Sunday, 26 August 2018

Taman Wisata Alam Gunung Gundul Lokasi Berwisata Terbaru di Natuna

Bagaimana rasanya memendam  rindu yang tak berkesudahan kepada kampung halaman, keluarga dan handai taulan? Bagaimana rasanya puluhan tahun di perantauan tidak pernah pulang-pulang? Berat. Sungguh berat. Mengalahkan beratnya Rindu Dylan pada Milea. Mengalahkan rekor Bang Toyib yang hanya tiga kali puasa tiga kali lebaran nggak pulang-pulang.




Adalah Evan, seorang pemuda berusia 29 tahun yang kini menjabat sebagai Kepala Desa Harapan Jaya, di Kecamatan Bunguran Tengah, Kabupaten Natuna, membagikan kisah-kisah para transmigran asal Pulau Jawa di desanya yang apabila usai perayaan hari raya lebaran atau acara libur nasional lainnya, mereka sengaja menaiki sebuah bukit yang mereka namakan Gunung Gundul, untuk berkumpul bersama sekaligus melepas kerinduan kepada kampung halaman. 


Dari puncak Gunung Gundul, para transmigran itu hanya mampu menerawang membayangkan kampung halaman mereka nun jauh di seberang sana. dari tempat ini mereka dapat menyaksikan dengan jelas pemandangan ke semua arah mata angin. Di sekeliling tampak pemandangan 360 derajat berupa  hamparan hijau membentang hingga berbatas lautan di ujung pandang. Di batas kaki langit yang membiru ataupun tertutup awan, perlahan rindu-rindu itu tersampaikan.

Pemandangan dari Puncak Gunung Gundul

Kades Evan adalah generasi ketiga para transmigran yang bermukin di Desa Harapan Jaya. Di bawah kepemimpinannya desa ini telah meraih penghargaan sebagai desa wisata terbaik dari Pemerintah Kabupaten Natuna. Ia bersama para pemuda karang taruna kini semakin fokus untuk mengembangkan Gunung Gundul menjadi sebuah destinasi wisata baru di Natuna.


Perjalanan saya dan rekan-rekan menuju Gunung Gundul dimulai saat pagi buta selesai sholat subuh. Semula kami berniat berburu sunrise, namun sayang cuaca pagi itu mendung tidak mendukung. Meskipun demikian kami tetap berangkat. Dari Hotel Tren Central yang terletak di Ranai kami berkendara ke arah Barat Daya sejauh kurang lebih 14 kilometer yang  ditempuh dalam waktu 20 menit. Tidak ada petunjuk khusus saat memasuki jalan tanah yang mengarah ke Gunung Gundul, hanya serupa papan pengumuman yang menyatakan bahwa lokasi itu dibuka hanya pada hari Sabtu dan Minggu saja. Padahal hari itu hari Jum'at, bagaimana kami bisa masuk?

Perjalanan Ranai - Gunung Gundul di Desa Harapan Jaya.


Bang Kelik dari Dinas pariwisata Natuna meyakinkan bahwa ia telah menghubungi pihak pengelola agar membuka akses untuk kami hari itu. Namun ternyata puluhan meter menjelang lokasi parkir, ada portal yang menghalangi laju mobil. Kami pun berjalan kaki menuju lokasi. Lumayan bisa olahraga jalan pagi walaupun terpaksa. Hehe. Selalu ada manfaat di setiap hal yang tidak kita sukai.


Sepanjang perjalanan kami melewati hutan yang banyak ditumbuhi pohon temau. Pohonnya berdaun kecil seperti beringin dan mempunyai batang kecil-kecil juga. Mungkin pohon ini adalah pohon endemik Natuna karena saya belum pernah menjumpainya dimana pun. Saat googling saya tidak menemukan referensi apa pun tentang pohon temau ini.


Tiba di parkiran Gunung Gundul, terdapat bangku-bangku untuk melepas lelah yang diletakkan di bawah pepohonan yang rindang. Di lokasi ini kita bisa menyaksikan beragam hasil kreatifitas anak-anak muda Desa Harapan Jaya yang terpampang dan terpajang jelas di beberapa titik. Ada lukisan wayang dan gambar-gambar kartun seperti doraemon yang mereka buat sendiri. Di sisi lain telah dibangun fasilitas toilet yang didirikan secara swadaya oleh warga desa.


Pintu masuk kawasan Gunung Gundul

Kreatifitas dari derigen bekas

Jalur menanjak menuju puncak Gunung Gundul

Mendaki Gunung Gundul tidak membutuhkan waktu yang lama. Hanya sekitar 10 hingga 15 menit saja. Namun pengunjung harus hati-hati karena jalur terjal dan berbatu. Dari parkiran, jalur mendaki cukup jelas terlihat sehingga memudahkan pengunjung menuju puncak tanpa bantuan guide. Di sepanjang perjalanan ini pun kita dapat temui beberapa papan tulisan yang kadang membuat senyum tersungging di bibir. "Pelan-pelan ya Sayang", sebuah tulisan di sebuah tanjakan membuat saya tersanjung dan tersenyum-senyum sendiri. Mendadak geer karena merasa tulisan itu ditujukan untuk saya langsung. Haha.


