Tuesday, 30 June 2015

Gunung Bromo, Surga bagi Pecinta Mobil Jeep seperti Saya

Mobil Jeep Toyota warna hijau yang kami tumpangi melaju kencang menyusuri jalan menanjak nan berliku yang di kanan kirinya menganga jurang – jurang. Namun syukurnya jalan aspal yang kami lalui terbilang mulus. Dengan penuh heran saya bertanya kepada Mas Anto, sopir jeep yang akan membawa kami menjelajah bumi Suku Tengger di Kawasan Gunung Bromo Jawa Timur yang terkenal akan keindahannya.

Monday, 29 June 2015

Reuni yang Mengesankan di Hotel Santika BSD City Tangerang

Senja mulai menyelimuti ibukota. Bis yang saya tumpangi baru saja melintas di kawasan Kebun Jeruk. Sebuah bangunan bertingkat yang terlewati tampak membumbungkan lidah api ke langit. Asap mengepul pekat. Orang-orang bergerombol di tepi jalan untuk  menonton. Pemadam kebakaran tampak sibuk memadamkan api.  

Tidak saja musim kemarau, bahkan di musim hujan sekali pun kebakaran selalu terjadi di Jakarta dengan penyebab yang beragam.  Kebakaran yang sejak jaman  saya sekolah SMA di ibukota dulu kerap terjadi. 

Perjalanan Bandung – Jakarta kali ini terasa sangat lama. Selain tol padat karena akhir pekan, juga karena berbagai titik kebakaran di sepanjang tol yang menyebabkan laju kendaraan melambat. Saya kira bisa sholat ashar di Hotel Santika yang akan diinapi malam nanti. Nyatanya hari sudah menjelang maghrib dan saya baru tiba di perbatasan Jakarta – Tangerang.

Dengan menaiki angkot jurusan BSD City saya bertanya-tanya kepada penumpang dimana letak Hotel Santika berada. Karena keasyikan baca buku di bis, saya lupa googling terlebih dahulu dimana tepatnya. Namun petunjuk dari Reni, teman sebangku semasa SMA yang sudah menunggu di Hotel Santika menyebutkan bahwa minta saja diturunkan di Teras Kota. Teras Kota? Apa itu? Duh semakin lama merantau semakin jauh ketinggalan informasi tentang Jabodetabek. 
Semula saya berniat menginap di rumah Reni namun ia malah menawarkan kamar di Hotel Santika agar saya mudah menuju bandara saat pulang ke Batam keesokan harinya. Terlebih rumah Reni letaknya jauh ke dalam. 

Dari dalam angkot tulisan Teras Kota tampak menyala di depan sebuah bangunan. Papan reklame, lalu lalang kendaraan dan orang-orang membuat saya dapat menyimpulkan tempat apa Teras Kota itu. Sebuah mal.

Setelah turun dari angkot dan bertanya kepada security yang berjaga di depan Teras Kota dimana letak Hotel Santika, 5 menit kemudian saya sudah berdiri di depan resepsionis. Dengan ramah ia memberi kartu sebagai kunci kamar hotel dan menyuruh  agar saya langsung saja menuju lantai 4 tempat dimana Reni telah menunggu.

Saat memencet bel, seorang gadis kecil dengan hidung mancung dan bulu mata lebat tampak membukakan pintu kamar. Saya langsung mengenalinya. Walau belum pernah bertemu, namun dari foto-foto yang sering di-upload Reni di  facebook, saya yakin gadis kecil itu adalah Desti, anak bungsunya Reni.


Di belakang Desti, seorang gadis kecil lainnya dengan postur lebih tinggi dan sama cantiknya menyambut dan mencium tangan saya. Dialah Shera. Kakaknya Desti. Rupanya Reni mengajak serta kedua anaknya untuk ikut menginap di hotel. 

Reni menyongsong dan memeluk saya. Alhamdulillah bertemu lagi dengannya. Beberapa tahun lalu saat saya pulang ke rumah mertua di Depok pun kami pernah bertemu untuk reuni.

Karena sudah maghrib saya segera meminta izin untuk mandi dan sholat. Dinding dan pintu kamar mandi terbuat dari kaca yang tidak tembus pandang. Pintunya dapat dibuka dan ditutup dengan cara digeser. Sliding door.  Mengingatkan saya pada pintu-pintu rumah di film Jepang Oshin.

Kamar mandinya tidak terlalu luas, namun bersih dan harum. Beberapa handuk bersih berwarna putih tergantung di hanger. Syukurlah saya memang nggak bawa handuk. Dan mandi nggak handukan itu terasa hambar hehe. Di dekat wastafel toiletries tersusun lengkap. Antara shower dan closet terpisah kerai. Air hangat dan dingin berfungsi dengan baik.

Selesai mandi, mengganti pakaian, dan sholat maghrib di kamar, kami berkumpul berempat di tempat tidur sambil leyeh-leyeh dan ngobrol ngalor-ngidul. Reni memilihkan kamar yang tepat. Kasur ini sangat lebar sehingga muat untuk kami berempat. Kasur, bantal, guling dan selimutnya terasa empuk. Terasa nyaman dan betah berlama-lama berbaring.

Reuni teman SMA

Malamnya Reni membuat surprise. Saya dipertemukan dengan beberapa teman akrab semasa SMA. Rupanya siang sebelumnya dia sibuk menelpon sana sini sehingga terkumpullah 5 orang teman dekat saya dulu yang semuanya laki-laki. Teman satu geng dan satu kelompok belajar. Kini mereka semua sudah berumah tangga dan 3 orang diantaranya bekerja di beberapa Bank Nasional di ibukota. Satu orang menjadi TNI dengan tugas sebagai Paspampres dan satu orang lagi wiraswasta. Kami bertujuh bertemu di depan Teras Kota. 

Hotel Santika letaknya sangat strategis. Berada di tengah-tengah kota yang bahkan letaknya saja berhampiran dengan pusat perbelanjaan. Jadi kami tidak sulit untuk mencari makan malam.

Setelah makan malam bersama, kami pindah tempat untuk mengobrol di restoran hotel. Memesan black coffee & cappuccino lalu mengobrol seru sambil terbahak-bahak tertawa  membahas masa SMA dulu. Syukur Alhamdulillah para pelayan restoran tampak mafhum dan tidak menegur padahal suara kami membahana hingga ke luar restoran. Bahkan beberapa orang di meja lain menyingkir perlahan karena suara kami yang berisik.

Reuni dadakan ini, sungguh membuat saya terharu. Kelima orang teman yang datang rumahnya jauh-jauh di sekitar Depok, Cilandak, Cijantung, dan Tebet. Namun mereka bersedia datang. Duh apalah saya ini sehingga mereka rela meluangkan waktu untuk bertemu dan pulang-pulang kena amuk para istri masing-masing :D

Yang lebih surprise lagi salah satu diantara mereka ada mantan gebetan saya haha… Eh nggak ding dia yang gebet saya duluan. Namun karena saya anak Rohis yang memegang teguh prinsip Say No to Pacaran, jadi kami hanya kucing-kucingan saja. Dia mendekat saya menjauh. Dia menjauh saya semakin jauh hehe. Hanya sekedar suka-sukaan dalam hati saja sih. Hingga si dia sempat bingung kenapa saya selalu menghindar. Jelas menghindar dong karena saya mati-matian tetap menjaga hati agar tidak bisa tercuri olehnya. Qiqiqi. Nah saat reuni kali itu terungkaplah semua. Kami bertujuh bergilir blak-blakan bercerita tentang masa lalu.
Aih tutup muka. Akhirnya rahasia itu terungkap juga. Haha.

