Sabtu, 26 November 2016

Snorkeling Seru di Perairan Pulau Abang

Ikan Badut (Nemo). Foto: Galang Bahari 
Beberapa waktu yang lalu saya dan teman-teman dari Blogger Kepri (BK) berkesempatan mengunjungi perairan Pulau Abang untuk snorkeling. Anggap saja ini famtrip kami kesekian setelah hampir selama setahun ini berhaha-hihi dalam beberapa event besar lainnya. Alhamdulillah sesuatu banget.

Jumat, 18 November 2016

Tips Memilih Jilbab Sesuai dengan Bentuk Wajah


Kerudung atau jilbab merupakan penutup kepala yang wajib digunakan oleh kaum wanita yang beragama Islam. Saat ini, sudah cukup banyak wanita yang telah memutuskan untuk menjalankan kewajibannya untuk berhijab. Tahukah kamu kalau tidak semua model jilbab cocok untuk kamu kenakan? Jika kamu sampai salah memilih model dan motif jilbab, wajahmu dapat terlihat lebih gemuk ataupun tirus. Kamu bisa memilih berbagai model hijab yang sesuai dengan bentuk wajahmu di online shop terlengkap MatahariMall. Namun, sebelum itu, kamu harus menyimak beberapa tips untuk memilih jilbab yang sesuai dengan bentuk wajahmu.

Rabu, 16 November 2016

In Case You Didn't Know Melaka


Telah belasan tahun saya menginjakkan kaki dan menetap di Bumi Melayu ini. Semakin hari semakin melebur dan mencintai segala hal yang berhubungan dengan Melayu. Mulai dari sejarah, bentang wilayah, makanan daerah, serta adat dan kebudayaan Melayu. Mungkin inilah namanya dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Saya pun mulai menekuri kisah-kisah kerajaan di Nusantara Melayu seperti hikayat kerajaan Riau Lingga, Raja Ali Haji, Hang Tuah, Putri Gunung Ledang, hingga Raja Melaka. Lalu diam-diam berharap dalam hati, semoga dapat menelusuri kisah-kisah tersebut melalui sepenggal perjalanan dalam langkah-langkah kecil kaki ini.

Riau dan Lingga sebagai Sang Bunda Tanah Melayu pernah dijelajahi. Pulau Penyengat tempat Raja Ali bernaung dan menorehkan karya-karya kesusasteraan Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia pun telah disinggahi. Gunung Ledang yang konon tempat Sang Putri bersemayam pun telah saya daki. Lalu Melaka? Duhai, kapankah saya bisa menjejaki negeri penuh histori ini?

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Keinginan berkunjung ke Melaka (Malaka) – yang merupakan salah satu negara bagian di Semenanjung Malaysia - terlaksana sudah. Kementrian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia atau Ministry of Tourism and Culture yang kerap disingkap MOTAC, melalui Gaya Travel Magazine, sebagai perpanjangtanganan pemerintah Malaysia, mengadakan famtrip ke Melaka dengan mengundang media, blogger, fotografer, dan influencer (selebgram dan artis) dari beberapa negara dengan bertajuk “In Case You Didn’t Know Melaka” disingkat #ICYDKMelaka.  Alhamdulillah saya dan ketiga teman blogger lainnya dari Indonesia, Chahaya, Fadli, dan Yudi Randa dapat turut serta bergembira ria diantara keseruan mereka. Padahal siapalah kami ini yekan? Blogger famous bukan apatah lagi disejajarkan dengan para pelaku media dan selebgram. Wohoo tenggelam!

In Case You Didn’t Know Melaka (#ICYDKMelaka)


Hari pertama di Melaka kami menginap di The Settlement Hotel sesuai arahan panitia acara. Pada hari itu tidak semua peserta sudah berada di Settlement Hotel karena rombongan utama trip baru akan berangkat keesokan harinya dari Kuala Lumpur. Sedangkan 3 orang anggota lainnya, Saya, Chahaya, dan Fadli berangkat dari Batam dan Tanjung Balai Karimun. Kami bertiga sengaja langsung menuju Melaka agar hemat waktu karena arah perjalanan melalui Johor (semenanjung bagian selatan) yang notabene lebih dekat dengan Melaka. Dengan mengendarai bis, waktu  tempuh Johor - Melaka hanya 3 jam sedangkan Johor – Kuala Lumpur 5 jam. 

Rute yang saya tempuh adalah sebagai berikut:

Batam (Pelabuhan Batam Centre)  – Johor (Stulang Laut) naik Ferry, ongkos Rp. 295.000 Pulang Pergi.
Tax Pelabuhan  (Batam Centre) Rp. 65.000
Johor (Stulang Laut) – Larkin (Terminal Bis Larkin) naik taksi RM 15,- ( Rp. 47.550)
Larkin – Melaka Sentral naik bis, RM 18,- (Rp. 57.000)
Melaka Sentral – The Settlement Hotel naik Grab Car, RM 4.5 (Rp. 14.265).

Keesokan paginya jam 10.30 kami dijemput oleh Shamsul Bahrine Z. (Sham) dari Gaya Travel dan Nurul Shafee dari Kementrian Pelancongan. Sekitar 10 menit berkendara kami tiba di sebuah kampung yang diberi nama Kampung Alai. Kampung ini merupakan sebuah perkampungan tradisional dimana rumah-rumah penduduknya masih berupa rumah panggung, rumah khas Melayu yang mempunyai tiang dan dinding terbuat dari kayu. Rumah-rumah Melayu yang dibangun selaras dengan alam sekitar. Dibangun agak tinggi dari permukaan tanah dengan teras atau anjung terbuka. Teras terbuka ini semakna dengan filosofi hidup orang Melayu yang selalu terbuka menerima siapa pun yang datang.

Antara Kesenian Dondang Sayang, Buah Melaka, dan Inang-Inang


Irama musik Melayu dari sebuah teras rumah menarik perhatian saya untuk mendekat. Di sana tampak 6 orang laki-laki paruh baya sedang bermain alat musik yang terdengar khas dan indah di telinga. Sepasang penyanyi yang juga sebaya, berdiri menghadap ke arah para pemusik. Tertarik lebih jauh lagi, saya pun menaiki teras dan merekam aktifitas mereka untuk membuat video. Sambil merekam, saya menyimak baik-baik alunan musik yang terdengar ritmis. Paduan suara akordeon, biola, rebana, gong, dan tamborin serasa membawa saya terbang ke zaman kerajaan-kerajaan Melayu dahulu kala. Setelah bertanya apa nama jenis kesenian ini, seorang Pakcik menjawab bahwa mereka sedang memainkan kesenian Dondang Sayang.    

Dondang Sayang secara harfiah bermakna balada cinta. Kesenian yang merupakan asli Melaka ini sedikit dipengaruhi oleh kebudayaan Portugis. Pada umumnya alat musik yang dimainkan dalam kesenian Dondang Sayang terdiri dari akordeon, biola, rebana, dan gong. Namun ada juga yang menambahkannya dengan tamborin dan seruling. Penyanyi Dondang Sayang biasanya sepasang dan syair yang dinyanyikan saling bersahutan dan berbalas-balasan antara penyanyi laki-laki dan penyanyi perempuan. Bait-bait lirik yang diperdengarkan berupa pantun bertemakan cinta dan dinyanyikan dengan gaya lucu dan jenaka.

Peserta famtrip sedang menonton dondang sayang

Contoh beberapa bait lirik yang dinyanyikan pada Dondang Sayang:


(Penyanyi laki-laki)
Tanam melur tanam selasih
Tanam mari tepi perigi
Tanam melur tanam selasih
Puas sudah kutabur kasih
Alah dondang sayang, kenapa adik tak ambil peduli


(Penyanyi Perempuan)
Takut bertemu balik selisih
Dapat kutahu walau sekilas
Bukan adik tau mahu berkasih
Takutlah kasih, takutlah kasiiiih tidak berbalas


(Penyanyi Laki-laki)
Limau purut lebat di pangkal
Sayang selasih condong uratnya
Hujan ribut dapat ditangkal
Alah dondang sayang, hati yang kasih apa obatnya, apa obatnya


(Penyanyi perempuan)
Kalau kayu panjang sejengkal
Laut yang dalam jangan kauduga
Kalau kayu panjang sejengkal
Hujan ribut dapat kautangkal alah abang sorang
Hati yang kasih oraaaang, jumpa orangnya.

Waktu telah menunjukkan pukul 11.57 manakala bis rombongan dari Kuala Lumpur yang dikawal oleh polisi Negeri Melaka datang ke lokasi acara di Kampung Alai. Rombongan bis ini membawa peserta trip dari berbagai kalangan. Mereka adalah blogger, media, selebgram, foto model, dan artis yang berasal dari Malaysia, Indonesia, Jerman, Perancis, dan Belanda. 

Polisi yang mengawal perjalanan 


Kampung Alai, Melaka

Semua peserta disambut kembali oleh merdunya alunan musik Dondang Sayang. Tak lama kemudian acara dibuka dengan sambutan oleh guide  Amirthalingam yang mengucapkan selamat datang di Kampung Alai. Ia menerangkan bahwa para pelancong yang ingin merasakan atmosfir pedesaan dan lingkungan asli Negeri Melaka patut menginap di homestay-homestay yang dikelola oleh penduduk lokal seperti di Kampung Alai ini.

Pada kesempatan itu para tamu diperkenalkan dengan penganan khas yang disebut kuih Melaka. Terbuat dari adonan tepung ketan yang diberi pewarna dan dibentuk bulat-bulat. Bulatan tersebut lalu diisi dengan gula merah, setelah itu dimasukan ke dalam rebusan air yang mendidih. Kalau di Indonesia lebih mirip onde-onde. Tak lupa, setelah kue matang, kami pun mencobanya. Rasanya? Tentu saja manis dan kenyal. Sedapnyeee.

Kueh Melaka

Selain berkunjung ke homestay Alai, kami pun berkunjung ke rumah salah seorang warga, Zahara Daud, yang mempunyai usaha rumahan berupa pembuatan kerupuk inang-inang. Kerupuk ini terbuat dari beras ketan yang dikukus dan diberi pewarna. Setelah matang, lalu dicetak membentuk bulat pipih dan dijemur di bawah terik matahari. Cara pembuatannya seperti rengginang di kampung saya di Garut, Jawa Barat. Bedanya kalau di Garut perasa dan bumbunya menggunakan terasi (belacan) dengan garam saja dan warnanya hanya putih atau agak kemerahan. 

Sedangkan inang-inang warnanya merah, kuning, dan hijau. Selain berbahan dasar ketan (pulut) ada juga yang berbahan dasar sagu. Cara masak dan pengolahannya pun tidak jauh berbeda dengan inang-inang yang terbuat dari ketan. Usaha rumahan tersebut telah ditekuni Zahara Daud selama 21 tahun dan telah dijual ke berbagai negeri lainnya di luar Melaka.

Inang-inang

Selepas dari Kampung Alai rombongan langsung menuju The Settlement Hotel untuk beristirahat sejenak hingga jam 5 sore, sebelum melakukan perjalanan menyusuri Sungai Melaka menggunakan River Cruise. Tunggu cerita kali selanjutnya yaaa.






Selasa, 08 November 2016

Meriahnya Perayaan Festival Bahari Kepri 2016 di Tanjungpinang

Festival Bahari Kepri
Salah satu peserta perahu hias di Festival Bahari Kepri

Perayaan Festival Bahari Kepri dalam rangka Sail Karimata 2016 berlangsung selama 10 hari pada tanggal 20 hingga 30 Oktober 2016 yang lalu, sukses menyedot perhatian warga Kepri terutama Kota Tanjungpinang dan sekitarnya untuk turut serta berpartisipasi baik sebagai pengisi acara maupun sebagai penonton.

Rabu, 26 Oktober 2016

Berakit-Rakit ke Pulau Bukit

Pulau Bukit, Batam
Pulau Bukit berjarak sekitar 15 menit berkendara dengan menggunakan pompong (perahu motor) dari Pulau Batam. Tepatnya mulai menyebrang dari Jembatan II Barelang. Dari kejauhan Pulau  Bukit tampak seperti bukit yang mencuat dari permukaan laut. Mungkin sebab itu penduduk lokal menyebutnya dengan nama Pulau Bukit.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...