Wednesday, January 31, 2018

Pendakian Gunung Daik Lingga yang Mengecewakan 44 Pendaki Malaysia

Gunung Daik. Foto: Buralimar (kadisparprov Kepri)

Disclaimer:

Saya sengaja mengundur-undur untuk menuliskan pengalaman ini agar tidak dalam keadaan menahan emosi baik amarah ataupun sedih. Tulisan ini semata-mata sebagai pengingat bagi saya pribadi, bagi para pendaki gunung, bagi para pelaku wisata, pemangku kebijakan, atau warga Negara Indonesia khususnya warga Kepulauan Riau, untuk tetap menghormati tamu melebihi keegoisan diri sendiri. 

Saya tidak bermaksud menyinggung atau menyindir siapa pun. Namun tulisan ini dibuat hanya ingin agar kita sama-sama introspeksi memperbaiki diri. Saya tidak harus dan tidak selalu menuliskan yang baik-baik atau yang manis-manis saja dalam blog ini, namun yang pahit pun perlu ditulis, anggap saja sedang menelan pil pahit yang biasanya akan menyembuhkan.

Prolog

Gunung Daik adalah sebuah gunung berketinggian 1.165 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang terletak di Daik Pulau Lingga (Kabupaten Lingga) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Lingga dapat ditempuh sekitar 3 jam perjalanan menggunakan speed boat dari Pelabuhan (Jetty) Telaga Punggur, Batam atau 4 jam menggunakan kapal ferry dari Kota Tanjungpinang.

Bagi warga Malaysia dan Singapura, sangat mudah menuju kedua kota Batam dan Tanjungpinang ini. Jika dari Malaysia, anda cukup menyebrang menggunakan ferry yang ada setiap 45 menit dari beberapa pelabuhan di Johor Malaysia seperti Putri Harbour dan Stulang Laut. Sedangkan dari Singapura dapat melalui Pelabuhan Harbourfront atau Tanah Merah.

Meskipun tidak populer di kalangan pendaki gunung Indonesia,  Gunung Daik cukup terkenal di kalangan masyarakat Melayu yang berada di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Hal ini tidak lain dikarenakan frasa “Gunung Daik” terdapat pada sebuah pantun Melayu yang sangat terkenal sejak zaman dahulu kala. Inilah pantun tersebut:

Pulau Pandan jauh di tengah
Gunung Daik bercabang tiga
Hancur badan dikandung tanah
Budi baik dikenang juga

Ketertarikan pendaki gunung dari Malaysia ini membawa mereka menjelajahi halaman-halaman website untuk mencari informasi mengenai pendakian Gunung Daik. Salah satu halaman yang mereka singgahi adalah halaman blog saya yang berjudul “Pendakian Gunung Daik Lingga Kepri.” Pendakian yang saya dan teman-teman lakukan pada tahun 2006 namun baru dipindahkan dan ditulis di blog ini pada tahun 2015. 


Sebuah Email Perkenalan

Adalah Fazli Ahmad, seorang pendaki yang juga jurnalis televisi dari Malaysia, yang kemudian mengirimkan email kepada saya untuk mendapatkan berbagai informasi mengenai Gunung Daik. Dalam emailnya, ia meminta tolong untuk mendapatkan nomor kontak pemandu (guide) dan porter Gunung Daik karena menurutnya ada sekitar 71 orang dari Negara Bagian Pahang Malaysia akan turut serta dalam pendakian Gunung Daik yang direncanakan 16 September 2017. Hari dimana diperingati sebagai  "Hari Penubuhan Malaysia." Mungkin yang dimaksud adalah hari terbentuknya Malaysia. 

Saya pun lantas berbagi nomor whatsApp dengan Fazli agar komunikasi berjalan lancar. Tidak seperti dulu, menelpon dan mengirim pesan kepada teman di luar negeri itu benar-benar menghabiskan pulsa. Namun kini cukup pakai data internet saja bisa menelpon dan berbagi pesan. Kalau habis paket tinggal beli lagi banyak kan beragam paket internet terutama paket yang murah seperti Paket Data XL.

Karena nomor-nomor kontak guide yang lama sudah hilang, saya pun berusaha mencari kontak guide dan porter dari kenalan di Lingga. Didapatlah satu nama guide yang menurut kenalan saya tersebut ketua sebuah komunitas  di sana. Sebut saja Pak X. Saya pun lantas menghubunginya.

Ketika saya sampaikan permintaan teman-teman Malaysia yang mencari guide dan porter, Bapak X menanyakan apakah kami sudah survei atau belum?  Saya jawab tidak perlu survei karena mereka mau sewa guide. Pak X yang kebetulan saat itu sedang berada di Batam mengajak bertemu, namun saya tidak bisa menemuinya karena ada urusan lain. Ia bilang ia akan memperlihatkan foto-foto jalur pendakian Gunung Daik. Saya sendiri tidak terlalu penasaran dengan jalur Gunung Daik karena sudah pernah ke sana dan tidak berniat ikut mendaki bersama teman-teman dari Malaysia itu. Sepertinya tidak banyak yang berubah dengan Gunung Daik, kecuali pada lokasi untuk berkemah (camping) sepertinya ada perubahan. Dahulu belum ada lokasi khusus untuk mendirikan tenda (kemah).

Namun tetap saja Pak X bersikeras dengan pendapatnya bahwa kami harus survei terlebih dahulu. Survei? Saya berkali-kali mengernyitkan dahi dan menanyakan kepada Pak X kenapa harus survei. Sepengetahuan saya, jika seseorang atau suatu kelompok hendak mendaki gunung ya tinggal datang, lapor, bayar simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi), lalu mendaki. Sudah, itu saja. Tidak harus survei-survei karena bagi yang bertempat tinggal jauh, tentu buang-buang waktu. Kata dia, Gunung Daik beda dengan gunung-gunung lainnya di Indonesia. Baiklah. Saya tidak bisa terus-terusan ngotot mempertahankan pendapat sendiri, barangkali memang gunung ini punya aturan sendiri.

Bagi para pekerja seperti saya dan teman-teman dari Malaysia, fungsi guide tentu adalah sebagai penunjuk jalur dan rute yang benar. Untuk memberi tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di sana. Dan mungkin ia juga akan berbagi sedikit pengetahuan tentang flora dan fauna yang hidup di gunung tersebut. Makanya dari awal, seperti yang disampaikan Fazli kepada saya, mereka meminta untuk dicarikan guide

Tentu lain cerita jika para pendaki ini akan melakukan ekspedisi pembukaan jalur, atau mendaki gunung yang belum pernah sama sekali dijamah. Menurut saya pribadi, ini yang butuh survei. Selain tetap bersikukuh harus survei, Si Bapak X juga bilang jika tempat untuk mendirikan tenda (camping ground) di Gunung Daik hanya muat untuk 15 orang. Tidak bisa menampung pendaki sebanyak 71 orang dalam satu kali inap.

Dari situ saja, saya sudah merasa tidak nyaman dan gagal berkomunikasi dengan Pak X tersebut. Maka saya pun menelpon Fazli dan bilang bahwa saya mampu mengurus hal lain-lain seperti hotel, ferry, dan kendaraan di darat. Namun saya tidak mampu mengurus guide dan porter. Jadi saya serahkan urusan ini kepada dia langsung untuk berkomunikasi dengan Bapak X.

Saya menganggap Fazli dan Pak X sudah berkomunikasi dengan baik karena beberapa kali saya tanyakan kepada Fazli apakah sudah menghubungi Pak X atau belum, dia bilang sudah dan Pak X meminta bermacam-macam surat izin ini itu. 

Majelis pelepasan pendaki Pahang. 


Kedatangan Pendaki Malaysia

Jum’at 15 September 2017 sebanyak 44 pendaki gunung dari Pahang Malaysia tiba di Tanjungpinang untuk kemudian meneruskan perjalanan menuju Daik, Pulau Lingga. Pada rencana awal, pendakian ini akan diikuti oleh 71 orang peserta, namun berubah menjelang beberapa hari keberangkatan. Meskipun jumlah peserta menurun,  tetap saja angka 44 orang merupakan rombongan yang besar dan banyak, terlebih lagi di dalam rombongan itu terdapat para petinggi Negeri Pahang dan juga media-media besar Malaysia.

Pelepasan

Menjelang keberangkatan ke Tanjungpinang

Diantara ke-44 peserta pendakian ini terdapat beberapa orang berpengaruh seperti Datuk Shahrudin Ahmad yang menjabat sebagai Ketua Pergerakan Pemuda UMNO Wilayah Pekan. Pekan adalah sebuah kota di Negara Bagian Pahang. Kemudian ada Datuk Nik Naizi Husin yang menjabat sebagai Presiden Kelab Media Pahang/Ketua Persatuan Agensi Media Pahang. Ada juga Datuk Abdul Wahab Mat Yassin sebagai Pengarah Jabatan Bomba (Pemadam Kebakaran) dan Penyelamat Negeri Pahang, berikut wartawan, pemuda-pemuda UMNO, serta tim medis dari Rumah Sakit Sultan Ahmad Syah, Temerloh, Pahang. 

Tiba di Daik, rombongan pendaki menginap di Hotel Lingga Pesona. Dalam perjalanan ini mereka ditemani oleh Herman Tobing, rekan saya di Komunitas Generasi Pesona Kepulaua Riau (Genpi Kepri) yang bersedia membantu untuk mengurusi segala keperluan tamu-tamu ini. Syukurlah, karena saya tidak bisa sendirian mengurusi mereka semua. Apalagi saya tidak bisa cuti dan hanya memantau rombongan melalui whatsapp. Dalam hal ini, Herman bersedia membantu untuk mengurusi berbagai hal seperti hotel, tiket ferry, dan transportasi darat (bis di Lingga).

Pada Tanggal 15 September 2017 Pukul 15.22 menit WIB Herman Tobing menghubungi Pak X untuk meminta bertemu guna mempresentasikan jalur pendakian kepada peserta di Hotel Lingga Pesona. Namun Pak X menjawab tidak sanggup menjadi guide mereka karena alasan keselamatan. Menurutnya camping ground di Gunung Daik tidak akan mampu menampung 44 orang dan ada satu jalur (dugaan saya mungkin jalur yang mendekati puncak) yang tidak bisa dilalui orang sebanyak itu. Herman pun memberi kabar mengagetkan itu kepada saya. Saya shock dan merasa malu kepada tamu-tamu pendaki ini. Kenapa dia tidak mengabari dari beberapa hari sebelum keberangkatan. sehingga kami masih bisa mencari guide lainnya. Saya meminta Herman untuk tetap membujuk Bapak X agar dapat menemani pendaki-pendaki ini ke Gunung Daik. Karena waktu sudah mepet dan tidak ada waktu lagi untuk mencari guide atau porter lain. 
Menunggu keputusan
Para pendaki Malaysia, Herman, dan Pak X akhirnya melakukan pertemuan di kantor polsek setempat. Pak polisi sepertinya tidak dapat membantu banyak. Saya tidak mengerti, gagal faham, kenapa mereka justru melibatkan polisi dalam hal ini. Berjam-jam hingga hampir tengah malam, Pak X tetap bersikukuh tidak mau mengantar. Saya bahkan sudah menelpon orang dinas pariwisata Kabupaten Lingga untuk membujuk Bapak itu agar mau menemani para pendaki dari Pahang ini, namun tetap gagal. Saya menangis sesenggukan di rumah. Malu, kesal, marah, campur aduk.  Suami dan anak saya hanya bisa membujuk dan menenangkan.

Di kantor polsek

Saya menyampaikan perihal ini kepada Fazli sebagai penanggung jawab rombongan meskipun ia sendiri tidak jadi berangkat ke Gunung Daik karena mendadak ditugaskan kantornya untuk meliput berita pengungsi Rohingya ke Bangladesh. Fazli terkaget-kaget dengan kejadian ini. Saya menanyakan kepadanya apakah semua surat-surat yang diminta Bapak X sudah dikirim, ia menjawab sudah semua. Termasuk surat izin ke kepolisian serta daftar nama-nama peserta. Saya mulai ill feel. Sejak kapan ya di negara ini mau mendaki gunung kok minta surat izin ke kepolisian? Agaknya ada yang tidak beres. Tapi saya tidak mau mengambil kesimpulan, takut suudzon.  

Fazli kemudian mengirimkan screenshot semua chat dia dengan Pak X di WA. Di situ tertulis jelas kalau Pak X  senang dan menerima kehadiran rekan-rekan dari Pahang untuk datang ke Lingga. Pernyataan ini kemudian dianggap sebagai kesediaan mengantar teman-teman Fazli ke Gunung Daik. Saya pun bertanya apakah Fazli sudah menelpon Pak X? Ia bilang beberapa kali menelpon tapi tidak diangkat.

Lalu apakah para pendaki Malaysia ini jadi mendaki Gunung Daik? Baca di postingan selanjutnya ya di sini:
10 Pesan Pendaki Malaysia setelah mendaki Gunung Daik.

Catatan:
Foto-foto pendaki Malaysia di atas saya dapatkan dari Fazli Ahmad.    


13 comments:

  1. Dari yg aku baca, kok rasanya ribet ya mba. Si Mr. X itu dari awal kayaknya udah ga niat jadi guide. *Ikutan sebel*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak sejak awal kayaknya udah nggak niat tapi kok nggak bilang juga. Kalau nggak mau kan aku nyari ganti nggak ngarep ama dia doang.

      Delete
  2. Ngapain sampai bawa-bawa urusan ke polisi sih, Mbak? Ihh aku gemes. Pantes Mbak Lina menunda nulis agar lebih tenang.

    ReplyDelete
  3. Haduh ko mau naik gunung aja mesti pake ribet ya urusannya, ampe di kantor polsek pula. Terkadang justru mau mendaki tuh pengennya happy2 aja kalo aku mah, kalo gitu mah udah kesel duluan ya Mba Linaa

    ReplyDelete
  4. Duh sayang bgt, seharusnya memberikan pelayanan yg terbaik bukan malah dipersulit. Ini dri mancanegara loh. Kan sama aja mempermalukan indonesia. Duh

    ReplyDelete
  5. Waah pasti campur aduk banget ya mba perasaannya..

    ReplyDelete
  6. Duh..malu sama tamu udah pasti deh..
    Seharusnya pak x itu kalo ga bisa bilang Daria awal..

    Kok pakai survei..artinya dia gak tau Medan gunung Daik..cuma gak mo ngakuin

    ReplyDelete
  7. Dasar Mr. X. Tapi aku penasaran cerita selanjutnya. Lanjut baca...

    ReplyDelete
  8. Sedih dan menyayangkan sekali baca tulisan ini. Sudah ribet segala macam urusan, dipersulit pula. Kesan tidak bertanggungjawab juga terlihat.

    ReplyDelete
  9. Baca 2 artikel ini ga keru-keruan hati rasanya.... Tamu datang jauh2 ga dihormati,ga dilayani,ga dihiraukan... Sudah untung ga diekspos di media sana T_T Pak X nya trus gimana mba? Di SP kah??

    ReplyDelete
  10. Haduuh pak X ini keknya bermasalah dari awal. Sebel banget bacanya. Sekarang mau lanjut ke artikel selanjutnya

    ReplyDelete
  11. baca tulisan mbaknya, jadi kebawa emosi nih..
    kebayang deh gimana ribetnya urusannya itu

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...