Minggu, 25 Oktober 2015

Menjaga Sumber Air di Pulau Batam

Suatu waktu saya diajak oleh seorang teman,  seorang sukarelawan, mengunjungi anak didiknya untuk memberikan bingkisan alat tulis ke sebuah lokasi di kawasan Dam Duriangkang Batam.  Masyarakat menyebutnya dengan sebutan “Dam” karena tempat ini merupakan danau buatan yang membendung Teluk Duriangkang sehingga terpisah dari laut. Memang lebih tepatnya disebut bendungan, waduk, atau dam. Danau buatan seluas 23,4 kilometer persegi ini pada akhirnya berair tawar dan menjadi sumber air bersih utama bagi warga Pulau Batam di samping 6 dam lainnya. Yakni Sei Ladi, Sei Harapan, Muka Kuning, Sei Baloi, Tanjung Piayu dan Nongsa.

 
Anak-Anak Dam Duriangkang

Untuk mengunjungi anak-anak Dam Duriangakang, kami harus menyebrang menaiki perahu kecil yang didayung selama kurang lebih 10 menit. Teman saya menyebut lokasi ini dengan sebutan Pulau karena letaknya berada di tengah-tengah dam. Saya pun sempat terheran-heran karena selama belasan tahun menetap di Pulau Batam baru pertama kali itu mengetahui ada pulau di tengah dam. Pulau di tengah pulau. Namun pulau ini tanpa nama.

Bernyanyi Bersama Anak Dam Duriangkang


Pulau tersebut dihuni oleh lebih kurang 25 Kepala Keluarga yang hampir semuanya berada di bawah garis kemiskinan. Sebagian besar anak-anak di sana tidak sekolah atau tepatnya tidak disekolahkan oleh kedua orangtuanya. Karena itulah dengan suka rela teman tersebut mengajari anak-anak pulau agar dapat membaca dan menulis.

Sebagian besar penduduk pulau bermata pencaharian sebagai petambak ikan dengan membuka lahan-lahan tambak di kawasan sekitar dam. Sebagian lagi ada yang bercocok tanam sayuran. Warga yang tinggal secara ilegal di kawasan hutan lindung ini bahkan ada yang sudah bermukim selama 15 tahun. Sepanjang rentang waktu 15 tahun itu ternyata warga bebas melakukan apa saja di kawasan hutan lindung termasuk melakukan berbagai kegiatan MCK (Mandi Cuci Kakus) yang jelas-jelas akan mencemari air dam dan menurunkan standar baku mutu air. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan warga ini jelas-jelas merupakan sebuah pelanggaran.


Pemandangan dari Pulau di Dam Duriangkang

Penggusuran pemukiman warga di sekitar dam tentu akan memberikan dampak positif bagi kelestarian hutan namun jika melakukan penggusuran saja tanpa relokasi ke wilayah lain tentu warga pun akan enggan pindah. Mereka tentu bertanya mau pindah kemana, sementara biaya perumahan di Batam sangatlah tidak terjangkau untuk ukuran kantong warga miskin ini. Saat itu Belum ada tindakan tegas terhadap permasalahan ini sehingga dari tahun ke tahun kawasan hutan lindung di sekitar Dam Duriangkang mulai rusak. 400 hektar dari 1000 hektar luas hutan Dam Duriangkang telah digarap oleh warga, padahal seharusnya hutan sekitar dam tersebut berfungsi sebagai daerah resapan air yang akan menangkap air hujan sehingga menjaga debit air dam dalam kondisi stabil.

Menurut pasal 78 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999  tentang kehutanan, barangsiapa yang melakukan kegiatan ilegal di daerah hutan lindung, dapat dikenakan hukuman penjara paling lama 10 tahun serta denda sebanyak-banyaknya Rp 5 Milyar. Rasanya langsung ciut saja kalau membaca ancaman hukumannya ini, namun berbanding terbalik dengan fakta yang terjadi di lapangan. Warga seakan tak perduli dan bahkan tak tahu menahu dengan pasal dari Undang-Undang Kehutanan ini.

Sebaliknya dengan kondisi Dam Muka Kuning. Pada tahun yang sama, Saya melihat ada komitmen yang jelas dari pihak pengelola dam khususnya PT. Aditya Tirta Batam (ATB) sebagai pemegang konsesi pengelolaan air bersih di Pulau Batam untuk menjaga dam ini dalam kondisi yang terjaga. Pada setiap tepi dam dipagari dengan kawat berduri agar tidak ada warga yang seenaknya melakukan kegiatan-kegiatan yang dikhawatirkan akan merusak air dam. Selanjutnya bukit sekitar dam menuju arah Batu Aji yang dulu gundul telah ditanami pohon sehingga telah menjadi hijau dan asri. Begitu pun akses masuk ke dalam hutan di jaga oleh security.

Penyebrangan Menuju Pancur yang Masih Berair 

Pada setiap akhir pekan banyak pengunjung terutama para pelajar yang berwisata ke hutan di sekitar dam Muka Kuning karena tertarik dengan air terjun (warga menyebutnya Pancur) yang terletak di dalam kawasan hutan ini. Waktu itu saya melihat hutan sepanjang jalur menuju Pancur begitu terjaga dan sungai-sungai di hutan pun mengalir dengan deras walau tidak dalam kondisi musim hujan. Karena mungkin ada penjagaan maka di lokasi ini tidak ada pembukaan lahan hutan oleh warga. Ini menjadi satu bukti bahwa pemeliharaan hutan sekitar dam Muka Kuning saat itu berhasil.


Namun pada tahun 2015  ini, saat kami berkunjung kembali ke kawasan pancur, keadaan sungguh berbanding terbalik. Hutan di jalur menuju pancur terbakar. Air sungai di setiap penyebrangan turun drastis hingga ke dasar. Dan air terjun yang mengalir sudah tidak deras lagi.  Debit air di dam turun drastis dan bahkan sempat terjadi beberapa kali pemadaman air secara bergilir di seluruh kawasan Batam.

Dengan adanya beberapa waduk (dam) di Batam, pasokan air bersih hingga kini dapat dijaga namun tidak berarti akan terus tersedia jika saja masyarakat, pengelola, dan pemerintah tidak bersama-sama bersinergi menjaga kelestarian sumber air bersih di pulau ini. Kondisi yang menguntungkan adalah bahwa di Batam tidak dikenal namanya musim kemarau. Hujan datang kapan saja sehingga pasokan air ke dam-dam tetap tersedia. Namun hal ini harus dibarengi juga dengan pemeliharaan hutan sekitar dam dengan terus menggalakkan penghijauan (reboisasi) dan penjagaan hutan dari para penebang liar. 
Tahun ini kondisi alam di Batam benar-benar berubah dan tidak bisa ditebak. Hujan sudah jarang datang dan hutan-hutan terbakar. Meskipun sudah dipadamkan, kembali asap mulai menggempur dari Sumatera dan Kalimantan. Dan hujan tampak semakin enggan turun. Hanya bersabar dan tetap berdoa semoga semua ini segera berlalu.

4 komentar:

  1. Aamiin...
    aku baru tahu kl ada waduk di nongsa mbak...kapan hari pas masih di Siak sering banget lihat berita kl Batam lagi kekurangan stok air bersih,aduh lupa nama daerahnya...

    BalasHapus
  2. semoga sumber air bersih tetap terjaga ya, mba. biar lingkungan terjaga kelestariannya. :)

    BalasHapus
  3. Hal yang kompleks untuk mengurus ini. Tetap menjaga hutan adalah kebutuhan yang sangat penting, tetapi kehidupan masyarakatnya juga sangat penting. Jika bisa dicari solusi bagaimana pemanfaatan sungai menjadi lebih maksimal dan hutan tetap terjaga tanpa harus mengorbankan masyarakatnya. Apalagi sudah 15 tahun bermukim disana.

    BalasHapus
  4. sama mbak di sini juga, air sudah susah, panas dan beberapa gunung kebakaran, asap pun sudah sampai ke pulau jawa

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...