Kamis, 18 April 2013

Tim Kemping Ceria di Pulau Lampu Batam

Sabtu pagi itu tanggal 6 April 2013 hujan baru saja reda. Langit masih memutih menyisakan awan-awan yang saling menumpuk bertindihan menutupi sinar mentari. Saya sempat was-was apakah perjalanan yang akan dilalui hari ini akan diiringi hujan seperti yang terjadi subuh tadi, atau cukup teduh dipayungi mendungnya awan. Dalam hati berharap ada limpahan cahaya matahari sehingga perjalanan kali ini bisa dilalui dengan menikmati perpaduan biru antara langit dan laut. Ah, Semoga! Cemunguuud :D

Pelantar Pelabuhan Pulau Karas
Berawal dari postingan foto Pelantar Pulau Karas di jejaring sosial Face Book, banyak teman yang merespon dan berminat untuk pergi ke sana. Saya pun teringat obrolan dengan dokter Anggit, salah seorang dokter magang di Pulau Karas yang bilang kalau sebenarnya nanggung dan hanya capek di jalan saja jika berkunjung ke Karas bolak-balik dalam sehari. Jadi mikir ada baiknya kemping nih. 


What? Kemping? Huh... malah degdegan. Mengingat kata kemping, mendadak adrenalin mengalir deras memicu frekuensi detak jantung. Wohooo... tak disangka rupanya Saya ini sudah kena virus Adrenalin Junkie. Sejak jaman ingusan sudah menyukai petualangan-petualangan alam luar nan liar, menyenangi kegiatan-kegiatan  outdoor yang bersifat adventure yang ujung-ujungnya memompa berderas-deras hormon endorfin ke seluruh jaringan tubuh. Duuh bahagianya. 

Jadi ketika thread memanjang dan mulai ramai membicarakan Pulau Karas, muncullah ide untuk kemping di sana. Sebuah pesan dari Mbak Emma senior di FPTI Batam bilang jangan sampai kempingnya mengganggu kenyamanan masyarakat Pulau Karas. Naaah kalau begitu bagaimana kalau kempingnya di Pulau Lampu saja? Soalnya di sana itu pulaunya kan kosong!


Pulau Lampu
Pulau Lampu
Dimanakah Pulau Lampu itu? Biasanya Saya selalu jawab begini. Tanya saja sama Mbah google. Namun untuk pertanyaan kali ini Saya jamin deh si Mbah gak bakalan tau kalaupun tau si Mbah bakalan ngasih jawaban yang salah. Kita akan dibawanya ke Pulau Lampu yang ada di Lombok, Bangka atau bahkan di Sidoarjo. Mbah, Mbah, mau tanya Pulau Lampu yang di Batam Mbah sebelah mana ya? Xixixi...


Yakin deh gak tau walaupun, meskipun, biarpun, Si Mbah lahir jauuuuh... sebelum kita dibrojolin emak kita ke dunia. Lah kok bisa? Itu dia asyiknya berpetualang di Kepulauan Riau, pulau-pulaunya belum banyak dikenal masyarakat luas. Belum tersentuh dunia luar, dan suasananya masih alami semula jadi. Kita serasa dibawa kembali ke zaman baheula, zaman nenek moyang kita berpetualang mengarungi ganasnya lautan. *Jiaah jadi pengen menyanyikan lagu nenek moyangku seorang pelaut :D

Mari kita urai pertanyaan dimana Pulau Lampu ini dengan pelan-pelan. Pulau Lampu adalah sebuah Pulau kosong yang berada tepat di ujung tenggara Pulau Karas. Kira-kira 10 menit mengendarai pompong (perahu motor) dari pelabuhan Pulau Karas. Saya tahu pulau ini pun dari obrolan dengan  Pak Karim, seorang penduduk Pulau Langkang. Dimana pula itu Pulau Langkang? Entahlah. Jangan tanya saya lagi. Jujur Saya juga belum ke sana dan yakin haqqul yakin kalau si Mbah Google juga belum tau. *Horeee...plan for next trip. Cess...nyalain kompor! 

Karena perjalanan kali ini buat having fun saja, sekedar memperkenalkan  dunia pulau, dunia pesisir, beserta ekosistemnya kepada Chila, anak saya yang masih balita, jadinya terfikirkan buat ngajak lebih ramai lagi teman-teman untuk ikut. Terutama orang-orang yang komen di thread Face book saya. Yang paling seneng banget sih ketika teman-teman dari Kelompok pecinta alam Cumfire yang bermarkas di Kawasan Industri Muka Kuning Batam banyak yang ikut. Horee...sekalian bisa reunian nih. 

Alhamdulillah ternyata ada sekitar 19 orang positif ikut termasuk dua balita. Namun pada detik-detik terakhir beberapa orang mengundurkan diri karena tidak diberi cuti oleh atasannya. *Haiyaaa...kesian...kesian..kesian. Begitu juga Dian salah satu teman yang tukang ngebolang ke pulau-pulau yang rencananya akan berangkat menyusul siang hari dengan suami serta anaknya batal ikut gegara hujan mendadak turun deras di Batam. *Hikss. Kalau ini memang benar waktu yang tidak mengizinkan ya Dee.

Mercu Suar Pulau Lampu
Dan, jadilah hari itu Kami berangkat hanya ber-15 orang termasuk Krucil saya, Chila (4 tahun). Berangkat dengan senang dan gembira ke Pulau Lampu. Pulau yang bahkan sejak tahun 1886 sudah dikenal oleh Belanda sebagai penanda kapal-kapal. (Waduh nenek saya saja belum lahir :D) Terbukti dengan adanya sebuah mercu suar yang berplakat Bahasa Belanda dan bertuliskan tahun 1886 Masehi. Waaksss... sudah 14 tahun tinggal di Batam sedikit pun saya belum pernah mendengar tentang ini. *What's wrong? Mercu suar ini pun seperti tenggelam ke dalam zaman, tak pernah sedikit pun muncul di media-media lokal Kota Batam dan sekitarnya. Atau apa saya saja yang kuper ya nggak pernah baca koran? *Tepok jidat berkali-kali. Qiqiqi...

Sebelum tulisannya dilanjutkan panjang lebar, ada baiknya saya perkenalkan teman-teman seperjuangan yang selama dua hari berbagi suka dan duka dalam perjalanan (piknik) kali ini. Dengan bangga saya perkenalkan kepada rekan-rekan semua inilah mereka: *Jreng...jreng..jreng... (diiringi sound track film Si Unyil) :D 


Bang Ical, My hubby, suami tercinta. Sejak awal rencana ini mengemuka, ia berencana untuk tidak ikut, namun ternyata berubah di dua hari terakhir menjelang keberangkatan. Mungkin kasihan dan tidak tega melepas anak dan istrinya keluyuran ke pulau kosong bareng orang lain.




Chila, My Lovely Daughter, My Precious Princess. Kemping kali ini adalah kemping kedua kalinya. Sebelumnya Chila pernah diajak kemping di tepi hutan Dam Sei Ladi. Chila sangat menyukai laut dan pantai walau pada kenyataannya agak takut sama ombak. Belum bisa berenang, suka main pasir, dan takut sama ubur-ubur.


Doedy Taufan.  Naah... ini dia Sang Whistle Blower, penabuh genderang perang, sang korlap merangkap ketua rombongan tanpa ditunjuk, tanpa upacara pengukuhan. Low Profile, rajin sholat, gemar menabung #eh.. :D dan katanya lagi nyari jodoh sesama anak Cumfire #eeaa  Hohoho.. Siapa yang mau daftar?

Gozi Abdullah. Gayanya yang nyentrik membuat Saya teringatkepada Kapten Jack Sparrow  dalam film Pirate from Carribean. Kocak, humoris, dan katanya ia sedang menanti sesuatu. Ap..paan tuh? *Ting! *Ngedipin Sebelah Mata Pakai Gaya Jaja Miharja.  


Riki, baru ketemu saat kemping ini aja. Tapi gayanya yang cair membuat kebekuan komunikasi saya dengannya mengalir seperti kopi hangat. Awalnya pahit namun berakhir manis. *Ceilee... Dialah sang pemanjat pohon kelapa yang ulung. Tak kurang dari 10 buah kelapa dia petik sendiri. Wooow... koprol.



Doni, Body-nya yang subur dan ndut membuat saya ngebayangin kalau pas punya anak berpipi tembem seperti dia. Duh gemes bakal saya cubitin tiap hari :D  *Dipentung Doni deh :D sekarang Doni aktif di FPTI Batam.

Walid, baru pertama kali ketemu juga, agak cuek, tipe cowok cool and calm, seringnya ngelihat dia ngalungin kamera DSLRnya, dan bersantai pakai sarung. Hampir sepanjang perjalanan Walidlah yang nggak banyak komunikasi dengan Saya. Laah gimana mau komunikasi banyak sama dia, sementara yg lain masih ngobrol ngalor-ngidul, doi malah anteng bobo pules di tenda. Padahal petir udah jedar-jeder di udara. So that's why I can't describe himself clearly.


Tri Yulianti, wajahnya imut dan “Cantik” apalagi dia berjilbab, tambah kelihatan aura kecantiknya. Upss...jangan memerah gitu dong Tri. Sering ketemu dan melihatnya kalau ada even-even Cumfire. Kenal orangnya tapi swear gak tau namanya. *Plaaak...ditampar Tri. 



Kus Hartini, beberapa kali ketemu doi saat ada event di Cumfire juga. Sama kayak dengan Tri,  kenal orangnya tapi nggak tau nama. *Plaaak...  Jiah pipi gue merah deh kanan kiri ditamparin. Kulitnya hitam manis semanis saya. Uhuk. Mendadak batuk dahak :D




Lyatemannya Kus orangnya kalem dan imut. Paling pendiam dan sepertinya nggak pernah ngobrol deh sama saya. Tapi Kata Doedy, saya mirip sama dia kalau urusan umur. Asyiik berarti masih dianggap muda menggoda. Hag hag hag. #PecahinKaca. 



Pitri, very humble, sang bendahara acara merangkap tukang belanja dan juru masak. Dengan olahan tangannyalah maka ia telah menyelamatkan kami semua dari sindrom K3 alias Kelaparan, Kelaparan dan Kelaparan. Hehe.  Pitri dan konconya membawakan kami masakan ala dormitory Muka Kuning. Yummy...tepuk tangan prok..prok..prok.. *Menyematkan bros ke Pitri.

Dinda, Anggota Cumfire Angkatan tahun 2012 baru ketemu saat itu aja di lokasi. Badannya kekar berisi cukup bisa diandalkan menjadi bodyguard Chila saat Bundanya ngelayap kemana-mana. Xixixi...*Plaaak! Idihh kenapa sih gue ditampar-tamparin mulu.
Selvi, Anggota Cumfire Angkatan 2012, sering ketuker-tuker terus sama Winda, padahal Saya aja gak tau yang mana Winda. Untung dia gak protes. Dan yang paling nempel diingatan sodara-sodara Selvi ini hampir nyangkut tertinggal di pohon mangga sewaktu naik atap bis damri. Untungnya ada Riki sang juru selamat sehingga tak jadilah ia tertinggal di pohon mangga. Hanya saja jaketnya itu jadi sobek. Kasihan kaaan? *Duh ngebayangi Selvi ngegantung di pohon mangga... Hag hag hag... bikin ngakak ketawa guling-guling 7 meter. *Plaaak...ditampar Selvi. "Teteh nih embeeeer, udah dibilang Selvi malu, jangan bilang-bilang!"

Mukti, Anggota Cumfire Angkatan tahun 2012 juga, paling sering dicengin oleh teman-temannya. Duh sampe desperate pengen nyemplung ke laut. Ah enggak ding. Tapi e tapi sepertinya Mukti lagi deket si someone deh. Cihuy ciapa ceeeh? Ciyus? Miapah? Hehe...Ciyus lagi ciyus lagi. 

Naah..itulah pasukan pom-pom yang rame dan kocak. Perpaduan berbagai ras dan keturunan. Ada orang Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa, Sunda, Sumbawa, dll.  Eit karena tulisan di blog gak boleh panjang-panjang jadi segitu dulu deh catper part 1, nanti disambung lagi. Mudah-mudahan bisa melanjutkan secepatnya di lain waktu.  Dadah!

Ini Kisah selanjutnya tentang Catatan Perjalanan Kemping di Pulau Lampu Batam.

6 komentar:

  1. huaaaaa teteeeeehh...!!!
    saya gak jadi ikut kemareeen. padahal udah mupeng bgt ngebayangin tidur di dalam tenda lagi..

    bulan mei ada rencana kemping lagi tak?
    mas anang ada cuti dua minggu tuuh...
    *lagipengenkempingakut!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya rencananya ada lagi. ih iya kayak kena apa gitu Saya juga ngebet kemping lagi. Habis seru lihat Chila serasa menemukan dunianya. Anak2 memang harus didekatkan dengan alam ya biar anteng :D Yang dekat-dekat aja ke Mubut yuk Dee. Cuma di Sembulang nyebrang 5 menit pun.

      Hapus
    2. hayuk atuh.. kapan??
      mas Anang off dari tanggal 1-12 Mei.
      eh, kita belum follow-followan di blogspot ya teh?
      ini rumah baru Dian setealh digusur dari MP http://www.adventurose.com

      Hapus
    3. Dee gimana Lala sudah sembuh belum? Pengennya tanggal 25 ini ke Pulau Mubut Darat. Kayaknya hujan udah mulai berkurang deh. Langit juga dah banyak birunya. Ayahnya Chila dah setuju. Doooh Sayang kalau gak jd berangkat.

      Hapus
  2. Saya Baru Tau ada Pulau Lampu mbak #gagaljadianakBatam,
    mau donk mbak di ajakin berpetualang?? hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha...kesian kesian kesian! di Batam ini ada sekitar 370an Pulau loh Dian. Ayo kapan2 saya ajak deh island hopping :D

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...