Mengurai Kenangan dan Kerinduan pada Gunung-Gunung di Kabupaten Garut Jawa Barat


Bicara tentang Garut adalah bicara tentang rindu dan kenangan. Kerinduan akan kampung halaman tempat dimana saya tumbuh dan dibesarkan. Tempat dimana nilai-nilai moral, kearifan lokal dan keislaman ditanamkan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Pengajaran dan pendidikan yang diterapkan di rumah, di sekolah, madrasah dan lingkungan sekitar tempat bermain berlelah-lelah, telah membentuk karakter saya dan anak-anak lainnya untuk tidak pantang menyerah.




Dari Garutlah, cita-cita mulai disemai lalu dipupuk. Bersemi menjadi bulir-bulir semangat dan tunas harapan yang lantas menguatkan tekad untuk melangkahkan kaki jauh ke seberang, ke tanah harapan. Demi mengejar impian, demi mengubah keadaan dan demi memperbaiki kehidupan.

Mengenang akan Garut, adalah mengurai kehangatan yang selalu ditunjukkan oleh keluarga besar di sebuah kampung yang dikelilingi gunung-gunung dan persawahan. Tempat dimana kecintaan akan petualangan mulai tumbuh dan berkembang. Dimana mata saya senantiasa memandang takjub pada gunung-gunung yang anggun, yang kerap berselimut kabut dengan lereng yang curam dan jurang-jurang yang dalam.

30 tahun yang lalu, dari tepi kampung itu, dari kebun-kebun sayur dan buah, juga liukan pematang sawah, saya menatap sumringah pada puncak-puncak gunung yang megah. Pada Gunung Papandayan yang mengepulkan asap kawah, pada Gunung Cikuray yang kokoh berdiri dengan gagah dan pada Gunung Guntur yang kerap dilahap si jago merah. Betapa tak sabarnya diri ini untuk segera beranjak dewasa. Agar mampu berdiri tegak di puncak-puncaknya seraya memandang bangga pada tanah yang berjuluk Swiss van Java.



Selain kehangatan keluarga di kampung halaman, salah satu hal lainnya yang senantiasa membuat saya rindu pada Garut adalah gunung-gunungnya. Terutama kepada 3 gunung yang menjadi latar pemandangan sehari-hari di kampung halaman, yakni Gunung Papandayan, Gunung Cikuray dan Gunung Guntur. Pada ketiga gunung ini, betapa ingin saya curahkan perasaan rindu dan sayang yang terentang dari pulau nun jauh di sebrang. 

Rindu saat-saat menikmati suasananya yang damai dan tenang. Rindu memanggul ransel, menjejak jalur setapak yang menanjak, menikmati perjalanan dimana peluh bercucuran membasahi seluruh pakaian. Rindu menyusuri sungai, bebatuan dan rimbunnya hutan. Rindu bercengkrama di hangatnya tenda, atau berkemul di nyamannya sleeping bag sambil menikmati secangkir teh di ketinggian, diantara hembusan angin dan arak-arakan awan.




Gunung Papandayan berada di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pertama kali saya menginjakkan kaki di gunung ini saat usia 10 tahun. Ketika diadakan Jambore Pramuka se-Kabupaten Garut. Ketika kakak pembina mengarahkan kami untuk menjelajah kawasan Kawah Papandayan, kaki saya tiba-tiba gemetaran menahan luapan dahsyat yang tiba-tiba saja mencuat. Entah apa rasanya saat itu, saya seperti tersihir, mendadak jatuh cinta kepada gunung ini. Ketika teman-teman lain hilir mudik, saya hanya berdiri kaku menatap tebing cadas tinggi berwarna putih yang melatari kawah ini.

Saat di kawah itulah, saya mulai mengenal apa dan siapa para pendaki gunung. Saya hanya mampu menatap iri pada rombongan pendaki yang memanggul ransel-ransel besar di punggungnya. Dalam batin berucap bahwa suatu saat kelak, saya akan seperti mereka. Menginap berlama-lama di atas sana, menikmati indahnya suasana Gunung Papandayan tanpa harus diburu-buru oleh guru dan kakak pembina pramuka.

Bertahun-tahun kemudian, ketika usia beranjak remaja, kecintaan saya kepada Papandayan bahkan tidak pernah memudar. Berulang kali saya menyambangi gunung ini hanya untuk menatapnya lebih dekat lagi. Sekadar untuk berbagi suka dan sedih sambil menikmati hawanya yang sejuk, sembari memandang pada rimbunnya rumpun-rumpun edelweis di Tegal Alun atau pucuk-pucuk pohon cantigi yang memerah di Pondok Saladah. Begitupun ketika tumbuh dewasa, ketika jauh dari sana, saya kerap menyempatkan diri untuk selalu datang menjenguknya. Menyapanya dalam diam, sambil melepas rindu perlahan-lahan.


