Jumat, 29 Januari 2016

Rebutlah Hadiah Uang Tunai Lebih dari 300 Juta Rupiah di Festival Penyengat 2016

Festival Penyengat 2016Pulau Penyengat adalah sebuah pulau yang dikenal sebagai mahar pernikahan dari Raja Mahmud Sultan dari Kerajaan Riau - Lingga kepada istrinya Raja Hamidah atau yang lebih dikenal sebagai Engku Puteri.

Di pulau ini pulalah Raja Ali Haji seorang cendekia, alim ulama, penyusun kaidah-kaidah tata bahasa dan ejaan perkamusan, juga seorang pujangga, terlahir dan dibesarkan. Menjadikan bahasa Melayu Riau layak dipakai sebagai bahasa surat menyurat, bahasa buku, dan bahasa kesusastraan, hingga berkembang menjadi bahasa Indonesia seperti sekarang ini. Karyanya yang fenomenal adalah Gurindam Dua Belas.

Karena jasa-jasanya sebagai peletak dasar-dasar kaidah bahasa Indonesia, maka Raja Ali Haji dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional di bidang Bahasa oleh Pemerintah Indonesia.

Saya pernah beberapa kali berkunjung ke Pulau Penyengat. Yang pertama bersama rekan-rekan Majelis Taklim perusahaan dimana saya bekerja. Dalam kunjungan itu kami disambut oleh tari-tarian Melayu yang rancak dengan musik yang melenakan. Semenjak saat itu, saya langsung jatuh cinta dengan seni dan budaya Melayu, terlebih setelah itu kemudian membaca Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji. Saya terpekur dan mengaminkan semua bait-bait dalam Gurindam tersebut.

Setelah itu berkali-kali saya kembali ke Penyengat untuk mengantar teman-teman kerja dan teman traveler dari Jakarta yang ingin sekali menginjakkan kaki di pulau bersejarah tersebut. Terakhir saya ke Penyengat pada tahun 2006 saat mengantar teman dari Kuala Lumpur dan Sabah. Mereka adalah orang-orang Melayu yang ingin merunut kembali masa kejayaan nenek moyangnya.  Yang membuat saya terharu adalah mereka bilang bahwa kita adalah bangsa yang sama, satu rumpun dan satu kisah dalam  sejarah. Sepuluh tahun berlalu dan saya rindu ingin kembali ke sana.
Festival Penyengat 2016Pemandangan Pulau Penyengat. Foto: Dinas Pariwisata Kota Tanjungpinang

Tahun 2016 ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tanjungpinang bekerja sama dengan Kementrian Pariwisata Republik Indonesia akan menggelar event besar bertajuk Festival Pulau Penyengat 2016 yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 hingga 24 Februari 2016. Pulau Penyengat berjarak kurang lebih 1.5 kilometer dari ibukota Provinsi Kepri, Tanjungpinang.

Pada Festival Penyengat 2016 ini akan digelar berbagai lomba, pameran, dan klinik sastra. Untuk hadiah lomba tak tanggung-tanggung Dinas dan Kementrian Pariwisata menggelontorkan uang senilai lebih dari 300 juta rupiah untuk pemenang lomba. Lomba-lomba yang akan diadakan diantaranya adalah:

1.  Lomba Jong
2.  Lomba sampan layar
3.  Lomba sampan dayung
4.  Lomba tangkap itik
5.  Lomba layang-layang
6.  Lomba renang tradisional
7.  Lomba pukul bantal
8.  Lomba fashion show busana Melayu
9.  Lomba kuliner Melayu
10. Lomba pompong hias
11. Lomba becak hias
12. Lomba pidato sadar wisata
13. Lomba fotografi
14. Lomba membaca Gurindam Dua Belas, dan banyak lagi yang lainnya.


Setidaknya ada 4 tujuan utama digelarnya Festival Penyengat 2016 ini. Yang pertama adalah untuk meningkatkan wawasan wisata dan cinta budaya khususnya budaya Melayu. Kedua, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir terutama masyarakat Pulau penyengat. Ketiga,  mengembangkan industri kelautan secara sinergi, optimal dan berkelanjutan yang meliputi industri maritim, wisata & olahraga bahari, perikanan & jasa kelautan. Terakhir yang keempat adalah untuk meningkatkan kunjungan wisata ke kota Tanjungpinang khususnya Pulau Penyengat.  

Masih ada waktu untuk membooking tiket pesawat/kapal dan menentukan jadwal keberangkatan. Ada banyak direct flight dari Jakarta menuju Tanjungpiang dan Batam sebagai kota terdekat dengan Pulau Penyengat. Yuk siapa yang berminat segera datang dan berkunjung ke acara Festival Penyengat 2016. Saya juga akan berangkat kok. mari segera Packing :D 
























Kamis, 28 Januari 2016

Touching The Void Sebuah Pergulatan Hidup Dari Bayang-Bayang Kematian

Judul: Touching The Void
Penulis: Joe Simpson
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal: 254 halaman
Terbit: Oktober 2006


Buku Touching the Void. Sumber: goodreads
“19 Mei 1985. Kemah induk. Embun beku turun lebat tadi malam. Langit cerah pagi ini. Aku  masih berusaha menyesuaikan diri di sini. Tempat ini sungguh terpencil, tapi sekaligus menggairahkan; jauh lebih menggairahkan daripada di Alpen – tak ada rombongan pendaki, tak ada helikopter, tak ada regu penyelamat – Cuma kami dan gunung-gunung itu…. Hidup terasa lebih jauh bersahaja dan lebih nyata di sini. Mudah rasanya membiarkan pelbagai peristiwa dan perasaan lewat begitu saja…” halaman 5.


Buku Touching the void menceritakan sebuah kisah pendakian gunung yang epik namun mencekam dan memilukan. Kisah tentang bagaimana bertahan hidup di gunung bersalju yang nir kehidupan. Dengan bahasa yang penuh sentuhan sastra buku ini berhasil memenangi Boardman Tasker Award, sebuah penghargaan bergengsi untuk buku-buku pendakian gunung yang bernilai sastra, pada tahun 1988.

Adalah Joe Simpson dan Simon Yates pada tahun 1985 mereka berdua mendaki Gunung  Siula Grande di pegunungan Andes, Peru yang mempunyai ketinggian 6.344 meter, Di ibukota Peru, Lima, mereka bertemu Richard seorang petualang yang kemudian tertarik untuk bergabung ikut mendaki namun hanya sebatas ketinggian yang ia mampu daki saja. Joe dan Simon mengajak Richard dengan iming-iming melihat pegunungan Andes dari jarak dekat.


