Wednesday, July 19, 2017

Seperti Apa Pendakian Gunung Kerinci 15 Tahun yang Lalu?

Saya bersama teman Pendaki Kerinci

PROLOG (Alasan Kenapa Mendaki Kerinci)

Bertahun lalu, saat memutuskan membuat blog, saya berniat untuk menuliskan semua pendakian gunung yang pernah saya lakukan. Anggap saja sebuah memoar perjalanan tentang pengalaman mendaki gunung.  Sebagai kenangan dan sebagai pengingat akan peristiwa masa lalu dikala saya tua dan lupa. *Mendadak melow. 

Mungkin kelak tulisan-tulisan pendakian gunung seperti ini akan dibaca oleh anak, cucu hingga cicit saya. Berharap dari memoar ini, mereka mengenal siapa dan seperti apa saya sesungguhnya. Atau, setidaknya tulisan-tulisan ini bisa  menjadi gambaran bagi pendaki muda sekarang, seperti apa pendakian gunung belasan tahun lalu.  *Lalu sadar diri bahwa saya sudah tidak muda lagi.  Pukpuk diri sendiri.


Hari ini, tatkala memandangi foto Gunung Kerinci di instagram milik seorang teman fotografer dari Bintan, Robby Hafzan, saya mendadak teringat akan pendakian Gunung Kerinci yang dilakukan 15 tahun silam. Tepatnya bulan Maret 2002. Pendakian di musim hujan dan berkabut tebal.  Sempat baper dengan foto Robby yang cerah ceria begitu.  Sementara pendakian saya saat itu selalu tertutup kabut. *salah sendiri mendaki di musim hujan. 



Pendakian Gunung Kerinci merupakan pendakian perdana saya menyambangi gunung-gunung di daratan Sumatera. Sebagai penduduk  asli Pulau Jawa saya tentu merasa bangga. 




Kenapa saat itu memutuskan mendaki Gunung Kerinci? Alasannya sederhana saja. Karena Mendaki Gunung Kerinci adalah keinginan saya semenjak kecil. Keinginan untuk berdiri di  titik  tertinggi Pulau Sumatera. Memandang pegunungan Bukit Barisan yang menurut buku pelajaran RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap, buku yang sering  saya kelonin saat tidur) adalah pegunungan terpanjang di Indonesia.  


Bukit Barisan terangkai sejauh 1.650 kilometer sepanjang Pulau Sumatera. Melintasi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, hingga Lampung. Dengan titik tertingginya adalah Gunung Kerinci yang mempunyai ketinggian 3.805 meter di atas permukaal laut (mdpl). Wow… membacanya saja sudah membuat saya berdecak kagum. 

Ini pendakian saya di salah satu gunung di deretan Bukit Barisan yakni Gunung Pusuk Buhit. Klik saja untuk baca.


Ah, mari sudahi saja prolog tulisan yang kepanjangan ini.  Mari langsung membahas pendakian. 


Teman Mendaki yang Makin Berkurang

Saya bersama ketiga teman lainnya dari Batam, Yelfitri (Yel), Joko, dan Abi, memutuskan untuk mendaki Gunung Kerinci pada Bulan Maret 2002.  Bulan Maret merupakan bulan paling bahagia bagi saya karena di bulan itu jatah cuti sebanyak 12 hari  mulai berlaku. Hitung-hitung perayaan ketiga tahun saya bekerja di Batam, maka waktu yang tepat merayakannya di puncak daratan Sumatera. Dibanding menghabiskan cuti untuk pulang kampung ke Garut, Jawa Barat, saya malah memilih Kerinci untuk cuti kali ini.  


Beberapa hari menjelang keberangkatan, Abi mengundurkan diri karena disuruh pulang ke Palembang oleh ibunya.  Jadilah Saya, Yel, dan Joko saja yang berangkat. Saat itu, naik pesawat  terbang masih menjadi hal mewah bagi kami. Maka, perjalanan ke Kabupaten Kerinci pun kami lakukan via laut dan daratan. 


Dari Pelabuhan Sekupang Batam, kami menaiki kapal penyebrangan ke Kuala Tungkal, Jambi, selama lebih kurang 8 jam. Dari Pelabuhan Kuala Tungkal, kami menaiki bis menuju Kota Jambi. Dari Jambi lalu menaiki mobil travel menuju  Sungai Penuh, ibukota Kabupaten Kerinci, selama lebih kurang 11 jam melintasi kebun sawit dan hutan-hutan yang lebat di sepanjang Kabupaten Bangko dan Kerinci.


Tiba di  Terminal Sungai Penuh, kami kemudian naik angkot menuju rumah Yel untuk beristirahat dan bersilaturahim dengan keluarganya. Sekaligus meminta izin kepada orang tua Yel untuk mengajaknya mendaki Gunung Kerinci. Sayang,  kedua orangtua Yel tidak mengizinkan ia ikut mendaki.  Appaaah? Saya mendadak lemas. Itu artinya hanya saya dan Joko saja yang jadi berangkat mendaki.  Hiksss. Fikiran buruk dan berbagai kekhawatiran lainnya mulai menghinggapi. 


Pendakian yang Hampir Gagal 

Saya  bingung karena tidak mungkin membatalkan pendakian namun lebih bingung lagi menghadapi kenyataan jika kami akan mendaki gunung berdua saja. Padahal kami  bukan mahram. Saudara bukan, suami juga bukan. Bagaimana nanti kalau di gunung sepi tidak ada orang lain lagi? Bagaimana kami akan tidur? Berduaan saja gitu? Ooh tidaaak. 


Setelah menimbang baik buruknya, saya dan Joko akhirnya tetap memutuskan untuk mendaki Gunung Kerinci meskipun berdua saja. Dengan harapan nanti di basecamp pendakian Kerinci yang disebut R10 akan bergabung dengan pendaki lainnya untuk mendaki bersama. Sepertinya masuk akal. 


Setelah yakin dan sepakat, kami pun meluncur dengan mengendarai ojek ke Desa Kersik Tuo di Kecamatan Kayu Aro. Desa terdekat untuk  mencapai jalur pendakian Kerinci.  


Hari masih pagi. Tiba di R10, tidak ada seorang pun  petugas yang jaga.  Akhirnya ojek berlanjut mengantarkan kami ke pintu rimba. Sesuai kesepakatan, kami pun membayar 50 ribu rupiah per ojek hingga pintu rimba. Tahun segitu kami tidak tahu apakah itu murah atau mahal. Namun naik ojek begini ternyata seru dan mengasyikan karena tiap spot menarik tinggal minta berhenti dan untuk berfoto atau sekedar menghirup udara segar dari hamparan perkebunan teh yang menghembuskan udara bersih. Jika mau berfoto tinggal minta tolong sama Bapak ojeknya. Belum bisa selfie mengingat belum zamannya :D 


Pintu Rimba - Shelter 3 - Puncak

Di pintu rimba kami bertemu rombongan dari Jakarta dan Padang. Alhamdulillah dapat banyak teman mendaki. Namun sayangnya, rombongan ini ternyata semuanya laki-laki. Hikss. Tidak mengapa setidaknya kami tidak berdua banget.


Setelah berkumpul dan berdoa di pintu rimba, sekitar pukul 10.00 WIB, pendakian pun kami mulai. Jalur yang kami lalui masih terbilang landai namun becek oleh bekas hujan semalam.  Di kanan kiri pepohonan bertajuk tinggi menghalangi sinar matahari.  Pos 1, Pos 2, Pos 3 kami lalui dengan berhenti sebentar-sebentar. 


Waktu tempuh tiap pos bervariasi antara 30 menit hingga 1 jam.  Semakin lama tubuh saya semakin menyesuaikan dengan ritme perjalanan.  Karena tubuh mulai stabil, saya tetap menjaga ritme berjalan senyaman mungkin sehingga terus naik dengan konstan. Ternyata saya berjalan jauh di depan sementara rombongan masih jauh di belakang. Beberapa kali saya berhenti menunggu dan sempat ketiduran saat beristirahat. Namun tatkala terlihat kemunculan Joko dan kawan-kawan lainnya, saya meluncur kembali di depan. 


Dalam kesendirian di tengah jalur pendakian seperti itu, saya banyak merenung dan berfikir tentang berbagai hal. Larut dalam monolog suara hati. Sibuk berdialog dengan isi hati. Dan saya sangat menikmati setiap peristiwa yang terekam oleh semua indera. Saya menyukai kesunyian ini. Saya menyukai suara-suara alam yang terekam. Desauan angin, patahan ranting, kicauan burung, atau suara-suara binatang lainnya. 


Beberapa kali saya sempat mendengar suara kucing. Saya pun teringat akan pesan Yel tentang orang pendek yang  menurut penduduk Kerinci sering muncul di Gunung Kerinci. “Dia sebenarnya baik Teh, kalau jumpa berarti kita beruntung bisa bertemu dengannya.”  Kata Yel. Antara percaya dan tidak, saya jadi excited akan penampakan orang pendek ini. Dan menurut berbagai sumber kabarnya orang pendek ini bukan sekedar mitos karena sudah pernah ada yang membuktikannya sendiri.


Setelah pos 1, 2, dan 3, pos selanjutnya adalah shelter 1, shelter 2, dan shelter 3. Namanya saja shelter, kenyataannya tidak ada  bangunan berupa pondok atau shelter untuk berteduh. Hanya bidang tanah yang agak lebar untuk beristirahat. Namun karena di area ini tidak cocok untuk medirikan tenda, maka kami terus lanjut hingga ke shelter 3. 


Setelah lebih dari 8 jam pendakian, akhirnya kami tiba di shelter 3. Sebuah perbatasan vegetasi antara pohon cantigi dengan kawasan lereng puncak yang berpasir. Sama seperti gunung vulkanik lainnya di Indonesia, menjelang kawasan puncak, Gunung Kerinci tidak ditumbuhi pepohonan sama sekali. Hanya berupa pasir dan kerikil-kerikil yang tidak stabil. 


Setelah mendirikan tenda dan meletakkan barang-barang, saya menggelar matras di luar. Bergabung dengan teman-teman lainnya dari Jakarta dan Padang yang saat itu sedang memasak. 


Malam semakin larut. Berkali-kali Joko mengingatkan saya untuk tidur di tenda dan ia akan tidur di luar.  Namun saya menolak dan  memutuskan untuk begadang saja semalaman meskipun udara dingin menusuk tulang. 


Pukul 2 pagi rombongan mulai bersiap untuk menuju puncak.  Beberapa orang memasak mempersiapkan air panas untuk dibawa ke atas. Sebagian mengecek senter, trekking pole, dan perlengkapan masing-masing. Sekitar jam setengah  tiga pagi rombongan  sudah mulai bergerak. Kami berjalan beriringan secara perlahan. 


Semakin lama jarak antara satu pendaki dengan pendaki lainnya semakin jauh. Tergantung ketahanan fisik masing-masing. Kami berjalan terpisah-pisah. Saya pun berjalan sendiri. Dalam keremangan subuh saya tiba di  sebuah dataran bebatuan yang disebut Tugu Yuda. Di sana, dalam gelap saya melihat bayangan Joko. Badannya yang tinggi besar tampak seperti siluet. Saya meneriakinya  namun ia diam saja. Dari kejauhan saya menunggunya. Namun saat menunggu ia sudah tidak kelihatan lagi. Sepertinya ia bergerak duluan. 


Lalu saya bergerak cepat untuk menyusulnya. Sekitar jam 5 subuh saya tiba di Puncak Kerinci.  Namun tidak tampak ada Joko di sana. Hanya ada beberapa orang rombongan kami termasuk Yos Hendra, Pendaki dari Padang yang menjadi teman ngerumpi saya  semalaman. Beberapa menit kemudian saya baru melihat Joko datang. Sedikit kaget saya pun menanyainya apakah ia yang tadi di Tugu Yuda. Ia bilang bukan. Dia malah tertinggal jauh di belakang. What? Jadi bayangan siapa yang berdiri di sana? Saya pun menduga mungkin ada pendaki lainnya. Namun beberapa jam saya menunggu pendaki lainnya, tidak ada satu orang pun yang sosoknya mirip dengan bayangan  yang saya kira Joko itu. 