Tentang Papandayan

Gunung Papandayan

Gunung Papandayan yang berketingian 2.665 meter di atas permukaan laut, pernah meletus beberapa kali diantaranya pada 1772, 1923, 1942 dan 2002¹. Akibat letusan-letusan tersebut, sebagian badan gunung runtuh dan menyisakan lubang cekung berwarna putih dari lapisan dalam gunung. Dari kejauhan, lubang cekung dengan tebing-tebing cadas ini terlihat sangat jelas bahkan hingga radius puluhan kilometer.

Gunung yang selalu lekat dalam ingatan ini, merupakan kompleks gunung berapi yang masih aktif hingga saat ini. Cakupan areanya meliputi kawasan kawah seluas 100 hektar², Blok Pondok Saladah 3.5 hektar³, Hutan Mati seluas 10 hektar, padang edelweis Tegal Alun seluas 42 hektar dan bagian-bagian lainnya termasuk hutan yang lebat di sekitarnya yang bahkan lebih luas dari keseluruhan kompleks kawah yang disebut tadi.

Hutan Mati

Tegal Alun


Omong-omong, dari mana saya mendapatkan data hitungan-hitungan di atas? Ya, saya ukur sendiri via google map. Yang pasti data ini berbeda dengan data yang mungkin teman-teman temui di Wikipedia. Karena kebiasaan saya ingin mengetahui dengan detail suatu informasi, maka saya terbiasa menghitung sendiri dengan menggunakan fasilitas pengukur jarak atau “measure distance”.

Kalau mau membuktikan sama-sama boleh saja. Silahkan buka halaman google map Gunung Papandayan. Klik kanan pada peta, klik measurement distance, lalu klik bagian yang akan diukur di setiap sudut-sudutnya. Geser bagian yang belum terukur. Nanti hasilnya akan langsung terlihat di kotak yang muncul saat kita mengeklik pertama kali area yang mau diukur tadi. Setelah itu, tinggal dikonversikan dari meter persegi atau kilometer persegi ke hektar. Googling saja menggunakan kata kunci “meter persegi ke hektar”. Jika ada perbedaan pun, rasa-rasanya tidak akan terlalu jauh. Mungkin hanya berbeda sedikit tergantung peletakan titik-titik pada tepi-tepi yang diukur.

Kompleks Kawah papandayan

Gunung Papandayan merupakan gunung yang mudah untuk didaki. Maka tak heran pada setiap akhir pekan, gunung ini selalu ramai oleh pengunjung terutama oleh mereka yang akan berkemah di Pondok Saladah. Sisanya, adalah para wisatawan yang hanya bertamasya, melihat-lihat sebatas kawah atau paling tinggi di sekitar tepi Hutan Mati. Pada libur lebaran dan tahun baruan, Papandayan seakan magnet yang menjadi sumber ketertarikan. Ribuan wisatawan berdatangan dengan berbagai kendaraan hingga parkiran pun meluber ke jalan-jalan.

Bagi saya, Papandayan tentu berbeda. Tidak hanya sebagai objek wisata, namun sesuatu yang istimewa. Ia adalah cinta pertama. Cinta yang abstrak, yang monolog, tanpa dialog. Tempat pertama dimana saya memilih untuk jatuh cinta pada dunia pendakian hingga sekarang. Yang karenanya, tercipta sebuah puisi yang mungkin sebagian orang menilainya lebay. Ya, begitulah. Memang lebay namun sungguh seperti itulah suasana hati saya kepadanya. Kepada Papandayan. Seperti terekam dalam sebuah puisi yang saya posting di blog ini pada 4 November 2014 dengan judul Gunung Papandayan, Sebuah Monolog Cinta.







Gunung Cikuray secara bahasa berasal dari dua suku kata yakni cai dan kuray. Cai berarti air dan kuray berasal dari kata kukurayeun yang artinya merinding. Jika dilihat dari dua kata ini, bisa diartikan Cikuray adalah air yang membuat merinding. Apakah airnya membuat merinding karena dingin atau merinding karena ketakutan? Kami sebagai penduduk kampung yang berada di bawah gunung ini, tidak terlalu memikirkannya. Menggali cerita yang ada di sekitarnya pun jarang yang membahasnya. 

Puncak Gunung Cikuray bisa ditempuh dari jalur pendakian di 3 kecamatan yang berbeda. Yakni Cilawu, Bayongbong dan Cikajang. Jalur yang umum dilalui pendaki biasanya via Cilawu dan Cikajang. Sewaktu saya dan saudara sepupu mendaki Cikuray, kami menempuh jalur dari Bayongbong. Namun karena waktu itu minim informasi, kami naik dari jalur para peladang, bukan jalur resmi pabrik teh Pamalayan sehingga membuat waktu tempuh semakin lama karena jalur terputus hutan yang rapat meskipun akhirnya sampai di puncak saat malam hari.

Bagi pemula, Mendaki Cikuray sangatlah terasa berat. Jalurnya menanjak terus tidak ada bonus. Meskipun melintasi ladang dan perkebunan, teap saja jalurnya sangat menantang dengan kemiringan rata-rata di atas 30 hingga 60 derajat.


