe

    ReplyDelete
  12. Wah, malaysia perhatian banget sama tourism nya ya mba..sampai banyak yg diundang gtu. Nyanyi2 dondang sayang seru juga mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul. Dan hampir tiap bulan ada event tentang tourism. Pengelolaannya terbilang rapi dan teratur. Salut untuk Malaysia. Dondang Sayang ini memang seru loh Mbak.

      Delete
  13. wah..jadi tau malaka nih..
    ada kampung alai...berasa lucu dengernya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya, awal dengar juga lucu, tapi ternyata Alai itu ada juga di Aceh dan Riau. Jadi memang itu nama Melayu.

      Delete
  14. Kerupuk inang-inang itu seperti rengginang gitu ya mbak, cuma ini lebih tipis kayaknya. Penasaran pengin nyobain :F

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, mirip banget rengginang hanya saja ini pewarnanya macam-macam.

      Delete
  15. Aku tertarik sama inang-inangnya warnanya lucu banget bikin lapar mata dan mulut, hihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kreatif kan mereka. Sangat pandai menarik perhatian :D

      Delete
  16. Kuih melaka itu kayak klepon, heheh

    Senengnya yaa mbak, bisa keliling melaka

    ReplyDelete
  17. Lihat foto2nya mirip dengan kebudayaan melayu kita juga ya kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul, mirip karena nenek moyangnya sama. 😁

      Delete
  18. Aku teringat makan onde-onde (kue melaka)nya sampai puas sik.. secara mammam kesukaan sejak kecil. Cuma, di Melaka itu gula arennya di dalam onde2 keras ya kak Lin, ga cair kaya di kita..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku cuma nyicip aja asal tau dan merasakan.

      Delete
  19. Menambah daftar destinasi traveling mba... doakn y bis k sana

    ReplyDelete
  20. Seru sekali mba, semoga kelak ada kesempatan jg jalan-jalan ke melaka. Bisa jd opsi selain wisata kota besar di KL yaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, malah Melaka merupakan kota tujuan wisata selain KL loh Mbak.

      Delete
  21. Senangnya bisa jalan-jalan sampai malaysia.
    Kerupuk inang-inangnya menggoda...

    ReplyDelete
  22. wih jd ikut merasakan perjalannya mbak.. seru banget.
    Btw, inang-inang mungkin seperti rengginang kali ya

    ReplyDelete
  23. Wisata yang begini yang wajib diikuti. Penting sekali nilai-nilai edukasi dan kesenian untuk diketahui. Semangat Teh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, justru wisata begini semakin mendekatkan pelancong ke masyarakat lokal dan kehidupan penduduk sehari-hari.

      Delete
  24. kerupuk inang sama rengginang yang di Jawa tu sama gak ya mbak?

    ReplyDelete
  25. wisata budaya seperti ini memang menarik, kita jadi tau adat istiadat suku/negara lain dan terkadang ada yang mirip dengan budaya kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, saya malah sangat menyukai acara-acara budaya seperti ini.

      Delete
  26. Asik banget bisa belajar budaya di Melaka. Saya ke sana cuma ke daerah UNESCO heritage yang banyak museumnya itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kami juga ke sana meskipun hanya di halamannya saja, masih pe er nih belum ketulis.

      Delete
  27. Jajanannya unik-unik ya.
    Perlu diagendakan nih.
    terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya yanv suka itu yang inang-inang karena colorful.

      Delete
  28. kayaknya enak banget tu Kueh Melaka-nya.
    Selain pakai gula di dalamnya, ditambah kuah lagi ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak dikasih kuah Mas Yop, itu airnya cuma buat ngerebus doang. 😁😁😁

      Delete
  29. keren nya malaka ... jadi pengen kesana ...
    terima kasih tulisan nya ... sangat memotivasi

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...