Jelajah Hutan Mangrove dan Pantai Batu Junjung di Desa Pengudang Bintan

Sudah hampir setahun lalu, saya dan Citra Blogger asal Tanjungpinang, merencanakan untuk berkunjung ke Desa Berakit dan Desa Pengudang di pesisir Timur Laut dan Utara Bintan. Rencananya ingin melihat komunitas Suku Laut yang hidup di perairan sana dan sekaligus juga menjelajah hutan mangrove yang masih asri di sekitar Desa Pengudang. Selain itu kami juga sangat penasaran dengan keberadaan Madun Castle atau Istana Jendela Dunia yang diciptakan secara fantastis oleh Pak Madun, warga Desa Pengudang. Saya juga sempat melihat postingan foto-foto Istana Jendela Dunia ini melalui akun Instagram Pak Iwan Winarto yang mempunyai usaha Mangrove Tour di kawasan ini.   

Maaf, numpang lewat :D


Lalu ketika suatu waktu saya sedang kepoin foto-foto di explore instagram, saya menemukan akun DSCP yang mengatakan bahwa Desa Pengudang menjadi salah satu area konservasi dugong (duyung) dan padang lamun. Rasa penasaran pun makin memuncak dan dengan segera merencanakan jalan-jalan ke sana sehari sebelum Lebaran Haji.

Desa Pengudang yang terletak di Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) merupakan sebuah desa nelayan dengan jumlah penduduk sekitar 380 Kepala Keluarga atau sekitar 700 jiwa (informasi langsung dari Pak Iwan).  Desa ini berada di pesisir sebelah utara mendekati Timur Laut Pulau Bintan dan diperlukan waktu sekitar 1,5 jam berkendara dari Kota Tanjungpinang (Ibukota Provinsi Kepri).

Saya dan teman jalan kali ini

Baca perjalanan saya ke Bintan lainnya di tulisan ini: "Tamasya Hari Raya Idul Fitri ke Pantai Trikora Bintan."

Perjalanan Menuju Desa Pengudang Bintan

Saya berangkat dari Batam jam 6 pagi dengan menaiki Gocar dan langsung menuju Pelabuhan Telaga Punggur. Dari sana naik kapal ferry paling pagi yang berangkat jam 7.30 WIB dengan ongkos Rp 57.500 sekali jalan. Di tengah-tengah laut antara perairan Batam dan Tanjungpinang, ombak mendadak kencang hingga banyak penumpang berteriak-teriak saking kagetnya. Dan pelayaran kapal ferry yang diperkirakan hanya 45 menit molor menjadi 1,5 jam. Seingat saya, memang di perairan pertengahan antara Batam dan Tanjungpinang selalu saja ada  arus dan gelombang yang bergerak kuat. 

Di pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang, saya dijemput Aprijal Ketua Genpi Bintan yang akan ikut menemani perjalanan hari itu. Aprijal juga mengajak dua temannya, Darna dan Puteri untuk ikut  serta. Lumayan dua perempuan muda ini bisa kami jadikan model saat motret-motret. Maklum saya dan Aprijal lebih suka memfoto dibandingkan difoto.  

Dua teman seperjalanan lagi yaitu Citra dan Jasmi akan kami jemput sambil sekalian lewat karena rutenya berada di satu jalur dengan tempat mereka menunggu. Oh iya sekedar info kalau Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan ini berada dalam satu pulau yang sama yakni Pulau Bintan. Sedangkan Pulau Bintan itu berada di sebelah timur Pulau Batam. Lalu keduanya berada di Provinsi Kepri. Hehe harus sejelas ini biar yang di luar Kepri sedikit punya gambaran. Yuk sekalian jelajahi peta Indonesia kita tercinta!

Sepanjang perjalanan saya dan teman-teman ke Desa Pengudang, jalan yang dilalui terbilang bagus dan mulus. Namun rumah-rumah penduduk yang dilewati sangat jarang. Maklum penduduk Pulau Bintan ini masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan Pulau Batam. Tahun ini saja penduduk Batam diperkirakan telah mencapai lebih dari 1,3 juta jiwa sedangkan Bintan masih kurang dari 200 ribu jiwa.