Sisi Barat Gunung Siula Grande. Sumber: Wikimedia

Gunung Siula Grande pertama kali dipanjat oleh dua pendaki asal Jerman, Erwin Schneider dan Arnold Awerzger pada Tanggal 28 Juli tahun 1936 melalui punggung utara. Dan hanya ada sedikit pemanjatan setelah itu. Tantangan utama gunung ini adalah dinding barat  setinggi 1.350 meter yang menciutkan nyali, dan hingga saat itu mampu mematahkan seluruh upaya pendakian.

Kamis, 21 Januari 2016

Fish Talk Resto Batam Restoran Tematik Dengan Menu Utama Ikan


Kulineran di Batam seakan tak ada habisnya. Dari jajanan pasar, fast food, street food, sea food, Chinese food. Banyak juga restoran dengan menu tradisional daerah seperti Restoran Padang, Restoran Batak, Restoran Sunda, dan beragam jenis restoran yang menjual makanan dan minuman lainnya tersebar hampir merata di seluruh penjuru Pulau Batam.

Di pesisir tepi-tepi laut biasanya terdapat kelong dan resto apung yang menyediakan sea food. Di tepi-tepi jalan ada banyak jenis pilihan jajanan dan lauk. Di kawasan-kawasan industri ada pujasera. Di mal-mal ada fast food dan juga street food. Lengkap deh. Tinggal menyesuaikan budget mau kulineran di level mana. Level kantong kempes, kantong tebal, kartu debit, atau kartu kredit.


Rabu, 20 Januari 2016

[Review] Hotel Butik Terbaik di Batam Hanya di Hotel Kaliban

Hotel Kaliban, Batam Centre

Sabtu, 9 Januari 2016 yang lalu saya janjian dengan seorang teman Blogger Batam pemilik blog www.adventurose.com, Dian Radiata, untuk menginap bareng di Hotel Kaliban Batam Centre. Tentu saja nginapnya beda kamar karena kami mengajak serta keluarga masing-masing.

Setiap diajak menginap di hotel, Chila selalu antusias sekali. Bahkan jika saya memberi tahu akan menginap di hotelnya jauh-jauh hari, hal itu akan dibahas Chila setiap saat. Bertanya kapan dan kapan sambil terus menghitung waktu. Menghitung berapa hari lagi. Jika pun harinya sudah tiba, Chila akan menanyakan berapa jam lagi. Jika jamnya sudah tiba, Chila akan bertanya berapa menit lagi. Pertanyaan akan berhenti dan tergantikan dengan pertanyaan lain saat kami berangkat. Haha dasar anak-anak. Eh tapi tidak Chila saja yang bertingkah begitu. Ternyata Lala, putri dari Dian yang berambut kriwil dan pipi tembem pun sama ceriwisnya.

Sabtu siang itu, saya memberitahu Chila kalau kami akan dijemput Mamanya Dek Lala (begitu saya memanggil Dian Radiata). Dua jam sebelum jam keberangkatan, Chila sudah dandan rapi meskipun saya menyarankan untuk tidak cepat-cepat karena takut kelamaan menunggu. Tetap saja Chila bersikukuh.

Dari rumah kami di Batu Aji, jalan menuju Hotel Kaliban ternyata mudah sekali. Tinggal lurus menyusuri jalan protokol Jalan Letjen Suprapto yang menghubungkan Batu Aji dengan Batam Centre. Ketika menemukan persimpangan atau perempatan dekat Kepri Mall tetap lanjut lurus ke arah Batam Centre menyusuri Jalan Jendral Ahmad Yani. Tiba di simpang lampu merah yang oleh masyarakat Batam disebut dengan Simpang Franky (dibaca frengki :D) yang dekat Politeknik Batam, langsung belok kanan menyusuri Jalan Laksamana Bintan. Tinggal terus lurus. Tepat di ujung jalan Laksamana Bintan di tepi sebelah kiri yang beririsan dengan  Jalan Raja Isa  terlihat bangunan Hotel Kaliban yang tinggi menjulang sendiri.

Di parkiran depan hotel, kami disambut oleh seorang bellboy yang hendak membawakan barang bawaan, namun karena bawaannya cuma ransel satu jadi sekalian saja digemblok di punggung, bawa masuk sendiri.

Hawa dingin langsung menyeruak tatkala kami masuk ke lobby hotel. Senyum ramah dua orang resepsionis mempersilahkan kami untuk melakukan check-in. Karena Chila maunya tidur dengan kasur sendiri, saya memesan kamar yang mempunyai fasilitas double bed. Semula khawatir kena extra charge tapi ternyata tidak. Syukurlah.

Foto kamar saat rapi dulu sebelum diacak-acak anak-anak :D

Langsung goleran


Beberapa saat setelah proses check in selesai, kami langsung menuju lantai dua kamar nomor 210 dan 212. Saya menempati kamar nomor 9 dan Dian kamar nomor 10. Ketika membuka kamar, Lala dan Chila langsung menyeruak masuk tak sabar ingin segera nonton frozen di youtube dengan membuka wifi di kasur yang empuk. Karena wifi kencang dan lancar jaya, anak-anak asyik menonton film-film kartun dan game kesukaan lainnya di youtube. Yaelaah dasar anak masa kini. Emaknya ngiri mode on.

Fasilitas kamar dilengkapi televisi, air conditioner (AC), lampu tidur, meja rias berikut kursinya serta sebuah kapstok yang tergantung dalam panel kayu dengan hanger bergantungan. Karena suka dengan motif kayunya yang natural saya tergoda untuk duduk berfoto-foto di sana. Kalau ketahuan pihak hotel bisa kena marah nih. Hihi. Untung saja saya kurus jadi beban badan yang menduduki panel kayu tidak seberat beban hidup. Eh apaseh? Haha. Terlebih saat itu muncul keinginan untuk pamer tas ransel dan rok ke teman-teman blogger di grup WhatsApp. Iyalah tas dan rok tersebut saya dapat dari voucher salah satu e-commerce sebagai imbalan menulis sebagai blogger. Jadi harus diceritain ke blogger lain. Wkwkwk. FoMo banget guweh. Biarin ah yang penting saya bahagia (baca: pura-pura bahagia), tidak sombong (meski songong), rajin menabung (yang ada rajin ngutang ke warung), dan rajin beribadah (yang benar rajin ngerumpi).
 
