Minggu, 28 Desember 2014

Island Hopping ke Pulau Panjang



Jembatan Satu Barelang 

Sewaktu ribut demo buruh tentang kenaikan UMK kemarin-kemarin, kebetulan (eh kok kebetulan sih, kesannya mengharap banget gitu :D) iya kebetulan, tempat kerja saya di sweeping para pendemo. Karyawan disuruh pulang semua. Nah daripada pulang ke rumah bengong cuma nonton TV mendingan jalan-jalan ke pulau sendirian.

Untung saja dari rumah udah disiapin pakaian buat pergi. Hehe. Kabar sweeping kan udah merebak sejak seminggu sebelumnya, tapi tetep saja si bos keukeuh nyuruh semua orang masuk kerja sementara perusahaan lain di Kawasan Bintang Industri Batam tutup semua. Jadi ini malah memancing pendemo marah. Kenapa juga masih pada kerja. Naaah, karena sudah tahu akan di sweeping  saya udah siapin baju ganti untuk langsung cabut ke pulau.

Jembatan Dua Barelang
Saat sweeping terjadi saya mah nyantai ganti baju. Orang-orang kocar-kacir berlarian keluar kita sih selow aja. Begitu ganti baju teman-teman  terkejut melihat penampilan saya yang mendadak anggun. Dengan rok menjuntai dan kerudung lebar. Si bos Jepang pun mendelik bengong, kaget sambil berkata "Lina San kah? I can not recognize you."  Hehe Bos, tidak apa-apa bukan dikau saja yang kaget.

Sebenarnya sebel juga sweeping hari itu terlalu pagi, coba agak siangan dikit gitu biar gak di-replace. Nah ini sweeping-nya jam 9 pagi, jadilah manajemen memutuskan hari itu akan di-replace ke hari sabtu di minggu berikutnya. Hadeuuh....ngabis-ngabisin resourch ini mah. Pemborosan banget. Coba bayangkan hanya demi satu jam kerja itu saja berapa liter air dihabiskan untuk mandi. Berapa liter bensin yang dikeluarkan karyawan untuk berangkat kerja,  dan yang pasti rugi sehari karena harus di-replace. Minggu sebelumnya juga demo tapi gak ada replace. Ah sudahlah gondok emang gak ada habisnya. Marilah saatnya bersenang-senang sendirian.

Pulau Bali Barelang yang Terlewati
Dari tempat kerja saya dihantar mobil jemputan hingga Simpang Tembesi. Jam 10 lewat 38 menit saya mencegat Damri yang cuma satu-satunya melalui rute Barelang. Tidak sampai sepuluh menit kemudian minta diturunkan di Jembatan Dua Barelang. Padahal saya nunggu Damrinya saja hampir satu jam. Dari ujung jembatan lalu turun ke sebelah kanan jalan menuju pelabuhan tadisional. Di sana beberapa perahu nelayan yang biasa kami sebut pompong atau pancung berjejer rapi menunggu penumpang.

Pulau Panjang
Setelah adu tawar dengan seorang tekong, saya segera menaiki pompong. Begitu mesin dinyalakan, dan pompong mulai beranjak menjauh dari dermaga, rasa rindu pada laut mulai memekat pada kata cinta. Bau amis laut yang menguar di udara, gundukan-gundukan pulau yang muncul di tengah-tengah lautan, warna biru laut dan langit yang berpadu di batas cakrawala, serta buih ombak yang terhempas oleh laju pompong, mulai menambah kadar rindu itu menjadi getar-getar halus yang mampu mengantarkan hati berbicara "Betapa kini aku jatuh cinta pada laut."

Laju pompong yang tenang memutar kembali memori bertahun-tahun dahulu. Saat berempat bersama Erni, Melan, dan Ipung. Ketiga teman jalan yang kerap menyertai perjalanan Island Hopping ini. Kini, saya sendiri (abaikan tekong yang berada di buritan :D) menelusuri perairan yang biasa kami lalui. Melow sendiri. Sedih sendiri. Hikss… I miss you Ladies.

Kambing pun Ikut Sekolah
Tak sampai 15 menit pompong sudah menepi. Deru angin menyambut kedatangan saya. Rumah-rumah di tepi pulau dengan nyiur melambai di belakangnya tampak mewarnai pemandangan pertama Pulau Panjang, pulau yang saya tuju. Sebuah pelantar kayu dengan lebar lima papan menghubungkan dermaga dengan pulau. Saat membalikkan badan, pemandangan Jembatan Satu Barelang terlihat anggun di balik Pulau Tonton di sebrang sana.

Saya ingat 15 tahun lalu teman-teman dari komunitas Pecinta Alam Cumfire, Muka Kuning Batam pernah kemping dan bakti sosial di pulau ini. Namun saya tidak ikut karena belum punya cuti. Padahal acaranya seru banget. Jadi, kunjungan ke pulau ini seperti aksi balas demdam atau aksi bayar hutang yang terkatung-katung selama 15 tahun terakhir :D

Pak Daud, Sang tekong  pompong bersedia menunggui saya kembali. Namun karena ia pun tak punya kegiatan lain selain menunggu maka ia segera menyusul dan menemani saya menyusuri jalan di Pulau Panjang. Jangan tanya seperti apa jalannya, hanya kecil layaknya gang-gang sempit di perkotaan. Dan tidak ada satu pun kendaraan yang lewat karena memang tidak ada.

Jalanan pulau yang disemen selebar dua meter yang saya lalui tampak masih baru. Ini terlihat dari papan proyek yang masih berdiri tegak di muka jalan. Beberapa ekor kambing berkeliaran di jalanan. Tampak hidup liar seperti halnya kucing atau anjing di Pulau Batam. Padahal semua kambing-kambing itu ada tuannya namun karena pulaunya kecil dan tidak memungkinkan kawanan kambing melarikan diri, jadi mereka pun dilepas dan berkeliaran begitu saja. Lucunya lagi kambing pun bebas berkeliaran di  halaman sekolah. Mereka memenuhi teras sekolah SMP Negeri 14 Batam yang sudah lengang ditinggalkan siswanya.

Rengkam yang sedang dijemur
Di beberapa halaman rumah penduduk tergelar tumpukan rengkam, sejenis rumput laut yang berdaun panjang dan berwarna  hijau yang sedang dikeringkan. Kata Pak Daud rengkam ini akan dijadikan pupuk dan dijual per kilogramnya seharga 1.300 rupiah. Dijualnya ke luar negeri dan ada penampungnya sendiri.

Pulau Panjang terbagi menjadi dua bagian yaitu Pulau Panjang bagian barat dan timur. Saat laut pasang keduanya terpisah oleh air laut. Sedangkan saat laut surut kedua bagian pulau ini menyatu dan dapat dilalui dengan berjalan kaki melalui pasir dan lumpur. Namun saat itu laut sedang pasang dan kami pun berjalan menyusuri pelantar yang menghubungkan kedua bagian pulau.

Para ibu yang sedang duduk-duduk di teras rumah menyambut saya dengan senyuman. Dengan ramah mereka bertanya apa maksud kedatangan saya ke sana. Saya jawab hanya jalan-jalan biasa saja. Hanya rasa penasaran ingin tahu seperti apa Pulau Panjang yang 15 tahun lalu pernah dikunjungi oleh teman-teman saya.

Rumah dengan Panel Surya
Rumah-rumah di Pulau Panjang kini sudah memiliki panel surya sendiri. Listrik kini bukan lagi masalah bagi penduduk. Kabarnya pemerintah yang punya peranan dalam hal ini. Kini hanya tinggal satu permasalah besar lagi yang dikeluhkan penduduk pulau. Air bersih. Kemarau lalu saya sempat membaca di Batam Pos kalau warga Pulau  Panjang sempat kekurangan air.

Obrolan dengan Pak Daud menerangkan bahwa telah ada survey-survey yang akan membuat proyek pengaliran air bersih dari Batam ke Pulau Panjang. Semoga saja akan segera terlaksana. Mungkin konsepnya seperti ke Pulau Buluh dimana air dari Pulau Batam dialirkan melalui pipa-pipa bawah laut dan ditampung di sebuah reservoir lalu dialirkan ke rumah-rumah penduduk.

Di sudut-sudut pulau tampak anak-anak sedang asyik bermain. Dunia mereka tetap indah dan seru. Dua orang anak laki-laki tertawa malu-malu saat saya  membidikkan kamera ke arah mereka yang bermain sepeda sambil berbasah-basahan air laut.

Di dekat pelantar yang menghubungkan Pulau Panjang bagian barat dan timur saya berjumpa dan mengobrol banyak dengan Pak Ahmad. Pemilik dapur arang. Ada satu tungku arang yang kini sedang ditungguinya. Kalau arang tidak ditungguinya maka bisa hancur karena terlalu matang dan  ia akan gagal panen. Dalam 20 hari ia bisa menghasilkan berton-ton arang hanya dari satu dapur arang ini saja. Keuntungannya juga lumayan. 1 ton ia bisa jual seharga 3 juta rupiah untuk kualitas arang yang paling bagus.
Pemandangan ke luar pulau

Tak terasa adzan zuhur sudah berkumandang. 1 jam lebih saya berkeliling Pulau Panjang. Waktunya pulang sebelum hujan kembali mengguyur wilayah Batam dan sekitarnya.

Angin pun masih berhembus walau tak sekencang saat saya tiba tadi. Udara bersih dan langit semakin membiru. Jembatan dua barelang sudah tampak di depan mata.Laut tampak tenang walau sedikit bergelombang. Anak-anak kecil berlarian di dermaga, mereka melompat dan menceburkan diri ke air laut. Lagi-lagi dunia bermain sungguh indah bagi mereka.

Setelah sholat dzuhur di mesjid dekat jembatan dua, saya menunggu tumpangan apa saja yang lewat sambil membaca buku. Kurang lebih setengah jam kemudian sebuah taksi berhenti dan menawari. Karena asyik membaca buku, tanpa bertanya ini itu saya langsung masuk. Baru sadar setelah beberapa menit taksi berjalan. Ya ampuuun… saya lupa menanyakan berapa ongkosnya. Duh alamat kena tembak nih. Dan betul saja saat turun di Simpang Tembesi saya diminta ongkos 15 ribu rupiah.  Padahal naik damri saja hanya membayar 5 ribu rupiah.Oya taksi di Batam memang seperti angkutan umum lainnya bisa nego harga saat kita akan menaikinya.

Waktunya Pulang

Berikut rincian biaya ke Pulau Panjang:

Simpang Tembesi - Jembatan dua Barelang, naik damri : Rp. 5.000
Jembatan Dua - Pulau Panjang, naik pompong PP : Rp. 60.000
Jembatan Dua - Simpang Tembesi, naik taksi : Rp 15.000
Simpang Tembesi - Pasar Sagulung, naik Angkutan umum minibus (Bimbar)  : Rp. 4000
Pasar Sagulung - Rumah,  naik ojek: Rp. 6.000
Total biaya keseluruhan Rp. 90.000

19 komentar:

  1. Temen Fenny juga ada yang kerja di Muka Kuning, Batam mbak

    BalasHapus
  2. waah... perjalanan yg penuh makna. Cuacanya cerah banget ya... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Santi Dewi iya cuaca mendukung padahal sedang musim penghujan

      Hapus
  3. blog traveling emang keren plus ditunjang foto keren.Congrat ya mak Lina atas rumah barunya. Semangat utk ngeblog :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mak Christanty :) makin semangat ini.

      Hapus
  4. oya mak, kelupaan aku udah lama follow twitter-nya ;) mungkin dirimu too busy ya..it's okay :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah udah follow lama ya. Hiksss. Maafkan jika blm folback. Daku jarang buka twitter mak soalnya loadingnya lama bingiiit. Entah kenapa.

      Hapus
  5. Iiiih.. ga ajak-ajak nih si teteh... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hari itu libur juga ya Dee? Lupa :D Padahal hari itu galau juga mau jalan sendiri itu.

      Hapus
  6. enak banget ya dapat libur tiba-tiba bisa jalan2 juga, wah penduduknay sudah ada yg pakai panel surya juga ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Alhamdulillah mbak dapet libur mendadak :D

      Hapus
  7. Mbak itu pelabuhannya sebelah mana?
    Pompongnya bisa muat berapa orang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebelah kanan jembatan 2. Pompong bs muat 12 orang

      Hapus
  8. Baru nyicip jalan sampai ke bangka..smoga tahun ini bisa nyicipin juga jalan ke Belitong dan Batam hehe
    keren mba postingnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah saya malah belum ke Bangka :D Makasih atas kunjungannya.

      Hapus
  9. Menyimak artikel teh Lina jadi kangen sama Tanjung Uncang Batam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi...balik lagi sini. Apa kabar keluarga?

      Hapus
    2. Alhamdullilah baik Teh, ditunngu ya kunjungannya

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...