Saking seru bernostalgia bahkan kami lupa mengobrol ngalor-ngidul hingga subuh. Untung Shera dan Desti sudah bobo pulas di kamar. Baru sadar kami semua belum sholat isya.
Jadi segera menuju mushola di lantai bawah. Musholanya nyaman dan bersih dengan karpet yang cantik. Yang paling saya suka mukenanya wangi dan bersih tidak ada bintik hitam cetian.

Selesai sholat isya berjamaah dan berpamit-pamitan, saya dan Reni kembali ke kamar hotel. Tidur sebentar dan sholat subuh jam 7 karena kesiangan. Tidur sangat lelap apalagi AC disetting dingin oleh anak-anak.

Bangun tidur tenggorokan terasa haus.
Langsung minum air mineral komplemen yang telah tersedia di meja. Penasaran, saya juga mencoba membuat teh hangat dari coffee & tea maker. 

Beberapa menit kemudian kami turun untuk sarapan di restoran. Menu sarapan sangat variatif. Aneka kue, buah-buahan dan berbagai makanan tradisional.  Shera dan Desti berkali-kali bolak-balik untuk mengambil kue yang mereka suka. Seorang pegawai hotel mendatangi kami dan menyapa Reni.  Katanya jika ada apa-apa tinggal panggil saja. Duh segitunya. Jadi tersanjung saya. Usut punya usut ternyata manajer hotel ini adalah salah satu teman Reni. Ooooh panteees :D


Hotel Santika BSD City-Serpong
Teraskota Entertainment Center, CBD Lot VII B
Jalan Pahlawan Seribu, Serpong BSD City
Lengkong Gudang, Tangerang Selatan, Banten 15322
(021) 29915999

Baca juga Hotel butik terbaik di Batam





Note: Foto 1 & 2 diambil dari Booking dot com

Sunday, 28 June 2015

Menginap di Central 65 Singapura, Harga Hostel dengan Layanan Hotel

Saya berdiri ragu di depan meja resepsionis. Pada peraturan yang tercantum di agoda pada saat booking hostel ini tertulis bahwa tamu wajib menunjukkan kartu kredit pada saat check in. Sementara kartu kredit saya ketinggalan di rumah, di Batam. Pyuuh.

Dengan wajah ramah resepsionis menyapa saya dan bertanya apa yang bisa dibantu. Pelan-pelan saya memberikan kertas print out voucher hotel sambil mulai menceritakan bahwa lupa membawa kartu kredit. Sesuai harapan, si resepsionis ternyata hanya berkata “Never mind”. Ahaaa….saya dan suami bisa bernafas lega. Alhamdulillah.

Kami membooking hostel ini via Agoda. Seperti biasa pada musim – musim liburan seluruh hotel & hostel di Singapura hampir semuanya full booked. Saya dan suami hampir pusing memikirkannnya. Untung saja di malam menjelang keberangkatan ada tempat tidur yang  masih tersisa di Hostel Central 65 di Jalan Besar, kawasan dekat Bugis. Sebelumnya hostel ini bernama b88. Dan pada saat kami datang tampak bagian depan sedang direnovasi.

Namun yang namanya hostel berarti  resikonya satu kamar rame-rame dengan tamu dari negara lain. Tak apalah yang penting kami bisa tidur nyaman goleran di kasur. Kami tak terlalu berharap banyak pada pelayanan sebuah hostel.

Kami memilih menginap di Central 65 salah satu pertimbangannya adalah bahwa hostel ini membolehkan anak-anak di bawah 6 tahun menempati tempat tidur yang sama dengan orang tuanya asalkan muat. Lumayan bisa menghemat pengeluaran sehingga tak perlu memesan satu tempat tidur lagi untuk Chila. Peraturan ini sudah tercantum jelas di awal booking, sehingga kami tidak ragu lagi.

Tempat tidurnya seperti kubus :D
Kami menginap selama 3 malam dan hanya membayar sebesar 1.181.604 rupiah untuk dua tempat tidur. Per malam per tempat tidurnya hanya sekitar 196 ribu rupiah saja. Terbilang murah untuk ukuran Singapura dan Indonesia.

Walaupun kamar kami shared room dengan tipe dormitory, namun kerahasiaan masing-masing sangat terasa dengan tersedianya tirai di setiap tempat tidur. Tempat tidurnya seperti kubus yang mempunyai satu sisi terbuka. Karena mirip goa dan rumah-rumahan yang biasa dimainkan anak-anak, Chila langsung suka. Apalagi kasur dan bantalnya empuk banget. Chila nggak mau kemana-mana. Betah ngendon di kasur.

Pada saat kami menginap, Bagian depan hostel sedang dalam perbaikan. Namun untungnya suara gaduh perbaikan tidak terdengar pada malam hari. Begitu pun lantai paling atas sedang dalam perbaikan juga. Tampak tangga menuju lantai atas ada peringatan dilarang masuk. Rencananya pada roof top akan dibangun beberapa fasilitas yang semakin memanjakan para tamu.

Fasilitas hostel sungguh membuat saya salut. Selain urusan standar seperti sarapan gratis, disediakan juga minuman  gratis yang beragam seperti air putih, teh, kopi, dan susu. Ada juga buah-buahan secara gratis sepanjang hari. Ngambil sesukanya selagi masih tersedia.

Fasilitas lainnya ada loker, wifi gratis hingga ke tempat tidur masing-masing, komputer internet, lampu baca, rental sepeda, dan colokan listrik di tempat tidur masing-masing.

Ruang Lesehan depan Televisi

Ruang makannya sangat nyaman dan hommy. Bahkan saat sarapan saya dan beberapa tamu lainnya menonton televisi sambil lesehan di karpet. Yup, serasa di rumah sendiri. Namun yang paling saya suka di sana terdapat beberapa rak buku dengan koleksi buku-buku traveling yang sangat beragam.

Pada bagian roof top kini memiliki fasilitas jacuzzi, yakni kegiatan berupa berendam di kolam hangat layaknya spa. Selain itu terdapat kursi-kursi yang cantik untuk duduk-duduk sambil baca buku dan sebagainya dengan lampu penerang di dinding roof top.

Tak diragukan lagi dengan adanya roof top ini para tamu akan dimanjakan dengan pemandangan Singapura di malam hari. Sayang kami belum dapat merasakan fasilitas yang satu ini. Semoga kalau ke Singapura lagi dapat berkesempatan menginap di sini.

Berasa artis, bule ini yang ngajak foto bareng duluan. Biasanya kebalik :D 

Central 65 Hostel
134 Jln Besar, Singapura 208852
Telpon: +65 6298 0015

Makan Siang yang Menyenangkan di Restoran Sea Food Kampung Tua, Tanjung Piayu

Menuju Tanjung Piayu
Dulu awal-awal tahun 2000an jika hendak menikmati hidangan sea food, kami harus selalu berkendara jauh ke kawasan Jembatan 4 Barelang di selatan Batam dan daerah Bengkong di utara Batam. Perjalanan yang cukup jauh dari daerah saya di Batu Aji.

Kini sudah tidak lagi. Berbagai pujasera dan restoran sea food mulai bertebaran di seantero Batam. Termasuk salah satunya di kawasan Tanjung Piayu Batam. Sekitar 35 menit berkendara dari rumah di Batu Aji.

