Ini adalah tulisan lanjutan dari kedua bagian cerita pendakian ke Gunung Pinatubo yang sudah saya posting sebelumnya. Silahkan klik jika tertarik untuk membacanya.
Pada cerita sebelumnya, pendakian kami sudah sampai di rest station yang masuk ke dalam wilayah Botolan Provinsi Zambales, Filipina. Sebagaimana saya tulis di postingan pertama, bahwa Gunung Pinatubo berada di perbatasan tiga provinsi yakni Tarlac, Zambales dan Pampanga. Kami berangkat dari Desa Santa Juliana, Kotamadya Capas, Provinsi Tarlac dan saat itu sudah tiba di provinsi yang berbeda.
Kota Capas di Provinsi Tarlac merupakan gerbang menuju Gunung Pinatubo yang paling terkenal. Pinatubo sebenarnya dapat diakses dari dua provinsi lainnya yang saya sebutkan di atas, namun rute Zambales membutuhkan waktu 16 jam dan jalur dari Pampanga tidak mencapai tepi danau.
Jalur yang dilewati setelah shelter (Botolan Pinatubo Rest Station) Zambales cukup rimbun. Kami melewati jalan setapak yang di kanan kirinya terdapat berbagai jenis tumbuhan. Di jalur ini kami tidak lagi menyusuri badan sungai O'Donnell yang merentang sejauh lebih kurang 23 kilometer dari pos pendaftaran hingga ke shelter. Kini kami melalui jalur yang teduh dengan semak belukar dan pepohonan. Kebanyakan masih pohon-pohon kecil seperti tumbuhan pakis, ilalang dan tumbuhan perintis lainnya. Beberapa pohon yang ditemui ada yang sedang berbuah mirip pohon duku atau menteng. Hanya saja buahnya tidak dapat dimakan.
Danau Kawah Gunung Pinatubo |
Pada cerita sebelumnya, pendakian kami sudah sampai di rest station yang masuk ke dalam wilayah Botolan Provinsi Zambales, Filipina. Sebagaimana saya tulis di postingan pertama, bahwa Gunung Pinatubo berada di perbatasan tiga provinsi yakni Tarlac, Zambales dan Pampanga. Kami berangkat dari Desa Santa Juliana, Kotamadya Capas, Provinsi Tarlac dan saat itu sudah tiba di provinsi yang berbeda.
Kota Capas di Provinsi Tarlac merupakan gerbang menuju Gunung Pinatubo yang paling terkenal. Pinatubo sebenarnya dapat diakses dari dua provinsi lainnya yang saya sebutkan di atas, namun rute Zambales membutuhkan waktu 16 jam dan jalur dari Pampanga tidak mencapai tepi danau.
Jalur yang dilewati setelah shelter (Botolan Pinatubo Rest Station) Zambales cukup rimbun. Kami melewati jalan setapak yang di kanan kirinya terdapat berbagai jenis tumbuhan. Di jalur ini kami tidak lagi menyusuri badan sungai O'Donnell yang merentang sejauh lebih kurang 23 kilometer dari pos pendaftaran hingga ke shelter. Kini kami melalui jalur yang teduh dengan semak belukar dan pepohonan. Kebanyakan masih pohon-pohon kecil seperti tumbuhan pakis, ilalang dan tumbuhan perintis lainnya. Beberapa pohon yang ditemui ada yang sedang berbuah mirip pohon duku atau menteng. Hanya saja buahnya tidak dapat dimakan.
Semakin mendekati kawasan puncak, vegetasi mulai berubah. Pepohonan mulai berkurang, pemandangan semakin terang dan jelas. Sebelum mencapai dataran puncak, kami harus menaiki sekitar 50an anak tangga yang tak urung membuat nafas ngos-ngosan. Di dataran ini banyak pepohonan yang ditanam dengan rapi dan jalan yang dilalui pun sebagian di-paving dengan rapi.
Beberapa pengunjung tampak sedang berfoto dengan latar danau kawah Pinatubo yang berwarna tosca. Semakin medekat ke area tebing danau kawah, semakin bahagia rasanya. Masya Allah ternyata memang indah suasana di sini. Bukit-bukit dan tebing di sekitar puncak yang menghijau serta danau kawah yang terbentang di bawah sana sungguh membuat badan yang capek dan lelah mendadak tak terasa apa-apa. Kerinduan akan aktivitas mendaki gunung yang sudah lebih dari dua tahun terhenti kini terbayar sudah.
Saya dan Reny kemudian mendekati sisi tebing danau kawah Pinatubo yang dipagar. Tak lupa saya mengucapkan selamat kepada Reny karena sudah berhasil mendaki gunung. Ini merupakan gunung pertama yang ia daki seumur hidupnya. Melihat kebahagiaan atas pencapaiannya, saya pun jadi turut gembira. Menurutnya, pendakian Gunung Pinatubo ini merupakan pencapaian yang luar biasa. Alhamdulillah kalau seperti itu. Karena semula, saya khawatir ia akan mengeluh dan menyesal.
Para Pengunjung sedang berfoto |
Sepuluh menit berada di bibir danau sungguh waktu yang sangat pendek. Padahal saya ingin berlama-lama menikmati suasana danau seluas lebih dari 170 hektar yang romantis ini. Menikmatinya walaupun hanya sendirian. Semilir angin, bukit dan tebing-tebing yang mengelilingi, riak permukaan air serta warna danau yang begitu menghanyutkan sungguh membuat saya betah berlama-lama. Namun karena Ryan sudah berpesan bahwa kami hanya punya waktu 1 jam saja di kawasan puncak, saya harus bergegas. Mengalahkan egoisme dan romantisme yang baru saja tercipta di sana. Karena perjalanan turun gunung juga membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam. Begitu pun perjalanan dari Santa Juliana kembali ke Manila yang masih 2 jam perjalanan berkendara. Jika bersantai-santai kami akan tiba di Manila terlalu malam.
Tangga turun ke danau |
Danau ini sebenarnya adalah kawah atau kaldera yang berada di tengah-tengah gunung. Kaldera yang cukup dalam yang menyisakan kekosongan karena saking dahsyatnya letusan yang terjadi pada tahun 1991 silam. Letusan ini menyebabkan dapur magma terkuras semua. Kemudian hari demi hari berlalu. Tahun demi tahun berganti, kaldera yang kosong kemudian terisi oleh air hujan hingga permukaannya semakin tinggi. Jika dibiarkan, maka permukaan danau akan mencapai tebing yang menjadi bibir kaldera yang mengelilinginya dan akan menyebabkan longsoran. Terjadi bencana lain yang baru. Karena hal tersebut, pemerintah Filipina kemudian membuat aliran air danau mengarah ke Zambales yang membuang air danau hingga tidak semakin meninggi.
Bibir Danau |
Di Danau Kawah Pinatubo pengunjung dilarang berenang. Meskipun airnya tampak biru jernih menggoda, namun sangat berbahaya. Berperahu kayak, canoe atau bersepeda air juga tidak diperbolehkan. Air di danau ini mengandung zat beracun seperti belerang atau sulfur yang tidak baik jika terhirup dan masuk ke dalam tubuh.
Jam menunjukkan pukul 11.30 saya pun beranjak naik. Meskipun menaiki tebing yang cukup tinggi, saya tak merasa capek karena berjalan perlahan dan sebentar-sebentar berhenti. Terlebih saat berhenti kerap menengok ke arah belakang dimana pemandangan danau Pinatubo selalu menghiasi.
15 menit kemudian saya tiba. Reny dan kedua guide kami sudah menunggu. Setelah minum dan ngemil makanan ringan, kami pun turun untuk menempuk jarak kurang lebih 5 km hingga perhentian jeep.
Tiba di Santa Juliana kami diajak makan siang di warung yang sudah ditunjuk Ryan. Sesuai permintaan sejak awal booking trip ini, kami meminta makanan halal. Jika tidak bisa, maka kami meminta makanan laut atau ikan dengan cara meamsak di bakar atau dikukus. Cukup cerewet memang namun itulah usaha kami menjaga agar makanan yang kami santap tetap halal. Alhamdulillah Ryan selaku pihak YOLO Travel menyanggupi permintaan kami. Di warung tersebut, kami makan nasi dengan lauk cumi kukus dan ikan bakar. Ada dua jenis sayur juga yang dimasak berkuah.
Alhamdulillah akhirnya wish list untuk mendaki Gunung Pinatubo pun berhasil dicentang. Masih banyak wish list gunung lainnya yang ingin saya daki. Seperti gunung-gunung di Sulawesi, Flores, Kalimantan dan Papua. Semoga saja dengan menuliskannya di sini akan menjadi doa sehingga terkabulkan suatu saat nanti.
Makan siang yang telat |
Alhamdulillah akhirnya wish list untuk mendaki Gunung Pinatubo pun berhasil dicentang. Masih banyak wish list gunung lainnya yang ingin saya daki. Seperti gunung-gunung di Sulawesi, Flores, Kalimantan dan Papua. Semoga saja dengan menuliskannya di sini akan menjadi doa sehingga terkabulkan suatu saat nanti.
Bagaimana caranya bisa ke Gunung Pinatubo?
Dari Jakarta atau kota lainnya di Indonesia bisa naik pesawat ke Manila. kalau dari Batam atau kota-kota lain di Sumatera, bisa melalui Singapura, Johor dan Kuala Lumpur yang biayanya lebih murah dibanding harus terbang ke Jakarta terlebih dahulu. Ketika booking tiket untuk Reny, saya mendapatkan harga promo yang sangat murah dari Cebu Pacific.
Setibanya di Manila, banyak agen perjalanan yang mengatur trip ke Gunung Pinatubo. Umumnya tur dibuat dalam sehari. Trip ini mencakup transportasi dari dan ke Capas termasuk juga sewa jeep hingga Crow Valley di atas gunung. Biaya yang dikeluarkan biasanya all in termasuk biaya transportasi, guide lokal, makan siang dan biaya untuk pelestarian lingkungan yang dibayarkan di pos pendaftaran di kantor pariwisata di Santa Juliana, Capas.
Jika ingin mencapai Capas atau Tourism Office (Pos pendaftaran Gunung Pinatubo) tanpa agen perjalanan, teman-teman bisa menaiki bis dari Metro Manila yang melewati Capas dalam perjalanann ke Baguio, Dagupan atau Lingayen. Tersedia juga bis dari Pasay atau Cubao, Quezon City dengan nomor P90 dengan jarak tempuh 2-3 jam. Tarif berkisar 170 hingga 180 peso. Minta diturunkan di Mc.Donalds di persimpangan Jalan Raya MacArthur, Capas.
Saat diturunkan di Mc. Donnald Capas, naik taksi roda tiga atau tricycle yang dapat disewa seharga 300 peso hingga pos pendaftaran di Desa Santa Juliana. Bisa juga mencari tricycle di Jalan Santo Domingo 1 atau di luar pasar umum di Tizon Drive. Untuk lebih jelasnya bisa menghubungi Kantor Pariwisata di Santa Juliana di nomor + 63-947-391-2134 atau + 63-45-925-0112. Mereka memiliki perincian biaya secara detail.
Numpang Selfie ya pemirsaaah 😂 |
Akhirnya dengan pendakian, menemukan sesuatu yang indah,rasanya ploong, lelahnya ilaang yaa.
BalasHapusBtw beneran cantik banget Danau kawah di puncak gunung pinatubo ini ya Mba, betah deh berlama-lama, ootede, menyepi, huhuuuuu..
Perjalanan yang asik pake banget.
Aih jadi salfok sama foto terakhir, itu sudah pake masker geuningan xixixi...Seneng ih jalan-jalanya seru nih..
BalasHapusDanaunya keren banget ya. Meski tripnya lumayan sulit tapi destinasinya indah. Lina udah bisa nih bikin buku khusus pengalaman travellingnya
BalasHapusSubhanallah mbak, bagus-bagus banget pemandangannya aku nggak sabar pengin traveling after Corona :)
BalasHapusBelum pernah ke Filipina, tapi suatu saat pasti bikin itinerary juga kesini
HapusWah, indah banget pemandangannya yah mbaaak. Semua lelah dan capek kayaknya langsung sirna yah ketika melihat yang indah-indah kayak begitu.
BalasHapusEnaknya pake tour tuh, ada yang udah ngatur jadwal biar semua serba tepat waktu yah, kalau mengikuti keinginan hati kayaknya pengen berlama-lama di satu tempat pun diikutin aja, akhirnya malah kemaleman dan gak sempat ke tempat lain hahaha *pengalaman pribadi*
Itu kan daunya mengandung sulfur ya, Mbak. Berasa bau belerang banget gak sih saat di sana?
BalasHapusnga kuat...
BalasHapusitu view danau kawahnya aslik, juara banget, sih mba:'
Karena beracun ga ada ikannya ya? Padahal lihat gambar mirip danau segara anak ya...
BalasHapusAlhamdulillah Indonesia mah danau akibat letusan gunung berapi juga masih bisa jadi habitat ikan
Berkah buat masyarakat sekitar dan para pengunjung
Masyaa Allah pemandangannya keren banget
BalasHapusDanaunya cantik tapi ternyata kita nggak boleh main2 air di situ ya
Subhanallah, indah banget ya gunungnya. Gunung dan pepohonan yang hijau dengan langit yang biru. Huhu… bikin aku kangen jalan-jalan ke gunung lagi. Walopun bukan gunung di Filipina :)
BalasHapusMasha Alah indah banegt danaunya mbak. Kangen main di luar semoga cepat berlalu pandemi ini.
BalasHapusSelama ini, kalau baca cerita tentang Filipina, seringnya ketemu cerita soal Manila. Baru kali ini ada cerita soal gunungnya. Seperti sisi lain Filipina.
BalasHapusMasyaAllah pemandangan di Danau Kawah Gunung Pinatubo indah sekali ya, Mbak.
BalasHapusJadi ingin cepat bisa mengunjungi keindahan alam lagi, deh! Semoga pandemi ini bisa segera berakhir
Danau Pinatubo ini cantik banget, sisa-sisa letusan gunung vilkanik ya mba. Berasa inget ke Bromo klo di Indonesia. Semoga kelar Corona bisa traveling lagi, ingin ke sana juga.
BalasHapusYa ampun cantik banget pemandangannya. Pengen sekali-kali nyobain naik gunung kayak gini
BalasHapuswaduuh cakep banget sih warnanya ya mbaak tosca gitu warna kesukaankuu.. filipina emang punya banyak bentang alam yang menarik ya, dia juga negara kepulauan kayak indonesia :D
BalasHapusMasyaAllah, danaunya bagus banget mbak, bersih dan biru. Kayaknya beneran terawat ya mbak. ada yang pernah mandi di sana ga mbak? biasanya kalau udah banyak yang tahu tempat beginian, bisa rusak huhu sedih.
BalasHapusBagusnyaaa...mashaAllah~
BalasHapusTernyata Pemerintah Filipina sangat memperhatikan sektor wisata yaa...terbukti dengan dibuatkan trek yang memudahkan para pendaki untuk mendaki Gunung Pinatubo.
Bener banget Leen..
Hapusjadi kapan kita nyusul Mba Linna ke danau niih, kita menyepii..
Pemandangannya memang cantik bangeeet ya mba..dan ini dilakukan saat cuaca cerah yaa. Beautiful sky!
BalasHapusMasya Allah, kawah Pinatubo yang berwarna tosca itu cantik.
BalasHapusSaya penasaran dengan Mbak Reny waktu membaca postingan di Filipina itu ... yang dibilang sama warga setempat seperti artis. Akhirnya lihat fotonya di sini hehe.
Mba Lina super kece deeeh... Pasti fisiknga wajib kuat banget ya bs smp ke atas...
BalasHapusBtw langitnya lg cerah bgt itu ya kayaknya...
Perfect bgt
Worth it
Iya bener Mba. Yg suka mendaki gunung pasti fisiknya kuaat. Ohya Mba Lina, coba unduh aplikasi di PlayStore yg klo kita foto tanaman asing nanti keluar penjelasan tentang tanaman itu. Aku jadinya penasaran juga pohon apa itu ya
HapusSuka banget liat danaunya...bersih...jalurnya juga udah enak banget kayaknya kak..Jadi pengen kesana hahaha
BalasHapusMasya Allah ini cantik banget danau kawah gunung Pinatubo, bisa dimasukan dalam catatan nih. Siapa tau nanti bakalan jalan-jalan ke Filipina juga jadi sudah ada gambaran mau kemananya.
BalasHapuswarna danaunyaa eksotis. pemandangannya bikin adem hati. trek pendakiannya juga dirawat dng baik ya
BalasHapusKalau sekadar nyelupin kaki aja di danau itu juga gak boleh ya, Mbak. Suka dengan warna danau dan pemandangan di sekelilingnya
BalasHapusAduh jadi mupeng deh mau kesana. Ternyata Manila bisa jadi alternatif liburan ya. Tapi kuat ga ya saya naik sampai kepuncaknya. Secara Mba Lina yang kurus aja ngos-ngisan apalagi saya.. xixixi.
BalasHapusPemandangan danaunya luar biasa indah ya, Mbak. Pengenya langsung nyebur aja. Tapi karena dilarang dan berbahaya, hanya bisa menikmati pemandangannya dari atas saja ya...
BalasHapusYa Allah Maaak, danaunya indah banget. Stay di sana 10 menit mah ga berasa. Kurang lama. Ku juga pengen maen ke sini niiih. Aamiin ya Allah
BalasHapusAkhirnya aku baca juga lanjutan perjalanan ke puncak gunung Pinatubo, Masya Allah cantiknyaaa. Bener juga ya mba, duduk memandang air danau yang biru menghanyutkan bisa berlama-lama kalo nggak diingatkan. Airnya beneran menggoda pengen disentuh
BalasHapusDanaunya cakep banget ya tidak sia-sia datang dari jauh untuk menikmati keindahannya..duh kapan ya bisa jalan bareng Teh Lina, seru..
BalasHapusmaasyaaallah mba ini danah kawah di puncak gunung pinatubo Filipina mengingatkanku sama Manado dan Sulawesi Utara, bagus banget
BalasHapusngak apa makan siang telat mba, asal masih nemu ansi, hahaha. Btw itu jalan tangganya sudah permanen ya Mba, jadi ini kayaknya sejak dulu udah dipkirin. jadi mudah buat jalan ke sana.
BalasHapusPemandangannya subhanallah cantiiik bangeet. Mbak Lina ini emang top ya. Mendaki aja sampai Filipina.
BalasHapussenenegnyaaa yang kmrn bisa jalaj jalajn kemana mana.. kalo pengen jalan2 ya palingan deket sja a. ga jauh2
BalasHapusWohoo, masyaallah kece banget kak... Ya pemandangannnya, ya ceritanya, ya petualangannya. Namanya juga unik ya, Pinatubo, mengandung kesan banget... Someday kalau diberi kesempatan main ke Filipina boleh dicoba juga jalan2 ngebolang ke sini...
BalasHapusCantiknya danaunya bersih dan jernih.
BalasHapusKak Lina fisiknya tangguh banget yaa...Aku kalau naik gunung juga berenti-berenti. Sampai kalau uda kelewat lelah, suka kasih semangat sama diri sendiri "Ayoo...Len, dikit lagi...sampai."
Pemandangan danaunya cakep banget ya, sayang cuma bisa dipandang, nggak boleh nyemplung atau main2. DEstinasi yang menarik nih, aku udah ngikut baca perjalanan dari awal.
BalasHapusMasha Allah indah banget. Semoga pandemi covid ini segera berlalu yaa! Biar kita semua bisa hidup normal dan mengunjungi lebih banyak lagi destinasi wisata cantik di negeri ini!
BalasHapusMasya Allah indahnya ya pemandangan Danau Pinatubo jadi kangen jalan-jalan. Salut dengan blogger yang suka travelling, seru banget ya.
BalasHapusSubhanallah bagus banget itu kawahnya, seneng ya bisa keliling duu auto mupeng pengen terbang kesana
BalasHapus