Rabu, 09 Oktober 2013

Khatib, Mengunjungi Sisi Lain Singapura

Tak disangka ketika  jalan-jalan ke Singapura saya mendapat bonus bertemu teman yang lebih dari 13 tahun kehilangan kontak. Teman satu rekrutan dari Garut dan Tasikmalaya pada perusahaan tempat saya bekerja sekarang.


Menuju Rumah Ronida
Endah dan Ronida. Mereka adalah dua orang teman yang saya maksud. Mereka telah lama bermukim di Singapura mengikuti jejak para suami yang orang asli sana. Endah tinggal di Toa Payoh sedangkan Ronida di Khatib. Karena waktu yang tidak memungkinkan untuk mengunjungi kedua lokasi tersebut maka saya dan Endah sepakat untuk bersama-sama bertemu di rumah Ronida.


Bertemu dengan mereka adalah hal yang paling membuat saya bersemangat pagi itu. Maka setelah sarapan, saya bersama suami dan Chila meninggalkan hostel dengan menaiki bis menuju Stasiun MRT City Hall. Dari stasiun ini kami menaiki MRT yang berada di jalur merah dengan kode jalur NS (North South). Jalur ini menghubungkan wilayah-wilayah Singapura dari utara ke selatan.

Di stasiun Toa Payoh kami turun untuk menunggu Endah.10 menit kemudian Endah muncul beserta anaknya, Lingling yang berwajah oriental. Saya cukup terkejut karena sedikit pun si Lingling ini tidak mirip emaknya. Gen Bapaknya sepertinya tumpah ruah sangat dominan menguasai 99,99 persen tubuhnya.Tak lama setelah pertemuan itu kami melanjutkan naik MRT menuju ke kawasan Khatib. Tidak perlu berganti jalur karena Khatib berada di jalur yang sama dengan Toa Payoh. 
Perumahan tempat tinggal Ronida

Tempat Ronida ternyata tak begitu jauh dari Stasiun Khatib. Hanya berjalan sekitar 10 menit kami sudah tiba di rumahnya. Eh jangan dikira rumah di Singapura seperti rata-rata bentuk rumah di Indonesia yang beratap genting dengan bangunan bertingkat satu atau dua.Tidak. Rumah tinggal di sini ternyata mirip apartemen atau memang sebenarnya apartemen. Kata Endah, hanya orang kaya yang luar biasa kaya saja yang mampu mempunyai rumah sendiri tanpa diembel-embeli bangunan lain. Ya maklumlah karena Singapura termasuk negara kecil jadi pembangunan perumahan, mal dan lainnya sangat menghemat lahan. Pembangunan banyak dilakukan dengan cara membangun ke atas bukan ke samping. Hehe jadi berasa iklan susu remaja "Tumbuh itu ke atas bukan ke samping :D"
Kami bertiga dan para krucil

Saat itu saya masih berasa seperti mimpi. Duh 13 tahun tidak bertemu membuat kerinduan itu seperti meledak seketika itu juga. Alhasil kami bertiga bak anak kecil. Ketawa-ketiwi, ngalor-ngidul membicarakan segala hal tentang masa lalu sampai-sampai suami dan anak-anak pun kami cuekin. Untung saja mereka mafhum. Suami saya hanya duduk sambil baca-baca sedangkan anak-anak sibuk bermain walau sekali-kali Sammy dan Sasa anak-anaknya Ronida mengadu tentang kenakalan Lingling yang teramat usil dan "very-very Naughty" katanya. Sedangkan suami Ronida idak ada di rumah karena bekerja di Dubai Uni Emirat Arab.

Bayangkan begitu banyak cerita yang tak pernah kami rumpikan selama 13 tahun ini. Ah bahagianya bertemu teman lama. Mengalahkan bahagianya bisa jalan-jalan kemana pun.

Siangnya kami mengajak anak-anak bermain di taman air di Seletar Reservoir yang tak jauh dari situ. Taman air yang khusus disediakan bagi anak-anak. Ada kolam-kolam air yang dangkal, air mancur yang bisa disetting besar kecilnya juga pancuran serta shower air yang mirip payung. Asyiknya lagi semua itu gratis. Anak bayi yang sudah bisa duduk usia 7-8 bulan saja sudah dapat menggunakan fasilitas ini. Tentunya dengan didampingi orang tuanya. Dan serunya lagi fasilitas publik semacam ini tersebar di seluruh kompleks perumahan dan pusat perbelanjaan di Singapura.

Chila dan Sasa



Salut sekali. Pembangunan di negara ini ternyata sangat pro kepada anak-anak. Ah gimana nggak pro, laah... bayi yang baru dilahirkan saja mendapat tunjangan langsung kurang lebih 2000 dollar Sing Woow. Dan melahirkan anak kedua serta ketiga tunjangannya lebih besar lagi dibandingkan anak pertama. Ini terbukti pada Ronida. Dia bilang anak ketiganya mendapat tunjangan lebih besar dibanding Sammy dan Sasa kakak-kakaknya.

Wah bayangkan kalau tunjangan itu berlaku di negara kita ya? :D Apa nggak berlomba-lomba kita ingin punya anak banyak.

Sorenya kami pamit, seandainya cukup waktu tentu saja ingin berlama-lama di sana. Namun masih banyak tempat lainnya yang ingin kami kunjungi termasuk Pulau Sentosa.

11 komentar:

  1. Asyiknyaaa... Sabar ya orang indonesia. Semoga one day seperti itu. Kan lebih kaya sumberdaya alsmnya. Insyaallah. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mama Keen. mudah2an negara kita juga lebih memperhatikan anak-anak ya.

      Hapus
  2. Iya, Singapura itu krisis SDM, banyak wanitanya gak mau nikah hingga perkembangan jumlah penduduknya sangat lambat, makanya setiap ibu yg melahirkan dikasih tunjangan untuk mendongkrak jumlah penduduk...kalo di indonesia malah sebaliknya, penduduknya tumpah ruah walau gak dapet tunjangan melahirkan, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak. Salah satu penyebabnya memang gaya hidup yang cenderung menunda-nunda pernikahan.

      Hapus
  3. Seru banget ya teh, kalo bisa ketemu temen yang udah lama gak ketemu gitu... Saya di Bandung kemaren ketemu ama temen yang udah 15 tahun gak ketemu. 2 malam nginep di rumahnya rasanya masih kurang waktu untuk cerita-cerita... :)

    Teteh udah pernah baca buku judulnya After Orchard? Buku yang ditulis ama mahasiswi Indonesia yang kuliah di Singapura. Di situ diceritain, saking niatnya itu pemerintah Singapura menambah jumlah penduduk, apartemen mahasiswa dibikin sedemikian rupa supaya supaya mereka bisa saling 'menghasilkan generasi baru'. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haaah masa sih Dee? Belum, belum baca. Ya ampuuun berarti secara legal pemerintahnya juga membolehkan free sex ya?

      Hapus
    2. Tar deh kapan-kapan saya pinjemin bukunya ya :)

      Hapus
  4. Ntar bawa istri melahirkan d sana aja deh...hahahaha

    BalasHapus
  5. waaah, anakku tiga(satu alm)...berapa yaaa tunjanga mereka*berkhayal
    kalau di Indonesia, misalkan kita ke Puskesmas untuk kontrol kandungan..maka bidan yang juga wanita (WANITA) itu benar-benar sinis loh menghadapi ibu hamil untuk yang keempat atau untuk bumil berusia menuju kepala 4, mereka langsung nyerocos soal kontrasepsi (mungkin maksudnya penyuluhan) bak jagal.
    pernah aku lihat adegan ini, sewaktu seorang ibu berusia menuju kepala 4 priksa kandungan anak yang ke sekian.
    ehmm...temanku di Sidney juga cerita anak itu mendapat tunjangan, so kalau di Indonesia tidak hanya tidak mendapat tunjangan tapi si bumil...ditunjang-tunjang(dihujat), kasian dan miris.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...Mbak Eni bener banget. Yang ada kita tuh kalau anaknya banyak begitu periksa kandungan ke dokter atau suster yg ada malah direpetin atau ditunjang-tunjang :D

      Hapus
  6. Ah serunya bisa kumpul dengan teman lama di Singapura.
    Kota ini memang selalu menyenangkan ya buat anak-anak tumbuh.
    Banyak taman, bisa jalan kaki dengan nyaman, tidak ada asap rokok.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...