Jumat, 05 Juni 2015

Pulau Buluh Batam, Tempat Mudik Dikala Tak Bisa Pulang Kampung

Setiap jelang lebaran, mudik selalu menjadi pilihan dan menu wajib bagi para perantau seperti kami. Namun karena beberapa faktor, terutama faktor keuangan dan cuti kerja, maka tidak setiap tahun kami bisa pulang kampung. *Belum juga puasa udah ngebahas mudik :D

Pelabuhan Sagulung

Jika lebaran tidak pulang kampung ke Garut atau ke Depok, biasanya kami sekeluarga selalu berkunjung ke Pulau Buluh. Bersilaturahmi mengunjungi rumah mertua tetangga yang sudah kami  anggap saudara sendiri. Pulau Buluh ditempuh dengan menggunakan perahu motor (pompong) dari Pelabuhan Sagulung Batam selama kurang dari 10 menit. Ongkos yang berlaku sebesar sepuluh ribu rupiah. 

Mertua tetangga saya ini merupakan sepasang PNS. Si Bapak yang kami panggil dengan sebutan Yai bekerja di Kantor Kecamatan Bulang sedangkan istrinya yang biasa kami panggil Nyai bekerja sebagai pengawas di Dinas Pendidikan di Sekupang Batam. Jika hari kerja Senin hingga Jum'at Nyai dan Yai selalu pulang ke rumah anak cucunya di perumahan tempat kami tinggal, dan jika Sabtu Minggu, mereka pulang ke Pulau Buluh. Namun saat bulan puasa tiba, maka anak dan cucunyalah yang pulang ke Pulau Buluh.


Sasa dan Lala
Tetangga saya punya anak kembar perempuan yang lucu dan gendut-gendut. Si kembar ini namanya Sasa dan Lala. Mereka berdua hampir setiap hari bermain dengan Chila. Nah jika Sasa Lala sedang pulang ke Pulau Buluh, Chila suka uring-uringan karena tidak ada kawan main. Dan jika Chila diajak ke Pulau Buluh senangnya bukan kepalang.


Rumah Nyai dan Yai

Rumah Nyai dan Yai berada di sisi sebelah barat Pulau Buluh. Hanya satu menit berjalan kaki dari pelabuhan sudah sampai di depan rumahnya. Rumah yang luas dengan arsitektur  tempo doeloe. Kaca dan jendelanya masih menggunakan kaca nako dengan besi-besi melintang sebagai teralis.

Di sebrang rumah Nyai dan Yai terdapat warung yang menjual jajanan anak-anak. Chila dan si kembar Sasa Lala biasanya membeli beberapa snack atau permen. Namun saat hari terik anak-anak paling tertarik dengan minuman pop ice. Penjaga warungnya seorang kakek Tionghoa yang tampak masih cekatan. Dengan bertelanjang dada ia tampak bersabar melayani pelanggan cilik yang antri di depan meja dagangnya.

Chila sedang menunggu pop ice jadi

Perlahan Kakek menuangkan pop ice, air putih dan es batu ke dalam blender manual lalu mencampurnya dengan susu dan coklat. Semua bahan diaduknya dengan memutar blender secara cepat. Para pelanggan cilik sudah tak sabar menanti pop ice segera jadi. Tampak mereka bercakap-cakap dengan si Kakek. Saya yang menangkap interaksi antar anak-anak dan Kakek tua itu menjadi terenyuh.

Setelah siap para pelanggan ciliknya berlarian senang sambil memamerkan seplastik pop ice di tangannya msing-masing. Tidak ada larangan makan es hari itu, semua orang tua mafhum Pulau Buluh begitu panas dan membuat gerah bukan kepalang. Bukan karena sudah tidak ada lagi pepohonan yang rindang yang menaungi pulau, namun karena pulau ini merupakan pulau kecil yang dikelilingi oleh lautan. Jadi hawa laut yang panas sangat dominan.


Kegiatan apa yang menarik dilakukan di Pulau Buluh?

