Kamis, 08 November 2012

Bagaimana Menghukum Balita?


File MP 42
Jan 24, '12 11:07 AM
Sierra, atau sering dipangil teman-temannya dengan sebutan Shera dan Chila adalah anak yang terbuka dan senang berteman. Saya dan suami biasa memanggilnya dengan Chila atau Ceila. Inilah salah satu kisah tentangnya :

Chila dan si Kembar Sasa Lala
Suatu hari kira-kira dua bulan yang lalu Chila dan teman-temannya main di rumah. Ada si kembar Sasa Lala dan anak tetangga sebelah rumah, namanya Kasih. Usia mereka sudah 4 tahun lebih sedangkan Chila baru 2 tahun 4 bulan saat itu. Usia yang cukup berbeda itulah yang terkadang banyak menimbulkan konflik dalam kepribadian Chila.
Saat bermain di rumah ini, awalnya semua berjalan lancar. Mereka menonton permainan edu-game di komputer. Walau ingin dulu-duluan main dan rebutan mouse, anak-anak nggak ada yang berantem. Namun karena komputernya tiba-tiba Hang nggak bisa dipakai lagi, dengan penuh kecewa, anak-anak pun beralih ke mainan lain.

Lala kemudian mengambil kuda poni barbie warna pink yang bisa berputar-putar di rel kereta, ia menyalakan tombol hinggga kudanya berjalan. Chila yang sudah ngambek dari awal karena komputernyahang jadi marah kepada Lala. Kuda poni dari tangan Lala direnggutnya. Chila pun menjerit-jerit "jangan dinyalain kudanya, jangan dinyalain" Katanya. Belum puas dengan itu, ia pun menendang dan memukul Lala. Wuaah... bisa perang saudara kalau gini keadaannya. Aku pun berusaha melerainya. "Pulang sana, pulaaang...." Chila mengusir Lala. Ya mau gimana lagi akhirnya Si kembar dan Kasih kusuruh pulang semua.

Dengan berat hati anak-anak pergi. "Pulang ya, nanti sore main lagi, Adik Sheranya lagi 
ngamuk, lagi ngambek". Aku membujuk ketiga anak itu pulang ke rumah masing-masing.
"Sayang... nggak boleh gitu ya sama kakak Lala, nanti Chila nggak ada kawannya gimana? Eh sekarang makan dulu yuk!" Chila yang masih emosi tampak menahan tangis dan malah merengek-rengek gak mau makan.

Chila   : Huhu..huuu...gak maau makaaaan
Bunda : Sama ayam mau?
Chila   : Gak mau, mau telul aja...aaa
Bunda : Ya udah deh bunda gorengkan telur.

Chila dan Teman-Temannya
Aku kemudian membuka kulkas, tiba-tiba ia berubah fikiran, "Chila gak mau telul maunya makan mie hhheu...."
Plak..plak..Chila memukul mukaku dengan kuda poninya, Wadawww... aku menjerit kesakitan. Seketika emosiku meluap. Chila kuangkat dan kukurung di kamar mandi. Ia menjerit-jerit ketakutan. Lalu memanggil-manggil ayahnya. Aku hanya ingin dia jera. Masih bingung memikirkan hukuman apa yang cocok untuk anak berusia 2,5 tahun. 

Hanya 3 menit saja Chila kukurung. Ketika pintu kamar mandi terbuka, Chila langsung memburu ke Ayahnya sambil mengadu "Bunda nakal Yah...bunda nakkalll huhuhu..." Ayahnya hendak memeluknya namun tiba-tiba kucegah.
Bunda :  Ayah, tadi Chila pukul Bunda tolong  jangan di alemYah.
Ayah   : Eeeh.. Chila ayo minta maaf sama Bunda.

Dengan enggan Chila pun menghampiriku, lalu mengulurkan tangannya meminta maaf. Aku menatapnya penuh iba. Ia balas menatapku dengan sedih, pundaknya terguncang-guncang menahan senggukan. Aku lalu memeluk dan menasehatinya. "Ayo peluk bunda Sayang..." Aku merentangkan kedua tangan dan Chila pun memelukku. 
"Ayo makan dulu Nak". Kataku setelah beberapa saat kami berpelukan. Namun ketika hendak kusuapi, Chila tidak mau membuka mulutnya. rupanya ia masih marah kepadaku. Lalu Ayahnya mencoba menyendoki dan menyuapinya. Ternyata Chila mau makan. Aku duduk terdiam sambil memperhatikan mereka. Hatiku cemburu. Mengapa Chila mau disuapi Ayahnya sedangkan olehku tidak mau.
Ayah : Bunda makan dulu. 
Aku tidak bergeming. 
Ayah : Bundaaa... 

Si Ayah mengusap kakiku yg kuselonjorin ke dekatnya. Aku tetap  tidak bergeming. Air mataku menetes pelan-pelan.
Ayah : Bunda kenapa? karena Chila ya?
Aku menganggukkan kepala
Ayah : Tuh Chila, lihat bundanya jadi sedih. Sana peluk Bunda!

Chila yang melihatku menangis, langsung berdiri menghampiriku. Lalu memelukku. Seketika tangisnya pecah. "Bunda...Bunda...Bunda...huaaaa...huaaa...." Aku dan Chila menangis berangkulan. "Maafin Bunda ya Nak! Gak boleh pukul Bunda lagi ya Sayang..." Aku berusaha menasehatinya di antara linangan airmataku. Chila menganggukkan kepalanya. Tangis kami pun pecah kembali. Makin keras dan bersahut-sahutan. Si Ayah jadi bengong dan ikut sedih. 

Please sharing bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah anak 2,5 tahun sudah boleh diberi hukuman? 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...