Wednesday, September 30, 2015

Resto Sunda untuk Sepotong Kenangan yang Tersisa

Resto Sunda Kepri Mall
Sebagai orang sunda yang tinggal di perantauan, yang hanya bisa pulang kampung dua bahkan tiga tahun sekali, saya kerap merindukan masakan-masakan khas sunda yang simpel, sehat dan sederhana seperti yang dikenal masyarakat selama ini. Saya merindukan masakan yang sama yang kerap dimasak oleh ibu, nenek, uwa, dan anggota keluarga besar lainnya di kampung halaman di Garut, Jawa Barat.

Monday, September 28, 2015

Menikmati Hidangan Dimsum di Restoran May Star Cuisine Nagoya Hill Batam

Me Time
Pagi menjelang siang itu rasanya ngebet banget pengen makan dimsum. Kebetulan lagi ada perlu ke kantor Indosat di sebrang Mal Nagoya Hill. Nah saat melintasi eskalator mal di kanan kirinya terdapat spanduk promo sebuah restoran yang menyajikan dimsum. Gak berfikir lama, langsung deh cabut ke sana. Nama restorannya May Star Cuisine lokasinya di shopping mal lantai dua dekat dengan studio 21.

Restoran ini tempatnya rapi, bersih, dan luas banget. Biasanya kalau di mal, ukuran restoran itu rata-rata seuprit ya, soalnya menghemat tempat, tapi di restoran ini malah kebalikannya. Luas, rapi dan bersih. Udah disebutin diulangi lagi hehe. Mengusung konsep chinese food, May star Cuisine menyajikan berbagai jenis hidangan masakan Tiongkok salah satunya dimsum.

May Star Cuisine Restaurant

Karena datang jam sebelasan, masih terlalu awal dan belum terlalu ramai oleh para tamu yang akan makan siang, jadi baru sedikit orang yang datang. Ini menguntungkan bagi saya yang saat itu pengen sedikit menyepi sambil menyelesaikan baca buku Into Thin Air. Kayaknya sehabis nonton film Everest banyak sekali scene yang nggak ada di bukunya. Malah pemeran utama di film itu juga bukan si John Krakauer tokoh si aku di buku into thin air melainkan Robb Hall. Nah karena mau bikin review fimnya jadilah mulai menelisik bukunya kembali. 

Resepsionis

Suasana May Star Cuisine Restaurant

Karena tidak ada tulisan halal di spanduk, dan beberapa iklan yang saya baca di koran tentang restoran ini, hanya bertuliskan No Pork No Lard (Tidak ada daging babi, dan tidak ada lemak babi), jadi saat mendekati resepsionis saya bertanya terlebih dahulu untuk meyakinkan apakah masakan di restoran ini halal tidak. Dengan ramah mbak-mbak resepsionis menjawab halal. Alhamdulillah. Saya pun langsung masuk.

Suasana restoran masih lengang. Di pintu masuk terdapat standing banner dan deretan kue bulan. Seorang waiter kemudian mengambilkan daftar menu dan menghantarkannya ke meja saya. Setelah melihat-lihat menu, saya memesan steamed sio mai with fragrant mushroom dan steamed scallop dumpling with tobiko (Pangsit skalop dengan tobiko) minumnya saya pesan jus lemon.  

Setelah menunggu beberapa menit datanglah dimsum pesanan yang ditunggu-tunggu. Makan hangat-hangat sambil ngelihatin aktifitas para chef yang sedang sibuk memasak di bagian belakang. Menurut berita media sih, Chef di sini kabarnya berasal dari Hongkong, Singapura, dan Malaysia. Jadi cita rasa Chinese-nya bisa lebih terjamin.

Kesibukan para Chef di Bagian Pantry

Jika disuruh milih mana yang lebih enak dari kedua dimsum yang saya makan ini pasti bingung. Dua-duanya enak banget. Jamur, kerang, dan siomaynya berasa banget. Lembut di lidah dan saat dikunyah pun kenyal dan langsung meleleh di mulut. Apalagi makannya hangat-hangat gitu. Cepet banget deh habisnya haha. Doyan apa laper ya? Mungkin porsi saya harus nambah. Biar kurus begini kalau dikasih dimsum berapa kukusan bambu pun tetap saja bakal ludes. Apalagi sekarang sedang membiasakan makan masakan sehat yang tidak digoreng. Tambah dah tuh.

May Star Cuisine Batam
Steamed Sio Mai with Fragrant Mushroom
May Star Cuisine Batam
Steamed Scallop Dumpling with Tobiko
Selain itu tobikonya berasa gurih banget. Apa itu tobiko? Tobiko adalah telur ikan terbang berwarna oranye bening dan bentuknya bulat-bulat kecil. Biasanya dipakai buat hidangan sushi di Jepang. Nah kali ini ditaburkan di atas dimsumnya. Ikan terbangnya mirip kayak di film Life of Pi itu kali ya.

Selain kedua macam dimsum tadi banyak lagi menu dimsum dengan berbagai cita rasa lainnya seperti steamed shrimp dumpling (rasa udang), steamed chicken cha siew pao (rasa ayam), bahkan ada juga glutinous rice yang dibungkus daun bunga teratai. Sekali-kali saya harus mencoba rasa yang ini deh. Ntar nunggu traktiran teman yang ulang tahun haha.

