Rabu, 10 Juni 2015

Mengunjungi Penangkaran Lumba-Lumba di Pulau Mencaras Batam

"Menunjukkan sirkus lumba-lumba pada anak, sama dengan mengajarkan bahwa peran lumba-lumba adalah menghibur manusia. #SaveDolphin." - @NGIndonesia

"Jika anda ingin menyelamatkan lumba-lumba keluarkan mereka dari aquarium, lepaskan mereka di alamnya. #SaveDolphin." - @NGIndonesia


Pulau Mencaras
Dua Lumba-Lumba Pulau Mencaras
Menyaksikan lumba-lumba berenang dari dekat tentu menjadi kesenangan tersendiri bagi siapa pun. Bahkan di sea world, aquarium raksasa serta sirkus keliling sekali pun masyarakat kerap berbondong-bondong demi menyaksikan aksi hewan terpintar di dunia ini. Tidak hanya anak-anak bahkan orang dewasa sekali pun sangat tertarik untuk menyaksikannya. Begitupun dengan kami sekeluarga.

Rupanya tidak banyak orang yang tahu bahwa di pulau kecil sekitar Batam, yakni di Pulau Mencaras, terdapat penangkaran lumba-lumba yang dikelola oleh sebuah perusahaan bernama PT. Piayu Samudra Loka (PSL). Perusahaan yang berpusat di Nagoya Batam ini sudah cukup lama beroperasi dan mengantongi izin Lembaga Konservasi dari Kementrian Kehutanan dengan nomor 379/Kpts-II/1999 (setidaknya itu yang saya baca di website Indonesia Zoo & Aquarium Association). PT. PSL berdiri pada tahun 1998 dan sembilan tahun kemudian membuka cabang di Bali.

Pulau Mencaras sendiri merupakan sebuah pulau yang tidak berpenduduk yang berada di kawasan hinterland Batam. Letak geografisnya berada di sisi tenggara Pulau Batam berdekatan dengan gugusan Pulau Air Raja, Kubong, dan Subang Mas.

Pulau Mencaras hanya dihuni oleh dua orang penjaga pulau yang tinggal di sebuah rumah permanen. Berdekatan dengan rumah penjaga pulau terdapat rumah-rumah pondokan yang sudah tidak dipakai lagi yang dulu sering dipakai warga Singapura untuk berlibur.

Pantai di Pulau Mencaras

Pulau ini semakin dikenal gara-gara tereksposnya lokasi penangkaran lumba-lumba melalui sosial media. Terlebih lagi pada event Creating Wonderful Kepri, sebuah ajang promosi wisata di Kepulauan Riau, mengadakan lomba dengan kategori Tour Pattern Competition (ajang kompetisi menciptakan paket wisata baru dengan memanfaatkan potensi lokal) dan salah satu pemenangnya adalah paket wisata dengan tujuan Pulau Mencaras dan Air Raja.

Saya dan keluarga beserta beberapa teman dari Komunitas Anak Pulau (yang juga bagian dari grup facebook Batam Traveler) sengaja mengunjungi pulau ini karena ketertarikan terhadap penangkaran lumba-lumba. Apalagi saya mempunyai anak kecil yang sangat penasaran bertemu lumba-lumba lagi. Dulu saja bela-belain datang ke Sea World Pulau Sentosa Singapura demi menyaksikan Pink Dolphin, dua ekor lumba-lumba albino yang kulitnya berwarna merah muda. Apalagi ke Pulau Mencaras yang hanya sepelemparan batu saja. Demi melihat anak senang sebisa mungkin akan kami penuhi keinginannya.

Kolam Lumba-lumba yang mirip keramba ikan

Dengan tanpa beban kami berangkat dan janji bertemu di pelabuhan tradisional dekat Pelabuhan Telaga Punggur, Batam. Sempat tunggu-tungguan karena saya lupa dimana persisnya. Terakhir menggunakan pelabuhan ini tahun 2004 sepulang kemping dari Pulau Anak Lobam. Pulang dengan pucat pasi karena gelombang tinggi. Pompong (perahu motor) yang kami tumpangi terseret mengikuti ombak hingga memaksa kami singgah di Pulau Ngenang. Menempuh waktu sekitar 2 jam hanya untuk mencapai Telaga Punggur.