Menikmati Sunrise yang Sempurna di Puncak Cikuray

Semburat merah bergradasi dengan kuning keemasan tampak menghiasi lazuardi. Fajar mulai menyingsing dari ufuk timur. Matahari perlahan menampakkan diri. Seperti harapan seluruh pendaki yang memenuhi puncak Cikuray saat itu, ia menampakkan diri secara bulat sempurna. Beberapa saat, saya terpaku. Tak ingin melewatkan momen langka yang tak biasa, Tak ingin berpaling, mata ini lekat-lekat memandanginya. Lalu secepat kilat mengabadikan momen istimewa dengan jepretan kamera. Betapa syukur senantiasa terucap kepada-Nya, karena inilah momen sunrise terbaik yang pernah singgah di hidup saya.


Sunrise di Gunung Cikuray

Para pendaki mulai berkerumun di sekitar tendanya masing-masing untuk menyambut hangatnya mentari di pagi hari. Di tangan mereka tergenggam secangkir teh hangat juga kopi yang menguarkan aroma khas. Asapnya, berpadu dengan segarnya embun yang mengkilap-kilap di ujung daun. Tak perlu beranjak jauh dari tenda, karena dari terasnya saja, pemandangan tampak kasat mata bak lukisan yang menjadi nyata.


Para Pendaki di Puncak Cikuray

Gunung di balik gunung

Dari puncak Cikuray yang hening, gunung-gunung di kejauhan tampak berselang-seling. Lukisan alam yang terpampang, terbentang 360 derajat di sekeliling. Karya sempurna Sang Pencipta dimana hanya mereka yang ada di sana saja yang tahu bagaimana cara menikmatinya.


Menikmati secangkir teh di Puncak Gunung Cikuray


Di sini, di Puncak Cikuray, semua sisi menawarkan sensasi. Di timur, Gunung Galunggung terlihat begitu anggun. Di barat, Gunung Papandayan tampak bersih biru menawan. Di utara, Gunung Guntur tampak gagah perkasa. Sedangkan di selatan, samar tergambar garis-garis tepi laut selatan yang terbentang, meliuk-liuk di ujung penglihatan. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?


Bayangan Gunung Cikuray yang jatuh ke badan Gunung Papandayan. Dilihat dari puncak Gunung Cikuray






Mendaki gunung itu ibarat candu. Selalu menagih, terulang, berulang layaknya rindu. Ketika pesona Papandayan dan Cikuray yang membius telah berlalu, kini kami menelusur Gunung Guntur yang berjalur pasir dan berbatu. Melintasi Sungai Citiis yang dingin dan sepi.

Mentari kian beranjak, seakan tenggelam di semak-semak. Meninggalkan lembayung yang menyeruak, berpendar membentuk garis-garis cahaya yang perlahan bergerak. Sementara itu jalur makin gelap dan menanjak, memburu nafas yang terasa semakin sesak. Terkadang, di saat-saat seperti itu, hati kecil berkata, untuk apa sebenarnya bersusah-susah, berpeluh dan berlelah-lelah mendaki, berkemah, lalu turun lagi? Satu pertanyaan yang bahkan hari ini belum yakin ada jawaban.

Menapaki jalur Gunung Guntur

Malam mulai menjelang dan gelap perlahan datang merambat. Kabut pun makin pekat menyelimuti jalur menuju puncak. Saya tertatih, menyeret langkah yang terbalut letih. Membungkuk bahkan merangkak agar tubuh tak limbung oleh beban di punggung.

Semakin tinggi, saya menapaki jalur yang mulai licin oleh kerikil. Meleng sedikit, kaki dengan mudah akan tergelincir. Berjam-jam hanya berkutat dengan jalur berbatu dan bukit berpasir. sementara itu, vegetasi hanya berupa semak-semak. Tak ada pohon rindang untuk saya sandari. Jika pun ada, hanya sebatang pinus yang hangus bekas terbakar atau tersambar petir.

Dikala usia tak lagi muda, mendaki menjadi lebih sulit dari biasanya. Seperti saat itu, sungguh pendakian yang melelahkan bagi saya. Jalur Gunung Guntur terbilang berat, terlebih bagi mereka para pemula. Menanjak terus menanjak. Tak ada lapang apalagi jalur menurun. Inilah saat yang tepat menguji kesabaran mental, kekuatan fisik, dan kegigihan dalam meraih apa yang diinginkan.

Beberapa jam kemudian, saya dan teman-teman tiba di sebuah lembah, terhalang puncak yang sedikit lagi bisa dicapai esok pagi. Maka tak menunggu lama, tenda segera didirikan, berganti pakaian, kemudian menjerang air dan memanaskan makanan. Makan malam pun siap dihidangkan.

Malam itu, kami beristirahat di tenda dengan ditemani taburan bintang-bintang yang saling berkedipan di kejauhan.