Tas dan rok baru buat pamer ke grup WA haha. 

Saat diminta untuk memfoto saya, untungnya suami yang baru saja datang ke kamar hotel tidak komplain atau memprotes. Dia rela terbungkuk-bungkuk, miring kiri, miring kanan, jongkok mencari angle yang pas demi memfoto istri tercintah. Laaah ini yang banyak gaya kok tukang fotonya sih? Hahah.

Sebenarnya dalam hati bertanya-tanya apakah Si Ayang senang atau tidak dengan dandanan dan gaya pakaian yang saya kenakan saat itu. Soalnya selama ini dialah yang jadi pemerhati fashion saya. Ceilah bahasanya. Iya sih, betul juga. Selama ini pakai baju apa pun saya, suami suka menilai dan menyarankan begini begitu. Saya justru tambah senang diperhatikan seperti itu. So far dia nggak komplain apa-apa hanya diam termangu menatap istrinya penuh rasa suka berarti dia suka. Hihi. Asyiiik.

Anggun kan? Anak Gunung :D

Selesai sesi pemotretan model gagal, saya melihat-lihat ke jendela kamar. Pas sekali jendelanya menghadap ke Purimas Residence. Di bawah sana berjejer rumah-rumah type 45 ke atas yang berkelompok membentuk cluster. Lingkungannya tampak asri dan bersih. Tidak ada sampah dan barang-barang yang tidak perlu di sekitar perumahan. Ketika keesokannya bangun pagi dan mengintip ke bawah jendela lagi, saya melihat beberapa orang petugas kebersihan sudah bekerja mengangkut sampah-sampah dari halaman rumah warga.


Purimas Residence dengan view Bukit Clara Batam Centre


Dian Radiata


Dengan taglinenya sebagai Batam’s Finest Boutique Hotel, Hotel Kaliban yang terletak tak jauh dari pusat pemerintahan kota Batam ini merupakan hotel yang sangat strategis keberadaannya. Hanya berjarak kurang lebih 5 menit dari Terminal Ferry Batam Centre dan 15 menit dari Bandara Hang Nadim Batam dengan lalu lintas sangat lancar. Selain itu Hotel Kaliban dekat dengan berbagai fasilitas bisnis, hiburan, dan rekreasi. Pusat belanja seperti Mega Mall dan Kepri Mall hanya berjarak beberapa menit saja dari hotel. Begitu juga dengan bank-bank dan kantor pemerintahan seperti Kantor imigrasi, kejaksaan, dan gedung DPR. Jika hendak jogging atau bersepeda pun bisa menuju ke lapangan Engku Putri yang tak jauh dari hotel. Seperti yang dilakukan Dian dan keluarganya. Saya sih masih bobo pulas sat mereka sepedaan di Engku Putri.    
 
Suasana Hotel Kaliban di malam hari

Hotel Kaliban menawarkan kenyamanan hotel bisnis dan liburan perjalanan. Bisa menjadi pilihan untuk memulai eksplorasi wilayah menarik di dalam Batam sendiri atau di pulau-pulau di sekitar Batam. Untuk lokasi yang strategis di Batam Centre seperti ini, Hotel Kaliban justru mematok harga yang terjangkau mulai dari 396.694 rupiah per malamnya. Lebih mudah, murah, dan nyaman. Didukung oleh fasilitas yang memadai  seperti 50 kamar dengan perabotan yang baik, Ohana Restaurant, Laundry, akses internet menggunakan jaringan wifi, dan jasa taxi 24 jam.

Pemandangan dari roof topnya pun sangat menarik.Menjelang senja, berdua dengan Dian saya menaiki roof top hotel yang menampilkan pemandangan ke seluruh penjuru mata angin secara 360 derajat. Sunrise dan sunset bisa disaksikan jelas dari sini. Saat kami naik ternyata bertepatan dengan detik-detik matahari akan tenggelam. Hanya saja, sayang sekali pada bagian roof top ini belum dibenahi sehingga tidak terdapat fasilitas tempat duduk atau sarana lainnya. Padahal jika dibenahi akan menjadi nilai plus dan lokasi hotel favorit para tamu yang datang.
  
Pemandangan dari roof top ke sebrang hotel

Sunset senja kala itu

Setelah sholat maghrib, kami semua berangkat menuju kawasan Pasar Legenda untuk makan malam. Di sana terdapat berbagai jenis masakan hidangan makan malam yang sangat beragam. Baik sea food maupun hidangan makanan lainnya.

Karena tidak ada rencana dan kegiatan lainnya, sepulang makan malam kami kembali ke kamar masing-masing namun Lala kabur dan langsung masuk kamar kami. Lala bilang mau tidur bareng Kak Chila. Ayah Chila pun mengajaknya mengobrol. Sudah sejak lama Lala memang dekat dengan ayah Chila. Lala memang tampak menyukainya semenjak sering bertemu. Sementara Chila kerap cemburu melihat Lala begitu akrab dengan ayahnya. Sering digendong dan dimanja oleh ayah Chila. Buntutnya Chila ngambek. Setelah beberapa kali diberi pengertian akhirnya Chila mau bermain lagi dengan Lala dan menonton youtube bersama-sama. Duh gimana mau punya adik Chil.

Berkali-kali Dian dan Mas Anang menjemput Lala ke kamar, namun Lala bergeming di kasur dengan tablet zenpad putihnya. Seru menyaksikan game-game Frozen bersama Chila. Karena tidak ada susu, saat dibujuk mau ambil susu Lala pun akhirnya mau dihantar ke kamar sebelah.
 
Restoran Ohana

Sarapan di hotel

Keesokan harinya setelah sarapan di restoran hotel yang diberi nama Ohana Restaurant, kami menuju Kawasan Batu Ampar untuk bertemu dengan teman-teman Kelas Inspirasi yang sedang arisan. Cukup lama dan baru kembali tengah hari. Setelah itu kembali ke hotel untuk check out.

Sesaat mau pulang, di halaman parkir, para emak sibuk foto-foto, para suami menunggu sambil ngerumpi di samping mobil, dan anak-anak? Lihatlah foto di bawah ini. Ya ampuuun. Malah perosotan di teras hotel. Sibuk dengan dunianya masing-masing. Wkwkwk. 

