Senin, 27 Juli 2015

Menghabiskan Senja di Pantai Merah (Pink Beach) Pulau Komodo

Pink Beach
Menikmati Senja di Pantai Merah
Senja baru saja jatuh di pantai ini. Kegelapan akan segera menyergap dari seluruh penjuru laut. Sementara itu lembayung hanya berupa segurat jingga di balik pulau  yang menyimpan harta tak ternilai. Sebuah tempat yang menjadi  salah satu dari 7 keajaiban dunia  terbaru sekaligus merupakan  Situs Warisan Dunia yang patut dijaga dan dilestarikan. Ialah Pulau Komodo.

Di langit, tepat di atas laut yang masih  menyisakan  hijau tosca, awan bergulung-gulung. Bergumul melingkar-lingkar. Menurunkan aliran  hujan serupa air  terjun yang jatuh dari langit. Pemandangan indah sekaligus menggetarkan. Menciutkan nyali agar segera mempercepat langkah menjelajahi setiap sudut pantai ini. Cepat atau lambat awan hujan akan tergiring ke sini dan melumat kami dengan kuyup.


Pink Beach
Awan Hujan Mirip Air Terjun

Pink Beach
Pasirnya Lembut

Pantai Merah. Begitulah penduduk di sekitar Taman Nasional Komodo menyebut lokasi ini. Namun media, dunia maya,  dan pengguna sosial media kerap menyebutnya sebagai Pink Beach. Bukan tanpa alasan, sebutan keduanya  memang pantas disandang karena butiran pasir di pantai ini serupa serbuk berwarna merah muda. Selain warnanya yang menarik, tekstur pasirnya lembut seperti bedak. Saat kaki menginjak pasirnya, kelembutan langsung merayapi setiap saraf-saraf di telapak kaki.

Pemandangan dari Arah Bukit

Gelap sebentar lagi datang. Saya dan seorang kawan segera berlari menuju bukit di ujung timur. Bukit yang menghijau dimana dari sana kita dapat menyaksikan pemandangan 360 derajat ke sekeliling dengan penuh ketakjuban. Anugerah alam dengan bentangan laut dan perbukitan.

Pantai merah tidaklah terlalu luas. Sisi kiri dan kanannya dibatasi oleh bukit-bukit yang menghijau yang ditumbuhi rumput jarum dan ilalang. Bukit-bukitnya menghijau karena saat itu hujan kerap singgah. Sedangkan saat kemarau tiba, bukit-bukit berubah gersang, menguning bahkan memerah. Namun apapun perubahan warna di pulau dan bukit-bukit di Taman Nasional Komodo ini semuanya tetap indah menawan hati.

Pink Beach
Terumbu karang ini yang menyebabkan pasirnya berwarna merah muda (pink)

Meski tak puas menikmati senja yang sepotong ini,  hembusan angin yang membawa gulungan awan hujan membuat kami segera beranjak pergi dari ketinggian bukit. Separuh hati masih tertinggal di sana. Terlebih saat turun kembali ke pantai  dan mengamati perubahan warna pada pasirnya,  potongan terumbu karang yang terbawa ombak dari kedalaman lalu terhempas ke tepi pantai mulai tampak berserakan, bertebaran. Membuat hati penasaran.

Mesin kapal segera dinyalakan. Rintik hujan dengan bulir-bulir sebesar buliran padi mulai berjatuhan. Kami segera mencari perlindungan. Menutup sisi kiri dan kanan kapal dengan terpal yang sudah tersedia secara tergesa-gesa.

Dari kejauhan suara kapal lain mulai mendekat. Lalu menyentuhkan bibir kapalnya hingga berdempetan dengan kapal kami. Ardin, awak dari kapal yang kami tumpangi menerangkan bahwa kapal yang baru datang adalah kapal warga Pulau Komodo yang menjual barang-barang cindera mata. Sontak saja kami berdua melongokkan kepala ke kapalnya penuh riang dan gembira. Berhari-hari kami membincangkan dimana tempat membeli cindera mata khas Taman Nasional Komodo untuk dibawa pulang ke Batam. Dan senja itu cindera mata seakan mendatangi kami dengan sendirinya.

Patung komodo yang jadi salah satu kerajinan tangan
Berbagai cindera mata dari kerajinan tangan berupa gelang, kalung, pahatan kayu berbentuk komodo, asbak berulir patung komodo, dan aksesoris lainnya tersusun rapi memenuhi geladak kapal itu. Unik dan sangat menarik. Penuh sentuhan seni dan keuletan para pembuatnya. Tawar-menawar segera dilakukan. Si penjual tampak setuju dengan harga yang ditawar sehingga tak berapa lama sebungkus plastik kerajinan tangan telah berpindah ke kapal kami.

Hujan masih mengguyur lebat. Namun ombak di laut masih bersahabat. Kapal kami pun tetap melaju tenang menuju sebuah cerukan di sebelah barat untuk sandar dan menambat. Menghabiskan malam di ujung selat yang gelap pekat.   

17 komentar:

  1. saat hujan pantai pinkmasih telihat warna pinknya gak sih mbak? aku penasaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih dong Mak. Karena memang pasirnya yang berwarna pink, bukan efek cahaya.

      Hapus
  2. Balasan
    1. Iya dan langka mbak. Jarang nemu yang merah seperti ini

      Hapus
  3. Cantik bgt ...
    Hayuk kapan artikelnya dikirim ke media?

    www.alimuakhir.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengen banget Kang, mudah-mudahan segera :D

      Hapus
  4. Ingin kemari suatu saat nanti, mungkin akhir musim penghujan saat hujan tidak sering menyapa dan bukit masih terlihat hijau.

    BalasHapus
  5. Jadi pengen ksana,asik kali kalo seharian dsana.. Ada snorkeling jg g dsna?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Justru wisata scuba diving dan snorkeling yang menjadi primadona di sini Mas. Jauh-jauh bule datang hanya untuk melakukan 2 hal itu.

      Hapus
  6. Pantainya cantik ya mbaak, bersih jadi berasa pengen nyebur deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget Mbak. Saya juga pengen nyebur-nyebur cantik ala ikan duyung di sini haha..

      Hapus
  7. Balasan
    1. Iya ih mirip banget, saya juga kaget pas lihat langsung.

      Hapus
  8. Semakin menambah referensi tempat yang harus dikunjungi nich.... :)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...