Kebetulan saya dan teman dekat semasa blusukan ke hutan dulu, Jeng Endi beserta keluarga kami masing-masing sedang berkunjung ke Tanjung Piayu menengok teman yang baru lahiran. Karena berkunjungnya menjelang makan siang, maka sepulang dari sana kami memutuskan makan siang di Kampung Tua Tanjung Piayu yang letaknya tak jauh dari rumah teman yang lahiran.

Gapura Selamat Datang di Kampung Tua Tanjung Piayu

Memasuki Kampung Tua kami disambut dengan gapura khas Melayu berwarna kuning. Tak jauh selepas gapura kita bisa melihat ke bawah jalan tepatnya di sebelah kiri berjejer beberapa restoran apung milik warga.

Setelah memarkir kendaraan, kami masuk dan melihat-lihat isi keramba di dalam restoran. Memilih ikan dan makhluk laut lainnya yang akan menjadi santapan siang itu. Makanan segar yang dimasak langsung sesaat setelah ditangkap dari dalam laut.
 
Restoran Sea Food Kampung Tua terlihat dari atas jalan

Pintu Masuk ke Restoran Sea Food Kampung Tua
Saya memilih menu kesukaan yaitu gonggong. Sejenis siput laut yang hanya hidup di wilayah perairan Kepri. Jadi buat teman-teman yang berkunjung ke Batam dan wilayah Provinsi Kepri lainnya menu wajib kuliner Kepri adalah mencicipi gonggong ini. Rasanya gurih dan teksturnya kenyal. Awal-awal mencoba mungkin geli bahkan jijik, namun jika sudah mencobanya dijamin ketagihan.
 
Lagi makan baru ingat foto-foto :D

Lupa foto dari sejak utuh :D


Menu lainnya yang kami pilih adalah Ikan asam pedas, sotong goreng tepung, sop asparagus, dan sayurnya tumis kailan. Sedangkan menu pembuka kami sudah disambut dengan sepiring otak-otak yang telah terhidang pasrah di atas meja.
 
Sotong Goreng Tepung dan tumis  kailan

Sambil menunggu hidangan siap disajikan, saya, Chila dan ayahnya berkeliling melihat-lihat isi keramba. Chila asyik melihat-lihat isi keramba sambil menggemblok tas ransel warna kuning. Ransel kesayangan yang kemana-mana nggak pernah ketinggalan. 
Isi keramba bermacam-macam. Ada kerang, kapis, sotong, udang, kepiting, rajungan, bahkan penyu juga ada. Mungkin penyu ini hanya sebagai peliharaan. Semoga tidak untuk dimakan. Selain itu ada juga berbagai jenis ikan termasuk ikan kerapu yang besar-besar hampir seukuran badan Chila. Yang paling penasaran adalah lobster. Namun harganya sangat mahal sehingga kami lewatkan saja. Satu ekor lobster harganya bisa mencapai ratusan ribu. 

Memilih menu segar dari keramba

Tak lebih dari 15 menit hidangan telah siap saji. Tak menunggu waktu lama untuk memulai, kami sudah menyerbu makanan tersebut. Dan Alhamdulillah makanannya ludes semua. Rasanya tak diragukan lagi. Semua setuju untuk memberi jempol pada cita rasanya yang memang nikmat. Kalau diberi angka maka 90 untuk sotong tepung gorengnya, dan 99 untuk ikan asam pedasnya.

 
Restoran Apung di atas permukaan laut


Seperti biasa jika soal makan, saya selalu lupa untuk foto-foto makanannya. Selain memang tidak biasa, kedua tak pernah tega membiarkan makanan tersaji menganggur di meja. Hihihi. Bawaannya pengen segera menyikatnya pakai mulut dan gigi. Haha.

Baca juga tentang Resto Sunda untuk Sepotong Kenangan yang Tersisa





Friday, 26 June 2015

Menikmati Hidangan Khas Lombok di Rumah Makan Mae Cenggo

Saung dengan kolam ikan
Pepohonan tumbuh rimbun di kanan kiri jalan masuk menuju Rumah Makan Mae Cenggo yang terletak di Jalan Raya Masbagik - Labuan, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Kolam-kolam yang jernih dipenuhi dengan ikan berbagai jenis dan ukuran langsung memanjakan mata manakala saya dan keenam rekan-rekan dari Mataram dan Batam melangkahkan kaki lebih dalam lagi. Saung-saung yang beralaskan karpet  berwarna merah yang difungsikan sebagai tempat makan berdiri cantik di atas kolam-kolam ikan tersebut. Suara gemericik air sungai yang hanya berjarak beberapa meter dari kolam ikan menambah tenang dan damai suasana.

Kami langsung menuju salah satu saung yang kosong. Perut yang menahan lapar sejak pagi sudah tidak sabar lagi ingin segera menikmati makan siangnya. Cacing-cacing di perut mungkin sudah berdisco reggae bukan lagi bersenandung keroncongan :D

Selain ayam taliwang dan plecing kangkung tidak banyak lagi makanan khas Lombok lainnya yang saya tahu. Maka saat ditawari menu makanan ini itu saya setuju-setuju saja. Yang penting kalau sudah berada di Lombok harus menyicip makanan khasnya. Terserah apa saja boleh.

Saat menunggu makan siang dihidangkan, kami mengobrol sambil ngemil kerupuk yang telah tersedia. Nggak nyadar saya sendiri habis satu toples kerupuk. Hehe...laper apa doyan ya?  Sementara teman-teman cowok asyik menyeruput kopi yang sudah dipesan semenjak pertama datang.  

Mampir di Dusun Sade juga.

Iseng saya tanya kepada salah seorang teman dari Mataram, Bang Ming, kenapa  nama rumah makannya terdengar aneh. Mae Cenggo. Seperti nama dalam bahasa Tionghoa. Fikiran saya malah langsung teringat pada Laksamana Ceng Ho. Seorang penjelajah lautan dari Tiongkok yang pernah datang dan menetap di Indonesia. 




Menurut Bang Ming, Mae Cenggo diambil dari bahasa Flores yang berarti Silahkan Mampir. Pas banget untuk nama sebuah rumah makan. Kalau di Pulau Jawa kita sering melihat rumah-rumah makan di pinggir jalan yang mempunyai nama seperti Sudi Mampir, Mari Mampir, Ayo mampir, dan mampir-mampir lainnya. Namun belum pernah sekalipun saya melihat tulisan Rumah Makan Jangan Mampir :D

Hidangan yang setengah diserbu :D lagi makan lupa foto jadinya begini
Nah Rumah Makan Mae Cenggo ini diberi nama dalam bahasa Flores sebagai pengingat bagi Pak Buhari, pemilik rumah makan ini yang pernah ditugaskan di Pulau Flores. Tepatnya di  Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Terlebih kata Mae Cenggo sudah familiar dan mirip dengan bahasa Sasak Lombok.