Nah begitu pengalaman pindah tidur dari lokasi biasa ke lokasi elit di Batam Centre. Cuma buat bobo bareng doang sebenarnya tapi seru dan menyenangkan.

Anak-anak apa aja jadi mainan :D

Ini lagi serodotan seluncuran di teras hotel. Wkwkwk. 


Hotel Kaliban
Alamat:  Kompleks Purimas Residence, Blok C 25-28
               Batam Centre, Batam
               Kepri – Indonesia
Phone :   +6281277622600

Jumat, 15 Januari 2016

Bersenang-Senang di Pulau Ngenang

Pulau Ngenang (tengah tanda putih) di antara Batam dan Bintan
Langit teramat mendung, angin yang berhembus kencang seakan memicu ombak untuk semakin tinggi, tinggi, dan meninggi.  Perahu motor atau yang sering kami sebut pompong yang sedang kami tumpangi terombang-ambing dimainkan gulungan ombak yang tidak menentu. Mesin perahu yang bising sudah dimatikan bermenit-menit lalu semakin mempertegas suara kecipak ombak yang kian tak menentu. Menganyun pompong ke sana kemari tak tahu arah yang dituju.

Wajah kami pucat, sepucat bulan yang muncul pagi tadi di tepian dermaga Pulau Anak Lobam. Pulau yang setengah jam lalu kami tinggalkan. Dada kami gemuruh oleh rasa waswas takut tenggelam di lautan luas. Dari tujuh orang penumpang pompong, tak ada satu pun dari kami yang pintar berenang dan tak satu pun yang mengenakan pelampung. Klop, paduan yang sempurna untuk sebuah kejadian fatal yang dapat berujung kematian karena tenggelam di lautan. Maka, jika nasib buruk menimpa, sungguh ajal telah telah membayang di pelupuk mata.

Di kejauhan, mulai tampak terlihat sebuah pulau dengan pepohonan kelapa melambai-lambai. Lelaki paruh baya yang menjadi juru mudi pompong mengatakan bahwa pulau itu disebut Pulau Ngenang. Karena cuaca semakin tak bersahabat, ia menyarankan kami mampir ke Pulau Ngenang. Ia lantas menyalakan mesin pompong dan dengan seluruh kemampuannya mengarahkan laju pompong, menerjang ombak yang masih mengganas tak beraturan menuju Pulau Ngenang. Sepuluh menit kemudian kami bernafas lega. Pompong berlabuh dan kami segera menaiki pelantar pulau yang langsung tersambung dengan rumah penduduk. 

***

Peristiwa itulah merupakan perkenalan pertama saya dengan Pulau Ngenang. Pulau cantik yang langsung memikat saya karena kehidupan penduduknya yang tenang, lingkungannya bersih, rumah-rumahnya rapi, dan pepohonan yang tumbuh di sekitar pulau tampak lebat, rindang, dan menyejukkan. Terutama deretan pohon kelapa di sisi kanan-kiri jalan jika difoto tampak photogenic atau kalau dalam bahasa kekinian bisa dibilang sangat instagramable.

Pulau Ngenang dapat dikelilingi keseluruhannya hanya dengan berjalan kaki. Jalan umum yang menghubungkan bagian ujung-ujung pulau pun bisa ditempuh dengan menaiki sepeda. Ah ya, saya jadi berfikir kenapa penduduknya tidak menyediakan sepeda untuk para pendatang yang ingin melihat-lihat keseluruhan pulau dengan lebih cepat. Seandainya ada, mungkin akan banyak orang yang tertarik untuk datang dan datang lagi. Apalagi Pulau Ngenang pun mempunyai pantai yang berpasir putih yang dapat diakses dengan sekedar berjalan kaki ataupun bersepeda.


Terletak diantara Pulau Batam dan Bintan,  Pulau Ngenang kerap menjadi tempat persinggahan para nelayan yang akan menuju dan atau kembali dari Batam dan Bintan. Pada tahun 2012 Pulau Ngenang dan Pulau Tanjung Sauh yang terletak disebrangnya, diusulkan untuk masuk ke dalam wilayah FTZ sehingga dapat dibangun jembatan penyebrangan yang akan menghubungkan Batam dengan Bintan. Bertahun-tahun berlalu, hingga kini pembangunan jembatan mandeg di tengah jalan. Tanya kenapa? Entahlah.


Seperti namanya, Konon Ngenang ini bermakna mengenang atau terkenang. Maka saya pun demikian adanya. Semakin lama semakin terkenang dan ingin kembali ke Pulau Ngenang. Hingga tiba di suatu waktu ada seorang calon pengusaha meminta pendapat saya dan teman-teman untuk merekomendasikan pulau mana yang berpotensi untuk dikembangkan dan dijadikan destinasi wisata. Tak menunggu waktu lama untuk berfikir saya langsung menunjuk Pulau Ngenang sebagai salah satu destinasi percontohan.

Maka, rombongan survey pun beramai-ramai berkunjung ke Pulau Ngenang. Bersenang-senang, bermain-main di pantai, mengelilingi keseluruhan pulau dengan menyisir tepiannya dan juga menyusuri jalan-jalan kampung yang bersih dan rapi. Di beberapa titik terdapat penanda yang diisi pantun yang berisi nasihat-nasihat bijak.

Kedatangan kami disambut baik oleh penduduk dan dijamu dengan hidangan khas melayu yang hampir seluruh menunya kecuali lalapan dan nasi, lainnya sea food. Ada ikan asam pedas, ikan pari bakar, rebus kapis, goreng udang, ketam, serta gonggong, sejenis siput khas perairan kepulauan Riau.

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, Pulau Ngenang memang sangat berpotensi untuk dijadikan destinasi wisata terutama yang berhubungan dengan wisata bahari.Secara ekonomi tentu hal ini akan berdampak positif terhadap peningkatan taraf hidup penduduk pulau. Ekonomi akan menggeliat. Dan roda ekonomi di pulau yang cenderung stagnan secara perlahan akan melaju.


Sungguh sangat disayangkan, entah karena kurang penanganan yang profesional atau manajemen yang baik, sepertinya rencana pendirian perusahaan Tour and Travel si pengusaha yang saya temani itu, gagal dilanjutkan. Terbukti hingga kini tidak terdengan lagi kabar dan beritanya.

Note: Foto-Foto menyusul entah keselip dimana filenya. Kalau cuma nyomot di internet sih bisa tapi malas banget karena bukan foto sendiri. 

Kamis, 14 Januari 2016

[Cerpen] Memahat Janji di Rinjani

       “Aku hanya ingin bercerita pada rinai hujan yang datang di keremangan, pada kabut yang menelikungi pemandangan, pada kuncup-kuncup cantigi yang merah berseri di Plawangan, juga  pada edelweis yang tersembunyi dibalik jurang-jurang”
 
          Kabut semakin pekat menelikungku dengan kebimbangan yang sangat. Akankah Aku menghentikan langkah ini? Sementara badai semakin kencang bergemuruh menampar-nampar dinding tebing yang terjal. Menggemakan kegalauan ke dalam hati seiring dengan ritme jantung yang semakin berdetak cepat. Peluh pun tak lagi bercucuran karena luruh terserap hawa dingin yangmembekukan.

            Aku menghela nafas panjang. Pyuh…bayang-bayang seseorang selalu datang menghantui. Mengintai menembus alam sadarku. Menguntit mengikuti langkah-langkahku yang semakin meninggi. Berpuluh-puluh helaan nafas panjang telah kulakukan namun semakin lama peristiwa itu semakin berkelebatan muncul dan menyakitkan. Sepanjang perjalanan menuju puncak gunung ini, tubuhku berguncang hebat. Tangisan terhambur pilu, walau air mata sudahlah mengering sejak satu jam yang lalu. Menangis, menangis dan terus menangis. Melepas sedih yang menghimpit ruang-ruang di sanubari. Untung saja aku hanya sendiri melewati jalur curam ini.

Rabu, 13 Januari 2016

5 Jenis Pendaki Saat Berada di Tanjakan

Tanjakan Cinta
Tanjakan Cinta, Gunung Semeru
Obrolan di sebuah warung.

Pendaki A:  Kalau lagi naik gunung suka merhatiin orang lain nggak sih saat di tanjakan?
Pendaki B:  Aduh boro-boro merhatiin orang lain, merhatiin diri sendiri aja kepayahan. Di tanjakan gitu bo, lengah dikit bisa kepeleset adek, Baaaang.
Bukan Pendaki:  Boro-boro merhatiin,  naik gunung aja belum pernah. #Makjleb.

Baiklah kalau begitu. Kita bahas yuk!

Saya kok tiba-tiba kefikiran saat  sedang berjalan merayapi  beberapa tanjakan di gunung ya. Tanjakan di gunung biasanya sering diperbincangkan para pendaki karena jalurnya termasuk paling menyulitkan. Salah tiganya adalah Tanjakan Cinta Gunung Semeru, Tanjakan Bukit Penyesalan di Gunung Rinjani  dan Tanjakan Patah Hati Gunung Sinabung. Duh apa kabar Sinabung ya? Kangen suasana malam yang bertabur bintang di sana.

Nah sewaktu mendaki dan menaiki tanjakan-tanjakan itu, saya biasanya  berjalan santai selow (sendal kali selow. Eh itu mah selop ya haha. Bukaaaan, swallow tau!) sesuai ritme tubuh, difikir-fikir lucu juga memperhatikan berbagai karakter dan perilaku pendaki saat melalui tanjakan. Berbagai macam tingkah polah, gerak-gerik akan terlihat saat berada di tanjakan. Sedikitnya dapat mengambarkan siapa dia sesungguhnya. Sedikit aja kok. Nggak semuanya. Makanya jangan diprotes.

Saya biasanya bak seorang pengamat, mulai sibuk mengomentari tingkah polah para pendaki di tanjakan. Tentu saja dalam hati. Kalau teriak-teriak bisa dilempar keril sama mereka.

Obrolan di salah satu warung pendaki.

Pendaki C: Eh tau nggak kalau tipe kepribadian seorang pendaki  itu bisa dilihat dari cara dia berjalan di tanjakan loh?
Pendaki D: Ah masa sih, misalnya?
Pendaki C: Nih ya aku terangin makanya dengerin baik-baik.

Lelah Adek Baaang! Tungguin!

1.     Tipe Bossy
Saat di tanjakan sukanya merintah-merintah. Mas jangan lewat situ licin, lewat sini saja. Mbak-Mbak lewat sini mbak, di situ banyak cowok ganteng nanti kepincut. Ini ada cowok yang lebih ganteng lagi di sini. Sambil nunjuk diri sendiri. Tuh kan merintah merintah segala. Kenal juga enggak. Haha.

2.     Tipe Assistance
Setiap ada orang yang lewat maunya nolong terus.  Suka bilang gini, mari mbak saya bantu bawakan keril cantiknya. Atau eh Neng, sini pegangan sama Aa nanti kepeleset, tikosewad, tiseureuleu, tijalikeuh. Haha mendadak roaming hawa Garut rupanya. Eh itu tadi artinya apa? Ya itu tadi artinya kepeleset. Tapi karena bahasa Sunda itu kaya, bahasa rasa dan perasaan jadi banyak kosakata. Untuk kata kepeleset aja bisa diartikan bermacam-macam tergantung situasi yang mengikuti. Laaah kok mendadak jadi guru bahasa Sunda ini. Wkwkwk. Kembali ke tanjakan.

3.     Tipe Pembalap
Pendaki tipe ini kalau lewat tanjakan suka banget berlari, padahal kalau sudah sampai atas mendadak berhenti. Mau loe apaseh? Meskipun antrian di tanjangan lagi panjaaaang, tipe si pembalap  maunya mendahului pendaki lainnya. wus..wus…wus…kayak mobil yang baru diservis.

4.     Tipe Siput
Jalannya lambaaaat banget kayak keong, siput, umang-umang, ulat bulu, dan sejenisnya. Tanjakan yang tingginya cuma 10 meter doang kadang diselesaikan hingga berjam-jam perjalanan. Iyalah disambi dengan ngopi, ngobrol, curhat ala Mamah Dedeh dan Aa, atau ngelamunin mantan yang tak kunjung minta balikan. Alasannya lagi menikmati perjalanan. Padahal sebenarnya lutut gemetar, kaki pegal linu, badan cekot-cekot, nafas tersengal-sengal, dan sendi ngilu-ngilu.  Laah kok ini kayak gejala flu burung sih hihi.

5.     Tipe Nggak Percaya Diri
Sebentar-sebentar nengok ke belakang, dikira belum sampe–sampe.  Alasannya lagi-lagi menikmati pemandangan padahal lagi  kecapekan. Maju selangkah berhenti. Lihat belakang. Dua langkah berhenti. Lihat belakang. Duh abaaaang kapan nyampenya Baaang? Capek adek ngikutin abang. Haha.


