Senin, 31 Agustus 2015

Asa Keliling Nusantara Bermula dari Gili Lawa


Perairan Pulau Gili Lawa Darat. Foto: Dokumen Pribadi

Pagi yang hangat dengan limpahan cahaya matahari di kota pelabuhan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Saya berempat dengan teman dan awak kapal mulai melaju menuju sebuah pulau yang berada dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Pulau yang dalam beberapa tahun terakhir ini teramat sangat ingin saya kunjungi. Pulau Gili Lawa Darat. Pulau yang perlahan muncul ke permukaan karena keelokan dan segala pesona keindahannya. Indah dengan gradasi air lautnya yang biru tua menenangkan dan biru turqoise yang kaya akan terumbu karang.

Kapal yang saya tumpangi melaju pasti membelah perairan yang tenang bagaikan kolam. Saking tenangnya karena tidak ada gelombang datang, saya merasa sedang mengarungi sebuah kolam, kolam raksasa. Tiba-tiba saja terngiang dalam ingatan sebuah petikan lagu Koes Ploes, grup band lawas era tahun  70-an.


Perarian yang Tenang Nyaris Tanpa Gelombang.  Foto: Dokumen Pribadi

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada topan tiada badai kautemui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Bukan lautan hanya kolam susu. Betul, sepanjang perjalanan rasanya yang saya sebrangi ini bukan lautan, namun kolam. Kolam yang menawan serta manis dalam ingatan. Manisnya seperti mereguk kolam susu. Saking tenangnya gelombang, awan yang tinggi di langit pun seakan sedang sedang bercermin.   

Setelah kurang lebih 2,5 jam perjalanan laut, kapal yang kami tumpangi berlabuh dan mengikat sauh pada pohon yang rimbun di sepanjang pesisir Pulau Gili Lawa. Pulau ini kosong tanpa penghuni dengan kontur berbukit dan seluruh permukaannya ditutupi oleh rumput jarum yang menghijau. Saat kemarau, rumput-rumput tersebut akan menguning lantas mengering. Lalu Gili Lawa dan sekitarnya tanahnya akan tampak memerah, warnanya dramatis bak lukisan.


Landscape dari Bawah Pulau


Bukit di Pulau Gili Lawa Darat


Jalur Menuju Bukit Jelas Terlihat


Saat melemparkan pandangan ke arah daratan, bukit-bukit tampak sunyi, hening, namun menggetarkan. Hanya kecipak ombak yang mengiringi langkah kami menuju ketinggian bukit. Saat mendaki bukit, sesekali langkah terhenti dan tak sabar membalikkan badan agar dapat terus-terusan merekam dalam ingatan dengan menyaksikan seluruh keindahan yang sangat sayang untuk dilewatkan. Ingin rasanya berjalan mundur seperti undur-undur agar dapat tetap menyaksikan pemandangan pada setiap pergerakan.  

Menuju Bukit Gili Lawa
Dari puncak bukit Gili Lawa, Saya memandang penuh kagum pada lukisan ilahi yag terhampar di hadapan. Tak sanggup berkata-kata lebih banyak lagi selain lantunan hamdalah. Mungkin seperti inilah tetesan surga yang bocor ke permukaan bumi. Sulit untuk mendeskripsikan dengan kata-kata atau tulisan.


Menulis Puisi saja tidak cukup :D
Perjalanan ke Taman Nasional Komodo sungguh merubah cara pandang saya terhadap lautan. Sebagai yang dilahirkan di lingkungan pegunungan, saya selalu menganggap lautan penuh dengan bahaya dan ancaman. Namun ternyata saya salah besar. Taman Nasional Komodo, khususnya perairan Gili Lawa mengajarkan saya tentang kekayaan laut Indonesia yang kaya. 

Komodo memang menjadi salah satu keajaiban dunia, namun satwa lainnya yang ada di perairan ini terutama yang hidup di dalam lautannya sangat berlimpah dan beraneka ragam. Berbagai jenis ikan dan terumbu karang merupakan salah satu bentuk kekayaan nyata bumi pertiwi yang harus kita jaga dan lestarikan.

Saya menyesal saat berkunjung ke Taman Nasional Komodo tidak sempat menyaksikan kekayaan bawah lautnya. Maka saya berniat suatu saat ingin kembali mengunjungi perairan ini untuk snorkeling dan diving. Selain itu setelah mengunjungi TN Komodo saya berniat untuk melanjutkan perjalanan menyusurui Pulau Flores dari Barat ke Timur mulai dari Labuan Bajo -Ruteng - Bajawa - Ende -Maumere - hingga Lembata.


Laut di Taman Nasional Komodo yang  Tenang
Banyak maskapai penerbangan yang menjangkau Labuan Bajo di antaranya seperti Wings Air, Lion Air, dan Garuda Indonesia. Semua flight tersebut bisa saya pesan melalui Airpaz. Karena tidak ada flight langsung dari kota tempat tinggal saya di Batam maka saya akan berangkat ke Labuan Bajo melalui Bali. Kebetulan saya sudah lama tidak berkunjung ke Pulau Dewata ini. Jadi sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Seandainya diberi kesempatan tentu saya akan memilih Garuda Indonesia sebagai maskapai pilihan saya. 

Banyak yang ingin saya gali dan pelajari dari perjalanan kelak mengunjungi Pulau Flores. Pulau yang awal semula bernama Flowers yang kemudian dalam pelafalan berubah menjadi Flores. Pulau dengan segenap potensi yang dipunyai menjadi salah satu destinasi impian yang ingin saya jelajahi. Desa-desa adat yang masih memegang teguh kebudayaan dan warisan nenek moyangnya, barisan pegunungan dan perbukitan yang eksotis, hamparan savana yang mempesona serta kekayaan kulinernya, sepertinya tidak akan habis untuk dinikmati. Sebuah kekayaan Indonesia lainnya yang tentu berbeda dengan kampung halaman dan kota tempat tinggal saya sekarang.

Saya sungguh penasaran ingin mencicipi kuliner pulau Flores seperti  jagung titi, kue rambut, ubi nuabosi. Namun yang sangat rindu ingin kembali saya cicipi adalah durian Manggarai yang sangat sedap di lidah. Saya mencicipinya sewaktu menunggu kapal di Labuan Bajo.

Oleh karena itu, jika saya mendapatkan tiket pesawat gratis dari Airpaz, saya akan mengunjungi Pulau Flores dan berangkat pertama kali dari Labuan Bajo. Selanjutnya overland melintasi Flores hingga pulang melalui Maumere. Dari Maumere pun banyak maskapai yang sejenis yang melayani rute ke berbagai kota di Indonesia.



25 komentar:

  1. Wah keindahan alam indonesia indah banget :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, indahnya laut dan perbukitan :D

      Hapus
  2. subhaanlloh...indahnya ciptaan Alloh...nikmat ya, teh ...bisa jalan jalan...kapan ya sayah...meni kabita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillha. Iya meni nikmat pisan berada di sana. Speechless Teh Eka teu tiasa nyarios nanaon deui :D

      Hapus
  3. Masya Allah indah bingiit, semoga menang mba lina...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin, makasih mbak. Yuk kita ke Gili Lawa!

      Hapus
  4. Aku lelah naik gili lawa ini, nyampe atas ngos2an ngak tahan hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biar ngos-ngosan juga kan banyak nafas bantuan Kak Cum haha....

      Hapus
  5. Masya Allah ya keindahan Indonesia itu. Luar biasa sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak. Banyak yang belum tahu keindahannya, makanya saya semangat ngeposin. Biar pada ke sana :D

      Hapus
  6. Masya Allah bagus banget . mbak pelayaran tanpa gelombang, itu gak ada ombak gitu ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Lidya. Nyaris ombak pun nggak ada. Permukaan lautnya itu tenaaaang banget kayak di kolam apa empang sebelah rumah gitu :D

      Hapus
  7. Balasan
    1. Haha...iya. Kalau udah kemari yang tempatnya instagramable banget :D

      Hapus
  8. MasyaAllahhh indanhnyaaa..
    asyiknya bisa jalan2 ya
    pengen juga

    BalasHapus
  9. Bukitnya ngingetin film teletubies :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banyak bukit-bukitnya yang mirip dengan bukit teletubbies :D

      Hapus
  10. Iya, banyak bukit-bukitnya yang mirip dengan bukitnya teletubbies :D

    BalasHapus
  11. Aku juga pengen balik lagi ke Labuan Bajo Mbak Lina. Sepotong hatiku tertinggal di sana soalnya :)

    BalasHapus
  12. Maasya Allah, indah banget. Kapan bisa kesana yaak? :))


    callmearsto.wordpress.com

    BalasHapus
  13. Tempatnya sangat menawan. Aku belum pernah ke sana. Foto-fotonya bagus banget mbak Lina. Jempol.

    BalasHapus
  14. wah ini salah satu destinasi impian saya

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...