Serunya Mengikuti Writingthon Jelajah Kota Garut

Writingthon Jelajah Kota Garut  merupakan sebuah ajang perlombaan menulis yang diselenggarakan oleh penerbit Bitread Publishing yang bekerja sama dengan Garut Creative Hub, Good News From Indonesia, Pemprov Jabar dan Pemkab Garut. Gelaran Writingthon ini ternyata bukan yang pertama. Sebelumnya Bitread telah sukses menggelar acara serupa namun dengan tema yang berbeda seperti Writingthon Asian Games dan Anugerah Puspiptek.

Writingthon Jelajah Kota Garut 


Kali ini Writingthon mengambil tema Jelajah Kota Garut dengan tujuan untuk mempromosikan Garut ke tengah-tengah masyarakat Indonesia melalui tema-tema yang dilombakan yakni  seni, budaya, wisata, kuliner, sejarah, potensi ekonomi, bisnis dan gaya hidup. Teman-tema tersebut dilombakan dengan harapan dapat menggali potensi Garut yang luar biasa dan juga harapan bahwa Garut akan semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Jawa Barat khususnya dan di Indonesa serta dunia pada umumnya.


Tak menyangka saya dan 25 teman lainnya dari seluruh Indonesia terpilih, dari 2.283 tulisan yang masuk ke meja panitia. Sungguh antusiasme yang sangat luar biasa. Menurut panitia, target yang ingin dicapai adalah 1000 peserta namun sungguh di luar ekspektasi para pendaftar meledak hingga 2000 lebih. Para pendaftar ini benar-benar datang dari seluruh Indonesia karena ada yang berasal dari Aceh hingga Papua.


Pada akhirnya, panitia menjaring 245 tulisan untuk dinilai di tahap akhir. Hingga kemudian terpilihlah 25 tulisan terbaik. Dalam obrolan santai di kamar hotel, saya dan teman-teman masih saling bertanya satu sama lain benarkah kami yang terpilih karena awalnya tidak percaya dan tidak menyangka. Masya Allah.


Dari 25 peserta ini tidak ada satu pun yang saya kenal sebelumnya, kecuali Kang Ali Muakhir penulis asal Bandung. Alhamdulillah bisa ketemu lagi dengan Kang Ali setelah bertahun-tahun silam saat ia ke Batam.


Seorang peserta Writingthon Jelajah Kota Garut pernah bertanya kepada panitia bagaimana cara menilai peserta sebanyak itu sementara waktu mereka untuk menilai hanya kurang dari seminggu. Jawabnya ternyata mudah saja, untuk penjaringan babak pertama dari penilaian apakah para peserta menyertakan referensi atau tidak di akhir tulisannya seperti yang sudah disyaratkan dalam pengumuman lomba. Kalau tidak ada, sudah dipastikan tidak akan lolos. Jadi mengingatkan diri sendiri dan juga teman-teman bahwa jika mengikuti lomba, wajib baca terlebih dahulu syarat-syaratnya lalu pahami dan setelah itu laksanakan semua poin tanpa tawar-menawar. 


Dari 25 peserta yang terpilih 6 peserta berasal dari Garut, 6 dari Bandung, 4 dari Bekasi, Depok, Sukabumi dan Tasikmalaya. Sementara itu dari Pulau Jawa bagian lainnya  ada 4 peserta yang berasal dari Jogjakarta, Purwokerto Jawa Tengah, Malang dan Mojokerto Jawa Timur. Peserta dari luar Pulau Jawa berasal dari Lhokseumawe Aceh, Banjarmasin Kalimantan Selatan, Metro Lampung, Palembang Sumatera Selatan  dan saya dari Batam Kepulauan Riau. Peserta dari Pulau Jawa semuanya menggunakan transportasi darat seperti bis dan kereta api sedangkan yang dari luar Pulau Jawa menggunakan pesawat terbang dan dijemput langsung di Bandara Sukartno Hatta.

Peserta luar Pulau Jawa


Acara Writingthon Jelajah Kota Garut diselenggarakan pada 4 hingga 6 November 2019. Lokasi utama berada di Resort Kampung Sumber Alam Cipanas, Kecamatan Tarogong, Garut. Namun selama kegiatan berlangsung terutama pada hari pertama dan kedua, kami tidak 24 jam berada di Resort Sumber Alam karena harus mengikuti rundown kegiatan yang sudah ditentukan panitia.


Writingthon Hari Pertama


Dari Batam saya berangkat hari Ahad 3 November 2019. Dari 5 orang yang berasal dari luar Pulau Jawa, saya merupakan orang terakhir yang mendarat di Bandara Sukarno Hatta. Yang lain bahkan sudah ada yang tiba sejak jam 10 pagi sementara saya baru keluar bandara jam 5 sore. Kami dijemput oleh Mbak Yeni panitia Bitread dari Jakarta. Setelah semua bagasi masuk mobil kami langsung meluncur menuju Garut melalui jalan tol Cikampek kemudian tol Padalarang Cileunyi hingga tiba di Garut jam 11 malam. Malam itu kami diinapkan di Hotel Familie Ayu yang berada di Jalan Ranggalawe, Regol Garut Kota.


Keesokan harinya, Senin 4 November 2019 kami langsung menuju Gedung Perpustakaan Garut untuk memulai rangkaian acara Writingthon. Setelah registrasi, kami berkumpul di ruang meeting untuk mengikuti pembukaan. Dalam sesi perkenalan, masing-masing peserta memperkenalkan oleh-oleh khas yang dibawa dari daerah masing-masing. Sesi ini lumayan seru karena kita jadi tahu betapa banyaknya kuliner khas daerah di Indonesia yang sebenarnya harus kita lestarikan dan kita jaga sama-sama sebagai identitas budaya, suku dan bangsa.

Sesi perkenalan oleh-oleh tiap daerah

Acara berlanjut hingga istirahat salat dan makan siang. Setelah itu kami langsung menuju Gedung Pendopo. Sementara seluruh barang bawaan sudah dibawa oleh panitia ke Resort Kampung Sumber Alam. Jadi kami tidak kerepotan membawa-bawa barang saat acara masih berlangsung.

Berfoto bersama ASN Garut

Dari Gedung Pendopo kami diajak menuju alun-alun yang berada tak jauh dari kawasan ini. Di sana terdapat Babancong, sebuah bangunan seperti pentas atau podium yang dilengkapi dengan tangga dan atap yang sejak zaman Belanda dijadikan sebagai tempat untuk pengumuman atau pidato. Biasanya di setiap kota selalu ada Babancong seperti ini, namun seiring perkembangan zaman Babancong di tiap kota sudah hilang. Hanya yang di Garut inilah yang masih tetap dilestarikan.

Sonagar

Dari kawasan Alun-Alun Kota Garut kami menaiki kendaraan khusus wisatawan yang disebut Sonagar (merupakan kependekan dari frasa Pesona Garut) untuk menuju pusat bisnis Kota Garut di Jalan Ahmad Yani dan juga kawasan Sukaregang yang menjadi sentra kerajinan kulit.


Writingthon Hari Kedua


Hari kedua, peserta dibagi menjadi beberapa tim. Ada tim Wisata, Kuliner, Budaya dan lainnya. Kebetulan saya masuk ke tim kuliner dengan 4 teman lainnya. Sebelum berpencar menuju lokasi peliputan masing-masing, kami terlebih dahulu mengunjungi Kampung Pulo dimana di dalamnya terdapat situs Candi Cangkuang.

Pintu masuk Candi Cangkuang

Situ Cangkuang
Candi Cangkuang

Setelah dari Cangkuang kami bersama-sama menuju Gedung Chocodot World. Chocodot merupakan coklat khas Garut yang kini pendistribusian dan penjualannya sudah berskala nasional dan bahkan internasional.

Para peserta di depan Gedung Chocodot World

Setelah kunjungan ke Chocodot World kami makan siang terlebih dahulu di Chocolate Cake & Bakery Cafe Goah Gumelar salah satu cafe yang dimiliki oleh Kang Kiki Gumelar pemilik usaha Chocodot. Setelah makan siang, tim kuliner mulai liputan dengan mengunjugi Toko oleh-oleh dodol merk Bestory. Kami mewawancarai pemiliknya kemudian melihat cara pembuatan dodol langsung di pabriknya. Selepas meliput Dodol Bestory, kami menuju sekretariat Garut Creative Hub (GHC) di Jalan Ahmad Yani No 08. Dari sana tim kemudian menyebar sendiri-sendiri ke lokasi peliputan yang belum selesai. Saya dihantar oleh salah seorang anggota GHC menuju Sentra kerajinan kerupuk kulit di Jalan Jendral Sudirman menggunakan sepeda motor.

Cafe Goah Gumelar

Karena tidak ada papan penunjuk jalan yang jelas menuju pabrik kerupuk kulit, saya dan orang GHC hampir nyasar, untungnya Kang Iqbal pemilik usaha kerupuk kulit Hikmah yang memang kami tuju, dengan baik hati mau menyusul dan menunjukkan jalan.

Kang Iqbal dan Ibunya

Hampir satu jam saya berada di rumah keluarga Kang Iqbal dan melihat proses pembuatan kerupuk kulit dari awal hingga akhir. Tulisan hasil liputan ini akan dibukukan dan menurut panitia Insya Allah akan diterbitkan  pertengahan Desember ini.


Sepulang dari lokasi usaha kerupuk kulit, kami langsung menuju Dodolism. Sebuah bangunan berwarna pink yang didedikasikan Kang Kiki Gumelar sebagai ruang kreativitas dan inovasi untuk mengembangkan produk-produknya.

Dodolism

Di Dodolism kami menunggu tim wisata yang sedang meliput ke daerah Pantai Santolo di Pameukpeuk yang merupakan kecamatan terjauh dari Garut Kota. Setelah semua tim berkumpul, kami pun makan malam dengan menu yang unik-unik, salah satunya adalah bakso dodol dan sup atau sayur dodol yang ada kuahnya.

Menu Bakso Dodol

Usai makan malam, semua tim kembali ke Resort Kampung Sumber Alam untuk mandi dan salat Isya. Setelah itu, kami berkumpul di ruang meeting untuk mendengarkan paparan mengenai sejarah kota Garut. Padahal malam itu saya janji ketemuan dengan Neng Liswanti Pertiwi, salah satu blogger Jakarta asal Garut yang kebetulan saat itu lagi pulang ke Garut. Sudah pasti pada kenal kaaan dengan blogger satu ini?


Hari semakin larut. Materi kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Duuh padahal lelah dan ngantuk. Selain itu saya memboyong kedua orang tua serta ponakan untuk menginap di Sumber Alam. Padatnya jadwal menjadikan saya tidak sempat bertemu mereka apalagi menyempatkan diri pulang ke rumah yang jaraknya tak lebih dari setengah jam berkendara.


Saat meeting tersebut, karena pertanyaan terus bermunculan saya sampai interupsi dan bilang ke panitia kalau jadwal acara saat itu sudah melewati batas waktu dan mohon teman-teman lainnya tidak bertanya lagi. Hahaha. Ternyata banyak juga yang setuju dengan interupsi saya bahkan ada yang mengacungkan jempol dan bilang "Teh...Teh... mantap" wkwkwk, jelas aja dia setuju usut punya usut dia sedang mengejar deadline lomba blog yang akan tiba jam 12 tengah malam.


Setelah acara di ruang meeting selesai, saya langsung menuju kamar ibu dan bapak. Ternyata mereka sudah tidur. Nggak berani membangunkan saya pun kembali ke kamar. Teman-teman sekamar sudah ada yang mulai mengerjakan draft tulisan liputan masing-masing dimana deadlinenya besok jam 10 pagi. Berarti kami tidak punya banyak waktu untuk menyelesaikan tulisan sebanyak 2.500 kata. Hanya tinggal beberapa jam saja itu pun belum dikurangi oleh tidur. Yah namanya juga writingthon ya. Ibarat lari marathon nah kalau ini menulis yang marathon.


Writingthon Hari Terakhir


Subuh jam 4 pagi saya bangun dan mulai menulis. Sampai jam 6 Alhamdulillah bisa selesai 1400an kata.  Itupun sudah mentok. Semua hasil wawancara dan liputan sudah masuk semua. Blank nggak ada lagi yang harus ditulis. Selesai menulis saya meluncur kembali ke kamar ibu dan bapak. Karena di kampung banyak acara termasuk sedang berlangsung pilkades seluruh desa di Kabupaten Garut, maka ibu dan bapak pagi itu langsung pamit pulang.


Selesai mandi dan sarapan, semua peserta menuju ruang meeting kembali dengan laptop masing-masing dan mulai menulis. Tiba menjelang jam 10.00 WIB, panitia menyampaikan bahwa selesai tidak selesai, draft harus dikirim ke email panitia dan tulisan bisa dilanjutkan di rumah masing-masing sampai maksimal batas pengiriman tanggal 13 November. Alhamdulillah ternyata nggak harus selesai saat itu juga.


Jam 10 pagi acara writingthon Jelajah Kota Garut resmi ditutup. Saya dan teman-teman dari luar Pulau Jawa segera meluncur ke Jakarta untuk menuju bandara.


Alhamdulillah.


21 comments :

  1. Masya Allah, seru bangeeet, Mbaak. Itu tujuan kotanya ganti-ganti kah? Kalau mau daftar writingthon syaratnya apakah? Siapa tahu bisa ikutan daftar, hihi. Meski ntah lolos nggak, haha

    ReplyDelete
  2. hwaa seru jadi ikutan ngos2an berasa maraton yaa.
    ditunggu foto2 dan hasil liputannya

    ReplyDelete
  3. wah selamat ya kak.. Senangnya bisa ikutan acara ini.. Garut juga keren banget.. banyak hal yang menarik utk diulas dari garut

    ReplyDelete
  4. Wow, penasaran sama baso dodolnya, hihihi... Alhamdulillah ya hasil liputannya enggak harus selesai saat itu, bisa diutak-utak lagi...

    ReplyDelete
  5. Wah selamat Mba. Keren ikh. Berarti tulisan mba memang bagus. Aih jadi bikin aku kangen menang lomba nulis juga. Semoga kemenangannya bisa jadi lecutan untuk lebih semangat lagi ya mba ��. Semoga menang sampai terakhir ��

    ReplyDelete
  6. Seru banget acaranya Mba. Ikut deg degan baca terutama pas bagian nyasarnya hehee.

    ReplyDelete
  7. Asiknyaaaa
    TabarokAllah ya mba Lina.
    Aku beberapa kali denger info soal writingthon ini. Pengin ikutan, tapi kok.kagak pede yak hahahah

    ReplyDelete
  8. Wah event kayak gini bisa memicu semangat buat nulis kayanya. Karena mau nggak mau, bahkan saat nggak merasa mood pun, tetep harus nulis. Kalau ada kesempatan, rasanya pengen ikut jugaaa :D

    ReplyDelete
  9. Mengingatkan saya sama kejadian beberapa tahun lalu. Ada salah seorang juri yang cerita kalau dia membaca tulisan salah seorang peserta lomba yang bagus banget. Malah sebetulnya layak jadi juara 1. Sayangnya ada salah satu peraturan yang terlewat. Jadi kena eliminasi.

    Sangat disayangkan sebetulnya. Tetapi, menjadi pelajaran juga kalau sebagai peserta harus berhati-hati. Baca lagi peraturannya dengan teliti

    ReplyDelete
  10. Berartiii tulisan ini 2500 kata yes? Duh ini kalo jadi tulisan fiksi bisa 10 cerpen mulai dari si dia yang berkencan dan akhirnya jadian gara gara sekeping coklat chocodot, hingga jalan jalan romantis dengan sonagar! Epic!

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah ya, Mbak bisa ikut writingthon jelajah Kota Garut. Pasti dapat banyak pengalaman yang menarik dan menambah teman baru.
    Eh ternyata ada Kang Alee juga ya? Kok gak ada di foto? hihihi

    ReplyDelete
  12. Kebayang mba capeknya setelah seharian liputa, eh malamnya diskusi ga selesai-selesai. Padahal masih harus nulis juga ya :) Jadinya kangen-kangenan dengan orangtua ya cuma sebentar ya mba.

    ReplyDelete
  13. Garut ternyata menyenangkan yaaa. Bayanganku masih desa bgt dan no clue ada apa di sana.

    Sonagarnya lucu amaat ituh

    ReplyDelete
  14. Seruu banget ya Mbak Lina bisa ikut writingthon jelajah Garut. Yang jelas sih hebat karena bisa menyalahkan 2 ribuan peserta lebih.

    Saya tahu di Garut banyak tempat wisata dan indah. Tapi belum pernah ke sana. Kapan kapan pengin ke Garuut jugs aah.

    ReplyDelete
  15. Baru tahu tentang Candi Cangkuang ini. Tahunya Garut itu seputar dodol, gunung, kaya gitu. Senangnya berkesempatan jelajah wisata bersama orang-orang baru

    ReplyDelete
  16. Wah gimana kesan2nya setelah mengunjungi Garut Mbak? Semoga berkesan baik ya. Saya sering bulak balik ke Garut karna Bapak orang sana.

    Seru banget ya acara writingthon nya. Keren Mbak bisa sampe kepilih.. Salutt.

    ReplyDelete
  17. Huhuhu
    Itu bakpia kukusnya kebalik, Mbak hahaha #dibahas
    Ini writingthon pengen banget ikutin tapi tapi aku masih punya balita, hiks...

    ReplyDelete
  18. Aku penasaran dengan bakso dodol tuh gimana rasanya, mba. Senang ya bisa terpilih ikut writingthon jelajah Kota Garut ini, mbak Lina emang keren sih. Kalo nulis gitu detil namun tidak membosankan

    ReplyDelete
  19. WAh seneng yah bisa menjelajah kota Garut, ah saya jadi kangen sama Garut deh

    ReplyDelete
  20. Namanya aja keren banget yaa, kak Linaa...Writingthon.
    Berasa auranya saat menulis bersemangat dan berapi-api.
    Kereen, kak Lina.

    ReplyDelete
  21. Selamat mba jadi kpingin explore Garut ini,,,,, semoga Ada lagi yak lomba kyk gini apalagi klo tiap daerah

    ReplyDelete

Halaman ini dimoderasi untuk mengurangi spam yang masuk. Terima kasih sudah meninggalkan komen di sini.

My Instagram

Made with by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates