Saturday, 29 December 2012

Menjaga Sumber Air, Menjaga Bumi Bagi Anak Cucu Kita


Bulan Maret 2012 Saya diajak oleh seorang teman (Angel),  seorang sukarelawan, mengunjungi anak didiknya di sebuah lokasi di kawasan Dam Duriangkang Batam. Masyarakat menyebutnya dengan sebutan “Dam” karena tempat ini merupakan danau buatan yang membendung Teluk Duriangkang sehingga terpisah dari laut. Memang lebih tepatnya disebut bendungan, waduk, atau dam. Danau buatan seluas 23,4 kilometer persegi ini pada akhirnya berair tawar dan menjadi sumber air bersih utama bagi warga Pulau Batam di samping 6 dam lainnya. Yakni Sei Ladi, Sei Harapan, Muka Kuning, Sei Baloi, Tanjung Piayu dan Nongsa.

Wednesday, 19 December 2012

Menggenggam Harapan dari Tahun ke Tahun



Tahun terus bergulir dan berputar tanpa henti meninggalkan siapa-siapa yang hanya stagnant berdiam diri dalam kebimbangan. Apakah melangkah terus atau berhenti? Maju terus atau tergilas roda masa? Perputaran waktu yang mengarah ke depan satu arah saja dan tak pernah sedikit pun surut ke belakang.
             

Monday, 3 December 2012

Saat Chila ngambek

Waktu usia 10 bulan Chila kalau ngambek dan gregetan ya gayanya seperti ini, lucu giginya masih belum tumbuh



Terus pas sudah bisa jalan katanya mau ikut bunda ke warung eh malah ngambek deh di tengah jalan, awas Nak ada mobil!





Foto-foto ini diikutsertakan dalam kontes foto Angry Baby, Angry Kid yang diadakan di sini buat dapetin buku keren ini nih


Thursday, 15 November 2012

Jalan Rasamala


Di tepi jalan itu.....


Di sepotong senja yang damai, di sebuah bangku permanen yang diplester semen, kita duduk berhadap-hadapan menceritakan tentang jati diri kita masing-masing. Berbicara tentang masa lalu dan berandai-andai tentang masa depan sambil menikmati semilir angin yang dibawa lalu oleh satu dua kendaraan yang lewat.


Jalan itu begitu lengang, sepi dan bersih. Bunga bogenvil yang menghiasi tepi jalan telah mekar sedari kemarin. Seludangnya menarik perhatian dengan memantulkan warna ungu, oranye dan merah cerah. Pohon-pohon rindang berdahan rendah tumbuh di kedua sisi jalan. Ranting dan daunnya saling bertautan di atas seperti sedang bergandeng tangan dan berangkulan.

Semenjak pagi hingga malam hari, jalan ini senantiasa dikunjungi dan dilewati sekedar untuk menghabiskan waktu. Keteduhan selalu menaungi sepanjang jalan yang tak lebih dari 500 meter ini. Jalan tempat melepas lelah para pekerja, pencari kerja, dan yang pulang belanja.

Sebuah lapangan yang ditumbuhi rumput gajah terhampar dan dibiarkan terbuka di sebuah sisi jalannya, diapit oleh dua bangunan bernama Wisma Batamindo dan Plaza Batamindo. Beberapa orang duduk berkelompok dan berbaring-baring di atasnya. Entah berdiskusi atau mungkin sekedar melepas kepenatan. Namun menatap langit sore yang biru sambil terlentang di lapangan rumput sungguh pemandangan yang sangat menggoda.


Seiring perputaran zaman dan roda masa yang terus melaju. Bertahun-tahun berlalu semenjak kenangan itu, dan kini kukembali melaluinya, menyusuri jalan ini. Berjalan perlahan sambil mengumpulkan pecahan kenangan yang tersebar di setiap sudut-sudutnya. Menyesak jejak-jeka yang terserak. Ah, ternyata ….. tidak bersama dia saja. Aku pernah melaluinya bersama puluhan bahkan ratusan teman, dulu, dahulu. Sepulang bekerja, atau sepulang bermain-main dari hutan. Sehabis mencari jajanan di Pujasera atau mengurus berbagai hal dengan masalah pekerjaan.


Kembali duduk di sana, merenungi perjalanan waktu yang terus berlalu, seperti berlalunya kendaraan yang melesat setiap saat. Tak kembali dan tak meninggalkan jejak. Denyut kehidupan tetap berdetak di jalan ini. Para penganggur, pekerja, pengojek, dan pasangan muda-mudi, terduduk di bangku-bangku di sepanjang jalan ini. Mewarnai damainya hari di Jalan Rasamala yang teduh ini.



# Sebuah kenangan akan jalan Rasamala Batamindo Industrial Park Muka Kuning – Batam.

Selamat Tahun Baru 1434 Hijriyah

Alhamdulillah, tahun baru telah tiba. Tahun yang seharusnya menjadi awal hijrahnya kami sekeluarga menjadi yang lebih baik lagi.

Hari ini kami tidak kemana-mana. Hanya menikmati waktu liburan di rumah. Bermain dan bercanda bersama Chila. Pagi-pagi hanya mengajaknya sepedaan keliling komplek perumahan. Tak terasa 1 harian pun terlalui. Kini waktu sudah bergulir malam. Si Ayah sudah tidur dan Cila mulai terkantuk-kantuk. Alhamdulillah puas istirahat di rumah. Semoga esok dapat suntikan semangat untuk bekerja lebih baik lagi.

Yuk Kita Galakan Penggalangan Dana Online dengan Marimembantu .org

October 2012  1:42 PM 
Sudah hampir 3 tahun Putri (11 tahun) dan David (9 tahun) anak-anak dari tetangga saya tidak menikmati bangku Sekolah Dasar. Orangtua mereka bukan tidak ingin menyekolahkan anak-anaknya, namun mereka terbentur berbagai kendala terutama masalah keuangan.

Selama ini yang kita tahu dan sering diperbicangkan adalah bahwa pendidikan dasar 9 tahun itu gratis tidak dipungut biaya. Namun ternyata ada yang terlupa dan tidak tampak ke permukaan umum bahwa untuk anak-anak yang pindahan yang terpaksa ikut orang tuanya pindah pulau atau wilayah karena berbagai hal maka tetap dikenakan biaya masuk. Biayanya tidak sedikit antara 2 hingga 3 juta rupiah per anaknya. Dan kejadian itulah yang kini menimpa kedua anak ini.

One for All : Kabel Ekstension Klik-iT Solusi untuk Kabel Berantakan


                                                                                                                         Aug 29, '12 10:01 AM

Sudah sekitar 8 tahun rumah yang kami tempati masih seperti wujud aslinya. Belum ada renovasi apa-apa kecuali di beberapa bagian seperti dinding yang dicat baru dan jendela yang dipasang teralis. Begitu juga dengan instalasi listrik, colokan-colokan dan stop kontak  masih terpasang seperti awal rumah tersebut dibangun.

[5th Wedding Anniversary] Tepat 5 Tahun Kebersamaan



                                                                                                                            Jul 20, '12 5:48 AM
 
Bukan sebuah kebetulan jika hari ini, pertengahan Juli 2012 adalah awal Bulan puasa 1433H bertepatan dengan 5 tahun pernikahanku dengan dirimu. Sebuah kesempatan untuk kita merenung, berfikir, dan muhasabah, tentang hakikat kehidupan. Bulan untuk berlomba-lomba memupuk amal ibadah dan kebaikan. Bulan untuk menyambut maghfiroh dan keberkahan.