Baca juga: Mencari oleh-oleh khas Lombok di Sasaku

Sayur bening daun kelor dan pepaya 
Seperempat jam berlalu, cacing-cacing sudah menyuarakan orkestra tengah malam. Untung saja dua orang pelayan segera datang membawa nampan-nampan besar berisi nasi dan berbagai macam lauk-pauk. Sayur bening daun kelor, plecing kangkung, ayam bakar, ikan bakar, beberuk, dan sop ikan kuah kuning. Tak lupa sambalnya yang ajib turut diturunkan dari nampan. Wuaaah sedaaaap. Saatnya pembalasan :D


Ikan bakarnya ditusuk

Plecing kangkung

Saya terkejut melihat hidangan ayam bakarnya yang lengkap dari kepala, leher hingga ke ceker. Ayamnya masih muda. Lagi seneng-senengnya ngelayap cari makan. Ukurannya tidak kecil tidak pula besar. Kalau manusia mungkin setingkat remaja kali ya. Nah biasanya ayam kampung yang masih muda itu nggak alot kalau digigit. Dagingnya pun lembut dan cepat hancur kalau dikunyah. Jadi tambah nafsu. Akan saya makan semuanya, semoga masih ada tempat yang muat di lambung ini. Doakan saya ya! Haha.

Ayam bakar yang saya makan masih tersisa karena kekenyangan.

Soal rasa? Jangan ditanya. Makan masakan khas langsung dari tempat asalnya itu nilainya 100 lebih. Nggak ada tandingannya deh. Ayam yang saya makan saja lezatnya tak terkira. Dan entah kenapa kok saya sudah kekenyangan saja. Nggak semua termakan. Hiksss...sayang banget padahal kalau nggak malu pengennya saya gadoin buat di mobil. Lumayan daripada bengong. Hihi. Ayam dijadikan cemilan kan nggak apa-apa juga kaleee. Tapi nggak segitunya juga kaleee. Ah sudahlah. Ikhlaskan saja untuk makanan ikan-ikan di kolam. 


Saung-saung berisi sisa hidangan

Jadi kalau kebetulan mampir ke Lombok Timur jangan lupa mampir ke rumah makan Mae Cenggo ini ya teman, Asli hidangannya bikin kita pengen balik lagi ke sana. 


Rumah Makan Mae Cenggo
Jalan Raya Masbagik - Labuan, KM 2 Ambung,
Masbagik Timur, Kabupaten Lombok Timur, NTB
Telpon: 087763382221


Thursday, 25 June 2015

Power Bank Asus ZenPower hadir untuk Petualangan yang tak Terlupakan

Saya ini  tipe orang yang sering keluar rumah. Baik itu keluar rumah untuk bekerja dalam rangka  mencari rejeki - demi sesuap  nasi,  segenggam intan, dan sebongkah berlian :D - *hahaha hiperbola banget, atau keluar rumah untuk ngelayap jalan-jalan dan liburan.

Nah karena saya orangnya #kekinian ceilah… maka sehari-hari tidak bisa lepas dari yang namanya gadget yang terhubung dengan internet. Apalagi tahun ini  mulai rajin ngeblog sehingga setiap beberapa kali dalam sehari  perlu  melakukan sharing postingan, membalas komen-komen di blog, dan blog walking atau membaca info-info di sosial media. Namun kadang suka sebel kalau tiba-tiba lagi online,  gadget yang sedang dipegang mendadak mati kehabisan batre. Duh mati gaya deh rasanya.

Kalau keluar untuk bekerja seringnya tidak masalah karena di setiap sudut ruangan kerja ada colokan listrik. Mau seharian  nge-charge pun tidak ada yang melarang. Tapi kalau sudah di luar rumah atau di luar tempat kerja? Duh ini nih yang bikin bete luar biasa.

Pilihan Warna Asus ZenPower. Foto dari Asus.com

Wednesday, 24 June 2015

Belajar Snorkeling di Pulau Labun, Batam


Pulau Labun
Para ayah dan krucilnya :D

Pulau Labun adalah pulau yang kini menjadi destinasi wisata baru di Batam. Menjadi pilihan di saat kami sudah bosan dengan tempat wisata yang hanya itu-itu saja. Setidaknya bagi saya sendiri yang sudah cukup lama tinggal di Batam. Bosan mau kemana lagi. Sudah hampir semua sisi pulau Batam saya kunjungi (jiaaah sombongnyaaa :D) dan sepertinya kaki ini perlu melebarkan sayap eh langkah ke pulau-pulau sekitarnya. Yuk island hopping.  

Saturday, 20 June 2015

Give Away Perdana Lina Sasmita

Bismillahirrohmaanirrohiiim,

Alhamdulillah tahun ini saya sudah mulai stabil ngeblog. Setidaknya setiap bulan minimal ada 5 hingga 10 postingan. Dan itu merupakan kemajuan besar bagi saya yang suka malas dan menunda-nunda untuk menulis.

Saat memutuskan hijrah domain dari sierrasavanna.blogspot.com  ke linasasmita.com Alexa saya langsung terjun bebas. Dari semula 5 jutaan menjadi 11 jutaan. Shock, namun pelan-pelan mulai menulis secara kontinyu. Alhamdulillah tidak sampai 3 bulan Alexa sudah merangkak naik. Bahkan jauh melebihi kondisi awal sebelum pindah. Saat itu mencapai angka 296.000-an. Suatu kemajuan besar dari angka malas-malasan lima jutaan.Mungkin karena frekuensi Blog Walking berkurang, kini Alexa saya malah mulai nge-drop turun lagi ke angka 400.000-an. Namun sejauh ini masih aman terkendali.

Sedangkan untuk Domain Authority  masih belum berubah ada di angka 14. Nah katanya semakin tinggi DA maka semakin baik performance sebuah website/blog di mata dunia maya.Hehehe. Menurut saya pribadi Alexa dan DA itu penting untuk mengukur semangat ngeblog saya.   

Memasuki bulan Juni 2015, begitu banyak peristiwa bahagia yang patut saya syukuri. Pada Juni ini pernikahan saya dengan suami tercinta memasuki usia yang ke-8 tahun. Dan di bulan Juni ini juga Chila anak saya yang pertama dan satu-satunya telah genap berusia 6 tahun. Selain itu bulan ini pun mulai memasuki bulan penuh berkah yakni bulan ramadhan.

Nah oleh sebab itu, saya akan mengadakan Give Away (GA) untuk pertama kalinya. Dan semoga akan ada lagi GA-GA selanjutnya sehingga bisa terus eksis di dunia blogging dan terus memberi kebahagiaan kepada rekan-rekan blogger dengan hadiah-hadiah kecil dari saya.

Karena tulisan-tulisan di blog ini kebanyakan mengenai jalan-jalan, naik gunung, dan keliling pulau maka tema GA kali ini tidak akan jauh-jauh dari hal-hal tersebut. Dan inilah syarat-syaratnya:


  1. Buat satu tulisan kisah nyata dengan tema “Liburan Seru Bersama Anak-Anak" (boleh anak sendiri, adik atau keponakan jika belum mempunyai anak). Dan pada satu atau beberapa paragraf terakhir tulisan jawab pertanyaan berikut ini "Jika kamu berwisata ke Provinsi Kepulauan Riau objek wisata apa saja yang akan kamu kunjungi? Sebutkan alasannya!"
  2. Panjang tulisan minimal 350 kata dan maksimal 1000 kata (tanpa spasi).
  3. Di akhir tulisan buat kalimat "Tulisan ini diikutsertakan pada #1stGALinaSasmita dan buat link ke postingan ini.
  4. Tulisan dibuat dengan platform bebas boleh di blogspot, wordpress, domain pribadi, dll. Terkecuali note di FB tidak diperbolehkan.
  5. Tulisan disubmit mulai dari tanggal 20 Juni – 31 Juli 2015. Diperpanjang.
  6. Pengumuman Insya Allah tanggal 07 Agustus 2015 (satu minggu setelah GA ditutup)
  7. Follow Blog  www.linasasmita.com juga akun twitter saya di @LinaWiati dan akun Instagram saya di @LinaSasmita. Kalau tidak punya Instagram, boleh follow twitternya saja. Nggak punya twitter atau instagram? Pinjam dulu smartphone suami/istri, anak/cucu, om & tante untuk buat akunnya :D Pokoknya salah satu dari akun tersebut wajib di-follow.  Wajib jib jib. Maksa banget sih haha.
  8. Like fanpage sponsor GA ini Solatiket di https://facebook.com/solatiket dan akun twitternya di @Solatiket (wajib)
  9. Submit link (url) tulisan di komen postingan ini beserta nama dan akun twitter. Dan akan saya update berkala di “Daftar Peserta 1st Give Away”
  10. Share tulisan di media sosial twitter dengan mencantumkan Judul, link tulisan dan gunakan hashtag #1stGALinaSasmita mention ke akun saya @LinaWiati dan akun @Solatiket.


Hadiah:

Juara 1

Tiket Pesawat Citilink PP  Jakarta – Batam untuk 1 orang.
(bisa dipindahtangankan ke orang lain yang ditunjuk pemenang)


Juara 2

2 buah tas seharga Rp. 350.000 untuk ibu dan anak





Juara 3

1 buah Kaos Sepeda edisi terbatas dengan tema Kegiatan Srikandi Inspirasi Jilid V yang baru saja diselenggarakan di Sumbawa-Lombok -Bali pada tanggal 5 – 15 Juni 2015
 
Kaos Tampak Depan
Kaos Tampak Belakang


Juara 4(Favorit)

Juara Favorit mendapatkan sebuah buku antologi terbaru saya dkk yang berjudul 
“Backpacker Wannabe”



Mau kemana saja jika tiket PP Citilink Jakarta – Batam jika sampai di tanganmu? Buanyaaak

  1. Kamu bisa keliling pulau Batam menggunakan transportasi (angkot) angkutan kota dan bis-bis kota lainnya.
  2. Bisa mengunjungi pulau-pulau di sekitar Batam yang termasuk ke dalam wilayah hinterland. Jumlahnya lebih dari 300 pulau. Terutama kamu bisa mengunjungi Pulau Galang, Pulau bersejarah yang telah menjadi saksi bahwa Indonesia merupakan negara terdepan yang peduli terhadap isu-isu kemanusiaan. Salah satunya dengan menampung para pengungsi perang Vietnam selama lebih dari 10 tahun.
  3. Bosan di Batam kamu bisa mengunjungi kota Tanjung Pinang yang merupakan ibukota Provinsi Kepri yang berjarak 45 menit naik kapal Ferry. Banyak situs bersejarah peninggalan Kerajaan Riau Lingga di kawasan Tanjung Pinang. Misalnya menuju situs-situs di Pulau Penyengat yang hanya berjarak 10 menit dengan menaiki perahu motor.
  4. Atau kamu bisa mengunjungi Singapura yang hanya berjarak 45 menit dengan Kapal Ferry. Siapin Passport. cuma butuh ongkos sekitar 290 ribu Pulang Pergi Batam Singapura. Murah kaan?
  5. Atau kamu bisa menyebrang ke Malaysia menuju Johor Baru dengan waktu tempuh 2 jam menggunakan kapal Ferry cuma butuh ongkos kurang lebih  Rp.360.000 pulang pergi. 
Yuk Ikutan segera!

Friday, 19 June 2015

Perjalanan Menemukan Hostel di Singapura

Insiden di Kapal Ferry

Kapal Ferry Wave Master  jurusan Batam - Singapura yang kami tumpangi tiba-tiba saja berhenti di tengah laut. Saya, suami, dan penumpang lainnya saling berpandangan. Tentu saja bukan pandangan saling naksir melainkan pandangan karena keheranan. Chila, anak saya, langsung memberondong dengan bermacam pertanyaan.

Sunday, 14 June 2015

Fun and Fearless Female di Pulau Mubut Batam

Pulau Mubut
Pasir Putih Pulau Mubut Darat
Pulau Mubut terletak di kawasan Barelang – [Batam Rempang Galang]. Berada tepat di sisi timur Pulau Rempang dan dapat dijangkau dengan menggunakan perahu motor (pompong) dari desa terdekat di Pulau Rempang yakni Desa Sembulang.

Pulau Mubut terbagi menjadi dua pulau yakni Mubut Darat dan Mubut Laut. Pulau Mubut Laut dihuni oleh penduduk sedangkan Pulau Mubut Darat tidak ada penghuninya.

Saat itu saya dan ketiga teman jalan-jalan saya, Erni, Ipung, dan Melan menjatuhkan pilihan untuk mengunjungi Pulau Mubut Darat.  Alasannya karena pulau ini memiliki pantai dengan pasir putih yang lumayan panjang.

Kami berempat  memutuskan untuk tidak mengajak seorang pun laki-laki dalam petualangan kali ini. Selain ingin menguji adrenalin sebagai F3 alias Fun and Fearless Female, kami memang ingin terbiasa bepergian tanpa laki-laki. Bukan apa-apa sih, kalau saja kita cebur-ceburan mandi di air laut terus dipelototin laki-laki aduh rasanya gimana gitu. Yang pasti risih dan salah tingkah. Apalagi sebagian kami berjilbab.
           
Dari Batam kami menaiki bis Damri jurusan Sembulang. Bis Damri ini melayani rute Pasar Jodoh (di Pulau Batam) – Sembulang (di Pulau Rempang) dari pagi hingga sore menjelang maghrib saja, jadi kalau kemalaman siap-siap saja harus menginap karena sudah tidak ada lagi kendaraan.

Dari Sembulang kami menaiki perahu motor (pompong) ke Pulau Mubut darat dengan membayar 50 ribu rupiah untuk satu pompong. Setelah 15 menit yang menegangkan tetapi menyenangkan, kami tiba di Pulau Mubut. Erni lalu berbicara kepada tekong pompong untuk menjemput kami keesokan hari sekitar jam 10 atau jam 11 siang. Ia pun langsung menyetujuinya.         

Pemandangan pertama yang terlihat adalah hamparan pasir putih yang lembut dan bersih meliuk mengikuti garis pantai. Kami melompat-lompat saking senangnya. Jarang-jarang menginjakkan kaki di pasir selembut ini. Di Pulau Batam saja hanya sedikit pantai berpasir putih. Itupun telah banyak dikuasai oleh berbagai resort dan hotel berbintang. Nggak ada lagi yang gratisan seperti ini.

Garis Pantai Desa Sembulang
Kami segera mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Lalu didapati dua pohon kelapa  yang berjejer berhampiran. Dahan dan buahnya sudah hilang. Lumayan bisa buat mengikatkan tali tenda dan membuat jemuran baju. Ohya jangan mendirikan tenda tepat di bawah pohon kelapa yang ada buahnya ya teman, bisa-bisa tendanya kejatuhan kelapa. Tentu saja liburan bukannya menyenangkan malah menyakitkan karena kepala benjol-benjol tertimpa buah kelapa.hehe.

Setelah rapi mendirikan tenda tiba gilirannya mengisi perut yang mulai keroncongan. Menu makan siang sederhana saja, nasi bawa dari rumah ditambah udang goreng, telur dadar, sambal, dan lalapan. Namun karena makannya di tepi pantai, diiringi semilir angit laut yang melenakan, Alhamdulillah makan siang terasa nikmat sekali sehingga makanan-makanan itu pun ludes berpindah tempat ke perut kami. Sebagai hidangan penutup, Ipung memetikkan beberapa buah kelapa muda yang dengan mudah didapat dari pohon kelapa yang miring dan hampir roboh karena akarnya tergerus ombak.           

Di pulau ini tidak ada sumber air. Untuk keperluan masak kami membawa beberapa botol air mineral ukuran besar. Untuk keperluan sholat, kami wudhu menggunakan air laut. Sedangkan untuk buang air kecil menggunakan air laut dan tissue basah. Untuk buang air besar? Wuaah… kami tetap menjaga sedemikian rupa agar tidak buang air besar hingga keesokan harinya. Masih belum berani dan cukup ngeri buang hajat sembarangan.

Sore menjelang. Air laut mulai surut. Saya, Erni, dan Ipung berjalan menyusuri pantai yang mengering. Melan asyik membaca buku di depan tenda. Entah buku apa yang dibacanya karena kami terlalu sibuk mengamati berbagai hewan kecil yang melompat-lompat keluar dari dalam lumpur.

Ketika berjalan makin jauh ke tengah, kami dikagetkan dengan penemuan seekor kepiting berukuran besar. Yes, saatnya berburu. Saya, Erni, dan Ipung histeris mengejar-ngejar kepiting tersebut. Mencoba berbagai cara untuk menangkapnya. Sadar dalam bahaya si kepiting segera bersembunyi di balik batu. Kami pun terus memburunya. Namun si kepiting telah siap siaga dengan capitnya. Apapun yang kami pakai untuk menangkapnya segera ia cabik dan robek-robek. Keasyikan mengejar si kepiting besar, kami tidak menyadari ternyata di sekeliling telah bermunculan kepiting-kepiting lainnya. Datang entah dari mana. Lalu kami bertiga menyebar. Mencoba menangkap kepiting lainnya yang muncul dari berbagai arah. Namun tak satu pun berhasil. Huh payah, sepertinya harus merubah strategi supaya perburuan ini berhasil.
           
Setelah beberapa lama frustasi karena tidak berhasil juga, lalu kami berfikir ulang. Mencoba mengumpulkan ide-ide cemerlang dari ketiga kepala ini. Beberapa saat kemudian “Tiing…” sebuah ide dari kepala Ipung muncul. Ia segera melepas sendal yang dipakainya, lalu dengan sigap menjepitkan sepasang sendal ke seekor kepiting hingga tak berdaya. Ide yang cemerlang. Kami segera menirunya. Melepas sendal lalu mulai berburu kepiting yang muncul di sana sini. Sesekali menjerit dan berteriak karena takut tercapit. Beberapa saat kemudian satu kantong keresek penuh kepiting telah kami dapatkan. Hore!      
Setelah sholat Isya, kami asyik makan kepiting rebus hasil buruan tadi sore. Fresh from nature. Gratis lagi. Sungguh nikmat luar biasa. Di pasar harga kepiting lebih dari 35 ribu rupiah per kilogramnya. Sedangkan di pulau ini, hanya diperlukan keberanian dan sepasang sendal jepit saja untuk mendapatkannya. Ah, kali ini Saya benar-benar merasakan betapa kayanya Indonesia itu.

Pulau Mubut
Lilin-Lilin yang Kami Tanam di Bibir Pantai
Malam semakin larut, Kami berjalan dalam keremangan. Suara ombak yang pecah mendesah memecah kebisuan malam dengan ritme berubah-ubah. Seperti nada-nada dalam alunan musik klasik yang melompat-lompat dinamis. Bau khas laut menguar dalam kelembapan udara malam. Lampu nelayan berkelipan di tengah laut. Mencoba peruntungan. Menjemput rejeki dengan memamerkan cahaya lampu kepada sotong dan cumi-cumi yang penasaran. Sementara langit gelap sempurna, sehingga cahaya lampu semakin menarik hewan-hewan cephalopoda tersebut untuk mendatanginya.   

Waktu telah menunjukkan sekitar jam sebelas. Kami masih di luar tenda. Bercengkrama di tepi pantai. Berlarian sepuasnya. Berteriak sekencang-kencangnya. Melepas penat dan beban dalam fikiran. Mumpung tak ada orang lain yang  melihat dan mendengarkan. Hanya kami, berempat saja sahut-sahutan mengalahkan deburan ombak yang mulai pasang.


Puas berteriak-teriak kami kembali ke tenda mengambil setumpuk gelas plastik bekas air mineral dan beberapa bungkus lilin yang telah dipersiapkan dari rumah.Gelas-gelas plastik kami bolongi. Kemudian ditanam di pasir. Lilin-lilin kami nyalakan dan diletakkan di dalamnya sehingga  terlindung dari hembusan angin yang kencang atau terkena cipratan air laut. Gelas-gelas plastik dan lilin  disusun berjajar dengan jarak masing-masing sekitar satu meter. Posisinya mengikuti kontur pantai yang meliuk. Hasilnya wow... sungguh indah luar biasa. Cahayanya bagai bintang bertaburan, namun bukan di langit. Kali ini bintang jatuh berkelipan di tepi pantai.

Kami berempat berbaring di pasir putih diantara lilin-lilin itu. Hening. Memandang ke langit kelam, meresapi belaian angin, menyimak  bisikan ombak, dan mensyukuri keberadaan kami di sini, di pulau ini. Sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terjadi lagi di kemudian hari.

Lilin-lilin telah padam sedangkan lampu-lampu nelayan masih menyala di kejauhan. Kami beralih masuk ke tenda. Tertidur lelap dalam kehangatan malam yang nyaman. Menyemai mimpi bersama hembusan angin dan deburan ombak yang kian pasang.

Suara Adzan subuh lamat-lamat terdengar. Matahari perlahan merayapi batas laut dan langit. Burung-burung camar mulai melayang-layang. Pagi menjelang.

Setelah sholat subuh, beres-beres, masak, dan sarapan, Saya dan Ipung menceburkan diri ke air laut yang hangat. Erni menyusul kemudian. Melan lagi-lagi tidak ikut dalam kehebohan kami bertiga.

Pulau Mubut
Tiga Cahaya Lilin
Puas berenang, kami segera berkemas. Memberesi semua peralatan dan perlengkapan. Mengepak barang-barang ke dalam daypack sambil menunggu pompong yang akan menjemput. Namun jam demi jam telah terlewati. Matahari sudah meninggi. Si penjemput belum juga datang. Kami semua menjadi panik. Bagaimana kalau pompong tidak datang. Akankah kami terdampar di pulau ini?

Sudah lelah menunggu. Di kejauhan, di tengah laut  tampak seorang nelayan sedang asyik mengikat jala ke tonggak-tonggak kayu yang telah terpasang. Kami berteriak-teriak memanggilnya. Namun ia tak mendengarnya. Suara kami kalah keras dengan deburan ombak. Tak habis tenaga, kami terus berteriak lagi hingga lelah mulai terasa. Tidak juga berhasil. Bruk... Saya dan Ipung menghempaskan diri ke pasir. Huhuhu... kami terdampar di pulau ini. Wajah Saya memucat. Beberapa saat, kami mencoba berteriak lagi. Inilah usaha terakhir kami.