Berbagai kontur permukaan tanah di Gunung Guntur

Tatkala pagi menjelang, di antara hembusan kabut, pemandangan ke arah Kota Garut dan kecamatan-kecamatan yang ada di sekitaran, layaknya lukisan yang berbingkai awan gemawan. Meskipun langit tampak memutih, keindahannya tak terbantahkan. Tambang-tambang pasir yang sore kemarin terlalui, tampak seperti undakan-undakan. Adapun hamparan savana yang menguning di punggungan gunung mengingatkan saya kepada film lawas Little House on the Praire. Saya membayangkan berlari-lari di sana sambil bermain menikmati masa kecil.



Salam Takzim

Di akhir tulisan, dikala lelah merasuki jari-jemari, dikala letih menghampiri mata ini, saya ingin menitipkan salam takzim kepada Garut, kepada tanah yang dari rahimnya saya dilahirkan. Teriring rindu yang mungkin akan terurai 2 atau 3 tahun lagi ke depan.  Di hari lebaran atau Idul Qurban. 

Salam hormat penuh pengharapan. Semoga dari sana lahir insan-insan pilihan yang akan menghantarkan bangsa ini menuju kesejahteraan. 




Catatan:
Semua foto adalah milik pribadi Lina W. Sasmita kecuali jika ada keterangan lainnya.




Referensi:

1. https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Papandayan#Letusan. 9 Juni 2019

2https://www.google.com/maps/place/Mt+Papandayan/@-7.3175541,107.7401946,5638a,35y,203.63h/data=!3m1!1e3!4m5!3m4!1s0x2e68a3d92fef0d13:0x32fef13d99e37776!8m2!3d-7.3193253!4d107.7310494 

3. https://www.google.com/maps/place/Mt+Papandayan/@-7.3159174,107.7232849,920a,35y,203.63h/data=!3m1!1e3!4m5!3m4!1s0x2e68a3d92fef0d13:0x32fef13d99e37776!8m2!3d-7.3193253!4d107.7310494

4. https://www.google.com/maps/place/Mt+Papandayan/@-7.31173,107.7306715,1090a,35y,203.63h,38.8t/data=!3m1!1e3!4m5!3m4!1s0x2e68a3d92fef0d13:0x32fef13d99e37776!8m2!3d-7.3193253!4d107.7310494   

5. https://www.google.com/maps/place/Mt+Papandayan/@-7.3285419,107.7229035,2735a,35y,203.63h/data=!3m1!1e3!4m5!3m4!1s0x2e68a3d92fef0d13:0x32fef13d99e37776!8m2!3d-7.3193253!4d107.7310494

97 comments :

  1. Baca tulisan lina serasa baca fiksi mix feature yang bernas dan deskriptif. Semoga one day bisa jejakkan kaki di garut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aiih dipuji penulis nasional. Berasa terbang saya haha. Terima kasih Kak Ria sudah berkunjung

      Delete
  2. Kak Lina mah ga pernah gagal buat akuh iri dengki gitu, Duh Papandayan ama Cikuray ini tuh kaya adik adik bungsu gemes" gimana gitu. Cakep banget lagi tempatnya. Semoga segera berjodoh bisa muncak di sana deh, aminnn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Segerakan ke sana Mel. Bisa dapat 3 atau 4 gunung sekali jalan ke Garut mah.

      Delete
  3. Indah sekali pemandangan semua gunung ini. Melihat sunrise di puncak gunung itu pasti rasanya luar biasa. Takjub! Kebayang keindahannya. Saat hawa dingin di gunung, pasti sangat nikmat minum segelas teh hangat ya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tepat sekali Mbak Lianny. Menikmati teh itu kan bertingkat-tingkat levelnya. Nah minum teh di puncak gunung itu udah ada di level tinggi banget nikmatnya gak bisa dibandingkan dengan tempat manapun. Beda ama nikmatnya kalau ngeteh di cafe atau di rumah. Hahaha.

      Delete
  4. Mupeeeeng ... Pingin naik gunuuuung hahahah
    Bicara tentang kampung halaman memang pasti bakalan banyak cerita ya, mbak.
    Itu keren aja loh usia 10 tahuuuun udah naik gunung walaupun buat jambore. Aku sampai tua blm pernah hahaha hanya sekali doang, tapi bukiiiit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak Wid dari umur segitulah jatuh cinta sama gunung. Eh kalau ke Papandayan mah anak bayi aja bisa diajak kok. Gampil.

      Delete
  5. Duh, foto hutan mati itu seram sekali sih. Btw, ku membayangkan nikmatnya meneguk teh hangat di daerah pegunungan, cuaca dingin berpadu dengan panasnya teh....ah.....Asiknya mbak Lina selalu berpetualang.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seram tapi eksotis Mbak. Nggak ada dimanapun pemandangan kayak begini. Eh ini untung siang terang benderang. Kalau misty, berkabut, lebih mendebarkan suasananya.

      Delete
  6. Garut memang Swiss Van Java ya. Dilingkung gunung. Indah banget. Pengen deh dijelajahi semuanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sok atuh kalau pulang ke Tasik melipir heula ka Garut.

