Dampak Perubahan Iklim Kepada Masyarakat Kota Batam


Saya menatap nanar pada cucian baju yang menggunung. Bagi kaum pekerja yang juga sekaligus ibu rumah tangga seperti saya, akhir pekan merupakan waktu yang tepat untuk jadwal mencuci pakaian yang selama satu pekan kami sekeluarga gunakan. Nahasnya ketika akhir pekan tiba, air mati pula. Kalau baju sehari-hari masih ada sisa di lemari, namun seragam kerja saya dan suami, seragam sekolah anak selama seminggu sama sekali tidak ada gantinya.
 
Karena keesokan harinya sudah Senin lagi sementara air belum juga menngalir hingga malam tiba, maka dengan berat hati kami mengakali dengan menyetrika baju yang akan digunakan esok hari plus semprotan pelicin dan pewangi. Sisanya dilarikan segera ke laundry.

Mati air bagi ibu rumah tangga seperti saya tentu mati gaya dan malah nambah biaya. Mau masak tidak bisa. Mau mencuci baju atau mencuci piring sama juga tidak bisa. Akhirnya memesan makanan secara online. Akhirnya membeli air galon untuk keperluan mandi dan mencuci piring. Ini artinya biaya yang diperlukan justru malah membengkak. Dan ini tentu merupakan dampak langsung perubahan iklim yang saya sendiri rasakan.

Sebenarnya mati air sangat jarang terjadi di kota kami. Supply air dari waduk-waduk yang ada di Kota Batam pada awalnya sudah sangat mencukupi. Namun, tahun demi tahun berganti dimana ada masa hujan tak kunjung datang selama berbulan-bulan menjadikan debit air di waduk-waduk terutama waduk Duriangkang yang memasok 75% kebutuhan air di Batam berkurang drastis. Pada tahun 2019 permukaan air waduk turun hingga 2,73 meter di bawah spillway. Kondisi yang lebih buruk dibanding tahun 2015 dimana El Nino melanda yakni permukaan air turun 2,5 meter di bawah spillway.

Anak-anak Waduk Duriangkang
Anak-anak yang tinggal di rumah liar sekitar Waduk Duriangkang sedang bermain di tengah waduk


Uniknya Cuaca di Batam

Untuk cuaca Batam dan wilayah di Provinsi Kepri lainnya seperti Tanjungpinang, Bintan, Lingga, Natuna, Karimun dan Anambas yang tidak mengenal musim hujan maupun kemarau seperti di sebagian besar wilayah Indonesia lainnya, fenomena tidak turunnya hujan sebulan atau dua bulan saja sudah membuat heran dan kaget masyarakat provinsi ini. Sebagai wilayah kepulauan yang memiliki cuaca khas sendiri, di sini, hujan dan panas datang silih berganti tanpa mengenal hitungan bulan. Kadang sehari panas, beberapa jam hujan. Dua hari panas, satu hari hujan. Semingu panas, 2 atau 3 hari kemudian hujan. Sepanjang tahun seperti itu sehingga tidak mengenal apa itu musim kemarau atau musim penghujan.

Yang lebih unik dari cuaca di Kota Batam adalah sangat localize. Beda kecamatan saja sudah cuaca. da yang panas seharian ada yang juga hujan berjam-jam. Kadang hujannya beda perumahan atau RT dan RW. Bahkan di lingkup kecil sekali pun saya memiliki pengalaman yang bikin ngakak. Satu waktu  saya sedang menjemur pakaian di belakang rumah dan tiba-tiba hujan deras. Jemuran pun langsung saya angkat. Namun saat melihat ke halaman rumah kok terang benderang. Tidak ada hujan sama sekali. Ya ampuun, Bahkan di satu atap rumah saya saja cuaca sudah berbeda. 

Kita kembali ke laptop! Kepada masalah penurunan debit air di waduk-waduk Batam yang sangat mengkhawatirkan. Ternyata dari tahun ke tahun terutama sejak 2015 hingga sekarang penurunan permukaan air semakin mengancam ketersediaan air bagi warga Kota Batam. hal ini disebabkan ada masa dimana hujan tidak turun selama satu dua bulan bahkan lebih. Hal yang dahulunya tidak pernah terjadi. Suatu implikasi dari perubahan iklim.

Sebagimana diketahui bahwa selama kurun waktu 25 tahun dari 1996  hingga 2021 untuk kebutuhan air baku di Batam dikelola oleh sebuah perusahaan swasta yang bernama PT. Adya Tirta Batam atau disingkat ATB. Selama beroperasi perusahaan ini dinilai sangat berprestasi dan kerap mendapatkan penghargaan secara nasional. Namun ketika waduk-waduk yang dikelola ATB mulai kekurangan pasokan air baku, ATB tentu tidak sendirian harus melakukan perbaikan. Peran pemerintah dan masyarakat untuk menjaga ketersediaan air dari kawasan-kawasan resapan air seperti hutan di sekitar waduk sangatlah penting. Pembukaan lahan perumahan oleh para pengembang, pembukaan lahan pertanian di kawasan hutan yang dilakukan oleh masyarakat pendatang, pembangunan rumah-rumah liar di kawasan hutan sekitar waduk, merupakan faktor yang sangat berpengaruh selain tidak turunnya hujan.

Langkah Kecil dari Keluarga Kecil

Kenapa sih Bund kok air ATBnya mati terus? Tanya Chila anak pertama kami. Saya lantas menerangkan pelan-pelan kepadanya. Bahwa ini merupakan pemadaman air secara bergilir karena ketidakcukupan air untuk semua warga Batam. Air waduk tidak cukup karena hujan tidak turun kalau pun turun sangat rendah dan sebentar saja. Kenapa air hujan turun sebentar dan jarang? Karena perubahan iklim di dunia. 

Untuk itu ada beberapa hal yang saya tanamkan kepada Chila agar ia memahami bahwa dengan berbuat sesuatu yang kecil sangat berperan untuk menjaga air tetap mengalir ke rumah-rumah warga Batam. Solusi untuk diri sendiri yang mungkin saja berguna bagi warga Batam lainnya. Beberapa diantaranya adalah:
1. Senantiasa menghemat penggunaan air. 
2. Gunakan air seperlunya. 
3. Tutup rapat kran air sehabis dipergunakan. 
4. Menanam bunga, pohon, dan tanaman lainnya agar air dapat meresap dengan mudah ke tanah. #UntukmuBumiku.
5. Berperan serta dalam menjaga hutan di sekitar Batam agar tetap lestari salah satunya mengajak anak saya untuk ikut kegiatan penanaman hutan kembali pada peringatan hari pohon atau hari hutan sedunia. #TeamUpforImpact.


Referensi:

1. https://www.kompas.id/baca/utama/2019/12/05/dampak-perubahan-iklim-batam-di-ambang-kekeringan
2. https://www.kompas.id/baca/utama/2019/10/18/batam-yang-abai-menjaga-sumber-air-bersih/
3. https://greeneration.org/media/green-info/bumi-memanas-15-derajat-celcius-apa-akibatnya/?gclid=CjwKCAjwi6WSBhA-EiwA6Niok5pXOOBM9AlRvcJAwTPSVyMargk4QkhBl78jaW0hvOGdjeYLjAAShBoCqlcQAvD_BwE


2 comments :

  1. Dampaknya memang yang kerasa dan sering kita eluhkan tanpa sadar kita sendiri penyebabnya. Apalagi di Malang pagi siang panas banget, eh sorenya mulai hujan dan dingin. Perubahan cuaca ini tentunya sangat berdampak ke sistem imunitas belum lagi kerusakan lingkungan, harus menjaga lingkungan dan menghilangkan kebiasaan buruk, nih.

    ReplyDelete
  2. #UntukmuBumiku untuk masa depan yang lebih baik :D

    ReplyDelete

Halaman ini dimoderasi untuk mengurangi spam yang masuk. Terima kasih sudah meninggalkan komen di sini.

Made with by Lina W. Sasmita