Saat Hampa
Kuhabiskan hari-hariku dengan kesabaran yang sakit
Mulut penuh udara memekikkan kehilangan pada ratusan maghrib
Kucoba untuk pahami apa arti kisah itu
Sebelum ini...
Diriku yang sekarang kurasa tak kauhiraukan
Bisa saja aku terima akhirnya
Wajahmu yang indah dan bermoral, kutermenung memikirkannya
Kisah selama hampa terus namun aku tak mengingatnya
Luka hati hanya sementara tak mungkin selamanya
Inikah yang sebelumnya harapan?
Aku hanyalah insan biasa
***
Puisi pemberian seorang teman saat Aku terpuruk. Terima Kasih Temanku Atem, puisi ini dulu menenangkanku, membuatku bertahan hingga kini.
Posting Komentar
Halaman ini dimoderasi untuk mengurangi spam yang masuk. Terima kasih sudah meninggalkan komen di sini.