Minggu, 23 Agustus 2015

Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng

Patak Banteng
Patak Banteng adalah sebuah desa di dataran tinggi Dieng Jawa Tengah yang dianugerahi pemandangan gunung, bukit-bukit dan hamparan sawah serta kebun yang sangat indah. Dengan jalur pintas yang pendek menuju Gunung Prau yang ditempuh tidak lebih dari 3 jam, pendakian  melalui desa ini selalu ramai dan sangat diminati oleh pendaki dari berbagai daerah di Indonesia.

Begitu pun saya bertiga dengan suami dan putri kami yang turut mencoba mendaki melalui jalur ini. Semula, kami hendak mendaki Gunung Merbabu, namun suami yang sudah pernah ke sana mengatakan bahwa jalur Merbabu sangat panjang. Kami khawatir Chila akan kecapekan, bosan dan suntuk. Hingga akhirnya kami banting stir memutuskan untuk mendaki Gunung Prau saja yang lebih pendek. Hitung-hitung  fun hiking  atau kemping ceria saja meskipun kami sudah mafhum pendakian kali ini akan sangat luar biasa ramai karena bertepatan dengan libur 17 agustusan. Pendakian Gunung Prau termasuk yang paling diminati di negeri ini, menurut penduduk Patak Banteng pada festival Dieng tahun lalu saja ada sekitar  8 ribu orang yang melalui jalur ini, sedangkan dua jalur lainnya yakni jalur Dieng dan Temangung belum termasuk hitungan.

Setelah menempuh perjalanan turun naik bis dari Yogyakarta - Magelang – Wonosobo – Patak Banteng Dieng selama kurang lebih 5 jam kami tiba di desa yang indah itu. Tepatnya jam 2.30 siang, kami baru tiba di Patak Banteng. Menyaksikan gerombolan pendaki yang beriringan di jalan-jalan desa membuat hati semakin tak sabar ingin segera ikut larut dalam pendakian kali ini.

Perhentian Bis Pendaki di Patak Banteng

Patak Banteng
Tinggal Nyebrang dari Sini
Saat turun dari bis seorang bapak-bapak menyongsong dan menanyakan apakah butuh porter atau tidak. Saya langsung mengiyakan karena memang sudah berencana akan menggunakan jasa porter agar kami lebih konsentrasi menjaga Chila selama pendakian.

Setelah membeli air mineral dan nasi serta lauk untuk makan malam, kami melapor ke pos pendakian dan membayar tiket masuk sebesar Rp.10.000 per orang. Setelah itu naik ojek menuju pos I, melintasi rumah penduduk serta ladang. Ongkos ojek hanya Rp.10.000 padahal jalur yang ditempuh lumayan jauh dan curam.

Rombongan Pendaki

Dari Pos I kami berjalan kaki menuju pos 2. Jalur berupa jalan setapak yang sangat berdebu. Namun manakala membalikkan badan ke belakang, pemandangan di bawah sana sungguh menyegarkan mata. Meskipun senja telah menyapa, namun panorama tampak jelas dari ketinggian. Baru saja memulai pendakian, kami sudah beristirahat di sebuah warung di tepi kebun.

Foto Keluarga dulu :D

Patak Banteng
Jalan di Desa Patak Banteng
Namanya ngajak anak kecil jadi harus ekstra hati-hati, penuh kesabaran, dan perhatian. Salah-salah dikit bisa berabe. Seperti sore di warung itu. Chila mendadak mengeluh sakit perut. Saya menduga karena ia telat makan. Jam makan di sekolahnya adalah jam 10.15 dan jam makan di rumah jam 2 siang. Namun hari itu dari jam 9.30 hingga jam 2.30 sore kami berada dalam kendaraan.  Beli nasi pun saat sudah sampai di Wonosobo dan makan dalam perjalanan menuju Patak Banteng. Sementara Chila saat ditawari makan malah menolak meski sudah dirayu dengan berbagai cara. Mungkin karena tidak terbiasa makan dalam kendaraan. Padahal sarapan pun hanya susu murni dan sereal saja. Duuuh, gawat. 

Chila saat melintasi jalur di perkebunan penduduk

Semakin lama warung semakin ramai oleh pendaki yang beristirahat. Bangku-bangku kayu di tepi warung pun sudah penuh. Chila masih mengerang kesakitan. Ayahnya mengelus-elus perutnya menggunakan minyak kayu putih, sementara saya terus menjejali mulutnya dengan nasi dan telur.

Warung
“Turun ajalah. Nggak usah jadi naik gunungnya!” Kata Chila. Waaaksss? Saya dan suami saling berpandangan. Duuuh…kalah sebelum bertempur nih. Kami mendadak bingung. Untung perlahan sakit perut Chila mulai mereda seiring banyaknya nasi yang masuk ke perutnya. 15 menit berlalu dan ia telah pulih seperti semula. Ceria tanpa bekas. Ah…si manja memang bikin khawatir saja. Chila kemudian digendong oleh ayahnya dan langsung diajak naik.

Pemandangan ke Bawah 

Karena antrian cukup padat, saya kesusahan mengejar keduanya. Cukup lama setelah melewati ratusan pendaki, baru terlihat Chila dan ayahnya sedang bergerak naik, namun kali ini Chila tidak digendong, dia berjalan dituntun dan ngoceh-ngoceh  penuh semangat. Wohooo….Alhamdulillah.