15 menit kemudian saya dan teman-teman Anak Pulau telah berkumpul. Ternyata Pelabuhan tradisional yang saya maksud adalah Pelabuhan Kampung Tua Telaga Punggur. Setelah mencari tempat parkir (membayar Rp. 5000,- per motor) kami menyewa pompong seharga Rp. 300.000  pulang pergi pada Pak Herman, nelayan yang rumahnya berada di tepi Pelabuhan Kampung Tua.


Semula Pak Herman ragu, apakah akan diberi izin masuk ke pulau atau tidak oleh penjaganya. Namun teman-teman saya meyakinkan bisa karena minggu sebelumnya rekan kami dari Komunitas Anak Pulau diperbolehkan masuk dan berfoto-foto di penangkaran lumba-lumba.

Menyentuh Pulau Mencaras

Hammock-an bikin ngantuk, diayun chila tambah lagi ngantuknya :D
Angin semilir menyambut saat kami menginjakkan kaki di pasir putih yang lembut. Pohon-pohon rindang disertai bangku-bangku panjang begitu menggoda untuk segera kami datangi. Hammock/ayunan dari jaring menggelantung di dahan, menanti untuk digelayuti. Saya segera beranjak menuju rumah penjaga pulau untuk meminta izin. Namun sayang sekali kami hanya diberi waktu selama 2 jam saja.

Di dekat pantai terdapat sebuah kolam yang berisi dua ekor lumba-lumba yang diberi nama Nikita dan Nairus. Pada sebuah papan yang terpasang di tepi pantai tertulis beberapa peraturan bagi pengunjung pulau, salah satunya adalah tidak boleh menyentuh lumba-lumba.

Chila, anak saya, yang sudah penasaran dari kemarin-kemarin, sepertinya sudah tak sabar ingin segera melihat lumba-lumba. Saat saya dan teman-teman asyik berfoto-foto di pantai, Chila berjalan sendirian menyusuri pelantar menuju kolam. Penjaga yang mengawasi dari pintu rumah terlihat panik lalu berjalan sambil menunjuk-nunjuk Chila. Ia khawatir Chila tercebur ke kolam lumba-lumba karena tidak ada yang mengawasi. Saya yang menangkap kekhawatiran penjaga langsung mengikuti Chila, dan voilaa.... dua ekor lumba-lumba  berenang mendekati kami. Berdiri, berputar-putar, menyelam, mengepakkan sayap dan mencipratkan air ke arah kami. Duh lucu dan pintar-pintar. Pantas saja mamalia ini disebut sebagai hewan terpintar di dunia. Chila terlihat sangat senang. Saya pun tak kalah riang. Duh seumur-umur baru kali ini menyaksikan lumba-lumba dengan jarak kurang dari 1 meter.

Pulau Mencaras
Pelantar menuju Pulau Mencaras

Suasana makin riuh saat semua rekan-rekan saya mendekat. Nikita dan Nairus makin lincah dan mencari perhatian. Kami yang saat itu belum mengetahui nama keduanya saling bersahut-sahutan memanggil mereka dengan sebutan macam-macam. Choty, Chaya, dan Rina sahut-sahutan memanggil dua ekor lumba-lumba itu dengan sebutan sesukanya. Ada yang berteriak memanggil Cinta, Rangga, Raisa dan Raiso :D, semua asyik mengabadikan kelincahan keduanya tanpa ada perasaan terbebani sedikit pun.
Ngerumpi adalah menu utama siang-siang :D

Anak Pulau dan Anak Rantau :D

Saya begitu terkenang akan kedua lumba-lumba ini. Betapa pintar dan mengertinya mereka. Berenang mendekat, berputar, berdiri dan bermanuver dengan menggelepar-geleparkan badannya menyamping. Dan yang lebih surprise lagi ketika datang seekor lumba-lumba lainnya berputar berenang di luar jaring kolam. Mungkin dia datang karena dipanggil atau terpanggil untuk menyelamatkan kawan-kawannya di dalam kolam.

Nikita dan Nairus dengan segala perilakunya, entah apa yang ingin mereka sampaikan karena setelah kepulangan kami ke rumah, sebuah pesan masuk ke inbox. Pesan dari seorang aktifis menyentak kesadaran saya sebagai makhluk sosial. Ia juga menyentil dalam komentarnya di foto lumba-lumba yang saya unggah di media sosial. Foto itu menceritakan Chila yang sedang bertepuk tangan karena lumba-lumbanya bisa berdiri.


Hwaaaa.....sungguh saya merasa tidak enak. Seperti tertampar rasanya. #Plak #Plak #Plak. Kemana saja sih gue selama ini? 

Akhirnya saya googling tentang gerakan kampanye #SaveDolphin dan akhirnya mendapatkan pencerahan tentang ini. Thanks Mbah Google. 

Kampanye penyelamatan lumba-lumba tidak terlepas dari seseorang bernama Richard O' Berry mantan pelatih lumba-lumba yang 180 derajat berubah haluan menjadi pembela lumba-lumba dengan kampanyenya tentang pelepasan lumba-lumba di penangkaran dan penghapusan sirkus keliling.

Pada tahun 2013 Ric O' Berry pernah datang ke Jakarta untuk memberi dukungan penuh kepada Jakarta Animal Aid Network (JAAN), sebuah organisasi yang giat mengkampanyekan gerakan penyelamatan lumba-lumba. Bahkan sebelum itu telah terjadi MoU antara Departemen Kehutahan dengan JAAN untuk melindungi, merehabilitasi, dan melepas lumba-lumba yang ditangkap dan dipelihara secara ilegal di Indonesia.

usaha yang luar biasa karena Ric O' Berry harus berhadapan dengan korporasi-korporasi yang tentu saja merasa dirugikan dengan gerakan dan kampanyenya ini. Saya pun terhenyak setelah menonton film dokumenter The Cove yang dibintangi Ric O'Berry yang menceritakan pembantaian lumba-lumba di Taiji Jepang. Saat pembantaian terjadi air laut pun berubah berwarna merah. Merah oleh darah ratusan lumba-lumba.

Pemandangan ke tengah Pulau Mencaras

Apakah penangkaran lumba-lumba di Pulau Mencaras ilegal?  Saya tidak tahu. Seperti yang sudah saya tulis di paragraf kedua perusahaan yang mengelola pulau ini memiliki izin dari pemerintah. Namun bagai pisau bermata dua, penangkaran seperti ini baik legal maupun ilegal tetap saja akan mengakibatkan hal buruk bagi lumba-lumba sang penjelajah lautan karena didera depresi.

Tujuan penangkaran adalah untuk menjaga keberlangsungan hewan agar tidak punah dengan salah satu upayanya yakni pengembangbiakan. Namun jangan sampai penangkaran dijadikan kesempatan untuk mempekerjakan lumba-lumba ke dalam lingkaran hewan sirkus.

Pulau Mencaras
Sisi lainnya

Langkah paling bijak tentunya adalah melepas lumba-lumba ke lautan. Mereka sungguh tidak memerlukan uluran tangan manusia jika sudah berada di habitatnya. Ia akan berenang jauh, mencari makan, melindungi diri dan menjelajah bersama kelompoknya. Mereka akan hidup alami tanpa campur tangan manusia.


#SaveDolphin



26 komentar:

  1. Jika sedang di atas kapal atau perahu, saya sering berharap bertemu lumba-lumba yang menemani.. itu hanya sekali tahun 1999.. sekarang susah sekali melihat lumba2 yang mau berenang mendekat.. mungkin benar mereka mulai menghilang ditangkap orang dan stress dipenangkaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, susah menemukan lumba-lumba keliaran di perairan pulau-pulau. Bisa jadi populasi lumba-lumba menyurut drastis karena pembantaian habis-habisan Mas.

      Hapus
  2. Penangkaran baik untuk menjaga kelangsungan hidup, tapi saat di latih ini itu kasihan juga ya mbak lumba-lumbanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul. Kasihan lumba-lumba hanya jadi mesin pencari uang kalau sudah dilatih ini itu.

      Hapus
  3. Setuju banget penghapusan sirkus keliling, kasihan lumba2 nya ngak bisa bebas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo bikin tweet rame-rame tentang #SaveDolphin Kak Cumi

      Hapus
  4. Karena sejatinya, memang binatang seperti lumba - lumba itu akan lebih bahagia kalau hidup bebas di alam liar :)

    BalasHapus
  5. Sirkus keliling tuh, aduh, tepuk jidat deh, bulan kemarin ada di Bandung. Semoga pemerintah makin terbuka untuk melarang sirkus keliling lumba-lumba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Indonesia kabarnya adalah negara terakhir di dunia yang masih menyelenggarakan sirkus keliling lumba-lumba Teh. Negara lain sudah dihapus.

      Hapus
  6. Biasanya lihat lumba lumba pas di taman safari atau sea world, yang atraksi gitu. Seklainya lihat lumba2 dialama bebas waktu ke karimun jawa. Lebih seneng happy lihat mereka bebas riang gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak. Seru ya lihat lumba-lumba hidup di alamnya. Bebas merdeka. Kasihan banget yang masih terkurung di Sea World :(

      Hapus
  7. Asiknyaaaaaaa.... Pinginnnn berenang bareng lumba2 euy....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya saya juga kepengen :D tapi berenangnya di laut lepas biar lumba-lumbanya happy

      Hapus
  8. hammock di pantai asyik bener :D
    zahra pernah dicium lumba-lumba di pulau bidadari. lumba-lumbanya hanya 1 ekor, kasian. next pengen liat lumba-lumba pink ah, karena aku suka pink :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah...ciuman pertama ya? qiqiqi....Saya malah ngelihat lumba-lumba pink ini kasihan banget Neng. Hidup sempit di Sea world Sentosa.

      Hapus
  9. Pantai2nya bagus banget mbak. Bening dan bersih.
    Dulu kalo liat lumba-lumba biasanya di Ancol.
    Sekarang pingin liat lumba-lumba di laut lepas seperti di Kiluan Lampung :)

    BalasHapus
  10. Jadi inget film Happy Feet yang menggambarkan perasaan hewan saat dikurung di kebun binatang ya...

    BalasHapus
  11. memang melihat hewan di habitat asli jauh lebih menyenangkan daripada hidup terkurung di kebun binatang.

    BalasHapus
  12. Aku pernah ngeliat lumba-lumba di laut lepas waktu mancing di Laut Cina Selatan dulu.. Itu aja rasanya udah seneeeeeng banget. Ternyata waktu ke Mencaras bisa ngeliat lebih deket lagi. Semoga yang di Mencaras itu beneran penangkaran lumba-lumba yang tujuannya untuk kelangsungan hidup lumba-lumba, bukan sebagai kedok yang sebenarnya hanya bertujuan untuk melatih lumba-lumba sebelum nantinya dipekerjakan sebagai lumba-lumba sirkus :(

    BalasHapus
  13. musti ke sini nih, soalnya aku sukaaaa banget sama lumba2 <3

    BalasHapus
  14. Lumba-lumba, hiu harus diselamatkan. Kadang nyesek juga kalau liat ada orang makan hiu, padahal hiu nya masih baby -_-

    BalasHapus
  15. Wah lumba-lumbanya cantik jadi pengen kesana. Memang kasihan lumba-lumbanya tapi kalau dilepas takut juga kalau punah tanpa kita sadari. Pilihan memang sulit

    BalasHapus
  16. Di perairan selatan pulau galang baru, kadang kami jumpai lumba-lumba liar berwarna abu-abu dan pink. sudah 2 kali saya lihat di permukaan laut ketika berangkat menyelam

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...