Selain dimsum menu unggulan lainnya adalah bebek peking lada hitam, asparagus cumi, berbagai hidangan ikan gurame dan lebih dari seratus sajian menu lainnya. Soal harga sih menunya mulai dari harga Rp 19.000 ke atas. Masih kompetitif dengan restoran lainnya.

Restoran May Star Cuisine yang di Mal Nagoya Hill ini sudah dibuka semenjak 5 Mei 2015 lalu. Saya sudah sering lihat iklannya wara-wiri di Batam Pos, dan memang sudah niat sesekali mau mampir mencoba dimsum di sana. Baru sempatnya sekarang. 

Restoran ini merupakan franchise cabang dari May Star Cuisine yang ada di Jakarta dan sudah ada di kota-kota lainnya seperti Bandung, Palembang, Makasar, Surabaya dan Bali.  

Jadi buat yang tinggal di Batam kalau shopping ke Nagoya Hill sekalian mampir nikmatin dimsum bareng keluarga  di restoran ini, katanya sih ini dimsum terenak di Batam. Well, let's see, saya perlu nyobain dimsum di tempat lain dulu nih buat bandingin haha. Ada yang mau nraktir saya?


Restoran May Star Cuisine
Shopping Mal Nagoya Hill  lantai 2 Depan Studio 21
Jalan Imam Bonjol Batam 29432
Telpon: 0778 - 7430405
Buka Setiap hari jam 10.00 – 22.00 WIB

Khusus Hari Minggu setiap jam 08.00 – 22.00 


Saturday, September 26, 2015

Manisan Carica Oleh-Oleh Khas dari Dieng


Buah Carica Tumbuh Subur di Dieng dan Sekitarnya
Saat pertama kali mendengar nama carica ingatan saya langsung menghubungkannya dengan sebuah lagu daerah yang berjudul “Anak Kambing Saya” dari Nusa Tenggara Timur. Di dalam liriknya ada menyinggung-nyinggung carica eh cacamarica :D  Sebelum benar-benar mengetahui carica seperti apa, dulu saya mengira antara keduanya pasti nggak jauh beda.  Masih ingat petikan liriknya nggak? Ini nih.



                                    Anak Kambing Saya

                                    Mana dimana, anak kambing saya
                                    Anak kambing tuan ada di pohon waru
                                    Mana dimana jantung hati saya
                                    Jantung hati tuan ada di kampung baru

                                    Caca marica hey hey
                                    Caca marica hey hey
                                    Caca marica ada di kampung baru

                                    Caca marica hey hey
                                    Caca marica hey hey
                                    Caca marica ada di kampung baru

Haha…ternyata hubungan perkerabatan keduanya, antara carica dan caca marica sangat jauh, jauh sekali. Carica adalah sejenis tumbuhan endemik yang hanya bisa tumbuh di kawasan Dataran Tinggi Dieng (Dieng plateu) saja. Dimana desa-desa yang termasuk ke dalamnya merupakan desa dengan pemukiman tertinggi di Pulau Jawa. Kalau caca marica kayaknya sih seorang gadis yang lagi dicari-cari tuan yang punya kambing itu :D

Pohon Carica Bercabang

Karena tumbuhan endemik, carica tumbuh unik. Batang, daun, dan buahnya sekilas mirip dengan pepaya. Bedanya, pohon carica tumbuh bercabang banyak, sedangkan pepaya tumbuh lurus saja tidak bercabang-cabang. Buah carica ukurannya sangat kecil bila dibandingkan pepaya. Kondisi biji-biji di dalam daging buah sangat mirip seperti konyal atau markisa. Biji-bijinya lengket oleh semacam lem yang kental yang mengikat biji-biji menjadi gumpalan. Dan yang paling membedakan adalah soal rasa. Saat dimakan daging buah carica rasanya asam.

Pohon Carica di Sepanjang Jalan Menuju Patak Banteng

Saat tiba di kawasan Patak Banteng  Wonosobo, saya dapat mengenali dengan baik pohon carica yang tumbuh subur di sepanjang jalan masuk menuju pemukiman penduduk. Patak Banteng ini adalah desa yang menjadi titik pendakian menuju Gunung Prau di kawasan Wonosobo dan Temanggung. Namun karena saat itu saya dan keluarga baru akan memulai pendakian, maka kami tidak berniat membelinya terlebih dahulu. Nanti saja beli saat turun di kawasan Dieng Plateu.

Keesokan harinya, saat turun ke kawasan Dieng, saya membeli manisan carica di sebuah warung dekat terminal. Satu kotaknya seharga Rp 20.000 isi 6. Sedangkan yang isi 12 seharga Rp. 35.000 lebih murah dibanding yang isi 6. Karena beli cukup banyak si ibu warung memberi bonus buahnya langsung sebanyak 3 buah. Karena kami masih menginap dan akan kemping di kaki gunung Sikunir, manisan carica kami titip dulu di warungnya karena kalau dibawa-bawa lumayan juga, berat euy.

Manisan Carica yang Dijual Penduduk Dieng 

Tapi, buah caricanya saya bawa ke tempat kemping karena penasaran seperti apa. Saat duduk santai di tenda saya pun mengupas dan mengamati begitu bayak keunikan pada buah carica ini. Buah yang secara fisik mempunyai kemiripan dengan berbagai buah lainnya. Terutama paduan antara pepaya dan markisa. Saat diicip, weeew…aseeeem. Carica pun teronggok begitu saja. Gak kuat makannya. Asemnya beda dengan asem mangga atau kedondong. Kalau asem yang itu sih doyan. Tapi kalau asemnya carica rada-rada aneh.

Beda dengan buahnya, manisan carica dalam kemasan yang sudah diolah rasanya manis. Yaiyalah namanya juga manisan ya harus manis. Kalau manisan nggak manis namanya bohong :D. Untuk manisannya jelas saya suka karena manis dan enak. Cocok dijadikan oleh-oleh untuk bos, rekan kerja, dan tetangga. 

Pohon Carica Tumbuh Dimana-mana, bahkan Dijadikan Pagar Kebun atau Pembatas

Restoran Sea Food Golden Prawn Bengkong, Batam

Restoran Golden Prawn, Bengkong, Batam
Suara gemericik air menyambut kedatangan rombongan kami di Restoran Sea Food Golden Prawn Bengkong,  Batam. Saat itu saya dan beberapa teman Batam Blogger serta media, mendapat undangan untuk menghadiri sebuah event layanan terbaru dari sebuah provider telekomunikasi nasional.

Sesaat setelah beberapa langkah dari gerbang masuk, pengunjung akan langsung menyaksikan makhluk-makhluk laut imut yang akan disantapnya nanti masih segar berkeliaran di kolam-kolam penampungan.

Pada sisi kiri jalan masuk terdapat kolam udang dengan tembok rendah sehingga anak-anak setinggi balita pun dapat menyaksikan dan menyentuh makhluk crustacea ini dengan bebas. Lebih ke kiri lagi setelah kolam udang,  terdapat kolam kepiting, ikan, kapis, kerang, gonggong, berbagai jenis ikan dan lainnya. Di sebelah kanan jalan masuk terdapat  toilet dan mushola. Antara mushola laki-laki dan perempuan terpisah di ruangan tersendiri.

Kolam Udang
Sesaat setelah kolam udang, terpampang sebuah papan tulis yang  mencantumkan harga menu dari berbagai jenis hidangan laut yang ada di sana. Agak lebih ke dalam lagi terdapat ruang-ruang makan yang luas yang berada di atas permukaan laut dengan sisi kanan kiri bangunan terbuka. Hanya berpagarkan kayu setengah badan saja. Di beberapa tepi pagar terdapat wastafel untuk mencuci tangan.

Daftar Menu dan Harga

Kami ternyata tidak dibawa ke ruang-ruang makan tersebut, namun ke sebuah ruangan VIP yang tertutup karena akan berdiskusi dan mendengarkan sambutan-sambutan yang akan disampaikan oleh penyelenggara.

Alhamdulillah tiap kali makan di sini gratis terus. Nggak pernah bayar sendiri :D Emang rejeki emak-emak solehah kali ya makan di restoran mahal tapi gratis. Tapi kalau diingat-ingat kayaknya nggak di Golden Prawn saja saya sering makan gratis. Rata-rata hampir setiap makan di restoran sea food mana pun selalu gratis. Iya, namanya rejeki itu nggak selalu dalam bentuk uang kan ya. Traktiran dan acara-acara gini juga itu rejeki banget.

Batam Blogger
Setelah acara  sambutan-sambutan selesai, kini waktunya menyantap masakan sea food yang sudah dihidangkan di buffet. Yes, siap menampung. Perut pun sudah dari tadi keroncongan. Menunya? Waah seluruhnya kesukaan saya banget. Udang goreng, sotong goreng tepung, dan kepiting bumbu. Selain itu ada juga capcay. Yeaaay...serbuuuu.

Soal rasa, jangan ditanya lagi. Restoran Golden Prawn telah lama malang melintang dalam bisnis kuliner satu ini, tentu para juru masaknya sudah sangat berpengalaman dan lihai dalam mengolah berbagai jenis hidangan laut. 

Sotong tepung namun dibumbui asam pedas


Kepiting Bumbu
Meskipun makan kepiting  butuh perjuangan ekstra saat membuka cangkangnya, tetap saja tak mengurangi minat saya terhadap makanan lezat yang satu ini. Jadi tetap mencoba memakannya.

Selesai makan kami segera menuju mushola di dekat pintu masuk untuk sholat maghrib. Dan acara pun segera disudahi sesaat para blogger berkumpul sepulangnya dari mushola.

Restoran Sea Food Golden Prawn 555,
Jalan Bengkong Laut Batam
Buka dari hingga pukul 23.00 WIB

Friday, September 25, 2015

Indahnya Pulau Dedap dengan Gradasi Air Laut yang Hijau Tosca

Air Lautnya Hijau Tosca
Pulau Dedap adalah sebuah anomali dari ratusan pulau yang ada di wilayah Batam. Warna air laut yang bergradasi antara biru, hitam, dan hijau tosca, sangat membuat penasaran siapa pun yang datang berkunjung ke sana. Lantas bertanya-tanya apa hal yang menyebabkan perubahan dan perbedaan warna pada air laut tersebut.

Keunikan Pulau Dedap lainnya adalah terletak pada hamparan pasir putih yang sangat luas. Saking luasnya, pasir putih tersebut masih tampak memanjang ratusan meter hingga di bawah permukaan air laut. Untuk pasir di pantainya sendiri tampak tidak terlalu luas, masih kalah jauh jika dibandingkan dengan luas pasir yang terendam laut. 

Saya dan rekan-rekan baru saja tiba di Pulau Dedap. Dan langsung terpukau dengan gradasi air laut yang indah meskipun langit tampak memutih. Air laut di perairan Pulau Dedap ini tetap bergradasi dengan warna hijau tosca yang cantik.

Pulau Dedap

Kapal Tetangga

Gradasi Air Lautnya Keren

Satu per satu peserta snorkeling menceburkan diri ke hangatnya air laut. Saya tetap di kapal menjaga Chila yang sudah mulai resah. Resah karena bayangan terindahnya adalah bermain pasir di pantai, sementara kapal kami berhenti dan melepas jangkar di tengah laut. Sedangkan pantai masih ratusan meter jaraknya. Kapal pun tak mungkin merapat karena akan kandas. Pasir putih di bawah air yang dangkal justru akan menyulitkan kapal berlabuh. 

Saya bergantian dengan suami untuk menjaga Chila di kapal. Saat suami naik kembali ke kapal, saya mulai mempersiapkan diri untuk turun. Dan byuuur….Alhamdulillah tetap mengambang hehe. Jujur masih takut-takut meskipun sudah pernah snorkeling sebelumnya. 

Saya pun berenang-renang di sekitar kapal, belum berani terlalu jauh takut terjadi kenapa-kenapa. Benar saja, tiba-tiba life vest  yang saya kenakan resletingnya terbuka. Saya khawatir nanti saat terkena ombak malah terlepas sedangkan saya belum pandai-pandai banget berenang.
 
Persiapan Nyebur

Amatiran

Yeaaay...ini Akooh Pemirsaaa :D


Saya pun panik dan naik kembali ke kapal. Sayang banget sih padahal niatnya pengen benar-benar belajar snorkeling. Setelah berhasil naik kapal, langsung minta tukeran dengan live vest yang dipakai suami. Nggak mau ambil resiko secara masih baru banget di dunia per-snorkeling-an :D

Rekan-rekan lain yang memang sudah pandai berenang segera menuju ke spot snorkeling dimana terdapat ikan nemo dan terumbu karangnya. Kata mereka sih bagus banget. Saya yang sudah kehilangan mood hanya berenang-renang kembali di sekitar kapal. Di dasar laut yang terlihat hanya pasir putih dengan warna air yang masih hijau tosca.

Saya memutuskan untuk kembali ke kapal lagi. Chila yang sudah kesal memendam keinginannya untuk ke pantai  akhirnya menangis. Untung si Abang yang bawa kapal menawarkan untuk mengantar Chila ke tepi pantai. Dan Chila pun senang bukan kepalang. Ia digendong melintasi air laut yang tingginya setengah badan orang dewasa. Saya dan suami segera menysulnya sambil membawa cemilan untuknya. Dari jauh Chila sudah tampak bahagia. Dengan ditemani si Abang kapal, ia berenang-renang dan mencelupkan kepalanya ke dalam air. Berlari ke tepi pantai lantas meleparkan badannya kembali ke air laut. Haha…Syukurlah. Padahal, semula kami berdua sudah kehabisan cara bagaimana menenangkannya. Tidak terfikirkan sama sekali untuk turun, melintasi air laut menyebrang ke pantai, karena belum tau seberapa jauh menepi ke pantai dengan berjalan kaki.
 
Ini Dimas, Juragan Kasur Pelampung :D

Kapal Tetangga


30 menit kemudian, satu per satu kapal lain yang mengangkut para pengunjung mulai meninggalkan pulau Dedap. Saya dan suami pun segera mengajak Chila untuk menuju ke kapal. Namun karena jarak cukup jauh, saat peserta lain sudah memasuki kapal, saya masih berkutat untuk melintasi laut yang mulai berombak besar. Berkali-kali ombak menerjang dan mengenai kepala saya. Mendorong memasukan air laut ke dalam mulut, hidung dan mata. Namun Alhamdulillah akhirnya sampai juga di kapal.

Hanya sekitar satu jam saja kami berada di perairan pulau Dedap. Belum puas rasanya, namun hari sudah beranjak siang dan kami mulai kelaparan. Jadwal selanjutnya kembali ke Pulau Abang untuk makan siang.
 
Makaaaan

Sikaat...!!!


Sekitar setengah jam kami sampai di Pulau Abang. Disambut senyum ibu-ibu yang mempersilahkan kami untuk makan. Ada gulai ikan, rebus kapis dan sambal belacan. Endesss. Sekejap saja langsung ludes. Dan sungguh kami belum kenyang haha. Maklum perut-perut anaconda :D


Selesai makan siang, kami segera menuju pondokan untuk sholat dzuhur. Alhamdulillah hari itu masih cerah dan kami masih menanti perjalanan ke pulau lainnya sehabis dzuhur.


Thursday, September 24, 2015

Antara Surabi Bandung, Kepiting Lada Hitam dan Sebuah Kekuatan Aplikasi

Anak Pulau
Grup Anak Pulau saat Kemping di Pulau Putri
Beberapa bulan terakhir ini saya gabung dengan berbagai macam grup di WhatsApp. Salah satunya grup Anak Pulau. Sebenarnya ini grup para traveler murtad. Wkwkwk. Iya katanya traveler tapi hampir tiap malam karaokean. Kalau nggak karaoke kebanyakan quis dan sharing vidio dubsmash. Atau nge-screenshot si d-kadoor alias Kadir Bachmid seleb Instagram yang kocak banget.

Selain ketemu online tiap detik, tiap menit, tiap jam, tiap siang dan tiap malam di grup, para member juga sering kopdar sambil nongki-nongki di warung makan, kedai atau restoran. Yang dibicarakan nggak jauh-jauh dari tiket pesawat, cuti, dan liburan ke pulau anu atau ke negara anu. Nggak ada tuh yang ngomongin kapan lamaran, kapan nikahan apalagi seserahan. Eh, gimana mau nikah calon aja nggak punya. Dezig.

Senangnya lagi, kalau ada tempat makan baru yang asyik, suka kita datangi rame-rame. Kalau sudah ketemuan, puas deh saling ledek, saling hina, dan saling bully. Maklum kebanyakan penghuni grup 99%nya para jones alias jomblo ngenes. Dan jones itu memang bullyable banget. Sasaran empuk buat pelampiasan keisengan hahaha. Alhamdulillah saya sih sudah pensiun dari segala kejonesan itu jadi aman dari gangguan jin dan setan yang terkutuk dari pem-bully-an.

Surabi Bandung Top 100


Salah satu tempat makan yang direkomendasikan teman-teman adalah Surabi (serabi) Bandung di Mal Top 100 Tembesi Batu Aji, Batam. Serabinya itu enak dan lembut banget. Apalagi dikasih topping rasa durian. Melting. Beuuh…..rasanya nyangkut di lidah berjam-jam bahkan sampai pulang ke rumah.

Dari kebanyakan member grup nggak bosan untuk datang dan datang lagi ke sana. Kadang pulang kerja atau sepulang dari island hopping kita mampir untuk makan serabi sambil ngobrol-ngobrol santai. Meskipun datang sebelum maghrib, ada saja teman yang nggak kebagian karena kehabisan.
 
Surabi Bandung
Rasa Coklat Keju

Surabi Bandung
Surabi Rasa Durian. Yummy :D


Kemarin pas hari minggu sore, suami mau ada perlu ke rumah temannya di Tembesi. Pas deh, saya langsung nitip minta dibelikan Serabi Bandung rasa duren. Suami pun mengiyakan dan berangkatlah ke Tembesi. Menjelang maghrib dia pulang sambil membawa kabar tak menyenangkan. Serabinya sudah habis. Hwaaaa….pengen nangis gelundungan tapi malu sama Chila anak saya.

“Chil…bundanya ngidam loh. Pengen serabi, tapi kehabisan.” Kata suami malah manas-manasin. Chila yang memang lagi kepengen banget punya adik langsung menatap penuh harap.

“Iya yah bunda hamil? Bener ya hamil?” Aaah si ayah ini suka bikin ribet keadaan. Kan kasihan Chila kalau udah ngomongin calon adiknya selalu dikecewakan.

“Enggak Nak, ayah aja yang ngarang.” Jawab saya sambil melemparnya dengan gagang sapu senyuman.

Coba ada delivery order kayak foodpanda, pasti deh saat ngebet makan serabi seperti ini nggak bakal kehabisan. Batin saya. Sudah dua kali tiap mau beli serabi kehabisan terus, padahal hari masih sore.

“Ayah tau foodpanda nggak, Yah?” tanya saya pada suami.
“Nggak tau, Apaan emangnya?” Jawabnya.
“ Itu loh layanan delivery order kayak di KFC. Enak kalau ada foodpanda di Batam, kita bisa pesan makanan apa saja terus dihantar sampai rumah.”
 


Bulan Agustus lalu saat ada arisan di rumah, malah kami hampir kewalahan. Nggak semua makanan yang udah di list di menu siap dihidangkan. Mana saya cuma berdua suami nyiapin ini itu. (ih emangnya ada siapa lagi coba?) Kayaknya waktu cepet banget berlalu. Tau-tau udah jam dua siang. Hwaaa…sementara arisan akan dimulai jam 4 sore dan menu utama kepiting lada hitam yang kami rencanakan belum dimasak.  Boro-boro dimasak,  kepiting mentahnya saja belum dibeli. Padahal sudah dipesan sehari sebelumnya.

Saat itu suami sibuk menelpon orang Tanjung Riau yang mau menjual kepiting. Namun nggak diangkat-angkat. (Tanjung Riau jaraknya sekitar 15 menit berkendara ke arah Barat dari perumahan tempat kami tinggal). Namun ternyata jam dua lewat beberapa menit baru dikabarin kalau kepitingnya nggak ada. Katanya para nelayan pulang nggak bawa kepiting. Alasan lainnya karena angin selatan. Ah sebodo amat mau angin utara kek angin selatan kek menu kepiting kami harus segera dimasak.

Saya dan suami kebingungan mau beli kepiting dimana lagi. Di pasar Sagulung yang dekat rumah saja enggak ada. Sementara itu putaran jarum jam terdengar semakin kasar di gendang telinga. Duuuh.
 
Kepiting yang Dimasak Teman kantor suami. Bumbunya campur-campur

“Yaudahlah Yah, ke Pulau Setokok saja carinya,” kata saya. Ya mau kemana lagi coba. Untungnya saya mendadak teringat kemarin-kemarin teman sekantor suami pernah beli kepiting dari Pulau Setokok dan masak rame-rame di rumah.

“Tapi  Setokok itu kan jauh Bund,” Kata suami. “Ya mau gimana lagi dong,” Jawab saya lemas. Suami pun akhirnya pergi menuju Pulau Setokok sementara itu jarum jam terasa berputar semakin cepat. Tik…tok…tik..tok….saya semakin panik menunggunya di depan pintu sambil wara-wiri ke dapur menyiapkan menu lainnya. Jam 3 sore suami belum pulang juga. Jam 4 pun belum nongol juga. Aaah….gawat.

Lalu, jam setengah lima “Assalamualaikuuuum….” suara Mbak Endang dan keluarga, tamu arisan yang pertama datang membuat gugup keadaan. Tapi suara itu akhirnya berbarengan dengan suara sepeda motor suami yang baru saja tiba. Pyuuuh… ”kepitingku datang, hore…hore…horreee…” maunya loncat-loncat.
 
Ibu-Ibu Arisan
Satu per satu tamu arisan datang. Sebagian ibu-ibu menawarkan bantuan mengiris semangka dan memindahkan gorengan ke piring-piring. Sementara saya nyiapin bumbu dan suami mencuci kepiting. Tak sampai seperempat jam, sebentar saja kepiting sudah masak, siap dihidangkan dan para tamu pun sudah lengkap datang. Alhamdulillah.

Nah kalau mengingat-ingat peristiwa itu sebenarnya bahaya juga. Bisa malu-maluin. Seandainya suami nggak dapat kepitingnya, para tamu mau makan apa coba? Masa nasi sama lalapan doang. Di saat kondisi genting begitu, berasa letak pentingnya sebuah aplikasi. Tentu saja aplikasi layanan pesan antar semacam foodpanda yang bisa jadi solusi nyata bagi kepanikan yang melanda.

Foodpanda ini telah hadir melayani lebih dari 10 kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bali, Bandung, Bekasi, Bogor, Depok, Makasar, Medan, Surabaya, dan Tangerang. Huhuhu…Panda, Batam kapan ya?

Meskipun foodpanda nggak ada di Batam, saya sih tetap pasang aplikasinya di handphone. Mana tau sebentar lagi foodpanda hadir di kota ini jadi sayalah orang pertama yang akan mencobanya. Amiiin, amiiin, amiiin.

Selain alasan itu, foodpanda juga sudah ada di kota-kota dimana banyak terdapat keluarga besar saya tinggal. Di Bandung ada kakak, adik dan bapak. Di Depok ada bapak dan ibu mertua. Di Bogor ada adik ipar, di Jakarta ada om, tante, dan sepupu-sepupu saya. Jadi suatu saat jika saya ingin memberi kejutan, maka saya akan mudah sekali melakukannya. Salah satunya dengan memesan makanan kesukaan mereka via foodpanda. Saya memang suka memberi kejutan. Dan rasanya itu selalu menyenangkan.

Pilih Restoran
Ketika mencoba membuka aplikasi foodpanda dan memesankan makanan untuk Bapak di Bandung, saya langsung terkesan dengan kemudahan pengoperasiannya. Pertama saya ketik nama kota dimana makanan akan dihantar. Lalu memilih lokasi/area terdekat dengan rumah bapak saya yang tinggal di sekitar Gedebage. Dalam beberapa detik sistem akan bekerja dan memilihkan restoran dengan pilihan menu yang beragam. Saya tinggal pilih mau apa saja.

Restoran yang dipilih akan menampilkan berbagai jenis makanan mulai dari makanan khas Indonesia, Korea, Italia, China, dan sebagianya. Begitu juga jenis makanan yang ditawarkan berbagai macam seperti cake, seafood, pizza, burger, fried chicken, sup, hingga bakso dan es teler pun tersedia. Benar-benar deh tinggal pilih sesuai selera kita.

Pilih mau berapa?

Setelah memilih makanan baru kita memilih cara pembayaran yang bisa dilakukan secara COD (Cash On Delivery) maupun online. Mudah dan simpel tinggal menunggu makanan dihantar.

Menurut saya, inilah manfaat dan kelebihan sebuah aplikasi foodpanda. Di saat kondisi panik dan kepepet sekali pun (seperti saya sewaktu arisan itu), kita masih bisa bernafas lega karena aplikasi ini bekerja untuk kita.


Jadi, kapan ya foodpanda hadir di kota kita?

Wednesday, September 23, 2015

ViaVia Resto, Sebuah Restoran Organik di Jogjakarta

 Saat melewati sebuah lorong sempit diantara dua bangunan tinggi antara Jalan Prawirotaman I dan Jalan Prawirotaman II  Jogjakarta, secara bersamaan hidung saya dan suami mencium bau masakan yang sangat menggugah selera. Kebetulan saat itu kami sedang mencari tempat untuk makan siang. Tak menunggu kesepakatan bersama, kami berdua sudah faham harus berbelok ke arah mana.

Saat memasuki restoran kami dibuat terkejut karena hampir semua tamu yang sedang berada di dalam, bule semua. Tak tampak satu pun warga pribumi kecuali para pelayannya. Saya jadi de javu karena mendadak berasa sedang berada di Bali. Saat ditelisik,  pantas saja karena restoran yang kami masuki adalah restoran ViaVia yang sudah mendunia.

Pada tahun 1994 sekelompok wisatawan Belgia bertemu untuk berbagi pengalaman dari jalan. Mereka khawatir tentang dampak negatif dari pariwisata masal pada lingkungan dan masyarakat setempat. Mereka juga berbagi  ide-ide pariwisata yang berkelanjutan dengan menghormati alam dan budaya.

Mimpi untuk mendirikan kafe di seluruh dunia untuk menerapkan ide-ide mereka terus berkembang. The ViaVia pertama kali dibuka pada tahun 1995 dan sekarang keluarga ViaVia sudah berkembang hingga 15 cabang  di 4 benua dengan mengusung konsep yang selaras dengan lingkungan lokal masing-masing yang unik. Dan ViaVia Jogja menawarkan ruang untuk seniman lokal muda yang berbakat untuk terus mengembangkan kreativitasnya.

ViaVia Jogja
Fair Trade Shop

ViaVia juga sering menjadi tempat konser. Pada setiap Jumat malam  terdapat acara Jazz dari “The Travel Band”, ada seni pertunjukan, festival film dan perdebatan.  Bagian dari keuntungan ViaVia digunakan untuk mendukung proyek-proyek pendidikan, sosial dan budaya di dalam dan sekitar Jogjakarta.

Kami memilih tempat duduk dekat fair trade shop dimana terpajang berbagai jenis kerajinan tangan khas  yang unik dan menarik. Barang-barang yang penuh dengan sentuhan tangan seniman. Selaras dengan konsep yang diusung ViaVia untuk lebih dekat dengan seni dan kreativitas.

Adapun benda-benda yang dijual di trade shop adalah yang menggunakan material organik dan atau recycle. Benda-benda kerajinan yang dijual seperti batik yang khas dan unik, dompet, souvenir, wayang, dan sejenisnya.

Ruang Bermain Anak-Anak di ViaVia
 Di dekat tempat duduk kami terdapat ruang bermain anak-anak. Ada jungkat-jungkit atau jak-jok dan permainan puzzle binatang yang bisa ditempel ke dinding. Baru saja duduk, Chila sudah langsung tertarik dan ingin mencoba permainan di sana.  Sambil menunggu pesanan kami datang, saya menemani Chila bermain jak-jok. Setelah itu bergantian, ayah Chila menemaninya menyusun puzzle ke dinding.

Semua Menu Terbuat dari Bahan Organik
Sekitar 15 menit kemudian, pesanan kami datang (Rasanya lamaaaa banget). Saya dan suami memesan nasi goreng serta capcay. Setelah meletakkan pesanan di meja,  pelayan memberitahukan  bahwa bahan-bahan yang dibuat di restoran ini semuanya bersifat organik. Tidak  menggunakan bahan pengawet. Sayur-dan buah-buahan juga berasal dari kebun organik yang bersih dari bahan kimia. Saya mendadak penasaran, lantas membaca-baca brosur tentang ViaVia yang terdapat di meja.

viavia jogja
Di Resepsionis

Sebentar saja, saya langsung tertarik dan sangat medukung konsep yang ditawarkan ViaVia dalam hal suistainable tourism, atau pariwisata yang berkesinambungan.

Selain terdapat restoran, di ViaVia juga tersedia guesthouse yang terdiri dari 7 kamar yang nyaman dan bersih. Ada juga Rumah Ayam. Bukan rumah ayam sesungguhnya, namun rumah yang dimaksud adalah sebuah studio yang disewakan. Ada juga Rumah Nangka yakni rumah yang difungsikan sebagai akomodasi bagi pengunjung yang ingin tinggal lebih lama lagi.  Selain itu di ViaVia terdapat juga kelas Yoga yang dibuka setiap hari Senin hingga sabtu.


ViaVia Resto
Jl Prawirotaman 30 Jogjakarta
Telepon: 0274 386557
Buka setiap hari dari jam 07.30 – 23.00

Monday, September 21, 2015

Menikmati Berbagai Menu Sarapan Lezat di Vine Restaurant Yogyakarta

Vine Restaurant
Dengan didukung oleh chef ahli yang berpengalaman, Vine Restaurant menyajikan berbagai hidangan tradisional, nasional, dan juga internasional seperti masakan Eropa, Jepang, dan Tiongkok. Selain itu para chef di restoran ini juga melayani menu lainnya sesuai pesanan tamu/pengunjung.

Vine Restaurant terletak di lantai satu Hotel Gallery Prawirotaman Yogyakarta. Dari lobby hotel lurus hingga mencapai pintu menuju kolam renang. Setelah itu belok kiri. Restorannya berada tepat menghadap kolam renang.

Karena menginap di hotel, saya dan keluarga mendapatkan fasilitas sarapan gratis. Menu sarapan sangat beragam. Mulai dari menu ringan hingga berat. Ada nasi dengan berbagai macam lauk, so'un goreng dicampur sawi, nasi goreng, sup ayam & sup wortel, salad, roti tawar, berbagai jenis roti manis, bubur ketan hitam & kacang hijau, susu & sereal, jus apel & jus jeruk, infused water, dan bahkan tersedia juga  jamu beras kencur & kunyit asam. Wooow….kalap pengen nyobain semua :D *Ya Salaaaam…kenapa perut ini cepat sekali kenyangnya coba perutnya mirip perut anaconda haha...pasti menampung makanan lebih banyak lagi.
 
Pemandangan dari Teras Restoram

Karena hari itu mau berangkat mendaki gunung, saya kudu sarapan berat sesuai kebiasaan. Jadi saat itu tanpa ragu dan bimbang langsung mengambil nasi plus lauk ayam bakar manis dan tumis sayuran. Untuk Chila saya mengambilkan sosis dan roti tawar dengan selai jeruk sesuai dengan apa yang dipilihnya. Suami mencoba bubur ketan, sup wortel dan terakhir nasi plus lauk juga :D 

Saya suka dengan rasa ayamnya yang manis, karena porsinya tidak terlalu banyak dengan segera isi piring telah berpindah lokasi. Namun Chila yang memang picky eater sepertinya rada ogah-ogahan dengan roti tawarnya. Padahal biasanya paling senang kalau sarapan roti tawar. Ternyata dia salah pilih selai.

Kalau di rumah biasanya Chila sarapan roti dengan selai kacang atau strawberry, nah ini malah pengen mencoba selai jeruk yang ternyata rasanya asam. Terang saja dia melet-meletin lidahnya. Sosisnya pun tidak dimakan karena dimasak masih dalam keadaan terbungkus plastik. Jadi Chila malas bukanya.
  
Saya sedikit heran, sosis ini memang sengaja dimasak tanpa dibuka plastiknya atau memang chef-nya tidak tahu. Tapi kalau tidak tahu rasanya nggak mungkin juga sih ya. Kan masak juga ada prosedurnya. Jadi ingat pengalaman saat masak di Ranu Kumbolo, Gunung Semeru. Goreng sosis udah hampir satu jam kok gak gosong-gosong padahal api di kompor trangia nyala terus. Saat diperiksa oalaaah… plastiknya masih melekat. Pantes saja.

Jus dan infused Water

Aneka Salad
Buffet Nasi dan Aneka Lauk

Buffet Aneka Bubur dan Kue Tradisional


Sereal dan Susu Segar
Jamu Beras Kencur dan Kunyit Asam

Khawatir tidak ada yang masuk ke perut Chila, saya mengajaknya berkeliling memilih menu apa yang kira-kira dia suka. Ketika ditawari sereal yang dicampur susu segar Chila mengangguk. Dan ternyata berhasil, Chila mau makan sereal dan bahkan minta nambah susu segarnya. Syukurlah.

Karena harus bertanggung jawab menghabiskan roti tawar dan sosis yang nggak dimakan Chila, belum emncoba yang lainnya lagi perut saya sudah kenyang duluan. Duh padahal pengen icip-icip aneka bubur dan salad. Tapi nggak apa-apa masih ada satu hari lagi saya di hotel ini, bisa balas dendam nantinya wkwkwk.



Cuma oles-olesin tapi nggak Dimakan
Semangat saat Ditawari Susu Segar


Cuma Sarapan ini :D

Aneka Minuman

Sebelum beranjak keluar restoran, saya pun menyicip jamu beras kencur dan kunyit asam yang diambilkan ayahnya Chila. Segeeeer. Pas banget buat doping menjelang mendaki gunung hehe. 

Secara keseluruhan restoran ini sangat baik. Untuk bagian interiornya, yang menarik di dinding-dindingnya terpajang berbagai lukisan bertema natural. Pemilihan warna meja dan kursi yang didominasi putih membuat pantulan cerah dan segar tampak di seluruh ruangan. Penataan buffet yang menyebar di berbagai titik ruangan membuat antrian tidak mengular saat tamu restoran datang membludak. Selain itu pelayanan para waiter dan waitress-nya pun cepat dan luwes.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...