Monday, 2 December 2013

Menjajal Wall Climbing di Singapura

Wall  Climbing Carnaval Mall (Sudah gak ada)
Seumur hidup saya yang paling membuat degdegan saking excited dan semangat sehingga menderasnya adrenalin ke sekujur tubuh adalah saat mendaki gunung, manjat wall climbing, belajar main gitar, dan pada akhirnya bertemu mantan pacar yang sekarang sudah jadi suami :D

Tahun 2002 pertama kali menginjakkan kaki di negeri Singa, saya melewati sebuah wall climbing yang keren. Beberapa pemanjat sedang asyik beraksi di wall itu. Asli bikin jantung dag dig dug saking senangnya. Hasrat manjat meledak-ledak tapi sayang waktu saya di sana sangat sempit. Saya harus pulang hari itu juga karena tidak ada rencana menginap. Hanya sekilas menonton saja.


Tahun 2003 Saya sedang main-main ke Batam Centre, dan di samping sebuah mall yang sekarang sudah tutup, Carnaval Mall, berdiri sebuah wall climbing setinggi kurang lebih 15 meter. Wuaah... langsung excited gak mau pulang. Menonton sampai malam menjelang.

AUDISI BACKPACKER WANNABE



Backpacker, sebutan yang belakangan ini begitu populer, seksi dan menjual semenjak bermunculannya buku-buku bertema travelling hingga disusul kemudian selebriti di dunia travelling seperti Trinity, Agustinus Wibowo, Takdis dan masih banyak lagi lainnya.
Yaa, saat ini dunia travelling memang tengah menjadi sorotan sehingga banyak orang yang kemudian latah melakukan perjalanan dan kemudian dengan bangga menyebut dirinya backpacker.
Saya sendiri memendam impian untuk menjadi seorang backpacker namun karena satu dua kendala sehingga belum bisa mewujudkan impian tersebut. Saya pernah melakukan beberapa travelling baik sendiri maupun rombongan namun saya merasa belum pantas menyebut diri ini sebagai backpacker. Namun keinginan untuk berbagi pengalaman dalam perjalanan saya itu terus-menerus mendorong saya untuk suatu saat menerbitkan buku bertema travelling.

Nah, saya merasa sekarang ini saatnya yang tepat bagi saya untuk mewujudkan impian tersebut. Karena saya merasa belum pantas disebut backpacker namun buku ini nanti bertema travelling maka saya memberi proyek antologi saya kali ini:

AUDISI BACKPACKER WANNABE

Bagi kamu yang merasa sebagai Backpacker Wannabe saya mengajakmu untuk ikut berpartisipasi dalam proyek antologi ini. Beberapa sub tema yang bisa kamu tulis dalam antologi ini antara lain:
  1. Backpacker pertama kali. Ceritain perjalanan pertamamu, mulai dari persiapannya yang heboh hingga hal-hal tak terduga yang terjadi dikarenakan persiapan dan pengetahuanmu yang masih minim.
  2. Backpacker Terkonyol/Terseru. Ceritain perjalananmu yang konyol atau seru banget sehingga masih kamu ingat sampai sekarang. Karena ini pengalaman yang konyol dan seru maka tulis pengalamanmu itu dengan selucu mungkin.
  3. Backpacker Ternekat. Ceritain perjalananmu yang terasa begitu nekat, entah karena lokasinya yang sangat jauh, persiapan atau budget yang sangat minim. Jangan lupa ceritain juga cara kamu mengatasi semua masalah yang terjadi karena kenekatanmu itu.
Untuk mengikuti audisi menulis BACKPACKER WANNABE  syaratnya mudah sekali.
Syarat Peserta:
  1. Pria atau Wanita berumur minimal 13 tahun.
  2. Berteman dengan Mozaik Indie Publisher dan Ihwan Hariyanto di FB.
  3. Like Fanpage Mozaik Indie Publisher atau follow twitter kami: @mozaikindie.
  4. Sebarluaskan info event ini melalui dua cara yang bisa kamu pilih:
Jika lewat note FB, maka kamu harus mentag minimal 20 teman dan akun FB Mozaik Indie Publisher dan Ihwan Hariyanto.

Jika lewat blog, maka kamu harus publish blogmu di twitter dengan format: Lomba #BackpackerWannabe [link blogmu] mention: @mozaikindie dan minim 5 orang temanmu.

Lalu untuk ketentuan naskahnya sebagai berikut:
  1. Naskah harus pengalamanmu sendiri, jadi ini audisi menulis NON FIKSI.
  2. Naskah ditulis dengan gaya yang popular dan menarik.
  3. Belum pernah dipublikasikan di media apapun, baik online maupun offline.
  4. Panjang naskah antara 4-6 halaman. Diketik di kertas A4, huruf TNR 12, spasi 1,5 dan margin 3 cm tiap sisinya. Kirim naskah ke: audisibackpackerwannabe@yahoo.com dengan judul email: BW-Judul Naskah
  5. Kamu boleh menambahkan foto bacpackermu yang narsis, lucu dan unyu. Maksimal 2 saja ya he3
Jangan lupa sertakan juga biodata naratif Anda maksimal 100 kata di akhir naskah. Semua berkas tersebut dilampirkan di attachment, jangan di badan email.
Naskah diterima paling lambat 04 Desember 2013.

Meskipun ini hanya audisi namun kami menyediakan gift bagi 3 naskah terbaik:
Naskah Terbaik 1: IC Safety Belt dan Multifunction Pocket
Naskah Terbaik 2: Multifunction Pocket dan Tissue Pocket
Naskah Terbaik 3: Multifunction Pocket
Lalu untuk 25 naskah terbaik akan dibukukan dengan naskah Ihwan Hariyanto.  Karena ini diterbitkan secara indie, maka kontributor tidak akan diberikan royalti namun akan mendapatkan diskon 20 persen jika membeli bukunya sendiri.

Jika naskah-naskah yang terpilih mempunyai nilai jual yang tinggi maka akan kami coba ajukan ke investor untuk diterbitkan secara major dan tentunya semua kontributor akan mendapatkan royalti. Oleh karena itu keluarkan kemampuan terbaikmu yaa!!

Please, feel free to copy paste and share to everyone!

Salam Travelling

Friday, 22 November 2013

Jadi Tour Guide Keluarga ke Singapura

Tanggal 31Oktober sampai  4 November 2013 kemarin, saya mengantar adik dan sepupu dari Bandung jalan-jalan ke Singapura. Sebenarnya agak malas juga sewaktu berangkat itu, tapi rasanya gak tega kalau semisal mereka nyasar-nyasar di negeri orang tanpa tujuan. Saya juga sebenarnya yang harus bertanggung jawab kalau mereka kenapa-kenapa. Toh memang saya yang menjerumuskan mereka untuk berangkat.
di Marina Bay

Saturday, 16 November 2013

Blusukan di Acara Lomba Lintas Bukit Cumfire 2013

Endi, sahabat yang saya kenal semenjak tahun 1999, mengajak saya untuk ikutan acara Lomba Lintas Bukit yang diadakan oleh komunitas Pecinta Alam Cumfire Batam. Dulu kami sering menjadi panitia acara ini. Nah sekarang ketika sudah nggak aktif lagi di komunitas ini rasa-rasanya perlu juga mencoba jadi peserta. Syaratnya hanya membayar uang pendaftaran 60 ribu rupiah per tim dengan anggota tim berjumlah 3 orang. Jadi Endi dan saya pun sibuk mencari siapa orang ketiga yang akan ikut dengan kami.

Friday, 8 November 2013

Why? Because it's November!

Hanging Out Bareng Adik
Yes, November sudah tiba walau sebenarnya terlambat posting di tanggal 7 ini :D pengennya posting di awal November sekalian buat give away gitu. Tapi kemaren itu saya lagi kelayapan ke Singapura nemenin adik dan sepupu dari Bandung yang sengaja saya traktir jalan-jalan ke sana. Alhamdulillah bisa nyenengin mereka gara-gara dapat tiket promo Air Asia seharga 180 ribu Bandung-Singapura. Jadi sayang kalau nggak diambil. Tiket segitu terbilang murah lah. Kebetulan juga, ini sih hitung-hitung ucapan selamat buat adikku yang lulus masuk Perguruan Tinggi Negeri di Bandung, yaitu UPI setelah berjibaku ikut berbagai macam tes di PTN lainnya. Untung tidak putus asa padahal sudah 7 kali gagal tes. #salut banget sama perjuangan adikku yang satu ini.

Back to topic. Give away! ya pengen banget ngadain Give Away di bulan November ini. Pasalnya ini adalah bulan kelahiran saya yang sebenarnya. Loh emang ada gitu yang palsu? Iya ada sih.Tanggal lahir saya di KTP tertulis tanggal 16 Juni padahal sebenarnya saya lahir 2 November. Ini sih gara-gara dulu pas masuk SD kudu pas umur 7 tahun, eh jadinya malah umur saya dikorting 5 bulan ke depan.

My Lovely Brother
Berhubung dah terlewat ya sudahlah, give away-nya lain waktu aja kali ya. Namun ketika awal-awal buat blog ini, pertama kali pindah rumah dari Multiply ke Blogspot sini, saya sempet berjanji dalam hati bahwa siapa pun yang jadi follower pertama dan kedua bakal saya kasih kenang-kenangan alias oleh-oleh dari Batam. Bentuknya bisa apa aja deh tergantung pas saya lagi nyari pas dapat. Ya yang penting keren deh kalau untuk ukuran oleh-oleh atau kenang-kenangan mah.

Siapakah Follower pertama dan kedua saya itu? Yang pertama adalah Sindy Shaen (@sinshaen) walau sekarang Sindy ini udah nggak jadi follower saya lagi, entah kenapa hikss...:( dan yang kedua Nduk Ila Rizky Nidiana (@ila_Rizky) Ah taulah semua sama si Nduk imut, baik, pinter dan tidak sombong ini.

Nah jadi kalau Ila sama Sindy bertanya-tanya kenapa? Ya karena hal di atas tadi. Tidak ada alasan lain. Semata-mata karena saya sudah berjanji dalam hati. Nah namanya janji kudu ditepati bukan? Tunggu saja paketannya kurleb 1 minggu ke depan yaaa...paling telat Insya Allah akhir November udah nyampe rumah masing-masing kecuali pake alamat rumah temen kayak Sindy :D


Wednesday, 6 November 2013

Slim Aspire E1, Laptop yang Multifungsi untuk Bekerja dan Bermain Bersama Keluarga

Saya seorang yang mobile dalam bekerja. Tidak melulu duduk manis di depan komputer atau laptop. Terkadang harus ganti ruangan dari ruangan satu ke ruangan lain. Darei satu sub/section ke section lainnya. Bahkan sering pula ganti gedung.

Posisi saya menuntut untuk lebih mengawasi qualitas dan produktivitas para karyawan perusahaan. Setelah itu melaporkannya kepada pihak manajemen secara rutin setiap hari. Namun seringkali laporan yang penuh dengan data, gambar-gambar juga foto kebanyakan tidak terekam dengan baik karena kebanyakan komputer yang digunakan masih pentium 3 dan 4. Dan software yang tertanam di dalamnya sangat terbatas. Sedangkan banyak laporan yang membutuhkan bahan pendukung seperti teknik grafis dengan performa yang tinggi.

Seringkali saya membawa laptop sendiri ke tempat kerja. Syukurnya perusahaan tidak melarang. Namun kerap juga saya mempunyai masalah dengan beberapa tas yang kekecilan. Sedangkan barang-barang yang saya bawa ke tempat kerja ternyata seabrek. Tidak hanya laptop saja namun bekal untuk makan siang, buku, mukena, book note, serta perlengkapan kerja lainnya. Kalau sudah begini seringnya laptop yang mengalah. Seandainya saja laptop saya lebih tipis mungkin tetap masih bisa terbawa ke tepat kerja.

Kadang berandai-andai juga kalau saja saya punya laptop Acer Aspire E1-432 yang lebih tipis 30% dibanding laptop lainnya, mungkin kinerja saya bisa lebih maksimal. Sudah gitu karena ketebalan hanya sekitar 25.3 mm saja maka mudah dibawa kemana-mana. Masuk tas pun tidak membutuhkan banyak ruang. Sedangkan beratnya ya pasti lebih ringan dibanding laptop lain sekelasnya. Hanya sekitar 2,1 kg. Lebih ringan dibanding bayi baru lahir kan? Hehe...

Nah siapa sih yang nggak ingin tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya?Tentu hampir semua dari kita para emak baik yang bekerja di luar maupun di rumah banyak yang menginginkannya. Ah ya para bapak juga tentu malah lebih keren lagi kalau menggunakan notebook slim ini. Lihat deh tampilannya yang elegan menambah percaya diri bagi si pemiliknya.
 
Pilihan warnanya elegan. Foto dari sini

Selain untuk bekerja, notebook Acer Aspire E1-432 juga bisa digunakan untuk bermain game di rumah bersama anggota keluarga.Apalagi si Chila anak saya, suka sekali main game-game tentang merawat bayi. Maklum dia kepengen cepat-cepat punya adik :D 

Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan olehKumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.

