Jumat, 15 Agustus 2014

[Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Ranu Pani Sang Tahta Mahameru

Indahnya Ranu Pani
Debu jalanan mengepul menyambut kedatangan kami. Sangat kontras dengan pemandangan bukit-bukit yang menghijau di kanan kiri desa yang sangat terkenal di kalangan para pendaki gunung ini. Ranu Pani. Desa terakhir yang dihuni penduduk di kaki Gunung Semeru.

Mobil jeep hijau yang kami tumpangi berhenti di lapangan parkir yang ramai oleh rombongan pendaki dari berbagai pelosok tanah air. Musim liburan panjang bulan Mei seperti ini membuat Semeru kebanjiran orang. Jumlahnya mencapai ribuan orang. Untung saja jumlah pendaki setiap harinya dibatasi hanya 500 orang saja sehingga tidak semua yang datang hari itu bisa mendaki saat itu juga. Meskipun masih saja ada yang main belakang dengan mendaki melalui jalur Ayek-Ayek yang sudah resmi ditutup pihak Taman Nasional.

Musim liburan ini memang membawa berkah bagi para sopir jeep dan truk yang mengangkut para pendaki hingga jauh ke desa terpencil seperti ini. Mereka mengangkut para pendaki naik turun ke Pasar Tumpang hingga berkali-kali. Tidak para sopir saja, penduduk Desa Ranu Pani dan sekitarnya pun ikut kecipratan rejeki dengan menjadi porter atau guide.
Penduduk Ranu Pani sedang Panen

Setelah membayar ongkos jeep kami dan rombongan satu jeep dari Bekasi berpisah. Mereka langsung menuju pos untuk mengurus perizinan mendaki, Bang Ical merapikan carrier dan daypack sementara saya mengantar Chila untuk buang air kecil. Namun setelah berputar-putar tak satu pun toilet yang ada airnya. Sempat shock juga apakah di kaki gunung seperti ini air sudah begitu sulit ditemui? Untung saja Chila mampu bersabar hingga kami berangkat menuju pos pendakian yang terletak di dekat Danau Ranu Pani. Dari lapangan parkir berjalan mengikuti jalan aspal yang agak menanjak dengan melintasi pinggiran Danau Ranu Pani yang tampak menghijau.

Di jalan sebelum mencapai pos, kami didatangi oleh seorang pria yang mengaku porter. setelah adu tawar kami sepakat dengan harga 150 ribu per hari. Porter yang mengaku namanya Yanto ini lantas membawa barang bawaan kami ke rumahnya. Sementara Bang Ical, mengurusi registrasi di Pos Taman Nasional.


Saya dan Chila sementara asyik duduk-duduk sambil menikmati pemandangan ke arah Danau Ranu Pani yang tenang.

Setelah proses registrasi siap, kami bertiga dijemput bergantian menaiki motor Mas Yanto untuk diajak ke rumahnya. Di sana telah banyak pendaki-pendaki gunung lainnya yang sedang beristirahat dan makan siang. Mereka baru saja turun dari Semeru. Dan di antaranya ada Mas Jarodi yang berasal dari Jogjakarta yang ternyata teman Bang Ical. Dunia pendakian memang sempit :D

Hilir Mudik Jeep Pendaki

Karena rumahnya tepat di pinggir jalan, maka hilir mudik jeep dan truk pendaki baik yang turun maupun yang naik menjadi pemandangan yang kerap kami jumpai.

Malamnya kami menginap di rumah adik ipar Mas Yanto yang bersampingan dengan rumahnya. Dingin teramat menggigit sampai-sampai Chila pun rewel saat menjelang tidur. Malam itu terasa begitu panjang dan lama. Mungkin masih jetlag. Hampir dua jam sekali saya terbangun. Namun malam tak jua beranjak pagi.


Bang Ical, Chila, Istri Mas Yanto, adik ipar Mas Yanto dan Mas Yanto. 
Keesokan harinya, setelah sarapan kami berangkat dengan dihantar motor Mas Yanto. Bang Ical terlebih dahulu mampir di pos untuk melapor. Sedangkan saya dan Chila dihantar langsung ke pintu rimba.Jarak dari pos hingga pintu rimba sekitar 20 menit dengan berjalan kaki. Jadi menurut Mas Yanto lebih baik kami dihantar langsung ke sana untuk menghemat waktu.

Saat saya dan Chila menunggu tiba-tiba ada petugas yang mendatangi. Lalu menanyakan tentang izin mendaki dan lain-lain. Dia juga mempertanyakan Chila yang masih kecil kenapa diajak mendaki gunung. Saya sempat takut namun saya yakin si Bapak tadi belum bertemu dengan suami saya di pos. Sepertinya begitu melihat saya melewati pos dan tidak mampir untuk izin dia langsung menyusul menggunakan sepeda motornya.

Karena semua kelengkapan persyaratan mendaki ada di Bang Ical termasuk KTP saya, maka ketika saya ditanyai dan diminta syarat ini itu saya hanya menjawab semuanya ada di suami. Termasuk surat keterangan sehat dari dokter dan lain-lainnya. Akhirnya si petugas kembali ke pos.


Saya sempat deg-degan takut tidak dibolehkan. Namun kami sudah punya plan A plan B. Jika memang tidak diizinkan maka hanya saya saja yang mendaki sedangkan Chila dan ayahnya kemping di Danau Ranu Pani hingga saya turun kembali.

Pintu Rimba
Satu jam lebih saya dan Chila menunggu di pintu rimba. Cemas dan khawatir. Namun begitu melihat Bang Ical datang membawa Carrier besarnya saya langsung berucap syukur.

Dari pintu rimba, kami mulai melangkah menuju ketinggian. Berbagai perasaan campur aduk jadi satu terlebih si imut Chila menyertai pendakian kami. Inilah pendakian perdananya. Dia tampak antusias dan gembira. Semoga tidak ada sesuatu apa pun yang menghalangi perjalanan ini.

Kami bertiga berdoa, semoga kami diselamatkan dalam perjalanan hingga kami turun gunung dan kembali ke Batam dengan selamat.

Perkebunan Masyarakat Desa Ranu Pani

Semeru sambutlah kami. Izinkan kami menjejakkan kaki menelusuri sisi-sisi keindahanmu.


Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini:

1. [Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Indahnya Savana Bromo
2. [Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Petir dan Badai di Gunung Bromo
3. [Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Tumpang, Kota Persinggahan Para Pendaki
4.[Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Mengunjungi Singosari

14 komentar:

  1. Saya juga kenal ama Mas Jarodi... Biasanya dipanggil Mbah Jarod :)
    Seruuu.. gak sabar nunggu cerita lanjutannya...

    BalasHapus
  2. Waaah.....kenal juga ya Dee? hihihi bener-bener dah. Dunia emang sempit :D

    BalasHapus
  3. Mbak, tulisan di blognya kok gak terbaca jelas karna latar berwarna hitam dan warna hurufnya kabur...hiks... sayang sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Juliana mungkin ini pengaruh template belum terbuka semua kali ya, di komputer saya masih terbaca jelas. Makasih sudah mampir.

      Hapus
  4. Aku baru nyampe Bromo nih mbak..kpn2 pgn bawa anakku muncsk smp Ranu Kumbolo. Btw berat ga si tracknya utk anak2 mbak??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kapan-kapan ke sana Mbak. Gak kok gak berat kalo sampe Ranu Kumbolo saja. Chila juga jalan kaki gak mau digendong.

      Hapus
  5. Sampe sekarang aku blum pernah ngajak anakku ke Bromo. Pengiiiiinnnn banget!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ajak, anak-anak paling suka bermain pasir di Bromo :D

      Hapus
  6. Wihhhh....chila pasti seneng bgttt ya mbk :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Han. Tapi kalo malam ngambekan soalnya dingiiin bingit.

      Hapus
  7. Wah...seru ya petualangannya mendaki gunung... memang alam pegunungan memberikan magnet kuat bagi penyuka panoramanya... nice post...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak betul sekali. Terima kasih mbak sudah mampir.

      Hapus
  8. Widih! Pemandangan alamnya menggoda sekali Mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak Titis. Betah banget di sini. Tapi dinginnya minta ampun.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...