      Delete
    2. Rencana bulan depan mau ke Garut sih. Tapi ga Naik gunung. Mau kulineran ajah. Hahhahaa

      Delete
  7. Jadi kangen naik gunung baca ini, Mbak.
    Aku naik papandayan setelah ke ranu kumbolo. Secara track lebih dekat papandayan, hanya saja papandayan cukup gersang bikin lelaaaaahnya jadi berasa. Belum lagi kita sempet 'kehilangan arah' pas mau turun dari puncak. Jadi deh buka jalan.

    Meski capek, naik gunung selalu jadi candu.
    Duh tiba tiba ku rindu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah ini naik dari mana kok bisa kehilangan arah? Bukannya jalur di Papandayan itu jelas banget ya?

      Delete
  8. Aku lihat Garut tuh kalau jadi setting FTV gitu. Lihat betulan belum pernah. Ternyata gunung2nya banyak banget. Jadi kangen muncak deh. Pemandangannya indah banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sering muncul di FTV dari kampung-kampungnya sampai resort atau restorannya juga.

      Delete
  9. Waw nggak nyangka Garut punya banyak keindahan alam yang eksotis banget ya mbaa.. Keren!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak banyak dari laut sampai puncak gunung

      Delete
  10. Aku pengen banget ndaki mbk. Tp kayaknya nggak mungkin, aku punya asma akut yg kdg muncul karena alergi dingin. Hiks. Tp kalau lihat hasil jepretan para pendaki seperti dikau mbk, selalu ampuh mengobati rasa ingin yg blm kesampaian. Makasih yak. Cakep2 fotonya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak kalau Asma dan alergi dingin memang kurang cocok untuk dibawa mendaki. Lebih baik nggak usah karena kesehatan lebih berharga daripada kesenangan mendaki.

      Delete
  11. MasyaAllah pengen nangis...jadi pengen ke Garut, udah terasa ademnya walaupun cuman dari blog. Semoga suatu saat nanti bisa niis ka Papandayan atau ka Cikiray, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin.... Semoga nanti bisa main ke Papandayan dan Cikuray Mbak.

      Delete
  12. Semua gunungnya bagus mbak, padahal saya suka banget mendaki gunung. Tapi semenjak married belum pernah lagi hehe, apalagi pengen banget lihat pemandangan gunung Papandayan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ternyata suka mendaki juga ya Mbak Arda.

      Delete
  13. Indah banget pemandangan alam yang mengelilingi kota Garut ya mbak....jadi pengen berlibur kesana sambil refreshing. Apalagi saat pagi hari, buka jendela kamar sambil menghirup udara pegunungan...hmmm....rasanya bikin rileks tubuh ini....gunung Papandayan ini yang sejak dulu jadi impianku....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ke sanalah segera Mbak. Papandayan itu sudah jadi gunung Wisata sejak lama. Nggak susah kok untuk main ke sana.

      Delete
  14. Masya Allaaah... mendaki memang butuh fisik kuat, tak heran para pendaki gunung bersedia setiap hari latihan ketahanan fisik dengan berlari kadang. Ketika sudah sampai di puncak, lelah dan letih terbayar sudah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak. Mendaki gunung itu sungguh menguras tenaga bahkan bisa kehilangan berat badan secara drastis. Namun jika sudah sampai malah bikin balik lagi dan lagi.

      Delete
  15. Owalah Mbak Lina ternyata aslinya Garut ya. Aki blm pernah ke Garut mbak, baru tau di sana banyak pegunungan. Moga kapan2 bisa ke sana, apalagi skrng ada akses kereta juga dari Jakarta langsung ke sana ya kalau gk salah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal dekat nih dari Depok hehe. Sesekali ajak keluarga ke Garut Mbak. Worth banget deh.

      Delete
  16. Belum kesampean untuk bisa berada di gunung Papandayan. Kalau sekarang lebih suka bermain ke pantai yang ada di Garut. Karena belum mampu bawa anak berjalan naik gunung yang jauh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal kalau ke pantai-pantai yang ada di Garut Papandayan itu kelewatan loh Mbak. Dan ke sana itu justru bagus buat anak-anak untuk langsung mengamati fenomena alam yang terjadi. Hitung-hitung belajar IPA di lapangan. Nggak perlu mendaki kok kalau ke Papandayan. Cukup jalan kaki sedikit saja sudah sampai di area kawah-kawahnya.

      Delete
  17. Aku belum pernah eksplor Garut. Cuma lewat aja. Ini bisa jadi referensiku kalau lewat lagi. Alamnya bagus & penasaran di dalamnya ada apa aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Must visit Mbak. Paket lengkap kalau ke Garut itu. Dari tepi pantai sampai puncak gunung. Ada air terjun juga, situs budaya seperti candi, danau, agro wisata dan lainnya. Banyak deh.

      Delete
  18. Masyaa Allah saya kagum dengan teman-teman yang kuat mendaki gunung. Saya paling banter cuma kemah di kaki gunung saja Mbak. Mudah mudahan anak saya kelak kuat juga. Di sekolahnya kalau sdh SMA nanti ada program eksplorasi mendaki gunung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya suka mendaki malah gara-gara berkemah di sekitar Gunung Papandayan itu Mbak. Jadi ikutan Pramuka itu menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan kalau bagi anak sekecil saya waktu SD itu.