Hadiah Lomba Love Journey



                                                                                                                             Jul 18, '12 12:43 PM

Setelah lebih dari 2 minggu menunggu hadiah lomba Love Journey yang diselenggarakan oleh Mas Fatah sama Mbak Dee An, Akhirnya kemarin sore hadiah itu sampai juga ke rumah setelah beberapa menit mampir dulu di rumah tetangga (mamanya si kembar Sasa dan Lala) karena pas paket dihantar Mas Anang (Suami Mbak Dee An) Aku lagi beli pulsa ke warung ujung. jadinya nggak ketemu langsung sama Mas Anang. Maksih ya Mas sudah repot-repot nganter sendiri.

[Lomba Senyumku untuk Berbagi] Duka dari Anak Tetangga


                                                                                                                                 Jul 17, '12 12:19 PM


Tiap kali Aku melewati rumah itu, yang hanya 2 rumah jaraknya dari rumahku, Seorang gadis kecil selalu menatapku dengan tatapan yang tajam. Seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh tatapannya itu. Ia dan keluarganya baru saja menempati rumah tetanggaku itu.

Karena kami sering berpapasan, suatu saat ia berani menyapaku. 
"Tanteeee..." Sapanya ramah.
"Eh, baru pindah rumah ya." Tanyaku pada gadis kecil itu. Ia cuma mengangguk pelan.
"Namanya siapa?" Tanyaku lagi.
"Puteri, Tante!" Jawabnya.
"Loh Putri kok nggak sekolah." Aku menatapnya heran. Hari itu Putri dan ketiga adiknya hanya bermain-main di halaman rumah.
"Putri nggak sekolah Tante. Mama nggak punya biaya buat nyekolahin kami." katanya polos.

Manfaat Ponsel Pintar untuk Keseharianku


                                                                                                                              Jun 29, '12 12:45 PM

Suatu malam, ketika anak saya Chila berusia 9 bulan, ia menangis tak henti-henti lebih dari 3 jam. Kami begitu khawatir dan takut terjadi apa-apa dengannya karena hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Selain itu kami juga khawatir tangisan Chila  dapat mengganggu tidur tetangga karena malam sudah semakin larut.

Mengenal Sekilas Keragaman Indonesia

                                                                                                                           Jun 27, '12 11:10 PM

Secara etimologi kata Indonesia berasal dari dua suku kata yaitu Indus (bahasa Latin) yang berarti Hindia dan Nesos (BahasaYunani) yang berarti kepulauan. Dengan gabungan dua suku kata di atas, Indonesia dimaknai sebagai kepulauan yang terletak di Hindia. Berdasarkan definisi tersebut, maka Saya akan memulai tulisan ini.

Semenjak kelas 4 Sekolah Dasar, Saya sangat menyenangi sebuah buku yang hampir setiap saat Saya pelajari. Bahkan menjelang tidur pun tak luput Saya baca-baca. Buku tersebut adalah atlas, yakni buku yang berisi peta suatu wilayah atau tempat. Saat itu, Saya begitu bersemangat menghafal seluruh isi atlas termasuk pulau demi pulau yang berjajar menjadi gugusan yang membentuk sebuah negara bernama Indonesia. Saya kagum dan terheran-heran betapa luas dan banyaknya pulau-pulau yang berada di wilayah negara Indonesia itu.


Menyiapkan Dana Pendidikan bagi Si Kecil

                                                                                                                               Jun 13, '12 3:58 PM
Tulisan ini disalin dari blog Multiply.


      Ketika lulus SMA tahun 1998, Saya mengurung diri di kamar berhari-hari. Langit sepertinya akan runtuh mengingat cita-cita Saya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi pupus sudah. Bukan karena Saya bodoh atau tidak lulus seleksi ujian namun karena  ketidakmampuan ekonomi keluarga kamilah penyebab utamanya.

[Catatan Harian] Terdampar di Nagoya

                                                                                                              Jun 8, '12 12:33 PM
for everyone
Kamis, 08 Juni 2012

Baiklah, untuk menghapus persepsi keren tentang saya (karena sudah ke Nagoya), sebelumnya saya jelaskan dahulu. Nagoya yang satu ini bukan Nagoya di Jepang melainkan Nagoya di Pulau Batam. Sebuah lokasi yang menjadi pusat bisnis di pulau ini. Demikian maklumat ini agar menjadi maklum.

Dengan perasaan malas-malasan akhirnya kemarin maghrib saya pergi juga ke klinik yang terletak di Perumahan Genta I Batu Aji untuk berobat. Sebenarnya sih nggak sakit-sakit amat cuma lha kok lama-lama, dirasa-rasa, ternyata yang satu ini  sangat menggangu juga.

Buku Tempat Saya Berbagi Tanya


                                                                                                                               May 30, '12 5:13 AM

            "Books are the compasses and telescopes and sextants and charts which other men have prepared to help us navigate the dangerous seas of human life." Jesse Lee Bennett.

      Menurut kamus besar bahasa Indonesia buku adalah lembar kertas yang berjilid, berisi tulisan atau kosong sedangkan  menurut  ensiklopedia bebas Wikipedia buku adalah kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan atau gambar. Setiap sisi dari sebuah lembaran kertas pada buku disebut sebuah halaman.

      Dari berbagai sumber yang menguak sejarah tentang buku, buku pertama disebutkan lahir di Mesir pada tahun 2400-an SM setelah orang Mesir menciptakan kertas dari daun papyrus. Kertas papyrus yang berisi tulisan ini digulung dan gulungan tersebut merupakan bentuk buku yang pertama. Papyrus adalah tumbuhan sejenis alang-alang yang banyak ditemui di tepi sungai Nil Mesir.
  

[Love Journey] Cintaku Tertaut di Gunung

                                                                                                                               May 23, '12 5:42 AM



Gunung Kerinci, Maret 2001  

Bermilyar-milyar bintang berkelap-kelip di langit gelap. Gelap yang sempurna sehingga sekecil apapun bintangnya begitu jelas menampakkan keberadaannya. Bergugusan membentuk apa pun yang kita imajikan.

Di sini di hamparan batu-batu cadas yang membeku Aku terbaring terpaku. Menatap kilatan-kilatan bintang jatuh yang kian melaju. Tak perduli pada hembusan angin yang menderu-deru mataku menatap ke langit gelap sambil membisikkan do'a-do'a dan harapan. Make a wish.

[Catatan Harian] Terdampar di Kantor Polisi

May 20, '12 1:31 PM
Tulisan ini disalin dari Blog Multiply yang sudah ditutup.

Hari itu Saya bekerja seperti biasa. Sekitar jam 10-an Manager HRD memanggil Saya ke ruangan Lobby perusahaan. Heran campur bingung,  Saya bertanya-tanya sendiri dalam hati, cemas takut ada apa-apa.Mungkin saja punya dosa yang nggak terasa. Setibanya di lobby ternyata sudah banyak orang yang bernasib sama dengan Saya. Mereka antri menunggu giliran dipanggil.

Mobil Terbang Solusi Masa Depan

    May 14, '12 2:51 PM
 
Matahari mulai meninggi, panasnya tak terperi. Namun burung-burung pipit beterbangan ke sana ke mari mencari bulir-bulir padi. Satu per satu burung-burung itu hinggap di halaman sebuah rumah dimana terhampar jemuran padi.