Kelima tipe di atas murni pendapat saya alias si pendaki C. Jika ada kesamaan sifat dan jenis perilaku yang menyinggung kamu mohon dimaafkan ya. Emang sengaja artinya  iseng aja  atau nggak disengaja. 

Nih Pemandangan dari Tanjakan Cinta, pantes balik badan terus

Selasa, 12 Januari 2016

Itinerary Krabi Thailand Selatan Selama 4 Hari 3 Malam




Bagi teman-teman yang mau jalan-jalan ke Krabi Thailand Selatan, berikut saya paparkan itinerary 4 hari 3 malam di Krabi:


Hari ke-1:
  •  Tiba di Bandara Internasional Krabi, dijemput oleh petugas dari hotel (free airport transfer). Karena penerbangan Kuala Lumpur – Krabi sore hari, jadi sampai Krabi maghrib tidak sempat kemana-kemana.
  • Makan malam beli dari hotel. Yang free hanya sarapan saja.
  •  Istirahat.
Mobil Jemputan Hotel
  
Kamarnya Cakeep :D



Hari ke-2:

  • Sarapan (free disediakan hotel).
  • Ikut One Day Tour ke Phi Phi Islands. Dewasa 1200 bath (600 ribu rupiah) anak-anak 1000 bath via Sea Eagle Tour yang direkomendasikan dari pihak hotel. Start naik Speed Boat ke Phi Phi dari Aonang Beach. Dari hotel ke Aonang Beach dihantar mobil hotel (free transport).
Suasana Pantai Phi Phi Don

  •  Jam 9 pagi berangkat dari Aonang Beach mengunjungi pulau dan laguna di kawasan Phi Phi Islands diantaranya Bamboo Island, Viking Cave,  Lohsamah Bay, Pileh Bay (Lagoon), Monkey Beach, Maya Bay, dan tempat syuting Leonardo Dicaprio di film The Beach yaitu Phi Phi Don. Tour ini termasuk makan siang (halal), buah-buahan dan air mineral. Jam 4 sore sudah kembali dan tiba di Aonang beach.
  • Kembali ke hotel, bersih-bersih, makan malam (beli dari hotel) dan istirahat.
  • Jika hendak sholat banyak terdapat mesjid di sepanjang jalan di Krabi.



Hari ke-3:


  • Menemani anak-anak berenang di  kolam renang hotel.
  • Menyewa mobil untuk jalan-jalan seharian seharga 800 bath (Kalau nyari-nyari ada yang mulai 300 bath juga).
  • Siangnya mengunjungi Tiger Temple (Wat Tham Sua) lalu menaiki bukit batu melalui 1260an anak tangga di atas Tiger Temple, dimana di puncak bukit batu ini terdapat pagoda dan patung budha yang sangat besar. Sewa motor juga bisa dan banyak tersedia di penginapan dan hotel-hotel harga mulai 120 bath (60 ribu rupiah).
  • Jam 2 siang mengunjungi Tesco Lotus mall untuk belanja souvenir, oleh-oleh dan menukar uang bath. Karena nggak ada yang khas jadi kami lanjut ke pasar di kawasan Paknum, Muang. Pasar ini sebenarnya Night Market, sayang kami datangnya sore-sore jadi belum ramai.
  • Sore jalan-jalan di Utarakit Road di tepian Krabi River yang mempunyai pemandangan dua bukit kembar setinggi 100 meter bernama Khao Kanab Nam di kejauhan dan menjadi landmark Krabi River. Di tepian sungai ini pun banyak terdapat spot-spot menarik untuk foto-foto seperti patung Kepiting, ikan, dan elang.
  • Mengunjungi pasar rakyat di sepanjang jalan yang dilewati di kawasan Ban Tha Len (tempat hotel kami berada). Banyak jajanan unik khas Thailand Selatan yang kami temui. Yang berjualan kebanyakan warga muslim Krabi Thailand. 
  • Maghrib kembali ke hotel.
  • Makan malam dan istirahat.

Hari ke-4:

Pagi-pagi sekitar jam 6.30 berangkat menuju bandara dengan dihantar oleh mobil hotel (free airport transfer).

Kamis, 07 Januari 2016

Berenang-renang Cantik dan Bermain Pasir di Maya Bay

Maya bay
Speed boat sesaat setelah melewati celah antar tebing
Speed boat yang kami tumpangi meluncur cepat di permukaan laut Andaman. Sesekali air laut masuk ke dalam kabin boat membuat peserta tour riuh dan sibuk merubah posisi duduk. Ada juga yang beranjak merapikan barang-barang yang masih tergeletak di bangku. Untungnya di kolong bangku speed boat disediakan tempat penyimpanan barang-barang milik penumpang. Guncangan-guncangan yang kian kencang membuat seorang ibu-ibu warga Mumbai India muntah-muntah. Reny dengan baik hati memberikan minyak kayu putih kepadanya. Karena tidak faham cara pemakaiannya, si ibu India hendak meminum minyak kayu putih, beruntung kami segera mencegahnya. Kalau tidak entah apa yang akan terjadi. Hehe. Detail trip One Day Tour Phi Phi Islands pernah saya tulis juga bulan lalu.

Memasuki kawasan Phi Phi Islands kami dibuat takjub dengan formasi pulau-pulau kosong tanpa penghuni yang berdinding tebing-tebing tinggi. Sesekali tebing-tebing tampak menghijau ditutupi rimbunnya pepohonan. Kecepatan boat mulai dikurangi, kami melintasi celah kecil antar tebing-tebing pulau dengan pemandangan air laut biru tosca. Meski langit memutih, laut tetap saja memantulkan warna aslinya.

Tiba di Maya Bay


Speed boat merapat di tepi pantai. “Attention please,” Si pemandu berteriak meminta perhatian, kemudian mem-briefing kami tentang segala sesuatu yang perlu dan harus kami lakukan. Dia bilang bahwa kami sudah berada di kawasan Maya Bay, ia pun mempersilahkan kami berenang-renang sampai jam 12 tengah hari. Setelah itu berkumpul di satu titik di sebuah bagungan yang ia tunjuk di tepi pantai. Baiklah, kami segera berhamburan keluar.

Shera dan Desti kedua gadis cilik anaknya Reny tampak antusias. Namun tidak dengan Chila gadis kecil saya. Karena selama perjalanan Chila mengenakan pakaian basah dan diterpa angin kencang serta hantaman ombak yang memabukkan, ia mendadak mengeluh masuk angin. Sebelum berangkat Chila memang bermain-main pasir di Aonang Beach hingga bajunya basah kuyup. Karena mau berenang lagi jadi bajunya tidak saya ganti. Fikir saya nanggung udah basah sekalian. Ternyata ini malah menyebabkan masalah besar buat Chila. Hikss...maafkan Bunda ya Nak!

Digendong agar mau berenang

Come to Mama 
Kesalahan kedua, saya langsung membaluri perut Chila dengan kayu putih jadi saat Chila mencelupkan badannya ke dalam air laut, perutnya mendadak terasa dingin. Ada sensasi dingin luar biasa menjalar ke bagian kulit yang terkena minyak putih. Meskipun sudah dirayu-rayu untuk berenang ia menolak dan memilih kabur untuk bermain pasir. Sayang banget nggak jadi berenang padahal lautnya cantik dan bergradasi meskipun lebih mirip  cendol saking banyaknya orang di sana

Saya berdua Desti berenang-renang santai, sementara Chila dan Shera bermain pasir. Makin siang Maya Bay makin crowded. Karena semakin banyak boat yang berdatangan dan berhenti di tempat tersebut
 
Shera dan Chila bermain pasir di Maya Bay
Karena mulai kelaparan, saya dan Reny segera meluncur mencari makan. Tak jauh dari pantai kami menemukan warung yang menjual makanan sejenis pop mie. Langsung deh pesan. Saya pun lantas memanggil anak-anak untuk menyuruh makan. Chila tampak semangat dan lahap makan mie karena perutnya menjadi hangat. Selesai makan mie anak-anak langsung berlarian kembali ke pantai untuk bermain pasir.

Saya dan Reny lantas beranjak untuk kembali ke pantai. Namun baru beberapa langkah mendadak penasaran dengan jalan setapak menuju ke dalam pulau yang tampak ramai oleh turis. Penasaran ada apa di dalam sana, kami memutuskan untuk mengikuti jalan setapak itu. Semakin ke dalam semakin ramai orang yang berpapasan dan searah jalan. Ternyata di dalam tidak ada yang istimewa, hanya ada warung-warung makan dan toilet. Meskipun begitu, kami masih santai dan bergantian berfoto di tulisan Maya Bay. Sementara tanpa disadari waktu telah menunjukkan jam dua belas lewat. 

Baru sadar saat memperhatikan jam tangan Reny. Saya sendiri nggak pakai jam tangan. Handphone pun ditinggal di dalam tas di kolong bangku speed boat karena niatnya hendak berenang. Mulai teringat bahwa jam dan waktu Thailand kan sama dengan waktu di Jakarta. Tidak maju satu jam seperti halnya Malaysia dan Singapura. Hwaaa… mendadak panik dan kaget karena kami berdua sudah molor beberapa belas menit dari batas waktu yang ditetapkan si pemandu.

Burung dan rumah kecil di tepi jalan setapak


Kami mempercepat langkah, Reny yang tengah hamil 5 bulan jelas tidak boleh berlari. Karena itu, saya pamit untuk berlari dan mencari anak-anak terlebih dahulu. Tiba di batas antara pepohonan dan pantai, saya berbelok ke sebelah kiri tempat anak-anak bermain pasir tadi. Ternyata mereka sudah tidak ada. Duh panik luar biasa. Tapi sempat berfikir bahwa ini sudah lewat dari jam 12 berarti anak-anak sudah disuruh naik speed boat. Saya pun menyusuri puluhan boat yang berbaris rapi di bibir pantai. 

"Bundaaaaa....cepaaat. Kenapa Bunda lama kali", teriak Chila penuh nada marah. Ah syukurlah ternyata anak-anak semuanya sudah naik boat. Dan saya pun dengan gugup segera naik. 

"Madam where's is your friend?" Si pemandu bertanya dengan nada kesal.
Wait, just a minute!” Oh ya salaaam, iya ya mana Reny. Saya gelisah. Bermenit-menit berlalu Reny tak kunjung datang, padahal tadi kan tepat di belakang saya, mestinya dia sudah sampai.

"Wait a moment, I will find her." saya pun berlari ke arah jalan setapak yang tadi kami lewati. Nihil Reny nggak kelihatan sama sekali. Duh gimana ini. Saya mulai panik. Lari kesana kemari diantara ratusan atau mungkin ribuan orang yang memadati pantai berpasir putih di Maya Bay. Hampir 10 menit mencari tidak juga membuahkan hasil. Saya menduga Reny pun mungkin sama sedang mencari kami ke sana kemari. Hanya saja mencari orang di antara padatnya turis seperti itu sungguh pekerjaan yang tidak mudah. 

Saya mulai mencari Reny ke sisi kanan jalan setapak atau ke sebelah kiri boat yang terparkir di tepi pantai. Baru saja beberapa langkah berlari, Reny sudah terlihat. Saya berteriak memanggilnya. Dengan sumringah Reny segera mendekat. Pyuuh, syukurlah tidak jadi ditinggal speed boat. Andai ditinggal? Bakal ada drama dalam perjalanan ini.

Saya dan Reny secepat mungkin segera naik ke speed boat. Si pemandu ngomel-ngomel dalam bahasa Thai sambil memperhatikan jam tangannya. Wajahnya sungguh tidak bersahabat lebih tepatnya sih menyeramkan. Sorot matanya seolah-olah hendak menerkam kami. Huhuhu.. maafkan ya Om, memang kami lalai. 

Merasa bersalah, saya memberanikan diri menyapa beberapa penumpang dan meminta maaf. Seorang turis Jerman hanya tersenyum ramah dan menepuk-nepuk pundak saya. Ia terlihat mengerti atau barangkali memahami kalau orang Indonesia itu emang suka ngaret.

Speed boat meluncur di antara cipakan ombak yang mulai tenang. Dari jauh samar terlihat Phi Phi Don, pulau yang menjadi perbincangan, tempat syutingnya Si ganteng Leonardo Dicaprio di filmnya The Beach. Yeaaay. Dear Leo, We’re coming. Meskipun cuma sekedar numpang makan siang doang di Phi Phi Don,  kami sudah bahagia bisa mampir di tempat ini. Sejujurnya pulau ini memang indah namun sayang lagi-lagi terlalu ramai oleh banyaknya turis.

Di Phi Phi Don, kami makan siang. Si pemandu meyakinkan kami bahwa makanan di sini memang halal. Saya pun mulai yakin dengan banyaknya pelayan yang mengenakan jilbab serta beberapa properti makan bertuliskan huruf-huruf Arab.

Para Pelayan Restoran di Phi Phi Don

Selepas makan siang kami bermain-main sebentar di antara perahu-perahu tradisional yang berkalungkan bunga berwarna-warni. Berfoto sebentar lalu segera beranjak menuju speed boat karena tak ingin mengulang kejadian menyebalkan di Maya Bay.

Phi Phi Don
Kalung kapal tradisional


Hampir semua peserta tour sudah masuk ke dalam speed boat  namun mesin belum dinyalakan juga, ternyata oh ternyata masih ada peserta tour lainnya yang terlambat naik. Kali ini bukan kami melainkan peserta tour dari India. Haha… bukan Indonesia aja kok yang suka ngaret. Dalam hati saya berkata membela diri.

Baca juga cerita sebelumnya di Pantai Aonang (Aonang Beach).

Antri menuju boat.








Senin, 04 Januari 2016

Membidik Wisata Minat Khusus di Batam Melalui Island Hopping

Perahu Layar Nelayan Batam
Pada tahun 2015 lalu, pemerintah khususnya Dinas Pariwisata telah membidik berbagai potensi wisata daerah masing-masing baik di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota untuk dijadikan sebagai destinasi unggulan.

Dalam skemanya, Batam bersama 15 kota/wilayah lainnya di Indonesia yakni Medan, Padang, Palembang, Bintan, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Bali, Lombok, Balikpapan, Makasar, dan Manado diunggulkan sebagai tujuan MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibiton). Namun pemerintah daerah/kota dan juga swasta seharusnya lebih jeli lagi menggali potensi-potensi wisata minat khusus lainnya yang ada selain MICE.

Secara tipologi Wisata Minat Khusus dibagi menjadi tiga. Yakni Alam, Budaya, dan buatan. MICE, sport tourism, concert, dan nite tourism  termasuk beberapa kanal wisata minat khusus buatan.

Salah satu alternatif yang perlu digali di masing-masing daerah melalui wisata minat khusus lainnya yakni berada pada potensi alam dan budaya. Pariwisata yang berbasis alam contohnya seperti ekowisata, geowisata, agrowisata, dan bahari. Sedangkan yang berbasis budaya contohnya seperti ghost tourism, heritage tourism, dark tourism, dan gastronomy tourism.

Pertanyaan besarnya adalah… berdasarkan potensi alam, apa yang sesungguhnya yang dapat diunggulkan dari Batam? Secara panorama mungkin biasa-biasa saja dan kalah jauh dibanding Bali, Lombok, atau Jawa Barat. Namun  ternyata ada potensi lain yang seharusnya menjadi wisata unggulan yang paling diminati di kota kepulauan ini. Apa?

Secara administratif dan geografis, Batam merupakan kota kepulauan. Dan menurut data pemerintah, untuk kota Batam saja ternyata memiliki sejumlah 373 pulau. Wooww! Dengan potensi keberadaan ratusan pulau-pulau ini langkah terbuka lebar bagi kalangan pelaku usaha tour and travel guna membuka paket-paket wisata ke berbagai pulau di Batam ini. Kita sebut saja paket ini adalah paket Island Hopping yang bisa dibuat  secara one day tour dengan beberapa pulau atau paket 2 hari 1 malam  dengan 7-12 pulau dan seterusnya.

Dari kegiatan ini pula para turis lokal (wisatawan nusantara) maupun wisatawan manca negara akan merasa beruntung dan bangga telah mengunjungi banyak pulau di Indonesia. Mungkin terdengar sepele, namun sesungguhnya ini peluang. Dan Thailand telah lebih dahulu membidik pasar ini. Di hotel yang pernah saya inapi di Krabi, trip untuk 4 pulau saja dikenakan tarif sekitar 700 bath atau sekitar 350 ribu per orang dengan menggunakan perahu, sedangkan jika menggunakan speed boat dikenakan tarif 900 bath. Tinggal dikalikan 500 rupiah saja.   

Pada tahun 2008 saya pernah bersama rombongan Batam Photo Club mengelilingi Pulau Batam dari laut searah dengan jarum jam. Dari Barat, utara, timur, selatan, hingga kembali ke barat. Salah satu pesertanya adalah Pak Socrates Pimpinan Batas Pos. Kami menggunakan pompong (kapal kayu) milik warga pulau Kasu, kemudian singgah untuk makan siang di rumah makan tepi laut di Telaga Punggur.

Keesokan harinya ketika saya kembali bekerja, beberapa teman bertanya dan menyesalkan kenapa saya tidak mengajaknya. Lalu saya bertanya jika saya adakan kegiatan seperti itu lagi apakah mereka akan ikut? Beberapa malah antusias, katanya biar bayar seratus ribu pun dia akan rela. (100 ribu di tahun 2008 loh lumayan besar).

Dan kegiatan-kegiatan island hopping secara sporadis pun tercetus dari beberapa komunitas lokal di Batam. Misalnya kerap dilakukan oleh komunitas Anak Pulau yang digawangi oleh Hanna Ester dkk yang hingga saat ini sudah menjelajahi lebih dari 50an pulau di Batam. Ada lagi komunitas Penjelajah Alam Kepri yang dimotori oleh Mas Nunung Sulistyanto. Serta beberapa komunitas lainnya yang saya tidak kenal banyak.

Kegiatan-kegiatan seperti ini awalnya cenderung bergerak lambat. Namun seiring gencarnya arus informasi melalui situs jejaring sosial maka masyarakat pun mulai tampak bergerak secara signifikan.

Manfaatnya adalah gairah melakukan perjalanan ke pulau-pulau semakin tinggi. Masyarakat pulau-pulau yang disinggahi pun akan merasakan dampak langsung dari kegiatan ini. Penggunaan pompong, makan siang, pembelian sea food langsung dari nelayan oleh para wisatawan dan lainnya.

Bagi saya pribadi, island hopping adalah salah satu cara untuk mengenali Indonesia lebih dekat lagi. Salah satu cara mencintai Indonesia lebih dalam lagi. Kalau kamu?

Yuk ikut saya ber-island hopping. Hop hop hop meloncat seperti Baby Bob di film Barney :D



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...