      Delete
  19. senang bgt liatnya Mba, banyak bgt Mba menjelajahi cantik dan lekuk tubuhnya gunung. mupeng abiss nih y gak pernah naik gunung :) . Sedih liat foto gunung yg abis kebakaran itu ya :( . Ajak2 Mba klo naik gunung lagi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah lama nih sekitar 2 tahun saya nggak naik gunung Mbak. Habis untuk acara traveling doang.

      Delete
  20. mba Lina sukses bikin aku ngiler..

    ReplyDelete
  21. Baca artikel ini ngga hanya mbak saja yang rindu dengan suasana pegunungan.. akupun rindu sangat ini.. semoga suatu hari nanti bisa kembali menikmati suasana pegunungan yang asri dan membuat fikiran menjadi relaks dan nyaman ya mbak.. garut emang punya banyak tempat indah

    ReplyDelete
  22. Keluarga saya sudah lama punya rencana ingin main ke Gunung Papandayan. Ingin menikmati keindahan di Tegal Alun yang bagus sekali pemadangannya. Semoga rencana kami bisa segera terwujud.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Segera wujudkan Mbak. Sebelum kesibukan dan lupa.

      Delete
  23. Mbaak, aku juga suka mengukur jarak terutama kalo mau ngetrip via perjalanan darat. Tapi dulu sih waktu jalan tol masih belum sepanjang sekarang. Duh aku galfok lihat keindahan gunung Cikuray, sejuk banget di puncak nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya saya juga kalau bepergian ke luar kota sukanya ngecek jarak Mbak.

      Delete
    2. Kayaknya kegiatan pramuka waktu masih SD menjadi tonggak jatuh cinta mba Lina pada gunung ya. Aku pun juga merasakan jatuh cinta pada gunung saat usia sekolah dasar. Sedihnya begitu menikah kesukaan jalan-jalan ke gunung berganti ke mall karena suami bukan anak gunung. Anak-anakku jadinya juga nggak begitu suka kegiatan alam bebas seperti panjat tebing kayak aku masih muda dulu

      Delete
  24. Mba, aku merinding membaca tulisan kerinduanmu pada gunung-gunung yang ada di sekitar Garut ini. Aku jadi ngebayangin diriku sendiri yang dulu hobi keluyuran naik turun gunung. Tau persis gimana rasanya merindu naik gunung. Sekarang udah susah mau pergi kayak dulu lagi. Selain fisik yang sudah tak terlatih lagi, kayaknya bos di rumah enggak mengijinkan aku bepergian model ekstrem gini lagi hihiii.. Moga-moga ntar kalau anak-anak udah pada dewasa, bisa minta temenin mereka untuk jalan-jalan lagi naik gunung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Niek bukannya sudah latihan fisik berenang dan lari ya? Yakin lah kuat bisa mendaki lagi. Laaah saya olahraga aja sudah jarang dilakukan.

      Delete
  25. ahhh jadi kangen naik gunung pas baca ini 😍 semoga bisa naik gunung lagi suatu hari nanti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah pernah naik gunung juga Mbak. Asyiiik ada kawan.

      Delete
  26. Belum pernah ke Garut saya Mbak. Pastinya kalau ke sana banyak kenangan yang bisa dipintal ya apalagi kalau bisa mengeksplor keindahan alamnya terutama di gunung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau Garut memang alamnya yang bagus Mbak. Sebenarnya gak perlu pembangunan fisik yang wow untuk Garut itu, tinggal mengolah yang ada saja.

      Delete
  27. Wahh membaca tulisan ini kami jadi rindu mendaki. Ada rasa yang tak biasa saat kaki menapaki setiap puncak gunung yang didaki.

    Kayaknya gunung-gunung di Garut memiliki pesonanya tersendiri ya mbak. Semoga suatu saat kelak kami bisa mampir kesana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wajib hukumnya nih buat kamu ke Garut. Di sana banyak tempat untuk dijelajahi.

      Delete
  28. rrrrrr....baca ini kok jd kangeeeen banget mendaki gunung yaaa.. Aku lahir dan tumbuh di daerah oegunungan juga mb lina. Yakni gunung Sindoro dan sumbing. Hebat euy mb Lina, masih bisa mendaki gitu... kalo aku...masih kuat ga ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duuuh ini dua gunung yang mengelilingi Wonosobo. Gagal terus saya mau mendaki ke sana. Sewaktu bawa anak saya rencana kami mendaki ke Sindoro tapi mendadak banting stir ke Prau biar mudah buat dia.

      Delete
  29. aku tertarik liat hutam mati... itu pohon-pohonnya mati dan tetep mati meski musim hujan tibakah? bagus ya... kayak di film2 dongeng

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini kalau berkabut suasananya lebih dramatis loh Mbak. Iya pohon-pohonnya tetap seperti itu baik musim hujan maupun musim kemarau. Ibarat kata hidup segan mati tak mau. 😅

      Delete
  30. Masya Allah, jamborenya ke Papandayan, lho. Keren bangettt. Mba saya merinding lihat foto-fotonya bagus banget yaah. Terutama foto gunung di balik gunung dan bayang gunung Cikuray yang megah banget itu. Ya Allah jadi pengin ngerasain yang namanya naik gunung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak dulu Jambore Pramuka Se-Kabupaten Garut di Bumi Perkemahan Gunung Jaya, masih di kawasan Gunung Papandayan juga.

      Delete
  31. Aku belum pernah berkunjung ke Garut. Tapi lewat tulisan mbak Lina, sungguh Garut menyimpan keindahannya. Subhananllah, nikmat sekali bisa memandang gunung-gunung di Garut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, mainlah ke Garut. Menurut saya nggak jauh beda pemandangannya sama di Bali. Dulu sempat heran kenapa orang-orang suka foto-foto sawah di Bali padahal di Garut banyak dan nggak jauh beda haha. Jadi kesimpulanku mungkin karena Garut nggak seterkenal Bali.

      Delete
  32. cantik yaaa mba Papandayan..aku sukaa banget dengan puisi mu. Sooo touchy..ada kerinduan yang mendalam di sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbakku. Iya Papandayan itu cakep pakai banget.

      Delete
  33. Saya dengar nama Garut pertama kali saat kelas MTS. Pak Guru saya yg ngasih tahu.

    Waktu itu beliau bilang, ada buku novel berjudul Garut. Akhirnya saya cari di perpus dan ketemu. Alhamdulillah.

    ReplyDelete
  34. Bagus banget viewnya.. Aku 2 kali naik gunung, pertama gunung rajegwesi. Kedua gunung bromo, ini bener2 jalan dari oarkiran sampai puncak. Kalo udah diatas, rasanya bersyukur banget ya mbk. Bisa lihat alam yang indah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah aku belum kenal dengan Gunung Rejegwesi ini Mbak. Auto googling.

      Delete
  35. niat banget sampai diitung beneran 😆 saya belum pernah sampai ke daerah ini sih, apalagi naik gunungnya. ternyata indah yaa pemandangan di sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wakakak... Soalnya gemes saya sama data di wikipedia yang melenceng jauh.

      Delete
  36. Masya Allah, tanah Garut memang luar biasa. Banyak gunung-gunung yang memanjakan mata pendaki.

    Wah, Mba Lina umur 10 tahun aja udah berani mendaki. Keren ueey...

    Gunung Guntur medannya berat juga ya, Mbak. Kayaknya bagi pemula jangan dulu ke situ deh. Aku membayangkan bagaimana perjalanannya, jalan nanjak terus, adanya semak-semak, ada pohon pinus satu tapi udah terbakar. Kudu ekstra sehat dan hati-hati nih kalau ke situ.

    ReplyDelete
  37. Jadi kangen deh main ke Garut, apalagi kalau bisa lihat gunung-gunung di Kabupaten Garut ya mbak. Walaupun aku lebih suka dengan suasana pantai tapi sejuknya pegunungan juga aku sangat suka.

    ReplyDelete
  38. Mendaki gunung ibarat candu. Benar sih mbak. Adikku demen banget naik gunung malah udah sampai di kaki gunung Everest (kaki gunungnya doang loh ya hehehe). Coba dia mau nulis di blog, udah keren banget kayaknyaaa.... Iya sih kalau udah hobi ga bisa ninggalinnya. Keindahan di puncak gunung dan mensyukuri ciptaan-Nya adalah berkah dan kepuasan tersendiri yg luar biasa.

    ReplyDelete
  39. Foto minum teh di puncak Cikuray, sungguh mencuri hati!

    Baidewei, subway,
    Aktivitas biasa kalau di bawa ke suasana dekat-dekat gunung berasa luar biasa ya, mba

    Jadi, kapan kita hiking bareng ya, mba?

    ReplyDelete
  40. masyaaallah mba, banyak sekali pengalamanmu traveling ke berbagai kota di dalam negeri ataupun luar negeri, apalagi yang model wisata alam gini

    ReplyDelete
  41. Tulisannya komplet banget teh jadi mupeng pengen ke Garut yang indah, sayang ngga jadi ikutan lomba ini, tulisanku masih kurang panjang pas deadline huhu

    ReplyDelete
  42. sebagai emak yg ga pernah naik gunung, baca postingan ini jadi terperangah karena takjub membayangkan keindahan yg sesungguhnya. makasi postingan indahnya ya mba lina

    ReplyDelete
  43. Pas aku ingat ke Garut itu, dinginnya masyaAllah. Apalagi kalau naik naik ke puncak gunung gini mbak xD.
    Aku nyerah dari dulu masalah pergunungan walau cakep-cakep naik gunung

    ReplyDelete
  44. Oh jadi Gunung Papandayan itu masih aktif ya mbak?
    Keren banget kecanduan naik gunung mbak, kyknya aku nyerah kalau mendaki2 gtu hehe :D
    Tapi emang kebahagiaan buat pendaki ya begitu nyampai puncak melihat pemandangan indah, kyk lukisan :D

    ReplyDelete
  45. Masyaa Allah cantik banget gunung-gunung di Garut. Baca artikel ini berasa kayak nonton film. Kalau lihat gunung kok mendadak jadi romantis ya mbak. Kalimat-kalimatnya mendayu.

    ReplyDelete
  46. Ingat Jaman kuliah mba akunya klo inget haiking k Gunung to Blum sih explore Gunung2 d garut indah bngt ya aplg dulu ngerasa bngt tuh pas sholat shubuh d puncak

    ReplyDelete
  47. tiap liat gunung, aku suka. baca tulisan ini seolah ikutan naik sana. padahal di kenyataan, seringnya kubilang, naik gunung tunggu di surga aja (aamiin). klo di dunia pasti capek!

    ReplyDelete
  48. Aku suka banget foto Hutan Mati. Mana kontras pula dng langit biru. Makasih ya, aku dapat ilmu baru mengukur dari peta google.
    Aku blm pernah naik gunung, seneng baca kisah masing² gunung. Teh Lina menuliskannya dalem banget...

    ReplyDelete
  49. Gunung segitiga piramida ada di Garut kan kak? Wah brrti memang banyak yah gunung di sana, jadi pengen ke Garut nih eksplor gunungnya

    ReplyDelete
  50. Wah, kalau saya udah nggak sanggup lagi mendaki, pilih ke pantai aja daripada mendaki... kebetulan saya belum pernah sampai garut dan belum menikmati pegunungannya, sayang sekali

    ReplyDelete
  51. Waah.. Bagus bagus banget pemandangannya ya ampun.. Jadi pengen banget ngelilingin juga

    ReplyDelete
  52. Salut sama teh Lina! Mau dan bisa ngukur sendiri. Dari ketiga gunung di atas, aku baru ke Papandayan sama Cikuray. Bener, jalur Cikuray itu keras karena terus menanjak tajam dan sedikit sekali bonus. Namun meski menanjak terjal, jalurnya menurutku aman, jadi memang harus mempersiapkan stamina. Di puncak Cikuray yang sempit dan (saat itu) berdebu itulah aku mendapatkan samudera awan pertamaku.

    Puisinya cakep, teh. Paling suka bait 2 dan 3 yang rimanya dapet banget.

    Belum pernah ke Gunung Guntur, ternyata ada lautan kabut juga ya.

    ReplyDelete
  53. ke Garut sejauh ini baru menikamti resort dan seni kriyanya..
    melihat gunung2 di Garut secantik ini jadi pengen ikut jejak teh Lina naik ke Papandayan

    ReplyDelete
  54. saya belum pernah ke Garut tapi baca tulisan mbak Lina jadi tahu banyak keindahan Garut yang terkenal dengan pemandangan alamnya.

    ReplyDelete
  55. Suka dengan pemilihan bahasanya yang seolah berayun lembut.
    Rima pada puisinya pun masuk semua :)


    Meskipun bukan orang Garut, tapi saya sudha sah dapat sertifikat PaGuCi. Kalau ditanya pengalaman paling berkesan, saya akan menjawab saat mendaki Cikuray. Selain jalurnya yang kejam, waktu itu saya ditemani juga oleh hujan yang deras, bahkan rombongan saya harus menolong rombongan lain yang beberapa anggotanya terkena hipotermia.

    Terima kasihbya mbak untuk cerita gunungnya. Saya jadi ikut bernostalgia :)

    ReplyDelete
  56. Itu Hutan Mati bisa jadi eksotis banget buat jadi tempat hunting foto nih
    Sayangnya bakalan riweuh kalau bawa balita ke sana hehe

    ReplyDelete
  57. Belum pernah sampai naim gunung tapi sering lihat pemandangan gunung diselimuti awan plus kadang ads pelangi. Indah sekali memang ciptaan Tuhan ya Mba, banyak merenung memang kalo udah main ke alam. Semoga suatu hari nanti bisa naik Gunung juga deh, aamiin.

    ReplyDelete
  58. duhhh,,, kuingin rasanya mendaki gunung lagi,, sudah lama tak mendaki.. pengen juga bisa mendaki di tanah jawa.

    ReplyDelete
  59. Gunung Papandayan emang keren bgt ya kak, saya pernah nonton di akunnya dzawin, semoga kelak bisa kesana.. Amiin

    ReplyDelete
  60. naik gunung setinggi gunung papandayan aku belum pernah. Padahal ya pengen kaya mba lina gitu bisa lihat sunset dan sunrise, mengagumi ciptaan-Nya yang begitu indah dari atas gunung

    ReplyDelete

Halaman ini dimoderasi untuk mengurangi spam yang masuk. Terima kasih sudah meninggalkan komen di sini.

My Instagram

Made with by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates