Selasa, 15 September 2015

Indahnya Gunung Prau via Jalur Dieng

Gunung Prau via Dieng
Pohon & Langit Biru 

Gunung Prau Jalur Dieng – Hari semakin beranjak siang. Langit pun semakin membiru menaungi perbukitan yang bergerumbul di kanan kiri jalur yang kami lintasi. Barisan pepohonan yang tumbuh satu-satu semakin menandakan bahwa Jalur Dieng Gunung Prau ini sedikit gersang. Rumput-rumput kering di perbukitan adalah tanda dari kemarau yang berkepanjangan. Debu yang mengepul di setiap langkah menjadi bagian dari ujian kesabaran. Sabar menahan nafas dan sabar menahan amarah dikala debu beterbangan saat melangkah.

Saya berjalan cukup pelan di belakang rombongan. Chila yang semula menyertai saya akhirnya bosan dan memilih berjalan bersama ayahnya. “Kenapa sih Bunda foto-foto mulu?” komplainnya.

Mengejar Ayah

Sepanjang perjalanan turun melintasi jalur Dieng, pemandangan di sekeliling sangat luar biasa. Pepohonan dan perbukitan tampak eksotis. Bahkan di beberapa tempat bukit-bukitnya menyerupai bukit Teletubbies membuat saya terus-terusan mengarahkan kamera.


Gunung Prau via Dieng
Bukit Teletubbies
Dalam perjalanan turun, kami kerap berpapasan dengan berbagai kelompok pendaki yang hendak naik. Jalur yang cenderung landai, berumput, dengan pemandangan pedesaan yang memanjakan mata, menjadikan jalur Dieng adalah jalur pendakian yang sangat indah.

Di beberapa lokasi kami juga melewati beberapa tenda yang dipasang di sepanjang tepi jalur. Mungkin para pendaki yang kemalaman sehingga terpaksa membuka tenda dan menginap di sana.

Chila dan ayahnya semakin tidak tersusul. Entahlah, saya yang lambat atau Chila yang berjalan sangat cepat. Demi mengejar ketertinggalan itu saya sedikit berlari sambil sesekali memotret jika pemandangan yang ditemui sangat menarik perhatian.

Perlahan Chila dan ayahnya yang bergandengan tangan mulai terlihat. Saat itu Chila sama seperti saya mengenakan Rok Panjang Semula saya berniat melepas rok panjangnya itu takut ia merasa ribet. Namun ternyata tidak. Dengan rok panjangnya Chila justru terlihat anggun, manis, dan kuat. Malah semakin lincah bergerak.Samalah kayak bundanya haha. Syukurlah. Beberapa hari itu Chila memang terobsesi untuk berdandan mirip saya. Dari cara berjilbab hingga mengenakan rok panjang. Pokoknya mau kayak Bunda katanya. Duuh berasa senang dong saya punya penggemar cilik :D.

Selain mengenakan rok panjang berwarna biru, dandanan Chila saat itu colorful banget. Jaket hijau dan rompi biru bulu angsa, slayer oranye menyala, kerudung biru dan pink, topi Dora berwarna pink, serta tas frozen berwarna ungu. 

40 menit kemudian, kami tiba di sebuah puncak perbukitan dengan pemandangan ke arah Dieng yang sangat jelas terlihat. Telaga warna tampak menghijau diantara garis-garis ladang penduduk dan rimbunnya pepohonan yang mengelilinginya.

Pemandangan Dieng dari Puncak Gunung Prau
Gunung Prau via Dieng
Bersama Bunda:D

Gunung Prau Jalur Dieng
Beristirahat Bersama Ayah

Saat beristirahat di puncak bukit itu, tak sengaja saya dan Chila berjalan mendekat ke sebuah tugu. Di tugu tertulis puncak 2565 MDPL. Huwaaa…. ternyata tugu tersebut merupakan titik triangulasi Gunung Prau. Baru tau, beneran. Semula kami kira puncaknya Prau itu terletak di tempat kemarin menginap yang berhadapan langsung dengan Gunung Sindoro Sumbing. Ternyata inilah puncak Gunung Prau yang sebenarnya. Tak melewatkan kesempatan, kami pun berfoto-foto bertiga ala keluarga bahagia :D

Puncak Gunung Prau
Chila di Puncak Gunung Prau

Setelah beberapa menit beristirahat Chila mengajak kami segera turun. Duh luar biasa nih anak. Nggak ada capeknya. Baru sebentar istirahat kami disuruh jalan lagi. Demi dia, akhirnya perjalanan dilanjutkan. Pukul 11.45 kami tiba di hutan cemara yang tinggi-tinggi dan berdaun lebat. Sepanjang jalur hutan cemara terasa sejuk karena tajuknya yang sangat rimbun. Jalur dari hutan cemara mulai menurun drastis. Selain jalan tanah yang berdebu jalur diselingi bebatuan yang menuntut para pendaki untuk semakin waspada.

Pukul satu siang, kami tiba di ladang warga Dieng. Dan itu artinya kami sudah dekat dengan pemukiman. Butuh waktu 25 menit berjalan kaki dari pintu masuk jalur Dieng dan ladang-ladang ke arah rest area Pendaki di dekat terminal.

Di rest area, kami mandi bersih-bersih, setelah itu sholat dzuhur sebelum makan siang dan melanjutkan perjalanan ke Desa Sembungan di kaki Gunung Sikunir.

Di Puncak Bukit hanya Tersisa Satu Batang Pohon


Kemah

Para Pendaki Ramai Beriringan

Sampai di Ladang

Dieng

7 komentar:

  1. ya ampun chilaaaa..keren banget,bener2 ngikut jejak ibu bapaknya nih hehehe

    BalasHapus
  2. pakai rok panjang tidak menghalagi melakukan aktivatas apapun ya mbak. Itu foto yang pertama jadi inget little house deh

    BalasHapus
  3. saya pengeeeennn kesini. Bener-bener butuh piknik nih saya :D

    BalasHapus
  4. Chila kuat jalan ya mbak, niru mamanya banget, suka naik gunung. Semoga suatu saat saya bisa mengajak dua jagoan saya naik gunung kayak Mbak Lina.

    BalasHapus
  5. waaa hebat chila kemana2 pake rok...sampe ke gunung jugakk

    BalasHapus
  6. Pemandangannya memang favorit banget deeh kalau jalur sini..

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...