Thursday, July 20, 2017

Menyusuri Goa Batu Cermin Labuan Bajo Flores

Jalan paving block menuju Goa Batu Cermin. Foto: Aries GenPI Sumbar

Goa Batu Cermin Labuan Bajo NTT - Saat mewakili GenPI Kepri dalam pembentukan GenPI NTT di Kota Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat yang berada di Flores NTT, beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman perwakilan GenPI dari 8 provinsi lainnya berkunjung ke Goa Batu Cermin yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Labuan Bajo. Tak sampai 15 menit sepertinya, kami sudah tiba di halaman parkir menuju Goa Batu Cermin.


Tiba di parkiran suasana cukup ramai oleh pengunjung yang rata-rata berwajah bule. Sambil menunggu pembelian tiket yang dikordinir oleh Frea dari Jakarta, kami duduk-duduk di area pintu masuk dimana terdapat sebuah warung kopi. Saya jadi tertarik untuk mengetahui kopi apa yang dijual di sana. Di poster yang terpasang di depan warung tertulis kopi Manggarai. Mendadak penasaran ingin mencoba. Dalam hati berniat akan membeli kopi Manggarai ini untuk dibawa pulang.

Parkiran Goa Batu Cermin

Jalan masuk menuju Goa Batu Cermin sangat rimbun. Di kanan kiri jalan terdapat buluh-buluh yang saling bertaut membentuk seperti terowongan. Tak sampai 10 menit berjalan kaki, kami sudah tiba di pintu masuk menuju Goa Batu Cermin. Seorang laki-laki bertato dengan ramah menyambut kedatangan kami. Ia memperkenalkan dirinya bernama Idham yang bertugas menjadi pemandu hari itu.


Tanpa diminta, Idham menerangkan tentang sejarah penemuan Goa Batu Cermin yang pertama kali ditemukan oleh masyarakat lokal setempat. Namun dipromosikan oleh Theodore Verhoven, seorang misionaris berkebangsaan Belanda yang juga sekaligus seorang Arkeolog, pada tahun 1951. 

Pintu masuk Goa Batu Cermin

Hasil dari riset Verhoven ini menyimpulkan bahwa jutaan tahun yang lalu goa ini berada di bawah laut karena terbukti ada banyak terumbu karang yang dapat kita jumpai di dinding-dinding tebing. Ada juga fosil kura-kura dan hewan laut lainnya yang terlihat jelas di atap goa.


Dari luar goa, tampak tebing dengan permukaan yang bolong-bolong menbentuk lubang-lubang. Menurut Idham, lubang ini merupakan jalan tempat kikisan air laut yang menetes keluar.


Setelah selesai memberi penjelasan, Idham mengajak kami memasuki Goa Batu Cermin. Ruang pertama yang kami masuki memiliki atap yang sangat tinggi dengan celah-celah dimana sinar matahari bisa masuk. Di lokasi ini suasana cukup terang. Dari ruangan ini terdapat tangga dari semen untuk memudahkan pengunjung naik ke bagian goa lainnya.


Di ruangan goa selanjutnya, para pengunjung diwajibkan mengenakan helm yang sudah tersedia di sana. Fungsi helm ini untuk melindungi kepala dari benturan dengan atap goa yang rendah. Goa yang akan kami masuki tidak memiliki celah udara lagi, bisa dipastikan suasana akan pengap dan gelap.


Helm-helm yang akan digunakan pengunjung

Pintu masuk ke ruang goa selanjutnya

Satu persatu saya dan teman-teman memasuki lorong goa yang sempit dan gelap. Kami menggunakan  senter dari handphone masing-masing untuk menerangi jalan masuk. Beberapa orang yang tidak tahan dengan ruang sempit dan gelap, mendadak putar balik, tidak jadi meneruskan penelusuran goa karena merasa takut dan tidak nyaman. Mungkin diantaranya terkena claustrophobia, dimana orang pengidap phobia ini sangat takut terhadap ruang sempit dan gelap.


Ruang gelap yang kami masuki  seperti ruang persegi empat. Stalaktit dan stalagmit di beberapa sisi sudah saling menyatu. Saat menerangkan, Idham -Sang Guide- menyatakan  bahwa stalaktit dan stalagmitnya sudah kawin. Tidak jomblo lagi. Haha. Duh, tamparan keras buat jomblo-jomblo yang ada di sana saat itu. Bayangkan stalaktit dan stalagmit yang letaknya di atap dan di bawah goa yang tinggi saja bisa menyatu! Masa kamu enggak? *dezing.

Lorong gelap yang akan kami masuki lagi

Ruang yang mirip persegi empat


Hawa goa makin terasa pengap. Beberapa lampu senter dipadamkan. Gelap menyergap. Gelap yang sebenar-benar gelap. Saya gelagapan, buru-buru menyalakan lampu handphone dan memotret kegelapan sekenanya. Tidak berani melihat hasilnya karena fikiran buruk mulai menghinggapi. Takut ada sesuatu di penampakan dalam foto yang baru saja saya ambil. Hehe. 


Di ujung goa, suasana agak terang. Di lokasi inilah sinar matahari yang masuk dapat memantulkan berbagai warna dari benda yang disinarinya hingga meantul ke dinding-dinding goa. Sebab itu mungkin masyarakat menamainya Goa Batu Cermin.


Di lokasi ini beberapa orang dari kami antri untuk berfoto sebelum meninggalkan ujung goa. Sebenarnya saya masih penasaran dengan goa ini. Masih banyak yang ingin saya telusuri. Tiap sudut sangat menarik untuk dijelajahi. Dan lagi, saya selalu merasa gagal kalau memotret goa. selalu blur atau foto yang dihasilkan cahayanya kurang bagus. Namun karena rombongan satu persatu sudah keluar meninggalkan goa, maka saya pun segera beranjak keluar juga.


Goa Batu Cermin Labuan Bajo.
Tiket masuk: Rp. 10.000
Tips ranger/guide: Seiklasnya 
Jam buka: pagi - sore




8 comments:

  1. pas poto, kok gak ada pantulan cahaya teh lina juga ya..Hehe

    ReplyDelete
  2. Goanya kecil banget dan gelap ya mba. Apakah pemandangan di dalamnya indah, mba?

    ReplyDelete
  3. Saya suka wisata alam mbak. Tp untuk goa agak maju mundur. Hihihi. Biasanya masuk sekali lewat aja :D

    ReplyDelete
  4. Aku ngakak baca stalaktit dan stalagnit yang sudah berjodoh itu mbak hehe, bisa aja yaa... oh ya bisa dibayangkan gimana jauhnya air laut turun ya kalau gua itu awalnya berada didalam laut, takjub banget.

    ReplyDelete
  5. Sbnrnya disebut cermin apa krn bisa buat bercermin ya mbak?
    Wah jd lautnya menyurut gtu ya trus jd daratan? Atau gmn? hehe
    Seru banget bisa ke guanya :D
    TFS

    ReplyDelete
  6. Wah, kalau masuk ke sini ada guidenya ya? Guide ini akan memandu tanpa diminta atau bagaimana?

    ReplyDelete
  7. aku takut masuk goa, takut ada kelelawar. Kotorannya membuat lantai goa licin. Tapi kalau masuknya rame-rame seperti ini boleh deh dicoba

    ReplyDelete
  8. Duh aku pingin banget busa ke labuan bajo jugaa

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...