Adzan maghrib sudah berlalu semenjak di warung tadi. Gelap mulai merayapi setiap sudut gunung. Lampu senter dan head lamp mulai dinyalakan. Debu jalur pendakian tampak berhambur ke udara di terangnya cahaya. Membuat sesak pernafasan. Setiap satu pendaki melangkahkan kakinya, debu langsung mengepul ke atas. Meskipun saya mengenakan masker namun tetap saja abunya membuat sesak di hidung dan perih di mata.

Sunset

Pos 2 dan 3 terlewati. Chila masih tetap semangat. Terlebih beberapa pendaki yang bertemu dengannya menyapa dan memuji-mujinya. Seperti doping, pujian itu semakin memacunya tambah semangat dan terus melangkah naik. Lupa sudah kalau tadi maghrib pernah sakit perut sampai-sampai menyerah minta turun.

Suara adzan isya berkumandang. Terangnya lampu-lampu tenda membuat kami mendadak bahagia luar biasa. Alhamdulillah sudah tiba di kawasan camping ground di sekitar puncak gunung Prau. Dan saya terkejut luar biasa. Ternyata kami termasuk Chila hanya butuh waktu sekitar  2 jam untuk sampai di kawasan puncak. Alhamdulillah.

Kami segera mencari-cari lokasi yang pas untuk mendirikan tenda. Lumayan susah karena dimana-mana sudah penuh. Namun akhirnya nyempil dekat cerukan. Lumayan tidak terlalu terpapar oleh angin karena terhalang kontur gunung yang berbukit.

Rumah sementara kami :D
Setelah tenda berdiri rapi, Chila pun tidur dengan nyaman berlapiskan jaket dan rompi serta dua sleeping bag. Karena hangat ia sama sekali tak terbangun meskipun di luar angin dingin begitu kencang menerpa. Padahal kami khawatir ia terbangun-bangun dan rewel seperti saat bermalam di Ranu Kumbolo Gunung Semeru.

Alhamdulillah, bearti jaket dan rompinya cocok sehingga menjaga suhu tubuhnya tetap hangat.

Malamnya saya menikmati malam bertabur bintang di gunung Prau.


Rincian Biaya:
Bis Yogyakarta - Magelang : Rp.20.000
Bis Magelang - Wonosobo: Rp 25.000
Bis Wonosobo - Patak Banteng: Rp 20.000
Tiket masuk jalur pendakian: Rp.10.000
Sewa Porter per hari : Rp. 150.000




28 komentar:

  1. Bener-bener pendaki tulen neh. Selamat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Kang Ali. Huhu lupa jawab komen di postingan ini

      Hapus
  2. Chila keren banget looohh... tante aja blm pernah nih ke Gunung Prau :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Mbak Niek, dia ternyata kuat

      Hapus
  3. Alhamdullilah sudah ke Prau, saya belum bisa sampe sekarang mbak Lina. Kemarin diajak teman teman, tapi kok tanggalnya nggak cocok. trus ini diajak tg5, tapi kok aku sudah balik ke India. hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak kalau mau ke Indo lagi kabarin daku, pengen naik bareng

      Hapus
  4. Pengalaman hebat buat anak hebat. Semoga kelak sehebat ayah ibu ya Chila :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin, makasih Mbak Rien :)* kecup-kecup

      Hapus
  5. Pas ngeklik foto pertama dan jadi besar ukurannya aku jadi makin naksir Prau ini. Indahnyaaaaaaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Embeeer Yan. Semoga dapat orang Wonosobo atau Dieng jadi bisa main ke sini haha

      Hapus
  6. ternyata beli makanan dulu untukmakan malam ya mbak, kirain masak gitu hehehe maklum yang aku inget kemping waktu pramuka mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sebenarnya bisa masak juga sih Mbak tapi biar cepat nyampe cepat makan wkwk... *pendaki malas

      Hapus
  7. Cuaca disana lagi bagus gak ? Denger denger lg ada hujan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang hujan Mas Farhan. Haha iyalah udah Desember. Komen kapan dibalas kapan. *jitak kepala sendiri

      Hapus
  8. Pak cuaca di prau lagi bagus apa enggak ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau mau naik gunung prau paling pas waktu bulan agustus sampai oktober mas. pokoknya waktu musim panas aja, biasanya di musim itu langitnya cerah, jadi bisa lihat sunrise

      Via jalur pendakian patak banteng aja

      Hapus
  9. Cuaca disana lagi bagus gak ? Denger denger lg ada hujan

    BalasHapus
  10. Balasan
    1. Keluarga ceria dan bahagia juga Neng. Tambahin :D

      Hapus
  11. ini keren. Keluarga pendaki.
    ijin reshare artikelnya y mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan Mas Edy, dengan senang hati :D *Maaf baru balas komennya

      Hapus
  12. pingin ke prauuu... next, minta ikut mba lina yaaa...

    BalasHapus
  13. Wuiih... Aku harus belajar banyak dari Mba Lina ini soal pendakian.
    Btw, patak banteng ini memang jalur paling simpel yang pernah dicoba

    BalasHapus
  14. bagus artikel nya , buat referensi juga y mba

    BalasHapus
  15. kayaknya pendaki bener ini , ngikut belajar gan,,,,he

    BalasHapus
  16. Keren mbak Lina, naik gunung prau bersama keluarga, waaaaaaaaaaah,, keren bu kereen :)

    paling enak naik prau itu memang via jalur pendakian patak banteng, hehehe mantap.

    BalasHapus
  17. Keluarga hebat...pngen pnya anak kyk chila....😊😊😊😊😊

    BalasHapus
  18. kapan ya bisa ke gunung prau lagi. suerrr di sini tu sunrisenya bagus bet... asliiii. ga boong gan.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...