Thursday, 31 October 2013

Antara Body Slim dan Notebook Slim


Hei Mak, ngaku deh pasti semuanya pada kepengen punya tubuh yang ideal kaaan? Kalau disuruh nyebutin apa sih ciri-ciri tubuh ideal itu, saya sih haqqul yakin emak-emak bakalan serentak serempak bak paduan suara, salah satunya pasti nyebutin kata  “Langsiiiing…,” kalau di iklan-iklan televisi sih seringnya disebut dengan kata “slim.”

Thursday, 24 October 2013

Travel Blogger Harus Punya Notebook ini

Saya seorang pecinta traveling. Terutama menyukai aktifitas traveling yang beraroma petualangan alam seperti mendaki gunung, menjelajah hutan, menyebrangi laut, atau mengunjungi pulau-pulau kosong, dan menyusuri pantai, goa, serta kegiatan yang memacu dan memicu adrenalin lainnya. Walau tidak dipungkiri saya juga sebenarnya menyukai traveling ke tempat-tempat wisata umum yang turistik seperti Bali dan Singapura, namun tetap saja kegiatan petualangan ke alam bebas menempati urutan pertama dalam daftar  most wanted activity dalam hidup saya :D

Wednesday, 9 October 2013

Khatib, Mengunjungi Sisi Lain Singapura

Tak disangka ketika  jalan-jalan ke Singapura saya mendapat bonus bertemu teman yang lebih dari 13 tahun kehilangan kontak. Teman satu rekrutan dari Garut dan Tasikmalaya pada perusahaan tempat saya bekerja sekarang.


Menuju Rumah Ronida
Endah dan Ronida. Mereka adalah dua orang teman yang saya maksud. Mereka telah lama bermukim di Singapura mengikuti jejak para suami yang orang asli sana. Endah tinggal di Toa Payoh sedangkan Ronida di Khatib. Karena waktu yang tidak memungkinkan untuk mengunjungi kedua lokasi tersebut maka saya dan Endah sepakat untuk bersama-sama bertemu di rumah Ronida.


Bertemu dengan mereka adalah hal yang paling membuat saya bersemangat pagi itu. Maka setelah sarapan, saya bersama suami dan Chila meninggalkan hostel dengan menaiki bis menuju Stasiun MRT City Hall. Dari stasiun ini kami menaiki MRT yang berada di jalur merah dengan kode jalur NS (North South). Jalur ini menghubungkan wilayah-wilayah Singapura dari utara ke selatan.

Di stasiun Toa Payoh kami turun untuk menunggu Endah.10 menit kemudian Endah muncul beserta anaknya, Lingling yang berwajah oriental. Saya cukup terkejut karena sedikit pun si Lingling ini tidak mirip emaknya. Gen Bapaknya sepertinya tumpah ruah sangat dominan menguasai 99,99 persen tubuhnya.Tak lama setelah pertemuan itu kami melanjutkan naik MRT menuju ke kawasan Khatib. Tidak perlu berganti jalur karena Khatib berada di jalur yang sama dengan Toa Payoh. 
Perumahan tempat tinggal Ronida

Tempat Ronida ternyata tak begitu jauh dari Stasiun Khatib. Hanya berjalan sekitar 10 menit kami sudah tiba di rumahnya. Eh jangan dikira rumah di Singapura seperti rata-rata bentuk rumah di Indonesia yang beratap genting dengan bangunan bertingkat satu atau dua.Tidak. Rumah tinggal di sini ternyata mirip apartemen atau memang sebenarnya apartemen. Kata Endah, hanya orang kaya yang luar biasa kaya saja yang mampu mempunyai rumah sendiri tanpa diembel-embeli bangunan lain. Ya maklumlah karena Singapura termasuk negara kecil jadi pembangunan perumahan, mal dan lainnya sangat menghemat lahan. Pembangunan banyak dilakukan dengan cara membangun ke atas bukan ke samping. Hehe jadi berasa iklan susu remaja "Tumbuh itu ke atas bukan ke samping :D"
Kami bertiga dan para krucil

Saat itu saya masih berasa seperti mimpi. Duh 13 tahun tidak bertemu membuat kerinduan itu seperti meledak seketika itu juga. Alhasil kami bertiga bak anak kecil. Ketawa-ketiwi, ngalor-ngidul membicarakan segala hal tentang masa lalu sampai-sampai suami dan anak-anak pun kami cuekin. Untung saja mereka mafhum. Suami saya hanya duduk sambil baca-baca sedangkan anak-anak sibuk bermain walau sekali-kali Sammy dan Sasa anak-anaknya Ronida mengadu tentang kenakalan Lingling yang teramat usil dan "very-very Naughty" katanya. Sedangkan suami Ronida idak ada di rumah karena bekerja di Dubai Uni Emirat Arab.

Bayangkan begitu banyak cerita yang tak pernah kami rumpikan selama 13 tahun ini. Ah bahagianya bertemu teman lama. Mengalahkan bahagianya bisa jalan-jalan kemana pun.

Siangnya kami mengajak anak-anak bermain di taman air di Seletar Reservoir yang tak jauh dari situ. Taman air yang khusus disediakan bagi anak-anak. Ada kolam-kolam air yang dangkal, air mancur yang bisa disetting besar kecilnya juga pancuran serta shower air yang mirip payung. Asyiknya lagi semua itu gratis. Anak bayi yang sudah bisa duduk usia 7-8 bulan saja sudah dapat menggunakan fasilitas ini. Tentunya dengan didampingi orang tuanya. Dan serunya lagi fasilitas publik semacam ini tersebar di seluruh kompleks perumahan dan pusat perbelanjaan di Singapura.

Chila dan Sasa



Salut sekali. Pembangunan di negara ini ternyata sangat pro kepada anak-anak. Ah gimana nggak pro, laah... bayi yang baru dilahirkan saja mendapat tunjangan langsung kurang lebih 2000 dollar Sing Woow. Dan melahirkan anak kedua serta ketiga tunjangannya lebih besar lagi dibandingkan anak pertama. Ini terbukti pada Ronida. Dia bilang anak ketiganya mendapat tunjangan lebih besar dibanding Sammy dan Sasa kakak-kakaknya.

Wah bayangkan kalau tunjangan itu berlaku di negara kita ya? :D Apa nggak berlomba-lomba kita ingin punya anak banyak.

Sorenya kami pamit, seandainya cukup waktu tentu saja ingin berlama-lama di sana. Namun masih banyak tempat lainnya yang ingin kami kunjungi termasuk Pulau Sentosa.

Wednesday, 25 September 2013

[DearDaughter] Dalam 4 Tahun Kebersamaan

Saat genap usia 3 tahun
Dear Chila, tanpa terasa waktu terus saja berlalu. Ayah dan Bunda masih saja sering terkaget-kaget menyaksikan perubahan-perubahan yang terjadi pada diri kamu baik secara fisik maupun mental. Perubahan seorang bayi mungil yang tumbuh kembang menjadi seorang anak kecil yang imut, pintar, lincah, dan ceria.

Dulu ayah bunda harap-harap cemas karena hampir 1 tahun lebih setelah pernikahan, belum juga diberi amanah oleh Allah SWT untuk mempunyai momongan. Namun di tahun kedua, Alhamdulillah Bunda hamil. Sungguh, mengetahui kehamilan pertama itu adalah hal yang sangat luar biasa. Berbagai rasa campur aduk di sana. Bahagia, cemas, waswas, takut, excited dan perasaan-perasaan lainnya.

Semenjak dalam kandungan, kamu memang baik sekali. Hanya di trimester pertama usia kehamilan saja yang sedikit membuat bunda mabuk kepayahan. Tapi itu wajar, hampir semua ibu-ibu mengalaminya. Jadi ketika gejala morning sickness datang, bunda menganggap biasa dan menjalaninya dengan ikhlas.

Sunday, 15 September 2013

Gunung Papandayan, Sebuah Kerinduan yang tak Berkesudahan


Gunung Papandayan
Pondok Saladah
Pertama kali mengunjungi Gunung Papandayan sekitar tahun 1991 sewaktu masih duduk di bangku kelas 4 SD. Di sana diadakan Jambore Cabang Se-Kabupaten Garut.  Saya dan beberapa teman  menjadi perwakilan dari Ranting Sukaresmi.

Saya langsung takjub dan jatuh cinta pada pandangan pertama ketika menyaksikan gunung itu dari dekat. Jatuh cinta pada semua yang terlihat. Pada pohon-pohon pinus, bebatuan, kawah, tebing-tebing, pohon cantigi, dan kabut yang menyelimuti. Ah semua yang terlihat di situ membuat saya terpaku. Diam-diam rasa suka itu terus merayapi fikiran saya hingga bertahun-tahun lamanya. Sehingga ketika ada kesempatan dan waktu luang saya senantiasa mengunjungi Gunung Papandayan. Entah sekedar nongkrong menyaksikan kawahnya saja, atau bahkan menginap di sana. Apalagi jarak tempuh dari rumah tidak lebih dari 1 jam berkendara.

Suatu waktu saya bersama kakak, sepupu, dan beberapa teman laki-laki dari kampung sebelah berangkat ke Gunung Papandayan dengan berjalan kaki melewati kampung-kampung. Berangkat pagi sekitar jam 7an dan tiba di Gunung Papandayan jam 1 siang. Pulang dari sana sepupu-sepupu saya pada ambruk dan sakit. Bahkan ada yang sampai tak bisa berjalan hingga seminggu karena kakinya bengkak. Hehe Sayalah orang yang paling disalahkan oleh para orang tuanya dalam tragedi itu.

Gunung Papandayan
Pemandangan Gunung Papandayan dari Kampung Saya
Ketika menjadi guru honorer di salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) saya mengajak siswa-siswa untuk kemping di Gunung Papandayan, tepatnya di Pondok Saladah. Walau sebenarnya ide ini ditentang habis oleh Kepala Sekolah. Namun saya berhasil meyakinkannya hingga mendapat izin. Saat itu usia saya masih 18 tahun dan masih imut-imut. Seorang guru imut tapi bawa pasukan seabrek tak ayal mengundang heran para pendaki gunung. Banyak yang nyeletuk "Bu gurunya masih imut banget ya" Duh langsung deh tampang pasang jaim.

Pondok Saladah adalah lapangan rumput yang luas yang dihiasi secara alami oleh bunga-bunga edelweis. Disebut demikian karena di sekitar sana tumbuh sejenis sayuran yang disebut saladah. Tumbuh subur di sungai kecil yang mengalir di sisi kiri lapangan. Pondok Saladah dijadikan camping ground dimana banyak pendaki yang menghabiskan waktu untuk santai berkemah di tempat ini. Pemandangannya pun sangat indah karena berdindingkan tebing-tebing yang hijau dan gundukan puncak-puncak gunung.

Di atas Pondok Saladah ada lagi sebuah lapangan nan luas. Sungguh sangat luas. Namanya Tegal Alun. Di sana Edelweisnya bagai kebun sayur. Tumbuh subur di seluruh penjuru. Kawasan ini benar-benar dilindungi dan menjadi kawasan konservasi. Tidak boleh ada aktifitas kemping atau mendirikan tenda. Kalau ketahuan petugas kita langsung diusirnya.

Gunung Papandayan
Saya dan Sepupu-Sepupu di Pondok Saladah
Di waktu lainnya Saya mengajak kakak, sepupu, keponakan, dan saudara lainnya untuk kemping di Pondok Saladah. Kali ini dengan naik mobil bak terbuka. Kalau berjalan kaki lagi rasanya akan memakan waktu lebih lama karena kami membawa beban tenda dan logistik. Hampir semua saudara belum pernah ke lokasi ini. Jadi mereka  sangat antusias dan begitu terpesona. Ah senangnya melihat mereka cukup menikmati suasana itu. Apalagi kami ngerujak dan membuat sambal dengan lalapan saladah yang langsung dipetik dari lokasi. Seru rasanya.

Menuju Pondok Saladah ditempuh dengan menaiki jalur bebatuan dan melewati kawah-kawah. Terus mengikuti arah jalan menuju Perkebunan Teh Cileuleuy Pangalengan Bandung lalu berbelok ke kiri di sebuah persimpangan. Jadi antara Garut - Bandung tidak melulu harus melewati Nagrek yang terkenal sebagai jalur mudik itu namun bisa juga dengan menembus jalur Gunung Papandayan. Dan banyak penduduk yang melakukan perjalanan dengan berjalan kaki melintasi jalur ini.

Kurang dari setahun mengajar di MTs, saya mendapat tawaran kerja di Pulau Batam. Sebelum berangkat ke sebrang saya mengunjungi  Gunung Papandayan kembali untuk melepas kangen. Ah duduk berlama-lama  memandang ke arah Pangalengan dari salah satu punggungan gunung teramat menakjubkan bagi saya. Berlari-lari ala Pemain Film India di Tegal Alun juga teramat mengesankan.