Setelah sholat subuh di puncak, menunggu sunrise yang tak sempurna, berfoto bersama, dan sarapan pagi dengan roti dan kue-kue, kami pun akhirnya turun meninggalkan puncak. Sempat sedikit kecewa karena tidak bisa menyaksikan seluruh pemandangan di sekeliling Kerinci karena sebagian tertutup kabut tebal. 


Ketika turun, saya sempat menandai lokasi berdirinya bayangan yang subuh tadi terlihat di Kawasan Tugu Yuda. Karena penasaran, Saya dan Joko menghampiri lokasi tersebut. Saat kami mendekat, ternyata di lokasi ini terdapat sebuah batu seperti nisan. Ada nama, tanggal lahir, dan tanggal kematian. Dengan khidmat Joko pun berdo’a di sana.


Dalam hati saya masih bertanya-tanya siapakah sosok bayangan itu. Tapi ya sudahlah. Tidak semua pertanyaan harus dijawab bukan?


Karena waktu cuti kami masih banyak, maka ketika Yos  menawari kami mendaki gunung-gunung di Sumatera Barat, kami pun langsung mengiyakan. Dan hari itu juga  saya dan Joko ikut pulang ke Padang bersama Yos dan rombongan untuk mendaki Gunung Marapi dan Singgalang.   

 

21 comments:

  1. Aku Agustus tahun 2000, wkwkwk, berasa tua banget dahh
    tapi aku nggak ke merapi dan singgalang Lin, tapi ke talamau, gunung dengan pacet paling banyak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha emang kita udah tua Rin. Nah aku pengen ke Talamau. Cuma agak serem ama pacet.

      Delete
  2. dan kamu masih inget kak, perjalanan 15 tahun dengan mantan *eeh)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pitnaaaah. Dia bukan mantan gue. Cuma teman biasa. *sambit pakai hak sepatu.

      Delete
  3. woooowww perjalanan kali ini sungguh mistis ya. hehehhehe... semoga untuk pndakian selanjutnya selalu di Lindungi oleh-Nya dalam perjalanan agar semua selamat. Amin....

    ReplyDelete
  4. Baru tau pegunungan Bukit Barisan sampe Lampung juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa sampe Bang. Banyak Gunung malah di Lampung. Ada Rajabasa, dan lainnya.

      Delete
  5. Aku belum terpikirkan untuk mendaki gunung kerinci, mba. Btw, kalau nai gunung kadang adaaa aja ya 'sesuatu penampakan ya mba. Semoga semuanya berjalan lancar ya mba setiap kali pendakian. Amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, ada saja hal yang kadang di luar logika.

      Delete
  6. Aiih, cerita di bagian akhirnya kok serem amaat. Tp buat pendaki menjumpai hal2 kayak gitu kayaknya udah biasa banget ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, udah biasa kalau di gunung mah. Sedangkan di rumah dan kota yang ramai orang saja masih banyak hal-hal serem, apalagi di tempat sepi seperti gunung.

      Delete
  7. Kamu selalu kereeen dan beruntung bisa menikmati bumi Allah :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin.... Alhamdulillah, dirimu juga keren Mbak En :*

      Delete
  8. jadi bayangan siapa itu? sereeem :D
    Kebayang capeknya kalo sudah mendaki gunung, salut nih dengan teman-teman yang kuat mendaki.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak tau Mbak, aku bisa menduga-duga saja kalau nggak orang berarti sesuatu haha.

      Delete
  9. Pngen bngt mndaki gunung gk kesampean trs smp dh meried sering bngt danger cerita2 dr temen2 senang bngt sih mba,,, terbyar lelahny klo dh smp puncaj

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sebelum nikah puas-puasin mendaki gunung Mbak, eh nikah pula sama yg se-hobby, jadi biar udah nikah juga masih bisa lanjut daki gunung.

      Delete
  10. Belum pernah mendaki gunung, tapi kebayang serunya saat capek itu hilang dibayar pemandangan alam memesona. Emang kudu kuat mental jg ya mbk,apalagi ketemu hal2 gtu.
    TFS mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak betul, mendaki gunung itu butuh kekuatan fisik dan mental. Kalau tidak bikin putus asa karena lama sampainya.

      Delete
  11. Belum kesampean pengen naik gunung beneran. Sejauh ini masih kategori bukit.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...