"Paaaaakkk.......tolooooong!"  Teriak kami bersamaan. Si Nelayan akhirnya menoleh. Lalu mengarahkan pompongnya  ke arah kami. Alhamdulillah, Finally kami tidak jadi terdampar di Pulau Mubut.

-----

Update Terbaru (Desember 2015)

- Ongkos dari Sembulang ke Pulau Mubut Pulang Pergi Rp: 20.000 per orang

- Transportasi perahu motor/Pompong yang bisa dihubungi silahkan telpon Pak Dorman warga Pulau  Mubut Laut di Nomor 0812 7782529 

Friday, 12 June 2015

Tersihir Pesona Lembah Kasih Mandalawangi, Gunung Pangrango

Senja baru saja jatuh di lembah ini,  Lembah Mandalawangi. Lembah para kekasih yang saling mengikat janji. Yang mengurai kata dalam tatap mata. Yang berkalung rindu pada suasana sendu yang syahdu. Meski tak terucap sehidup semati, ia senantiasa bersemi, sehati, sebati. Di lembah, dimana hamparan edelweis laksana permadani alami.

Lembah ini, Lembah Mandalawangi. Tempat lahirnya puisi-puisi indah So Hok Gie. Sang Demonstran yang selalu lebur dalam kekosongan langit Pangrango. Di ruang lapang yang berbatas jurang-jurang, yang hanya berpagarkan edelweis yang merumpun dan bermekaran. Hingga saat dimana ia lebur. Abunya ditabur, di sini, di lembah ini, Lembah Mandalawangi.

Aku terpekur, penuh syukur. Menikmati secuil senja yang istimewa dengan seseorang yang istimewa. Yang hadir tepat di saat-saat jiwa hampa dan dahaga. Di saat rindu hendak melempar sauh,  berkayuh dan mencari tempat berlabuh. Bersamanya, di lembah ini, aku mengawali cerita hidup masa depan. Menggenggam harapan dalam liku kehidupan. Bersamanya menikmati Lembah Mandalawangi yang indah dan sepi.



Mandalawangi - Pangrango
(So Hok Gie)

Senja ini, ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu
aku datang kembali
ke dalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali dan bicara padaku tentang kehampaan semua

"hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya 
tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
terimalah dan hadapilah"

dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas hutan-hutanmu
melampaui batas jurang-jurangmu

Aku cinta padamu Pangrango,
karena aku cinta pada keberanian hidup



Pagi pun menyapa. Embun-embun berkilatan di kuncup-kuncup edelweis. Sinar mentari laksana menari mengiringi pagi. Kembali, bersamanya aku dan dia menikmati hawa dingin Pangrango yang menggigilkan. Sambil menyesap secangkir teh hangat yang menyegarkan.



Dalam dekapan Pangrango yang sepi, aku larut, terhanyut pada lembar-lembar buku. Menyerap ilmu sambil terus mencari arti. Arti akan perjalanan yang akan dihadapi. Kini, aku tahu, aku tak sendiri, bersamanya akan menjalani jalan panjang menuju masa depan yang penuh pengharapan.


(Kenangan di Lembah Mandalawangi pada Juni 2007 beberapa hari setelah pernikahan :D)



Wednesday, 10 June 2015

Mengunjungi Penangkaran Lumba-Lumba di Pulau Mencaras Batam

"Menunjukkan sirkus lumba-lumba pada anak, sama dengan mengajarkan bahwa peran lumba-lumba adalah menghibur manusia. #SaveDolphin." - @NGIndonesia

"Jika anda ingin menyelamatkan lumba-lumba keluarkan mereka dari aquarium, lepaskan mereka di alamnya. #SaveDolphin." - @NGIndonesia


Pulau Mencaras
Dua Lumba-Lumba Pulau Mencaras

Menyaksikan lumba-lumba berenang dari dekat tentu menjadi kesenangan tersendiri bagi siapa pun. Bahkan di sea world, aquarium raksasa serta sirkus keliling sekali pun masyarakat kerap berbondong-bondong demi menyaksikan aksi hewan terpintar di dunia ini. Tidak hanya anak-anak bahkan orang dewasa sekali pun sangat tertarik untuk menyaksikannya. Begitupun dengan kami sekeluarga.

Rupanya tidak banyak orang yang tahu bahwa di pulau kecil sekitar Batam, yakni di Pulau Mencaras, terdapat penangkaran lumba-lumba yang dikelola oleh sebuah perusahaan bernama PT. Piayu Samudra Loka (PSL). Perusahaan yang berpusat di Nagoya Batam ini sudah cukup lama beroperasi dan mengantongi izin Lembaga Konservasi dari Kementrian Kehutanan dengan nomor 379/Kpts-II/1999 (setidaknya itu yang saya baca di website Indonesia Zoo & Aquarium Association). PT. PSL berdiri pada tahun 1998 dan sembilan tahun kemudian membuka cabang di Bali.

Pulau Mencaras sendiri merupakan sebuah pulau yang tidak berpenduduk yang berada di kawasan hinterland Batam. Letak geografisnya berada di sisi tenggara Pulau Batam berdekatan dengan gugusan Pulau Air Raja, Kubong, dan Subang Mas.

Pulau Mencaras hanya dihuni oleh dua orang penjaga pulau yang tinggal di sebuah rumah permanen. Berdekatan dengan rumah penjaga pulau terdapat rumah-rumah pondokan yang sudah tidak dipakai lagi yang dulu sering dipakai warga Singapura untuk berlibur.

Pantai di Pulau Mencaras

Pulau ini semakin dikenal gara-gara tereksposnya lokasi penangkaran lumba-lumba melalui sosial media. Terlebih lagi pada event Creating Wonderful Kepri, sebuah ajang promosi wisata di Kepulauan Riau, mengadakan lomba dengan kategori Tour Pattern Competition (ajang kompetisi menciptakan paket wisata baru dengan memanfaatkan potensi lokal) dan salah satu paket tur dari pemenangnya adalah paket wisata dengan tujuan Pulau Mencaras dan Air Raja.

Saya, keluarga beserta beberapa teman dari Komunitas Anak Pulau (yang juga bagian dari grup facebook Batam Traveler) sengaja mengunjungi pulau ini karena ketertarikan terhadap penangkaran lumba-lumba. Apalagi saya mempunyai anak kecil yang sangat penasaran bertemu lumba-lumba lagi. Dulu saja bela-belain datang ke Sea World Pulau Sentosa Singapura demi menyaksikan Pink Dolphin, dua ekor lumba-lumba albino yang kulitnya berwarna merah muda. Apalagi ke Pulau Mencaras yang hanya sepelemparan batu saja dari Telaga Punggur. Demi melihat anak senang sebisa mungkin akan kami penuhi keinginannya.

Kolam Lumba-lumba yang mirip keramba ikan

Dengan tanpa beban kami berangkat dan janji bertemu di pelabuhan tradisional dekat Pelabuhan Telaga Punggur, Batam. Sempat tunggu-tungguan karena saya lupa dimana persisnya. Terakhir menggunakan pelabuhan ini tahun 2004 sepulang kemping dari Pulau Anak Lobam. Pulang dengan pucat pasi karena gelombang tinggi. Pompong (perahu motor) yang kami tumpangi terseret mengikuti ombak hingga memaksa kami singgah di Pulau Ngenang. Menempuh waktu sekitar 2 jam hanya untuk mencapai Telaga Punggur.

