Rabu, 22 April 2015

Penyebrangan Ferry Batam - Johor

Dari sini kisah perjalanan selama 10 hari mengunjungi kawasan Indonesia Bagian Tengah dan Timur bermula. Perjalanan yang sudah dirancang setahun lalu ini hampir batal saat suami menyatakan tidak bisa berangkat karena urusan pekerjaan. Ini berarti tiga tiket pesawat terbang Air Asia pulang pergi Johor - Lombok untuk saya, suami, dan Chila akan hangus begitu saja. Hikssss.

Namun sesuai dugaan dan prakiraan :) suami tetap mengizinkan saya berangkat, sedangkan Chila anak semata wayang kami, menurutnya tidak perlu ikut dengan saya. Biarlah tetap bersamanya di Batam. Padahal sudah semangat mengajak Chila ikut serta. Duh mendadak galau. Soalnya ini pengalaman pertama ninggalin suami dan anak selama hampir dua minggu. Dan percaya deh, kalau sudah berkeluarga, jalan-jalan kelayapan sendirian itu berasa kosong dan hampa banget. Ingaaat... terus sama keluarga. So gimana mau happy ya kalau sebentar-sebentar khawatir mereka kenapa-kenapa. 

Sepertinya saya harus tetap mencari teman jalan. Dan Alhamdulillah, satu bulan menjelang keberangkatan, Marita, adik angkatan di komunitas Pecinta Alam, Cumfire Batam bersedia ikut. Ah nggak bengong banget gue. Ada teman yang bisa diajak ngobrol ngalor ngidul. Ada partner buat diskusi saat memutuskan sesuatu dalam perjalanan nanti. Horeee.

Atas nama penghematan, untuk mengunjungi beberapa sisi Indonesia ini kami berdua malah justru harus ke luar negeri dulu, numpang lewat untuk naik pesawat terbang dari Johor Malaysia menuju Lombok :)


8 April 2015 jam 8 pagi kami janji bertemu langsung di Pelabuhan Batam Center. Saya telat beberapa menit karena terjebak lampu merah di Simpang Jam sebanyak dua kali. Nunggu lampu merah padam itu rasanya kok lama banget. Saat ditanya ke suami katanya lampu merah di sini lamanya 5 menit. Ya ampuuun pantes saja. Tinggal dikalikan dua, berarti nongkrongin lampu merah saja sudah 10 menit.

Tiket Ferry Citra Indomas
Sesaat setelah tiba di pelabuhan langsung check in dan mendapat ferry yang berangkat jam 09.45. Sebelumnya kami membeli tiket ferry Citra Indomas dengan harga tiket 290.000 rupiah. Saya dibelikan tiket oleh suami dari agen di daerah Windsor. Sedangkan Marita beli di Anshun Travel di samping kantor pos Batam Center. Kalau beli di pelabuhan harus sehari sebelum keberangkatan dan langsung check in. Biasanya tiket yang dijual di pelabuhan lebih mahal bila dibandingkan dengan di agen. Selisih hingga 50 ribu rupiah. Lumayan besar bedanya. Kalau waktu luang sebenarnya lebih baik beli tiket di agen saja. Untuk tax Pelabuhan Batam Center kami membayar 60 ribu rupiah.

Beberapa nomor agen Ferry Citra Indomas bisa dihubungi di sini:

Simpang Anshun 0778-473999
First City 0778-466636
Puri Legenda 0778-8096096
Windsor 0778-459492
(ingat saya bukan agen dan tidak sedang iklan tiket ferry loh :D)


Tanpa halangan apa pun, beberapa puluh menit kemudian kami sudah duduk manis di kapal ferry. Udara yang dihembuskan AC dari atap ferry sempat membuat saya kedinginan. Namun untung saja sudah bersiap-siap mengenakan jaket. Sambil merasakan laju kapal yang membelah selat di perbatasan tiga negara, saya telah sibuk meminjam buku Rindu karangan Tere Liye dari Marita. Selain itu juga mempersiapkan cemilan seperti KitKat agar membaca bukunya lebih terasa afdol :D Lumayan buat pengganjal perut apalagi tadi paginya hanya sarapan susu. Kurang nendang ke perut :)



Dua jam perjalanan tanpa halangan apa pun kami tiba di Pelabuhan Stulang Laut, Johor Baru. Melewati pemeriksaan  imigrasi dan kastam (bea cukai) dengan lancar lalu keluar menunggu bis menuju JB Central. Sempat dirayu sopir taksi supaya menggunakan taksinya dengan ongkos 30 ringgit. Tapi setelah kami hitung-hitung sepertinya sayang banget ngeluarin uang sebesar itu. Harus ngirit dong. Baru saja perjalanan dimulai masa harus boros. Nggak apa-apa berberat-berat ria menggemblok keril mindahin dari satu bis ke bis lainnya, hitung-hitung warming up bagi tulang pinggang dan tulang punggung.


Hampir 15 menit menunggu, datanglah bis yang ditunggu-tunggu. Di kacanya tertulis salah satu tempat yang saya tuju, JB central. Setelah bertanya kepada sopirnya  untuk lebih meyakinkan diri sendiri, kami pun menaiki bis lalu membayar ongkos sebesar 1 ringgit 60 sen per orang.

Sessat keluar Pelabuhan ada land mark Berjaya Waterfront
Turun di JB sentral kami bertanya-tanya adakah bis menuju Skudai. Kawasan yang akan menjadi tempat kami menginap satu malam sebelum esok paginya terbang ke Lombok. Seorang laki-laki melayu memberitahu kami bahwa di sana tidak ada bis menuju Skudai. Tapi dari City Square yang letaknya disebrang  Bangunan JB Sentral. Menurutnya hanya satu menit saja berjalan kaki. Ternyata hampir 10 menit mutar- mutar akhirnya tiba di City Square.

Dari sebrang City Square kami menaiki bis yang melewati kawasan Skudai. seorang bapak-bapak bilang tidak ada bis yang melewati Jalan Ronggeng tempat dimana hotel kami berada. Kami perlu berjalan beberapa ratus meter dari pemberhentian bis. Setelah berdiskusi kami tetap naik bis tersebut dan mewanti-wanti sopir bis agar diturunkan di Kawasan Skudai dekat dengan Jalan Ronggeng.

Hampir setengah jam berlalu. Bis melaju melewati jalan mulus mirip tol. Tak ada bilboard, spanduk, banner, pamflet dan iklan apa pun di sepanjang jalan. Hanya foto Yang Mulia Sultan  Johor beserta istri saja yang beberapa kali terlihat di beberapa titik. Berkali-kali melaju hanya tulisan "Daulat Tuanku" yang ditemui di sepanjang jalan.  Lumayan menyejukkan mata. Tidak seperti jalanan di Batam yang setiap jengkal berjejalan iklan.

Kami diturunkan di sebuah halte. Dari beberapa nama jalan dan bangunan memang benar wilayah yang kami turuni tersebut adalah Skudai. Tapi dimanakah hotel tempat kami akan menginap?

Hari begitu terik dan tak ada seorang pun yang dapat kami tanyai. Setelah meletakkan keril dan menitipkan pada Marita, saya berjalan menyusuri jalan lengang di Kawasan Skudai. Beruntung seorang ibu-ibu memberitahu kami bahwa Jalan Ronggeng terletak di bangunan tingkat yang sudah tampak dari tempat kami bercakap-cakap. Ia menyarankan kami naik taksi.

Tidak apa-apa deh, naik taksi dari sini berarti tarifnya lebih murah. Kami pun mencegat taksi dan meminta sopir taksi yang sudah sepuh mengantarkan ke Jalan Ronggeng 2. Tepat di belokan Jalan Ronggeng saya melihat bangunan yang mirip dengan Hotel Skudai Baru yang saya booking di internet. Setelah memberitahukan sopir taksi ia segera menghentikan laju taksinya. Argo menunjukkan angka 10 Ringgit. Alhamdulillah nggak mahal-mahal banget.


Begitu mendekat di kaca bangunan hotel baru jelas terlihat tulisan Hotel Skudai Baru. Alhamdulillah bisa istirahat sebentar sebelum esok pagi terbang menuju Lombok.

30 komentar:

  1. semoga kesampaian sampai sanaaaa... *_*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin....amiiin...amiiinn.... *mengainkan dengan kencang :D

      Hapus
  2. Mbak, pas masuk blogmu ini mataku langsung terhipnotis sama foto headermu yang keren itu. Efeknya, meski sudah baca tulisanmu sampai tuntas, yang ada dibenakmu cuma foto itu hahaha Eh tapi aku kesengsem sama buku Rindu dan Kit Kat itu. Jadi pingin beli dan makan juga :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha...baru ganti header nih Mbak. Biar segar. Ini bukunya dan cemilannya klop luar biasa :D

      Hapus
  3. Wah.. sempat nginap di JB juga ya, teh... Saya kalo naik kendaraan, paling gak bisa baca buku.. malah pusing teh.. tapi kalo ngemil sih teteeep.. di mana aja pasti bisa, hahahaha.. apalagi kalo ngemil kitkat ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Dee soalnya pesawat pagi. Kalau dari Batam langsung nggak terkejar.

      Awalnya saya juga nggak bisa. Pusing gitu kalau baca di kendaraan. Cuma ya gitu nggak ada waktu buat baca selain di kendaraan pas berangkat dan pulang kerja. Jadi dipaksain pelan-pelan. Alhamdulillah terbiasa. Jadi di kendaraan apa pun kini tak pusing lagi :D

      Hapus
  4. Mau cobain nyeberang deh, mau ke batam tapi dari johor :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha...terbalik Mas Fahmi :D

      Hapus
    2. Tapi idenya menarik. Iya ya kenapa nggak nyoba kalau mau ke Batam ya lewat Johor aja :D

      Hapus
  5. gelar tiket sambil ngemil nunggu cerita berikutnya... Tambora ..Tambora... ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi...saya tambahin cemilannya KitKat nih Mbak Muna :D Yuk siap-siap ke Tambora

      Hapus
  6. ITU foto yg di header destinasi waktu pulang nanti. Dah lama pingin ke gili padar, blm ke sampeyan. Ditunggu cerita selanjunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak ini destinasi wajib kalau pulang kampung ke Indonesia :) Pulau Padar, Gili Lawa/Laba, Kanawa, Bidadari, adalah pulau-pulau wajib yang harus disambangi.

      Hapus
  7. Memang betul, Mbak. Tiket di dalam negeri malah lebih mahal. Aku pernah dari sumatera mau ke Jawa Timur. Lewat Malaysia harga tiketnya separuhnya. :( ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Qiqi....justru yang seperti ini malah menguntungkan pihak negara tetangga ya Mbak.

      Hapus
  8. trus tiket awal yg bwt b3 di cancel teh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiket Chila dan ayahnya hangus yang tiket teteh aja yang kepakai Mel

      Hapus
  9. whuaaa foto headernya kereeeeeeeeeeennnnnn... *anak2ngeliat kitkat

    BalasHapus
  10. sama ma mbak rien liat foto di atas langsung mlongo itu pantai mana ya keren banget?

    klo dari batam ke malaysia ga perlu bawa2 paspor visa gitu mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Header ini di Pulau Gili Lawa Darat Taman Nasional Komodo Mas.
      Tetap saja dari Batam ke Johor perlu passpor. Kalau Visa nggak perlu.

      Hapus
  11. Wah serunya bisa ke Lombok.. Lama banget lagi, 2 minggu :D

    BalasHapus
  12. Mbak apa benar kalau mau ke johor bahru pakai ferry dari batam harus ada uang unjuk atau uang jaminan sebesar 2 juta ya mbak. Mohon balasannya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggak harus sih Mbak. Mungkin bagi orang yang dikira mau kerja atau dicurigai akan jadi TKI atau TKW aja. Random check. Kalau bisa dandan yang rapi yang tidak memberi indikasi sedikit pun untuk dicurigai mirip dengan TKI/TKW. Kadang memang masih ada petugas yang resek sih.

      Hapus
  13. Bener mbak, jalan tanpa keluarga itu sepi. Kepikiran anak2 terus

    BalasHapus
  14. Assalam mbak..sya mau pergi johor dlm minggu nie,tpi takut imegresen johor minta macam2,,mmg ga da ya mbak mengenai uang tunjuk tu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beberapa hari yang lalu saya dari Johor, nggak ada uang tunjuk, namun mereka nanya2 nah jawabannya harus meyakinkan kalau nggak mau pertanyaan melebar kemana-kemana. Gambling sih kadang aman-aman aja kadang ada yang samapi diperiksa juga. Tergantung sikap kita meyakinkan atau mencurigakan.

      Hapus
  15. mbak salam kenal saya mau ke johor via batam liburan akhir tahun ini,kalo beli tiket ferry cuma one way apa harganya semahal itu juga soalnya saya mau menghitung budget dulu

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...