Di teras rumah, seorang gadis kecil menangis tersedu. Matanya menatap hampa kepada burung-burung pipit yang sedang asyik mencuri biji-biji padinya. Ia lalu mengusap air mata yang deras mengalir di pipi karena khawatir ketahuan orang lain.

Gara-Gara Kuntilanak

                                                                                                         May 1, '12 10:57 AM
for everyone
Seperti hari-hari biasa, Sierra diajak teman-temannya bermain. Kali ini dia  diajak  si kembar Sasa Lala main ke rumah mereka. Karena sudah seperti saudara sendiri maka Saya pun tak melarangnya.

Setelah selesai memasak, Saya menyusulnya ke rumah si kembar. Begitu Saya masuk mereka sedang menonton Televisi. Si kembar yang mengetahui kedatangan Saya langsung berteriak-teriak.
"Mama Shera, Mama Shera...tengok! tengok! kami lagi nonton film hantu!" Kata mereka bersahutan.
"Bunda...Bunda...ada hantu lho..." Sierra tak ketinggalan berceloteh sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke Televisi.


"Apaaa? Film Hantu?  Ya ampuunn... Saya berteriak  saking kagetnya. Saat itu si kembar usianya baru 4 tahun dan Sierra baru 2,5 tahun. Mereka bertiga sedang menonton film hantu yang berjudul  "Kuntilanak" yang termasuk kategori film untuk orang dewasa. Saya rasa orang dewasa saja tidak semua kuat dan berani menonton film-film sejenis itu. Lhaa...ini yang nonton anak-anak di bawah umur. Bahkan bukan anak-anak tapi Balita.

"Matikan, cepat matikan." Kata saya pada si kembar. Lala langsung mematikan DVD Playernya, namun Sasa langsung menangis histeris gara-gara filmnya dimatikan.  Mendengar ribut-ribut begitu, mamanya Si kembar yang sedang memasak di dapur menghampiri kami.

"Kenapa Teh?" Katanya.

"Ini kok pada nonton film hantu sih." Jawab Saya sedikit sewot.
"Iya baru dibeli semalam, memang mereka yang minta." Sahut mama si kembar.
"Nanti mereka jadi penakut."  Saya menyelanya.
"Iya Teh emang mereka penakut itu, tapi mereka suka nontonnya.
" Haaah ... " Saya cuma geleng-geleng kepala. No comment anymore, cabe deeeh...

Tak lama, sesampainya di rumah, kemana pun kaki Saya melangkah, Sierra terus-terusan membuntuti. Ke kamar, ke dapur, ke halaman bahkan ke toilet pun ia tak mau tinggal. Dan itu berlangsung berhari-hari. Suatu waktu Saya bertanya kepadanya.
"Chila kenapa sih ngikutin Bunda terus, sana main tuh ajak boneka-bonekanya main juga! Bunda kan mau mandi." Kata Saya.
"Nggak mau." 
"Kenapa?" ia cuma diam mematung, tak bisa menjelaskan kenapa.

Walau masih balita Sierra sebetulnya sudah tahu batas. Saat Saya mandi, saat sholat, saat masak ia tak akan mengganggu kegiatan-kegiatan tersebut.Namun ini pasti ada yang tidak beres dengannya. kemana saja ia selalu mengikuti dan minta ditemanin. Ada ketakutan yang terpendam dalam ingatannya.


Setelah diingat-ingat perubahan itu terjadi persis setelah ia menonton film Kuntilanak itu. Dan begitulah efek yang ditimbulkan. Anak jadi penakut dan tidak mandiri.
Selama ini sebagai orang tua, Saya dan Ayahnya selalu mengajari Sierra untuk tidak takut dengan hantu. Bahkan kata "hantu" itu sendiri pada awalnya tidak pernah kami sebut-sebut. Kata hantu malah dia tahu dari teman-teman mainnya. Kalau sempat dia menyebut kata hantu Saya selalu bertanya padanya,
"emang hantu itu apa sih?" Kalau sudah ditanya begitu Sierra tak berkutik.
"Sayang, tidak boleh takut sama hantu ya, Chila takutnya sama Allah saja. Hantu juga takut kok sama Allah." Kata Saya.
"Allah itu baik ya Bunda?" Tanyanya.

Ya, setidaknya itulah pelajaran aqidah yang ingin Saya dan suami tanamkan kepada anak. Hanya Allah saja yang perlu ditakuti, Bukan hantu, bukan jin, bukan setan, bukan pula manusia. Penanaman Aqidah yang kuat Insya Allah akan membentengi anak-anak dari kegamangan dan lemah iman.

Di tempat kerja, Saya sendiri heran, mengamati tingkah polah teman-teman kerja yang penakut naudzubillah, (saking penakutnya) mau ke toilet dan ke mushola saja pada nggak berani. Alasannya satu. Takut sama hantu.  Terkadang Saya menyindir halus mereka.
" Kalian ini lebih takut sama hantu daripada sama Allah, ternyata lebih baik nggak sholat karena takut sama hantu."
Hal itu tentu sangat tidak baik bagi perkembangan jiwa dan keimanan kita sebagai muslim.

Dari tulisan ini, Satu yang ingin Saya garisbawahi adalah jangan sampai rasa sayang dan cinta kepada anak-anak  menjadikan kita sebagai orang tua menuruti semua kemauan anak. Mau ini diturutin, mau itu diikutin. Padahal  semua kemauan anak kita belum tentu yang terbaik buat mereka.

Sunday, 11 November 2012

Catatan Perjalanan Gunung Pusuk Buhit 3 (Tamat)


Menuju Titik Daki

15 menit kemudian Kami diturunkan di pemandian air panas Siogung-ogung. Dari pemandian ini pendakian ke Gunung Pusuk Buhit bermula. Walau sempat dikagetkan oleh gonggongan dua ekor anjing yang bersahutan dan sangat berisik, Kami tetap berusaha naik, mencari alternatif jalan yang aman. 

Catatan Perjalanan Gunung Pusuk Buhit 1982 mdpl (bagian 2)


Feb 18, '12 2:37 PM 

Setelah melemaskan otot-otot yang tegang dan rapi-rapi mandi, lalu dandan yang cantik, suit..suit.. hmm kami turun ke lobi hotel, sekedar menengok keadaan dan memastikan bahwa kami memang sudah dekat dengan Gunung Pusuk Buhit.

Gunung Pusuk Buhit
Perbukitan menuju Gunung Pusuk Buhit

Catatan Perjalanan Gunung Pusuk Buhit 1982 mdpl (bagian 1)

                                                                                                                                    Feb 18, '12 12:42 PM
Tulisan ini disalin dari Blog Multiply.com yang sudah tutup

Catatan perjalanan ini aku buat untuk mengenang kembali masa-masa kebersamaan aku dengan Lastri dalam berpetualang. Sedikit banyaknya mungkin dapat berguna bagi rekan-rekan yang haus akan petualangan ke luar daerah, atau yang ingin mengunjungi gunung Pusuk Buhit yang kurang begitu dikenal oleh masyarakat. Sehingga jalur ke sini bisa saja dibilang "The roadless traveller". So nggak berlama-lama, simak petualangan kami ya :

Guru dari Sebrang Danau


Dam Duriangkang
Langit masih tampak putih pagi itu. Sedangkan matahari tak menampakkan diri sedari tadi. Dua buah sampan dikayuh perlahan menyusuri danau yang nyatanya adalah waduk atau dam buatan seluas 23,4 kilometer persegi yang dibendung sekitar tahun 1999 guna mensuplai kebutuhan air warga Pulau Batam. Pohon-pohon tinggi seperti sedang berkaca, berdiri tegak bejejeran di tepi danau dan memantulkan refleksi yang sempurna. Eceng gondok tumbuh subur di sepanjang tepian danau. 2 orang penduduk terlihat asyik mencari ikan dengan menggunakan jaring. Di tengah danau 3 orang anak sedang bemain-main sambil mengayuh perlahan sampannya, meliuk-liukan sampan seperti sedang membuat manuver-manuver kapal perang.