Pengudang Bintan Mangrove
Pengudang Bintan Mangrove

Tepat pukul 11.00 siang kami tiba di Desa Pengudang. Desa ini begitu tenang dan sepi. Kendaraan yang lewat pun sangat jarang sekali, bisa dihitung oleh jari. Kami berhenti di depan rumah yang dijadikan base camp Pengudang Bintan Mangrove yang dikelola  Pak Iwan. Rumah ini terletak tepat di tepi laut dengan ornamen hiasan kerang-kerang laut dan terumbu karang yang sudah mati. Dinding bagian depan dan samping rumah ini dibiarkan terbuka sehingga kami dapat dengan jelas menyaksikan perairan Bintan Utara yang jernih dan masih terjaga keasriannya. Begitupun hutan mangrove dan bebatuan di sekitarnya masih terlihat sangat alami.

Desa Pengudang berasal dari kata udang. Dulu, daerah ini terkenal sebagai daerah penghasil udang. Sekarang pun udangnya masih cukup banyak. Wilayah Pengudang berbatasan langsung dengan Desa Sri Bintan dan Desa Berakit. Menurut penuturan Pak Iwan saat kami mulai mengikuti mangrove tour, jika dilihat dari letak geografisnya, Pengudang merupakan pesisir yang potensial untuk hasil laut dan merupakan salah satu desa di Kepri yang menjadi penghasil ikan laut terutama bilis paling banyak berkontribusi di pasaran. 

Sambil menunggu kapal yang akan membawa kami datang, kami beristirahat sejenak dan ngobrol-ngobrol santai.  Ketika kapal yang akan kami naiki datang membawa pulang satu keluarga turis dari Singapura yang habis mancing, kehebohan pun terjadi. Mereka membawa setengah ember ikan hasil tangkapannya sendiri. Dan kami sibuk bertanya ini itu. 


Mangrove Tour di Pesisir Desa Pengudang Bintan
 
Setelah di-briefing sebentar mengenai safety, kami lantas mengenakan life jacket. Lalu kami beriringan menuju kapal. Segera duduk manis walaupun dalam hati sudah tidak sabar ingin merasakan petualangan yang akan segera dijalani.

Jangkar telah diangkat. Sauh pun telah terlipat. Suara mesin kapal mulai berisik mengisi heningnya suasana desa pesisir. Perlahan, kapal kami melaju membelah air laut yang bening kehijauan diantara bebatuan dan pohon mangrove yang berjejer mengisi rapat  setiap ruang di pesisir laut ini. 

Saat memasuki hutan mangrove, kami menjumpai beberapa jenis burung yang beterbangan. Selain itu di akar-akar mangrove yang tidak tertutup air laut (karena sedang surut), terlihat tiram sedang menempel. Adanya tiram ini menjadi petunjuk atau indikator bahwa di lokasi tersebut masih belum tercemar.

Tim lengkap. Foto: Aprijal

Menyusuri sungai kecil diantara rimbunnya mangrove

Sepanjang mangrove tour ini, yang paling menarik bagi saya adalah saat kami masuk ke celah sungai kecil di antara rimbunnya pepohonan mangrove. Agak ngeri-ngeri sedap takut ada ular mangrove yang terjatuh atau buaya yang tiba-tiba nongol dari balik akar. Hihi...mendadak berasa serem kalau membayangkan hal yang tidak-tidak. Namun hijau dan rimbunnya pepohonan serta rapatnya akar-akar mangrove yang kami jumpai akhirnya mengalahkan rasa takut itu. Ditambah lagi kami sibuk foto-foto karena tak ingin melewatkan hal yang langka ini. 

Menurut keterangan Pak Iwan, beberapa jenis mangrove yang terdapat di area ini adalah jenis dari Rhizopora, Bruguiera, Avicennia dan Xylocarpus.  Saya mengenali salah satu jenisnya yaitu Rhizopora mangle dimana spesies ini merupakan mangrove yang paling dominan di muka bumi. Penyebarannya meliputi pesisir Asia, Amerika hingga Afrika. Jenis ini ditandai dengan akarnya yang kokoh, banyak dan menyebar kuat. 

Mangrove sangat banyak manfaatnya bagi kehidupan manusia. Salah satunya adalah sebagai penyerap polutan sehingga ekosistem yang tercemar bisa kembali dinormalisasi.


Pantai Batu Junjung Bintan

Hampir setengah jam menjalani mangrove tour, kapal kami berbalik arah menuju lokasi selanjutnya yaitu Pantai Batu Junjung. Pantai ini berada dalam satu garis pantai dengan Lagoi. Lokasi dimana terdapat resort-resort mewah yang dikelola oleh perusahaan Bintan Resort Cakrawala. 

