Monday, 29 February 2016

Sepotong Kenangan di Jalan Rasamala Batamindo

Di tepi jalan itu..... 

Di sepotong senja yang damai, di sebuah bangku permanen yang diplester semen, kita duduk berhadap-hadapan menceritakan tentang jati diri kita masing-masing. Berbicara tentang masa lalu dan berandai-andai tentang masa depan sambil menikmati semilir angin yang dibawa lalu oleh satu dua kendaraan yang lewat. 

Jalan itu begitu lengang, sepi dan bersih. Bunga bogenvil yang menghiasi tepi jalan telah mekar sedari kemarin. Seludangnya menarik perhatian dengan memantulkan warna ungu, oranye dan merah cerah. Pohon-pohon rindang berdahan rendah tumbuh di kedua sisi jalan. Ranting dan daunnya saling bertautan di atas seperti sedang bergandeng tangan dan berangkulan. 

Semenjak pagi hingga malam hari, jalan ini senantiasa dikunjungi dan dilewati sekedar untuk menghabiskan waktu. Keteduhan selalu menaungi sepanjang jalan yang tak lebih dari 500 meter ini. Jalan tempat melepas lelah para pekerja, pencari kerja, dan yang pulang belanja.

Sebuah lapangan yang ditumbuhi rumput gajah terhampar dan dibiarkan terbuka di sebuah sisi jalannya, diapit oleh dua bangunan bernama Wisma Batamindo dan Plaza Batamindo. Beberapa orang duduk berkelompok dan berbaring-baring di atasnya. Entah berdiskusi atau mungkin sekedar melepas kepenatan. Namun menatap langit sore yang biru sambil terlentang di lapangan rumput sungguh pemandangan yang sangat menggoda. 

Seiring perputaran zaman dan roda masa yang terus melaju. Bertahun-tahun berlalu semenjak kenangan itu, dan kini kukembali melaluinya, menyusuri jalan ini. Berjalan perlahan sambil mengumpulkan pecahan kenangan yang tersebar di setiap sudut-sudutnya. Menyesak jejak-jejak yang terserak. Ah, ternyata ….. tidak bersama dia saja aku pernah melalui jalan ini Namun pernah juga bersama puluhan bahkan ratusan teman, dulu, dahulu. Sepulang bekerja, atau sepulang bermain-main dari hutan. Sehabis mencari jajanan di Pujasera atau mengurus berbagai hal dengan masalah pekerjaan. 

Kembali duduk di sana, merenungi perjalanan waktu yang terus berlalu, seperti berlalunya kendaraan yang melesat setiap saat. Tak kembali dan tak meninggalkan jejak. 


Denyut kehidupan tetap berdetak di jalan ini. Para penganggur, pekerja, pengojek, dan pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran, terduduk di bangku-bangku di sepanjang jalan Rasamala. Berdempetan seperti tidak ada lagi bangku yang kosong.

Hanya mampu menatap lekat pada rindang dahan dan teduhnya pepohonan. Merunut peristiwa yang berkelebatan dalam lamunan. Mewarnai damainya hari di Jalan Rasamala yang teduh ini. 

# Sebuah kenangan akan jalan Rasamala Batamindo Industrial Park Muka Kuning – Batam.


Dian Radiata, Travel Blogger Batam yang Produktif Menulis di Media

Tahun 2005 saya diperkenalkan dengan sebuah website untuk ngeblog, Multiply (MP), oleh seorang teman dari Bandung yang bekerja di salah satu media cetak lokal di Batam. Saya yang memang suka internet jadi semakin keranjingan untuk mulai menulis blog atau sekedar memindahkan foto-foto dari kamera digital ke album foto yang tersedia di Multiply. 

Saat itu akun multiply saya sama dengan email pertama yang saya buat di yahoo pada tahun 2000.  Apa sih? Yang penasaran, akun MP saya dulu adalah mozank3roet.multiply.com. Namanya alay banget namun percayalah tahun segitu alay belum lahir ke muka bumi. Hihi. Seorang teman yang semula mengejek saya alay mendadak menyebut saya nenek moyangnya alay. Huhu berasa tua amat digituin.

Awalnya saya membuat blog hanya untuk kepuasan personal saja. Tempat curhat dan menuangkan isi fikiran. Saya tidak mau blog saya dibaca oleh orang lain. Malu. Belum tahan banting kalau dikritik atau dikomplain. Namun lama-lama, setahun dua tahun kemudian, blog saya ada yang baca juga. Dan tau-tau orang yang baca adalah orang yang dekat di sekitar tempat saya tinggal.  Woow, berasa takjub. Langsung pengen kenalan, balas komen, inbox-an dan tukar nomor handphone. Lalu kami saling menelpon. Bercerita layaknya dua orang teman yang sudah saling kenal lama. 

Perlombaan Gasing di Festival Pulau Penyengat 2016

Festival Pulau Penyengat
Seorang remaja laki-laki dengan wajah sedikit tegang perlahan menggulungkan tali berwarna kuning dan oranye melingkari gasing yang dipegang tangan kirinya. Matanya awas memandang ke arena permainan dimana selembar karpet merah terhampar di permukaan tanah.

Ketika lilitan tali pada gasing penuh, secepat kilat ia melemparkan gasingnya yang berwarna biru ke atas karpet. Gasing meluncur lalu memantul melewati lingkarang permainan, lalu terlempar dan hampir mengenai salah seorang penonton. Permainan pun diulang kembali.

Tali gasing biasanya terbuat dari kulit pohon waru laut. Sejenis pohon tepi pantai, tumbuhan perdu yang tersebar luas di pantai-pantai tropis di seluruh dunia. 

Gasing merupakan salah satu permainan tradisional suku Melayu. Tiap wilayah punya kekhasan bentuk gasing masing-masing. Ada yang bulat, pipih, lonjong dan lain sebagainya. Biasanya permainan gasing dipertandingkan. Yang menang adalah gasing yang tetap bertahan paling lama berputar di arena pertandingan. 

Festival Pulau Penyengat

Kampung datuk, begitulah saya membaca sekilas sebuah papan tanda di tepi jalan Pulau Penyengat yang sedang saya lalui. Di Sebuah lapangan tak jauh dari jalan itu tampak kerumunan warga seperti sedang menonton sesuatu. Tak ayal membuat hati penasaran. Dan kaki tanpa diperintah telah lebih dahulu melangkah ke sana.


Seorang remaja tanggung berwajah hitam manis, melilitkan kembali tali yang dipegangnya melingkari gasing. Percobaan yang kedua. Kali ini tak boleh gagal. Dengan sekali hentakan yang melepaskan gasing ke tengah-tengah lapangan permainan, ia memasang kuda-kuda dengan lihai. Gasingnya berputar kencang. Priit. Sang wasit meniup peluitnya. Lalu seorang lawan segera tampil sambil melilit gasingnya, memasang kuda-kuda, dan melemparkan gasing tepat ke arah gasing si remaja tanggung.


Festival Pulau Penyengat


"Praak...." bunyi hantaman gasing membuat seluruh penonton penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Dua gasing terpental ke luar arena permainan. Dengan segera para pemain menggiring gasingnya ke atas karpet merah lalu membiarkan kedua gasing tersebut menyelesaikan putarannya.

Perlombaan gasing. Seperti yang telah saya baca di daftar susunan acara Festival Pulau Penyengat, bahwa akan diadakan lomba gasing. Saya sudah berniat untuk menontonnya. Dan tak menyangka saya bisa kesasar ke lokasi yag benar. 

Dua gasing berbeda bentuk itu tetap berputar dengan elegan di tengah arena perlombaan. Membuat penasaran para penonton gasing siapakah yang akan bertahan paling lama. Apakah gasing si remaja hitam manis itu atau lawannya.

"Priiit..." wasit meniup peluit.

"Bintaaaan..."  seorang panitia mengumumkan pemenang itu melalui pengeras suara. Seorang panitia yang lain kemudian mencatat di papan tulis. Mata saya bolak-balik menatap kedua kelompok pemain. Tak ada ekspresi gembira dari mereka. Skor imbang.



Pertandingan lainnya dimulai. Panitia kemudian menimbang terlebih dahulu berat gasing yang akan dipertandingkan. Saya lantas mengintip seperti apa perlengkapan beberapa peserta. Dan ternyata gasingnya banyak. Tidak hanya satu dua saja.


Di sisi lain, seorang fotografer berhasil meminta kepada seorang warga untuk tampil beraksi di depan kameranya. Seorang bapak-bapak tua yang dengan lihai memainkan gasing menggunakan jari-jemari, telapak tangan dan bahkan kakinya.





Pertandingan demi pertandingan terus bergulir. Saya hanya menyimak keseruan itu melalui bidikan kamera karena sedang hunting foto. Ingin rasanya mencoba permainan ini, terlihat seru dan menegangkan. Namun, sayang saya berada di dalam suasana lomba yang bahkan tidak mengijinkan penonton berada di tengah lapangan perlombaan. 

Setelah hampir satu jam menyimak keseruan perlombaan gasing saya pun melanjutkan perjalanan menuju balai adat. Di sana sedang ada Lomba Kuliner Khas Melayu dengan menu utama sajian gonggong, sotong, dn ikan. Sepertinya waktunya pas menjelang perut saya keroncongan karena lapar.


Sunday, 28 February 2016

Beberapa Tips Memperoleh Baju Bayi yang Sesuai

Baju Bayi
Sumber Foto: bukalapak.com
Pakaian adalah salah satu jenis kebutuhan yang harus dipersiapkan untuk menyambut kelahiran bayi. Sebaiknya, belilah pakaian bayi ketika jenis kelaminnya sudah diketahui supaya model pakaian dan warnanya bisa diperhitungkan dengan baik. Sebab, Anda perlu mempersiapkan pakaian dan berbagai macam baju bayi lucu dengan baik sesuai kebutuhannya masing-masing. 

Hunting Foto di Festival Pulau Penyengat 2016

Sabtu, 20 Februari 2016, hari pertama penyelenggaraan Festival Pulau Penyengat 2016 yang diguyur hujan seharian, dari subuh hingga maghrib, membuat saya dan para peserta lomba foto lainnya kecewa berat. Fotografer amatiran seperti saya ini selalu mengandalkan back ground langit biru untuk menghasilkan foto landscape yang bagus. Langit biru atau cerah itu modal dasar banget sih. Meskipun bagi fotografer yang sudah mahir dan master dengan perlengkapan tempur yang canggih, hal itu tentu tidak menjadi permasalahan besar.



Saat makan malam di rumah penduduk pulau Penyengat, tempat yang dijadikan lokasi sarapan, makan siang, dan makan malam seluruh peserta fotografer terpilih se-Indonesia, saya memanfaatkan kesempatan untuk bertanya macam-macam tentang fotografi kepada para fotografer senior. Dan ini alasan utama saya mengikuti FPP melalui jalur fotografer bukan blogger. Karena dengan memilih menjadi peserta lomba fotografer saya bisa bertemu dengan banyak fotografer senior dan mendapatkan transferan ilmu fotografi. Kalau melalui jalur blogger gak akan kenal dengan para fotografer keren yang mewakili hampir seluruh Indonesia.

Sambil hunting foto, saya tetap bisa meliput dan mencatat hal-hal penting untuk tulisan di blog. Jadi bisa dapat manfaat dua-duanya. Maka kehadiran para blogger sempat membuat para fotografer Batam terheran-heran karena tidak mengenal kami. Sudah jamak bahwa antara sesama penghobi foto saling mengenal satu sama lain, dan kami justru tidak dikenal di kalangan mereka. Haha. Jelas sih kami ini kan blogger yang nyamar jadi fotografer.


Setelah sesi sharing dengan salah seorang fotografer professional dari Batam, saya dan Zakia peserta lomba foto dari Bogor yang usianya masih belia, 18 tahun, segera menuju Balai Desa. Di sana sedang ada pagelaran seni dengan menampilkan grup musik Melayu yang dimainkan oleh sekelompok anak muda asli pulau Penyengat. Belum apa-apa saya sudah terharu dan bangga. Jarang sekali anak muda yang peduli musik khas daerahnya seperti ini.
 


Di depan panggung segerombolan anak kecil usia SD menari bersama mengikuti irama musik. Beberapa dari mereka menarik-narik tangan kawannya yang hanya menonton untuk ikut larut dan bergabung dalam kerumunan bocah-bocah yang menari belingsatan. Membuat saya dan Zakia tertawa-tawa karena lucu. Selesai acara saya dan Zakia mampir ke tangga mesjid untuk mengambil foto mesjid Penyengat hingga hampir tengah malam.

Anak-Anak Penyengat menari di depan panggung

Keesokan harinya, selepas sholat subuh saya dan Zakia berjalan kaki menuju Bukit kursi untuk mengambil foto sunrise. Di sana telah ada Ayuning Tyas fotografer cantik dari Kendari yang sebenarnya lebih cocok menjadi model daripada menjadi fotografer. Di sisi lain ada juga Danan dan Bams dua teman blogger dari Batam yang ikut Festival Pulau Penyengat melalui jalur fotografer. 

Sayang, pagi itu sedikitpun wujud matahari tidak terlihat karena terhalang awan tebal. Setelah hampir satu jam menunggu kami pun menyerah dan turun. Saat melintas mesjid Penyengat kami tergoda untuk masuk dan mengambil beberapa foto. Beberapa fotografer mendadak memanggil saya dan meminta saya untuk menjadi model. Menyuruh saya turun naik tangga,  menghadap dan membelakangi kamera, berpose di tangga mesjid Penyengat. Oalaaah.  Capek adek, Baaaang :D

" Ya emang gitu kalau jadi model kudu tahan capek." Kata Danan yang sedari awal membantu memegangi kamera saya.

Sesi pemotratan ala-ala selesai, saya dan Zakia segera menuju homestay untuk sarapan. Selepas sarapan segera meluncur ke Kampung Bulang tempat terselenggaranya lomba Jong. Di sana telah semarak warna-warni Jong yang terparkir di tepi laut. Lomba memang belum mulai. Beberapa warga dan petugas dari Dinas Kebersihan kota Tanjungpinang masih sibuk membersihkan sampah yang terbawa arus yang mengotori tepi laut , terutama tempat yang akan dijadikan penyelenggaraan lomba jong.



Apa itu jong? Jong adalah sebuah permainan perahu kecil dengan layar-layar lebar.  Persis perahu layar besar namun dalam versi mininya. Biasa menjadi permainan tradisional di kawasan Melayu yang sebagian besar dikelilingi oleh lautan.
  



Karena acara masih lama dimulai, saya dan Zakia pun meninggalkan lokasi Kampung Bulang untuk menuju Balai Adat. Sepanjang jalan ada saja hal-hal menarik untuk difoto. Sekelompok anak kecil yang sedang berjualan kue kering, beranda sebuah rumah dengan meja dan kursi yang unik, reruntuhan rumah tua yang tinggal tembok, kucing yang fotogenik, seorang anak yang sedang sendirian, Nenek yang mengupas kelapa dan lainnya. Semua terasa menarik saat berada di balik lensa kamera. 

Seperti tajamnya lensa kamera, saya selalu ingin menajamkan penglihatan untuk mengamati lebih dalam dan lebih jauh lagi tentang detak kehidupan di pulau Penyengat. Pulau yang dulu pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Riau Lingga.

Jualan rame-rame :D

Terasnya bikin betah

Hai kucing, dadah-dadah dong ke pemirsa 

Zakia dan anak-anak pulau Penyengat

Jalan lengang menuntun kami untuk terus menyusurinya. Membawa langkah menuju Kampung Datuk yang sedang menggelar perlombaan gasing. lalu dengan spontan kamera segera terarahi untuk merekam beberapa detik putaran gasing yang terlempar ke arena permainan. Sesaat gasing-gasing itu terhenti. Seperti sebuah perjalanan yang kadang terhenti untuk sekedar beristirahat.

Wednesday, 24 February 2016

Berbagai Keseruan di Festival Pulau Penyengat 2016

Festival Pulau Penyengat 2016
Peta Situs Sejarah di Pulau Penyengat
Festival Pulau Penyengat 2016 (FPP) sedang digelar. Perhelatan akbar yang layak disebut sebagai kenduri masyarakat pulau Penyengat ini tampak disambut antusias oleh warga Penyengat, warga kota Tanjungpinang dan warga daerah lainnya di Provinsi Kepri yang datang ke acara tersebut. Sebuah gelaran festival yang banyak melibatkan warga Penyengat baik sebagai panitia, peserta lomba, pengisi acara maupun sebagai penonton.

Thursday, 18 February 2016

Mengunjungi Museum Kata Andrea Hirata Di Belitung

Persiapan travelling yang super ribet dan memakan waktu membuat banyak orang jadi malas untuk merencanakan liburan. Padahal sebenarnya kini tidak sulit kok mempersiapkan semua kebutuhan travelling. Sejak ada MatahariMall, manfaat belanja online jadi semakin terasa menyenangkan. Tinggal mengakses situs belanja MatahariMall, aneka pilihan produknya yang beragam siap memenuhi kebutuhanmu.

Kalau kamu berencana untuk berlibur ke luar pulau, salah satu destinasi menarik yang tidak boleh kamu lewatkan adalah Museum Kata Andrea Hirata di Belitung.

Museum Kata Andrea Hirata. Foto: Museumkataandreahiratacom

Wednesday, 17 February 2016

[Book Review] Tambora Sampai ke Kita

Gunung Tambora
Buku Tambora Sampai ke Kita
Sebelum akhirnya ledakan Gunung Tambora dikenal dan menjadi perhatian dunia, bukti-bukti sejarah keberingasan ledakan itu hanya samar-samar. Kawasan ini tertidur selama sekitar 164 tahun lamanya, mengubur dua kerajaan yang hingga kini tidak diketahui posisi pastinya berada. (hal.59)

Di kalangan masyarakat Indonesia, gunung Tambora pada mulanya tidak terlalu dikenal seperti halnya gunung Merapi atau gunung Krakatau yang pernah meletus dan memuntahkan isi perutnya ke permukaan bumi. Namun seiring berbagai penelitian dan ilmu pengetahuan tentang vulkanologi yang semakin berkembang, terkuak fakta bahwa gunung Tambora menyimpan cerita kelam tentang sebuah letusan dahsyat yang merenggut nyawa puluhan ribu orang dan bahkan mempengaruhi iklim global.


Friday, 12 February 2016

Menikmati Keindahan Desa Sembungan Desa Tertinggi di Pulau Jawa

Desa Sembungan Dieng

Ojek yang kami tumpangi meliuk-liuk di jalanan aspal yang di sana-sini tampak berlubang. Cukup dalam dan berbahaya jika kendaraan yang melaluinya sangat laju. Namun hal tersebut tidak mengganggu saya sama sekali. Karena perhatian saya teralihkan penuh pada pemandangan bukit-bukit yang dilalui di sepanjang jalur menuju Desa Sembungan Dieng. 

Tuesday, 9 February 2016

Islands Tour Bersama Kapal Mv. Sea View di Pulau Nipah Barelang Batam

Kapal Mv. Sea View
kapal Mv. Sea View
Secara administratif, Batam memiliki 373 pulau. Dan kekayaan pulau-pulau ini belum semuanya dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat Batam. Salah satu hal yang paling simpel untuk dimanfaatkan adalah dari sektor pariwisatanya. Begitu banyak pulau yang semestinya dapat dikembangkan dan dikelola dengan baik guna dijadikan lokasi pariwisata yang baru. Begitu juga paket-paket “Keliling Pulau” atau Island Tour adalah sebuah kesempatan yang terbuka lebar yang bisa dimanfaatkan oleh para pelaku dunia pariwisata di Batam.

Sunday, 7 February 2016

Serunya Mengikuti Event 1st Wonderful Indonesia Nongsa Regatta


1st Wonderful Indonesia Nongsa Regatta
Marina itu tampak padat oleh yacht dan kapal-kapal kecil yang berlabuh. Suasana riuh terdengar dari salah satu pelantar marina. Sekumpulan para yachter yang baru saja merapat dan mengikat yachtnya ke tiang-tiang saling kejar-mengejar. Lantas tarik-menarik dan menceburkan satu sama lain ke laut. Jerit, teriakan, dan gelak tawa seketika menggema di udara.

Sebuah perayaan sederhana bagi para yachter karena telah melalui tantangan perlombaan yang cukup menguras tenaga dan fikiran. Mereka baru saja selesai mengikuti event 1st Wonderful Indonesia Nongsa Regatta 2016 yang diselenggarakan di lepas pantai Nongsa Point Marina & Resort (NPM) Batam Kepri.


Marina atau tempat berlabuhnya yacht di Batam sepertinya hanya dimiliki oleh Nongsa Point. Pantas saja sudah berkali-kali event seperti ini terselenggara di Nongsa Point. Kini dengan mengusung tema 1st Wonderful Indonesia Nongsa Regatta, tahun 2016 ini lomba yacht mulai didukung oleh Kementrian Pariwisata dan akan dijadikan agenda tahunan.


Friday, 5 February 2016

Menghadiri Peresmian Launching Indosat Ooredoo 4G Plus di Kota Batam

Saya dan Rina. Foto oleh Asih
Suara hentakan musik mulai terdengar nyaring di telinga. Lantunan nyanyian seorang biduanita di panggung yang bernuansa merah kuning makin menarik perhatian pengunjung mal Nagoya Hill. Sedikit terburu-buru saya lantas menghampiri deretan mbak-mbak cantik penerima tamu yang menanyakan dari mana saya berasal. Maksudnya bukan asal tempat namun dari institusi mana saya mewakili hadir di acara tersebut.

Wednesday, 3 February 2016

Traveling Bawa Makanan Pedas Siapa Takut?


Rendang rawit



Saya ini pemakan segala. Termasuk segala jenis daging, sayuran dan daun-daunan. Eh kecuali daun pintu ya. Itu nggak suka banget. Selain keras, daun pintu dapat merusak kesehatan gigi dan mulut. Hahaha. Asyeem. Oya ada satu lagi sih yang nggak saya suka, yaitu ikan lele. Ini gara-gara trauma masa lalu. Ketika tinggal di Garut dan tibalah panen lele, saya kebagian nyuci bersih lele yang mau dimasak. Ketika perut lele dibelah ternyata ada kotoran manusia di dalamnya. Wew...kapok, nggak mau lagi nyentuh lele. Kalau lihat lele pasti teringat peristiwa itu. Jadi daripada muntah mending nggak usah makan sekalian.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...