Thursday, November 15, 2012

Jalan Rasamala


Di tepi jalan itu.....


Di sepotong senja yang damai, di sebuah bangku permanen yang diplester semen, kita duduk berhadap-hadapan menceritakan tentang jati diri kita masing-masing. Berbicara tentang masa lalu dan berandai-andai tentang masa depan sambil menikmati semilir angin yang dibawa lalu oleh satu dua kendaraan yang lewat.


Jalan itu begitu lengang, sepi dan bersih. Bunga bogenvil yang menghiasi tepi jalan telah mekar sedari kemarin. Seludangnya menarik perhatian dengan memantulkan warna ungu, oranye dan merah cerah. Pohon-pohon rindang berdahan rendah tumbuh di kedua sisi jalan. Ranting dan daunnya saling bertautan di atas seperti sedang bergandeng tangan dan berangkulan.

Semenjak pagi hingga malam hari, jalan ini senantiasa dikunjungi dan dilewati sekedar untuk menghabiskan waktu. Keteduhan selalu menaungi sepanjang jalan yang tak lebih dari 500 meter ini. Jalan tempat melepas lelah para pekerja, pencari kerja, dan yang pulang belanja.

Sebuah lapangan yang ditumbuhi rumput gajah terhampar dan dibiarkan terbuka di sebuah sisi jalannya, diapit oleh dua bangunan bernama Wisma Batamindo dan Plaza Batamindo. Beberapa orang duduk berkelompok dan berbaring-baring di atasnya. Entah berdiskusi atau mungkin sekedar melepas kepenatan. Namun menatap langit sore yang biru sambil terlentang di lapangan rumput sungguh pemandangan yang sangat menggoda.


Seiring perputaran zaman dan roda masa yang terus melaju. Bertahun-tahun berlalu semenjak kenangan itu, dan kini kukembali melaluinya, menyusuri jalan ini. Berjalan perlahan sambil mengumpulkan pecahan kenangan yang tersebar di setiap sudut-sudutnya. Menyesak jejak-jeka yang terserak. Ah, ternyata ….. tidak bersama dia saja. Aku pernah melaluinya bersama puluhan bahkan ratusan teman, dulu, dahulu. Sepulang bekerja, atau sepulang bermain-main dari hutan. Sehabis mencari jajanan di Pujasera atau mengurus berbagai hal dengan masalah pekerjaan.


Kembali duduk di sana, merenungi perjalanan waktu yang terus berlalu, seperti berlalunya kendaraan yang melesat setiap saat. Tak kembali dan tak meninggalkan jejak. Denyut kehidupan tetap berdetak di jalan ini. Para penganggur, pekerja, pengojek, dan pasangan muda-mudi, terduduk di bangku-bangku di sepanjang jalan ini. Mewarnai damainya hari di Jalan Rasamala yang teduh ini.



# Sebuah kenangan akan jalan Rasamala Batamindo Industrial Park Muka Kuning – Batam.

Selamat Tahun Baru 1434 Hijriyah

Alhamdulillah, tahun baru telah tiba. Tahun yang seharusnya menjadi awal hijrahnya kami sekeluarga menjadi yang lebih baik lagi.

Hari ini kami tidak kemana-mana. Hanya menikmati waktu liburan di rumah. Bermain dan bercanda bersama Chila. Pagi-pagi hanya mengajaknya sepedaan keliling komplek perumahan. Tak terasa 1 harian pun terlalui. Kini waktu sudah bergulir malam. Si Ayah sudah tidur dan Cila mulai terkantuk-kantuk. Alhamdulillah puas istirahat di rumah. Semoga esok dapat suntikan semangat untuk bekerja lebih baik lagi.

Wednesday, November 14, 2012

Yuk Kita Galakan Penggalangan Dana Online dengan Marimembantu .org

                                                                                                                   Oct 2, '12 1:42 PM
for everyone

Sudah hampir 3 tahun Putri (11 tahun) dan David (9 tahun) anak-anak dari tetangga saya tidak menikmati bangku Sekolah Dasar. Orangtua mereka bukan tidak ingin menyekolahkan anak-anaknya, namun mereka terbentur berbagai kendala terutama masalah keuangan.

Selama ini yang kita tahu dan sering diperbicangkan adalah bahwa pendidikan dasar 9 tahun itu gratis tidak dipungut biaya. Namun ternyata ada yang terlupa dan tidak tampak ke permukaan umum bahwa untuk anak-anak yang pindahan yang terpaksa ikut orang tuanya pindah pulau atau wilayah karena berbagai hal maka tetap dikenakan biaya masuk. Biayanya tidak sedikit antara 2 hingga 3 juta rupiah per anaknya. Dan kejadian itulah yang kini menimpa kedua anak ini.

One for All : Kabel Ekstension Klik-iT Solusi untuk Kabel Berantakan



                                                                                                                         Aug 29, '12 10:01 AM

Sudah sekitar 8 tahun rumah yang kami tempati masih seperti wujud aslinya. Belum ada renovasi apa-apa kecuali di beberapa bagian seperti dinding yang dicat baru dan jendela yang dipasang teralis. Begitu juga dengan instalasi listrik, colokan-colokan dan stop kontak  masih terpasang seperti awal rumah tersebut dibangun.

Semakin bertambah lama kami menempati rumah, semakin
banyak perangkat elektronik yang dibeli dan mulai memenuhi berbagai ruangan sedangkan kondisi colokan listrik masih tetap segitu-gitu saja jumlahnya. Rata-rata hanya  1 colokan tiap ruangnya.

Kondisi ini menyebabkan ruangan-ruangan menjadi tidak indah lagi dipandang mata. Bagaimana tidak, di ruang tengah saja colokan televisi harus menggelosor ke lantai memakai kabel ekstension yang memanjang melewati pintu keluar masuk rumah. Ketika anak-anak sedang bermain dan melewati ekstension ini kami disibukkan oleh teriakan dan larangan agar anak-anak tidak menginjak kabel. Belum lagi ketakutan jika ekstension kabel ketendang  waduh bisa-bisa anak-anak kesetrum. Wuuaaahh... hampir saja membuat jantung copot.  Berbahaya sekali.

Di kamar tidak jauh beda, colokan listrik hanya satu. Colokan ini pun harus berbagi untuk semua perangkat elektronik yang ada di ruangan ini. Komputer, laptop, charger hand phone, lampu emergency, raket anti nyamuk, dan lain sebagainya.

Begitu pun di dapur, kulkas & dispenser harus bergantian berbagi colokan dengan mesin cuci. Hadooh…repotnya! Tiap kali menyalakan mesin cuci maka colokan kulkas segera dicabut. Untung saja colokan rice cooker terpisah sendiri, kalau colokannya sama bisa-bisa kami kelaparan karena belum masak nasi sementara colokan listriknya sedang dipakai untuk mesin cuci.

Bukan tidak ada niat untuk memperbaiki instalasi listrik yang ada di rumah, namun karena niat perbaikan dan penambahan instalasi listrik ini direncanakan berbarengan dengan renovasi rumah suatu saat nanti, maka walaupun rada stress menghadapi kabel-kabel yang semrawut dan berantakan, kami tetap bertahan dan bersabar menghadapinya. Hehe... emangnya ujian!

Sehari-hari jika beres-beres pun rasanya tetap tidak rapi, laaah... bagaimana mau rapi kalau kabelnya berantakan sana-sini dan yang lebih menderitanya lagi si kabel itu tidak bisa dicabut sembarangan soalnya kalau jadwal beres-beres rumahnya bersamaan dengan jadwal anak saya nonton film kartun di televisi atau komputer maka tidak boleh tidak harus berhenti. Titik! Dan lagi, Ayah dan Bundanya harus hadir menemani. Jadi kalau pun Saya sedang beres-beres ketika anak Saya mengabsen dengan satu teriakan "Bundaaaaa..." maka Saya segera berlari sambil berkata "Iya Naak hadiiir" hehe!  lalu duduk manis di sampingnya sambil megang-megang sapu atau alat pel. Halaah.... ujung-ujungnya pekerjaan rumah tidak selesai-selesai deh.Tidak ayal jadi terbengkalai. Namun demi si kecil maka kami pun rela menemaninya walau mulut hampir  berbusa menerangkan apa yang ditonton kepada anak saya. Waduh sepertinya harus ada selingan minum dulu.


Lelah dengan ketegangan urusan kabel, sepertinya Saya harus mempunyai cara yang "smart" guna mengatasi permasalahan-permasalahan di atas tadi. Secara tidak sengaja seorang teman online di jejaring sosial facebook membawa saya mengunjungi situs ini dimana di laman ini diterangkan bahwa ada inovasi baru pengganti colokan listrik atau kabel gulung biasa (roll) dimana stop kontaknya dapat dipasang di berbagai tempat, untuk segala ruangan. Setelah mengunjungi laman tersebut saya semakin tertarik dan berharap ke depan dapat mengganti semua kabel gulung yang ada di rumah dengan kabel ekstension fleksibel Klik-iT.Yang lebih membuat saya sangat tertarik karena kabel ini bisa ditempel dimana saja termasuk di dinding sehingga tidak akan terinjak oleh anak-anak . Dan saya pun tidak perlu was-was lagi atau berteriak-teriak mengingatkan anak-anak akan bahayanya menginjak kabel ekstension.

Satu set Klik-iT terdiri dari kabel sepanjang 10 meter, 4 stop kontak, 18 kabel holder, releasable cable ties dan kertas manual.
Adapun kabel Klik-iT terbuat dari tembaga murni yang sudah
RoHS Free atau bebas dari bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungannya. Stop kontaknya terbuat dari bahan plastik ABS yang tidak mudah leleh dan dilengkapi dengan switch on/off. Cable holder-nya dibuat dari bahan transparan agar dapat menyembunyikan fisiknya sehingga membaur dengan interior ruangan. Sedangkan releasable cable ties berguna untuk merapikan kabel yang tidak terpakai dan dapat dilepas serta dipasang kembali.

Adapun Klik-iT memiliki kekuatan daya yang besar hingga 1500 watt per rangkaian kabel dikarenakan kabel klik-iT terbuat dari tebaga murni 2 x 0.5 mm sebanyak 20 lembar. Yang lebih meyakinkan lagi Klik-iT ini sudah bersertifikasi SNI.

Saya kira dengan satu set Klik-iT saja cukup membuat ruangan di rumah saya menjadi rapi, nyaman dan bebas teriakan .

Mari kita lihat beberapa ruangan yang telah beralih menggunakan kabel Klik-iT seperti di dapur dan meja komputer, maka anda akan melihatnya begitu rapi dan nyaman.




[5th Wedding Anniversary] Tepat 5 Tahun Kebersamaan


                                                                                                                            Jul 20, '12 5:48 AM
 
Bukan sebuah kebetulan jika hari ini, pertengahan Juli 2012 adalah awal Bulan puasa 1433H  bertepatan dengan 5 tahun pernikahanku dengan dirimu. Sebuah kesempatan untuk kita merenung, berfikir, dan muhasabah, tentang hakikat kehidupan. Bulan untuk berlomba-lomba memupuk amal ibadah dan kebaikan. Bulan untuk menyambut maghfiroh dan keberkahan.

Di tanggal ini pulalah aku dan dirimu mulai mengikat janji
setia menjadi pasangan suami istri. 5 tahun lalu tepat 21 Juli 2007  Kamu berikrar untuk menikahiku di depan penghulu, para saksi, dan saudara-saudara dari dua keluarga besar. Ada haru, ada bahagia yang tak terkatakan. Setelah berbagai rintangan dan cobaan yang sebelumnya hampir menggagalkan hubungan itu. Menemukanmu kembali adalah berkah bagiku.


Pernah suatu saat dulu, kita menyusuri hutan dalam lebatnya hujan dan terpaan angin kencang. Merayapi jurang-jurang dan bebatuan. Dan, kita berhasil melaluinya. Pun kini dan nanti sejatinya kita dapat melalui rintangan dan cobaan kehidupan yang lebih dari itu semua.


Bersama kita melalui kabut  dan badai, memutari gigiran kawah terjal berliku, dan menerabas rimbunnya cantigi yang memerah di puncak Gunung Ciremai,  mencumbui kuntum dan putik-putik edelweis di lembah kasih Mandalawangi - Gunung Pangrango, mengagumi lembayung senja  di alun-alun Surya Kencana - Gunung Gede. Menapaki jalur menanjak dan curam di Gunung Cikuray. Merenung dan menyimak belaian angin di hamparan rumput tepi danau kawah - Gunung Galunggung, menyesap secangkir teh hangat di pagi yang indah di Pondok Saladah Gunung Papandayan, dan mengobarkan nasionalisme dengan mengibarkan sang merah putih di puncak Gunung Ledang Johor Malaysia.Kini, di hari ini tepat 5 tahun kita menjalani hidup bersama, aku berharap Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-Nya terus-menerus untuk kita agar tetap menjalani hubungan ini dengan penuh kesadaran, kebijaksanaan, kasih sayang dan tetap berpegang teguh pada syariat.

Tak ada yang sama setiap hari. Setiap bangun tidur dan menjelang tidur kembali kita selalu menemukan hal-hal yang baru dalam diri masing-masing untuk terus dibagi bersama. Maafkan aku jika selama ini belum menjadi istri yang solihah seperti yang didamba-dambakan oleh semua para suami. Namun yang pasti aku akan terus berusaha ke arah itu. 

Seorang anak manis, pintar, dan menggemaskan kini telah pula lahir dan melengkapi kehidupan kita. Keberadaannya telah mampu menjadi penengah dikala kita berselisih, di saat kita tak menemukan titik temu ketika permasalahan mulai bermunculan. Menjadi penawar dikala hati gundah dan resah, menjadi penyejuk bagi kobaran api dari keegoisan kita masing-masing.

Semoga ia kelak menjadi anak solihah yang berbakti kepada orang tuanya, menjadi anak yang cerdas yang bermanfaat bagi sesamanya, dan menjadi anak yang berprestasi yang menjadi pembela buat agama dan negaranya. Amin.

Love you as always. 

Hadiah Lomba Love Journey



                                                                                                                             Jul 18, '12 12:43 PM

Setelah lebih dari 2 minggu menunggu hadiah lomba Love Journey yang diselenggarakan oleh Mas Fatah sama Mbak Dee An, Akhirnya kemarin sore hadiah itu sampai juga ke rumah setelah beberapa menit mampir dulu di rumah tetangga (mamanya si kembar Sasa dan Lala) karena pas paket dihantar Mas Anang (Suami Mbak Dee An) Aku lagi beli pulsa ke warung ujung. jadinya nggak ketemu langsung sama Mas Anang. Maksih ya Mas sudah repot-repot nganter sendiri.

Begitu dibuka jreng...jreng... 3 buah buku yang manis-manis membuatku tak tahan ingin segera membacanya. satu foto Aku dan suami yang begitu manis hasil editan juri (entah siapa nih yang buat) membuatku terharu biru. Tak lupa souvenir kaos Lombok yang ada gambar cabe lomboknya. Begitu melihat buku TraveLove, Chila anakku langsung ngaku-ngaku "Ini buku Chila Bunda" demi dilihatnya ada gambar pesawat dan bentuk hati (Love) di cover depannya. "Halah enak saja, itu punya Bunda." Gerutuku sambil merengut. Bahaya kalau sudah diaku-aku sama Chila alamat barang-barang itu nggak boleh kita pegang sama sekali.

Btw, Makasih ya Mbak Dian dan Mas fatah, sering-sering ngadain lomba lagi :)

[Lomba Senyumku untuk Berbagi] Duka dari Anak Tetangga


                                                                                                                                 Jul 17, '12 12:19 PM

Tiap kali Aku melewati rumah itu, yang hanya 2 rumah jaraknya dari rumahku, Seorang gadis kecil selalu menatapku dengan tatapan yang tajam. Seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh tatapannya itu.  Ia dan keluarganya baru saja menempati rumah tetanggaku itu.

Karena kami sering berpapasan, suatu saat ia berani menyapaku.
"Tanteeee..." Sapanya ramah.
"Eh, baru pindah rumah ya." Tanyaku pada gadis kecil itu. Ia cuma mengangguk pelan.
"Namanya siapa?" Tanyaku lagi.
"Puteri, Tante!" Jawabnya.
"Loh Putri kok nggak sekolah." Aku menatapnya heran. Hari itu Putri dan ketiga adiknya hanya bermain-main di halaman rumah.
"Putri nggak sekolah Tante. Mama nggak punya biaya buat nyekolahin kami." katanya polos.

Manfaat Ponsel Pintar untuk Keseharianku


                                                                                                                              Jun 29, '12 12:45 PM

Suatu malam, ketika anak saya Chila berusia 9 bulan, ia menangis tak henti-henti lebih dari 3 jam. Kami begitu khawatir dan takut terjadi apa-apa dengannya karena hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Selain itu kami juga khawatir tangisan Chila  dapat mengganggu tidur tetangga karena malam sudah semakin larut.

Mengenal Sekilas Keragaman Indonesia

                                                                                                                           Jun 27, '12 11:10 PM

Secara etimologi kata Indonesia berasal dari dua suku kata yaitu Indus (bahasa Latin) yang berarti Hindia dan Nesos (BahasaYunani) yang berarti kepulauan. Dengan gabungan dua suku kata di atas, Indonesia dimaknai sebagai kepulauan yang terletak di Hindia. Berdasarkan definisi tersebut, maka Saya akan memulai tulisan ini.

Semenjak kelas 4 Sekolah Dasar, Saya sangat menyenangi sebuah buku yang hampir setiap saat Saya pelajari. Bahkan menjelang tidur pun tak luput Saya baca-baca. Buku tersebut adalah atlas, yakni buku yang berisi peta suatu wilayah atau tempat. Saat itu, Saya begitu bersemangat menghafal seluruh isi atlas termasuk pulau demi pulau yang berjajar menjadi gugusan yang membentuk sebuah negara bernama Indonesia. Saya kagum dan terheran-heran betapa luas dan banyaknya pulau-pulau yang berada di wilayah negara Indonesia itu.

Ketika mengamati kepulauan di Indonesia yang satu warna, benak Saya mengatakan seharusnya pada peta ini terbentuk sebaran pola warna yang berbeda yang menyatakan perbedaan negara. Seperti halnya jika kita melihat perbedaan warna peta pada negara-negara di benua Eropa, Amerika,  Afrika dan Asia Tengah.

Memandang peta tersebut, rasanya tidak mungkin ada sebuah negara yang terbentang dari timur ke barat dengan belasan ribu pulau di dalamnya. Terentang dengan jarak sejauh 5000 km melintasi 3 zona waktu yang berbeda yang didiami oleh lebih dari 300 etnis yang berbeda pula. Lalu dijejali dengan jumlah penduduk yang lebih dari 230 juta jiwa. Sungguh sesuatu yang mustahil dan luar biasa.

Namun, tidaklah demikian kenyataannya. Sejarah telah membuktikan bahwa para pendiri bangsa ini telah meletakkan dasar-dasar yang sangat jelas bahwa daratan yang pada faktanya terpisah-pisah membentuk pulau-pulau adalah merupakan satu kesatuan dengan lautan. Bukan merupakan suatu penghalang.  Laut tidak diartikan sebagai pemisah pulau-pulau namun senantiasa dimaknai dengan kalimat “Pulau-pulau dihubungkan oleh lautan”. Maka dikenallah istilah wawasan nusantara. Sebuah konsep bagi wawasan kebangsaan yang cukup mapan. Dengan wawasan itu pula para pendiri negara ini menyatakan dengan bulat bahwa bentuk negara ini adalah “Negara Kesatuan Republik Indonesia”.  Bagi Saya, kalimat itu terus terang terdengar gagah, menggugah, dan membuat hati kecil ini begitu  bangga.

Hingga di sini Saya baru mempunyai kesimpulan sementara bahwa jawabannya yang memungkinkan untuk sesuatu yang Paling Indonesia adalah seperti isi dari sebuah lagu nasional yang sering kita nyanyikan dahulu ketika bersekolah, yaitu “Dari Sabang sampai Merauke.”

    Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau
    Sambung-menyambung menjadi satu itulah Indonesia
    Indonesia tanah airku aku berjanji padamu
    Menjunjung tanah airku tanah airku Indonesia

Jajaran, gugusan pulau-pulau yang terbentang dari timur hingga barat, yang tersebar dari Sabang sampai Merauke itulah yang menurut otak saya yang Paling Indonesia. Bagaimana tidak,  Indonesia adalah nomor satu sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Mengalahkan negara kepulauan apapun di belahan benua manapun.

Rasanya belum puas, Saya masih ingin menemukan hal lainnya yang lebih layak lagi disebut Paling Indonesia. Saya masih ingin mengatakan bahwa dari 6 derajat Lintang Utara yang kemudian melintasi Khatulistiwa hingga melewati 11 derajat Lintang Selatan, dari rimbunnya hutan hujan Sumatera dan Kalimantan hingga luasnya padang sabana & steppa di kedua Nusa Tenggara, dari kedalaman Laut Banda hingga ketinggian Pegunungan Jaya Wijaya, dan dari barat yang bercirikan zoogeografis Asia hingga ke timur yang bercorak zoogeografis Australasia,
dimana Garis Wallace-Weber di antara keduanya, dari jajaran pulau-pulau tersebut terdapat berbagai macam flora dan fauna, tersebar keanekaragaman hayati yang berlimpah ruah yang patut kita syukuri.

Katakanlah si belang Harimau Sumatera yang kini populasinya kurang dari 500 ekor saja, lalu Badak Bercula Satu yang  hanya muncul satu-satu, Orangutan yang habitatnya semakin terkungkung oleh kebun sawit, Burung Maleo yang unik karena memiliki telur lima kali lebih besar dari ukuran telur ayam yang kemudian jika menetas sudah bisa langsung terbang. Ada si totol Hiu Paus (Rhincodon typus) atau Gurano Bintang yang selalu bermain-main di bagan-bagan nelayan di teluk Cendrawasih. Atau sang survivor si Komodo yang baru didaulat menjadi salah satu dari The New 7 Wonder of Nature. Betapa fauna-fauna tersebut telah memperkaya negara karena keunikannya masing-masing. Dan semua fauna itu layak dicap sebagai Paling Indonesia.

Adapun dari 300 etnis yang mendiami sebaran pulau-pulau di Indonesia, dengan menggunakan lebih dari 700 bahasa daerah sungguh merupakan hal yang rumit dan tidak mudah dalam berkomunikasi. Namun lagi-lagi semua kerumitan itu dipermudah dengan adanya satu bahasa yakni bahasa Indonesia. Ketiga kalinya Saya ingin mengatakan bahasa Indonesia adalah yang Paling Indonesia.

Namun, lagi-lagi semakin Saya mencari, menggali, mengidentifikasi, dan bahkan mulai mengenali sesuatu yang Paling Indonesia maka hati yang paling dalam semakin mempertanyakan, benarkah? sehingga semakin tidak menemukan jawaban. Batin Saya semakin berkata “ketika kamu menemukan jawaban yang satu maka  akan semakin memarginkan hal lainnya yang sebenarnya patut menjadi yang Paling Indonesia”.

Dari paparan di atas, kemudian Saya mengais-ngais ingatan, memeras otak dan menarik kesimpulan mengenai apa yang “Paling Indonesia”. Dengan interpretasi dan persepsi masing-masing, alangkah damainya jika sesuatu yang Paling Indonesia tersebut tetap menjadi keragaman dalam tataran fikiran kita masing-masing. Tentu  tidak sebatas batik, komodo, burung maleo, reog ponorogo. Atau bahkan angklung, kapal pinisi, candi borobudur, upacara ngaben, Pulau Dewata atau lainnya. Semua yang unik dan yang menarik dari negeri in tentu bagian dari yang Paling Indonesia.

Huh, akhirnya dengan lega Saya bisa berkata bahwa yang Paling Indonesia itu tiada lain adalah Bhineka Tunggal Ika.

Menyiapkan Dana Pendidikan bagi Si Kecil


                                                                                                                               Jun 13, '12 3:58 PM


      Ketika lulus SMA tahun 1998, Saya mengurung diri di kamar berhari-hari. Langit sepertinya akan runtuh mengingat cita-cita Saya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi pupus sudah. Bukan karena Saya bodoh atau tidak lulus seleksi ujian namun karena  ketidakmampuan ekonomi keluarga kamilah penyebab utamanya.

      Yang paling menyesakkan hati Saya adalah ketika Bapak meminta maaf karena tidak bisa menyekolahkan Saya ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan berurai air mata Bapak berkata,
     
      "Lin, Bapak minta ma’af  karena tidak sanggup menyekolahkan Kamu."
      
      Saya menangis pedih. Hati siapa yang tidak terenyuh dan tersentuh mendengar seorang bapak meminta maaf kepada anaknya gara-gara tidak bisa menyekolahkan. Saya ingat betul nenek selalu bercerita bahwa dulu Bapak adalah anak yang pintar namun karena kondisi ekonomi kakek yang tergolong tidak mampu, akhirnya Bapak tidak melanjutkan sekolahnya. Saking ingin sekolah, Bapak pernah kabur ke luar kota berkali-kali. Namun itu tak merubah kondisi. Keinginannya tetap tidak terpenuhi.

[Catatan Harian] Terdampar di Nagoya

                                                                                                              Jun 8, '12 12:33 PM
for everyone
Kamis, 08 Juni 2012

Baiklah, untuk menghapus persepsi keren tentang saya (karena sudah ke Nagoya), sebelumnya saya jelaskan dahulu. Nagoya yang satu ini bukan Nagoya di Jepang melainkan Nagoya di Pulau Batam. Sebuah lokasi yang menjadi pusat bisnis di pulau ini. Demikian maklumat ini agar menjadi maklum.

Dengan perasaan malas-malasan akhirnya kemarin maghrib saya pergi juga ke klinik yang terletak di Perumahan Genta I Batu Aji untuk berobat. Sebenarnya sih nggak sakit-sakit amat cuma lha kok lama-lama, dirasa-rasa, ternyata yang satu ini  sangat menggangu juga.

Nggak seberapa sakit sih, hanya jari tengah tangan sebelah kiri sering kram dan kesakitan setiap selesai memegang sesuatu. Apalagi jika mengangkat benda-benda yang berat, si jari tengah langsung protes dengan cara menegang kaku hingga tidak bisa diluruskan. Belum lagi ditambah rasa sakit dan ngilu di sendi buku-bukunya.

Namanya jari tangan yang di-setting dari sononya untuk bekerja sama menjadi teamwork, so begitu si jangkung sakit teman-temannya seperti si jempol, telunjuk, jari manis dan si bungsu kelingking jadi ikut-ikutan mogok tidak bisa bekerja karena sakit juga. Beuuh...repot deh nih urusan.

Suami bilang kalau nggak asam urat berarti salah urat. Pokoknya ada urusannya sama urat deh. Iddiiih....sakit kok nggak keren banget sih. Setahu saya penderita asam urat itu ibu-ibu dan bapak-bapak di kampung yang tiap hari pulang pergi ke sawah untuk membajak dan tandur. Itupun kebanyakan menyerang kaki bukan tangan seperti saya. Sebutlah penderitanya seperti Mak Inah, Mak Amah, Bi Idoh, Mang Warja, Aki Ojo, dan lain-lain.

"Berarti Bunda nggak bisa manjat wall lagi. Sudah saatnya gantung sepatu." Kata suami suatu saat.
"Hah gantung sepatu? ooh tidaaaak...." Itu berarti saya nggak bisa manjat tebing, wall climbing, atau dinding tetangga lagi dong.
"Huhuhu...tidaaaakkk oh jariku kenapa kamu setega itu? Kenapa kamu tak sekuat dulu lagi? Saat jari-jari kasarmu mencengkeram poin demi poin menggapai top." Saya meradang.


Walaupun sudah lama saya absen dari dunia panjat memanjat namun bukan berarti mundur dari dunia ini, karena suatu waktu entah di suatu tempat Saya akan butuh kemahiran itu lagi.

"Ibu Apa keluhannya?" Suster di klinik itu bertanya. lalu melilitkan alat tensi ke lengan kanan saya.
"Darahnya rendah Bu, cuma 80 biasanya disertai pusing-pusing Bu."
"Tapi Saya nggak pusing Sus!"
"Harusnya Ibu pusing." Katanya lagi.
Idih kok maksa sih, kalau Gue nggak pusing emang kenapa?

Setelah dicek suster, saya ngeloyor ke ruang praktek dokter. Nanya ini sama itu. Ia melihat di buku berobat bahwa tensi darah saya cuma 80. Kata pak dokter aku Hipotensi. Upss awas salah baca ya bukan impotensi lho.

Hipotensi adalah bahasa kerennya dari kurang darah. Kebalikannya yakni hipertensi. Kata dokter yang normal tuh tensinya 90 sampai 120. Dibawah 90 berarti hipotensi di atas 120 berarti hipertensi.

"Jadi kemungkinan sakit saya ini apa Dok?"

"Kemungkinannya asam urat, Jadi Ibu harus menjauhi makanan kacang-kacangan, makanan bersantan, dan berminyak." Kata Dokter.

"Tapi untuk memastikannya Ibu harus di cek darah dulu, ini Saya buat rujukan untuk ke Kimia Farma".

Laah dia bilang saya asam urat juga. Iddihh... Pak Dokter nggak keren banget deh. Namun karena nggak yakin dengan vonisnya sendiri dia menyuruh untuk tes darah di lab Kimia Farma di Kampung utama di Nagoya. Hehe..dokter kok nggak pede.


Jum'at 09 Juni 2012

Pagi ini, sepulang kerja malam, saya ke lab Kimia Farma yang letaknya bersebelahan dengan klinik tempat rujukan Saya selanjutnya di Kampung utama Nagoya. Lalu disuntik untuk diambil sampel darah. Waduh, saat suster menarik jarum suntik baru deh berasa seperti digigit semut rangrang yang merah.

Beberapa saat menunggu, Si suster datang memanggil saya.
 "Hasilnya bagus kok Bu, Nggak asam urat" Kata Suster.
Alhamdulillah, Yes, Kata Gue juga Apa. Dokter, dokter!!!

Selesai tes darah di lab dan mengantongi hasilnya, saya kemudian masuk ke klinik di sbelahnya. Yang jaga bilang saya disuruh ke Rumah Sakit Permata Hati di Baloi. Ya udah deh gak apa-apa lagian tempatnya sudah dekat dari situ.

Tiba di RS Permata Hati lalu menunggu dan mengantri. dapat nomor antrian 20. Saat itu antrian sampai di nomor 15 berarti sebentar lagi.

Dokter bertanya ini itu. Kata dia mungkin gara-gara Saya dulu manjat hingga jari-jari jadi begini. Lha nggak ada alasan lain apa? Dia pun ragu lalu Saya dirujuk ke dokter Spesialis Penyakit Dalam yang letaknya di klinik Kampung Utama. Waah balik lagi deh. Sabar, sabar!

Saya balik lagi ke Klinik di Kampung Utama, hari hujan semakin menambah pusing dan puyeng karena belum tidur semalaman. Perut mana laper lagi. Ya udah deh sarapan dulu.

Saya berjalan ke arah belakang klinik di sana terdapat sebuah warung makan yang lumayan ramai! Bingung milih menu akhirnya memilih menu yang lumayan jarang nemu di Batam. Semur jengkol. Dah lama nggak makan makanan yang satu ini.

Tidak berapa lama, sepiring nasi dengan lauk ikan dan jengkol ludes. Sukses pindah ke dalam perut.

Meminjam istilah Mbak Riawani Elyta,  perut Saya rasanya seperti melihara anak anconda saja. Saya  belum kenyang. Dengan menahan rasa malu akhirnya Saya minta nambah lagi. Tak perduli orang-orang ngelihatin. Mungkin mereka bilang ihh cewek kurus gitu kok makannya banyak sih. Haha..mana ada urus kalau Gue laper mau kata apa coba?

Menunggu di Klinik hampir buluk, Si dokter SpPD belum juga datang. Katanya datang jam dua siang. Haduh mati gaya lagi deh Gue! Untung suami, si Ayah Sierra  langsung datang buat menemani.

Jam 3 lewat dokter datang. Ia tampak sudah tua dan berwibawa. Lalu memeriksa Saya. dengan seksama. Memeriksa tekanan darah, detak jantung dan lainnya. Tanpa sedikitpun memegang jari Saya yang sakit.

     "Saya rujuk lagi ke dokter spesialis bedah ya Bu"
     "Di mana dok?"
     "Di Rumah Sakit Permata Hati."
     "Kapan?"
     "Besok"
Alamaak...balik lagi. Huh...hanya demi kesembuhan si jangkung jari tengah rela berhari-hari bolak-balik dokter.


     "Ibu kerja ya, mau istirahat dulu hari ini?" Suster menawariku MC.
     "Boleh Sus." Jawabku.

Seandainya nggak dapat MC dokter, waah gawat bisa-bisa nanti malam tumbang di ruang produksi karena ngantuk berat level 10.

Kunjungan ke dokter Sabtu kemaren Saya divonis Arthalgia. Ketika search di Mbah Google yang keluar ini  "Arthralgia is the medical term for pain in the joints. There are many possible causes of pain in a joint."
Artinya Arthalgia adalah istilah medis untuk nyeri pada sendi. Ada banyak kemungkinan penyebab nyeri pada sendi.


Lhaa jadi sebab nyeri sendi saya apa dong?

Buku Tempat Saya Berbagi Tanya


                                                                                                                               May 30, '12 5:13 AM

            "Books are the compasses and telescopes and sextants and charts which other men have prepared to help us navigate the dangerous seas of human life." Jesse Lee Bennett.

      Menurut kamus besar bahasa Indonesia buku adalah lembar kertas yang berjilid, berisi tulisan atau kosong sedangkan  menurut  ensiklopedia bebas Wikipedia buku adalah kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan atau gambar. Setiap sisi dari sebuah lembaran kertas pada buku disebut sebuah halaman.

      Dari berbagai sumber yang menguak sejarah tentang buku, buku pertama disebutkan lahir di Mesir pada tahun 2400-an SM setelah orang Mesir menciptakan kertas dari daun papyrus. Kertas papyrus yang berisi tulisan ini digulung dan gulungan tersebut merupakan bentuk buku yang pertama. Papyrus adalah tumbuhan sejenis alang-alang yang banyak ditemui di tepi sungai Nil Mesir.
  

[Love Journey] Cintaku Tertaut di Gunung


                                                                                                                               May 23, '12 5:42 AM


Gunung Kerinci, Maret 2001  

Bermilyar-milyar bintang berkelap-kelip di langit gelap. Gelap yang sempurna sehingga sekecil apapun bintangnya begitu jelas menampakkan keberadaannya. Bergugusan membentuk apa pun yang kita imajikan.

Di sini di hamparan batu-batu cadas yang membeku Aku terbaring terpaku. Menatap kilatan-kilatan bintang jatuh yang kian melaju. Tak perduli pada hembusan angin yang menderu-deru mataku menatap ke langit gelap sambil membisikkan do'a-do'a dan harapan. Make A wish.

"Ya Allah, hadirkanlah ia di hidupku, seseorang yang mencintai gunung, mencintaiku, juga mencintai-Mu. Entah siapa, entah dimana. Mungkin di sebrang sana ia juga sedang menatap langit yang sama dan merasakan kehampaan yang sama. Jika pun tidak sekarang, mungkin esok atau lusa. Hadirkanlah ia ya Rabb, hadirkanlah di sisiku." Batinku berbisik.

"Minta Krisdayanti dooong!" Teriak beberapa pendaki di luar tenda bagian ujung. Meniru adegan iklan produk rokok di televisi ketika ada bintang jatuh melintas. Halaah... suasana romantis pun berubah jadi humoris. Aku jadi tertawa sendiri lalu membungkus tubuh dengan jaket berlapis-lapis dan sleeping bag.

Brrr....angin berhembus lagi semakin kencang, mengalirkan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Aku tetap bertahan begadang hingga pagi men jelang, terlentang di luar tenda sambil menatap kerlap-kerlip bintang. Subhanallah alangkah nikmatnya. Tak henti-henti kuucap syukur atas semuanya.

Jelas sudah, betapa aku mencintai perjalanan ke gunung ini. Gunung Kerinci. Gunung berapi tertinggi di negri ini. Dalam liku jalan setapak, rimbunnya semak-semak, di jalur menanjak, akar-akar  yang melingkar, pepohonan yang tinggi menjulang hingga menggapai awan yang berarak-arak. Dan pada cantigi yang semakin merah berseri.  Semua, Semuanya menyatu membungkus hatiku dalam kesyahduan perjalanan. Menyemaikan benih-benih syukur  dalam lantunan do'a di sholat subuhku saat itu di puncak Kerinci.


Gunung Rinjani, Desember 2002


Hujan angin yang menampar-nampar membuat perjalanan melewati tanjakan bukit Sembilan terasa makin memberatkan. ingin rasanya berhenti dan berteduh, namun dimana? sedangkan satu depa saja tak ada tanah untuk sekedar meluruskan kaki. Adapun satu dua pohon cemara yang ditemui telah penuh oleh para pendaki yang berteduh lebih dahulu.

Akhirnya, aku berjalan bersama hujan. Meresapi tiap tetes yang menyejukkan, yang membasuh keringat hingga dingin menelusup menembus tulang. Aku menyatukan nafas dalam deru angin yang menghempaskan, yang melipir melingkari jurang-jurang.

Tubuhku mencoba menyatu dengan alam. Mengimbangi dingin angin menyamai rintik hujan. Merayapi pelan tanjakan demi tanjakan hingga berjam-jam tanpa henti hingga Plawangan Sembalun.

Mataku berkaca-kaca, melihat ratusan tenda menyambutku dengan meriah. Dengan warna-warni yang cerah dalam balutan kabut di senja itu. Ingin rasanya berteriak bahwa aku telah di sini, di sini, di pelukan damai gunung Rinjani.

Kabut perlahan memudar menyingkap tabir yang menghalangi pemandangan ke Danau Segara Anakan. Aku berkemul dalam tenda, merenungi arti perjalanan yang menguras banyak energi. Betapa kesabaran teruji hingga di sini.

Rinjani, batin ini bergemuruh dengan rasa cinta. Cinta kepada romansa yang tercipta di panjangnya perjalanan ini. Ribuan mil telah kutempuh, melewati tiga lautan yang berbeda, melalui empat daratan yang berbeda pula. Dari jauh aku telah merindukanmu siang dan malam. Dan aku sangat mencintai, mencintai perjalanan menujumu. Setiap langkah, setiap depa. Setiap jarak yang tercipta. Maka sambutlah Aku dalam dekapmu, wahai Rinjani.


Gunung Ciremai, Maret 2004

Aku melaju pelan bersama seseorang secara kebetulan. Seseorang yang kutemui dalam perjalanan. Kami berjalan menyusuri jalur setapak menuju puncak. Berbagi tanya, berbagi canda, menceritakan berbagai hal tentang perjalanan. Tentang harapan dan keinginan.

Ah, entah kenapa dia begitu mempesona. Butiran tasbih di tangannya semakin meyakinkan hati untuk memilih. Hatiku lirih berkata iya, walau masih menyisakan ribuan tanya di dada, diakah sesungguhnya? Dialah yang membuat perjalanan kini begitu berbeda. Menjadi lebih berwarna. Sepertinya setiap pohon-pohon di jalur linggar jati yang terlewati mendadak mekar berbunga. Diakah Ya Allah? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Seperti kabut yang menyelimuti kawah Ciremai, teka-teki ini begitu penuh misteri. Perjalanan kali ini menyisakan tanya begitu lama. Menanti tanpa pasti sebuah harapan. Apakah sesungguhnya dia juga merasakan hal yang sama?


Gunung Pangrango, Juli 2007

Tiba di suatu hari, akhirnya semua terjawab sudah. Dia memilihku menjadi pendampingnya. Untuk mengarungi hidup bersama dalam bahtera rumah tangga. Menjadi teman dalam susah dan senangnya. Bersama berjalan menapaki masa depan menapaki jalur-jalur kehidupan, dan… bersama berjalan di suatu pagi yang dingin di hutan Pangrango.


Kami, Aku dan dia berjalan bersusulan. Menyusuri jalur setapak menuju puncak Pangrango. Hati bahagia penuh dengan rasa syukur. Kini dia menjadi bagian dalam hidupku. Seseorang itu, kini telah datang dan mengisi hari-hariku. Do'aku di Kerinci telah terkabulkan. Salah satu bintang yang melaju itu, kini hadir di sisiku.

Dan seperti perjalanan ke tempat lainnya. Kali ini Aku lebih merasakan cinta yang lebih besar. Energi itu mengalir kepada setiap apa pun yang kutemui. Terutama kepada dia, teman seperjalananku. Menatap bersama hutan Pangrango yang rimbun, menapaki jalur menanjak yang curam, hingga kami tiba di lembah kasih lembah Mandalawangi. Lalu tertegun di hamparan bunga edelweis yang bermekaran.

Mandalawangi – Pangrango

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang-jurangmu
Aku datang kembali
Kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
"Terimalah dan hadapilah."
Dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu
Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup


    Di lembah Mandalawangi, Hatiku hanyut dalam puisi-puisinya Soe Hok Gie. Membayangkan sepercik debu jasadnya yang ditabur di lembah ini. Seperti Soe Hok Gie dalam puisinya itu, Aku juga cinta padamu Pangrango. Karena aku cinta pada perjalanan hidup. Perjalanan saat menuju ke dalam dekapan damai hutan-hutanmu. Ke dalam belaian lembut padang edelweismu.
     
Batam, 22 Mei 2012


    Masih terngiang puisi Soe Hok Gie lainnya, yang sama menyisakan sebuah tanya. Untukku, untuk hari-hariku ke depan dan seterusnya.

    “Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa, pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui. Apakah kau masih berbicara selembut dahulu, memintaku minum susu dan tidur yang lelap? Sambil membenarkan letak leher kemejaku.
    Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi. Kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram. Meresapi belaian angin yang menjadi dingin.
    Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu? Ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat. Apakah kau masih akan berkata kudengar detak jantungmu? kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta.”

    Aku menatapnya dalam tidur lelap. Seperti itu, seperti tanya itu yang berkelindan dalam fikiranku. Lagi, batinku hanya sanggup berkata

"Aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti hujan kepada awan, seperti daun kepada ranting, seperti ombak kepada lautan, dan…seperti pohon kepada hutan."

Tulisan di atas pernah menang di Lomba Love Journey yang diselenggarakan Blogger-blogger Multiply dan Alhamdulillah telah dibukukan.




[Catatan Harian] Terdampar di Kantor Polisi


May 20, '12 1:31 PM
for everyone
Hari itu Saya bekerja seperti biasa. Sekitar jam 10-an Manager HRD memanggil Saya ke ruangan Lobby perusahaan. Heran campur bingung,  Saya bertanya-tanya sendiri dalam hati, cemas takut ada apa-apa.Mungkin saja punya dosa yang nggak terasa. Setibanya di lobby ternyata sudah banyak orang yang bernasib sama dengan Saya. Mereka antri menunggu giliran dipanggil.

Dari Lobby, Saya dipersilahkan masuk ke ruangan training di sebelahnya yang saat itu mendadak disulap jadi ruang interogasi. 5 orang polisi berbaju preman sedang memperlihatkan rekaman CCTV kepada seorang teknisi maintenance sebut saja JS. Ia dicecar dengan berbagai pertanyaan sehingga ia terlihat gugup.

Di rekaman tersebut terlihat seorang teknisi lainnya sebut saja HJ yang datang ke ruangan maintenance. Sambil berlalu  tangannya mengambil sesuatu dari meja. Beberapa detik kemudian datanglah JS ke ruangan tersebut. Mereka berdua duduk dan terlibat percakapan.

"Apa yang kau bicarakan dengan dia?" Gertak polisi kepada JS. Entah apa Jawaban JS, karena perhatian Saya telah kacau ketika polisi lainnya  bertanya kepada Saya.

"Bu Kata HJ memory Cardnya sudah diserahkan sama Ibu, benar nggak?" Dugg...jantung Saya serasa mau copot. Tega sekali si HJ memfitnah Saya seperti itu. Apa gerangan yang membuat ia setega itu? dan sungguh teganya...teganya...teganya...ohh...pada diriku. Ya ampun malah nyanyi dangdut. Lanjuuut!

Sejak Pukul 20.00  tanggal 22 Maret 2012 memory card mesin checker telah hilang. Tidak tanggung-tanggung hilangnya 1 kotak berisi 5 unit memory card. Dan sialnya seluruh data mesin checker  perusahaan ada di situ semua. Ratusan program tersimpan di dalamnya.

Entah kemanaa.. dimana, dimana? Yaah dangdut lagi deh!  karena semua teknisi maintenance yang mempunyai tanggung jawab terhadap penyimpanan dan pemakaian memory card merasa tidak tahu. Alhasil kami sebagai orang produksi yang membutuhkan mesin checker demi jalannya produksi jadi kelimpungan dan bingung harus bagaimana menghadapi situasi seperti itu.

Setiap harinya ada saja permohonan untuk setting ganti model sedangkan memory card sangat diperlukan untuk merubah data mesin checker dari model satu ke model lainnya. Tanpa itu line-line produksi dipastikan stop. Bahkan telah berhari-hari pergantian model  tidak dilakukan dikarenakan memory card tidak jua ditemukan.

Entah berapa kerugian yang harus ditanggung perusahaan dikarenakan kehilangan alat tersebut. Karena untuk fisik memory card sendiri sudah senilai 27.500.000 rupiah. Belum dihitung kerugian akibat line produksi tidak jalan. Berapa puluh model produk yang terhenti produksinya, serta karyawan yang menganggur akibat line stop.

Setelah menginvestigasi dan meyakini bahwa memory card telah dicuri, 1 bulan kemudian managemen perusahaan melaporkan kehilangan tersebut ke pihak yang berwajib. Sehingga pada hari itu pihak kepolisian menginterogasi beberapa orang yang berhubungan dengan memory card termasuk Saya.

Demi kepentingan penyelidikan, Saya, JS, HJ,dua orang teknisi lainnya, dan seorang Line Leader bernama Erni dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Saya fikir kami akan dihantar ke kantor Polsek Tanjung Uncang yang hanya berjarak sekitar 50 meter saja dari perusahaan, tapi ternyata tidak tanggung-tanggung kami dibawanya ke Poltabes Barelang. Wuaahh...kasus jadi membesar begini deh.

Saya dan 4 orang karyawan lainnya dihantar oleh driver  mobil perusahaan, sedangkan HJ dinaikkan ke mobil polisi dan dikawal oleh 4 orang polisi berpakaian preman. Mobil kami melaju beriringan ke arah Poltabes Barelang Kota Batam.

Setibanya di Poltabes, ternyata mobil polisi yang berada di belakang kami tak kunjung datang. Akhirnya kami berenam termasuk driver perusahaan hanya terbengong-bengong di sebrang pintu masuk kantor Sat Reskrim, menunggu Bapak-bapak polisi itu datang.

Lama menunggu, dan hampir mati gaya. Kami hanya mengobrol, bercanda, berandai-andai, berfoto-foto, update status, dan memperhatikan para polisi hilir mudik. Cuci mata! Waah...di Poltabes Barelang ternyata ada juga polisi ganteng melebihi Saiful Bahri yang mendadak tenar itu. Swear tadinya mau minta foto niat pamer mana tahu dia juga bisa semujur Saiful Bahri masuk TV. Tapi ternyata Saya masih sadar sama si ganteng satunya lagi si penghuni rumah, takutnya dia cemburu. Pletokk... Serasa dilempar sendal hehe... 

Satu jam kemudian bapak-bapak polisi datang. Dari obrolan Polisi yang kami dengar ternyata mereka mampir terlebih dahulu ke rumah HJ. Menggeledah rumahnya namun tidak ditemukan barang bukti.

Mereka lalu memanggil kami ke ruangan Sat Reskrim. Para penyidik polisi saling bergantian bertanya tentang kronologis kejadian sesuai rekaman CCTV.

Tersangka utama hanya satu orang yaitu HJ. Namun karena pada malam kejadian itu JS juga bersamanya, dia ikut dicurigai dan dianggap sekongkol oleh polisi.

"Lalu Kau kemanakan memory card itu? Kau jual ya? Kau kasih kawanmu? Ada kawanmu di perusahaan lain yang butuh barang itu? Buat apa kau ambil memory card itu? Apa tujuanmu mengambil barang itu?" berjam-jam HJ dicecar berbagai pertanyaan penyidik polisi. Saling bergantian. Dibentak dan dimaki. Namun para penyidik masih baik hati, tak ada yang memukulnya, hanya sedikit menakut-nakuti dengan menganyun-ayunkan tinju ke arah perutnya.

HJ tidak bergeming. Ia diam saja. Adapun ucapan yang keluar dari mulutnya hanya kata
"Tak Ada", "lupa Pak", "Lupa".
"Lupa..lupa..macam Nunun Nurbaeti saja kaujawab lupa." Kata penyidik polisi. Hehe... Saya tidak dapat menahan tawa mendengar pak polisi berkata seperti itu.

Entah apa sebabnya lagi, seperti waktu masih di perusahaan tadi, HJ bilang lagi kepada polisi kalau memory card telah ia serahkan kepada Saya dan disimpan di ruang kerja Saya di Gedung dua.

"Pak, malam itu kami dari gedung dua tidak ada request apa-apa sama dia, yang request itu orang-orang gedung satu. Boleh cek, tanya, seluruh gedung jadi saksi, ratusan orang, dia tidak ada masuk sama sekali ke gedung kami. Dia semalaman tidur. Boleh cek CCTV juga, ada nggak dia datang ke gedung kami." Aku jadi emosi. Dia saja tega menuduhku seperti itu. Maka Aku pun tanpa sungkan menerangkan sejujurnya bahwa dia memang tidur semalaman. Bukannya kerja.

Dia menuduhku memegang memory card itu. Tuduhan palsu dan tidak beralasan sama sekali. Mendengar itu polisi semakin geram.
"Sudahlah Kau ngaku sajalah Kau, tuh satu gedung jadi saksi, mau menyangkal apalagi kau? Geram kali Aku nengok Kau ini!" Kata Penyidik sambil mengepal-ngepalkan tangannya.

Karena pada beberapa jawabannya nampak berbohong, Pak Kanit Reskrim menjadi marah lalu membenturkan kepalanya ke belakang. Beliau membentaknya
"Anj*ng Kau!" Katanya sambil menganyunkan kaki ke arah HJ. Menyaksikan adegan itu Fikiran Saya melayang teringat suatu peristiwa ketika Saya sedang mengobrol dengan seorang teknisi miantenance lainnya berinisial GN, saat itu HJ yang duduk di depan kami tiba-tiba saja memaki Saya "Anj*ng Kau Lina, T*i Kau" Katanya. Saya terhenyak kaget namun Saya sadar apa gunanya bicara dengan orang g*blok seperti dia. Saya cuma membalasnya dengan berkata
"manusia itu adalah apa yang diucapkannya. Kau bilang t*i berarti otak Kau itu isinya hanya t*i." Jawabku sambil berlalu pergi. Dalam hati perih dan pedih. Apa salah Saya, nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba dia memaki Saya seperti itu. Air mata tak tertahankan meleleh tanpa diundang. Saya menangis. *Episode sedih guling-guling* 

Dan rupanya Allah tidak lupa, di depan mata kepala Saya sendiri dia dimaki-maki dianj*ng-anj*ng oleh polisi. Ada rasa senang namun campur kasihan. Saya teringat lagi, begitu banyak anak-anak buah Saya yang telah menjadi korban mulutnya yang ember.
"B*bi Kau, bilang sama atasanmu sana, Aku nggak takut". HJ pernah memaki seorang operator dengan kata-kata kasar seperti itu. Padahal si operator tadi cuma menyerahkan selembar kertas request untuk setting mesin checker.

Beberapa saat kemudian datanglah dua orang lelaki yang langsung duduk dan dihadapkan dengan HJ. Rupanya dia temannya dan Aku pesimis, yah alamat cepat-cepat keluar nih soalnya Pak Kanit langsung mengenali Orang tersebut. Katanya dia adalah anak dari salah seorang anggota Dewan di Batam. Kebetulan satu marga sama HJ.

Saat itu mungkin setelah kedatangan kawannya tersebut HJ berubah fikiran. Ia bilang ke polisi bahwa memory card itu ada dia simpan. Disimpan di atas rak-rak die set (besi-besi mesin stamping) di ruang maintenance. Maka polisi pun segera bergerak ke lokasi disembunyikannya memory card.

Akhirnya Saya bernafas lega lepaslah tuduhan dia atas Saya. Kini HJ sedang menunggu sidang keputusan pengadilan. sudah hampir 2 bulan mendekap di rutan polisi. Rasanya susah bagi siapa pun untuk meringankan hukumannya, karena bukti-bukti begitu jelas dan saksi-saksi yang memberatkan begitu banyak.

Beberapa orang yang bersimpati kepadanya, terutama yang berasal satu daerah dengannya kemudian menjenguknya. Teman-teman bilang bahwa saat menjenguknya, HJ menangis. Saya jadi ikut sedih juga bagaimana pun dia adalah kawan satu perusahaan dengan Saya, namun mungkin itulah episode yang harus dilalui olehnya akibat dari segala kecerobohan dan kesombongannya sewaktu kerja. Akibat begitu banyak orang yang hatinya tersakiti karena ucapan dan bahasanya yang tak terkontrol.

Mobil Terbang Solusi Masa Depan


                                                                                                                          May 14, '12 2:51 PM
Tulisan ini tentang lomba kompetiblog yang diselenggarakan Nufic Nesso dari file-file Multiply.com. Hanya sekedar mendokumentasikan saja. 
Matahari mulai meninggi, panasnya tak terperi. Namun burung-burung pipit beterbangan ke sana ke mari mencari bulir-bulir padi. Satu per satu burung-burung itu hinggap di halaman sebuah rumah dimana terhampar jemuran padi.

Di teras rumah, seorang gadis kecil menangis tersedu. Matanya menatap hampa kepada burung-burung pipit yang sedang asyik mencuri biji-biji padinya. Ia lalu mengusap air mata yang deras mengalir di pipi karena khawatir ketahuan orang lain.

Bukannya sibuk mengusir burung-burung itu, ia malah membiarkannya hingga kenyang. “Sekelompok burung yang bahagia. Mereka bisa terbang kemana saja mereka sukai. Ke sungai, ke hutan, ke gunung. Ah seandainya aku punya sayap seperti burung-burung itu. Tapi bagaimana caranya?” Batinnya. Ya, Ternyata ia ingin seperti burung pipit yang sedang asyik makan padi di halaman rumahnya.

Gadis kecil itu adalah Saya. Yang menyimpan mimpi untuk bisa terbang hingga sekarang. Gambaran masa kanak-kanak yang penuh dengan keingintahuan. Yang mungkin dimimpikan oleh seluruh anak-anak di seluruh belahan dunia. Dapat terbang bebas kemanapun mereka suka. Seperti burung. Dengan atau tanpa sayap tentunya.

Beranjak dewasa, Saya menonton film Harry Potter yang berjudul Chamber of Secret dimana Harry beserta temannya Ron Weasley menaiki mobil terbang  karena berniat menyusul kereta api yang menuju Hogwarts. Saya jadi teringat dengan keinginan di masa kecil dulu. Bisa terbang. Seandainya  Saya bisa seperti Harry, menaiki mobil terbang menuju kemana pun Saya suka. Ah itu pun akan lebih menyenangkan bila dibanding punya sayap sendiri. Tentu nggak terlalu kedinginan bila kena angin kencang di langit sana. Namun bisakah itu? Saya cuma bermimpi. Mimpi yang terpatri dalam memori.

Saya beserta jutaan orang-orang lainnya hanya sekedar ingin dan tidak berusaha mewujudkan mimpi itu. Berbeda dengan orang-orang di Belanda sana yang hingga kini terus berinovasi berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpi menjadi kenyataan. Sehingga mobil terbang yang dulu hanya mimpi, kini menjadi nyata adanya.

Adalah sebuah perusahaan yang bermarkas di Rotterdam Belanda bernama Spark dan Pal-V Europe NV telah berhasil menciptakan mobil terbang yang dinamainya dengan PAL-V (Personal Air and Land Vehicle). Mobil ini berfungsi baik di darat maupun di udara. Di jalan raya mobil ini mampu berjalan 100 km/jam sedangkan di udara kecepatan terbangnya bisa mencapai 180 km/jam .

Untuk merubah mode dari mobil menjadi pesawat, mobil harus berhenti, kemudian akan memanjangkan ekor dan eng ing eng…sayap kemudian muncul. Beberapa menit kemudian mobil  siap untuk terbang.

Bentuk mobil ini seperti gyrocopter dengan kecepatan auto-rotating rotor dan gerakan maju yang dihasilkan oleh baling-baling yang dapat dengan mudah dilipat di bagian belakang mobil. Mobil ini menggunakan bahan bakar biodiesel dan bioethanol yang cukup ramah terhadap lingkungan.

Saat terbang mobil PAL-V mampu mencapai ketinggian 1.200 meter. Wah bisa mengantarkan Saya yang suka naik gunung untuk setidaknya menempuh setengah jarak ketinggian gunung sebelum menggapai puncak.

Burung terbang karena sayapnya, manusia terbang karena kreatifitas yang tiada batas. Salut untuk insinyur-insinyur Belanda nun jauh di sebrang sana. Dengan inovasi yang tiada henti mereka terus mencoba hal-hal baru yang lebih baik sehingga pertanyaan-pertanyaan yang menggunung tentang berbagai hal bisa terjawab secara meyakinkan.

Semoga mobil terbangnya segera diekspor ke negara kita sehingga akan mengurangi kemacetan di kota-kota besar di Indonesia.

***

Kompetiblog2012

Sumber :

1. http://www.nesoindonesia.or.id/indonesian-students/kompetiblog-2012/resources/inovasi/
2.http://teknologi.kompasiana.com/otomotif/2012/05/04/mobil-terbang-harry-potter-berhasil-dibuat-di-belanda/

Gara-Gara Kuntilanak

                                                                                                         May 1, '12 10:57 AM
for everyone
Seperti hari-hari biasa, Sierra diajak teman-temannya bermain. Kali ini dia  diajak  si kembar Sasa Lala main ke rumah mereka. Karena sudah seperti saudara sendiri maka Saya pun tak melarangnya.

Setelah selesai memasak, Saya menyusulnya ke rumah si kembar. Begitu Saya masuk mereka sedang menonton Televisi. Si kembar yang mengetahui kedatangan Saya langsung berteriak-teriak.
"Mama Shera, Mama Shera...tengok! tengok! kami lagi nonton film hantu!" Kata mereka bersahutan.
"Bunda...Bunda...ada hantu lho..." Sierra tak ketinggalan berceloteh sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke Televisi.


"Apaaa? Film Hantu?  Ya ampuunn... Saya berteriak  saking kagetnya. Saat itu si kembar usianya baru 4 tahun dan Sierra baru 2,5 tahun. Mereka bertiga sedang menonton film hantu yang berjudul  "Kuntilanak" yang termasuk kategori film untuk orang dewasa. Saya rasa orang dewasa saja tidak semua kuat dan berani menonton film-film sejenis itu. Lhaa...ini yang nonton anak-anak di bawah umur. Bahkan bukan anak-anak tapi Balita.

"Matikan, cepat matikan." Kata saya pada si kembar. Lala langsung mematikan DVD Playernya, namun Sasa langsung menangis histeris gara-gara filmnya dimatikan.  Mendengar ribut-ribut begitu, mamanya Si kembar yang sedang memasak di dapur menghampiri kami.

"Kenapa Teh?" Katanya.

"Ini kok pada nonton film hantu sih." Jawab Saya sedikit sewot.
"Iya baru dibeli semalam, memang mereka yang minta." Sahut mama si kembar.
"Nanti mereka jadi penakut."  Saya menyelanya.
"Iya Teh emang mereka penakut itu, tapi mereka suka nontonnya.
" Haaah ... " Saya cuma geleng-geleng kepala. No comment anymore, cabe deeeh...

Tak lama, sesampainya di rumah, kemana pun kaki Saya melangkah, Sierra terus-terusan membuntuti. Ke kamar, ke dapur, ke halaman bahkan ke toilet pun ia tak mau tinggal. Dan itu berlangsung berhari-hari. Suatu waktu Saya bertanya kepadanya.
"Chila kenapa sih ngikutin Bunda terus, sana main tuh ajak boneka-bonekanya main juga! Bunda kan mau mandi." Kata Saya.
"Nggak mau." 
"Kenapa?" ia cuma diam mematung, tak bisa menjelaskan kenapa.

Walau masih balita Sierra sebetulnya sudah tahu batas. Saat Saya mandi, saat sholat, saat masak ia tak akan mengganggu kegiatan-kegiatan tersebut.Namun ini pasti ada yang tidak beres dengannya. kemana saja ia selalu mengikuti dan minta ditemanin. Ada ketakutan yang terpendam dalam ingatannya.


Setelah diingat-ingat perubahan itu terjadi persis setelah ia menonton film Kuntilanak itu. Dan begitulah efek yang ditimbulkan. Anak jadi penakut dan tidak mandiri.
Selama ini sebagai orang tua, Saya dan Ayahnya selalu mengajari Sierra untuk tidak takut dengan hantu. Bahkan kata "hantu" itu sendiri pada awalnya tidak pernah kami sebut-sebut. Kata hantu malah dia tahu dari teman-teman mainnya. Kalau sempat dia menyebut kata hantu Saya selalu bertanya padanya,
"emang hantu itu apa sih?" Kalau sudah ditanya begitu Sierra tak berkutik.
"Sayang, tidak boleh takut sama hantu ya, Chila takutnya sama Allah saja. Hantu juga takut kok sama Allah." Kata Saya.
"Allah itu baik ya Bunda?" Tanyanya.

Ya, setidaknya itulah pelajaran aqidah yang ingin Saya dan suami tanamkan kepada anak. Hanya Allah saja yang perlu ditakuti, Bukan hantu, bukan jin, bukan setan, bukan pula manusia. Penanaman Aqidah yang kuat Insya Allah akan membentengi anak-anak dari kegamangan dan lemah iman.

Di tempat kerja, Saya sendiri heran, mengamati tingkah polah teman-teman kerja yang penakut naudzubillah, (saking penakutnya) mau ke toilet dan ke mushola saja pada nggak berani. Alasannya satu. Takut sama hantu.  Terkadang Saya menyindir halus mereka.
" Kalian ini lebih takut sama hantu daripada sama Allah, ternyata lebih baik nggak sholat karena takut sama hantu."
Hal itu tentu sangat tidak baik bagi perkembangan jiwa dan keimanan kita sebagai muslim.

Dari tulisan ini, Satu yang ingin Saya garisbawahi adalah jangan sampai rasa sayang dan cinta kepada anak-anak  menjadikan kita sebagai orang tua menuruti semua kemauan anak. Mau ini diturutin, mau itu diikutin. Padahal  semua kemauan anak kita belum tentu yang terbaik buat mereka.

Sunday, November 11, 2012

Catatan Perjalanan Gunung Pusuk Buhit 3 (Tamat)

        
Menuju Titik Daki

        15 menit kemudian Kami diturunkan di pemandian air panas Siogung-ogung. Dari pemandian ini  pendakian ke Gunung Pusuk Buhit bermula. Walau sempat dikagetkan oleh gonggongan dua ekor anjing yang bersahutan dan sangat berisik, Kami tetap berusaha naik, mencari alternatif jalan yang aman. 

            “Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.” Bisik Saya kepada Lastri. Dalam hati dag dig dug tak karuan. Aduh, nggak kebayang deh anjing-anjing ganas itu tiba-tiba menerkam Kami dari belakang. Betapa malunya Kami seandainya pulang ke Batam bukannya membawa oleh-oleh tapi membawa luka di kaki karena gigitan anjing. Jauh-jauh pergi jalan-jalan kok malah sial digigit anjing :D

            Walau sudah menghindar agak jauh, anjing-anjing itu terus mengejar dan membuntuti Kami. Hingga akhirnya Saya dan Lastri harus mengibarkan bendera putih, menyerah tanpa syarat dengan menjerit-jerit memanggil si empunya anjing. Duh rasanya malu banget dandanan sudah seperti preman dengan menggemblok ransel besar di punggung namun menjerit-jerit takut anjing.

Di antara Batu Cadas

            Setelah sekian lama Kami digonggong anjing, sang pemilik rumah baru keluar. Ajaib, hanya dengan satu teriakan saja anjing-anjing itu langsung terdiam, beringsut pelan lalu duduk manis memperhatikan kepergian Kami. Huh, akhirnya bisa terbebas. Rasanya Saya ingin menjulurkan lidah kepada anjing-anjing itu. Weeeew! Nyaho Loe!

            Yes, the journey begin. Kami mendaki menaiki batu-batu cadas terjal nan rapuh diselingi sungai-sungai kecil berair hangat yang mengandung belerang. Sesekali melompat menghindari asap yang mengepul dari rongga-rongga cadas. Waahh… baru tahu ternyata gunung ini termasuk gunung berapi juga.

            Hampir 2 jam naik turun bukit yang sangat terjal dan terbuka, Kami sampai di batas vegetasi. Di hadapan terhampar luas padang savanna, terbentang bak permadani hijau yang menutupi seluruh kontur perbukitan yang mengelilingi puncak gunung. Fikiranku melayang ke masa kecil dulu, membayangkan Saya bermain berlari-larian bersama Laura di film Little house on the Praire.

Bukit Savanna

            Di sebrang punggungan bukit terlihat tanah dan pohon-pohon menghitam. Bekas terjadinya kebakaran. Sangat disayangkan. Ulah manusiakah itu? Semoga saja bukan. Cuaca yang kering di sini bisa saja memicu terjadinya kebakaran. Saya dan Lastri saja sudah kelimpungan menahan sengatan panas yang menembus ubun-ubun. Syukurlah Saya tidak lupa membawa payung sehingga bisa sedikit mengurangi sengatan panas.


Jatuh di Jurang

            Kami terhenti di suatu tepi jurang. Tak ada jalan lain lagi untuk sampai ke puncak gunung selain menuruni jurang tersebut lalu menaiki bukit lainnya disebrang. Karena tetap buntu, akhirnya Kami nekat menuruninya. Keril (Ransel) Kami lempar terlebih dahulu ke bawah kemudian Saya merayap pelan-pelan menyisir tepi jurang. Sementara Lastri masih di atas menunggu giliran turun.

            Setelah menemukan pijakan yang cukup untuk berdiri,  Saya berhenti di tengah-tengah jurang lalu memberi aba-aba kepada Lastri untuk menyusul ke bawah. Tiba-tiba Lastri terpeleset dan hilang keseimbangan. Ia meluncur terjun bebas. Sementara di bawah, batu-batu terjal menunggu. Kami berdua menjerit. Dengan refleks tangan Saya meraih badan Lastri yang melesat tepat di samping Saya.

            Beberapa saat Kami terpaku. Gemetaran lalu menarik nafas dalam-dalam. Seandainya Lastri terus meluncur ke bawah bagaimana? Kami bergidik membayangkannya. Ya Allah, terima kasih hal itu tak terjadi. Kalau sampai Lastri kecelakaan, waduh Saya yang kurus kering begini rasanya tak akan sanggup membopong bahkan memapah badannya yang tinggi besar. Siapa juga yang akan berkeliaran di daerah antah berantah seperti ini kecuali orang-orang sableng seperti Kami. Ya, tentu saja akan sangat sulit mendapatkan pertolongan orang lain karena tempat ini jauh dari keramaian. Syukurlah Lastri masih bisa berjalan walau tampak kesakitan. Perjalanan menuju puncak masih dapat Kami lanjutkan.

            Vegetasi mulai berubah. Kini di sekeliling hanya ditumbuhi ilalang dan pakis setinggi dua meter sehingga susah mendapatkan orientasi ke puncak gunung. Sementara jalur pun tak ada, Kami hanya menerabas masuk ke rimbunnya ilalang. Sesekali menemui kotoran babi dan lorong panjang bekas celeng-celeng itu berlari.

            Di beberapa titik, pohon cemara tumbuh satu-satu. Lumayan sebagai penanda saat Kami kehilangan arah. Terkadang cemara itu menjadi tempat berteduh dari teriknya matahari yang membakar ubun-ubun. Sungguh perjalanan yang menguras energi namun melatih kesabaran.

Apakah itu Kebun Ganja?

            Tiba-tiba Kami melewati satu bukit, dibaliknya terlihat sebuah gubuk. Di sekelilingnya terhampar tanaman yang asing dan aneh. Tersusun rapi membentuk garis-garis lurus. Sayuran bukan palawija juga bukan. Jadi tanaman apakah itu?

            “Jangan-jangan.... “ Saya dan Lastri saling pandang.
            “Gaaan...jaaa?” Kami berdua serempak menyebutnya. Oooh tidaaaakkk!!!
            “Waduh gimana dong?” Saya menatap Lastri yang kebingungan.
            “Iya Teh kayaknya mirip deh.” Kata Lastri setengah berbisik.

            Semua keraguan berkecamuk dalam hati dan fikiran. Kami tidak yakin dengan kesimpulan sendiri. Lahan di bukit-bukit paling bawah saja masih kosong belum tergarap. Kalau berladang kenapa juga sampai jauh-jauh di balik bukit. Lagi, kenapa cuma itu saja satu-satunya ladang, tak ada yang lainnya. Tersembunyi dari peradaban manusia. Jauh masuk ke dalam badan gunung berjam-jam berjalan kaki dari desa terakhir Kami berangkat. Tempat ini sepertinya dirahasiakan. Huuh... tidak masuk akal sekali. Saya mendadak pusing mencari-cari jawaban yang tepat untuk sebuah alasan dari pertanyaan “Kenapa ladang ini bisa berada di sini?”

            Kami mengendap-ngendap menghindari lokasi itu. Ya, Kami tetap harus waspada. Ini di gunung Bung! Siapa juga yang akan menolong Kami jika dari dalam gubuk itu muncul para lelaki yang bersenjata dan merasa terancam oleh kehadiran dua kurcaci nekat ini, lalu tiba-tiba menawan atau menembak Kami. Dor! Habis sudah, tamatlah riwayat Kami.

            Setelah dirasa cukup aman, Kami beristirahat sejenak di bawah pohon cemara gunung. Matahari semakin terik. Wajah Kami mulai memerah persis udang goreng. Kepala mulai terasa puyeng nyut-nyutan, mungkin kena gejala dehidrasi dan overheat  karena otak mulai mendidih terbakar matahari.

             Kami berjalan susul menyusul. Namun lama kelamaan Lastri tertinggal jauh di belakang. Sesekali Saya berhenti dan menghadap ke belakang. Tepat di bawah sana pemandangan sungguh spektakuler. Kondisi yang terlihat kontras, sementara gunungnya hanya ditumbuhi ilalang dan pakis, nun jauh di lembah-lembah sana terlihat petak-petak sawah dan ladang sayur-mayur yang tumbuh subur. Danau Toba pun terhampar biru menggantikan tugas langit yang hari itu memutih tertutup awan.

Sebuah Lembah

            Lastri tiba di samping Saya, angin mulai menerpa kencang. Menampar-nampar wajah yang sudah berlumur peluh, membawa serbuk-serbuk pakis yang kering yang menyusupkan pedih di mata.

            "Teh, sebenarnya Aku  sudah nggak kuat lagi namun dari bawah Aku lihatin Teteh naik terus, jadi Aku  tetap semangat buat nyusul. Masa Teteh yang badan kecil gitu saja bisa, Aku yang besar gini nggak bisa." Kata Lastri. Mendengar itu Saya jadi terharu, betapa Lastri mempunyai semangat yang kuat, secara dia sudah jatuh di jurang tadi. Dan Saya yakin ada sesuatu yang terjadi pada tubuhnya, karena sebelum tertangkap tangan, badannya sempat tergesek bebatuan di jurang.

            Perjalanan dilanjutkan. Perkiraan Kami, waktu tempuh pendakian hingga ke puncak sekitar 2 jam-an. Dan ternyata telah meleset jauh. Bahkan perjalanan sudah menempuh waktu 4 jam, puncak gunung belum juga tergapai. Padahal dari awal pendakian, Puncak gunung Pusuk Buhit selalu terlihat dan sepertinya sudah dekat. Namun berjam-jam berlalu puncak makin terasa menjauh.

Menggapai Puncak

            Saya terus melangkah, rasa linglung dan sakit kepala mulai menyerang. Sepertinya Saya dis-orientasi. Percakapan-percakapan dengan para penumpang mobil Sampri  terngiang lagi. Begitu juga dengan ucapan bapak-bapak dan penduduk lokal lainnya yang Saya temui di hotel Wisata di Pangururan . Semua menyarankan agar Kami berhati-hati karena gunung ini masih berbau mistis. Dari sinilah asal muasalnya suku Batak. Penduduk sekitar gunung ini pun masih banyak yang menganut aliran-aliran kepercayaan animisme dengan memuja roh-roh dan pepohonan.

Kawasan Puncak

            Jalur semakin tinggi dan curam, di suatu sadel perbatasan bukit dengan bukit lainnya Saya mulai memperhatikan sesuatu yang samar-samar. Di tebing bukit sebelah kiri jalur, terdapat sebuah batu besar yang kalau diperhatikan dengan detail mirip sekali dengan pahatan kepala manusia, menyerupai pahatan patung-patung raksasa kepala Presiden Amerika Serikat di Gunung Rushmore Dakota Selatan Amerika.

            Semakin mendekat, Saya semakin takut. Berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa Saya memang salah lihat. Tak mungkin pahatan batu sebesar ini tak ada orang yang tahu. seharusnya jika  mata Saya benar, tempat ini sudah ramai dengan turis. Minimal ada sedikit pemberitaan di media. Biarlah mata Saya yang berhalusinasi dan Saya tetap menyimpannya rapat-rapat dalam memori. Membidikkan kamera saja sungguh Saya tak berani. Rasanya baru kali inilah merasa benar-benar takut di siang bolong.

            Beberapa saat kemudian Saya tiba di puncak. Suasana sepi  namun mencekam. Hanya suara angin yang menderu menghempas pohon-pohon pinus di areal puncak yang datar. Saya menanti Lastri dengan harap-harap cemas.

View ke Arah Danau Toba

            Titik triangulasi ditandai oleh sebuah monumen bercat putih. Di atasnya terdapat cawan-cawan yang berisi pecahan botol bekas minuman beralkohol. Beberapa puluh meter ke bawah samar-samar terlihat areal yang bersih dan membentuk lingkaran serta liuk-liuk jalur yang mengarah ke lingkaran itu. Mungkin ladang penduduk, fikirku.

            Lastri akhirnya tiba. Kami berpelukan dan saling mengucapkan selamat. Pemandangan ke arah bawah sungguh luar biasa indahnya. Seandainya Kami cukup nyali, ingin rasanya berlama-lama di situ. Namun perasaan aneh menyelimuti fikiran. Ada rasa takut yang kemudian menjalar mempengaruhi nyali Kami. Cukup setengah jam saja Saya dan Lastri menikmati puncak lalu cepat-cepat mengambil foto hanya untuk dokumentasi. Setelah berfoto Kami langsung menuruni areal puncak namun memilih jalur yang berbeda dengan jalur yang dinaiki semula.

Lastri di Titik Triangulasi

            Entah apa yang ditakuti. Kami merasa ada yang terus mengawasi dan memperhatikan Kami. Walau berdoa sekuat hati meminta perlindungan kepada Allah SWT, Kami tetap merasa was-was. Kami hanyalah jiwa-jiwa perempuan yang lemah yang nekat entah oleh obsesi ataukah sekedar hobby. Sesuatu yang sulit untuk dijabarkan dengan arti dan kata-kata. Entahlah. Walau jauh di lubuk hati berbisik pernahkah si Poltak Ruhut Sitompul atau si cantik Nadya Hutagalung, atau bahkan Choky Sitohang berkunjung ke gunung nenek moyangnya ini?  

       Kami kemudian melewati  areal yang melingkar-lingkar di bawah punggungan puncak yang kalau diperhatikan dengan seksama persis seperti bekas lokasi turunnya UFO di film-film. Dengan ilalang-ilalang yang rebah membentuk pola-pola tertentu.

Altar Persembahan

            Kami menuruni puncak sekitar pukul 14.30. Tidak kembali ke jalur semula namun sengaja mengikuti jalur yang mengarah ke ladang yang membentuk lingkaran tadi. Semakin mendekat semakin jelas ternyata tidak ada ladang di situ hanya sebuah batu besar yang rata yang dikelilingi oleh tembok rendah. Tanah sekitarnya sudah diplester semen. Membentuk arah-arah menyilang seperti mengandung makna tertentu.

            Kami terpaku sesaat. Menyadari bahwa ini sesuatu yang penuh pertanyaan. Untuk apa batu ini? Mungkinkah ini batu pemujaan, sebagai altar, semacam menhir atau sarkofagus tempat persembahan seperti zaman-zaman dahulu kala? Bulu kuduk Saya langsung merinding, membayangkan seseorang terlentang di atas batu untuk dipersembahkan kepada roh-roh halus. Atau tiba-tiba dari balik bukit dan semak-semak mendadak berloncatan orang-orang yang melesatkan anak panah ke arah Kami. Lalu Sayalah yang terbaring di atas batu itu. Hiiiy, keadaan semakin spooky dan horror karena deru angin kian menjadi-jadi. Pepohonan di atas bukit pun berderak-derak bergesekan. Sementara ilalang di tanah lapang pun beradu berdesah-desahan.

Menuju Altar?

            Dengan langkah seribu, Saya dan Lastri segera cabut dari lokasi itu. Setengah berlari menjauh secepat mungkin. Takut terjadi hal yang tidak-tidak. Kami menuruni gunung dengan cara menerabas ilalang, tersaruk-saruk, dan bahkan terantuk batu. Kadang jatuh, kadang tersandung. Terasa begitu lama dan jauh untuk sampai di kampung terdekat. Setelah dua jam lebih, barulah Kami sampai di ladang penduduk.

            Masih bertanya-tanya dalam hati, untuk apa lokasi di atas tadi. Hhh… biarlah rasa penasaran itu mengendap dalam fikiran. Saya tidak berusaha bertanya kepada para petani yang sedang berladang. Rasa lelah dan capek mengalahkan segalanya.

            Setelah adu tawar, Kami menaiki motor petani yang sedang mengurusi sayurannya. Kebetulan mereka bersedia mengantarkan Kami dengan biaya yang cukup mahal. Tak apalah asal bisa secepatnya tiba di pemandian tempat Kami mendaki pertama kali.

            Jalan yang dilewati mengular menyusuri punggungan gunung. Tebing-tebing sangat curam. Kerikil-kerikil berhamburan tergilas ban motor. Plak…plak… menimbulkan gema di tepi jurang. Ngeri campur seru. Motor yang Kami tumpangi melaju kencang di jalan yang meliuk-liuk bak ular raksasa.

            Setelah ladang dan jurang-jurang, Kami melewati bangunan bernama Sianjur mula-mula. Bangunan yang dijadikan tempat peringatan asal-usul suku Batak. Pukul 17.30 sampailah di pemandian air panas Desa Siogung-ogung Pangururan. Mandi gratis dan pulang ke Hotel tempat menginap.

            Setibanya di hotel, Lastri merebahkan tubuhnya di kasur. Lalu telungkup. Ketika kuperiksa, punggungnya merah-merah persis seperti habis kerokan. Ia pun meringis kesakitan. Rupanya punggungnya tergesek bebatuan saat meluncur terjatuh di jurang tadi siang. Kasihan sekali.

            Dengan membawa sejuta kenangan dan keseruan perjalanan, keesokan harinya Kami meninggalkan Pulau Samosir dengan menyebrangi Danau Toba menggunakan kapal Ferry menuju Kota Prapat. Lalu melanjutkan perjalanan dengan bis menuju Pematang Siantar. Dari sana Kami mengendarai bis menuju Dumai hingga akhirnya menaiki kapal Ferry untuk kembali ke Pulau Batam.

Saran :

1. Dilarang keras karena membaca tulisan ini lalu meniru perbuatan Saya yang ngebolang hanya berdua saja apalagi sendirian ke tempat-tepat sepi seperti hutan dan gunung :)

2. Selalu katakan kepada orang rumah kemana tepatnya Anda pergi. Jika sesuatu yang fatal terjadi tim SAR akan mudah mencari.

3. Di zaman yang serba canggih ini Anda bisa up date terus posisi dimana Anda berada melalui google MAP, setidaknya menandai dimana Anda terakhir kontak dengan peradaban :)

4. Tetaplah bijak dalam memahami alam. Segala sesuatu di luar plan A, Plan B, atau Plan C, bisa saja terjadi kepada Anda. Berdoa terus semoga Anda diselamatkan dalam setiap perjalanan.

5. Happy mountaineering and Keep Writing!

Tulisan ini dapat dibaca juga di sini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...