Sunyi dan sepi. Hanya ketukan keyboard komputer yang sesekali berbunyi memecah kesunyian ruangan Factory 1 yang luas ini. Lampu-lampu atap telah dipadamkan demi menghemat pengeluaran. Hanya 2 baris lampu saja yang menyala temaram menyinari 11 unit komputer di ujung ruangan. Tempat di mana saya mengetikkan baris demi baris postingan ini dengan penuh kesedihan. Anggap saja tulisan ini sebagai pengantar perpisahan. Sebelum ingatan akan hari-hari terakhir ini terlupakan.
Dari hampir 1000 orang yang pernah menetap bekerja di Factory 1 dan Factory 2, kini hanya tersisa 200an orang saja dan akan gugur perlahan seiring waktu berjalan, habis kontrak karyawan pada setiap bulan menjelang.
Yang masih bertahan adalah mereka yang permanen yang mungkin sebentar lagi juga akan berguguran seiring kabar bahwa perusahaan tidak dapat lagi melanjutkan operasionalnya. Selama ini, kami hanya mendengar selentingan dan belum terlalu menganggap serius kabar tersebut karena produksi masih bisa berjalan seperti biasa meskipun pasokan bahan baku dari Sister Company di Malaysia kerap terhenti.
Sudah lebih dari sebulan lampu-lampu di Factory 2 tidak dinyalakan. Sesekali kami mengunjunginya melalui koridor panjang dimana bisa mengamati kondisi "Clean Room" di dalam dari dinding-dinding kaca kedap suara. Koridor yang menjadi urat nadi perusahaan. Tempat keluar masuk orang dan barang. Tempat Para Bos kami mengawasi dan mengamati gerak-gerik pekerja, persis seperti mengamati ikan dalam aquarium. Kali ini aquarium berisi orang-orang berpakaian mirip astronot dengan masker yang menutup muka rapat-rapat.
Bercerita tentang "Clean Room", tempat kerja kami di Factory 2, apa kabar dengan debu dan partikel yang bahkan tiap helainya kami hitung? Sebulan tidak ada aktivitas bersih-bersih mungkin saja partikelnya sudah di luar ambang batas counter alat penghitungnya. Debu berukuran di bawah 1 milimeter yang bahkan jika menempel di produk bisa membuat produk kami yang sudah terkirim sejumlah ratusan ribu pcs dikembalikan customer dari Thailand, Filipina, Hongkong, atau China.
Mesin-mesin di area Clean Room tampak muram. Begitu juga meja-meja kerja, mikroskop, magnifying lamp, rollaminator, dan dua mesin trimming berbentuk kotak seharga 1 milyar yang belum genap setahun lalu dibeli guna memaksimalkan output produksi. Semuanya tampak tak berkehidupan. Mesin-mesin yang ketika dijalankan suaranya setara dengan 60 desibel yang bahkan jika kami menggunakannya harus mengenakan earplug untuk menjaga pendengaran tetap normal dan tidak menyebabkan efek negatif di kemudian hari. Kini mereka tampak senyap tak bersuara.
Namun kesunyian itu tiba-tiba terpecahkan dengan datangnya beberapa orang yang mengangkat 3 unit mesin reflow yang masing-masing beratnya lebih dari 2 ton dan 2 unit mesin stamping yang berat masing-masing 20 dan 25 ton. Mesin-mesin yang selama ini telah menjadi ladang para karyawan perusahaan untuk memanen rupiah demi menghidupi keluarganya.
Kemarin-kemarin saya tidak begitu peduli. Hidup akan terus berjalan dan takdir setiap orang akan dijalani oleh masing-masing. Rejeki sudah diatur oleh Yang Di Atas. Jika tidak dari perusahaan ini maka Allah SWT akan mencukupi saya dan teman-teman dari tempat lain. Jadi semua tampak biasa saja. Perasaan saya seperti hari-hari sebelumnya. Sampai ketika mesin reflow itu diangkat dan saya memfotonya sebagai kenang-kenangan, perlahan air mata mulai menetes tak terbendung lagi. Mesin-mesin yang saya gunakan sejak masih gadis hingga kini punya anak gadis. Puluhan tahun yang penuh dengan berbagai cerita di dalamnya. Ya akhirnya saya sedih. Saya menangis. Menangisi perpisahan itu. Bukan menangisi akan berhenti bekerja, karena sebenarnya diam-diam dalam hati saya ingin jeda. Ingin istirahat sejenak setelah puluhan tahun menjadi pekerja.
Rolling door mulai terbuka. Satu per satu mesin-mesin berukuran raksasa itu didorong keluar dengan menggunakan hand pallet, disambut forklift lalu dinaikkan ke truk-truk kontainer besar. Hingga keesokan harinya saat kami datang kembali ke tempat kerja, truk-truk itu sudah tidak ada lagi. Ruangan produksi tampak lengang, hanya meninggalkan juntaian kabel-kabel dari langit-langit.
Kabarnya hasil penjualan mesin-mesin ini adalah untuk pembayaran gaji karyawan bulan ini yang masih menunggak. Dan sepertinya penjualan mesin yang terakhir karena karyawan tidak ingin aset habis begitu saja sementara kejelasan status dan uang PHK belum ada kabar sama sekali. (Tanjung Uncang 14 April 2025)
***
Episode selanjutnya adalah diskusi-diskusi karyawan dengan pihak manajemen, mediasi dengan Dinas Tenaga Kerja Kota Batam, dan rapat dengar pendapat dengan DPRD semua dijalani namun belum juga mendapatkan hasil. Hingga perusahaan dinyatakan berhenti dan tanggung jawab diserahkan kepada Kurator.
Setahun lebih 4 bulan (sampai tulisan terakhir ini dibuat) sidang dan berbagai upaya telah dilakukan namun hak-hak karyawan belum juga terpenuhi. Kabarnya hutang perusahaan lebih besar dibanding aset yang tertinggal.
***
Doa yang Dikabulkan
Note: Foto-foto nanti di-upload jika sempat.
Posting Komentar
Halaman ini dimoderasi untuk mengurangi spam yang masuk. Terima kasih sudah meninggalkan komen di sini.