Menelusuri Jejak Sejarah Desa Adat Kampung Pulo dan Candi Cangkuang Garut

Situ Cangkuang Leles Garut
Situ Cangkuang Leles Garut


Kampung Pulo merupakan kampung adat yang terletak di sebuah pulau di tengah-tengah Situ (Danau) Cangkuang. Situ ini berada di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Posisi kampung yang berada di tengah pulau itulah yang kemudian disebut masyarakat sekitar sebagai Kampung Pulo. Jika dalam Bahasa Indonesia, pulo diartikan sebagai pulau. 


Menurut tour guide yang mendampingi kami, luas semula Situ Cangkuang adalah 25 hektar. Namun karena terjadi sedimentasi di sisi barat danau, maka area tersebut menjadi dangkal sehingga dijadikan lahan persawahan oleh masyarakat. Melintasi persawahan ini, terdapat jalan kecil yang menghubungkan daratan dengan Kampung Pulo. Luas danau saat ini diperkirakan hanya tinggal sekitar 11 hektar saja. (Luas pengukuran menggunakan measure distance di google map). 


Hal yang menarik dari Kampung Pulo adalah terdapatnya sebuah candi Hindu yang diperkirakan berasal dari Kerajaan Galuh Pasundan. Mengikut nama lokasi dimana ditemukannya di kawasan Situ Cangkuang maka candi ini dinamakan Candi Cangkuang.


Kata cangkuang sendiri berasal dari nama pohon cangkuang yang banyak tumbuh di area ini. Cangkuang merupakan tumbuhan sejenis pohon pandan yang digolongkan ke dalam spesies Pandanus furcatus. Daun dari pohon cangkuang dimanfaatkan penduduk untuk membuat tudung saji, tikar, pembungkus gula aren bahkan bisa juga dijadikan totopong atau caping. Sementara itu buahnya jika matang berwarna kuning seperti pisang namun rasanya seperti sirsak yang digunakan sebagai obat antioksidan. Sementara yang mentahnya masih berwarna hijau. Tour guide kami berseloroh bahwa buah cangkuang yang masih berwarna hijau ini berkhasiat sebagai obat anti selingkuh. ”Kalau tidak percaya silahkan dicoba!” Katanya sambil terkekeh. “Caranya, buah tersebut ditimpukkan ke pasangannya hingga kesakitan.” Haha...ada-ada saja.


Kampung Pulo dihuni oleh penduduk yang semuanya mempunyai satu garis keturunan yakni dari keturunan Arif Muhammad. Seorang Panglima Perang Kerajaan Mataram yang kalah perang dan tidak mau kembali ke Jawa. Ia dan pasukan Mataram pernah menyerang Batavia namun gagal. Karena merasa kecewa dan malu ia memilih untuk tidak kembali ke Kerajaan Mataram dan memilih tinggal di sekitar Leles Garut.


Kampung Pulo di Situ Cangkuang dengan segala latar belakang sejarah dan keunikannya membuat saya dan teman-teman tertarik untuk menggali informasi lebih dalam lagi. Maka diantara kepadatan jadwal Writingthon Jelajah Kota Garut, panitia mengagendakan kunjungan ke kawasan ini. Terlebih Situ Cangkuang dengan cagar budaya yang ada di dalamnya, merupakan salah satu destinasi wisata unggulan Kabupaten Garut yang banyak dikunjungi oleh wisatawan.


Menyebrang ke Kampung Pulo di Situ Cangkuang


Matahari pagi itu terasa hangat. Sambil menunggu rombongan lainnya yang masih dalam perjalanan, saya dan beberapa teman sengaja berjemur di bangku-bangku warung yang terdapat di parkiran di sekitar Situ Cangkuang. Menghangatkan punggung di tengah suasana Leles Garut yang cukup dingin.


Jika melakukan perjalanan biasa, para pengunjung dapat mencapai lokasi Situ Cangkuang ini dengan menaiki kereta kuda atau yang disebut dengan delman dari alun-alun Leles. 


Setelah rombongan lengkap kami beriringan memasuki gerbang masuk ke Situ cangkuang. Terdapat pos pelayanan tiket masuk yang setiap hari buka dari jam 07.00 - 17.00 WIB. Biaya atau tiket masuk per orang sebesar Rp 5.000 untuk dewasa dan Rp 3.000 untuk anak-anak. Tiket ini tidak termasuk biaya naik rakit untuk menyebrang ke Kampung Pulo.

Baca juga cerita saya mengunjungi Kampung Morten yang dihuni Suku Melayu.

Situ Cangkuang Leles Garut
Rakit yang digunakan untuk menyebrang ke Kampung Pulo


Di sebelah kanan pos masuk terdapat bangunan yang berfungsi sebagai Tourist Information Center yang menyediakan pelayanan informasi wisata Kabupaten Garut. Di sana juga menampilkan beberapa souvenir khas Garut serta peta wisata Kabupaten Garut. Ruangannya cukup luas, namun sayang belum dimaksimalkan untuk dijadikan sebagai tempat penyedia informasi wisata.


Setelah menunggu beberapa saat, kami pun menaiki perahu rakit yang terbuat dari susunan bambu-bambu yang cukup besar. Rakit ini bisa memuat 20 orang sekaligus dalam sekali angkut. Meskipun tidak mencapai 40 orang, rombongan kami terbagi menjadi dua rakit agar lebih leluasa. 


Dengan adanya rakit-rakit untuk menyebrang, pemandangan Situ Cangkuang menjadi lebih menarik. Bagian tengah rakit mempunyai atap sehingga penumpang bisa duduk dan berteduh dari teriknya matahari atau guyuran hujan saat menyebrang. 


Rakit mulai bergerak. Seorang kakek dengan sebatang bambu panjang mulai mengayuh rakit yang kami tumpangi dengan perlahan. Meskipun sudah sepuh, ia tampak cekatan bergerak ke berbagai sisi untuk menyeimbangkan laju rakit. Beliau tampak menarik rombongan kami yang rata-rata membawa kamera untuk dijadikan objek foto. 


Pemandangan dari tengah-tengah danau ke sekeliling tampak mempesona. Gunung-gunung seperti Gunung Kaledong, Haruman, Mandalawangi dan Gunung Guntur tampak anggun dan menawan seakan-akan memagari danau. Tak sampai 10 menit, rakit sudah sampai di sebrang.

Rumah dan Masyarakat Adat Kampung Pulo


Dengan didampingi oleh seorang guide, kami mulai menyusuri jalan menuju Kampung Pulo. Beberapa saat kemudian, kami melewati warung-warung yang dikelola masyarakat lokal Kampung Pulo yang menjual berbagai cendera mata dan oleh-oleh khas Garut.


Memasuki kawasan Kampung Pulo terdapat 7 bangunan yang sejak abad 17 hingga saat ini jumlahnya tidak boleh lebih tidak boleh kurang. Hal ini menjadi simbol dari keturunan Arief Muhammad, dimana beliau mempunyai 7 orang anak yaitu 1 anak laki-laki yang dilambangkan sebagai 1 buah masjid, dan 6 perempuan yang dilambangkan dengan 6 rumah. Keenam rumah ini posisinya berjejer tiga rumah saling berhadap-hadapan.


Setiap rumah di Kampung Pulo wajib dihuni oleh satu kepala keluarga saja. Jika ada anggota keluarga yang menikah, maksimal dua minggu dari pernikahan harus keluar dari kampung Pulo. Misal dari kepala keluarga tadi ada yang meninggal, maka yang keluar tadi boleh kembali dengan catatan harus keturunan Arif Muhammad yang perempuan. Karena sistem kekerabatan di kampung ini matrilineal.

Rumah adat Kampung Pulo

Masjid di Kampung Pulo


Sampai saat ini jumlah penduduk Kampung Pulo hanya berjumlah 23 orang. Kampung ini dipimpin oleh seorang kepala adat yang disebut Pak Kuncen. Dia yang bertanggung jawab untuk merawat dan memelihara adat istiadat di kampung tersebut. 


Masyarakat Kampung Pulo dikenal mempunyai 5 pamali atau 5 pantangan yang harus dipatuhi oleh semua penduduk dan juga siapapun yang datang berkunjung ke sana. Kelima pantangan tersebut adalah:

1. Tidak boleh berziarah ke makam yang dikeramatkan di sana pada Hari Rabu. Karena tempo dulu, Hari Rabu merupakan waktu umat Hindu menyembah Arca Siwa di Candi Cangkuang. Ketika datang Arif Muhammad, Hari Rabu diubah menjadi hari untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Dan Hari Rabu juga merupakan waktu bagi orang luar datang ke sana untuk menuntu ilmu agama. Menurut perhitungan masyarakat Kampung Pulo pergantian hari di sini terjadi di saat waktu Asar. Jadi Selasa bada Asar sudah masuk ke Hari Rabu begitu juga hari berikutnya, Rabu bada Asar sudah masuk waktu Kamis. Selamanya membuat rumah harus memanjang. Ada dua tipe bangunan rumah di Kampung Pulo yaitu Julang Ngapak dan Gajah Nyusu. Rumah adat dengan bentuk Julang Ngapak terdapat 3 kamar 1 ruang keluarga dan 1 dapur. 1 kamar digunakan untuk ruang tamu dan kedua kamar lainnya digunakan oleh kepala keluarga dan anaknya.

2. Tidak boleh memukul gong besar. Alasannya ketika anak laki-laki Arif Muhammad mau disunat, diarak menggunakan jampana (kuda-kudaan) yang diiringi oleh gamelan. Ketika itu terjadi angin besar sehingga anak Arif Muhammad terjatuh dan meninggal seketika. Oleh sebab itu maka dilarang mengikuti acara atau tradisi seperti ini.

3. Tidak boleh menambah atau mengurangi jumlah bangunan.

4. Tidak boleh berternak hewan besar berkaki empat seperti sapi atau kerbau.

Yang kelima saya lupa hehe...nanti saya cek lagi foto-foto yang mencantumkan larangan ini. 😃

Masyarakat Kampung Pulo juga dilarang untuk bekerja di luar seperti ke Bandung atau Jakarta. Manfaatnya ternyata bisa dirasakan saat ini. Dengan merawat adat dan budaya, masyarakat di sini mampu mendatangkan pekerjaan itu sendiri ke tempat ini, yakni dengan dijadikannya destinasi wisata.



Di Kampung Pulo dimakamkan Arif Muhammad yang merupakan kakek moyang penduduk kampung tersebut. Makam ini terletak tepat di samping Candi Cangkuang. Yang unik terlihat batu nisannya dicondongkan ke tengah. Menurut guide kami artinya menyimbolkan bahwa seseorang itu makin berisi maka makin menunduk.


Candi Cangkuang 


Candi Cangkuang merupakan peninggalan agama Hindu abad ke-8. Candi ini ditemukan kembali pada 9 Desember 1966 oleh Drs. Uka Candrasasmita. Beliau adalah seorang arkeologi yang menemukan candi ini berdasarkan petunjuk dari buku Belanda yang ia baca. Di dalam buku Belanda tersebut hanya menyebutkan bahwa di Cangkuang terdapat sebuah Lingga Arca Siwa dan Makam Kuno Arif Muhammad. Dari  situ beliau mengadakan proses penelitian dan penggalian.

Candi Cangkuang

Pada proses penelitian di samping makam Arif Muhammad ditemukan pondasi candi. Kemudian puing-puingnya dikumpulkan dan direkonstruksi yang ketika itu hanya mencapai 40% dari bangunan awal. Setelah itu diputuskan untuk dipugar sehingga bentuknya menjadi candi seperti yang sekarang. Dengan ukuran 4,5 x  4,5 meter dan tinggi 8,5 meter. Dan Arca Siwanya disimpan di tengah-tengah candi. 

