Senin, 29 Februari 2016

Sepotong Kenangan di Jalan Rasamala Batamindo

Di tepi jalan itu..... 

Di sepotong senja yang damai, di sebuah bangku permanen yang diplester semen, kita duduk berhadap-hadapan menceritakan tentang jati diri kita masing-masing. Berbicara tentang masa lalu dan berandai-andai tentang masa depan sambil menikmati semilir angin yang dibawa lalu oleh satu dua kendaraan yang lewat. 

Jalan itu begitu lengang, sepi dan bersih. Bunga bogenvil yang menghiasi tepi jalan telah mekar sedari kemarin. Seludangnya menarik perhatian dengan memantulkan warna ungu, oranye dan merah cerah. Pohon-pohon rindang berdahan rendah tumbuh di kedua sisi jalan. Ranting dan daunnya saling bertautan di atas seperti sedang bergandeng tangan dan berangkulan. 

Semenjak pagi hingga malam hari, jalan ini senantiasa dikunjungi dan dilewati sekedar untuk menghabiskan waktu. Keteduhan selalu menaungi sepanjang jalan yang tak lebih dari 500 meter ini. Jalan tempat melepas lelah para pekerja, pencari kerja, dan yang pulang belanja.

Sebuah lapangan yang ditumbuhi rumput gajah terhampar dan dibiarkan terbuka di sebuah sisi jalannya, diapit oleh dua bangunan bernama Wisma Batamindo dan Plaza Batamindo. Beberapa orang duduk berkelompok dan berbaring-baring di atasnya. Entah berdiskusi atau mungkin sekedar melepas kepenatan. Namun menatap langit sore yang biru sambil terlentang di lapangan rumput sungguh pemandangan yang sangat menggoda. 

Seiring perputaran zaman dan roda masa yang terus melaju. Bertahun-tahun berlalu semenjak kenangan itu, dan kini kukembali melaluinya, menyusuri jalan ini. Berjalan perlahan sambil mengumpulkan pecahan kenangan yang tersebar di setiap sudut-sudutnya. Menyesak jejak-jejak yang terserak. Ah, ternyata ….. tidak bersama dia saja aku pernah melalui jalan ini Namun pernah juga bersama puluhan bahkan ratusan teman, dulu, dahulu. Sepulang bekerja, atau sepulang bermain-main dari hutan. Sehabis mencari jajanan di Pujasera atau mengurus berbagai hal dengan masalah pekerjaan. 

Kembali duduk di sana, merenungi perjalanan waktu yang terus berlalu, seperti berlalunya kendaraan yang melesat setiap saat. Tak kembali dan tak meninggalkan jejak. 


Denyut kehidupan tetap berdetak di jalan ini. Para penganggur, pekerja, pengojek, dan pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran, terduduk di bangku-bangku di sepanjang jalan Rasamala. Berdempetan seperti tidak ada lagi bangku yang kosong.

Hanya mampu menatap lekat pada rindang dahan dan teduhnya pepohonan. Merunut peristiwa yang berkelebatan dalam lamunan. Mewarnai damainya hari di Jalan Rasamala yang teduh ini. 

# Sebuah kenangan akan jalan Rasamala Batamindo Industrial Park Muka Kuning – Batam.


Dian Radiata, Travel Blogger Batam yang Produktif Menulis di Media

Tahun 2005 saya diperkenalkan dengan sebuah website untuk ngeblog, Multiply (MP), oleh seorang teman dari Bandung yang bekerja di salah satu media cetak lokal di Batam. Saya yang memang suka internet jadi semakin keranjingan untuk mulai menulis blog atau sekedar memindahkan foto-foto dari kamera digital ke album foto yang tersedia di Multiply. 

Saat itu akun multiply saya sama dengan email pertama yang saya buat di yahoo pada tahun 2000.  Apa sih? Yang penasaran, akun MP saya dulu adalah mozank3roet.multiply.com. Namanya alay banget namun percayalah tahun segitu alay belum lahir ke muka bumi. Hihi. Seorang teman yang semula mengejek saya alay mendadak menyebut saya nenek moyangnya alay. Huhu berasa tua amat digituin.

Awalnya saya membuat blog hanya untuk kepuasan personal saja. Tempat curhat dan menuangkan isi fikiran. Saya tidak mau blog saya dibaca oleh orang lain. Malu. Belum tahan banting kalau dikritik atau dikomplain. Namun lama-lama, setahun dua tahun kemudian, blog saya ada yang baca juga. Dan tau-tau orang yang baca adalah orang yang dekat di sekitar tempat saya tinggal.  Woow, berasa takjub. Langsung pengen kenalan, balas komen, inbox-an dan tukar nomor handphone. Lalu kami saling menelpon. Bercerita layaknya dua orang teman yang sudah saling kenal lama. 

Perlombaan Gasing di Festival Pulau Penyengat 2016

Festival Pulau Penyengat
Seorang remaja laki-laki dengan wajah sedikit tegang perlahan menggulungkan tali berwarna kuning dan oranye melingkari gasing yang dipegang tangan kirinya. Matanya awas memandang ke arena permainan dimana selembar karpet merah terhampar di permukaan tanah.

Ketika lilitan tali pada gasing penuh, secepat kilat ia melemparkan gasingnya yang berwarna biru ke atas karpet. Gasing meluncur lalu memantul melewati lingkarang permainan, lalu terlempar dan hampir mengenai salah seorang penonton. Permainan pun diulang kembali.

Tali gasing biasanya terbuat dari kulit pohon waru laut. Sejenis pohon tepi pantai, tumbuhan perdu yang tersebar luas di pantai-pantai tropis di seluruh dunia. 

Gasing merupakan salah satu permainan tradisional suku Melayu. Tiap wilayah punya kekhasan bentuk gasing masing-masing. Ada yang bulat, pipih, lonjong dan lain sebagainya. Biasanya permainan gasing dipertandingkan. Yang menang adalah gasing yang tetap bertahan paling lama berputar di arena pertandingan. 

Festival Pulau Penyengat

Kampung datuk, begitulah saya membaca sekilas sebuah papan tanda di tepi jalan Pulau Penyengat yang sedang saya lalui. Di Sebuah lapangan tak jauh dari jalan itu tampak kerumunan warga seperti sedang menonton sesuatu. Tak ayal membuat hati penasaran. Dan kaki tanpa diperintah telah lebih dahulu melangkah ke sana.