Baca juga cerita perjalanan saya tentang Pulau Karas.

15 menit kemudian saya dan teman-teman Anak Pulau telah berkumpul. Ternyata Pelabuhan tradisional yang saya maksud adalah Pelabuhan Kampung Tua Telaga Punggur. Setelah mencari tempat parkir (membayar Rp. 5000,- per motor) kami menyewa pompong seharga Rp. 300.000 pulang pergi pada Pak Herman, nelayan yang rumahnya berada di tepi Pelabuhan Kampung Tua.

Semula Pak Herman ragu, apakah akan diberi izin masuk ke pulau atau tidak oleh penjaganya. Namun teman-teman saya meyakinkan bisa karena minggu sebelumnya rekan kami dari Komunitas Anak Pulau diperbolehkan masuk dan berfoto-foto di penangkaran lumba-lumba.


Menyentuh Pulau Mencaras

Hammock-an bikin ngantuk, diayun chila tambah lagi ngantuknya :D

Angin semilir menyambut saat kami menginjakkan kaki di pasir putih yang lembut. Pohon-pohon rindang disertai bangku-bangku panjang begitu menggoda untuk segera kami datangi. Hammock dari jaring menggelantung di dahan, menanti untuk digelayuti. 

Saya segera beranjak menuju rumah penjaga pulau untuk meminta izin. Namun sayang sekali kami hanya diberi waktu selama 2 jam saja.

Di dekat pantai terdapat sebuah kolam yang berisi dua ekor lumba-lumba yang diberi nama Nikita dan Nairus. Pada sebuah papan yang terpasang di tepi pantai tertulis beberapa peraturan bagi pengunjung pulau, salah satunya adalah tidak boleh menyentuh lumba-lumba.

Chila, anak saya, yang sudah penasaran dari kemarin-kemarin, sepertinya sudah tak sabar ingin segera melihat lumba-lumba. Saat saya dan teman-teman asyik berfoto-foto di pantai, Chila berjalan sendirian menyusuri pelantar menuju kolam. Penjaga yang mengawasi dari pintu rumah terlihat panik lalu berjalan sambil menunjuk-nunjuk Chila. Ia khawatir Chila tercebur ke kolam lumba-lumba karena tidak ada yang mengawasi. Saya yang menangkap kekhawatiran penjaga langsung mengikuti Chila, dan voilaa.... dua ekor lumba-lumba  berenang mendekati kami. Berdiri, berputar-putar, menyelam, mengepakkan ekor dan mencipratkan air ke arah kami. Duh lucu dan pintar-pintar. Pantas saja mamalia ini disebut sebagai hewan terpintar di dunia. 

Chila terlihat sangat senang. Saya pun tak kalah riang. Duh seumur-umur baru kali ini menyaksikan lumba-lumba dengan jarak kurang dari 1 meter.

Pulau Mencaras
Pelantar menuju Pulau Mencaras

Suasana makin riuh saat semua rekan-rekan saya mendekat. Nikita dan Nairus makin lincah dan mencari perhatian. Kami yang saat itu belum mengetahui nama keduanya saling bersahut-sahutan memanggil mereka dengan sebutan macam-macam. 

Choty, Chahaya, dan Rina sahut-sahutan memanggil dua ekor lumba-lumba itu dengan sebutan sesukanya. Ada yang berteriak memanggil Cinta, Rangga, Raisa dan Raiso haha. Semua asyik mengabadikan kelincahan keduanya tanpa ada perasaan terbebani sedikit pun.

Ngerumpi adalah menu utama siang-siang :D

Anak Pulau dan Anak Rantau :D

Saya begitu terkenang akan kedua lumba-lumba ini. Betapa pintar dan mengertinya mereka. Berenang mendekat, berputar, berdiri dan bermanuver dengan memiringkan badannya sambil berenang menyamping. 

Dan yang lebih surprise lagi  datang seekor lumba-lumba lainnya berputar berenang di luar jaring kolam. Mungkin dia datang karena dipanggil atau terpanggil untuk menyelamatkan kawan-kawannya di dalam kolam.

Nikita dan Nairus dengan segala perilakunya, entah pesan  apa yang ingin mereka sampaikan. Karena setelah kepulangan kami ke rumah, sebuah pesan masuk ke inbox. Pesan dari seorang aktifis menyentak kesadaran saya sebagai makhluk sosial. Ia juga menyentil dalam komentarnya di foto lumba-lumba yang saya unggah di media sosial. Foto itu menceritakan Chila yang sedang bertepuk tangan karena lumba-lumbanya bisa berdiri.


Hwaaaa.....sungguh saya merasa tidak enak. Seperti tertampar rasanya. #Plak #Plak #Plak. Kemana saja sih gue selama ini? 

Akhirnya saya googling tentang gerakan kampanye #SaveDolphin dan mendapat pencerahan tentang ini. Thanks Mbah Google. 

Kampanye penyelamatan lumba-lumba tidak terlepas dari seseorang bernama Richard O' Berry mantan pelatih lumba-lumba yang 180 derajat berubah haluan menjadi pembela lumba-lumba dengan kampanyenya tentang pelepasan lumba-lumba di penangkaran dan penghapusan sirkus keliling.

Pada tahun 2013 Ric O' Berry pernah datang ke Jakarta untuk memberi dukungan penuh kepada Jakarta Animal Aid Network (JAAN), sebuah organisasi yang giat mengkampanyekan gerakan penyelamatan lumba-lumba. Bahkan sebelum itu telah terjadi MoU antara Departemen Kehutahan dengan JAAN untuk melindungi, merehabilitasi, dan melepas lumba-lumba yang ditangkap dan dipelihara secara ilegal di Indonesia.

usaha yang luar biasa karena Ric O' Berry harus berhadapan dengan korporasi-korporasi yang tentu saja merasa dirugikan dengan gerakan dan kampanyenya ini. Saya pun terhenyak setelah menonton film dokumenter The Cove yang dibintangi Ric O'Berry yang menceritakan pembantaian lumba-lumba di Taiji Jepang. Saat pembantaian terjadi air laut pun berubah berwarna merah. Merah oleh darah ratusan lumba-lumba.

Pemandangan ke tengah Pulau Mencaras

Apakah penangkaran lumba-lumba di Pulau Mencaras ilegal?  Saya tidak tahu. Seperti yang sudah saya tulis di paragraf kedua perusahaan yang mengelola pulau ini memiliki izin dari pemerintah. Namun bagai pisau bermata dua, penangkaran seperti ini baik legal maupun ilegal tetap saja akan mengakibatkan hal buruk bagi lumba-lumba sang penjelajah lautan karena didera depresi.

Tujuan penangkaran adalah untuk menjaga keberlangsungan hewan agar tidak punah dengan salah satu upayanya yakni pengembangbiakan. Namun jangan sampai penangkaran dijadikan kesempatan untuk mempekerjakan lumba-lumba ke dalam lingkaran hewan sirkus.

Pulau Mencaras
Sisi lainnya

Langkah paling bijak tentunya adalah melepas lumba-lumba ke lautan. Mereka sungguh tidak memerlukan uluran tangan manusia jika sudah berada di habitatnya. Ia akan berenang jauh, mencari makan, melindungi diri dan menjelajah bersama kelompoknya. Mereka akan hidup alami tanpa campur tangan manusia.

Jadi, masihkan anda berkeinginan menonton lumba-lumba di sirkus?


#SaveDolphin



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...