Setelah dipugar, Candi Cangkuang diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu yaitu Professor Syarif Thayib. 

Setelah candi direnovasi dan bersebelahan dengan makam, kedua peninggalan ini menjadi harmoni dari Bhineka Tunggal Ika. Dimana lambang agama Hindu dan makam seorang muslim terletak berdampingan.

Pengaruh Pariwisata Bagi Kampung Pulo


Setelah dijadikan Objek pariwisata ada beberapa nilai adat budaya yang mulai tergerus. Dulu di Kampung Pulo tidak boleh memakai alas kaki, mengenakan topi atau payung, bahkan bersiul atau meludah pun dilarang. Tapi setelah dijadikan objek wisata, budaya ini mulai menghilang. Namun untuk kebiasaan lainnya masih tetap dipelihara seperti acara Rebo Wekasan dan Peringatan 14 Mulud dimana di waktu tersebut digunakan untuk memandikan benda-benda pusaka.


Selain mengunjungi candi dan makam Arif Muhammad, wisatawan juga dapat melakukan aktivitas di sawah seperti mencangkul, ngobor (mencari belut), atau melakukan kegiatan seperti yang dilakukan oleh para petani.


Penduduk Kampung Pulo sedikit banyaknya mendapat keuntungan dari dibukanya lokasi kampung mereka sebagai objek wisata. Para penduduknya pun tidak perlu jauh-jauh mencari pekerjaan karena beberapa pekerjaan dari sektor pariwisata terbuka lebar. Diantaranya bisa sebagai pemandu wisata, pengayuh rakit, atau penjual cendera mata dan makanan. Semua ini bisa dilakukan oleh mereka di sana tanpa harus keluar dari desanya. 


23 comments :

  1. Baru minggu kemarin orang tua saya main ke candi cangkuang sama teman-temannya, tapi belum dengar ceritanya... Jadi tau dari sini tentang sejarahnya :)

    ReplyDelete
  2. wah jumlah penduduknya sedikit ya. cuma 23 orang. pasti sudah sangat akrab satu sama lain.
    kalo di gang aku aja ada 24 rumah. satu rumah isinya antara 3 sampai 6 orang. rame kan :D

    ReplyDelete
  3. Cuma 23 KK, pantas saja keaslian dan keasrian terjaga...gak banyak campurtangan pihak luar..

    Unik..jadi terjaga kelestariannya...

    Semoga suatu saat bisa mampir kesini...

    ReplyDelete
  4. Masya Allah. Kagum membacanya. Rupanya masih ada lagi kearifan lokal dalam kampung Pulo yang hanya sedikit warganya. Larangan2 yang masih dipatuhi, di satu sisi jadi tatanan kearifan tersendiri pula. Juga melambangkan keharmonisan keberagaman. Keren. BTW, masyarakat kampung ini pake bahasa apa ya, Mbak Lina?

    ReplyDelete
  5. wah, gambar rakitnya bikin ku teringat saat naik rakit dulu..duluuu banget....hehehe rasanya deg deg ser naik rakit ya, karena terbiasa naik perahu.

    Dan datang ke sini, wisatawan juga dapat melakukan aktivitas di sawah, tentu menambah kenangan yg mahal...

    ReplyDelete
  6. Wah, bisa terjaga ya mbak aturan untuk membatasi jumlah bangunan dan keluarga yang tinggal di sana. Saya sudah sering dengar tentang candi Cangkuang (hanya belum pernah ke sana). Tapi baru tau sekarang soal Kampung Pulo. TFS mbak Lina

    ReplyDelete
  7. Baca beberapa pantangannya aku ya ngeri mba yang anaknya terjatuh meninggal dunia :( jadi tahu nih seputar kampung Pulo

    ReplyDelete
  8. Wah, alangkah asiknya kalau tradisi tidak pakai alas kaki dll itu masih dilestarikan ya mba.
    Ini yg bikin Kampung Pulo jadi makin otentik dan berkesan banget

    ReplyDelete
  9. Menarik sekali ya Mbk. Pastinya menambah wawasan mengenai tempat wisata. Aku jadi penasaran dengan larangan yang diterapkan.