Anak-anak Bermain Sampan
“Ayo belajar….” Teriak Bu Angel kepada 3 orang anak dalam sampan. Anak-anak itu cuma tersenyum sambil menganggukkan kepala. Sampan yang ditumpangi Bu Angel terus melaju menuju sebuah pulau di tengah danau. Pulau yang berpenghuni sekitar 20 KK dengan  minim fasilitas apa pun.

Sampan yang ditumpangi Bu Angel dikayuh oleh seorang ibu-ibu penduduk pulau yang terlihat lincah dan cekatan. Beberapa kali sampan kandas tak bisa bergerak. Si Ibu pun harus rela turun ke danau mendorong sampan kemudian mengayuh kembali dayungnya. Semakin hari air danau semakin menyusut sehingga tak jarang di tengah-tengah danau sekali pun sampan kandas menabrak lumpur. Terlebih sampan itu sarat muatan.

View dari Pulau ke Arah Sebrang
Setibanya di Pulau, Bu Angel segera turun kemudian  membantu menurunkan barang bawaan yang lumayan banyak. Wajahnya terlihat bahagia karena hari itu ia akan membagikan hadiah kepada murid-muridnya di pulau. Hadiah berupa tas dan peralatan tulis yang masih baru sumbangan dari beberapa karyawan sebuah perusahaan di Batamindo Industrial Park Muka Kuning, sebuah kawasan industri yang tepat berhadapan dengan danau ini. Jaraknya hanya terpisahkan oleh dua buah jalur  jalan raya. Namun antara keduanya bagai dua alam yang berbeda, tak pernah saling bersentuhan. Berjalan sendiri-sendiri melalui alur waktu yang terus bergulir.

Rombongan Bu Angel kemudian menyusuri jalan setapak melewati semak belukar, kebun-kebun dan rumah-rumah penduduk yang tampak mengenaskan. Sebagian besar rumah-rumah tersebut hanya terbuat dari papan triplek dan beratap alang-alang.Guru yang ramah tersebut menebar salam dan senyum kepada setiap orang yang dilewatinya sambil tak henti-henti mengajak anak-anak yang ditemuinya untuk ikut bersama ke mushola tempat selama ini ia mengajar.
           
Bu Angel dan Anak Didiknya
“Ada hadiah dari ibu lho.... Ayo ikut yuk!” Ajaknya lagi kepada setiap anak-anak yang ditemuinya. Tak ayal anak-anak yang sedang di atas pohon pun lekas turun demi dilihat ibu guru kesayangan mereka datang.

Kawasan ini adalah wilayah konservasi dan hutan lindung yang dibuat sebagai wilayah resapan air jadi sebetulnya keberadaan penduduk di pulau ini adalah ilegal. Namun pindah dari wilayah ini pun sebuah dilema. Kemana? Sedangkan di luar sana, disebrang danau tak ada tempat tinggal yang gratis. Sementara pemerintah kota pun masih menutup mata terhadap kondisi mereka.

Anak-anak pulau ini pun kondisinya sangat memilukan. Hampir 90% tidak sekolah atau lebih tepatnya tidak disekolahkan oleh kedua orangtuanya. Penyebab utamanya adalah keterbatasan kondisi ekonomi karena mereka hidup di bawah garis kemiskinan. Terkadang untuk makan nasi saja sangat susah.

Anak-anak sedang Berkumpul di Mushola
Hari itu anak-anak duduk melingkar di sebuah mushola yang baru dibangun. Bu Angel dengan penuh kasih sayang menyapa mereka lalu bersama-sama menyanyikan lagu anak-anak Islami sebagai penyemangat pertemuan saat itu. Kurang lebih ada sekitar 30 anak yang datang. Satu per satu mereka mengantri memperoleh tas dan alat tulis yang baru. Wajah mereka polos ceria. Khas anak-anak. Tentu saja tak pernah mereka bayangkan 10 atau 20 tahun ke depan apa yang akan terjadi pada masib mereka jika mereka tetap tidak bersekolah. Yang mereka tahu selalu saja ada seorang perempuan anggun berjilbab datang ke pulau itu lalu mengajarkan baca dan tulis.


Atas jasa Ibu Angel, dengan bantuannya menggalang dana dari donatur akhirnya ada beberapa anak yang disekolahkan ke sebrang  danau yakni ke daerah Tanjung Piayu. Namun itu baru satu dua orang anak saja, masih banyak anak-anak lainnya menanti untuk dibantu. Dan ia sendiri terus berjuang memutus rantai kebodohan itu dengan datang ke pulau dua hari dalam seminggu. Mengajarkan huruf-huruf abjad, angka-angka, dan merangkaikannya menjadi sebuah tulisan. Hal itu dilakukannya tanpa paksaan dan tanpa bayaran. Semuanya hanya bermodalkan tulus dan ikhlas. Niatnya hanya satu menyambung asa anak-anak yang tak sekolah itu, setidaknya mereka bisa membaca dan menulis walau tidak sekolah sama sekali. Jangan sampai mereka buta huruf hingga buta dalam membaca alur kehidupan ke depan.


Sambunglah asa mereka, karena mereka juga punya hak untuk sekolah walau hanya Sekolah Dasar!

Thursday, 8 November 2012

Bagaimana Menghukum Balita?


File MP 42
Jan 24, '12 11:07 AM
Sierra, atau sering dipangil teman-temannya dengan sebutan Shera dan Chila adalah anak yang terbuka dan senang berteman. Saya dan suami biasa memanggilnya dengan Chila atau Ceila. Inilah salah satu kisah tentangnya :

Chila dan si Kembar Sasa Lala
Suatu hari kira-kira dua bulan yang lalu Chila dan teman-temannya main di rumah. Ada si kembar Sasa Lala dan anak tetangga sebelah rumah, namanya Kasih. Usia mereka sudah 4 tahun lebih sedangkan Chila baru 2 tahun 4 bulan saat itu. Usia yang cukup berbeda itulah yang terkadang banyak menimbulkan konflik dalam kepribadian Chila.
Saat bermain di rumah ini, awalnya semua berjalan lancar. Mereka menonton permainan edu-game di komputer. Walau ingin dulu-duluan main dan rebutan mouse, anak-anak nggak ada yang berantem. Namun karena komputernya tiba-tiba Hang nggak bisa dipakai lagi, dengan penuh kecewa, anak-anak pun beralih ke mainan lain.

Lala kemudian mengambil kuda poni barbie warna pink yang bisa berputar-putar di rel kereta, ia menyalakan tombol hinggga kudanya berjalan. Chila yang sudah ngambek dari awal karena komputernyahang jadi marah kepada Lala. Kuda poni dari tangan Lala direnggutnya. Chila pun menjerit-jerit "jangan dinyalain kudanya, jangan dinyalain" Katanya. Belum puas dengan itu, ia pun menendang dan memukul Lala. Wuaah... bisa perang saudara kalau gini keadaannya. Aku pun berusaha melerainya. "Pulang sana, pulaaang...." Chila mengusir Lala. Ya mau gimana lagi akhirnya Si kembar dan Kasih kusuruh pulang semua.

Dengan berat hati anak-anak pergi. "Pulang ya, nanti sore main lagi, Adik Sheranya lagi 
ngamuk, lagi ngambek". Aku membujuk ketiga anak itu pulang ke rumah masing-masing.
"Sayang... nggak boleh gitu ya sama kakak Lala, nanti Chila nggak ada kawannya gimana? Eh sekarang makan dulu yuk!" Chila yang masih emosi tampak menahan tangis dan malah merengek-rengek gak mau makan.

Chila   : Huhu..huuu...gak maau makaaaan
Bunda : Sama ayam mau?
Chila   : Gak mau, mau telul aja...aaa
Bunda : Ya udah deh bunda gorengkan telur.

Chila dan Teman-Temannya
Aku kemudian membuka kulkas, tiba-tiba ia berubah fikiran, "Chila gak mau telul maunya makan mie hhheu...."
Plak..plak..Chila memukul mukaku dengan kuda poninya, Wadawww... aku menjerit kesakitan. Seketika emosiku meluap. Chila kuangkat dan kukurung di kamar mandi. Ia menjerit-jerit ketakutan. Lalu memanggil-manggil ayahnya. Aku hanya ingin dia jera. Masih bingung memikirkan hukuman apa yang cocok untuk anak berusia 2,5 tahun. 

Hanya 3 menit saja Chila kukurung. Ketika pintu kamar mandi terbuka, Chila langsung memburu ke Ayahnya sambil mengadu "Bunda nakal Yah...bunda nakkalll huhuhu..." Ayahnya hendak memeluknya namun tiba-tiba kucegah.
Bunda :  Ayah, tadi Chila pukul Bunda tolong  jangan di alemYah.
Ayah   : Eeeh.. Chila ayo minta maaf sama Bunda.

Dengan enggan Chila pun menghampiriku, lalu mengulurkan tangannya meminta maaf. Aku menatapnya penuh iba. Ia balas menatapku dengan sedih, pundaknya terguncang-guncang menahan senggukan. Aku lalu memeluk dan menasehatinya. "Ayo peluk bunda Sayang..." Aku merentangkan kedua tangan dan Chila pun memelukku. 
"Ayo makan dulu Nak". Kataku setelah beberapa saat kami berpelukan. Namun ketika hendak kusuapi, Chila tidak mau membuka mulutnya. rupanya ia masih marah kepadaku. Lalu Ayahnya mencoba menyendoki dan menyuapinya. Ternyata Chila mau makan. Aku duduk terdiam sambil memperhatikan mereka. Hatiku cemburu. Mengapa Chila mau disuapi Ayahnya sedangkan olehku tidak mau.
Ayah : Bunda makan dulu. 
Aku tidak bergeming. 
Ayah : Bundaaa... 

Si Ayah mengusap kakiku yg kuselonjorin ke dekatnya. Aku tetap  tidak bergeming. Air mataku menetes pelan-pelan.
Ayah : Bunda kenapa? karena Chila ya?
Aku menganggukkan kepala
Ayah : Tuh Chila, lihat bundanya jadi sedih. Sana peluk Bunda!

Chila yang melihatku menangis, langsung berdiri menghampiriku. Lalu memelukku. Seketika tangisnya pecah. "Bunda...Bunda...Bunda...huaaaa...huaaa...." Aku dan Chila menangis berangkulan. "Maafin Bunda ya Nak! Gak boleh pukul Bunda lagi ya Sayang..." Aku berusaha menasehatinya di antara linangan airmataku. Chila menganggukkan kepalanya. Tangis kami pun pecah kembali. Makin keras dan bersahut-sahutan. Si Ayah jadi bengong dan ikut sedih. 

Please sharing bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah anak 2,5 tahun sudah boleh diberi hukuman? 

Selingkuhkah Aku?

                                                                                                                  File MP 41
                                                                                                                                                        Jan 22, '12 7:40 PM

Kalau masih gadis mungkin masih masuk akal, Lhaaa...sekarang Aku kan sudah emak-emak masih juga digodain laki-laki lain. Apalagi dia suami orang. Hadeuuh...cobaan apalagi ini!
*** 
"Met pagi Bu" sebuah sms masuk ke handphoneku. Nomornya tidak Aku kenali. "Siapa sih?" Batinku. "Pagi" kubalas singkat saja. "Apa kabar Si kecil Sila". Lanjutnya. Heh kok Chila dipanggil Sila sih? Aku menggerutu. "Alhamdulillah Chila baik-baik saja". Balasku lagi. Aku tambah penasaran siapa yang subuh-subuh gini sms-an gak penting gitu. "Kan nanya kabar saja emang gak boleh?" Batinku berbisik.

Daripada aku bertanya-tanya sendiri siapa orang yang sms ini, lebih baik aku langsung tanya saja deh."Oh..kamu Si A ya?" Aku menerka-nerka, salah benarnya terserah daripada Aku mati penasaran. Tak berapa lama sms balasan datang. "Iya" jawabnya. Ooo....bibirku membulat.

Berawal dari pertemuan yang tidak pernah direncanakan. Di sebuah acara jalan-jalan ke suatu tempat, kami dipertemukan lagi setelah lebih dari 7 tahun tidak pernah berjumpa. Dia bersama dengan seorang anak laki-laki berumur 6 tahun. Sedangkan Aku dengan Sierra (sering kami panggil Chila) yang berumur 2,5 tahun dan suamiku.

Dulu...dulu sekali mungkin ia pernah menyimpan sesuatu perasaan khusus terhadapku dan Aku yang  langsung  mencium gelagat itu segera menjauhinya. Bukan apa-apa berbaik-baik ria kepada orang yang mempunyai perasaan khusus kepada kita sama saja artinya memberikan harapan. Sedangkan Aku tak sedikit pun berniat dekat bahkan berpacaran dengannya. Ya, Aku sedang ingin sendiri saat itu.

Seperti dulu, kini ia mulai mengrimkan sms-sms yang menurutku gak penting banget. Smsnya kali ini bak teror dalam hidupku.  Masa sih tiap hari cuma nanya Apa kabar? Selamat siang?Selamat pagi? Selamat malam? Sudah makan belum? Kerja ya? Chila dah tidur? Lagi ngapain Chila? Haaah memuakkan. Terkadang pagi, siang, sore bahkan malam hari menjelang tidur. Lagi-lagi hanya menanyakan kabar atau menanyakan kondisi anakku. Huh.. nggak pernah sekali pun dia menanyakan kondisi suamiku.

Karena lama-lama merasa terganggu, Aku mulai menceritakan sms-sms itu kepada suamiku. Ia hanya menjawab bijak. "Sesekali dijawab gak apa-apa kok Bunda".  "Iya tapi ini tiap hari Yang, gak sesekali lagi". Aku malah jadi sewot. Sedangkan suami wajahnya datar-datar saja.