Tiba di puncak, kita akan disuguhkan pemandangan hijaunya bumi Natuna yang terhampar luas di sekeliling. Karena di puncaknya tidak terdapat pepohonan, maka kita bisa menyaksikan pemandangan ke seluruh arah mata angin dengan jelas. Pantas saja dinamakan Gunung Gundul. Karena memang puncaknya gundul. Namun, masyarakat setempat menamakan demikian karena dulu pernah terjadi kebakaran yang membuat keseluruhan bukit menjadi gundul.


Di kawasan puncak telah terdapat beberapa titik untuk melakukan swafoto. Ada ayunan dan juga jalan aspal buntu yang tampak menggantung begitu saja berbatas langit. Di sisi lainnya terdapat papan datar yang menyembul di antara pucuk-pucuk pohon. Di sisi bawah terdapat dua sayap yang membentang seakan siap terbang. 

Para Staff Dinas Pariwisata Prov. Kepri Berfoto Bersama

Walaupun belum begitu banyak titik untuk berswafoto namun lokasi ini ramai dikunjungi warga setiap akhir pekan, terutama oleh anak-anak muda. Menurut Kades Evan, setiap Sabtu Minggu pengunjung yang datang rata-rata sekitar 300 orang per harinya. Untuk masuk ke lokasi ini pengunjung masih belum dipungut biaya. Hanya saja ada sumbangan untuk menjaga kebersihan sebesar Rp  5.000. 

Seorang Pengunjung Mencoba Spot untuk Swafoto

Derigen bekas ini jadi unik jika dibentuk sesuai kreatifitas si pembuat



Jika Anda berkunjung ke Natuna dan ingin menyaksikan keseluruhan natuna seperti apa dengan lebih mudah dan tidak bersusah payah mendaki Gunung Ranai, maka Gunung Gundul akan menjadi lokasi yang cocok untuk melengkapi perjalanan Anda bertamasya ke Natuna.


Perjalanan ke Natuna bisa ditempuh melalui Batam dan Tanjungpinang. Dari Batam terdapat dua penerbangan reguler yang dioperasikan oleh Wings Air 6x seminggu setiap Senin hingga Sabtu, berangkat jam 08.45 WIB. Dan ada Sriwijaya Air 4x seminggu setiap Senin, Rabu, Jum'at dan Sabtu, berangkat pukul  12.15 WIB. Keduanya ditempuh dengan waktu selama 1 jam penerbangan. Harga tiket sekitar 1-2 juta rupiah sekali jalan.

Btw, yuk baca cerita perjalanan saya ke Natuna lainnya di artikel ini: Menelisik Keanggunan Masjid Agung Natuna.

38 comments:

  1. kekinian banget ya spot untuk potonya

    ReplyDelete
  2. Jadi kangen travelling nih aku mba. Tapi, biasanya belum sejauh ini hehe. Siapin mental dulu deh berhubung jaraknya lumayan jauh :p

    ReplyDelete
  3. Mendakinya cuma 15 menit tapi viewnya kayak udh tinggi banget ya. Dari atas rumah-rumah menyembul dari daun, kelihatan masih banyakan pohon dari pada rumah, dan setelah itu udah hutan semua, seger lihatnya

    ReplyDelete
  4. Aku selalu suka baca review tentang jalan-jalanmu mbak, karena ada beberapa tempat yang aku tidak tau dan jadi tau setelah baca reviewnya. Apalagi untuk gunung Gundul Natuna ini

    ReplyDelete
  5. Kreatif, ya. Menjadikan barang bekas sebagai spot foto.

    ReplyDelete
  6. udah lama ga baca tulisan Teh Lina. Suka dengan kisah perjalanan di alam nya. Ga bikin bosan. Plus petualangannya itu loh bikin penasaran kalau ga baca habis hehehe

    ReplyDelete
  7. Wah dakinya cuma 15 menit ya. Mungkin cocok buat yang masih belajar dan baru-baru pengalaman naik gunung hehehe. Keren sih viewnya...

    ReplyDelete
  8. Asal baca tulisan mba Lina, jadi ingin menjelajah alam, rasanya.
    Karena sebenarnya, aku tipikal anak yang takut sama alam bebas.
    Dulu suka dilarang sama Ibu asal mau ikut kegiatan Pecinta Alam.

    ReplyDelete
  9. Aduh aku dapat kesan menyeramkan dari for pintu masuknya (-_-")

    ReplyDelete
  10. Penghargaan dan Ucapan Terima kasih
    kami sampaikan kepada :

    “LINAWIATI”
    Atas partisipasinya bersama Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau pada Kegiatan “Familiarization Trip 2018“ pada tanggal 1 - 4 Agustus 2018 di Kabupaten Natuna – Provinsi Kepulauan Riau.

    Terimakasih,..
    #Salam Kesuksesan.

    ReplyDelete
  11. Pintu masuknya agak gimana gitu lihatnya. Heu. Tapi kreatif ya warganya bikin kreasi dari barang bekas gitu

    ReplyDelete
  12. Kteatif bgt dari derigen bekas.

    Keren teh, selalu memunculkan info seputar pariwisata baru, terlebih di daerah perbatasan :)

    ReplyDelete
  13. Wah, berarti udah ada penerbangan komersil ke Natuna ya sekarang dari Batam dan Tanjung Pinang. Keren deh Kepri ini wisatanya

    ReplyDelete
  14. Jadi pingin ke Natuna, alamnya masih bersih,hijau sejuk dan indah mata memandang

    ReplyDelete
  15. Natuna dengan segala keindahannya ternyata memiliki spot foto yang anti mainstream 👍

    ReplyDelete
  16. Ituh memanfaatkan barang bekas menjadi bernilai suatu inovasi yg keren ya, palagi jadi nambah insentif krn terletak sbg tempat wisata ya.. Jadi inget film terbaru yg berlokasi di Natuna nih..

    ReplyDelete
  17. Jadi pengen liburan... Hehehe... Makasih share nya ya kak...

    ReplyDelete
  18. aku baru dengar tempat wisata ini mba, baru tereskplore atau gimana mba lina? view nya cakep banget.

    ReplyDelete
  19. wahh kerennya natuna.. Masih dalam bucket list saya nih pengen ngubek-ngubek Kepri.
    mudah-mudahan bisa secepatnya traveling kesana. Amin!

    ReplyDelete
  20. Ya allAl kreatif banget ya dari dirigen bekas jadi hiasan gitu..Doakan aku kak biar bisa kesana yooo.

    ReplyDelete
  21. Saya kok jadi teraru ya membayangkan para transmigran naik ke gunung gundul untuk melepas kerinduan. Jadi terkesan ada rasa rindu yang mendalma

    ReplyDelete
  22. Ya Allah, sampai di gunung pun disediakan spot foto istagramable banget ya. Kirain di kota2 aja.

    ReplyDelete
  23. Lokasi wisatanya bagus mbak. Murah juga, menikmati alam sambil selfie2. Moga2 tetep lestari yaaa...

    ReplyDelete
  24. buat beginner seperti saya cocok lah main ke gunung gundul. Kalau lelah trekking disemangati sama papan petunjuk yang pakai kata sayang tadi :))

    ReplyDelete
  25. Saya merinding, Mbak Lina. Natuna hanya bisa saya baca di peta, tidak pernah terbayangkan mengunjunginya tetapi bisa membacanya di sini. Bagaimana keadaan kota dan desa di sana? Posting lagi ya Mbak. Oya, terima kasih sharing-nya

    ReplyDelete
  26. Indahnya.. bisa mengunjungi tempat-tempat wisata di Indonesia adalah impianku.. semoga bisa juga berkunjung ke tempat ini.. dan semoga para pengunjung merawat kelestarian lingkungan disana sehingga tetap indah dan jauh dari sampah ya mba

    ReplyDelete
  27. keren banget ini mba jadi pengen kesini :)

    ReplyDelete
  28. hwaaaa aku pengenn. . uda lama banget pengen ke gunung kidul kebetulan ada sodara disana. tp ga jd jd.. dan postingan mu ini sukses bikin aku makin mupeng mbakk

    ReplyDelete
  29. Wisata alamnya keren, pemandanganya jg sangat indah, dan kreatif yang seperti ini bisa jd daya tarik wisatawan untuk mencobanya, semoga sayapun bisa berkesempatan mengunjunginya.

    ReplyDelete
  30. Keren ih. Aku kemarin lihat dr atas aja kep. Natuna nya udah takjub. Ke Batam belum puas klo ga mampir ke pulau2 di sekitarnya

    ReplyDelete
  31. Pengen bgt ke Natuna. Keindahan lautnya ruaar biasa. Penasaran sama ikan asapnya. Duuuh makin mupeng

    ReplyDelete
  32. Jadi kangeeen liburan sekaligus tadzabur alam. Kekayaan alam Indonesia dengan segala keindahannya sangat luar biasa ya Mba, lanjut Mbaaa jelajahi Bumi Pertiwi bagian yang lainnya lagi, kereeeeen :)

    ReplyDelete
  33. Kreatif yaa, barang bekas digunakan untuk menarik wisatawan untuk datang ke tempat ini ��

    ReplyDelete
  34. suka deh dengan ide tangga dari kayu. jadi menyatu dengan alam.

    ReplyDelete
  35. Ya ampun mba bikin mupeng deh. Aku jadi kangen banget

    ReplyDelete
  36. Kapan ya bisa dolan ke sana :-D
    Semogaaaaa ah kapan-kapan

    ReplyDelete
  37. Keren ya kak petualangannya...

    ReplyDelete
  38. wah kreatif banget yaa itu hiasan2nyaaa,,, traveling emang ga pernah salah ya, always make us happy

    ReplyDelete

Halaman ini dimoderasi untuk mengurangi spam yang masuk. Terima kasih sudah meninggalkan komen di sini.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...