Gunung Papandayan
Melompatlah Lebih Tinggi
Rindu itu terus saja terpendam di hati. Setelah beberapa tahun tinggal di Batam lalu pulang kampung, lagi saya mengunjungi Gunung Papandayan. Ah ada yang berubah rupanya. Papandayan telah meletus sebanyak dua kali selama saya di Batam. Karena letusan itu jalan lebar menuju Pondok saladah runtuh. Para pendaki dan penduduk lokal membuat jalan alternatif dengan menuruni jurang memasuki lembah lalu menaiki tebing hingga akhirnya tiba di jalan sebrang yang putus karena longsor.

Mengunjungi Gunung Papandayan, Kemping di Pondok Saladah senantiasa menjadi kerinduan tersendiri bagi saya. Semoga tahun-tahun mendatang bisa mengajak anak saya Chila dan sepupu-sepupunya dari Bandung dan Jakarta untuk bermain di sana.

Thursday, 12 September 2013

Menikmati Kerlap-Kerlip Pohon Lampu di Garden By The Bay

View dari jembatan penyebrangan antara Marina Bay Sands menuju Garden by the Bay
Menjelang malam, setelah menikmati suasana riuh di Teluk Marina (Marina Bay) kami mengunjungi Garden by The Bay yang letaknya tak jauh dari lokasi tersebut. Taman yang baru dibangun dengan luas sekitar 101 hektar ini tak pelak mengundang rasa penasaran saya untuk mampir. Sebagai pendaki gunung, pecinta hutan, penyayang tanaman (halaaah...) juga penikmat suasana hijau, maka tempat ini adalah salah satu tempat yang  wajib saya kunjungi.

Taman ini terdiri atas tiga kebun yang terletak di tepi teluk. Bay South, Bay East, yang dihubungkan oleh Bay Central. Di Bay South — taman pinggir teluk terbesar terdapat pohon lampu yang disebut Supertree yang futuristis. Ini bukan pohon biasa namun kebun vertikal dengan 16 lantai yang membuat lanskap terasa lebih mengejutkan dan nyata. Dari satu Supertree ke lainnya dihubungkan oleh jembatan gantung. Di puncak supertree tertinggi terdapat bar untuk menikmati pemandangan seluruh taman dari atas. Supertree ini bukan sekadar hiasan estetis; konstruksi ini juga berfungsi menampung air hujan, menghasilkan tenaga surya, dan menjadi saluran irigasi untuk konservatori taman tersebut.[1]

View ke Garden by the Bay dari Jembatan Penyebrangan
Conservatories, yang memiliki konsep Cloud Forest dan Flower Dome, adalah salah satu fitur unggulan lainnya, yaitu tempat berteduh dari terik matahari tropis. Flower Dome meniru iklim dingin-kering Mediterania dan kawasan sub-tropis semi arid seperti di Afrika Selatan, dan beberapa bagian Eropa seperti Spanyol dan Italia. Cloud Forest mengadaptasi iklim dingin berembun yang ditemukan di kawasan Tropis Montane pada ketinggian antara 1.000 sampai 3.500 meter dari permukaan laut, seperti Gunung Kinabalu di Sabah, Malaysia, dan dataran tinggi di Amerika Selatan.[1]


Bay East adalah kombinasi unik paviliun-paviliun nan cantik, dataran yang subur, pohon kelapa dan berbagai jenis bunga, sempurna sebagai tujuan jalan-jalan di sore hari atau berpiknik bersama keluarga dan teman-teman. Bay East juga menawarkan pemandangan yang luar biasa dari gedung-gedung pencakar langit di kawasan finansial Marina Bay di sepanjang pinggir teluk sejauh dua kilometer.

Sayang karena waktunya malam kami hanya bisa berkunjung ke Supertree saja. Dengan menembus tower Marina Bay Sands, menaiki eskalator melewati Casino, melewati galery dengan pajangan tas dan jam tangan dari berbagai merk terkenal yang harganya bikin mata melotot,  kami terus berjalan untuk mendapatkan akses ke Garden by the Bay. Setelah tanya sana-sini terutama kepada security dan polisi-polisi yang berjaga di sekitar Marina Bay Sands, tibalah kami di belakang tower. Dan Oh My God ini dia penampakan Supertreenya. Keren dan romantis banget. Duh nongkrong di sini memang adem rasanya. Apalagi buat yang pacaran, gak bakalan mau pulang deh.

SuperTree di Garden by the Bay
Tepat di sekitar SuperTree berada, terdapat Resoran Texas Fried Chicken (TFC) yang harganya lumayan murah. Kami sempat bengong ternyata harganya gak jauh beda ya sama di Indonesia. Kirain karena ia berada di tempat wisata seperti ini harga ayamnya akan melejit naik.  malah justru lebih mahal sewaktu di rumah makan biasa di kawasan Jurong Birdk Park. Nugget beberapa potong saja dihargai hampir 12 dollar. Sedangkan di TFC masih ada yang harganya 3 dollar.

Yang lucu sih sudah susah-susah ngomong bahasa Inggris eh pelayannya tiba-tiba bilang gini "mau pesan apa mbak?" Halah dari tadi kek. Rupanya si mbak pelayannya orang Jawa :D

Hampir satu jam kami nongkrong di SuperTree. Mau explore lebih jauh kayaknya Chila dah kecapekan. Kasihan udah suntuk. Hampir setiap kami menjepretkan kamera Chila ngambek-ngambek terus minta kembali ke hostel. Untung aja gak inta pulang ke Batam, bisa berabe deh.

Melihat dan menyaksikan Garden by The Bay ini saja saya jadi iri. Sangat-sangat iri dengan pembangunan yang terus dipacu Singapura. Di sana pemerintah dan swasta benar-benar bekerja sama dalam pembangunan yang terencana. Visinya jauh berpuluh-piluh tahun ke depan. sehingga dengan sumber daya terbatas uang masih terus mengalir ke sana.



View ke arah Bianglala terbesar, Singapore Flyer

View Marina Bay Sands dari Garden by the Bay

Ini Saya sama Chila

Pintu Masuk ke Supertree


[1]  http://www.yoursingapore.com/content/traveller/id/browse/see-and-do/nature-and-wildlife/stroll-among-trees/gardens-by-the-bay.html

Wednesday, 4 September 2013

Jalan-Jalan ke Marina Bay, Singapura

Dari Ki-Ka ArtScience Museum, Singapore Flyer, Marina Bay Sands (dokpri)
Hari ketiga di Singapura, 09 Agustus 2013 Saya, Suami dan Chila mengunjungi Marina Bay (Teluk Marina), sebuah kawasan wisata terpadu yang di dalamnya terdapat beberapa objek wisata terkenal yang dapat dikunjungi sekaligus hanya dengan berjalan kaki mengitari kawasan teluk.