Seorang remaja tanggung berwajah hitam manis, melilitkan kembali tali yang dipegangnya melingkari gasing. Percobaan yang kedua. Kali ini tak boleh gagal. Dengan sekali hentakan yang melepaskan gasing ke tengah-tengah lapangan permainan, ia memasang kuda-kuda dengan lihai. Gasingnya berputar kencang. Priit. Sang wasit meniup peluitnya. Lalu seorang lawan segera tampil sambil melilit gasingnya, memasang kuda-kuda, dan melemparkan gasing tepat ke arah gasing si remaja tanggung.


Festival Pulau Penyengat


"Praak...." bunyi hantaman gasing membuat seluruh penonton penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Dua gasing terpental ke luar arena permainan. Dengan segera para pemain menggiring gasingnya ke atas karpet merah lalu membiarkan kedua gasing tersebut menyelesaikan putarannya.

Perlombaan gasing. Seperti yang telah saya baca di daftar susunan acara Festival Pulau Penyengat, bahwa akan diadakan lomba gasing. Saya sudah berniat untuk menontonnya. Dan tak menyangka saya bisa kesasar ke lokasi yag benar. 

Dua gasing berbeda bentuk itu tetap berputar dengan elegan di tengah arena perlombaan. Membuat penasaran para penonton gasing siapakah yang akan bertahan paling lama. Apakah gasing si remaja hitam manis itu atau lawannya.

"Priiit..." wasit meniup peluit.

"Bintaaaan..."  seorang panitia mengumumkan pemenang itu melalui pengeras suara. Seorang panitia yang lain kemudian mencatat di papan tulis. Mata saya bolak-balik menatap kedua kelompok pemain. Tak ada ekspresi gembira dari mereka. Skor imbang.



Pertandingan lainnya dimulai. Panitia kemudian menimbang terlebih dahulu berat gasing yang akan dipertandingkan. Saya lantas mengintip seperti apa perlengkapan beberapa peserta. Dan ternyata gasingnya banyak. Tidak hanya satu dua saja.


Di sisi lain, seorang fotografer berhasil meminta kepada seorang warga untuk tampil beraksi di depan kameranya. Seorang bapak-bapak tua yang dengan lihai memainkan gasing menggunakan jari-jemari, telapak tangan dan bahkan kakinya.





Pertandingan demi pertandingan terus bergulir. Saya hanya menyimak keseruan itu melalui bidikan kamera karena sedang hunting foto. Ingin rasanya mencoba permainan ini, terlihat seru dan menegangkan. Namun, sayang saya berada di dalam suasana lomba yang bahkan tidak mengijinkan penonton berada di tengah lapangan perlombaan. 

Setelah hampir satu jam menyimak keseruan perlombaan gasing saya pun melanjutkan perjalanan menuju balai adat. Di sana sedang ada Lomba Kuliner Khas Melayu dengan menu utama sajian gonggong, sotong, dn ikan. Sepertinya waktunya pas menjelang perut saya keroncongan karena lapar.


Minggu, 28 Februari 2016

Beberapa Tips Memperoleh Baju Bayi yang Sesuai

Baju Bayi
Sumber Foto: bukalapak.com
Pakaian adalah salah satu jenis kebutuhan yang harus dipersiapkan untuk menyambut kelahiran bayi. Sebaiknya, belilah pakaian bayi ketika jenis kelaminnya sudah diketahui supaya model pakaian dan warnanya bisa diperhitungkan dengan baik. Sebab, Anda perlu mempersiapkan pakaian dan berbagai macam baju bayi lucu dengan baik sesuai kebutuhannya masing-masing. 
Selain itu, pastikanlah jenis pakaian yang Anda beli adalah pakaian yang tepat dan nyaman untuk bayi. Supaya tidak salah pilih, perhatikanlah beberapa tips di bawah ini ketika memilih baju untuk bayi, yaitu:

  1. Perhatikan jenis bahan pakaian bayi.
Kenyamanan sangatlah penting dan harus diutamakan ketika membeli baju untuk bayi. Sebab, kulit bayi masih sangat sensitif dan mudah terkena iritasi apabila jenis pakaian yang menempel di kulit tidak cocok dan tidak nyaman untuk tubuh si kecil. Untuk itu, pilihlah bahan pakaian yang nyaman, mudah menyerap keringat dan tidak memiliki aksesoris berlebihan yang bisa mengganggu kenyamanannya. Pilihlah model baju dan pakaian yang sederhana sehingga bayi bisa bergerak tanpa khawatir akan mengalami luka, iritasi dan sejenisnya.

  1. Perhatikan ukuran pakaian yang dibutuhkan.
Karena proses pertumbuhan bayi begitu cepat, maka belilah pakaian yang sesuai dengan ukuran tubuhnya. Jangan membeli pakaian dengan ukuran yang sama dalam jumlah yang banyak karena jangka waktu pemakaiannya terbilang sementara sehingga pengeluaran akan semakin besar bila jumlah pakaian bayi dengan ukuran sama yang dibeli terlalu banyak. Membeli pakaian yang lebih longgar juga disarankan supaya potongan pakaian tidak mengganggu gerak tubuhnya. Selain itu, pakaian dan baju bayi yang lebih longgar juga tidak akan menyisakan bekas lipatan yang bisa memicu iritasi pada kulit dan bekas kemerahan.

  1. Perhatikan model pakaian bayi.
Demi kenyamanan dan kemudahan pemakaian baju pada bayi, maka pilihlah jenis pakaian yang modelnya dibuka dari salah satu bagian sisi, misalnya depan, belakang atau samping. Hal ini ditujukan supaya pakaian bayi mudah dipasang dan dibuka secara praktis tanpa melukai bayi. Namun jangan sampai pakaian bayi yang Anda beli memiliki jumlah kancing dan retsleting yang terlalu banyak karena sangat berbahaya untuk dipakai pada tubuh si kecil. Oleh karena itu, teliti dan cermatilah setiap pakaian yang dibutuhkan bayi sebelum memutuskan untuk membeli.

Itulah macam-macam tips yang harus diperhatikan ketika membeli pakaian bayi. Tips di atas ditujukan agar baju bayi dan pakaian lainnya yang Anda beli bisa dimanfaatkan dengan nyaman sesuai kebutuhan si kecil. Bila perlu, Anda bisa memilih beberapa brand pakaian bayi terkenal untuk memastikan kualitas pakaian dengan baik. Namun, jangan lupa untuk menyesuaikan budget dengan harga kebutuhan pakaian si buah hati sehingga semua perlengkapan pakaian yang diperlukan bisa dipenuhi secara efektif.

Hunting Foto di Festival Pulau Penyengat 2016

Sabtu, 20 Februari 2016, hari pertama penyelenggaraan Festival Pulau Penyengat 2016 yang diguyur hujan seharian, dari subuh hingga maghrib, membuat saya dan para peserta lomba foto lainnya kecewa berat. Fotografer amatiran seperti saya ini selalu mengandalkan back ground langit biru untuk menghasilkan foto landscape yang bagus. Langit biru atau cerah itu modal dasar banget sih. Meskipun bagi fotografer yang sudah mahir dan master dengan perlengkapan tempur yang canggih, hal itu tentu tidak menjadi permasalahan besar.



Saat makan malam di rumah penduduk pulau Penyengat, tempat yang dijadikan lokasi sarapan, makan siang, dan makan malam seluruh peserta fotografer terpilih se-Indonesia, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya macam-macam tentang fotografi kepada para fotografer senior. Dan ini alasan utama saya mengikuti FPP melalui jalur fotografer bukan blogger. Karena dengan memilih menjadi peserta lomba fotografer saya bisa bertemu dengan banyak fotografer senior dan mendapatkan transferan ilmu fotografi. Kalau melalui jalur blogger gak akan kenal dengan para fotografer keren yang mewakili hampir seluruh Indonesia.

Sambil hunting foto, saya tetap bisa meliput dan mencatat hal-hal penting untuk tulisan di blog. Jadi bisa dapat manfaat dua-duanya. Maka kehadiran para blogger sempat membuat para fotografer Batam terheran-heran karena tidak mengenal kami. Sudah jamak bahwa antara sesama penghobi foto saling mengenal satu sama lain, dan kami justru tidak dikenal di kalangan mereka. Haha. Jelas sih kami ini kan blogger yang nyamar jadi fotografer.


Setelah sesi sharing dengan salah seorang fotografer professional dari Batam, saya dan Zakia peserta lomba foto dari Bogor yang usianya masih belia, 18 tahun, segera menuju Balai Desa. Di sana sedang ada pagelaran seni dengan menampilkan grup musik Melayu yang dimainkan oleh sekelompok anak muda asli pulau Penyengat. Belum apa-apa saya sudah terharu dan bangga. Jarang sekali anak muda yang peduli musik khas daerahnya seperti ini.
 


Di depan panggung segerombolan anak kecil usia SD menari bersama mengikuti irama musik. Beberapa dari mereka menarik-narik tangan kawannya yang hanya menonton untuk ikut larut dan bergabung dalam kerumunan bocah-bocah yang menari belingsatan. Membuat saya dan Zakia tertawa-tawa karena lucu. Selesai acara saya dan Zakia mampir ke tangga mesjid untuk mengambil foto mesjid Penyengat hingga hampir tengah malam.

Anak-Anak Penyengat menari di depan panggung

Keesokan harinya, selepas sholat subuh saya dan Zakia berjalan kaki menuju Bukit kursi untuk mengambil foto sunrise. Di sana telah ada Ayuning Tyas fotografer cantik dari Kendari yang sebenarnya lebih cocok menjadi model daripada menjadi fotografer. Di sisi lain ada juga Danan dan Bams dua teman blogger dari Batam yang ikut Festival Pulau Penyengat melalui jalur fotografer. 

Sayang, pagi itu sedikitpun wujud matahari tidak terlihat karena terhalang awan tebal. Setelah hampir satu jam menunggu kami pun menyerah dan turun. Saat melintas mesjid Penyengat kami tergoda untuk masuk dan mengambil beberapa foto. Beberapa fotografer mendadak memanggil saya dan meminta saya untuk menjadi model. Menyuruh saya turun naik tangga,  menghadap dan membelakangi kamera, berpose di tangga mesjid Penyengat. Oalaaah.  Capek adek, Baaaang :D

" Ya emang gitu kalau jadi model kudu tahan capek." Kata Danan yang sedari awal membantu memegangi kamera saya.

Sesi pemotratan ala-ala selesai, saya dan Zakia segera menuju homestay untuk sarapan. Selepas sarapan segera meluncur ke Kampung Bulang tempat terselenggaranya lomba Jong. Di sana telah semarak warna-warni Jong yang terparkir di tepi laut. Lomba memang belum mulai. Beberapa warga dan petugas dari Dinas Kebersihan kota Tanjungpinang masih sibuk membersihkan sampah yang terbawa arus yang mengotori tepi laut , terutama tempat yang akan dijadikan penyelenggaraan lomba jong.



Apa itu jong? Jong adalah sebuah permainan perahu kecil dengan layar-layar lebar.  Persis perahu layar besar namun dalam versi mininya. Biasa menjadi permainan tradisional di kawasan Melayu yang sebagian besar dikelilingi oleh lautan.
  



Karena acara masih lama dimulai, saya dan Zakia pun meninggalkan lokasi Kampung Bulang untuk menuju Balai Adat. Sepanjang jalan ada saja hal-hal menarik untuk difoto. Sekelompok anak kecil yang sedang berjualan kue kering, beranda sebuah rumah dengan meja dan kursi yang unik, reruntuhan rumah tua yang tinggal tembok, kucing yang fotogenik, seorang anak yang sedang sendirian, Nenek yang mengupas kelapa dan lainnya. Semua terasa menarik saat berada di balik lensa kamera. 

Seperti tajamnya lensa kamera, saya selalu ingin menajamkan penglihatan untuk mengamati lebih dalam dan lebih jauh lagi tentang detak kehidupan di pulau Penyengat. Pulau yang dulu pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Riau Lingga.

Jualan rame-rame :D

Terasnya bikin betah

Hai kucing, dadah-dadah dong ke pemirsa 

Zakia dan anak-anak pulau Penyengat

Jalan lengang menuntun kami untuk terus menyusurinya. Membawa langkah menuju Kampung Datuk yang sedang menggelar perlombaan gasing. lalu dengan spontan kamera segera terarahi untuk merekam beberapa detik putaran gasing yang terlempar ke arena permainan. Sesaat gasing-gasing itu terhenti. Seperti sebuah perjalanan yang kadang terhenti untuk sekedar beristirahat.

Rabu, 24 Februari 2016

Berbagai Keseruan di Festival Pulau Penyengat 2016

Festival Pulau Penyengat 2016
Peta Situs Sejarah di Pulau Penyengat
Festival Pulau Penyengat 2016 (FPP) sedang digelar. Perhelatan akbar yang layak disebut sebagai kenduri masyarakat pulau Penyengat ini tampak disambut antusias oleh warga Penyengat, warga kota Tanjungpinang dan warga daerah lainnya di Provinsi Kepri yang datang ke acara tersebut. Sebuah gelaran festival yang banyak melibatkan warga Penyengat baik sebagai panitia, peserta lomba, pengisi acara maupun sebagai penonton.

Salah satu tujuan dari pelaksanaan festival ini menurut saya persis tercapai seperti apa yang disampaikan pertama kali dalam press release panitia FPP pada Januari 2016 lalu yang menyatakan bahwa tujuan diadakan festival ini adalah untuk memajukan perekonomian warga Pulau Penyengat dan menjadikannya sebagai destinasi utama wisata di kota Tanjungpinang. Saya beruntung menjadi salah satu peliput dan dapat menangkap beberapa moment istimewa dari festival ini melalui lensa kamera. Meskipun hujan terus mengguyur sepanjang hari pertama festival, namun tak mengurangi minat warga untuk terus berpartisipasi mensukseskan perhelatan akbar ini.


Menjadi Fotografer Dadakan

Hujan rintik yang sempat terhenti pagi itu mulai menderas dan berubah menjadi hujan lebat. Saya dan dua orang teman fotografer yang cantik seperti model dan anggun seperti putri, Tyas dari Kendari dan Zakia dari Bogor, hanya mengobrol tanpa arah sambil menguntak-atik kamera DSLR masing-masing di dalam kamar. Belum bisa kemana-kemana karena terhalang hujan. Menunggu hujan berhenti ini rasanya lamaaaa sekali seperti saat-saat menunggu datangnya jodoh. Eh kok malah curhat haha.

Identitas kami mana tau ada yang mau zoom out :D

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Dan kami bertiga masih saja terkurung di dalam kamar homestay warga Penyengat yang jaraknya lumayan jauh dengan Balai Adat, tempat dimana pembukaan festival akan segera dimulai. Tak ingin melewatkan peristiwa penting itu, dengan dibantu oleh Esih salah seorang panitia FPP, kami segera menaiki becak motor menuju Balai Adat.

Halaman Balai Adat

Hujan masih deras mengguyur. Namun warga sudah memenuhi tepi jalan dan halaman Balai Adat yang sudah terpasang tenda putih beraksen kuning. Saking derasnya hujan semalam ternyata mampu merobohkan salah satu tenda di sayap kanan Balai Adat yang tampaknya akan dijadikan salah satu panggung perayaan. Dari dalam Balai Adat jelas terdengar seorang pejabat sedang memberikan sambutan. Saya dan Zakia segera menuju ke dalam. Sedangkan Tyas duduk menunggu kami di halaman.

Sambutan-sambutan beberapa pejabat penting yang mewakili dari kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri dan Kementrian Pariwisata saling bergantian dan saling mengisi. Semua menyatakan mendukung dan berharap acara Festival Pulau Penyengat ini akan terselenggara secara sukses serta berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya.


Grup musik Melayu di acara pembukaan
Saya mengenali beberapa wajah pejabat dan mantan pejabat yang duduk di barisan kursi paling depan. Ada Kepala Dinas Pariwisata (kadispar) kota Tanjungpinang Pak Juramadi Esram dan Kadispar provinsi Kepri Pak Guntur Sakti. Namun yang paling menarik perhatian saya adalah hadirnya Pak Huzrin Hood, tokoh masyarakat Kepri, mantan Bupati Kepri yang dulu memperjuangkan status Kepri dari kabupaten menjadi provinsi. Namun karena dianggap melanggar dalam pengalokasian anggaran atau mungkin juga karena alasan politis, beliau dipenjarakan di penjara Sukamiskin Bandung. Saya malah mempunyai salah satu buku tentang kisah hidupnya di Sukamiskin yang berjudul "Karena Aku Bukan Robin Hood". Sayang tidak terfikir untuk membawa bukunya dan minta tanda tangan langsung. Saya hanya minta berfoto saja. Itu pun sudah senang luar biasa.

Bersama Bapak Huzrin Hood

Setelah sambutan dari deputi kementrian pariwisata, acara Festival Pulau Penyengat pun dibuka dengan cara menabuh marwas secara bersamaan oleh beberapa pejabat penting. Marwas adalah sejenis alat perkusi yang hampir mirip dengan kompang dan kental dengan pengaruh budaya Timur Tengah. Setelah marwas ditabuh berbagai acara di beberapa titik pun dimulai.

Festival Pulau Penyengat 2016
Pembukaan Festival Pulau Penyengat 2016 dengan menabuh marwas






Beberapa kegiatan perlombaan segera dimulai. Di halaman balai adat ada lomba kuliner Melayu. Di sebrang jalan telah semarak lomba perahu layar. Di tepi laut lainnya yang disebut Kampung Bulang, lomba jong pun dimulai. Tak ketinggalan di lapangan bola belakang balai adat segera dimulai lomba layangan.

Disebrang balai adat mulai terdengar keriuhan. Lomba perahu layar ternyata sudah dimulai. Saya dan Zakia segera berlari menuju tepi laut. Tyas sudah tidak ada di tempatnya lagi. Dan kami pun mulai sibuk menyiapkan dan melindungi kamera dari hujan yang tinggal rintik-rintik. Di tepi laut berbagai warna layar sangat semarak dan tampak kontras di tengah warna langit dan laut yang pucat pasi. Panitia sudah memberi aba-aba. Dan perahu layar mulai meluncur di permukaan air laut. Berbelok ke arah kanan lalu menghilang di balik pelantar.Menurut panitia perahu-perahu itu perlu waktu sekitar satu jam setengah mengelilingi pulau Penyengat hingga tiba kembali di titik awal ini.

Festival Pulau Penyengat 2016
Lomba Perahu Layar

Karena awetnya hujan yang seharian turun, hari pertama pembukaan festival ini terasa serba nanggung. Apalagi saya yang penyuka langit biru dan menjadi salah satu peserta lomba foto mendadak kehilangan mood untuk hunting foto. Beruntung sempat mampir ke beberapa stand lomba kuliner ibu-ibu PKK dari berbagai kecamatan dan desa di Tanjungpinang. Sajian dan penampilannya masakan ibu-ibu ini sungguh menggugah selera makan dan selera hunting foto. Mendadak galau pengen berubah haluan menjadi Food Blogger.

Aneka makanan dan minuman khas Melayu yang berbahan utama ikan, sotong, gonggong, dan berbagai variasi air kelapa, sungguh membuat saya tak mau beranjak dari halaman balai adat. Yang paling ingin saya icip-icip adalah sotong bumbu hitam dan olahan gonggong. Iya gonggong bukan menggonggong. Bedanya kalau gonggong adalah sejenis siput laut khas Kepri yang tidak ditemui di daerah manapun di Indonesia.Teksturnya kenyal dan rasanya gurih seperti daging. Masaknya pun simpel. Cukup dibersihkan, direbus dengan garam lalu angkat dan makan deh. Cangkangnya sih nggak usah dimakan, keras dan gak enak kecuali ada yang ingin unjuk kekuatan gigi ya silahkan dicoba haha.

Festival Pulau Penyengat 2016
Olahan Gonggong

Pais Ikan

Bisa dimakan langsung dengan wadahnya :D

Variasi Air Kelapa
Nah pernah punya kejadian lucu sih dengan gongong ini. Seorang kenalan dari salah satu operator seluler di Jakarta yang akan membuat sebuah event ingin memesan menu makan di salah satu restoran di Batam. Resepsionisnya bilang ada menu gonggong. Si Abang kenalan ini langsung kaget dan hendak membatalkan pesanannya karena ia mengira menu gonggong adalah sejenis olahan daging anj**g. Dan saya ngikik tertawa saat ia menceritakannya kepada saya. Hahaha.

Setelah merasa cukup hunting foto perahu layar dan kuliner namun tak puas dengan hasil hunting foto lomba layangan, saya dan Zakia menuju ke Mesjid pulau Penyengat untuk sholat Dzuhur. Dan malah mendadak mood mem-foto mulai meningkat setelah beberapa anak kecil yang lucu dan imut terus menatap kami dan menggoda ingin difoto.

Baiklah adik-adik sini kami foto dulu cekrek-cekrek puluhan foto kami layangkan ke wajah anak-anak polos ini.

Anak ini disuruh foto pose apapun nurut termasuk pose begini :D

Genit banget si Ade ini :D

Simak keseruan lainnya di tulisan berikutnya ya.

Kamis, 18 Februari 2016

Mengunjungi Museum Kata Andrea Hirata Di Belitung

Persiapan travelling yang super ribet dan memakan waktu membuat banyak orang jadi malas untuk merencanakan liburan. Padahal sebenarnya kini tidak sulit kok mempersiapkan semua kebutuhan travelling. Sejak ada MatahariMall, manfaat belanja online jadi semakin terasa menyenangkan. Tinggal mengakses situs belanja MatahariMall, aneka pilihan produknya yang beragam siap memenuhi kebutuhanmu.

Kalau kamu berencana untuk berlibur ke luar pulau, salah satu destinasi menarik yang tidak boleh kamu lewatkan adalah Museum Kata Andrea Hirata di Belitung.

Museum Kata Andrea Hirata. Foto: Museumkataandreahiratacom

Belitung Ternyata Tak Sekadar Pantai
Siapa bilang Belitung hanya terkenal karena keindahan alam pantainya saja. Selain pantai yang memukau, ada pula Museum Kata yang didirikan oleh Andrea Hirata pada tahun 2010. Museum tersebut merupakan museum sastra pertama di Indonesia. Pembangunannya terinspirasi dari kisah nyata Laskar Pelangi yang sudah ditulis menjadi novel dan difilmkan pada tahun 2008.

 

Museum Kata Bukan Hanya Tentang Laskar Pelangi
Sebagai museum sastra pertama di Indonesia, Museum Kata menyajikan banyak literatur yang berasal dari dalam dan luar negeri. Sejumlah literatur yang dikelompokkan menjadi literatur musik, literatur anak, arsitektur, film, hingga ragam seni  ada di museum ini. Uniknya, karya novel Laskar Pelangi yang sudah diterjemahkan dalam puluhan bahasa dan terbit di berbagai negara juga hadir di museum tersebut.

Setiap ruangan di dalam Museum Kata menggunakan nama-nama dari para tokoh nyata dalam kisah Laskar Pelangi seperti ruang Ikal, ruang Lintang, dan ruang Mahar. Ilustrasi menarik mengenai film dan novel laskar pelangi terasa cukup kental di museum yang terletak di daerah Gantung ini. Siapa pun yang pernah membaca novel atau menonton filmnya akan merasa seperti ada di dalam kisah nyata novel dan film tersebut.

Yang Unik : Warung Kopi dan Kantor Pos
Ada satu hal menarik bagi para pecinta kopi. Di ruang tengah Museum Kata terdapat sebuah kedai kopi sederhana yang dinamakan “Warkop Kupi Kuli”. Di kedai kopi tersebut, para pengunjung dapat memesan kopi sembari menikmati isi museum yang menakjubkan.


Sebelum meninggalkan museum, jangan lupa untuk menyempatkan diri berkunjung ke kantor pos Museum Kata. Kamu bisa menulis  dan mengirimkan kartu pos untuk orang-orang yang kamu sayangi. Karena petugas di kantor pos tersebut akan membantumu mengirimkan kartu pos ke alamat tujuan.

Tak ada yang lebih menarik daripada menyaksikan kekayaan nusantara dengan matamu sendiri. Jadikanlah Museum Kata sebagai salah satu destinasi tujuanmu ketika berlibur ke Pulau Belitung.

Rabu, 17 Februari 2016

[Book Review] Tambora Sampai ke Kita

Buku Tambora Sampai ke Kita
Sebelum akhirnya ledakan Gunung Tambora dikenal dan menjadi perhatian dunia, bukti-bukti sejarah keberingasan ledakan itu hanya samar-samar. Kawasan ini tertidur selama sekitar 164 tahun lamanya, mengubur dua kerajaan yang hingga kini tidak diketahui posisi pastinya berada. (hal.59)

Di kalangan masyarakat Indonesia, gunung Tambora pada mulanya tidak terlalu dikenal seperti halnya gunung Merapi atau gunung Krakatau yang pernah meletus dan memuntahkan isi perutnya ke permukaan bumi. Namun seiring berbagai penelitian dan ilmu pengetahuan tentang vulkanologi yang semakin berkembang, terkuak fakta bahwa gunung Tambora menyimpan cerita kelam tentang sebuah letusan dahsyat yang merenggut nyawa puluhan ribu orang dan bahkan mempengaruhi iklim global.

Gunung Tambora meletus pada tanggal 11 April 1885, saking dahsyatnya letusan tersebut, telah memangkas hampir separuh badan Tambora yang memiliki ketinggian awal 4200 mdpl dan kini hanya menyisakan ketinggian 2.851 mdpl.

Ledakan Tambora disebut-sebut sebagai ledakan yang paling mematikan sepanjang sejarah hidup manusia. Mencapai skala 7 VEI (Volcanic Explosivity Index). Mengingat kekuatan daya ledaknya setara dengan 171.428 kali bom atom sehingga meninggalkan kawah raksasa berdiameter 7 kilometer dengan kedalaman kawah mencapai 1.200 meter dari bibir kawah. Meluncurkan material setinggi 43 kilometer ke langit dan menyebarkan 40-60 megaton aerosol melalui angin ke berbagai belahan bumi lainnya seperti Amerika dan Eropa. Itulah sebabnya setahun setelah gunung ini meledak, Eropa terkena dampaknya yang dikenal dengan "a year without summer". 

Amerika Utara dan Eropa langitnya tertutup abu vulkanik sehingga sinar matahari redup dan terjadi kegagalan panen di wilayah-wilayah tersebut yang mengakibatkan kelaparan.

Akibat erupsi Tambora menyebabkan tiga kerajaan hilang. Dua kerajaan terkubur yakni Kerajaan Tambora dan Pekat, sementara kerajaan Sanggar porak-poranda lalu ditinggalkan rakyatnya yang mengungsi ke berbagai tempat yang aman.

April Tahun 2015 silam, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menggelar acara besar memperingati 200 tahun meletusnya gunung Tambora. Pemerintah mulai membidik Wisata Minat Khusus mendaki gunung Tambora sebagai salah satu destinasi favorit wisatawan ke pulau Sumbawa.

Pendakian ke gunung Tambora dari empat pintu masuk pendakian yaitu Dusun Pancasila terletak di sebelah barat, Doro Canga berada di sebelah tenggara, Kertasari di sebelah selatan, dan keempat jalur Piong dari Kecamatan Sanggar.


Perjalanan penulis buku ini dalam mengumpulkan data dan fakta cukup diacungi jempol. Mewawancarai tokoh sejarah, vulkanolog, budayawan, hingga mendaki gunung Tambora untuk mengumpulkan fakta-fakta. Dengan basic sebagai seorang jurnalis, saya mendapat gambaran detail dan menyeluruh tentang gunung Tambora melalui berbagai informasi dalam buku informatif ini.

Yang paling menarik saya adalah ketika penulis bertemu dengan sejarawan yang juga merupakan keturunan dari kesultanan Bima, Dr. Hj. Siti Maryam Sultan Salahuddin. Penulis menggali informasi dari sejarawan tersebut melalui pembacaan naskah-naskah kuno yang disebut Bo Sangaji Kai yang berisi himpunan naskah catatan kerajaan yang memuat peristiwa-peristiwa pelaksanaan pemerintahan, hukum adat hukum kelautan, pertanian, hukum islam, dan lain tentang dahsyatnya letusan gunung Tambora.

"Hijrat Al-Nabi SAW seribu duaratus tiga puluh genap tahun, tahun Za, pada hari Selas waktu subuh, sehari bulan jumadil awal, tatkala itulah tanah Bima datanglah takdir Allah melakukan kudrot irpdat atas hamba-Nya. Maka gelap berbalik lagi lebih daripada malam itu, kemudian maka berbunyilah seperti bunyi meriam orang perang...." (hal 15).

Judul               : Tambora Sampai ke Kita
Penulis            : Naniek I. Taufan
Penerbit         : Museum  Kebudayaan Samparaja Bima
Jumlah            : 250 hal
Terbit             : April, 2015

Jumat, 12 Februari 2016

Menikmati keindahan Desa Sembungan Desa tertinggi di Pulau Jawa

Ojek yang kami tumpangi meliuk-liuk di jalanan aspal yang di sana-sini tampak berlubang. Cukup dalam dan berbahaya jika kendaraan yang melaluinya sangat laju. Namun hal tersebut tidak mengganggu saya sama sekali. Karena perhatian saya teralihkan penuh pada pemandangan bukit-bukit yang dilalui di sepanjang jalur menuju Desa Sembungan Dieng. 

Hari itu saya dan keluarga baru saja turun dari Gunung Prau dan berniat menginap satu malam lagi di Dieng. Setelah beradu tawar dengan tukang ojek di pangkalan, kami sepakat membayar 30 ribu rupiah per ojek untuk dihantar hingga Desa Sembungan yang terletak di kaki bukit Sikunir atau tepatnya berada di tepi telaga Cebong Dieng. Secara ketinggian, Sikunir sebenarnya adalah gunung namun karena tampak pendek seperti bukit maka masyarakat lokal menyebutnya bukit padahal kalau mengingat ketinggiannya Sikunir dan bukit-bukit di sekitarnya bisa dikatakan sebagai hamparan pegunungan.  

Tiba di tepi danau kami segera mencari tempat untuk mendirikan tenda. Semula hendak membuka tenda tepat di tepi jalan yang berbatasan langsung dengan danau, namun bau pupuk organik begitu menyeruak  menembus hidung dan paru-paru. Sepertinya saya tidak akan kuat. Maka kami menjauh dari tempat pupuk dan memilih mendirikan tenda di sebuah tanah yang menjorok ke tengah danau.

Hasil foto iseng Chila

Ramai yang memasang tenda

Adzan ashar berkumandang. Saya sempat terheran-heran. Begitu pun beberapa orang di tenda sebelah yang hendak sholat ashar. Dia ragu apakah adzan tersebut adzan ashar atau maghrib karena waktu sudah menunjukkan jam 5 sore. Saya mendadak teringat cerita adik yang tinggal di Ngawi. Menurut adik saya adzan ashar di kampungnya jam 5 sore bertepatan dengan orang pulang dari sawah. Kalau adzan jam empat atau setengah empat malah yang adzan dimarahin. Haha lucu, tapi masa sih jadwal sholat menyesuaikan dengan jadwal pulang nyawah. Ada-ada saja.

Ketika saya ceritakan pada tetangga tenda mereka manggut-manggut tanda mengerti. Saya pun yakin soalnya matahari belum tenggelam sepertinya tidak masuk akal kalau adzan maghrib. Kebetulan memang belum salat ashar jadi buru-buru ambil air wudhu dan sholat di mushola yang tak jauh dari lokasi kemping.

Senja tampak ceria. Langit cerah dan warnanya masih membiru. Awan-awan saling berkejaran.sesekali menutupi matahari yang mulai membiaskan lembayung di tepi bukit-bukit dikejauhan.

Sementara Chila dan ayahnya mulai asyik berbenah dan membeli kayu bakar. Malam akan terasa dingin sekali di sini, dan penduduk dengan sigap memnafaatkannya dengan menjual kayu bakar yang telah dipotong-potong lalu diikat. Harga satu ikat kayu sebesar 10 ribu rupiah. Entah mahal atau murah yang jelas membuat perapian di malam hari nanti akan sangat membantu dan menjaga agar suhu tubuh kami tetap hangat dalam beberapa saat.

Karena kami cukup kelelahan selepas mendaki gunung Prau, maka tak cukup waktu lama kami segera tertidur pulas di tenda. Meringkuk bertiga. Meskipun tenda berkapasitas untuk dua orang namun karena badan saya dan Chila kecil jadi masih muat untuk tidur terlentang bertiga.

Jam dua dini hari alarm berbunyi. Saya mengais-ngais di kegelapan. Mencari headlamp dan perlengkapan lainnya yang hendak di bawa ke Bukit Sikunir. Subuh itu saya berniat menyaksikan sunrise di puncak Sikunir yang hanya berjarak 20 menit perjalanan dari  tempat kami berkemah. Chila dan ayahnya sudah dari kemarin bilang bahwa tidak berminat naik Sikunir, jadi hanya saya saja sendiri.

Seperti dugaan, saya memang tidak akan sendiri mendaki Sikunir. Telah ratusan orang yang bangun pada waktu yang sama dengan saya. Bergerak beriringan meniti jalur yang bertangga-tangga di antara gelapnya malam. Tulisan tentang Sikunir saya tulis di artikel berjudul Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Berkumandang di Puncak Sikunir

Pagi setelah menyaksikan sunrise di Sikunir, saya membeli beberapa penganan khas seperti kue pancong dan bubur. Ketika sampai di tenda, Chila dan ayahnya masih bermalas-malasan di tenda. Duh hawa dingin emang cocok buat tidur lagi kayaknya.

Kue Pancong hangat

Chila Berpayung

Kami Sekeluarga

Bermain-main di tepi danau dan menyaksikan suasana perbukitan di sekeliling rasanya teramat malas untuk beranjak. Namun waktu kami sudah tidak cukup lagi. Esok akan kembali ke Batam sementara pesawat berangkat dari Jogja. Duuh masih 3 hingga 4 jam perjalanan  naik bis dari tempat ini.

Dengan menyewa ojek dan meminta mengantarkan ke beberapa spot menarik di Dieng, kami meninggalkan Desa Sembungan. Dari awal keberangkatan saya ingin sekali bertemu anak gimbal yang kisahnya bagai sebuah dongeng hidup. Dan kebetulah pemilik ojek yang mengantarkan kami adalah seorang bapak yang anaknya berambut gimbal. Syukurlah jadi kami bisa dekat-dekat dan mengobrol dengan anak gimbal dan ayahnya.


Waktu kami tidak banyak setelah meninggalkan Desa Sembungan kami langsung menuju Telaga Warna dan Kawah Sikidang. Setelah itu langung dihantar ke terminal untuk menuju ke Wonosobo dan meneruskan dengan menaiki Bis menuju Magelang lalu Jogjakarta. 

Selasa, 09 Februari 2016

Islands Tour Bersama Kapal Mv. Sea View di Pulau Nipah Barelang Batam

Kapal Mv. Sea View
kapal Mv. Sea View
Secara administratif, Batam memiliki 373 pulau. Dan kekayaan pulau-pulau ini belum semuanya dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat Batam. Salah satu hal yang paling simpel untuk dimanfaatkan adalah dari sektor pariwisatanya. Begitu banyak pulau yang semestinya dapat dikembangkan dan dikelola dengan baik guna dijadikan lokasi pariwisata yang baru. Begitu juga paket-paket “Keliling Pulau” atau Island Tour adalah sebuah kesempatan yang terbuka lebar yang bisa dimanfaatkan oleh para pelaku dunia pariwisata di Batam.

Di Thailand, paket Island Tour sudah menjamur. Puluhan hingga ratusan kapal  dalam sehari mampu melayani kebutuhan para tamu dan wisatawan untuk meng-explore keliling pulau. Dan di negara kita setau saya sangat sedikit paket-paket wisata seperti itu.

Di Batam, rupanya ada juga pengusaha yang jeli melihat peluang ini. Kejelian dari sisi bisnis mulai dilirik oleh seorang konglomerat Tionghoa bernama Jefry. Ia kemudian membeli kapal  yang akan dijadikan sebagai sarana utama bagi wisatawan yang datang ke Batam menikmati paket Island Tour sebanyak sepuluh pulau selama beberapa jam.

Januari lalu, maka diluncurkanlah sebuah kapal wisata yang akan mengelilingi pulau-pulau yang ada di sekitar Batam. Beruntung seorang teman yang imut pemilik blog piknikcantik.com mendapat undangan menghadiri acara tersebut dan membagi informasi menggembirakan ini kepada kami di grup WhatsApp. Tak butuh lama hanya beberapa menit saja teman-teman lainnya mengajukan permohonan undangan ke panitia dan ternyata disetujui. Satu undangan berlaku untuk tiga orang. Lokasi undangan ternyata di Restoran Sea Food Golden Fish Barelang. Yeaay. Makan dan jalan-jalan gratis lagi dong :D

Pintu Masuk

Dengan menumpang kendaraan teman lama saya Mas Bams, saya dan keluarga berangkat sore itu. Sengaja nggak makan siang karena mau makan gratis. Hahaha. Bilang saja memang malas masak. Duh. *Jedotin kepala ke pintu.

Irama musik dangdut samar-samar terdengar. Seorang penyanyi dangdut nan seksi meliuk-liukan tubuhnya bergoyang di hadapan riuhnya penonton. Panggung tempatnya bergoyang terletak di tepi laut dan berjarak tak kurang dari dua meter dengan kapal MV. Sea View yang akan diluncurkan sebentar lagi. Suara penyanyi dangdutnya terdengar standar dan kurang cengkok. Lagu yang dinyanyikannya pun kurang populer. Rasanya kurang sreg dengan acara seresmi ini.

Di pintu gerbang saya bertemu beberapa teman yang familiar. Rombongan Blogger Batam dan Kelas Inspirasi Batam yang dua-duanya memang heboh. Tak kalah menarik, diantara kedua rombongan itu nyempil dua orang bule kece asal Belgia yang ternyata mereka berdua adalah Travel Blogger juga. Charlotte dan Davy yang mengisi blog planelesstravellers.com yang selalu bepergian dengan menaiki kendaraan selain pesawat terbang. Kendaraan apa saja selain pesawat terbang mereka akan jalani. Keduanya adalah tamu couchsurfingnya Mas Adi Sultan seorang traveler yang menjabat redaktur di Harian Batam Pos.

Seperti biasa acara dibuka dengan tari persembahan lalu dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Ada beberapa pejabat teras di Provinsi Kepri yang ikut hadir di peluncuran kapal ini. Salah duanya adalah Suryo Respationo mantan Wagub Kepri dan Guntur Sakti Kepala Dinas Pariwisata Kepri. Setelah itu gunting pita dan peluncuran kapal.

Tari Persembahan
Kapal Mv. Sea View
Pak Jefry selaku pemilik kapal.
Belum saja kapal dibuka, para tamu sudah mendesak dan merangsek mendekat ke pintu masuk. Duuh ampuun deh. Budaya antri memang kurang ditaati di negeri ini. Bahkan di acara-acara yang dihadiri pejabat sekali pun terkadang masyarakat kita kurang sekali bekelakuan sopan serta santun. Semua orang ingin cepat masuk dan ingin cepat merasakan naik kapal pesiar mini ini ala ala titanic.

Saya dan teman-teman akhirnya dapat masuk ke kapal. Dek kedua tampak disulap menjadi tempat duduk dan nongkrong yang asyik. Suasana ruangannya lapang dengan tiang-tiang di tengah dan kursi-kursi di tepi-tepinya.

Kapal Mv. Sea View
Suasana di dalam kapal

Dek tiga berupa ruang kemudi dari nakhoda, serta beberapa ruang dengan sofa-sofa yang empuk. Di dek empat yang paling atas berupa ruang terbuka dan cocok untuk mengamati pemandangan ke seluruh lintasan kapal yang dilalui. Sedangkan dek satu saya tidak sempat mengunjunginya karena terlalu sesak.

Kapal melaju meninggalkan Restoran Golden Fish yang terletak di tepi laut. Bersamaan dengan diluncurkannya kapal, di kawasan itu telah dibuka juga sebuah cottage dengan tarif menginap yang lumayan murah selama masa promosi.

Di kapal tak lupa beberapa teman blogger berfoto selfie menggunakan tongsis. Fotonya lumayan bagus-bagus. Terutama yang berlatarkan Jembatan Satu Barelang. Bahkan salah satu foto blogger, Mas Jogie mendapatkan lebih dari seribu share di facebook. Woow. Dan Mv. Sea View langsung ngehits dalam minggu tersebut. Meskinya kami langsung dihubungi bagian promosi ya lalu mendapatkan tiket island tour gratis. Haha maunya. Lalu dikeplak pemilik kapal.

Kapal Mv. Sea View
Ini dia foto Mas Jogie (yang bawa tongsis) bersama kadispar Kepri  yang ngehits di facebook. Foto: Jogie Suaduon.

Namanya juga test drive kalau istilah mobil baru. Kapal ini rasanya meluncur lamaaaaa banget dan saya gak tahan pengen minum. Haus banget. Sudah gitu belum makan siang pula sementara jam sudah menunjukkan jam 5 sore. Beberapa teman mengeluh kenapa tidak disediakan air minum sama sekali di kapal ini. Nasib fasilitas gratisan ya begini nih.

Kapal Mv. Sea View
Selfie bareng Micky and Minnie. Foto by: Choty si piknikcantik.com

Jam setengah enam kapal kembali ke Restoran Golden Fish. Kami santai-santai saja turunnya. Duduk-duduk dulu menikmati susasana kapal dan tidak sadar kalau makanan di restoran sudah diserbu penumpang kapal yang baru turun dan dengan sekejap saja sudah hampir ludes. Hwaaa hampir gak kebagian. Biar saja deh gak kebagian, saya langsung celingukan cari mushola untuk sholat ashar. Alhamdulillah nemu dan tempatnya bersih dan rapi. Semoga saja waktu ashar masih terkejar.

Selesai sholat ashar saya langsung menuju restoran, dan ternyata masih ada sisa-sisa makanan yang masih bisa masuk ke perut. Lumayan deh pengganjal lapar. Meskipun penasaran dengan rasa masakan sea food di sini terpaksa harus gigit daging ayam saja karena hanya itu yang tersedia. Namun rejeki emang nggak kemana, beberapa hari lalu bos saya mentraktir makan di resoran ini Dan Alhamdulillah kenyang makan sea food luar biasa. Bahkan sepring besar kepiting masih tersisa di meja dan boleh dibawa pulang. Alhamdulillah rejeki emak yang ngaku-ngaku solehah hahah.

Blogger Batam
Foto Bareng Blogger Batam

Rintik hujan mulai membasahi. Para pengunjung yang telah makan mendapatkan momen tepat untuk langsung pulang. Dan kami pun tak ketinggalan. Setelah foto bersama, kami langsung membubarkan diri menuju rumah masing-masing. Yang mau paket island hopping tiket hingga Mei selama masa promosi sebesar 350 ribu rupiah. Setelah itu harganya naik menjadi 500 ribu rupiah. Yuk yang penasaran bisa hubungi nomor di bawah ini.:






  

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...