Jalanan Pulau Buluh yang Lengang
Bosan mengobrol ngerumpi sana-sini, biasanya saya dan suami mengelilingi pulau satu putaran. Terdapat jalan berplester semen selebar kurang lebih dua meter yang mengelilingi tepian pulau. Tidak ada kendaraan bermotor di jalanan Pulau Buluh, jadi bisa dipastikan angka kematian karena kendaraan bermotor di sini adalah nol :D so, jangan khawatir untuk berjalan di tengah-tengah jalan. Boleh sambil jinjit-jinjit atau salto sekalipun. Tidak ada yang akan menabrak kamu. Atau mungkin bisa juga latihan berjalan ala peragawati yang melenggang di atas catwalk.

Banyak hal unik yang saya jumpai dalam perjalanan berkeliling ini. Mengamati denyut kehidupan anak-anak pulau yang sedang bermain-main. Menyaksikan pemandangan ke pulau sebrang dimana Batam begitu sesak dengan industri galangan kapal. Atau mengamati interaksi dan terlibat dalam obrolan dengan penduduknya yang bersuku Melayu dan Tionghoa. Mengunjungi mesjid bergaya khas melayu dan vihara yang keduanya  berusia ratusan tahun. Potret keharmonisan umat beragama di tanah yang luasnya tidak kurang dari 5.500 kilometer persegi ini.


 

14 komentar:

  1. Jadi kangen niih.. Udah lama gak ke Pulau Buluh. Dulu pernah diajak mampir di rumah Pak Amran, salah satu tekong di Pelabuhan Sagulung. Belum kesampaian ngeliat klentengnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Viharanya bagus Dee. Nyaman banget. Saya sampai terkantuk-kantuk ketiduran di dalamnya :D Soalnya ada bangku-bangku tempat duduk yang view-nya langsung ke Pulau Bulan. Di pinggir lautnya ada tempat sandar boat.

      Hapus
    2. Aku ngeliat klentengnya dari laut, teh.. Dulu cuman sempat singgah di masjidnya...

      Hapus
  2. ternyata mbak Lina dari jawa barat juga ya asalnya :) seger banget siang-siang minum pop ice ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Lidya, Lina ini Asgar ---> Asli Garut :D

      Hapus
  3. Gimana ya rasanya tinggal di pulau kecil gitu ya mba, kalau cuaca laut kurang bagus, sembako juga terhambat kirimnya ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau cuaca buruk Mbak, air laut tumpah hingga jalan-jalan dan sampah menggenang hinga halaman rumah. Ngeri. Namun untungnya pulau ini dekat dengan Batam jadi tidak terlalu kekuarangan pasokan kebutuhan pokok, yang kasihan itu yang jauh di pelosok ujung-ujung yang jaraknya 1 hingga 2 jam dari Batam. Pasokan bahan2 pokok terhenti.

      Hapus
  4. Sebagai anak perantau aku juga mulai merasa galau liat harga tiket, mbak :D
    Belum pernah ke Batam dan sekitarnya nih, baru wacana mulu hihi

    salam kenal dari Bangka ya, mbak Lina :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aiih...makasih sudah mampir Mbak Anggi. Salam kenal juga. Senangnya dapat kenalan orang Bangka.

      Hapus
  5. Sebutan Nyai dan Yai itu sama dengan sebutan kakek nenek di tempatku mbak :)

    Sasa dana Lala ngegemesin tampangnya. Chila asyik mengamati Yai bikin pop ice. Penasaran kah dia mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah hihi...itu panggilan bagi orang Palembang ya.Pantesan saya nggak ngeh soalnya bukan bahasa Melayu juga. Sasa Lala ini bulet dan gendut-gendut ngegemesin memang :D

      Chila nggak sabar nunggu Pop Icenya jadi :D

      Hapus
  6. asri banget pemandangannya.........

    BalasHapus
  7. Gw selalu ngebayangin hidup di pulau yg sepi dan lenggang, kira2 betah nya berapa hari hahaha

    BalasHapus
  8. Uiiidih... Kembar ya... Imut2 lagi..!

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...