Wednesday, June 21, 2017

Kampung Morten Kampung Suku Melayu di Tengah Kota Melaka

Jembatan Kampung Morten
Kampung Morten merupakan sebuah kampung tua di tengah Kota Melaka, Malaysia, yang masih lestari di antara belantara gedung-gedung bertingkat. Terletak tepat di tepi Sungai Melaka, kampung ini dahulu hanyalah sebuah rawa-rawa yang hanya dipenuhi pohon nipah, bakau, dan kepiting lumpur. Manakala musim hujan tiba, wilayah ini kerap tergenang oleh banjir.

Ucapan selamat datang 

Kampung seluas 12 hektar ini terdiri dari 100 rumah khas yang dihuni 100% oleh Suku Melayu. Bangunan-bangunan rumah di Kampung Morten ini bentuknya masih mempertahankan keasliannya bahkan sejak pertama kali dibangun pada tahun 1921-1922. Rumah khas bergaya bangunan Melayu dengan lantai rumah yang tinggi serta ruangan rumah berbilik-bilik sesuai dengan berbagai keperluan penghuninya. 


Bersama rombongan famtrip Kementrian Pelancongan Malaysia yang mengikutsertakan media, blogger, traveller, selebgram, influencer, dan fotografer, saya berkesempatan bertemu dengan sesepuh Kampung Morten saat ini yakni Datuk Haji Ibrahim Hasyim. Beliau adalah cucu dari Datuk Usman Bin Haji Muhammad Mukhsin, seorang yang telah berjasa membangun Kampung ini dari nol. 
    Di hadapan kami, Datuk Ibrahim bercerita tentang sejarah Kampung Morten dengan runut dan lengkap. Meskipun usianya sudah lebih dari 74 tahun, suaranya lantang dan jelas. Sesekali beliau menerangkan dalam bahasa Inggris. Ia bercerita dari awal kenapa penduduk Kampung Jawa yang terletak beberapa kilometer dari Kampung Morten ini harus pindah keluar dari kampung tersebut. Dan membangun dari nol Kampung Morten ini. 

Penduduk Kampung Morten semula adalah penduduk di Kampung Jawa yang terpaksa pindah karena disebabkan pembangunan yang akan digalakkan oleh pihak kerajaan (Dalam hal ini adalah kerajaan Inggris). Memang namanya saja Kampung Jawa, namun penduduknya hampir seluruhnya Suku Melayu.  Ketika terpaksa harus pindah, penduduk sekampung berkeinginan untuk tetap ikut Datuk Haji Usman kemana pun beliau pergi. Saya membayangkan betapa Datuk Usman ini sangat dicintai oleh penduduk kampung. Betapa berpengaruhnya beliau sampai-sampai penduduk sekampung saja mau ikut kemanapun beliau pergi.

Pada awal pencarian lokasi untuk pemukiman baru, Datuk Usman bersama Demang Abdul Ghani yang  juga iparnya, mendekati dan membujuk Frederick Joseph Morten, salah seorang  berkebangsaan Inggris, yang memegang berbagai jabatan di Dinas Sipil Malaya dan merupakan Sekretaris Kolonial Straits Settlement, untuk meminjamkan uang kepada mereka guna pembangunan pemukiman penduduk di wilayah yang berlumpur itu.  Karena pengaruhnya maka Datuk Usman mendapat pinjaman sebesar 10 ribu dollar.

Pada pertengahan tahun 1960-1970an Kampung Morten merupakan perkampungan yang sepi dan terpencil dari keramaian kota. Keramaian muncul di sini hanya ketika ada pesta pernikahan yang selalu menghadirkan kesenian dan hiburan Joget Lambak.

Namun keadaan tersebut berubah sejak tahun 1989 ketika  Kampung Morten ditetapkan sebagai Desa Warisan yang berada di bawah naungan Balai Pelestarian dan Konservasi Negara. Semenjak itu, Kampung Morten mulai berkembang menjadi pusat kegiatan wisata. Akses jalan menuju kampung ini pun diperbaiki. Bisa melalui darat atau bisa juga melalui Sungai Melaka. Kini hampir setiap hari, Kampung Morten ramai dikunjungi wisatawan yang ingin mengetahui bagaimana rasanya kehidupan desa Melayu yang khas pada zaman dahulu.

Seperti rombongan kami, wisatawan yang datang umumnya berkunjung ke sebuah rumah tradisional yang dinamai Museum Villa Sentosa. Rumah ini dibangun oleh Kepala Desa yakni Datuk Haji Usman pada tahun 1921. Ada beberapa ruangan yang sangat istimewa bagi kami. Mulai dari meja makan dengan peralatan makan yang sangat tradisional khas jaman dahulu. Ada dapur dengan tungku, lemari, wajan, dan peralatan masak lainnya yang sudah jarang dijumpai pada masa kini. Ada juga alat-alat permainan seperti congklak dari kayu tua. Ada gong yang sudah berusia 200 ratus tahun, dan berbagai hal menarik lainnya yang selalu membuat mata, hati dan fikiran ini penasaran.

Peralatan Makan jaman dahulu.

Dengan semangat semua pihak di Malaysia khususnya Melaka, Kampung Morten telah menjadi salah satu destinasi wisata unggulan yang patut diberi penghargaan luar biasa atas apa yang telah dijaganya selama ini. Bersyukur saya dapat mengambil banyak pelajaran setelah berkunjung ke desa yang asri dan bersih ini.



3 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...