    ReplyDelete
  10. Aku paling suka nih baca2 artikel yang ada nilai sejarahnya, sempet pingin ikutan Writingthon tapi lupa, tapi Indonesia memang kaya budaya ya mbak, dan masih ada yang teguh memegang tradisi leluhur seperti masyarakat Kampung Pulo ini.

    ReplyDelete
  11. Sedikit sekali jumlah warga di Kampung Pulo ini, 23. Ini ga pada nikah atau gimana ya? Dulu waktu smp atau sma aku pernah maen ke Candi Cangkuang tapi ga mudeng di situ ada pohon Cangkuangnya. Penasaran pengen tau kayak gimana rasanya

    ReplyDelete
  12. Dan larangan adat di Kampung Pulo masih terjaga. Keren oeyy.. meskipun sudah ada beberapa yg tergerus zaman setelah menjadi tempat wisata. Tapi salut, Kampung Pulo masih menjadi tempat yg menjunjung tinggi ada istiadatnya.

    ReplyDelete
  13. Mengunjungi tempat yang bersejarah kayak gini tuh aku suka. Namun kayak gini emang harus kita rajin rawat dengan baik dan sosialisasikan ya mba :)

    ReplyDelete
  14. Aku belom pernah ke Garut kak kayaknya asik banget ya kak main kesana pengen main kesana deh

    ReplyDelete
  15. Bersih banget ya Mak kampung Pulo, bisa jadi destinasi liburan mendatang, jauh dari hiruk pikuk keramaian bisa banget buat cari ide sekaligus wisata alam

    ReplyDelete
  16. Wah Garut ternyata banyak hidden gemsnya ya. Apalagi kalo bisa keliling agak lamaan. Bisa puas. Sekalian nyobain kulinernya

    ReplyDelete
  17. Ternyata ada juga tradisi seperti di Jawa Tengah, Rabo Wekasan dengan menjamas benda pusaka.
    Aku lihat danaunya terlihat adem tempatnya mbak, naik perahu gitu asik kayaknya

    ReplyDelete
  18. Huhu, aku malu deh dengan tulisan ini. Mbak Lina aja, yang dari jauh, bisa menelusuri sejarah kamupung adat Garut. Lha aku yang lebih deket tapi kudet. Huhu...

    ReplyDelete
  19. Wah beneran tu mbak penduduknya tinggal 23 org, kirain td 23 kepala keluarga hehe. Sampai gak boleh nambah dan ngurangin jumlah bangunan gtu ya? Ternyata Garut punya desa wisata yang seunik ini dengan budaya dan kepercayaannya, jd penasaran pengen ke sana :D

    ReplyDelete
  20. Kampung Pulo ini menarik banget, Mbak. Selama ini Garut terkenal dengan dodol dan domba Garut. Eh ini ada satu kampung, penduduknya cuma puluhan dan memegang teguh untuk ga melakukan pantangan-pantangan unik. Eh ya penduduknya berarti berkegiatan di sekitar situ aja atau ada juga yang merantau?

    ReplyDelete
  21. Ssetiap desa adat memiliki budaya sendiri yang unik ya mba, kapan ya bisa ke Garut, padahal masih sama samadi Jawa Barat

    ReplyDelete
  22. Masjidnya kecil ya
    Kalau di tempatku lebih dinamakan langgar atau mushola
    Kalau lihat suasananya jadi pengen

    ReplyDelete
  23. aku paling seneng main ke tempat yang ada sejarahnya mbak, semoga pandemi ini segera berakhir jadi bisa travelling lagi sama keluarga ya mbak :(

    ReplyDelete

Halaman ini dimoderasi untuk mengurangi spam yang masuk. Terima kasih sudah meninggalkan komen di sini.

My Instagram

Made with by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates