Sunday, 28 December 2014

Island Hopping ke Pulau Panjang



Jembatan Satu Barelang 

Sewaktu ribut demo buruh tentang kenaikan UMK kemarin-kemarin, kebetulan (eh kok kebetulan sih, kesannya mengharap banget gitu :D) iya kebetulan, tempat kerja saya di sweeping para pendemo. Karyawan disuruh pulang semua. Nah daripada pulang ke rumah bengong cuma nonton TV mendingan jalan-jalan ke pulau sendirian.

Untung saja dari rumah udah disiapin pakaian buat pergi. Hehe. Kabar sweeping kan udah merebak sejak seminggu sebelumnya, tapi tetep saja si bos keukeuh nyuruh semua orang masuk kerja sementara perusahaan lain di Kawasan Bintang Industri Batam tutup semua. Jadi ini malah memancing pendemo marah. Kenapa juga masih pada kerja. Naaah, karena sudah tahu akan di sweeping  saya udah siapin baju ganti untuk langsung cabut ke pulau.

Thursday, 11 December 2014

Hari Gunung Internasional 2014

Tanggal 11 Desember 2014 yang bertepatan dengan hari ini adalah hari yang diperingati sebagai International Mountain Day atau Hari Gunung Internasional. Tiap tahun tema International Mountain Day (IMD) selalu berbeda-beda. Untuk tahun ini IMD bertema "Farming" atau dalam google terjemahan berarti "Pertanian".

Menurut badan PBB yang menangani masalah pangan dan pertanian, FAO (Food and Agricultural Organization) IMD adalah kesempatan untuk menciptakan kesadaran tentang pentingnya pegunungan bagi kehidupan, untuk menyoroti peluang dan kendala dalam pengembangan pegunungan dan untuk membangun kemitraan yang akan membawa perubahan positif pada pegunungan-pegunungan dan dataran-dataran tinggi di dunia.

Monday, 8 December 2014

Menyepi di Taman Buru Masigit Kareumbi



Rumah Pohon di Taman Buru Masigit Kareumbi
Bis Primajasa jurusan bandara Sukarno Hatta – Bandung perlahan memasuki kawasan Batu Nunggal. Kawasan yang semenjak Mei 2012 silam, menjadi lokasi untuk menurunkan dan menaikkan penumpang dari dan ke Bandara Sukarno Hatta. Meskipun Bandung sudah mempunyai bandara sendiri, tetap saja jumlah calon penumpang pesawat dari Bandung menuju Jakarta sangat tinggi. Begitu pun arah sebaliknya, yang menuju Bandung dari bandara Sukarno Hatta tak kalah banyak. Ini bisa dilihat dari interval keberangkatan bis Primajasa setiap setengah jam sekali yang selalu penuh dengan penumpang.

Sms dari Bapak yang sudah menunggu di depan Kompleks Batu Nunggal berkali-kali datang. Beliau menanyakan posisi saya dimana. Katanya tidak bisa masuk ke dalam karena jalannya cukup jauh. Ia akan menunggu mobil yang akan saya carter yang sebentar lagi datang.

Wednesday, 3 December 2014

Kampung Naga, Keseimbangan Alam yang Terjaga

Kampung Naga Tasikmalaya Jawa Barat
Kampung Naga
Pagi-pagi buta, tepat jam 4 dini hari saya dan keluarga telah berkendaraan menuju Bandara Husen Sastra Negara, Bandung. A Ahmad, sepupu saya yang mengemudikan kendaraan, memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Ngebutnya minta ampun. Ngeri-ngeri sedap deh. Bikin sport jantung.  Untung saja kanan kiri jalan belum terlihat apa-apa. Hanya gelap-gulita. Sesekali bayangan pohon-pohon tinggi berkelebatan seperti lesatan ninja. Syukurnya lagi jalan yang dilalui begitu mulus sehingga tidak begitu banyak guncangan yang terasa. Namun rasa-rasanya jalan yang kami lalui bukan jalan biasa yang ditempuh kebanyakan orang kalau hendak bepergian ke Bandung. Saya sempat terheran-heran karena tidak hafal dengan jalan tersebut.

Tuesday, 11 November 2014

Membingkai Matahari

Menyaksikan matahari terbit dari timur di sebalik pohon-pohon pinus dan membingkainya dalam bidikan kamera adalah hal yang luar biasa bagi saya. Ada syukur yang tak terucap, ada haru yang meresap dalam kalbu. 

Do'a-do'a terlantun pelan, seiring pergerakan mentari yang merayap perlahan-lahan. Merah, jingga, dan keemasan. Sungguh pagi yang sangat menakjubkan.

Tak sia-sia kami berdesakan berhimpitan di Puncak Penanjakan. Selamat datang di negeri ini.

Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde ke-52 yang diselenggarakan oleh Depz.


 

Tuesday, 4 November 2014

Gunung Papandayan, Sebuah Monolog Cinta Pertama

Sebuah Monolog
Ketika cinta tumbuh dalam diam, aku kerap menatapmu teramat dalam
Sedalam kawah-kawahmu, sedalam jurang-jurangmu, dan sedalam lembah-lembahmu yang gelap itu
Ketika cinta berpadu dengan waktu, aku kerap berbaring dalam pelukmu
Peluk yang gigil, yang menyublim dalam beku, dalam selimut kabut dan rona jingga lembayungmu

Friday, 31 October 2014

Gunung Guntur, Pendakian Penuh Waswas dan Curiga

Bagi orang-orang perantauan seperti saya, momen Idul Adha, 5 October 2014 lalu adalah momen yang tepat untuk pulang kampung. Selain tiket pesawat terbang tidak semahal ketika Idul Fitri, juga lalu lintas di jalan raya tidaklah terlalu macet. Terlebih kampung saya berada di Garut, Jawa Barat, yang lalu lintasnya berada di jalur selatan. Jalur yang setiap kali musim mudik lebaran kerap macet parah.


Thursday, 30 October 2014

Bintan Trekking 2014, Arena Jelajah Pulau Bintan yang Sesungguhnya

Setiap tahunnya, tepatnya di bulan Agustus, Dinas Pariwisata Kabupaten Bintan Kepulauan Riau senantiasa mengadakan event lomba trekking dengan lokasi di Gunung Bintan. Mengambil start dan Finish di Desa Bintan Bekapur dan Bintan Buyu.

Biasanya lomba ini bertepatan dengan musim durian sehingga kerap digelar pesta durian. Siapa pun yang datang ke acara tersebut boleh mencicipi durian yang bertruk-truk dibagikan. Para peserta pun diberi oleh-oleh berupa bingkisan durian saat menjelang garis finish. Namun sayang tahun ini musim durian jatuhnya di bulan Juli, bertepatan dengan bulan puasa sehingga duriannya sudah tak bersisa lagi.

Event akbar ini memperebutkan total hadiah 50 juta dengan rincian juara satu 10 juta, juara dua 7,5 juta, juara tiga 6 juta dan sisanya dibagi untuk 8 tim juara harapan.
Kapal Roro Batam - Bintan

Tahun ini peserta dibatasi hanya 100 tim saja dengan masing-masing anggota tim sebanyak 3 orang. Namun pada kenyataannya peserta yang mendaftar membludak hingga panitia harus menyetopnya di angka 130 tim. Banyak lagi pendaftar yang ditolak karena tidak memenuhi syarat.Contohnya saya dan suami yang hendak mengajak anak kami yang berumur 5 tahun. Panitia menolak karena batas usia peserta minimal 14 tahun.

Saya berangkat dari Batam ramai-ramai dengan teman-teman dari Komunitas Pecinta alam Muka Kuning Cumfire. Ada 8 tim dari Cumfire yang ikut ambil bagian dalam lomba ini. Kebanyakan wajah-wajah lama yang hampir tiap tahun tidak pernah absen mengikuti acara ini.

Penyebrangan Batam - Bintan menggunakan kapal Roro memakan waktu 1 jam. Biasanya kapal berangkat jam 2 tepat. Sedangkan dengan kapal cepat hanya 10 menit saja. Kami semua memilih menggunakan kapal Roro karena lebih murah dan bisa menikmati pemandangan ke arah laut. Namun sayang suami saya ketinggalan karena baru keluar dari kantornya jam setengah dua siang. Saat itu kapal mengangkat sauh lebih cepat sehingga jadwal keberangkatan maju beberapa menit. 

Tiba di Tanjung Uban, rombongan dijemput panitia menggunakan bis. Sedangkan Saya dan Chila masih akan menunggu Bang Ical yang menyusul dengan menggunakan kapal cepat. Beruntung ada Babeh Sugiyono beserta keluarganya yang mau ikut serta menunggu.Beruntungnya lagi Istri Babeh dijemput oleh saudaranya.

Tak lama, kami sudah bertemu dengan Bang Ical. Dan segera melaju menuju lokasi acara. Sepanjang perjalanan, pemandangan didominasi oleh semak dan rawa. Sesekali terlihat rumah-rumah penduduk, itu pun saling berjauhan. Sedangkan jalanan yang dilalui masih terbilang mulus. Jembatan-jembatannya pun terlihat baru.
Poster Bintan Trekking di Lokasi

Satu jam kemudian, kami tiba di Desa Bintan Bekapur. Suara khas musik melayu menyambut kedatangan kami.Tarian sekapur sirih oleh anak-anak Pulau Bintan sedang dimainkan.

Kami diterima dengan baik oleh panitia. Dan walaupun gagal jadi peserta kami tetap mendapat fasilitas makan, bandana, dan pin bintan trekking. Horeee.

Malamnya seluruh peserta diwajibkan menginap di lapangan yang telah disediakan oleh panitia. Tenda-tenda berdiri berjejer rapi. Termasuk tenda-tenda rombongan kami dari Batam.

Malam acara diisi oleh dendangan dan tarian melayu yang gemulai memikat hati.

Keesokan harinya tepat jam 8 pagi acara Bintan trekking dilepas oleh Bupati Bintan. Saya dan keluarga hanya sibuk menonton saja :D membidikkan kamera kepada para peserta yang kami kenali.

Setelah seluruh peserta habis, kami meluncur menuju air terjun kecil yang ada di kaki gunung bintan. Tiba di sana saya dibuat terkejut, seujung-ujung kampung di sana ditanami buah-buahan semua. Duku, rambutan, dan durian. Saat itu bertepatan dengan musim duku sehingga sepanjang jalan pohon-pohon duku berbuah lebat sekali.
Metik langsung dari Mobil :D

Tangan-tangan jahil kemudian tak sadar menjulur keluar dari mobil daaaan....puluhan bahkan ratusan biji duku berpindah tempat  berada di kursi mobil. Hihi...pencuriiiii...teriak saya. Maling teriak maling. Eit asli saya tidak ngambil dan makan sebiji pun. Takut dosa. Walaupun melimpah ruah, belum tentu yang punya pohon ikhlas merelakan dukunya masuk ke dalam perut saya.

Setelah puas keliling dan main-main di air terjun, kami kemudian meluncur ke lokasi finish trekking di Bintan Buyu. Sebuah lintasan finish telah disiapkan panitia. Tak urung membuat kami jeprat-jepret numpang foto sebelum para peserta tiba.

Tak berapa lama berselang, para peserta Bintan Trekking mulai berdatangan. Mereka menjinjing sebuah bingkisan yang terbuat dari daun kelapa yang dijalin begitu cantik. Isinya ternyata duku.

Di lapangan tepat di sebelah garis finish digelar bazaar yang menjual aneka makanan khas bintan dan jajanan umum lainnya. Kami pun mencoba beberapa makanan yang unik khas bintan. Salah satunya buah Tampoi. Buah ini mirip duku namun lebih besar. Sedangkan tampilan isi dan bijinya lebih mirip manggis.
Bang Ical di Garis Finish

Acara puncak dari panitia adalah hiburan dengan menampilkan Band Nidji dari Bandung. Sontak saja para peserta yang kebanyakan anak-anak muda merangsek masuk ke dekat panggung. Kalau saya sih udah nggak masanya lagi. Jadi tetap saja melipir di pinggir lapangan :D

Buah Tampoi yang Langka
Acara penampilan Band selesai, dan pengumuman pemenang Trekking mulai dibacakan. Pembawa acara sepertinya terburu-buru membacakannya karena untuk juara satu dua tiga saja dia membacakannya mirip pembacaan UUD 45, tak ada jeda. Jadi para pemenang yang dipanggil malah banyak yang nggak ngeh kalau mereka menang.

Dari rombongan Cumfire ternyata ada juga yang menang. Lumayan mendapatkan uang tunai sebesar satu setengah juta belum dipotong pajak.

Karena sudah menjadi tradisi dan kebiasaan, teman-teman yang ikut acara ini tidak  terlalu berharap menang. Hanya ingin berpartisipasi saja. Jadi tidak terlalu kecewa saat mereka tidak juara.

Sorenya kami menaiki bis menuju Tanjung Pinang. Setelah itu menyebrang dengan menaiki kapal Fery menuju pelabuhan Telaga Punggur, dan kembali ke Batam menjelang malam.

Sampai jumpa di Bintan Trekking tahun depan.
Foto Bareng Bupati Bintan




Tuesday, 28 October 2014

Belajar Pada Kebijakan Alam

Nak...
Saat dirimu berdiri di tepi sana 
Seakan-akan segala keindahan spektrum warna 
Berpadu menjadi bintang yang paling bercahaya

Tetap...tetaplah berdiri di sana Nak! 
Amati dan pelajari semua gambaran yang terekam oleh jala retinamu.

Nak...
Belajarlah selalu pada kebijakan alam
Pada kabut yang selalu menyejukkan 
Pada sinar mentari yang selalu menghangatkan
Pada riak danau yang selalu menenangkan, dan
Pada udara yang selalu melegakan

Nak...
Renungkanlah pelajaran ini!





Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde ke-51 yang diselenggarakan oleh Dee An di sini

Monday, 8 September 2014

[Catper Semeru] Perjalanan Menuju Ranu Kumbolo

Memasuki Pintu Rimba Semeru
Sambil menyanyikan lagu naik-naik ke puncak gunung, saya dan anak saya, Chila berjalan menyusuri jalur pendakian Gunung Semeru. Sedangkan Bang Ical, suami saya berjalan di belakang kami sambil menggemblok carrier yang diperkirakan beratnya mencapai 15 kilogram. Dalam jarak jauh beban seberat itu lumayan bikin punggung dan pinggang pegel linu. Padahal beban tersebut sudah dikurangi banyak karena perlengkapan dan logistik lainnya dibawa oleh Mas Yanto porter kami.yang mendaki melalui jalur lain. Jalur Ayek-Ayek yang ditutup untuk umum.

Kami melalui jalan setapak yang di beberapa bagian telah disemen. Sepanjang jalur, di kanan kiri hanya semak dan pohon-pohon yang rindang. Sesekali semak-semak tersebut bertautan di atas membentuk canopy yang indah. Saya menyebutnya sarang burung. Dan Chila suka dengan istilah itu. Jadi setiap menemukan canopy, Chila akan berteriak menyuruh kami berhenti di sarang burung.
Canopy

Di sepanjang jalur pendakian, hanya berselang beberapa menit saja, sudah ada yang menyusul dan melewati kami. Sebentar-sebentar kami berhenti untuk memberi jalan bagi mereka yang ingin mendahului. Tak lupa mereka selalu menyapa Chila. Bertanya ini itu dan tampak takjub melihat anak kecil ikut naik gunung. Begitu ditanya usianya berapa saya memilih diam dan mengalihkan pembicaraan. Ini masalah sensitif dan akan mengganggu kenyamanan kami selama pendakian jika saja ada petugas yang patroli.

Kami sudah diwanti-wanti oleh petugas di pos pendaftaran mengenai resiko membawa anak kecil dan harus menanggung akibat apa pun yang akan menimpanya. KTP Bang Ical saja ikut ditahan sebagai jaminan. Sebenarnya petugas melarang kami membawa naik Chila, namun entah kasihan karena kami datang dari jauh akhirnya dia membolehkan.
Pose dulu :D

Setiap ada pertanyaan berapa usia Chila, Bang Ical dengan hati-hati menjawabnya. Dan lucunya lagi saat Chila sendiri yang ditanya sedangkan saya dan Bang Ical diam, dengan tegas dan jelas Chila menjawabnya 10 tahun. Saya ngikik ketawa. Anak-anak kalo dicontohin cepat belajarnya ya :D. Saya bertanya kenapa Chila menjawab 10 tahun. Kata Chila kalau 10 tahun dibolehkan naik gunung kalau 5 tahun nggak boleh naik gunung, jadi Chila sekarang usianya 10 tahun. Halaah ide darimana pula itu. Pasti mencontoh ayahnya.

Kami berjalan santai mengikuti irama jalannya Chila. Pelan tapi terus maju. Beberapa kali berhenti dan mengeluarkan mainan serta buku menggambar. Jadi gelosoran di pinggir jalur sambil mewarnai Buku Dora the Explorer.
Belajar di Jalan biar gak bosan

Setelah 2 jam perjalanan, Chila masih saja berjalan sendiri. Tidak mau digendong. Ia malah asyik mengamati lingkungan sekitar yang dilaluinya. Setiap ada tanaman dan bunga-bunga yang tidak dikenali, dia berhenti dan mengamatinya. "Bunda ini tanamannya unik," katanya. Sepertinya Chila menikmati setiap langkahnya. Tidak sedikit pun mengeluh capek. Saya dan suami berkali-kali menawarinya menggendong namun selalu ditolak.

Menjelang tengah hari, akhirnya saya paksa untuk menggendong Chila menggunakan baby carrier. Sepertinya Chila sudah mengantuk. Dan benar saja tidak berapa lama dia pun pulas dalam gendongan.

Bertemu Bang Ichin
g pos Watu Rejeng, tiba-tiba kami berpapasan dengan seorang bapak-bapak dan anaknya. Suami saya langsung mengenalinya. Si Bapak tersebut ternyata Om Ichin, Mapala UI angkatan tahun 86. bang Ical dan Om Ichin ini pernah satu pendakian di Gunung Gede beberapa tahun silam. Saya langsung excited ketemu senior di dunia mountaineering Indonesia ini. Setelah ngobrol sebentar kami masing-masing melanjutkan perjalanan.
View menuju puncak dari jalur pendakian

Jalur masih mendatar dan terlihat jelas. Melipir bukit-bukit dan punggungan gunung. Ada beberapa perhentian atau shelter yang dibangun sepanjang jalur. Namun setiap shelter selalu dipenuhi oleh pendaki yang sedang beristirahat. Jadi kami terus saja melanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul 3 sore kami mulai melihat Danau Ranu Kumbolo di kejauhan. Alhamdulillah. Akhirnya Chila kuat berjalan kaki sampai sejauh ini. Danau indah yang berada di ketinggian 2400 meter di atas permukaan laut. Tak lupa selalu narsis foto-foto. Kapan lagi bisa merekam dan menikmati keindahannya selain saat itu. Inilah pemandangan pertama menuju Ranu Kumbolo. Woow...Breathtaking Journey!

View pertama menuju Ranu Kumbolo

Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini:


1. [Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Ranu Pani Sang Tahta Mahameru  
2. [Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Indahnya Savana Bromo
3. [Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Petir dan Badai di Gunung Bromo
4. [Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Tumpang, Kota Persinggahan Para Pendaki
5.[Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Mengunjungi Singosari


Friday, 5 September 2014

[7 Wonders] Petualangan Mengungkap 7 Keajaiban Nusantara

Petualangan adalah sebuah proses pencarian. Proses melihat, mengamati, serta menyerap beragam makna kehidupan di sepanjang perjalanan. Petualangan adalah masa dimana para pelakunya belajar langsung di luasnya universitas kehidupan. Jeda manakala seseorang telah terbelenggu oleh ambigu rutinitas.

Sudah sejak zaman dahulu kala, semenjak Adam terusir dari surga, petualangan telah bermula. Menyusuri hutan, mendaki gunung, melintas savana dan gurun bahkan mengarungi lautan. Petualangan tersebut mempunyai tujuannya masing-masing. Dengan berjalan kaki, mengendarai hewan tunggangan, atau berlayar dengan perahu-perahu sederhana. Petualangan telah menemukan caranya tersendiri.

Selayaknya Adam bertemu Hawa, maka petualangannya telah purna. Suatu purna yang sempurna. Begitu pun sebuah proses petualangan, ia akan menemukan akhir untuk memulai sesuatu yang baru lahir. Yakni sebuah perspektif baru tentang dunia luar yang telah dilalui. Tentang tempat-tempat yang terlewati, tentang orang-orang yang ditemui, atau tentang alam yang indah menawan hati.

Para petualang laksana kupu-kupu yang telah bertransformasi menjadi wujud cantik nan menarik. Ia terbang, hinggap, berpindah-pindah, untuk menyesap sari bunga-bunga sambil mengepakkan sayapnya. Kepakan yang menjatuhkan serbuk sari bunga hingga bertemu putiknya. Kepakan yang memberi harapan kepada pohon untuk tumbuh lebat berbuah.

Kepakan sayap kupu-kupu bagaikan kisah, cerita, ilmu, dan pengetahuan yang dibagi sang petualang. Ia akan menyebar dan menempel layaknya serbuk sari yang berjatuhan. Yang akan menumbuhkan tunas-tunas petualangan baru bagi siapa saja yang mendengar dan menyimak kisah-kisahnya.

Para Sahabat Petualang Menuju Desa Kinahrejo (Foto oleh: Luci)
Seperti itu pulalah petualangan yang dilakukan oleh Daihatsu pada Awal Oktober 2013 silam. Petualangan panjang selama dua pekan dengan tajuk “Terios Seven Wonder, Hidden Paradise menempuh jarak lebih dari 2500 kilometer dari tepi barat Pulau Jawa hingga ujung barat Nusa Tenggara Timur. Perjalanan yang mampu menebar semangat petualangan baru bagi siapa pun yang mendengar dan membaca kisah-kisahnya. Kisah yang dituturkan oleh para jurnalis dan narablog yang menjadi peserta petualangan tersebut. Petualangan menyibak sisi-sisi tersembunyi dari sejumput surga yang terserak di bumi nusantara. Seperti putaran roda Terios yang bergulir di jalanan beraspal, kisah-kisah itu pun bergulir dari satu rumah ke rumah maya lainnya. Layaknya jala ia ditebar dan layaknya virus ia menyebar.




Petualangan Mengunjungi 7 Wonders, Hidden Paradise of Indonesia

Petualangan Daihatsu Terios ke Taman Nasional Baluran (Foto by Wira N)
Petualangan Daihatsu Terios dengan menggunakan 7 armadanya dimulai dari hidden paradise yang terdapat di Provinsi Banten yaitu Pantai Sawarna. Dilanjutkan ke Desa Kinahrejo di kaki Gunung Merapi Yogyakarta, kemudian Suku Tengger di Desa Ranu Pani Jawa Timur. Ke timur lagi Terios berpacu di jalanan menuju Taman Nasional Baluran di Banyuwangi Jawa Timur. Selanjutnya rombongan petualang menyebrang menuju Desa Sade yang terdapat di Pulau Lombok dan Dompu di Pulau Sumba NTB, lalu menyebrang menuju Labuan Bajo di Flores hingga Terios mencapai akhir perjalanannya dengan menggapai wilayah  perairan di Pulau Komodo.

Berada dalam perjalanan selama dua pekan, terguncang di balik kemudi, menyesuaikan dengan ritme laju kendaraan di setiap belokan, tanjakan, turunan, jalanan berlubang, berpasir, bahkan berlumpur sungguh akan terasa sangat melelahkan bagi siapa pun yang mengikutinya. Namun performa Terios yang tangguh melalui segala medan mampu meredam rasa lelah yang sedemikian rupa. Salah satunya dikemukakan oleh narablog Luci yang menjadi salah satu peserta roadtrip.

“Yang bikin tambah seneng, tidur di kursi belakang nyenyak banget karena guncangannya nggak terasa. Kalau kata Om Toni, jurnalis majalah Auto Bild (Kompas Gramedia) yang juga berperan sebagai team leader dalam perjalanan ini, suspensinya Terios disetting empuk. Pantesan, saya nggak bangun aja dong padahal sudah melewati banyak jalanan rusak. :’)”    

Terios didukung oleh sistem suspensi McPherson strut per keong & stabilizer membuat berkendaraan terasa sangat nyaman. Begitu pun dengan sistem kemudi yang menggunakan Rack & Finion dengan Electric Power Steering membuat aktifitas mengemudi terasa ringan dan menyenangkan. Terios juga dilengkapi oleh Disc Brake sehingga kualitas pengereman lebih mantap dan sempurna. Selain itu TAF Body memberikan keamanan maksimal karena memiliki fungi menyerap benturan.

Sesuai dengan tagline-nya sebagai “Sahabat Petualang”, Terios telah membuktikan diri mampu menjadi sahabat terbaik para petualang dalam rangkaian roadtrip Sawarna – Kinahrejo – Tengger – Baluran – Desa Sade – Dompu – dan Pulau Komodo. Dengan kapasitas penumpang 7 orang, mobil SUV dengan Ground Clearance yang tinggi ini mampu melewati medan yang tidak rata dan trek off-road.



Petualangan adalah Sarana untuk Berbagi

Roda zaman terus berputar. Kian hari petualangan di alam terbuka semakin mengalami berbagai perubahan dan kemudahan. Baik dari segi cara maupun tujuannya. Dari berjalan kaki, hingga kini mengendarai berbagai jenis kendaraan. Dari petualangan mencari tempat yang nyaman dan perlindungan dari hewan buas menjadi tempat untuk bersenang-senang. Dari yang hanya sekedar iseng menjadi ajang membawa misi kemanusiaan. Petualangan semakin hari semakin menemukan jati dirinya.

Petualangan Terios berserta timnya tidak hanya sekedar menumpang lewat dan menikmati setiap keindahan lokasi-lokasi yang dituju, namun di sana juga mereka memberikan bantuan kepada masyarakat setempat melalui program CSR (Corporate Social Responsibility).

Dan dalam petualangan tim Daihatsu Terios 7 Wonders kali ini tak ketinggalan membawa salah satu misi sosial kemanusiaan. Yakni dengan berbagi dengan masyarakat yang dikunjungi. Misalnya saat tim mengunjungi Desa Ranu Pani para petualang membagi-bagikan alat kebersihan agar dipergunakan oleh masyarakat setempat untuk membersihkan lingkungan sekitar dari sampah dan debu-debu. Kegiatan ini merupakan bagian CSR dari PT. Astra  Daihatsu Motor melalui programnya Sehat Bersama Daihatsu.  Hal ini telah disadari oleh Daihatsu bahwa kesehatan masyarakat adalah kebutuhan dasar untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Selain itu tim sahabat petualang memberikan bantuan buku untuk perpustakaan sekolah di Pondok Pesantren Almasyhudien Nahdlatulwathan yang mengelola beberapa sekolah di Pulau Lombok. Program CSR ini diberi tajuk Pintar Bersama Daihatsu.

Di Labuan Bajo, tim lagi-lagi berbagi dengan menyumbangkan 7 ekor kambing untuk dikurbankan di Mesjid Labuan Bajo. Program ini mengusung tema Sejahtera Bersama Daihatsu.


Epilog

Petualangan menempuh jarak ribuan kilometer sepanjang Pantai Sawarna – Pulau Komodo yang zaman dahulu kala harus ditempuh dengan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, kini dengan semakin canggihnya kemajuan yang diraih anak manusia, jarak ribuan kilometer tersebut seperti terlipat dalam sekejap. Tahun menjadi bulan, bulan menjadi minggu, dan minggu menjadi hari. Kini, petualangan terasa semakin lebih bermakna dan berwarna karena teknologi memaksimalkan nilai petualangan itu sendiri.

Saat petualangan Terios 7 wonders berakhir maka makna petualangan itu sendiri mulai terasa hadir. Mengisi setiap relung hati pembaca dengan berbagai sudut pandang. Indahnya negeri sendiri tampak mempesona setelah selesai dikunjungi dan tersaji dalam imaji. Tim Terios 7 Wonders telah berhasil mengangkat ke permukaan tujuh lokasi tersembunyi di negeri ini yang layak dijadikan destinasi.

Pada akhirnya petualangan akan mencipta kenangan. Kenangan mencipta ketenangan. Ketenangan mencipta nilai dan perbuatan yang bijak. Bijak dalam bertindak, bijak dalam bermasyarakat. Semoga petualangan Terios mengunjungi 7 keajaiban nusantara akan mencipta kenangan indah akan negeri tanah tumpah darah. Kenangan yang akan menyublim menjadi semangat nasionalisme untuk tetap mencintai negeri sehingga tatanan nilai dan budaya masih tetap terjaga. Dan nilai-nilai kearifan lokal akan bersinergi dengan nilai-nilai global dengan lebih bijak.




Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Terios7Wonders yang diselenggarakan oleh Vivalog dan Daihatsu.

Sumber Referensi:
1. www.daihatsu.co.id
2.  www.indohoy.com
3.  www.lucianancy.com
4.  www.wiranurmansyah.com
5.  www.backpackology.me
6.  www.simplyindonesia.wordpress.com
7.  www.girisatrio.wordpress.com



 

Thursday, 28 August 2014

Sunrise Bromo

Waktu masih menunjukkan jam 4 subuh manakala ratusan bahkan mungkin ribuan orang berdesak-desakan demi menyaksikan detik-detik kemunculan sang raja siang terbit di ufuk timur. Menit demi menit, detik demi detik terlalui begitu lama. Seolah jarum jam terhenti tergerus dingin yang menggigit. Di langit jelas terlihat bintang kejora mengambang berhampiran dengan bulan sabit.



Di ufuk sinar keemasan mulai tampak. Dan saat-saat yang ditunggu kini menjelang. Sang Raja telah keluar dari peraduannya. Memberi cahaya, memberi warna pada indahnya dunia.

Selamat datang mentari, hangatmu selalu kami nanti. 



Dan Keagungan ciptaan-Nya kini tampak  begitu nyata. Rangkaian gunung-gunung nun jauh di sebrang masih berselimut kabut. Perlahan tersibak hangat yang menjalar di alam raya.


Padu antara biru langit dan kumpulan gunung-gunung menjadikan Bromo selalu indah untuk dikenang.


Semoga kita selalu menjadi orang yang pandai mensyukuri segala nikmat-Nya.

Amiiin.

Tuesday, 19 August 2014

Antara Saya dan Air Asia



Saya dan Air Asia

Berada di ketinggian sebuah gunung yang berselimut gumpalan kabut, menyesap hawa dingin di antara hembusan angin, menikmati aroma khas daun pinus dan mencumbui kuncup-kuncup merah cantigi, atau berlari-lari kecil bak penari India di hamparan padang edelweis, adalah salah satu kerinduan yang kerap menyambangi benak saya. Kerinduan yang bertalu, berpadu, layaknya candu.

Maka, jika kerinduan itu singgah, selalu saja apa pun yang dilakukan serba salah. Segalanya menjadi payah. Makan tak enak tapi tidur sangatlah nyenyak. Sure! Tidur yang nyenyak karena mimpi berada di ketinggian sebuah gunung :D

Kerinci, Rinjani, Semeru, Kinabalu? Entahlah suara batin itu kerap menyambangi alam sadar saya. Kinabalu, kinabalu, kinabalu? Kini nama itu yang terus terngiang-ngiang dalam fikiran.

Bagaimana saya bisa ke sana? Bagaimana agar perjalanannya murah meriah? Bagaimana supaya mudah? Nah, pertanyaan-pertanyaan itulah yang mulai mengalahkan pertanyaan terberat dalam hidup saya saat itu. Kapan nikah?

Maka mulailah pencarian saya. Bukaaan, bukan pencarian jodoh. Tapi pencarian infromasi mengenai Gunung Kinabalu dan pesawat apa yang bisa mengantarkan saya ke Kota Kinabalu.

Saya terlonjak gembira ketika mendapati tiket promo Air Asia seharga nol ringgit alias nol rupiah. Sumpeh Lo? Iya, rasanya mendadak ingin koprol tujuh putaran, tujuh belokan, dan tujuh turunan. Dapat nol rupiah itu rasanya seperti ditraktir langsung oleh Tony Fernandes si bosnya Air Asia. Namun naas bagi saya. Ketika menghubungi Pihak Pengelola penginapan (hostel) di Taman nasional Kinabalu, pada minggu-minggu tersebut seluruh penginapan sedang full booked. Arrrgghh…gak jadi koprol.


Baiklah, saya terus mencari dan mencari tanggal terbaik. Ya gak apa-apa barangkali suatu saat ke depan situasi seperti ini dibutuhkan untuk mencari tanggal terbaik pernikahan. Kesannya jadi lebih berpengalaman. Dezig! Kenapa mikirin kawin mulu sih.


Juni 2005 adalah saat bersejarah bagi saya dengan menapakkan kaki di Gunung tertinggi di Malaysia. Melalui Johor saya terbang menggunakan Air Asia ke Kota Kinabalu. Karena saya tinggal di Batam, tidak ada penerbangan langsung dari Batam menuju Kota Kinabalu, maka saya menyebrang terlebih dahulu ke Johor dengan menaiki kapal ferry.

2005? Waaah itu sudah lama kali kakaaak. Betul memang sudah lama, bahkan Air Asia Indonesia saja baru berumur satu tahun. Masih bayi  dan masih lucu-lucunya. Namun momen perdana saya bersama Air Asia tersebut mampu mengubah hidup saya bahkan hingga sekarang.

Kenapa saya berani bilang kalau Air Asia punya peran dalam mengubah hidup saya? Ini bukan ascap atau alis apalagi ahok. Nah istilah apa pula itu? Maksudnya bukan asal ucap dan asal tulis. Kalau Ahok? semua sudah tau siapa dia :D

Sedikitnya ada 5 alasan kenapa Air Asia bisa mengubah hidup saya. Kenapa lima? Ya kalau saya ingat saya buat 10 alasan biar angkanya sama dengan Ulang Tahun Air Asia Indonesia :D

Saya di antara bule-bule :D
  1. Air Asia mengubah saya menjadi pemberani. Saya berangkat sendirian ke luar negeri tanpa ditemani siapa pun. Padahal saya aslinya orang udik yang jauh dari peradaban kota yang kadang kalau kemana-mana meski ajak teman. Merantau ke Batam pun rame-rame bertigapuluh orang dengan teman. Entah karena tampang unik eh udik itu pula saat melintas imigrasi di Johor, si petugas melihat saya agak-agak gimanaaa gitu. “Awak sendiri keh?” Tanyanya ragu. Berkali-kali pasport saya dibolak-balik. Mungkin dikiranya saya TKI ilegal. Tapi ketika saya menyerahkan kertas print out tiket penerbangan Air Asia, dia mengizinkan saya lewat. Aaah Leganya. Peluk-peluk pesawat Air Asia.


  1. Air Asia mengubah saya menjadi PeDe alias Percaya Diri level 10. Saya merasa sejajar dengan orang-orang bule. Aslinya saya memang inferior kalau menghadapi bule. Bahkan mungkin sama dengan kebanyakan orang Indonesia lainnya. Kalau ketemu bule suka banget manggil begini “mister, mister, ayo foto.” Nah saat di Kinabalu kebanyakan yang mendaki itu bule dan jadilah saya orang Indonesia satu-satunya diantara tim pendaki yang dibentuk dadakan. Dari delapan anggota tim, 7 orang diantaranya adalah bule –bule dari Australia, Inggris, Kanada, Swiss, dan Swedia. Saat itu dunia serasa terbalik. Bule-bule malah yang minta foto sama saya. Ciyeee. Pede saya pun naik ke level 15. Sudah begitu, dari kedelapan anggota tim tersebut ternyata saya yang lebih dahulu mencapai Puncak Kinabalu. Saat turun pun saya lebih dahulu tiba di Timpohon Gate, titik daki pertama. Karenanya bule-bule sepakat menjuluki saya The Champion. Aw..aw..awkward moment banget deh.
 
Suami saya di puncak Gunung Kinabalu
  1. Saat sudah menikah, ehmm…menikah juga akhirnya :D, Air Asia membuat saya lebih care dan romantis kepada suami. Ketika suami ulang tahun, saya ingin menghadiahi sesuatu yang takkan hilang dalam ingatannya. Sesuatu yang spesial di ulang tahunnya yang ke-32. Karena dia suka mendaki gunung juga, maka si dia saya hadiahi tiket Air Asia PP Johor-Kinabalu. Agar dia juga merasakan sensasi puncak Kinabalu seperti saya dahulu. Saya sendiri nggak ikut karena punya bayi. Senang rasanya melihat foto-foto dia berada di puncak Kinabalu plus bule-bule yang menyertainya :D

Adik saya di Marina, Singapura

  1. Air Asia membuat saya lebih sayang kepada adik. Adanya tiket Bandung - Singapura dan promo-promo yang murah membuat saya berfikir sayang sekali tiket murah begini tidak dimanfaatkan. Saya tawarkan kepada adik, maukah dia jalan-jalan ke Singapura? Dengan haqqul yakin adik saya menjawab mau. Jelas mau dong, gratiiiis. Dan pada November 2013 silam adik saya menikmati moment pertamanya berangkat ke luar negeri. Aaah… bahagianya melihat dia begitu antusias jalan-jalan di Singapura. Kami mengobrol, bercanda, makan, dan jalan-jalan bersama. Hal yang tidak pernah saya lakukan dengan dia sebelumnya. Semenjak itu, hubungan saya dan adik menjadi lebih baik lagi. Lebih dekat dan lebih bermakna.

  1. Air Asia membuat saya lebih perhatian kepada saudara lainnya. Masih di saat promo tiket Air Asia dari Bandung – Singapura tiba-tiba saya teringat dengan sepupu saya. Dia kerap berdiskusi tentang masalah kuliah dan masa depannya. Sepertinya dia sedang bosan dan monoton. Jadi ketika saya tawari tiket Air Asia ke Singapura untuk sekedar refreshing dia pun langsung mengiyakan. Saya bertemu dengannya di sana. Ah bahagia mendengar ide-idenya, semangatnya yang menyala-nyala, dan proyek-proyek masa depan yang akan dijalaninya. Dia mendadak begitu terinspirasi dengan kemajuan Singapura.
    Sepupu saya di depan Gedung Parlemen Singapura

Begitulah, bahagia itu sederhana. Menyaksikan orang-orang terdekat dapat mengecap kebahagiaan karena hadirnya saya. Terima kasih Air Asia, engkau telah mengubah saya dari seorang yang acuh, cuek, dan kurang perhatian menjadi sebaliknya.

Happy Anniversary ke-10 Air Asia Indonesia.

Friday, 15 August 2014

[Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Ranu Pani Sang Tahta Mahameru

Indahnya Ranu Pani
Debu jalanan mengepul menyambut kedatangan kami. Sangat kontras dengan pemandangan bukit-bukit yang menghijau di kanan kiri desa yang sangat terkenal di kalangan para pendaki gunung ini. Ranu Pani. Desa terakhir yang dihuni penduduk di kaki Gunung Semeru.

Mobil jeep hijau yang kami tumpangi berhenti di lapangan parkir yang ramai oleh rombongan pendaki dari berbagai pelosok tanah air. Musim liburan panjang bulan Mei seperti ini membuat Semeru kebanjiran orang. Jumlahnya mencapai ribuan orang. Untung saja jumlah pendaki setiap harinya dibatasi hanya 500 orang saja sehingga tidak semua yang datang hari itu bisa mendaki saat itu juga. Meskipun masih saja ada yang main belakang dengan mendaki melalui jalur Ayek-Ayek yang sudah resmi ditutup pihak Taman Nasional.

Musim liburan ini memang membawa berkah bagi para sopir jeep dan truk yang mengangkut para pendaki hingga jauh ke desa terpencil seperti ini. Mereka mengangkut para pendaki naik turun ke Pasar Tumpang hingga berkali-kali. Tidak para sopir saja, penduduk Desa Ranu Pani dan sekitarnya pun ikut kecipratan rejeki dengan menjadi porter atau guide.
Penduduk Ranu Pani sedang Panen

Setelah membayar ongkos jeep kami dan rombongan satu jeep dari Bekasi berpisah. Mereka langsung menuju pos untuk mengurus perizinan mendaki, Bang Ical merapikan carrier dan daypack sementara saya mengantar Chila untuk buang air kecil. Namun setelah berputar-putar tak satu pun toilet yang ada airnya. Sempat shock juga apakah di kaki gunung seperti ini air sudah begitu sulit ditemui? Untung saja Chila mampu bersabar hingga kami berangkat menuju pos pendakian yang terletak di dekat Danau Ranu Pani. Dari lapangan parkir berjalan mengikuti jalan aspal yang agak menanjak dengan melintasi pinggiran Danau Ranu Pani yang tampak menghijau.

Di jalan sebelum mencapai pos, kami didatangi oleh seorang pria yang mengaku porter. setelah adu tawar kami sepakat dengan harga 150 ribu per hari. Porter yang mengaku namanya Yanto ini lantas membawa barang bawaan kami ke rumahnya. Sementara Bang Ical, mengurusi registrasi di Pos Taman Nasional.


Saya dan Chila sementara asyik duduk-duduk sambil menikmati pemandangan ke arah Danau Ranu Pani yang tenang.

Setelah proses registrasi siap, kami bertiga dijemput bergantian menaiki motor Mas Yanto untuk diajak ke rumahnya. Di sana telah banyak pendaki-pendaki gunung lainnya yang sedang beristirahat dan makan siang. Mereka baru saja turun dari Semeru. Dan di antaranya ada Mas Jarodi yang berasal dari Jogjakarta yang ternyata teman Bang Ical. Dunia pendakian memang sempit :D

Hilir Mudik Jeep Pendaki

Karena rumahnya tepat di pinggir jalan, maka hilir mudik jeep dan truk pendaki baik yang turun maupun yang naik menjadi pemandangan yang kerap kami jumpai.

Malamnya kami menginap di rumah adik ipar Mas Yanto yang bersampingan dengan rumahnya. Dingin teramat menggigit sampai-sampai Chila pun rewel saat menjelang tidur. Malam itu terasa begitu panjang dan lama. Mungkin masih jetlag. Hampir dua jam sekali saya terbangun. Namun malam tak jua beranjak pagi.


Bang Ical, Chila, Istri Mas Yanto, adik ipar Mas Yanto dan Mas Yanto. 
Keesokan harinya, setelah sarapan kami berangkat dengan dihantar motor Mas Yanto. Bang Ical terlebih dahulu mampir di pos untuk melapor. Sedangkan saya dan Chila dihantar langsung ke pintu rimba.Jarak dari pos hingga pintu rimba sekitar 20 menit dengan berjalan kaki. Jadi menurut Mas Yanto lebih baik kami dihantar langsung ke sana untuk menghemat waktu.

Saat saya dan Chila menunggu tiba-tiba ada petugas yang mendatangi. Lalu menanyakan tentang izin mendaki dan lain-lain. Dia juga mempertanyakan Chila yang masih kecil kenapa diajak mendaki gunung. Saya sempat takut namun saya yakin si Bapak tadi belum bertemu dengan suami saya di pos. Sepertinya begitu melihat saya melewati pos dan tidak mampir untuk izin dia langsung menyusul menggunakan sepeda motornya.

Karena semua kelengkapan persyaratan mendaki ada di Bang Ical termasuk KTP saya, maka ketika saya ditanyai dan diminta syarat ini itu saya hanya menjawab semuanya ada di suami. Termasuk surat keterangan sehat dari dokter dan lain-lainnya. Akhirnya si petugas kembali ke pos.


Saya sempat deg-degan takut tidak dibolehkan. Namun kami sudah punya plan A plan B. Jika memang tidak diizinkan maka hanya saya saja yang mendaki sedangkan Chila dan ayahnya kemping di Danau Ranu Pani hingga saya turun kembali.

Pintu Rimba
Satu jam lebih saya dan Chila menunggu di pintu rimba. Cemas dan khawatir. Namun begitu melihat Bang Ical datang membawa Carrier besarnya saya langsung berucap syukur.

Dari pintu rimba, kami mulai melangkah menuju ketinggian. Berbagai perasaan campur aduk jadi satu terlebih si imut Chila menyertai pendakian kami. Inilah pendakian perdananya. Dia tampak antusias dan gembira. Semoga tidak ada sesuatu apa pun yang menghalangi perjalanan ini.

Kami bertiga berdoa, semoga kami diselamatkan dalam perjalanan hingga kami turun gunung dan kembali ke Batam dengan selamat.

Perkebunan Masyarakat Desa Ranu Pani

Semeru sambutlah kami. Izinkan kami menjejakkan kaki menelusuri sisi-sisi keindahanmu.


Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini:

1. [Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Indahnya Savana Bromo
2. [Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Petir dan Badai di Gunung Bromo
3. [Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Tumpang, Kota Persinggahan Para Pendaki
4.[Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Mengunjungi Singosari

Wednesday, 6 August 2014

[Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Indahnya Savanna Bromo

Mobil Jeep yang kami tumpangi melaju kencang melintasi lautan pasir. Angin yang bergerak horizontal mengangkat pasir Bromo ke atas. Mengepul, mengambang, dan bergerak acak di udara. Seakan bersiap - siap untuk menyongsong kedatangan kami. 

Kami menanti dengan waswas. Menanti saatnya berada di dalam hembusan badai pasir Bromo yang terkenal itu. Semua menahan nafas. Agar pasir halus yang terbawa badai tidak memasuki hidung dan rongga paru-paru kami. 

Kacamata dikenakan, tali masker diikatkan. Semua siaga karena akan menyambut fenomena alam yang unik ini. Hanya sesaat....wusss.... mobil jeep hijau itu melaju di gelapnya hembusan badai Bromo.



Perlahan bukit-bukit dan savana yang kemarin sempat dilalui mulai terlihat lagi. Aaah betapa indahnya alam ciptaan Allah SWT. Betapa beruntungnya bisa menikmati setitik surga yang jatuh ke bumi ini.

Savana...savana...savana.....hati saya berbisik. Sungguh saya selalu takjub jika berada di hamparan padang rumput nan luas seperti ini. Keindahan yang senantiasa saya rindukan. Sebab itu tersematlah nama Savanna itu ke dalam rangkaian nama anak saya. Sierra Syadza Savanna. Dan semoga keindahan Savanna akan selalu terpancar di wajahnya.


Mobil Jeep perlahan berhenti. Sang sopir sangat mengerti bahwa kami harus mampir dan berfoto-foto di tempat ini. di Blok Savana dan Bukit Teletubbies.

Cuaca saat itu teramat bersahabat buat saya. Langit biru cerah, angin berhembus perlahan, dan matahari bersinar hangat. Hari yang sempurna untuk memulai petualangan yang lebih menantang lagi esok lusa. Petualangan menuju Gunung Semeru.


Seorang kakek tua berselendang sarung datang mendekati saya sambil menuntun seekor kuda. Ia menawarkan jasa kuda tunggangan. 10 ribu rupiah saja untuk berfoto di atas kuda dan 60 ribu rupiah untuk keliling berputar-putar menaiki bukit di sekitar savana.

Hampir setengah jam kami beristirahat dan menikmati Blok Savana. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Desa Ranupani yang hanya berjarak beberapa kilometer saja dari Blok Savana Bromo. Namun uniknya walau terhubung dengan jalan yang relatif bagus kedua tempat ini sudah berlainan kabupaten. Bromo dan sekitarnya menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Probolinggo sedangkan Ranu Pani dan Gunung Semeru masuk ke dalam wilayah kabupaten Lumajang. Sementara kami memasuki kedua gunung ini dari Kabupaten Malang.
 

Untuk mengetahui perjalanan sebelumnya Sila dibaca:



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...