Objek yang seringkali  dijadikan land mark Singapura seperti Esplanade Theatre, Patung Merlion dan Bianglala terbesar di dunia Singapore Flyer, semuanya ada di sini dan tampak jelas dari berbagai sisi.

Kini di kawasan ini telah berdiri pula dengan megahnya tidak tanggung-tanggung 3 tower sekaligus .Tower-tower itu diberi nama Marina Bay Sands. Yang dijadikan pusat hiburan terpadu yang dikembangkan oleh Las Vegas Sands. Perusahaan Resort dan Kasino dari Nevada, Amerika Serikat yang ternyata memenangkan lelang untuk pembangunan kawasan terpadu ini. Mungkin karena itulah diberi nama Marina Bay Sands.

Patung Merlion dan Esplanade Theatre
Marina Bay Sands memiliki tiga tower dengan 2.561 kamar hotel, satu musium (ArtScience), 2 teater, 7 restoran, Pusat belanja termewah (The Shoppes), kasino yang sangat luas, Taman langit (Sky Park), Kolam renang tanpa batas (infinity edge) sepanjang 150 meter yang menggantung di atas ketiga tower, juga ruang pameran dan  pertemuan seluas 120.000 meter persegi.(Berbagai sumber) 

Jalan Menuju Marina Bay Sands
Saat keluar dari Stasiun MRT Marina Bay, ternyata begitu banyak orang yang menuju ke arah yang sama dengan kami. Syukurlah akhirnya tidak perlu susah-susah mencari atau menanyakan jalan lagi.

Setiba di Marina Bay-nya (tepat berhadapan dengan teluk) Banyak polisi berjaga di sana sini. Lautan manusia dengan berbagai warna kulit dan bahasa bak ditumpahkan saja dari langit sana.

Di lapangan hijau diantara gedung-gedung pencakar langit, ribuan orang dengan kostum merah telah ramai dan duduk rapi menggelar acaranya sendiri. Suami yang kebetulan berkaos merah pun tak ketinggalan narsis minta di foto.Mungkin merasa senang ternyata dress code hari itu kebetulan sama :D


Diantara Pengunjung yang Berdesakan
Kami memilih untuk duduk di salah satu sisi pagar yang mengitari teluk seperti yang dilakukan sebagian orang-orang. Bedanya mereka telah siap dengan berbagai perlengkapan. Duduk beralaskan matras, membawa payung, perbekalan makanan dan tak lupa kamera DSLR dengan tripod yang telah ditegakkan. Sedangkan kami modal lesehan sendal saja hehe namanya darurat. Nggak tau kalau ternyata seriweuh ini.
Bersama sebagian yang Merayakan National Day





Duduk sambil memperhatikan sekian ribu orang yang lalu lalang ujung-ujungnya malah membuat saya mual. Namun sejenak ada keasyikan tersendiri saat memperhatikan mereka yang lewat  itu. Terkadang saya bertasbih menyebut Asma Allah. Subhanallah, saya menyaksikan orang-orang dari berbagai ras dan bangsa berkumpul sekaligus di tempat ini. Ada yang berkulit putih, merah, kuning langsat, coklat, sawo matang, hitam, agak hitam hingga benar-benar hitam legam. Tentu dengan ciri-ciri khas genetik lain yang melekat pada mereka. Seperti berambut pirang, bermata sipit, bergigi putih, bermata hijau, biru dan sebagainya. Ini membuat saya bersyukur bahwa saya memiliki fisik yang tidak terlalu mencolok. Hitam tidak putih juga tidak. Tinggi tidak pendek sih iya. hehe.. pokoknya saya tetap bersyukur atas apa yang saya terima dari sisi Allah SWT.

Ternyata hari itu adalah Hari Kemerdekaan Singapura. Beuuh pantesan bendera berkibar dimana-mana.  Dan selang setengah jam kami berputar-putar, upacara peringatan National Day dimulai. Upacara ini dihadiri oleh Perdana Menteri Lee Hsien Loong dan jajaran kabinetnya. Dimeriahkan juga oleh berbagai atraksi dan parade show dari para tentara. Namun sayang kami berada di posisi sebrang teluk sehingga pemandangan ke arah lokasi acara terbilang jauh. Mendekat pun sia-sia karena begitu berjubelnya dengan lautan manusia.


Iring-iringan Helikopter Membawa Bendera Singapura

Karena di tempat kami duduk mulai sesak dengan lalu lalang, kami berjalan mendekat ke arah gedung informasi. Tiba-tiba di langit terlihat iring-ringan helikopter yang membawa bendera Singapura.
Mengantri di Toilet Portable :D

Sesaat setelah helikopter menghilang, deru pesawat tempur yang sedang melakukan manuver muncul di tengah-tengah langit Marina Bay. Pengunjung seketika bertepuk tangan. Sebagian  lagi menutup telinga karena suaranya yang sangat memekakkan telinga.


Kami memilih putar balik mengelilingi Teluk Marina berlawanan arah jarum jam. Kemudian bertanya-tanya kepada orang-orang dan security tentang arah jalan ke Garden by the Bay. Taman Buatan yang di dalamnya terdapat SuperTree, pohon lampu yang bisa berubah warna-warni dan tampak semakin indah jika malam tiba. 

Ternyata jalan tercepat adalah dengan memasuki Marina Bay Sands, menaiki eskalator dengan melewati ruang kasino dan restoran, kemudian melintasi Galeri yang menjual barang-barang mewah merk terkenal yang waaah.... lalu kami tiba di jembatan penyebrangan yang melintasi jalan raya. Dan sampailah di Garden by the Bay.

View Marina Bay Sands dari Garden by the Bay (dokpri)
Seperti apa sih dalam-dalamannya Marina Bay Sands itu? Wuiiih....kereen! bikin geleng-geleng kepala. Suatu hari pengen banget nginep di hotel ini tapi jangan sampai deh aku yang mengeluarkan uang sendiri. Harus ada yang bayarin atau ada teman atau bos yang nraktir haha. Tiketnya itu loh paling murah sekitar 1,3 juta rupiah per malam. Mendadak bikin kempes dompet deh.  *Hihi otak emak-emak banget :D

Jangan Lupa baca cerita sebelumnya:
Jalan-Jalan ke Jurong Bird Park Singapura



Tuesday, 3 September 2013

Kinahrejo, Riwayatmu Kini dan Dulu



“Dan, tempat ini pun pastinya tak selaras dengan napas keindahan yang kau asakan. Ini bukan wahana penenggat penat. Bukan pula sarana rehat. Ini sebuah tempat yang sangat akrab dengan bahaya. Lihatlah puncak gunung yang terbelah, dengan kepulan asap solfatara yang menguar dari celah kawah. Tataplah bebatang pohon yang pekat. Rumah-rumah separoh rencah, perabot nan sisakan kerangka besi atau belukar hangus yang menghamparkan permadani kelam.”  Petikan kalimat dari Cerpen berjudul Attar karya Afifah Afra.
Gunung Merapi. Gambar diambil dari GoIndonesia
Bicara tentang keindahan alam di Indonesia memang tak kan pernah ada habisnya. Uniknya keindahan-keindahan itu sebagian besar diakibatkan oleh bencana alam. Maksud bencana alam di sini adalah “Bencana yang disebabkan oleh kekuatan alam secara alami tanpa campur tangan manusia”.

Alam memang punya cara kerja yang unik. Semakin ia rusak karena ulahnya sendiri maka ia  semakin cantik dan menarik dalam pandangan manusia. Bahkan banyak mendatangkan manfaat dan berdaya guna tinggi bagi kehidupan manusia itu sendiri. Tak percaya? Lihatlah Danau Toba. Keindahan yang tercipta di sana  adalah sebuah karya besar alam tersebab ledakan dahsyat  super volcano Gunung Toba puluhan ribu tahun yang silam. Lihatlah bentangan alam Gunung Rinjani yang berpagarkan tebing dan jurang, dengan kalderanya yang terhampar menaungi Danau Segara Anak dan Gunung Baru Jari dampak letusan yang terjadi tahun 1257. Keduanya indah bukan?

Saturday, 31 August 2013

Kopi Instan & Cappuccino Good Day, Kopi Gaul Paling Enak




Saya minum kopi semenjak kecil. Seingatan saya, dulu hanya sekedar ngikut-ngikut kebiasaan orang tua yang setiap pagi dan petang menyeduh kopi. Biasanya kopi dihidangkan disertai penganan tradisional seperti singkong bakar, tape goreng dan ubi rebus. Lama-kelamaan karena kebiasaan orang Sunda begitu, maka walaupun tanpa kopi di sisinya, jika menawarkan penganan kepada tamu yang terucap adalah "Sok atuh ngopi heula!" (Silahkan ngopi dulu!) padahal kopinya tidak ada. Wkkk… singkong kok dibilang kopi!

Karena penasaran, biasanya saya sekedar menyicip sesendok dua sendok saja. Ah biasa saja, gak terlalu suka karena ada ampasnya. Namun setelah bekerja, suatu waktu saya mengantuk dan ditawarin teman untuk mencoba Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak. 

Waaaks… mata saya langsung jreng sodara-sodara. Rasanya pun enak dan gak bikin jantung deg-degan. Namun yang terpenting bagi saya yang sering kerja shift malam, kopi gaul ini membuat mata  melek dan cling bening. Duh menyesal kenapa gak dari awal bekerja ya tahu tentang kopi gaul yang satu ini.

Tuesday, 27 August 2013

Pulau Komodo, Keajaiban Dunia yang Sesungguhnya

Pernahkah satu ketika anda membayangkan terlempar ke masa lampau? Ke suatu masa di zaman purba dimana di sekitar anda masih berkeliaran hewan-hewan sebangsa dinosaurus seperti di film Jurassic Park? Kalau saya pernah, bahkan berandai-andai dapat menyaksikan salah satu hewan ajaib itu melalui mata kepala sendiri.


Bukankah keajaiban namanya jika sampai saat ini masih terdapat hewan purba yang bertahan hidup? Yang Survive di muka bumi melalui berbagai proses seleksi alam yang sarat bencana seperti letusan gunung berapi, kekeringan, kebakaran, badai, banjir, bahkan tsunami. Ini membuktikan betapa kuat dan gigihnya perjuangan hewan tersebut menghadapi berbagai kondisi alam yang ekstrim yang senantiasa berubah dari waktu ke waktu.


Komodo Dragon. Gambar dari www.komodo.travel
   

Monday, 19 August 2013

Lebaran Pertama: Mengunjungi Jurong Bird Park Singapura


Berpose dulu dengan Patung-Patung Burung di Pintu Masuk
Lebaran tidak pulang kampung rasanya ada yang kurang. Nah karena bingung mau kemana libur lebaran ini kami memutuskan  untuk mengajak Chila main-main ke Singapura. Kebetulan Passport baru saja diperpanjang. Liburan selama 4 hari 3 malam rasa-rasanya cukup untuk mendatangi beberapa tempat menarik di sana. 
Titik awal mulai dari sini

Dengan tiket Ferry seharga kurang lebih 350 ribu per orang, pulang pergi Batam Singapura (sudah termasuk seaport tax di kedua-dua pelabuhan) kami akhirnya cukup terhibur bisa berlibur di sana walau pulang-pulang pada tumbang karena kecapekan.

Karena tidak ada sanak famili yang harus dikunjungi untuk bersilaturahmi, semenjak di Batam kami sudah menyusun itinerary kalau selesai sholat Ied akan langsung menuju Jurong Bird Park. Sebuah taman burung yang terletak di bagian barat Singapura. Jarak tempuh kurang lebih satu jam dari hostel tempat menginap. Lumayan jauh juga dari pusat kota  namun dengan menaiki MRT segalanya menjadi cepat dan mudah. 

Chila yang baru pertama kali naik MRT begitu senang dan antusias. Laah boro-boro anak-anak saya saja suka dengan moda transportasi yang satu ini. Selalu berkhayal kapan ya Jakarta atau Batam punya kereta cepat yang nyaman seperti ini.

Karena stasiun terdekat dengan penginapan kami adalah Bugis Station, maka kami berangkat dari sana dan langsung menuju Boon Lay Station. Stasiun MRT terdekat dengan Jurong Bird Park. Dari Boon Lay kami menaiki bis nomor 194 dan meminta sopirnya untuk menurunkan kami di Jurong Bird Park.
Suka banget sama Anggrek Ungu


Ketika sampai di pintu masuk kami langsung disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata. Bunga-bunga anggrek berwarna-warni menarik perhatian saya dan pengunjung lainnya untuk berpose, bernarsis-narsis, berfoto-ria. Chila bahkan sudah kesal dan bertanya kenapa sih harus foto-foto terus :D Ah Bunda lupa Chil kalau ke sini niatnya lihat burung bukan bunga hehe.

Di bagian ticketing kami mengantri dan membayar tiket masuk seharga 53 dollar. Dengan rincian saya dan suami masing-masing 20 dollar dan Chila karena masih anak-anak hanya membayar 13 dollar. Kalau dirupiahkan kira-kira sekitar 429 ribu rupiah. Cukup mahal namun segitu memang harga wajar di sini. Kalau tiap pergi hitung-hitungan terus aduh bikin mules dompet deh :D

Yang pertama kami kunjungi adalah Penguin Coast yang terletak di sebelah kanan pintu masuk. Melihat dan mengamati para Penguin di dalam ruang kaca. Kasihan sebenarnya apalagi anakan sama induknya dipisah. Selanjutnya kami memasuki ruangan khusus untuk burung-burung malam World of Darkness yang terletak di sebelah kiri pintu masuk. Berbagai macam burung hantu mulai dari yang kecil hingga besar ditempatkan di ruang-ruang yang temaram.
Scarlet Ibis

Keluar dari dunia burung kegelapan :D kami mengitari taman burung ini searah jarum jam. Burung warna-warni yang menyegarkan penglihatan terlihat di sana-sini. Mulai
Bird Kissing
dari Spoonbill,  Scarlet Ibis (Ibis merah), Royal Rumble, Hornbill (burung Enggang atau Rangkong), Toucan (Tukan), Parrot (Nuri atau beo), Pelican (Undan), Pelican, Flamingo, Shoebill, Kasuari, dan banyak lagi.

Kami juga mengunjungi Bird Discovery yang menceritakan awal mula penemuan burung serta asal muasal wilayah penyebarannya lengkap dengan display yang memajang berbagai gambar burung yang interaktif.  Ditampilkan juga proses pembiakannya dari telur menetas hingga menjadi seekor burung. Film-film tentang burung juga diputar terus-menerus.  

Menonton Film Burung di Bird Discovery Centre

Lumayan capek juga mengitari taman burung ini. Dan yang paling membuat saya heran ternyata Chila tidak minta gendong sepanjang perjalanan. Duh kebayang deh pegel-pegelnya kaki dia. Mungkin karena di awal perjalanan Chila sudah kami bilangin untuk tidak rewel dan harus bersikap manis. Maka dengan sekuat tenaga tampaknya ia ingin membuktikannya dengan tidak minta gendong :D walaupun cerewetnya tetap keluar. Apalagi kalau saya dan suami menyuruhnya berpose untuk difoto Chila merepek tak karuan :)
Keriuhan Pengunjung di Amphitheatre
Amphitheatre ketika masih kosong
Selesai berkeliling-keliling kami mendengar keriuhan di bagian tengah taman. Ternyata sedang diadakan pertunjukkan di sebuah tempat yang disebut Pools Amphitheatre. Orang-orang sudah berkumpul dan duduk rapi di barisan kursi melingkar yang telah disediakan untuk menonton pertunjukkan burung-burung yang beraksi sesuai perintah pelatih.

Seekor burung Parrot atau Beo mengucapkan kata "Singapura" dengan jelas. Tak ayal membuat penonton riuh tertawa dan bertepuk tangan. Kemudian beberapa penonton diminta berdiri dengan jarak tertentu sambil memegang sebuah lingkaran. Selanjutnya burung-burung itu terbang memasuki lingkaran. Woow deh. Jadi mendadak pengen memelihara burung hehe. 

Di akhir acara ada parade show burung-burung. Heran mereka begitu anggun dan menurut sekali. Apalagi Burung Flamingo duh anggun sekali, gemes banget pengen meluk rasanya. Pun ketika acara foto bersama burung (halaah kayak foto bareng artis aja :D) mereka hanya berdiri diam menunggui kami untuk berpose narsis. 

Usai menonton pertunjukkan, kami meminta izin kepada petugas untuk keluar makan. Ada sebuah cafe di dekat gerbang masuk yang menjual makanan. Namun sayang tidak ada nasi. Namanya orang Indonesia ya namanya makan berarti harus makan nasi. Karena khawatir Chila kelaparan jadilah kami memesan french fries dan nugget. Segitu aja ternyata harus mengeluarkan uang 12 dollar setara dengan 97 ribu rupiah. Waak...otak emak-emak saya emang gak bisa menerima ini. Tapi tak apalah yang penting Chila bisa makan.

Oh My God, beberapa saat selesai  makan baru teringat kalau saya lupa mengecek halal tidaknya makanan tadi. Ah Laahaula semoga memang halal adanya.

Selesai makan kami menghantar Chila untuk bermain-main di taman air. Ada perosotan, seluncuran, kincir air dan air mancur dengan hiasan patung-patung burung di atasnya. Membuat Chila gak sabaran untuk segera turun.

Selesai menunggui Chila main air, Saya sibuk mencari tempat sholat. Haduuuh bingung mau sholat dimana. Secara lahan seluas ini gak ada musholanya. Tiba-tiba saja suami menyuruh agar saya membuatkan susu untuk Chila, katanya ada dispenser di ruangan dekat toilet. Begitu saya cek ternyata benar. Di ruangan itu tidak hanya dispenser saja ternyata ada ruangan untuk menyusui juga. Ah saya ada ide, lalu menggendong Chila ke ruangan itu dan mendudukannya di kursi.

Sehabis ambil air wudhu saya sholat di ruangan menyusui setelah sebelumnya mengunci pintu terlebih dahulu. Alhamdulillah bisa sholat. Sekaligus dijama dzuhur dan ashar. Setelah itu gantian suami juga sholat di sana. Chila tetap saya suruh stand bye untuk ngedot di kursi. hehe modus memang tapi kalau tidak begitu takutnya kami gak bisa sholat. 

Selesai sholat kami berkemas untuk kembali ke hostel. Tak lupa berfoto dulu dengan burung-burung yang cantik yang seakan mengerti kebutuhan kami untuk bernarsis ria bersamanya. Mreka hanya diam bertengger di dahan tanpa di perintah. Herannya kok gak pada kabur gitu ya padahal gak diikat atau dikandangin.

Dari Bird Park, kami menyebrang jalan dan menunggui bis yang lewat. Setelah cukup lama bis  yang mengarah ke Boon Lay station pun datang. Namun kami menaiki nomor bis yang berbeda dengan yang semula. Kali ini bis nomor 251. Sepertinya bis nomor 194 tidak melayani arah sebaliknya karena selama 15 menit menunggu tak satu pun bis nomor itu yang lewat.

Begitu tiba di Boon Lay kami mendapati rumah makan yang menjual nasi lemak seharga 1,2 dollar dengan tulisan halal besar-besar. Ah kapan lagi nemu tempat makan halal dengan harga semurah ini. Yang ini sih wajib mampir. Jadilah kami hari itu ketemu makan nasi :D dan tak lupa bungkus bawa pulang.

Menjelang maghrib kami pun meluncur menaiki MRT dari Boon Lay menuju ke Bugis Station. Lalu kembali ke Penginapan dengan berjalan kaki. 







 


 
  

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...