Lokasi Batu Junjung yang terpencil dan jauh dari keramaian menjadikannya seperti private beach. Terbukti saat kami ke sana hanya rombongan kami saja yang berada di pantai ini. Waktu tempuh dari Pengudang ke Batu Junjung kira-kira 10 menit.

Pantai Batu Junjung Bintang
Pantai Batu Junjung Bintan


Pantai Batu Junjung sangat bersih dengan air laut yang bening hingga ke dasar. Duuh saya menyesal tidak membawa baju ganti. Melihat pantai yang amat bersih dengan air laut yang jernih rasanya ingin sekali nyebur. Apalagi masih banyak ditemukan kerang-kerang laut yang sedang berjemur di bebatuan. Rasanya ingin ikut berjemur dengan mereka. Hehe.

Lokasi ini dinamakan Batu Junjung karena terdapat satu batu yang terletak di atas batu lainnya. Tampak seperti dijunjung oleh batu di bawahnya. Dari jauh malah kelihatan seperti jamur raksasa. Karena itu masyarakat sekitar menyebutnya Batu Junjung.

Bebatuan di Batu Junjung hampir mirip dengan bebatuan yang terdapat di Natuna juga Belitung. Sangat besar-besar. Saya dan teman-teman sempat menaiki beberapa batu raksasa ini dan menikmati pemandangan menakjubkan dari atas sana. Alhamdulillah.

batu Junjung Bintan
Batu Junjung




Desa Pengudang dan Kaitannya dengan Dugong (Duyung) dan Padang Lamun


DSCP ( Dugong Seagrass Conservation Project) yang berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementrian Kelautan dan Perikanan, telah meneliti eksistensi dugong (duyung) di kawasan Desa Pengudang. Para peneliti dan nelayan terbukti telah menemukan habitat dugong di perairan ini. Dalam ekosistem laut, eksistensi dugong mempunyai peranan sebagai stabilizer ekosistem. 

Berdasarkan data dari DSCP yang telah melakukan penelitian mengenai habitat dugong dan kaitannya dengan sebaran padang lamun yang ada di Indonesia khususnya Kepri, maka Desa Pengudang ini telah ditetapkan sebagai habitat dugong sekaligus habitan lamun.   

Desa Pengudang Bintan
Desa Pengudang sebagai Habitas Lamun dan Dugong


Lamun (Seagrass) adalah tumbuhan berbunga yang tumbuh di dasar perairan pesisir. Lamun dapat membentuk hamparan yang disebut padang lamun. Penduduk lokal di Kepri menyebut lamun sebagai rumput setu atau setu laut. Lamun bukan rumput laut namun tumbuhan sejati yang memiliki daun, rimpang (batang yang menjalar) dan akar sejati. Sedangkan rumput laut atau seaweed adalah sejenis ganggang atau alga. 

Lamun tumbuh di daerah pasang surut dan sekitar pulau-pulau karang seperti di perairan Desa Pengudang ini. Selain itu hampir mudah kita jumpai di sepanjang Pesisir Timur Bintan. Saya sendiri pernah berenang di perairan yang dipenuhi padang lamun ini di White Sand Island Bintan.

Dari  60 jenis lamun yang ada di dunia, Indonesia adalah rumah bagi 13 jenis lamun. Dan 10 diantaranya terdapat di Desa Pengudang Bintan. Ini menunjukkan bahwa desa ini sangat penting bagi ekosistem laut yang lestari karena dengan adanya padang lamun yang sehat akan memberi petunjuk bahwa lokasi ini menjadi habitat beberapa jenis biota laut lainnya yang juga sehat.

Lamun merupakan tempat bagi biota laut mengasuh dan membesarkan anak-anaknya serta mencari makan bagi ikan-ikan karang seperti kakap, penyu dan duyung. Lamun dapat menyimpan lebih dari dua kali jumlah seluruh karbondioksida atau mencapai 83.000 ton/km persegi yang disimpan oleh hutan di darat. Lamun sendiri memegang peranan penting dalam ekosistem laut dan menjadi salah satu indikator penentu kesehatan laut.

Dugong merupakan hewan mamalia laut yang dari waktu ke waktu populasinya terus menurun. Ketersediaan makanan mereka yang cukup melimpah, yaitu lamun akan membantu menyelamatkan mereka dari kepunahan. Untuk mengetahui langsung keberadaan dugong sangatlah sulit, kita hanya bisa melihatnya melalui jejak makan mereka (feeding trail) di daerah yang banyak lamunnya.

Di Desa Pengudang, sesekali nelayan lokal menjumpai dugong saat sedang melaut. Pernah juga ada dugong yang terperangkap di kelong nelayan namun kemudian dilepaskan kembali.  Di Kantor Desa Pengudang, kita bisa melihat replika dugong yang berasal dari dugong yang diketemukan telah mati.

Diinisiasi oleh Tim dari LIPI, tulang-tulang dugong ini dibuat replikanya. Saat ini masih banyak di berbagai tempat di daerah yang masih sering kita jumpai masyarakatnya mengkonsumsi dugong. Padahal negara sudah mengatur eksistensi serta perlindungan mereka dalam sebuah peraturan perundang-undangan.  Kini, giliran kita bersama, mensosialisasikan hal ini kepada semua lapisan masyarakat agar melindungi dugong dan habitatnya demi kelestarian laut kita.


Pengudang Bintan Mangrove
Instagram: @Desawisatapengudang
Phone: 081372636070




34 comments :

  1. Wah bagus banget nih Mbak tempatnya. Apalagi yang pantainya tuh. Pingin nih ke sana hihi

    ReplyDelete
  2. Bagus banget nih Mbak Hutan Mangrovenya. Apalagi ketika menelusurinya dengan naik perahu hihi

    ReplyDelete
  3. Memang sangat bersih sekali nih ya Mbak Pantai Batu Junjung ini. Keren banget dah

    ReplyDelete
  4. Kapan2 kalau ke rumah Kakak ipar Di Batam Minta diajak kesana ah.. kayaknya seru banget main ke hutan mangrove sambil Naik kapal. Tapi kayaknya harus bawa bekal makan minum sendiri ya kalau kesana..

    ReplyDelete
  5. Wah serunya jalan-jalan menyusuri hutan Mangrove...Di daerahku banyak kawasan mangrove kayak gini..tapi belum ada yang dikelola secara profesional untuk keperluan wisata sekaligus lingkungan hidup..Semoga bisa seperti ini ya...

    ReplyDelete
  6. Penasaran dengan dugong mbak. Gak ada fotonya ya?

    Btw, ternyata Bintan ini banyak lokasi wisata alam yang bisa dinikmati ya mbak. Gak memulu harus ke Jawa atau Bali dan Lombok deh yak

    ReplyDelete
  7. Dugong, jadi teringat Upin Ipin saat di kolam dugong hehehee
    Masyaallah itu dengan liat gambarnya aja Pantai Batu Junjung udah mempesona, apalagi kalau beneran mengunjungi langsung ya mbak. Beneran bersih dan pas sama suasanaya yg cerah ya hehhehe

    ReplyDelete
  8. Masuk ke celah sungai kecil, benar-benar terasa ngeri-ngeri sedap. saya sendiri takut nih.

    ReplyDelete
  9. MasyaAllah, kagum sama Mbak Lina yang selalu berbagi cerita jalan-jalannya. Dan jadinya aku pengin berkunjung ke sana, lihat dugong juga. Kalau untuk wisata mangrove, di Jatim sudah pernah dan Alhamdulillah terawat, entah saat ini bagaimana kondisinya.

    ReplyDelete
  10. Bagus banget batu di pantai Junjung, mirip di Belitung ya mbk. Dugong itu badan hewannya yang mirip kuda nil bukan mbk, licin gitu.

    ReplyDelete
  11. Ternyata lamun itu nama sejenis tumbuhan ya dan bisa petunjuk untuk meneliti terkait dugong. Semoga saja habitat hewan tersebut masih bisa bertahan..Saya jadi sadar banyak banget ya wisata alam di Bintan

    ReplyDelete
  12. MasyaAllah mak mupeng liat mangrove sama pantainya. Udah lama juga ga liburan mak, Bintang memang lagi naek daun yah untuk destinasinya ternyata gak kalah indah

    ReplyDelete
  13. masyaallah! Indonesia memang keren ya. Sayang banget, kelimpahan alam ini seperti salah kasih tangan. gak tau deh, 10 tahun lagi masih ada gak itu

    ReplyDelete
  14. Asyik banget jalan2 di hutan mangrove. Apa lagi pantai di bintan kan indah sekali

    ReplyDelete
  15. Pertama kalinya ke Hutan Mangrove itu saat ke Cirebon mba, ya ampun cakep banget itu Hutan Mangrove nya, meski jembatannya cukup panjang buat dilalui ya, tapi worth it sama keindahannya

    ReplyDelete
  16. Kayaknya aku pernah ke sini tahun 2012 tapi belum sebagus sekarang tentunya. Kmrn balik lagi tahun 2015 ga sempet ke mngrove lagi. Kangen gonggong klo ke Bintan, hehe. Lagoi juga pantainya bagus2 ya

    ReplyDelete
  17. Pemandangannya cantik banget ya tinggal di sana berasa liburan terus, semoga hutan mangrove makin subur dan bisa menjaga lingkungan sekitar pantai ya

    ReplyDelete
  18. Cakep amat ini Bintan ya, aku main ke Mangroove waktu di Semarang doang kayaknya. Yang di Jakarta aja malah belum pernah deh. Ini di Bintan kalau gak salah ada hotel yang bagus itu deh, sepupu pernah nginep disana.

    ReplyDelete
  19. Wah segar liat Blog Kakak ini. Banyak foto-foto pemandangan Indah. Semoga kita makin tersadar kita untuk menjaga lingkungan.

    ReplyDelete
  20. Tempatnya keren banget mba,tidakk diragukan lagi bahwa Indonesia memang indah. Btw, kalau di jakarta ada hutan mangrove di daerah kapuk mba

    ReplyDelete
  21. Masya Allah keren banget viewnya yah �� aku belum pernah nih wisata mangrove pdhl pengen banget, mudah2an di lain kesempatan bisa. Oiya katanya keberadaan hutan mangrove bsa memperbaiki ekosistem di laut yah

    ReplyDelete
  22. Bagus tempatnya aku belom pernah wisata ke hutan mangrove sepeeti ini mak.. Sepertinya bisa di jadwalkan nie

    ReplyDelete
  23. Wuih seru banget. Tempatnya bagus. kangen😍 jalan-jalan ke hutan Mangrove lagi deh. Terakhir itu tahun 2000 deh waktu kuliah lapangan. Udah lama banget ya.

    ReplyDelete
  24. Wah mbak ..indah sekali bentang alamnya... Mulai dari hutan mangrove,pantai sama bentuk batuannya memesona. Suka saya melihatnya. Lingkungannya juga bersih yaa.. Jadi mupeng sekali jadinya..

    ReplyDelete
  25. Masya Allah... cantik banget pantai Batu Junjung ya mbak. Beneran airnya jernih sampai terlihat pasirnya yang dipinggiran itu. Semoga saya ada rejeki bisa kesana, ntar ketemuan yaaa

    ReplyDelete
  26. MasyaAllah indaaaaahnyaaaa
    Pas lewat hutan mangrove gt kuat iman pada ya mak. Aku nyalinya kecil xD. Ga beranian pasti, walau indah sekalipun. Kalau ada buaya susah lari kalau di aer *eaaa

    Btw,pemandangannya pasti bikin lupa seremnya yaaa. Pengen kujadiin wallpaper xD

    ReplyDelete
  27. Pemandangannya indah sekali mbak. Btw, Dugong itu hewan yang seperti apa? Penasaran deh karena baru kali pertama aku dengernya.

    ReplyDelete
  28. Tiap Mbak Lina share tentang pantai-pantai di Batam dan pulau sekitarnya, aku iri ...
    eh mbak, aku mau ke Batam nih. Kalau waktunya sekitar 5 hari, pantai yang cocok apa ya untuk jalan sama balita? kalau bisa sekalian snorkeling.

    ReplyDelete
  29. Waah...
    Mangrove di Desa Pengudang memang beda yaa, kak..
    Pemandangannya...indaaah sekali.

    ReplyDelete
  30. Ternyata dugong termasuk salah satu hewan yang dilindungi ya. Masyarakat pesisir harus aware ttg ini. Keindahan Pantai Batu Junjung memukau sekali, cocok bgt jd destinasi travelling.

    ReplyDelete
  31. Bukan cuma bermanfaat, ya. Hutan Mangrove itu ternyata juga bisa indah dan asyik untuk dijelajah...

    ReplyDelete
  32. Wah, kapan jalan-jalan lagi nih. This article is so informative.

    ReplyDelete
  33. Duh duh itu hasil fotonya bagus sekali
    Jadi makin penasaran mau hunting landscape langsung juga ke Bintan kalau begini
    Bakalan share ke temen temen fotografer nih

    ReplyDelete

Halaman ini dimoderasi untuk mengurangi spam yang masuk. Terima kasih sudah meninggalkan komen di sini.

My Instagram

Made with by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates