Rabu, 21 Oktober 2015

[Kelas Inspirasi Batam] Memupuk Asa Anak-Anak Pulau Panjang

Pohon Cita-Cita
Suasana Pelabuhan Jembatan 2 Barelang pagi itu mendadak ramai oleh sekelompok anak muda yang mengenakan berbagai macam pakaian kerja seperti wearpack, kemeja, setelan jas, blazer, dan sebagainya. Pakaian yang mempresentasikan apa dan bagaimana pekerjaan mereka. Pakaian yang barangkali akan menginspirasi anak-anak Sekolah Dasar Negeri 009 di Pulau Panjang, Batam untuk mengejar cita-citanya di kemudian hari.

Mentari pagi sebenarnya belum beranjak tinggi. Sinarnya pun hampir tak tampak sama sekali. Pupus, terhapus oleh kabut asap yang sudah sebulan menggantung di langit Batam dan sekitarnya. Hanya menyisakan samar sebuah lingkaran berwarna oranye yang menggantung di atas langit. Namun, semangat paramuda yang menjadi relawan Kelas Inspirasi Batam Hinterland (KIBH) yang akan berangkat mengajar, memancarkan mentari lain yang cukup terang pada pagi hari itu. Sebuah harapan.

Senyum, tawa bahagia, dan celoteh serta canda para relawan seakan menghapus duka kabut asap yang menggantung di atas langit sana. Semangat mereka laksana riak ombak yang mendorong optimisme dan rasa percaya diri pada anak-anak yang akan dibimbingnya nanti. Meskipun hanya riak, tetap saja mereka adalah ombak. Yang menghanyutkan apa yang ada di atasnya. Yang perlahan merubah bentuk karang yang keras di tepi lautan.

Perahu telah melepas sauh, terguncang-guncang oleh sekumpulan ombak kecil yang menghantam haluan. Kami berduabelas orang duduk tenang sambil melempar canda pada seorang relawan muda kelahiran Batam, Puri, yang tampak pucat dan muntah-muntah karena mabuk laut. Mem-bully-nya karena ia tidak kuat menahan terjangan ombak yang tak seberapa besar di wilayah perairan, tempat dimana ia lahir dan dibesarkan. Beruntung Puri bukan tipe gadis yang ambekan. Ia tetap slow dan pandai membalikkan setiap kata-kata bullying yang diarahkan kepadanya.

Para Relawan Kelas Inspirasi 

“Puri, jadi siapa laki-laki yang harus bertangung jawab sampai kau muntah-muntah begitu?” Tanya Riki.
 “Looh, Kau nggak ingat ya Bang apa yang pernah kita perbuat minggu lalu?” Jawab Puri santai. Grrrr….tawa meledak di seantero kapal. Skor satu sama.

Sepuluh menit berlalu. Perahu pompong yang kami tumpangi mendekat ke sebuah dermaga kayu yang sempit dan tinggi. Namun karena air laut sedang surut, perahu hampir saja kandas. Kami pun batal berlabuh di situ dan mencari dermaga lain yang airnya cukup dalam untuk merapatkan perahu sehingga dapat segera menurunkan para penumpang.

Anak-anak kecil berseragam olahraga berlarian menyongsong kami. Lantas berbaris menyalami dengan takzim sambil mengulum senyum yang paling manis. Mas Andhi, menggiring mereka untuk kembali ke halaman sekolah. Ucapannya bak suara seorang guru yang paling dikagumi, serentak anak-anak segera berlarian kembali ke halaman sekolah. Antusias menunggu apa yang akan terjadi pada mereka nanti.
 
Murid-murid berkumpul dan dibariskan di halaman sekolah. Seluruh relawan KIBH kemudian memperkenalkan diri satu-persatu secara singkat. Setelah itu anak-anak masuk ke kelas masing-masing dengan penuh semangat. Tak kalah antusias dibandingkan dengan murid-murid, para relawan segera mengambil perlengkapan dan alat peraga masing-masing lantas menuju kelas yang telah ditunjuk.

Mengajar
Saya meminta mengajar di kelas 5. Dalam fikiran saya, anak-anak kelas 5 sepertinya mudah diarahkan dan tidak terlalu cuek bebek seperti anak-anak kelas 1 dan 2. Dalam hal pemikiran pun mereka akan lebih terbuka dan nyambung. Betul saja saat keluar dari kelas 5 saya merasa telah mengajar di kelas yang tepat sasaran.

“Assalamualaikuuum,” saya memberi salam lantas memasuki ruang kelas V yang senyap. Meskipun di sana belasan pasang mata tengah mengawasi dengan seksama. Berdiri di depan kelas, membuat saya sedikit gugup namun tetap berusaha untuk bersikap santai dan memulai kelas hari itu dengan perkenalan.

Hampir 50 menit mengajar sambil memperlihatkan alat peraga diselingi menyanyi, menari, tebak-tebakan, dan berpantun ria, saya kemudian mengakhiri kelas hari itu. Cukup terkesan dengan anak-anak yang sangat patuh dan mudah menurut. Tidak berisik  namun tetap responsif terhadap apa yang saya tanyakan.

Saya dan Anak-Anak Pulau Panjang

Bulan sebelumnya saya juga mengajar di kelas 5 di sebuah SD Negeri di Kota Batam. Namun karakter dan sikap anak-anak kedua sekolah ini sungguh berbeda jauh. Anak-anak Batam cenderung hiperaktif, lasak, dan selalu menyela di setiap pembicaraan. Berkali-kali siswa mengadu karena dijailin temannya. Sepertinya sebagian besar anak-anak ini kurang perhatian orang tuanya sehingga mencari perhatian lebih dari orang lain.

Berbanding terbalik dengan siswa kelas 5 di SD Negeri 009 Pulau Panjang. Siswa-siswa di kelas sangat tenang, kalem, dan menyimak apa yang saya utarakan. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati apa yang menyebabkan perbedaan sikap & perilaku anak-anak di kedua pulau yang berdekatan ini? Apakah anak kota terlalu haus perhatian sehingga begitu hiperaktif? Saya tidak bisa menyimpulkan secepat itu. Perlu faktor-faktor lain dan data yang real untuk membuat perbandingan. Namun, dari sini kita bisa membandingkan bahwa pola asuh anak-anak kota dan daerah pinggiran sangat mungkin berpengaruh pada sikap dan tingkah laku anak-anak tersebut.

Waktu mengajar telah habis. Saya berpamitan kepada siswa. Sesi kedua di kelas 5 diisi oleh Mas Wahyu, koordinator kelompok kami,  seorang pemuda yang sangat bersemangat dalam setiap event KIB.

Setelah para relawan selesai mengajar, acara dilanjutkan dengan game berupa lomba kekompakan dan teamwork dipandu oleh Mas Andhi dan Mas Iswan. Setelah itu diteruskan ke acara pembagian hadiah yang membuat anak-anak melompat kegirangan.

Serunya Bermain

Para Inspirator

Menjelang tengah hari, Kepala sekolah menjamu kami dengan makan siang. Aneh, makan siang hari itu terasa nikmat sekali. Padahal lauknya hanya dua jenis ikan. Ikan gulai dan ikan sambal hijau. Mungkin karena makannya secara bersama-sama dan sehabis capek mengajar maka kenikmatan makan siang hari itu terasa sangat berlipat-lipat.

Tidak lama setelah makan siang, kami pun berpamitan kepada kepala sekolah dan majelis guru di sana. Kembali ke Batam dengan penuh keceriaan. Tunai sudah satu bakti untuk berbagi dan menginspirasi. Semoga apa yang kami tanam di sana akan berbuah di kemudian hari. “Sehari mengajar, selamanya menginspirasi.”

Melompat Bersama



10 komentar:

  1. Jadi puri akhirnya di nikahi siapa ..? Atau dia main nya rame2 hahaha #GagalFokus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha nggak ada yang mau bertanggung jawab :D

      Hapus
  2. Pengalaman 3 kali mengajar di KI di 3 tempat yang berbeda, saya juga ngerasain apa yang teteh rasa... Anak-anak pulau cenderung lebih manis dan lebih mudah diarahkan. Mungkin faktor lingkungan juga yaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bisa jadi. Anak Pulau disuruh diam saja langsung diam tapi kalau anak Batam jangan harap deh :D

      Hapus
  3. wah seru ya mbak pengalaman mengajar anak-anak SD. Mbak Lina apa kabar? maaf aku baru bisa berkunjung lagi nih. Ombaknya besar ya mbak, Puri sampai mabok gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, Alhamdulillah baik saya juga dah lama nggak berkunjung ke blognya Mbak :D

      btw, ombaknya mah tenang tapi Emang Puri lagi kurang sehat saja

      Hapus
  4. biar sederhana mbak, kalo ikan buat saya sudah mewah itu, enaklah jadinya... Jadi kalo anak jail itu kurang perhatian ya mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ikan itu sajian istimewa sebenarnya. Anak yang jail banyak tingkah menurut saja iya, kurang perhatian.

      Hapus
  5. Gaya nulis teh Lina ini beneran deh kayak nulis novel biografi.

    BalasHapus
  6. Mungkin krn yg di pulau gak terlalu terkontaminasi gadget jadi lebih anteng

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...