Padahal Aku ingin melihat wajahnya memerah karena cemburu atau tangannya mengeras dan mengepal karena marah. Namun matanya hanya menatapku hampa tanpa kata-kata. "Gimana ya Yang perasaan istrinya kalau tahu dia sms-sms terus sama Aku?" Suamiku hanya terdiam . Mungkin bingung mau jawab apa atau mungkin sedang berusaha menyelami perasaanku sebagai perempuan.

Ketika bercerita tentang ini di tempat kerja, temanku malah lebih parah lagi. Ketika laki-laki penggoda itu menelpon, Suaminya yang mengangkat. Lalu habislah tuh si cowok dimaki-maki dan diancam mau dibunuh segala. iiihhh....serem banget deh. Tapi setelah itu si penggoda kapok dengan sendirinya. Mundur dengan sendirinya.

Sedangkan Aku...waduh sampe hari ini pun sms-smsnya mengalir terus ke HPku. Walau kata-katanya nggak menyiratkan sesuatu yang berbau selingkuh, namun Aku sungguh merasa terganggu. Aku takut ini akan menjadi awal dan pemicu terjadinya perselingkuhan. Tidak bagiku tapi mungkin baginya. 
So bgmn solusinya kawan?  Lagi Bete banget sama cowok itu.

Sierra sudah Sekolah


FILE MP KE-40
                                                                                                                   JANUARY 12, 2012 2:49 PM

Usianya memang baru dua setengah tahun namun semangatnya untuk bersekolah sudah mulai kelihatan. Setiap melewati sekolah dan melihat anak-anak mengenakan seragam sekolah Chila selalu bilang "Chila juga mau sekolah".

Akhirnya setelah Ayahnya berkeliling-keliling mencari tempat yang cocok, jatuhlah pilihan sekolah Chila di PAUDperumahan sebelah. Sekalian dititip saat kami berdua bekerja. Namanya PAUD Thoriqul Ilmi di Perumahan Villa Paradise. Tempatnya tidak jauh hanya 5 menit jalan kaki dan turun tangga perumahan.

Hari pertama masuk sekolah mungkin karena antusias Chila tidak nangis, ia asyik mencoba semua mainan yang ada di sana.

Hari kedua Ayahnya yang mengantar, katanya Chila nangis nggak mau ditinggal. Hari ketiga Aku yang ngantar, Chila masih nangis juga. Namun hari keempat dengan bujuk dan rayuanku, setelah menanyainya macam-macam akhirnya dengan wajah cemberut Chila mau juga ditinggal.

Kemarin Aku pulang lembur jam 8 malam, Chila yang baru dijemput Ayahnya langsung berlari berhambur ke pelukanku sambil berteriak " Bunda...Chila kangen" Katanya sambil memelukku erat sekali. hatiku langsung meleleh. "Iya Nak Bunda juga kangen", Jawabku sambil berkaca-kaca.

Catatan tentang Seorang Kawan Bagian 4 (Habis)


Surat Lastri yang pertama datang di awal tahun 2006

Ia mengabarkan bahwa ia trekking ke Taman Nasional Gunung Leuseur sendirian. Ia disangka dan terus disangka mahasiswa oleh petugas TNGL di sana. Walau sudah mati-matian menjelaskan bukan mahasisiwa. Ia tetap dituduh Mahasisiwa atau dosen yang rendah hati. Secara yang ke sana hanyalah para peneliti luar negeri dan para akademisi. Semua orang tidak percaya bahwa ia hanyalah orang biasa-biasa. Ia bercerita tentang gunung Kemiri dan Bandahara di sekitar TNGL. Tak lupa menyelipkan foto salah satu gunung itu sebagai bukti.Saya Cuma ngiler baca tulisannya dan salut atas keberaniannya menjelajah sendirian. Gunung Leuseur adalah rencana petualangan kami lainnya yang tertunda.


Surat kedua Maret 2006
Ia mengabarkan sedang merintis usaha sendiri di rumahnya. Lastri juga marah karena pada balasan surat yang pertama Saya mengabarkan bahwa Agustus 2006 Saya akan mendaki Gunung Daik di Pulau Lingga. Serius nih mau ke Daik? Kenapa nggak dari dulu waktu Aku masih di Batam Teh? Curang nih Teteh.” Tulisnya di surat itu. Ia juga mengabarkan bahwa akan melakukan trip ke Gunung Kerinci dan Gunung Dempo. Ia pun membeli Atlas dan setiap menjelang tidur ia membaca dan memandangi petanya. Haha…mungkin sekalian berharap mimpi mendaki gunung-gunung di Indonesia kale ya. Wah kalau Saya mimpi naik gunung? males rasanya. walau hanya mimpi tetep saja badan terasa capek.


Surat ketiga, Desember 2006

Tadinya sich emang marah berat, soalnya Teteh udah lupa ngebalas suratnya. Tapi sekarang gak jadi dech. Trus kapan mau wedding partynya Teh? Oya kalau misalnya jadi sama Bang Ical honeymoonnnya ke gunung mana teh?” Glekk….itu dia yang bikin pusing. Urusan sama si dia di tahun ini tambah runyam. Rencana ke Daik kan udah dari dulu jamannya Aku masih di Batam, tapi kenapa baru naik sekarang? Teteh curang nih”. Seperti suratnya yang terdahulu Ia pun masih tetap nggak terima kalau Saya naik ke Gunung Daik tanpanya.


Surat keempat, Januari 2007

Jadi sekarang ceritanya Teteh lagi badmood gara-gara Bang Ical nunda-nunda gitu? Sabar aja Teh, mungkin Bang Ical pengen benar-benar siap lahir batin kalau nanti hidup berumah tangga. Jangan diburu-buru ntar Bang Icalnya malah kabur lagi”. Haha….panjang lebar Lastri nyeramahin tentang kekecewaanku sama si dia. Dan ia pun bercerita masih penasaran sekali dengan Gunung Sibuatan. Dimanakah berada? Waduh sebuah keinginan yang belakangan malah berubah jadi obsesi. Katanya ia akan berangkat untuk survey Gunung Sibuatan.


Surat Kelima, April 2007

Ia bercerita telah melakukan solo tarveling dalam pencarian mengenai letak gunung Sibuatan. Ia memulainya dari daerah bernama Tongging di sisi danau Toba Aku melihat sederetan gunung-gunung yang mengelilingi danau dan yang menarik perhatianku, ada satu gunung yang kelihatan lebih tinggi dari gunung-gunung di sekitarnya. Waktu kutanya ke salah satu pekerja penginapan, katanya itu hanyalah gunung biasa seperti gunung lainnya”. Sampai di sini, pencarian panjangnya belum membuahkan hasil. Wahai Gunung Sibuatan, Dapatkah kau mendengar suara hatinya? Seseorang telah merindukanmu bertahun-tahun lamanya?


***
Juli 2007 Saya menikah dengan seeorang yang pernah diceritakan sebelumnya. Lastri yang memang jauh di Kisaran Sumatera Utara hanya mengirimkan sms ucapan selamat, namun begitu mengharukan bagi Saya. Bahagia banget jadi teteh dapat soulmate impian sama-sama pendaki. Honeymoon ke gunung Teh? , pastinya Aku mo ngucapin Congratulation buat teteh dan Bang Ical, semoga bahagia sampai aki dan nini”. Aku hanya terpekur membaca smsnya. Iya, Aku harus bersyukur bahwa skenario-Nya sesuai harapanku dulu. Seseorang itu adalah lelaki yang menyukai gunung.


Surat keenam, Maret 2008

Ia mengisahkan perjalanannya ke daerah Mandailing Natal dimana di sana terdapat Gunung Sorik Marapi. Dengan ketinggian 2.145 mdpl.Namun karena ia hanya sendiri, perempuan pula, penduduk setempat tidak mengijinkannya untuk mendaki gunung. Ia diterima baik oleh kepala Desa dan warga, yang cuma mengijinkannya trekking di sekitar kaki gunung saja. Gunung ini sempat menjadi optionterakhir kami saat gagal mendaki Sibuatan, namun karena akses ke sana belum kami ketahui, akhirnya kami skip dulu. Mungkin suatu saat nanti. Dan Lastri sendiri melanjutkan rencana itu.


Surat ketujuh, Agustus 2008

Ini hasil survey mencari keberadaan gunung Sibuatan dan info dari beberapa teman di Medan yang udah pernah kesana. Simak ya :
Hari sabtu tepatnya tanggal 16 Agustus pukul 06.30 pagi Aku berangkat menuju Silalahi. (karena menurut peta atlasku Silalahi adalah yang terdekat dengan Sibuatan). Dingin, ngantuk (karena bangun pagi), sendiri, dan sedikit khawatir menemani perjalananku kali ini. Sampai di Silalahi pukul 15.30 setelah menempuh perjalanan 7 jam dengan beberapa kali ganti angkutan, Aku lewat Siantar) Walau Aku bawa peralatan namun karena gak ada lokasi camping ground akhirnya cari penginapan, dapat yang 70.000 per malam.
Setelah istirahat sebentar di penginapan, Aku memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar PLTA yang baru beroperasi + 2 tahun. Tetapi di sepanjang pinggiran danau Toba tidak terlihat ada gunung yang tinggi. Akhirnya Aku telpon temanku di Medan yang udah pernah ke sana. Menurut dia walau tidak mengatakan secara jelas dia naik ke sebuah tempat tinggi, dingin, tertutup, sakral, dan sering diadakan ritual. Di sana dia melihat begitu banyak edelweis yang bertaburan bagai padang rumput. Ia menyebutnya “Surga Dunia” karena pesona keindahannya. Ia juga bilang siapapun yang pernah ke sana DILARANG memberitahukan kepada orang lain. Itu sudah seperti perjanjian tidak tertulis (Berbeda dengan catatan anak Mapala lainnya yang memperbolehkan tempat itu dikunjungi siapa pun. Nah loh mana yang benar?
Waktu di daerah Merek Aku melihat sebuah gunung di kejauhan posisinya di sebelah kanan jalan seperti kata temanku. Sepertinya Aku tahu jalan masuknya. Temanku bilang gunung itu memang sakral, misterius, dan luar biasa indahnya. So, apa Teh Lina dan Bang Ical masih niat untuk menuntaskan “S” yang ketiga?
Sepulang dari sana Aku semakin penasaran dan bertekad harus ke sana lagi. Tapi untuk sendirian ke sana kayaknya gak mungkin banget. So, Aku tunggu janji Teteh dan Bang Ical untuk sama-sama mengunjungi Sibuatan dan membuktikan semua yang mereka katakan.”


Panjang lebar cerita di suratnya Lastri. Dan itulah surat terakhirnya, karena sepanjang 2009 – 2011 tak ada lagi surat-suratnya yang datang. Ia sesekali hanya berkirim sms dan telpon. Di tahun 2009 ini pun ia berkelana lagi sendirian menyambangi gunung Kerinci di Jambi untuk kedua kalinya.

Tahun 2010 saat ia sedang dalam perjalanan petualangannya, ia berkenalan dengan seorang lelaki. Walau lelaki tersebut bukan sesama pendaki gunung seperti yang selama ini didambakannya, Lastri menerima pinangan lelaki tersebut untuk menikahinya.
Betapa bahagianya Saya mendengar kabar tersebut. Lastri Menikah! Ya....Akhirnya penantian panjang itu berakhir juga.

Pertengahan tahun 2011 ia mengabarkan bahwa ia sedang hamil. Dan sedang menanti kehadiran sang buah hati. Saya ber-azzam akan membuat surprise untuk mengunjunginya kelak kalau ia sudah melahirkan bayinya.

10 Oktober 2011 Aku megirim sms kepadanya.Gimana kabarnya, sudah lahiran belum?”Balasan smsnya sungguh mengagetkanku.Sudah Teh dua malam yang lalu, tapi anakku meninggal pas lahir. Perempuan cantik Teh…..” ada rona kepedihan dalam tulisan sms-nya. 

Meninggal? Innalillahi…Kalau boleh tahu meninggalnya karena apa? Siapa tahu bisa jadi pelajaran buat ibu-ibu hamil lainnya” Dengan bahasa sehalus mungkin Aku mengirim sms lagi. Khawatir ia akan terusik. Tak lama balasannya sampai.Tenaga yang Aku keluarin cuma nyangkut di leher gak sampe perut, jadi pas mau keluar kepala anakku lama sangkut di lubang, tambah lagi pas keluar lehernya kelilit tali ari-ari sampe 3. Dari 6 bulan posisi anakku sering sungsang di perut teh, lahirnya normal.”

Berhari-hari Aku masih mengingat dan mengkhawatirkan Lastri. Sungguh cobaan yang sangat berat. Betapa sedih dan terpukulnya dia. Seorang calon ibu yang dengan susah payah selama 9 bulan menanti kelahiran bayinya. Makan, tidur, berjalan, dan segala aktivitasnya selama 9 bulan hanya tercurah untuk menjaga bayi dalam kandungannya dalam posisi nyaman lalu….begitu si jabang bayi lahir ia menyaksikan bahwa bayinya meninggal. Segala perjuangannya berakhir dengan kekecewaan. Aku pun sempat meneteskan air mata, tak kuasa menahan sedih. Pyuuhh... bagaimana dengan Lastri? seperti apa hancur hatinya.
Akhirnya kukirim lagi sms kepadanya Semoga Allah segera menggantinya dengan anak yang lebih cantik lagi”. Yah…Semoga Lastri segera mendapatkan penggantinya agar ia tidak terlalu merasa kehilangan. Tak berani membayangkan seandainya apa yang terjadi kepada Lastri terjadi kepada Saya juga, Saya segera bangkit dan memeluk putri Saya yang tengah asyik bermain. Menghujaninya dengan pelukan dan ciuman. "Ya Allah panjangkanlah usia anakku, beri ia kesehatan dan keberkahan dalam hidupnya." 



Selesai.

Awal dari tulisan-tulisan tentang seri "Catatan Tentang Seorang Kawan"  ini dibuat setelah Saya menerima sms Lastri tentang anaknya yang meninggal. Menyelesaikannya hampir 3 bulan. Sebuah prestasi menulis yang luar biasa "malasnya". Namun akhirnya karena takut keburu pergantian tahun diantara kesibukan kerja yang luar biasa repotnya yang terkadang mencuri-curi waktu kerja demi menulis, dengan susah payah selesai juga. LEGAAAA...
Semoga Lastri Senantiasa Berbahagia di Kisaran sana.

Tuesday, 25 September 2012

Catatan Tentang Seorang Kawan Bernama Lastri (Part 3) episode Gitaran di Sinabung



                                                                                                                           Nov 12, '11 5:58 PM
                                                                                                                            fFile MP for everyone
Jreenggg…suara gitar membahana membelah kesunyian gunung Sinabung. Saya yang dari kecil bercita-cita piawai main gitar, langsung terkesima. Suara gitar di puncak gunung? Itulah suara gitar yang paling indah yang pernah saya dengar. 
Saya segera keluar tenda dan bergabung dengan anak-anak cowok ABG yang rame-rame gitaran di depan api unggun. Lastri sedari tadi telah bergabung bersama mereka. Suasana malam yang sempurna yang selalu Saya dambakan ketika kemping atau naik gunung. Gitaran!
Lagu demi lagu, bait demi bait berganti, tiba-tiba terdengar sebuah lagu yang membuat hati Saya dan Lastri hampir meleleh. Entah punya kenangan yang sama atau tidak, kami kompak secara tidak langsung menyukai lagu tersebut. Bahkan minta diulang berkali-kali. Jadilah lagu tersebut theme song perjalanan kali itu. 

Catatan Tentang Seorang Kawan Bernama Lastri (Part 2)


                                                                                                                           Oct 22, '11 7:32 PM
                                                                                                                           File MP for everyone


Saya dan Lastri  berencana kemping di sebuah Pulau yang berbatasan langsung dengan Singapura. Sebuah pulau kecil yang tak berpenghuni. Sudah lama sering dijadikan lokasi kemping anak-anak Cumfire. Kalau sudah bosan kemping di hutan, pelariannya ya ke pulau ini. Penduduk sekitar situ menyebut pulau ini Pantai Indah.

Sesuai namanya, pantainya memang indah, walau sempit dan sebagian tertutup lumut namun sangat pas buat menyendiri.  Apalagi kalau malam hari, suasana sepi diselingi deburan ombak, dihiasi bias bintang dan kerlap-kerlip Singapura di kejauhan makin menambah sendu suasana hati. Yang lagi kesepian seperti saya, kemping ditempat ini bisa termehek-mehek. Berharap kalau si ganteng yang jalan bareng ke Gunung Ciremai itu menemani. Uhuy so romantic gitu.

Catatan Tentang Seorang Kawan Bernama Lastri


                                                                                                                Oct 20, '11 7:04 PM
                                                                                                                File MP for everyone

Sebenarnya sudah lama sekali ingin menulis tentang cewek yang satu ini. Seorang teman jalan yang cukup mengasyikan, walau terkadang agak-agak  cerewet, Saya anggap itu hal wajar bagi seorang perempuan. Dan lagi sebatas tingkat kecerewetannya bisa ditolerir Saya menganggap itu bumbu dalam perjalanan, Lha wong Saya juga tak kalah bawelnya dibanding dia kok.

Karena usianya terpaut 2 tahun di bawah Saya, jadilah Saya menganggap dia sebagai adik kandung sendiri. Se-sebel-sebelnya Saya sama dia masih juga ada kangennya, terus pengen ketemuan deh. Yah…hubungan apalagi coba kalau bukan berasa seperti sama saudara. Kalau dekat berantem kalau jauh kangen-kangenan.
Perkenalan Saya dengannya bermula di sebuah base camp sebuah klub Pecinta Alam di Muka Kuning - Batam yang bernama Cumfire. Awalnya Saya yang merasa senior tentu rada jaim karena tidak seangkatan. Namun lama-kelamaan si jaim itu cair sendiri karena seringnya kami bertemu.

Tubuh Lastri tinggi besar, lebih terkesan maskulin daripada feminim. Ditambah lagi dengan dandanannya yang tomboy dan super cuek. Kalau ketemu teman-teman cowok di base camp, habislah dia kena cercaan, celaan dan ledekkan. Namun dengan santainya dia selalu membalasnya dengan “smart”. Walhasil ledekan para cowok  iseng itu malah berbalik ke mereka. Naah… rasain loe ya, wani-wani! Dari situ Saya mulai dekat dengannya. Menurut Saya dia melambangkan perlawanan gender karena bisa-bisanya mengalahkan ledek-ledekkan  kaum laki-laki.

Suatu saat di Bulan Maret 2004 tepat 5 tahun Saya di Batam, Saya ingin merayakannya dengan cara Saya sendiri. Sesuatu pengalaman yang akan Saya kenang terus sepanjang zaman. Halah lebay! Setelah difikir dibolak-balik maka setelah meyakinkan diri sendiri Saya memutuskan merayakannya dengan cara mendaki gunung. Saat itu sempat bingung akankah pergi sendiri atau ngajak teman. Tapi siapa?
Bermalam-malam Saya sempat suntuk mikirin siapa partner jalan Saya. Dan “Ting” ide itu tiba-tiba muncul. Lalu mengalirlah rayuan Saya kepada Lastri. Alhasil dia mengiyakan. Horeee. Simpel saja. Rayuannya begini : “Las, kamu kan orang Jawa tapi belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Jawa kan?” Wah rayuan jitu. Secara Lastri berasal dari Kisaran Sumatera Utara, lahir dan besar di sana, belum pernah sekali pun menginjakkan kaki di Pulau Jawa.

Mengenang Nurul F. Huda

                                                         Sep 22, '11 6:23 PM
File MP for everyone
Di suatu pagi tanggal 18 Mei 2011, pagi yang cukup sunyi ketika sebuah sms masuk ke handphoneku. "Innalillahiwainnailaihi rojiun. Telah berpulang ke Rahmatullah Nurul Fithroini (nurul f huda), 18 Mei 2011 pkl. 03.15 di RSUD Dr.Sardjito Yogya. Akan di makamkan di Purworejo. Keluarga besar Huda." isi sms itu mengagetkanku. Masih tak percaya dengan kalimat yang kubaca tadi, aku mengulangnya berkali-kali. Kubaca baik-baik kata demi kata namun isinya tetap sama. Mengabarkan tentang seseorang yang aku kagumi, aku hormati, dan aku sayangi telah meninggal dunia. Sahabat, guru, kakak, teman curhat, dan rekan diskusi terbaik.

Ya Allah Mbaaak... Air mataku meleleh tak terbendung. "Secepat itukah dirimu pergi?" Aku meratap sendiri. Kebersamaan dengannya beberapa tahun silam berkelebatan dalam ingatan. Beberapa janji yang belum terpenuhi seakan menagih untuk ditepati. Aku menyesal telah melewatkan beberapa kesempatan untuk menemuinya di saat-saat ia sehat maupun sakit. Saat ia di Batam, di Jakarta, bahkan saat detik-detik kematian menjemputnya di Jogjakarta.

Ketika Sierra Berbicara

                                                                                                                                                                                                                      
Feb 8, '11 5:49 PM
File MP for everyone


"Budaaa...waaas...toool". Teriak Sierra mengingatkanku agar menepi ke pinggir jalan ketika sebuah sepeda motor mendekat ke arah kami. Aku tersentak kaget, namun bukan kaget karena motor yang hendak mendekati kami namun aku terkejut mendengar kata-katanya yang lucu. Dengan ucapannya yang masih cedal dan di usianya yang waktu itu baru 17 bulan Alhamdulillah Sierra sudah bisa membuat sebuah kalimat peringatan! Sesungguhnya dia hendak berkata "Bunda awas motor".

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...